1.4 KETENTUAN ADMINISTRATIF
1.4.5 PEMBIAYAAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
1) Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah diantisipasi sejak dini yaitu pada saat pengguna jasa mempersiapkan pembuatan desain dan perkiraan biaya suatu proyek gedung.Sehingga pada saat pelelangan menjadi salah satu item pekerjaan yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam penetapan pemenang lelang. Selanjutnya penyedia jasa kontraktor harus melaksanakan prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk penyediaan prasarana, sumberdaya manusia dan pembiayaan untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar.
2) Oleh karena itu baik penyedia jasa dan pengguna jasa perlu memahami prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja ini, agar dapat melakukan langkah persiapan, pelaksanaan dan pengawasannya.
1.1 UMUM ... 1
1.2 KETENTUAN HUKUM YANG BERLAKU DI INDONESIA ... 2
1.3 SEBAB-SEBAB KECELAKAAN ... 2
1.4 KETENTUAN ADMINISTRATIF ... 3
1.4.1 KEWAJIBAN UMUM ... 3
1.4.2 ORGANISASI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ... 4
1.4.3 LAPORAN KECELAKAAN ... 5
1.4.4 KESELAMATAN KERJA DAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA
KECELAKAAN ... 5
BAB II
MENGGUNAKAN PERLENGKAPAN DAN
KESELAMATAN KERJA
2.1 ALAT PELINDUNG BADAN
Pelindung badan berfungsi untuk melindungi diri agar tidak mengalami cidera
akibat kerja, agar tidak terjadi suatu kecelakaan pada pekerja maka diperlukan
alat pelindung kerja, yaitu seperti :
2.1.1 Sabuk Pengaman (Safety Belt)
Sabuk pengaman digunakan pada saat melakukan pekerjaan pada
ketinggian lebih dari 3 meter. Cara pemakainnya dipasang di pinggang
seperti ikat pinggang dan mengikatkan bagian talinya ke bagian konstruksi
yang cukup kuat dan dapat menahan beban manusia, sehingga jika pekerja
terpeleset tidak langsung jatuh akan tetapi tertahan oleh sabuk pengaman
sehingga terhindar dari kecelakaan yang fatal.
2.1.2 Topi Keras (Helm)
Topi keras (helm) digunakan untuk melindungi kepala dari benturan
benda-benda keras baik benda-benda jatuh dari atas atau arah lain.
2.1.3 Sarung Tangan
Sarung tangan digunakan untuk menghindarkan kulit tangan dari luka
akibat serpihan besi, batu-batu tajam, cairan kimia, dan cairan semen dari
adukan.
2.1.4 Sepatu Kerja
Sepatu kerja digunakan untuk melindungi kaki dari luka akibat terjepit,
benda-benda tajam, dan cairan-cairan kimia.
2.1.5 Penutup Hidung (masker)
Penutup hidung ( masker ) digunakan pada saat bekerja pada daerah yang
berdebu atau yang mengandung unsur kimia seperti debu, semen yang
dapat dan lain-lain yang menimbulkan gannguan pernafasan maupun
penularan penyakit.
2.1.6 Kaca mata
Kaca mata digunakan untuk pekerjaan khusus seperti memecah batu,
mengelas, menggerinda dan sebagainya.
2.1.7 Pelindung Telinga
Pelindung telinga digunakan pada lingkungan kerja yang bising dan dapat
menimbulkan gangguan pendengaran.
2.1.8 Pakain Las (apron)
Pakaian apron digunakan untuk pekerjaan khusus misal mengelas
sehingga dapat terhindar dari percikan api akibat las.
2.2 RAMBU-RAMBU KESELAMATAN KERJA
Rambu-rambu dalam K-3 merupakan bagian yang penting dalam penerapan K-3 di lingkungan pekerjaan konstruksi dan harus dipasang pada tempat yang strategis dalam arti mudah dilihat dan dibaca serta sesuai dengan lingkungan kerja.
Contoh rambu-rambu yang perlu dipasang pada pekerjaan gedung adalah :
Awas hati-hati licin.
Ketinggian maksimum.
Awas tegangan tinggi.
Wajib menggunakan kaca mata/kedok las bagi tukang las.
Wajib menggunakan topi pengaman di sekitar proyek.
Dilarang merokok atau menyalakan api pada area yang berdekatan dengan tempat penyimpanan barang-barang mudah terbakar.
