Pak, Banten Pak. Terima kasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN SIDANG: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Oke, tiga ya mudah-mudahan.
PEMBICARA: H. AHMAD SUBADRI (BANTEN)
Pimpinan dan Bapak Ibu Anggota yang saya hormati, pertama saya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Badan Kehormatan. Tentu yang menjadi keputusan BK adalah melalui proses yang sudah dilakukan. Namun, tadi dari pendapat Bapak Ibu yang disampaikan, saya kira ini semua didasari oleh sebuah niat baik. Tadi ada yang membawa pembicaraan ini ke seolah-oleh persoalan hukum, kemudian ke etik begitu. Nah, ini memang kalau sebuah keputusan, apa pun itu keputusannya ini adalah sebuah produk hukum. Jadi produk hukum itu saya kira ada tata caranya, ada mekanismenya, dan kita semua sepakat tadi mengacu kepada tata tertib. Nah, tatib sudah menyebutkan status tersangka itu bisa dijadikan dasar untuk memberhentikan Pimpinan DPD, baik itu ketua ataupun wakil ketua. Nah, yang menjadi pertanyaan saya atau kami tadi mungkin yang juga ada pertanyaan yang sama, ini dasar keputusan BK itu mengacu kepada pasal yang mana begitu, itu yang pertama. Dan, kalau memang ini forum tidak terus mengambil keputusan, ya saya kira segera selesaikan rapat ini, nanti ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku di kita.
Kemudian, mengenai pendapat yang disampaikan tentang etik ya, ini tentu juga ada prosedur saya kira tadi, ada tata beracara. Yang menjadi dasar tentang keluarnya keputusan BK tentang pemberhentian Pak Irman ini adalah karena Pak Irman berstatus sebagai tersangka, nah ini mengenai itu saya kira ini clear ya. Kita setuju tata tertib ini ditegakkan, apa namanya dijalankan, tetapi pertanyaan berikutnya apakah ini pemberhentian sementara
atau pemberhentian definitif dari jabatan? Nah ada pandangan bijak tadi dari Pak Mirza atau Pak Pasek tadi tentang rehabilitasi. Kalau memang ini ada sebuah komitmen, komitmen etik kita tentang menjaga marwah kehormatan DPD bahwa walaupun baru berstatus tersangka, kita ingin menunjukkan kepada publik komitmen kita untuk menegakkan good governance di sini, silakan saja. Tetapi tadi, apakah ini pemberhentian definitif atau pemberhentian sementara? Kalau pemberhentian sementara, itu kan berarti ada mekanisme bilamana praperadilan ini yang memang ini juga bukan omong kosong saya kira karena praperadilan ini kan juga sudah disampaikan lawyer-nya kepada Pimpinan DPD, surat resmi. Ini juga saya kira harus kita hargai ya.
Jadi, di sini saya mengajak kita semua mengedepankan akal sehat dan hati nurani secara bersamaan bahwa kita menyetujui penegakan tata tertib ini, kita setuju, tetapi tadi apakah ini bisa dieksekusi atau tidak? Dieksekusinya seperti apa? Apakah berhenti tetap, artinya yang bersangkutan tidak boleh lagi menjabat Pimpinan DPD manakala status tersangkanya jadi batal? Nah, ini saya kira memang di tatib ini saya bolak-balik baca ini belum ketemu mekanisme secara rigid, secara rinci bagaimana ketika lembaga ini mengambil keputusan memberhentikan seseorang atau dalam jabatannya. Nah, ini mohon nanti barangkali walaupun tidak ditanggapi dalam forum ini, saya kira Pimpinan melalui mekanisme Panmus ya dan atau mekanisme apa pun ini kita bisa diskusikan lebih bijaksana, lebih konstruktif sehingga ini tidak menimbulkan seolah-olah ada anggota yang membela Irman Gusman, ada anggota yang ingin menjerumuskan Irman Gusman begitu. Saya kira saya percaya teman-teman semua tidak ada pemikiran yang negatif terhadap itu. Semua kita menghormati proses hokum. Apa yang dilakukan KPK kita dukung, tetapi sebagai warga negara Pak Irman punya hak konstitusi untuk mengajukan praperadilan, ini juga saya kira proses hukum yang harus kita hargai dan hormati.
