• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2. Pembibitan Utama (main- nursery)

Tanah yang sudah dibersihkan dimasukkan kedalam polibag besar berukuran 40-50 cm yang dapat menampung 25 kg tanah.

Pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. bibit disiram 2 kali sehari pagi, sore.

2. rumput didalam polibag dicabut pelan-pelan.

3. bibit dipupuk dengan urea dalam bentuk larutan yang berkonsentrasi 0,2 %

(Sasatrosayono, 2004).

Penggunaan Media Pasir

Ada 4 fungsi media tanah yang harus mendukung pertumbuhan tanaman yang baik yaitu, sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang tersedia bagi tanaman, dapat melakukan pertukaran udara antara akar dan atmosfer diatas media, dan terakhir harus dapat menyokong tanaman (Nelson, 1981).

Keadaan unsur – unsur didalam kantongan seperti pot akan berbeda dengan dilahan sebab kondisi fisik menjadi factor pembatas didalam kantongan. Aerase merupakan factor terpenting didalam media kantongan sebab kantongan hanya mempunyai kedalaman yang terbatas dibanding dengan tanah lahan sehingga tidak mengalir dengan baik (Joiner, 1981).

Banyak memang bahan mineral yang dapat menyediakan 4 fungsi tersebut diatas tetapi belum merupakan media perakaran yang praktis. Pasir sebagai contoh, mempunyai daya pegang air yang rendah juga mempunyai luas permukaan per unit volume yang rendah sehingga frekuensi penyiraman menjadi suatu hal yang sangat penting, daya ikat hara dari pasir yang sangat rendah (Nelson, 1981).

Partikel-partikel pasir ukurannya jauh lebih besar dan memiiki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama ) dibandingkan dengan debu dan liat. Oleh karena itu peranannya ;dalam mengatur sifat-sifat kimia tanah adalah kecil, maka fungsi utamanya adalah untuk perbaikan sifat fisika tanah. Semakin tinggi presentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori-pori diantar partikel tanah dan

Bahan Organik Blotong Tebu

Sejak berabad-abad yang lalu petani telah mengenal pupuk organik. Para ilmuan kemudian membuktikanya bahwa peranan bahan organik sangat vital dalam mempertahankan dan menigkatkan produktivitas lahan melalui mekanisme perbaikan sifat fisik , kimia, biologi tanah. Hampir semua lahan yang dimiliki pabrik gula di Indonesia memiliki kadar organik yang baik. Semua sumber daya bahan organik yang dimiliki pabrik gula seperti blotong, kelaras dan ampas hendaknya dapat dioptimalkan penggunaanya, namun demikian agar aplikasi bahan organik ini dapat berdaya guna maka perlu diperhatikan tingkat dekomposisi bahan organik tersebut (Premono dan Widayati, 2000).

Di dalam tanah sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, daun, ranting, bunga dan buah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah, serta bercampur dengan tanah. Tumbuhan tidak saja menjadi sumber bahan organic tanah, tetapi juga sumber bahan organik bagi makhluk hidup (Hakim,dkk, 1986).

Pemberian blotong berpengaruh terhadap berat tanah, karena membentuk agregat tanah, sehingga butiran tanah dapat menahan air lebih banyak. Dimana unsur yang diperlukan tanaman akan lebih tersedia bagi pertumbuhan tanaman dan juga merupakan sumber C- organik yang penting artinya dalam pembentukan humus tanah (Sitepu dan Lubis, 1997)

Blotong merupakan kotoran yang dapat dipisahkan dengan penapisan proses klarifikasi nira. Blotong mengandung bahan organik, mineral, serat kasar, protein

kasar dan gula sehingga masih biasa dipergunakan sebagai bahan pakan ternak. komposisi kimia blotong yang dilaporkan Rudiono (2003) meliputi air (60-78%), sukrosa (2,1–7,3%), lilin (2-2,1%), nitrogen (0,2-0,7%), serat (4,3-6,5%), abu (41 %), P2O5 (0,4–1,8%), K2O (0,02%), CaO (0,8-1,1%) (Syukur, 2003).