Wajib memakai pelindung telinga di area kerja yang bising.
2.3 PENCEGAHAN TERHADAP KEBAKARAN DAN ALAT PEMADAM
KEBAKARAN
Di tempat-tempat kerja, tenaga kerja dipekerjakan harus tersedia :
Alat-alat pemadam kebakaran.
Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar.Pengawas (Supervisor) dan sejumlah/beberapa tenaga kerja harus dilatih untuk menggunakan alat pemadam kebakaran.
Orang orang yang terlatih dan tahu cara mengunakan alat pemadam kebakaran harus selalu siap di tempat selama jam kerja.
Alat pemadam kebakaran, harus diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh orang yang berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya.
Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang dapat dipindah-pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam kebakaran harus selalu dipelihara.
Peralatan pemadam kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah dilihat dan dicapai.
Sekurang kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus bersedia :
disetiap gedung dimana barang-barang yang mudah terbakar disimpan.
di tempat-tempat yang terdapat alat-alat untuk mengelas.
pada setiap tingkat/lantai dari suatu gedung yang sedang dibangun dimana terdapat barang-barang, alat-alat, yang mudah terbakar.Beberapa alat pemadam kebakaran dari bahan kimia kering harus disediakan :
di tempat yang terdapat barang-barang/benda benda cair yang mudah terbakar.
di tempat yang terdapat oli, bensin, gas dan alat-alat pemanas yang menggunakan api.
di tempat yang terdapat aspal dan ketel aspal.
di tempat yang terdapat bahaya listrik/bahaya kebakaran yang disebabkan oleh aliran listrik.Alat pemadam kebakaran harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan-kerusakan teknis. Alat pemadam kebakaran yang berisi chlorinated hydrocarbon atau karbon tetroclorida tidak boleh digunakan di dalam ruangan atau di tempat yang terbatas. (ruangan tertutup, sempit).
Jika pipa tempat penyimpanan air (reservoir, standpipe) dipasang di suatu gedung, pipa tersebut harus :
dipasang di tempat yang strategis demi kelancaran pembuangan.
dibuatkan pada setiap lubang pengeluaran air dari pipa sebuah katup yang menghasilkan pancaran air bertekanan tinggi.2.1 ALAT PELINDUNG BADAN ... 1
2.1.1 Sabuk Pengaman (Safety Belt) ... 1
2.1.2 Topi Keras (Helm) ... 1
2.1.3 Sarung Tangan ... 1
2.1.4 Sepatu Kerja ... 1
2.1.5 Penutup Hidung (masker) ... 2
2.1.6 Kaca mata ... 2
2.1.7 Pelindung Telinga ... 2
2.1.8 Pakain Las (apron) ... 2
2.2 RAMBU-RAMBU KESELAMATAN KERJA ... 2
2.3 PENCEGAHAN TERHADAP KEBAKARAN DAN ALAT PEMADAM
BAB III
MENGGUNAKAN ALAT DAN BAHAN
UNTUK PENANGGULANGAN DINI
3.1 JENIS ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
Untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan kerja, seorang pekerja diharuskan menggunakan alat pelindung diri, seperti :
Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama mengoperasikan atau memelihara AMP.
Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.
Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai.
Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya.
Alat pelindung telinga, digunakan untuk melindungi telinga dari kebisingan yang ditimbulkan dari pengoperasian peralatan kerja.
Namun pada kenyataan dilapangan, penggunaan alat-alat pelindung diri sering terjadi kendala dan masalah baik terhadap pemakainya/tenaga kerja maupun kualitas dari alat itu sendiri.
3.1.1 Masalah Umum APD
Adanya APD yang tidak melalui pengujian laboratorium, sehingga tidak diketahui derajat perlindungannya atau tidak memenuhi ketentuan keselamatan.
Pekerja merasa tidak nyaman dan kadang-kadang pemakai merasa terganggu.
Gambar 3.1. Alat Perlindungan Diri
Terdapat kemungkinan menimbulkan bahaya baru atas penggunaan APD
Pengawasan terhadap keharusan penggunaan APD sangat lemah.
Kewajiban untuk memelihara APD yang menjadi tanggung jawab perusahaan sering dialihkan kepada pekerja.
3.1.2 Masalah Pemakaian APD Secara Umum
Pekerja tidak mau memakai APD dengan alasan:
Yang bersangkutan tidak mengerti atas maksud keharusan pemakaian APD.