Sekian. Terima kasih, Pimpinan. PEMBICARA: M. SYUKUR, S.H. (JAMBI)
Izin, Ketua.
PEMBICARA: H. AHMAD NAWARDI, S.Ag (JATIM) Pimpinan.
PIMPINAN SIDANG: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Oke silakan tadi yang sudah mendaftar.
PEMBICARA: H. AHMAD NAWARDI, S.Ag (JATIM) Ahmad Nawardi dari Jawa Timur.
PIMPINAN SIDANG: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Tadi yang sudah angkat tangan sebelum Pak ini, ada tadi dari sebelah sini. Silakan. PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI)
PEMBICARA: FACHRUL RAZI, M.IP. (ACEH) Baik, terima kasih.
Saya Fachrul Razi dari Aceh PKU ke Maluku Utara.
Yang saya muliakan Saudara-saudara sekalian, hari ini kita sedang berduka berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di lembaga kita yang bertubi-tubi semenjak kita dilantik sampai sekarang tidak pernah berhenti. Saya sangat sesalkan adalah peristiwa ini saya yakin akan terus berulang. saya khawatir betul dan ini akan menjadi pelajaran buat kita ketika sampai hari ini pun ketika ada orang yang bertemu dengan kita, kita akan menjadi ketakutan tentunya. Dia bawa paket atau tidak, ini jebakan atau tidak, jadi sesama kita saling curiga sekarang. Nah, yang harus kita lakukan adalah bagaimana memunculkan kesolidan dari kita, kekompakan, dan juga mekanisme yang setidaknya bisa membuat masalah ini keluar dari masalah. Saya khawatir nanti akan banyak titipan-titipan di ruangan kita, akan banyak orang-orang yang hadir menemui kita. Seorang-orang Pak Irman saja bisa kena, apalagi seoarang kita-kita ini yang menurut saya masih baru betul di dalam apa namanya sistem yang ada. Jadi, saya minta sebenarnya solidaritas kitalah semua. Kita hargai KPK, kita hargai Pak Irman Gusman yang hari ini juga sedang melakukan mekanisme hokum, kita hargai tatib kita. Namun, bukan berarti pada hari ini kita putuskan apa yang menjadi kehendak beberapa orang seakan-akan menggiring opini publik yang saya khawatir nanti keputusan politik kita hari ini akan mempengaruhi keputusan hukum yang sedang dilaksanakan oleh keluarga Pak Irman dan sebagainya.
Coba kita lihat di Tatib kita saat ini, apakah ada putusan hari ini yang memaksakan kita harus memutuskan. Jadi menurut saya, kita cooling down dulu, tidak reaksioner, mari kita berpikir jernih, mari kita mendinginkan diri kita. Biarkan proses hukum berjalan sebagaimana aturan yang ada, silakan KPK mengusut dan sebagainya, silakan keluarga Pak Irman melakukan PPUN dan lain sebagainya, dan kita juga dalam arti ini tidak tergesa-gesa mengambil satu langkah yang nanti akan merugikan kita sendiri. Saya khawatir kalau ini benar-benar terjadi, ini akan menjadi track record yang paling buruk dalam sejarah bagi lembaga DPD. Tetapi, ketika Pak Irman melawan dan menang, saya khawatir juga dan saya yakin betul ini akan berbalik sebuah perlawanan yang menunjukkan begitu mulianya lembaga DPD RI. Jadi, harus dilihat dari dua sisi. Tidak bisa kita menutup mata, tidak bisa kita melihat saudara-saudara kita hari ini kena musibah dan kita bertubi-tubi menyerang dan sebagainya. Mungkin hari ini Pak Irman, besok Prof. Farouk, besok Ibu Ratu, besok saya sendiri dan kita semua, nauzubillah. Ini realita, Saudara-saudara. Makanya, harus kita bersama-sama bagaimana mencari jalan keluar terhadap ini semua.
Berkaitan dengan tatib, saya ingin kembalikan lagi, Pimpinan. Saya ingin mengembalikan kepada tatib, tidak ada putusan. Hari ini kita menerima yang dibacakan oleh BK, kemudian masih ada mekanisme lain, Paripurna Khusus, jadi tidak di sini. Jadi, saya rasa selesaikan segera rapat ini, kita terima apa yang dibacakan oleh MK, biarkan mekanisme berjalan, dan insya Allah saya yakin kita akan keluar dari krisis secepatnya.