Blotong (limbah pabrik gula) ternyata cukup efektif menekan laju penguapan air tanah. Sifat higroskopisnya mampu mengikat air hujan dalam jumlah banyak. Salah satu alternatif memanen air hujan dan menyiasati kekeringan, menurut Justika adalah pemanfaatan mulsa blotong. Sifat higroskopis limbah tebu/pabrik gula yang disebabkan kandungan niranya membuat lahan mampu mengikat air hujan lebih banyak. Dengan begitu pembenamannya ke dalam tanah diharapkan dapat menyerap air hujan lebih banyak sehingga kelembaban tanah dapat terjaga lebih lama. Bukan hanya itu, mulsa juga turut mempengaruhi aspek-aspek iklim lainnya. Mulsa dari blotong mampu menekan energi radiasi untuk menguapkan air tanah dan memanaskan udara (Baharsyah, 2007).

Zat Pengatur Tumbuh Atonik

Di dalam dunia tumbuhan zat pengatur tumbuh mempunyai peranan yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman (growth and development) untuk kelangsungan hidupnya. oleh Went (seorang ahli fisiologi bangsa Jerman) telah dikemukakan bahwa “ohne wuchstoff kein wachstum” artinya: tanpa zat pengatur tumbuh berarti tidak ada pertumbuhan. Penggunanan zat pengatur tumbuh ini dapat merangsang tanaman seperti pengembangan sel, pertumbuhan fotosintesis, pertumbuhan akar dan buah (Abidin, 1990).

Atonik merupakan zat pengatur tumbuh tanaman berbentuk larutan dalam air, berwarna coklat, berbau khas (Mastalin Mandiri,1994) berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar supaya lebih banyak, mengaktifkan penyerapan unsur hara, meningkatkan keluarnya kuncup, pembuahan serta memperbaiki kualitas hasil panen (Lingga, 1994). Dengan susunan NitroAromatik dan kandungan bahan aktifnya menurut sebagai berikut:

Nitro orto nitrofenol 0,2% Natrium para nitrofenol 0,3% Natrium 5 nitroquaiacolat 0,1% Natrium 2 ,4 dinitrofenol 0,05%

Air pelarut 99,35%

Atonik bukan merupakan fitohormon atau pestisida tetapi masih suatu zat kimia yang dapat merangsang proses biokimia dan fisiologi cadangan pada tanaman karena merangsang tumbuh, zat ini diharapkan dapat menghasilkan produksi dan mutu hasil yang lebih tinggi. Atonik disiapkan berupa larutan yang yang diencerkan dengan air dengan perbandingan 1 : 4000 sampai 1 : 1000 (artinya 1 cc larutan atonik dalam 1000 cc air), kemudian disemprotkan ketanaman. Atonik adalah gabungan garan natrium dari 5 nitroquicol dan garam natrium dari para nitrofenol (Kusumo, 1990).

Atonik bekerja secara biokimia, langsung meresap kedaun, akar dan kuncup bunga, dan mempengaruhi proses aliran plasma sel dan memberikan kekuatan vital untuk mempergiat pertumbuhan. Atonik mempunyai efek tersendiri,

menyempurnakan proses penyerbukan sehingga memastikan terjadinya biji (Heddy, 1996).

Atonik mengandung zat aktif natirum orto nitrofenol, natrium nitrofenol, natrium 2,4 di nitrofenol, dan natrium 5 nitroguaiakol. Atonik tersebut berkhasiat merangsang pertumbuhan akar tanaman, meningkatkan daya serap akar terhadap unsur hara, mempercepat pertumbuhan daun, keluarnya bunga, dan pembentukan buah juga meningkatkan jumlah dan bobot buah (Sarwono, dkk, 2005).

Dokumen terkait