Pemakaian APD dirasakan pekerja tidak nyaman seperti panas, sesak dan tidak memenuhi nilai keindahan
Pekerja merasa terganggu dalam melaksanakan pekerjaan.
Jenis APD yang dipakai tidak sesuai dengan jenis bahaya yang dihadapi.
Tidak dikenakan sanksi terhadap pekerja yang tidak memakai APD
Atasannya juga tidak memakai APD tanpa dikenakan sanksi. Perusahaan tidak menyediakan APD dengan alasan:
Perusahaan tidak mengerti adanya ketentuan pemakaian APD.
Rendahnya kesadaran perusahaan atas pentingnya K3 dan secara sengaja melalaikan kewajibannya untuk menyediakan APD.
Perusahaan merasa sia-sia menyediakan APD, karena pada akhirnya APD tidak dipakai oleh pekerja. Jenis APD yang disediakan oleh perusahaan tdak sesuai dengan jenis bahaya yang dihadapi pekerja
Perusahaan mengadakan APD hanya sekedar memenuhi persyaratan formal tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan maksud pemakaiannya.
3.1.3 Masalah Khusus APD
MASKER
Sering ditemukan adanya kerusakan atau sumbatan pada filter
Pemakaian alat ini dirasakan tidak nyaman oleh pekerja.
Pemakaian alat ini menimbulkan efek psikologis dan kecemasan terhadap pemakainya dan meningkatkan beban kerja pada jantung dan hati.
Pemakai alat ini harus menghirup udara yang dihembuskannya.
Pemakaian alat ini menimbulkan kesulitan berkomunikasi pada pemakainya.
Cara pemakaiannya kurang tepat seperti longgarnya/lepasnya tali pengikat sehingga pengamanan terhadap pemakainya kurang berdaya guna. ALAT PELINDUNG TELINGA
Pemakaian alat ini dapat menimbulkan resiko infeksi telinga.
Pemakaian alat ini menimbulkan kesulitan berkomunikasi pada pemakainya
Pemakai merasa tidak nyaman dan terisolasi.
Jepitan yang terlalu kuat sering menimbulkan sakit kepala pada pemakainya.
Kemampuan menduga jarak dari pemakai menurun.
Sering menimbulkan iritasi kulit pemakinya. SARUNG TANGAN
Pemakaian alat ini menimbulkan kepekaan tangan dan jari menurun
Menimbulkan keluarnya keringat berlebihan.
Sering menyebabkan adanya bahan kimia tertentu tanpa diketahui pemakainya yang mungkin membahayakan pemakainya. KACA MATA KESELAMATAN
Dapat membatasi pandangan pemakainya.
Adanya noda, kabut dan goresan kecil pada kaca yang mengakibatkan Kaburnya pandangan pemakainya.
Alat ini menimbulkan kesulitan pada pemakainya untuk melihat kerusakan secara visual.
Kondisi kacamata yang tidak baik sering menimbulkan kemungkinan benda masuk dari samping3.2 UPAYA PENANGGULANGAN DINI
Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor manusia, dimana seorang tenaga kerja perlu dibekali pengetahuan mengenai keselamatan kerja, hal ini dapat dilakukan dengan cara:
1. Penyuluhan dan kampanye Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja secara teratur guna menumbuhkan kesadaran ber-Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
2. Mengadakan latihan dan demonstrasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi para pekerja maupun staf perusahaan.
3. Melakukan inspeksi secara teratur.
4. Memasang spanduk-spanduk dan tanda-tanda Kesehatan dan Keselamatan Kerja 5. Memberi sangsi yang memadai bagi mereka yang tidak disiplin dan mematuhi
peraturan Kesehatan dan Kesalamatan Kerja.
6. Upayakan pertemuan, diskusi dan dialog tentang Kesehatan dan Kesehatan Kerja baik dengan pekerja maupun staf.
Dalam buku Kesehatan dan Keselamatan Kerja dibahas secara lengkap dan detail tentang pencegahan kecelakaan kerja akibat faktor teknis, namun dalam modul ini hanya dibahas yang penting-penting saja, yaitu :
1. Pencegahan Kecelakaan akibat penggunaan alat angkut dan lalu lintas.
Bahan dan alat harus direncanakan penempatannya secara baik, sehingga pada waktu diangkut dan digunakan tidak membahayakan penumpang.
Alat dalam kondisi baik dan semua persyaratan yang diperlukan telah dipenuhi.
Operator alat pengangkut tersebut harus benar-benar terampil dan memiliki sertifikat yang dipersyaratkan.
Mematuhi prosedur dan peraturan yang ditetapkan.
2. Pencegahan kecelakaan yang diakibatkan kejatuhan benda Dipasang jala/jaring guna menghindari benda yang jatuh dari atas.
Benda-benda yang tidak terpakai dilarang dibuang dengan cara asal buang kebawah.
Pemindahan benda yang berat dan sulit harus dengan cara hati-hati sehingga tidak menimbulkan bahaya kecelakaan.
Siapapun dilarang masuk ke tempat penyimpanan bahan dan alat tanpa ijin.
Bangunan, bangunan Bantu seperti perancah harus dibuat kokoh sehingga tidak mudah rubuh.
Pekerja harus menggunakan pelindung kepala.
3. Pencegahan kecelakaan yang diakibatkan tergelincir, terpukul, dan terkena benda tajam.
Jalan kerja dan tempat injakan kaki harus bersih dan tidak licin.
Cara kerja harus dalam posisi dan sikap yang betul.
Gunakan alat kerja sesuai peruntukannya.
4. Pencegahan kecelakaan kerja karena jatuh daru tempat tinggi.
Perancah harus dibuat dengan benar dan kokoh dan terikat pada bangunan sehingga tidak roboh.
Perancah tidak dibebani melebihi kekuatannya.
Papan untuk injakan kaki dibuat dari papan yang kuat dan lebih dari satu papan sehingga bila patah masih ada cadangan.
Lantai perancah harus bersih dan tidak licin.
Pekerja memakai sabuk dan tali pengaman.
5. Pencegahan kecelakaan akibat terkena aliran listrik, kebakaran dan ledakan. Aliran listrik harus ditangani oleh pekerja yang terampil dan ahli
Tempat-tempat aliran yang ada aliran listrik/kabel-kabel harus diberi tanda-tanda yang jelas, pekerja memakai sepatu dan sarung tangan pengaman.
Benda-benda yang mudah terbakar disimpan dengan aman dan jauhkan dari sumber api dan beri tanda dilarang merokok.
Bedeng tempat pekerja menginap harus kikontrol secara rutin aliran listriknya.
Untuk pekerjaan yang perlu peledakan maka harus ada ijin dari yang berwenang, dilokasi peledakan diberi penjagaan dan tanda dilarang masuk.
6. Bagian tubuh yang harus dilindungi adalah kepala, tangan dan kaki, karena itu harus mendapat perlindungan secukupnya sesuai sifat pekerjaannya.
3.3 SEBAB-SEBAB DAN PENCEGAHAN GANGGUAN
KESEHATAN KERJA
Menurut undang-undang, penyakit akibat kerja adalah penyakit yang timbul karena hubungan kerja termasuk kecelakaan. Penyakit akibat kerja harus mendapat perhatian yang khusus, karena :
Penyakit yang terjadi sebenarnya dapat dihindari.
Penyakit yang terjadi dapat menimbulkan cacat.
Penyakit yang terjadi karena perbuatan manusia.
Penyakit yang terjadi adalah apa yang dikerjakan, yang dihasilkan ataupun karena alat atau. bahan yang digunakan.
Penyakit akibat kerja menurunkan produktifitas dan kemampuan.
3.3.1 Sebab-Sebab Penyakit Akibat Kerja
1. Golongan fisik, antara lain : Suara bising.
Tekanan udara yang tinggi dan berubah-ubah Suhu yang terlalu tinggi atau rendah
Getaran dapat mengganggu sirkulasi darah dan saraf. Penerangan yang kurang atau terlalu kuat.
Radiasi sinar radio aktif.
2. Golongan mental-psikologik, antara lain :
Ketegangan kerja karena tidak cocok dengan bahan dan pendidikannya. Beban kerja atau tanggung jawab yang terlalu berat.
Tidak dapat bekerja sama dengan teman sekerja. 3. Golongan faal, antara :
Ketegangan kerja karena tidak cocok dengan bahan dan pendidikannya. Mengangkut beban yang terlalu berat.
Cara Kerja yang tidak benar.
Kelelahan fisik karenamkesalah konstruksi/mesin/konstruksi. Kerja dengan berdiri terus menerus mengakibatkan varices 4. Golongan hayati, antara lain :
Cacing, serangga. Bakteri, virus.
Jamur menimbulkan penyakit kulit.
Getah, tumbuhan menimbulkan penyakit kulit. 5. Golongan kimia, antara lain :
Gas yang berbahaya, seperti co, H2S dll. Uap logam dapat menimbulkan penyakit kulit. Semen menimbulkan penyakit kulit.
Cat menimbulkan sakit dada. Debu menimbulkan sakit paru-paru.
3.3.2 Pencegahan Penyakit Akibat Kerja
Usaha pencegahan penyakit akibat kekurangan segi teknis di bidang konstruksi dapat dilakukan dengan desain kerja yang baik, serta organisasi pengaturan kerja. Pencegahan penyakit akibat kerja dilakukan dengan :
Substitusi, yaitu dengan mengganti bahan-bahan yang membahayakan dengan bahan yang tidak berbahaya, tanpa mengurangi hasil pekerjaan ataupun mutunya.
Isolasi, yaitu menjauhkan atau memisahkan suatu proses pekerjaan yang mengganggu atau membahayakan.
Ventilasi, baik secara umum maupun local, yaitu dengan udara bersih yang dialirkan keruang kerja atau dengan menghisap udara keluar.
Alat pelindung diri, berupa topi pelindung kepala, sarung tangan, sepatu yang dilapisi baja bagian depan untuk menahan beban berat, masker dan lain-lain.
Pemeriksaan kesehatan, dilakukan secara berkala untuk mengetahui penyabab penyakit atau gangguan yang dialami pekerja.
Latihan dan informasi sebelum bekerja serta pendidikan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.
3.1 JENIS ALAT PELINDUNG DIRI (APD) ... 1
3.1.1 Masalah Umum APD ... 1
3.1.2 Masalah Pemakaian APD Secara Umum ... 2
3.1.3 Masalah Khusus APD ... 2
3.2 UPAYA PENANGGULANGAN DINI ... 3
3.3 SEBAB-SEBAB DAN PENCEGAHAN GANGGUAN KESEHATAN KERJA 5
3.3.1 Sebab-Sebab Penyakit Akibat Kerja ... 5
3.3.2 Pencegahan Penyakit Akibat Kerja ... 6
BAB IV
MENERAPKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
4.1 UMUM
Dibandingkan dengan industri lain, industri konstruksi menduduki rangking tertinggi dalam risiko kecelakaan. Hal ini dapat dimengerti karena sifat industri konstruksi sangat berbeda dengan industri yang lain.
Dalam kegiatan industri konstruksi ada sifat-sifat khusus yang tidak terdapat pada industri lain, yaitu:
1. Kegiatan industri konstruksi terdiri dari bermacam -macam kegiatan dengan jumlah banyak, yang rawan kecelakaan.
2. Jenis-jenis kegiatannya sendiri tidak standar, sangat dipengaruhi oleh banyak faktor luar, seperti: kondisi lokasi bangunan, cuaca, bentuk desain, metode pelaksanaan, dam lain-lain.
3. Perkembangan teknologi yang selalu diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan memberikan andil risiko sendiri.
4. Tingginya turn over tenaga kerja juga menjadi masalah sendiri, karena selalu menghadapi orang-orang baru yang terkadang masih belum terlatih.
5. Banyaknya pihak yang terkait dalam proses konstruksi, yang memerlukan pengaturan serta koordinasi yang kuat.
Peraturan maupun Perundang-undangan yang mengatur tentang K-3 antara lain: 1. Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 2 Tahun 1970 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 1/MEN/1980 tentang Keselamtan Kerja dan Kesehatan Kerja.
4. Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: Kep.174/Men/86 dan 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan Konstruksi
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja, risiko yang dihadapi perusahaan industri konstruksi pada pelaksanaan konstruksi tida k saja berkaitan
dengan kecelakaan pekerja tapi juga aspek ekonomi karena rusaknya bangunan dan turunnya produktivitas kerja akibat terjadinya kecelakaan kerja.
Dengan demikian upaya-upaya penekanan risiko kecelakaan konstruksi merupakan upaya yang penting dalam rangka menghindarkan kerugian secara ekonomi maupun hilangnya jiwa manusia.