Terima kasih.
Wabillahi taufiq walhidayah.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI)
Aamiin.
Kami persilakan, Pak Nawardi. Sebentar ya, Bu Anna.
PEMBICARA: H. AHMAD NAWARDI, S.Ag. (JATIM) Terima kasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Terima kasih Bapak, eh Ibu Ketua.
Saya telah menyimak dan tidak perlu membacakan lagi tatib yang sudah kita sepakati bersama dan saya yakin kita semuanya paham, tidak perlu pemahaman kembali. Tetapi, yang ingin saya tegaskan pada hari ini bahwa rakyat Indonesia, seluruh TV pasti melihat pada kita, apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan. Rakyat, publik tidak bodoh, siapa yang pro terhadap koruptor dan siapa yang pro terhadap pemberantasan korupsi pasti akan menilai. Tidak perlu menyampaikan bahwa saya antikorupsi, saya pendukung korupsi, tidak perlu menyampaikan, tetapi dari ucapan, dari perkataan, dari tindakan, saya kira masyarakat seluruh Indonesia akan menilai terhadap apa yang akan kita sampaikan pada hari ini.
Bapak dan Ibu, yang saya sampaikan sebenarnya saya sangat prihatin. Kita menginginkan bersama-sama bahwa marwah DPD RI yang dalam tiga hari ini tercabik-cabik lewat media di-bully, di medsos, di koran, dan lain sebagainya, maka dengan keputusan Badan Kehormatan itu sebenarnya itu meringankan saudara kita Bapak Irman Gusman. Karena, dengan keputusan itu saya yakin media akan berhenti memberitakan tentang Bapak Irman Gusman yang terkait dengan DPD RI. Tetapi, apabila kita ayun terus persoalan ini, maka berita-berita di media tidak akan berhenti dan kita DPD RI semakin habis bahwa sikap kita, sikap kita, kenegarawanan kita diuji pada hari ini. Apakah kita berpihak kepada tata tertib, berpihak pada rakyat?
Kita tahu bahwa keputusan KPK selama ini dalam OTT tidak pernah salah. Jangan samakan OTT KPK yang saat ini dengan kasus BG dan kasus-kasus yang lain karena itu bukan OTT. Tetapi, kita samakan di negara ini terus terang hanya ada dua OTT yang melibatkan ketua lembaga. Saya sebenarnya tidak ingin berbicara tentang beliau pada hari ini. Saya sebenarnya berharap tidak ada perdebatan tentang beliau. Kasihan beliau dan keluarganya diperdebatkan di sini di depan publik. Saya kasihan. Justru yang selalu membicarakan di depan publik tentang beliau itu selalu menjerumuskan beliau. Seharusnya tidak boleh seperti ini, kasihan. Biarlah lembaga BK yang berwenang memutuskan, kita terima, sudah selesai, maka persoalan besok sudah tenang, kita berbicara tentang penguatan lagi. Kita bedakan antara DPD dengan KPK, antara DPD dengan Bapak Irman Gusman secara personal, Bapak Irman Gusman sebagai ketua, kita bedakan. Kalau kita mengayun terus seperti ini, tidak akan pernah selesai. Setiap kita satu minggu lagi kita berkumpul di sini akan di sini akan membicarakan soal ini lagi, maka keluarga Bapak Irman Gusman, istrinya, anaknya masuk di koran lagi, masuk di TV lagi karena kita bicarakan. Kasihan mereka. Marilah kita sama-sama menjadi negarawan.
Mohon maaf, kawan-kawan, saat ini kita dilihat oleh seluruh rakyat Indonesia. Saya hanya ingin kalau tadi berbicara tentang menjaga marwah lembaga ini, mari kita jaga
marwah lembaga ini. Kita hormati proses hukum yang ada di KPK, kita hormati. Biarlah
proses hukum itu berjalan, kita sebagai lembaga juga berjalan, saling hormat-menghormati dan tatib kita jalankan, undang-undang kita jalankan. Itu saja.
Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI)