• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-2 MASA SIDANG I TAHUN SIDANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-2 MASA SIDANG I TAHUN SIDANG"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH

SIDANG PARIPURNA KE-2

MASA SIDANG I TAHUN SIDANG 2016-2017

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

I. KETERANGAN

1. Hari : Selasa

2. Tanggal : 20 September 2016

3. Waktu : 10.05 WIB – 13.25 WIB

4. Tempat : R. Rapat Nusantara V

5. Pimpinan Sidang : 1. GKR Hemas (Wakil Ketua DPD RI)

2. Prof. Dr. Farouk Muhammad (Wakil Ketua DPD RI)

6. Sekretaris Sidang : 1. Prof. Dr. Sudarsono Hardjosoekarto (Sekretaris Jenderal DPD RI)

7. Panitera : 1. Ir. Sefti Ramsiaty, MM. (Kepala Biro Persidangan I) 2. Adam Bachtiar, S.H., M.H. (Kepala Biro Persidangan II) 8. Acara : 1. Laporan Pelaksanaan Tugas Alat Kelengkapan;

2. Pengesahan Keputusan DPD RI;

3. Pengesahan keanggotaan alat kelengkapan DPD RI Tahun Sidang 2016-2017.

9. Hadir : 90 Orang

(2)

II. JALANNYA SIDANG:

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita sekalian.

Om swastiastu.

Yang saya hormati Bapak Waka, yang saya hormati para Anggota DPD Republik Indonesia, dan yang saya hormati jajaran kesetjenan. Sebelumnya memulai Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah, marilah kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan kepada para seluruh hadirin serta para Anggota DPD dimohon untuk berdiri.

PEMBICARA: PADUAN SUARA Hiduplah Indonesia raya… Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku. Hiduplah negriku.

Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.

Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Kami persilakan duduk kembali.

(3)

Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Sidang Paripurna ke-2 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dengan ini kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

KETOK 1X

Berdasarkan catatan daftar hadir yang disampaikan oleh sekretariat jenderal, sampai saat ini telah hadir 51 orang Anggota DPD dan telah menandatangani daftar hadir. Apakah sidang harus ditunda karena belum memenuhi? Kami tunda selama lima menit.

KETOK 1X

Oke Bapak dan Ibu sekalian yang terhormat, skors kita cabut kembali. KETOK 1X

Sidang yang mulia, mengawali Sidang Paripurna kali ini sesuai dengan hasil Rapat Panmus tanggal 19 September 2016, Sidang Paripurna hari ini mempunyai tiga agenda pokok di mana yang pertama adalah laporan pelaksanaan tugas alat kelengkapan, yang kedua pengesahan keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, yang ketiga pengesahan keanggotaan alat kelengkapan DPD RI Tahun Sidang 2016-2017. Sambil kita menunggu kehadiran para anggota untuk memenuhi ruangan ini, maka kita akan mendahulukan nanti adalah yang bersifat tidak pengambilan keputusan.

Sidang Dewan yang mulia, tentu dengan mengawali sidang ini menjadi keprihatinan kita bersama atas operasi tangkap tangan oleh KPK yang menjerat Saudara Irman Gusman sebagai tersangka kasus dugaan suap. Menyikapi hal ini, kita perlu mengedepankan asas praduga tak bersalah dengan tidak melakukan suatu tindakan dan justifikasi yang justru akan mempengaruhi marwah lembaga yang kita cintai ini. Untuk itu, kami juga meminta kepada seluruh anggota agar dapat secara proposional dalam memberikan respons terhadap berbagai pemberitaan terkait kasus tersebut sehingga tidak memberi dampak yang lebih buruk, baik bagi Saudara Irman Gusman maupun kelembagaan DPD RI. Terkait dengan hal ini, Rapat Panmus kemarin telah menyepakati dan menyerahkan kepada pimpinan untuk membentuk tim yang bertugas menyeimbangkan pemberitaan yang beredar di media massa dan masyarakat. Secara kelembagaan, DPD RI menyerahkan penanganan kasus ini kepada KPK dan akan terus mendukung upaya KPK dalam pengentasan korupsi dalam praktik bernegara secara konsisten dan profesional dengan berdasarkan keadilan. DPD RI juga berharap dalam menjalankan tugas pemberantasan korupsi, KPK dapat terus menjaga netralitas demi menegakkan supremasi hukum di Indonesia. Penting bagi kita semua agar tetap fokus dalam menjalankan tugas konstitusionalnya untuk memenuhi target kerja yang telah ditetapkan. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga martabat kelembagaan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dalam mengemban tugas konstitusional untuk rakyat dan daerah.

Selanjutnya, mari kita memasuki agenda laporan perkembangan pelaksanaan tugas alat kelengkapan, dan yang pertama adalah laporan tugas yang tidak mengambil keputusan.

SKORS DICABUT PUKUL 10.13 WIB SIDANG DISKORS PUKUL 10.08 WIB

(4)

Maka dengan demikian, penyampaian laporan urutan pertama mungkin bisa dilaporkan oleh Komite III. Kami persilakan Komite III.

PEMBICARA: Pdt. CARLES SIMAREMARE, S.Th. M.Si. (WAKIL KETUA KOMITE III DPD RI)

Yang terhormat Ssaudara Pimpinan DPD RI, yang terhormat Saudara Pimpinan Alat Kelengkapan DPD RI, yang terhormat Saudara-saudara Anggota DPD RI, serta Bapak Sesjen dan seluruh pegawai di Sekretariat Jenderal DPD RI, dan yang kami hormati pula seluruh wartawan media cetak maupun elektronik, dan hadirin yang berbahagia.

Asalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita sekalian.

Om swastiastu.

Pada Sidang Paripurna yang mulia ini, perkenankan kami menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite III DPD RI pada Masa Sidang I Tahun Sidang 2016-2017 ini yang mulai dari tanggal 22 Agustus–2 0 September 2016. Komite III DPD RI telah melaksanakan serangkaian kegiatan berupa Rapat Pleno 3 kali, rapat dengar pendapat 1 kali, rapat dengar pendapat umum 2 kali, peer review sebanyak 1 kali, kunjungan kerja ke dalam negeri sebanyak 1 kali, kunjungan kerja luar negeri 1 kali, dan finalisasi 1 kali. Aadapun program kegiatan yang menjadi prioritas pembahasan Komite III pada rentang waktu tersebut sebagaimana keputusan Sidang Pleno Komite III DPD RI pada tanggal 22 Agustus 2016 adalah:

1. Penyusunan RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual; 2. Penyusunan RUU tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan;

3. Penyusunan pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji;

4. Penyusunan pertimbangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh;

5. Penyusunan pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang tentang Kewirausahaan Nasional; dan isu-isu lain yang berkaitan dengan bidang tugas Komite III, seperti menerima audiensi dari Pergerakan Dokter Muda Indonesia yang mengeluhkan adanya diskriminasi dalam sistem pendidikan kedokteran lanjutan. Pimpinan Bapak Ibu Anggota DPD RI yang kami hormati, Sidang Dewan yang kami muliakan, berkenaan dengan program-program Komite III DPD tersebut di atas, dapat kami laporkan perkembangan pelaksanaan tugas Komite III, baik bidang penyusunan RUU pandangan dan pendapat maupun pengawasan.

a. Penyusunan RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai usul inisiatif Komite III DPD RI.

Sebagaimana telah kami sampaikan di atas bahwa Rancangan Undang-Undang tentang penghapusan kekerasan seksual sebagai inisiatif Komite III DPD RI merupakan program prioritas Komite II. Terkait perkembangan penyusunan RUU tersebut pada masa sidang ini, Komite III DPD RI bersama tim ahli Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual telah melaksanakan finalisasi atas RUU tersebut pada tanggal 30 s.d. 31 Agustus yang lalu dan hingga saat ini draf RUU tersebut sedang kami persiapkan untuk selanjutnya akan disampaikan kepada Panitia Perancang Undang-Undang DPD RI untuk diharmonisasi sebelum disahkan pada Sidang Paripurna DPD RI. Dan, Komite III DPD RI berharap Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual dapat diputuskan dalam Sidang Paripurna DPD RI selanjutnya. Kami informasikan juga

(5)

bahwa penyusuanan Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual merupakan hasil kerja sama antara DPD RI dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

b. Penyusunan RUU tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan sebagai usul inisiatif Komite III DPD RI.

Adapun penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan selama Masa Sidang I ini Komite III DPD RI telah melaksanakan serangkaian tindakan inventarisasi dan pendalaman materi atas RUU tersebut. Dalam hal ini inventarisasi materi, Komite III DPD RI melaksanakan peer review pada tanggal 29 Agustus 2016 dengan menghadirkan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia dan Kementerian Perindustrian. Sedangkan, pendalaman materi Rancangan Undang-Undang tentang tanggung jawab sosial perusahaan juga telah dilaksanakan antara Komite III DPD RI dengan tim ahli rancangan Undang-Undang tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan pada rapat pleno Komite III DPD RI tanggal 23 Agustus 2016. Dan, untuk menyelesaikan penyusunan RUU ini, Komite III DPD RI menargetkan dapat menyelesaikan pada akhir Masa Sidang I Tahun Sidang 2016-2017.

c. Pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa DPD RI dapat melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang yang salah satunya berkaitan dengan bidang agama. Oleh karena itu, DPD RI dalam hal ini Komite III, setiap tahunnya selalu melaksanakan kegiatan pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Dalam pelaksanaan pengawasan atas penyelenggaraan ibadah haji ini, Komite III DPD RI melaksanakan serangkaian kegiatan, baik melalui rapat kerja, rapat dengar pendapat dengan pemerintah, serta rapat dengar pendapat umum dengan pakar. Selain itu, untuk memperdalam materi pengawasan, Komite III DPD RI juga terjun langsung ke lapangan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dalam hal ini negara Arab Saudi yang menjadi lokasi pelaksanaan ibadah haji. Selain itu, merespons atas terjadinya penahanan 177 jamaah haji Indonesia oleh pemerintah Filipina akibat pemalsuan paspor. Pada tanggal 19 September kemarin, Komite III DPD R RI melaksanakan kunjungan kerja mendesak ke Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengetahui secara langsung terkait dengan permasalahan tersebut.

d. Pertimbangan dan pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang.

Pada masa sidang ini, Komite III DPD RI menerima dua draf RUU, yaitu RUU tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh serta RUU tentang Kewirausahaan Nasional. Dan, sebagaimana amanat rapat Panmus serat kesepakatan rapat pleno Komite III DPD RI pada tanggal 22 Agustus yang lalu telah disepakati bahwa Komite III DPD RI akan menyusun pertimbangan dan pandangan terhadap kedua draf Rancangan Undang-Undang tersebut. Dalam penyusunan pertimbangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji hingga saat ini masih dalam tahap inventarisasi materi. Dalam kegiatan tersebut, Komite III DPD RI telah melaksanakan rapat dengar pendapat dengan mengundang Indonesia Corruption Watch dan Himpunan Penyelenggara Haji dan Umroh pada tanggal 6 September yang lalu. Selanjutnya pada tanggal 7 September 2016, Komite III juga telah melaksanakan kegiatan rapat dengar pendapat umum dengan menghadirkan Ade Marfudin selaku Ketua Rabit Tahaji Indonesia. Sedangkan, dalam penyusunan pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang tentang Kewirausahaan Nasional hingga saat ini juga

(6)

masih tahap inventarisasi di mana kegiatan tersebut ialah rapat dengar pendapat umum dengan mengundang Ipeng Wahid pada tanggal 14 September yang lalu. Pimpinan, Bapak Ibu Anggota DPD RI yang kami hormati, Sidang Dewan yang kami muliakan, demikianlah laporan pelaksanaan tugas Komite III DPD RI selama Masa Sidang I Tahun 2016-2017 mulai dari tanggal 22 Agustus sampai 20 September. Dan pada akhirnya, perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Pimpinan dan seluruh Anggota DPD RI dan semua pihak yang telah membantu. Semoga segala upaya yang diberikan dapat balasan kebaikan yang berlipat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak lupa pula kami atas nama Pimpinan dan Anggota Komite III DPD RI juga menyampaikan rasa prihatin atas terjadinya penangkapan Bapak Irman Gusman, bahkan yang sempat diisukan telah tertangkap juga Pendeta Carles Simare-mare oleh KPK.

Demikianlah penyampaian kami. Atas perhatian kita semua kami mengucapkan terima kasih.

Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Damai sejahtera bagi kita sekalian

Om shanti shanti shanti om.

Terima kasih

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih, Pak Pendeta Carles Simaremare yang mewakili Komite. Dilanjutkan laporan dari BPKK. Kami persilakan BPKK, Pak John laporan dari BPKK, Pak.

PEMBICARA: Prof. Dr. JOHN PIERIS, S.H., M.S. (KETUA BPKK DPD RI)

Saya masih diganggung oleh Pak Abdurachman Lahabato, sorry. Untuk jaga Saudara Basri itu.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Kami mohon siap PPUU.

PEMBICARA: Prof. Dr. JOHN PIERIS, S.H., M.S. (KETUA BPKK DPD RI)

Yang terhormat Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, yang kami hormati Anggota Dewan Perwakilan Republik Indonesia, dan hadirin yang berbahagia.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua, dan

Om swastiastu.

Sidang Dewan terhormat, Badan Pengembangan Kapasitas Kelembagaan melalui Kelompok DPD di MPR RI telah merumuskan materi perubahan konstitusi yang telah dibahas melalui sidang pleno Kelompok DPD di MPR bertanggal 15 September 2016 yang lalu dan telah menyepakati lima hal. Yang pertama, penataan atau penguatan kewenangan DPD menjadi satu keharusan untuk diperjuangkan sebagai materi usul prubahan Undang-Undang Dasar 1945 oleh Kelompok DPD di MPR RI. Dua, penandatanganan usul perubahan Undang-Undang Dasar 1945 oleh Kelompok DPD di MPR RI. Dan yang ketiga, harus ada sinergitas antara semua stakeholder untuk amademen kelima itu, antara lain Badan Pengkajian MPR, Lembaga Pengkajian MPR ya, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Atas hasil Pleno Kelompok tersebut, BPKK akan merumuskan strategi pengumpulan

(7)

tanda tangan Anggota DPD RI yang saat ini baru mencapai 54 dari 131 penanda tangan dan menyusul kemudian penandatanganan dukungan dari Anggota-anggota Fraksi di MPR RI.

Hadirin sekalian, dalam upaya melakukan penataan sistem ketatanegaraan melalui usul perubahan UUD 1945, kita tahu semua bahwa saat ini DPD tengah mengalami ujian berat menghadapai proses hukum yang sedang dihadapi Ketua DPD Saudara Irman Gusman di Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan oleh karena itu, BPKK dan Kelompok DPD di MPR mengimbau beberapa langkah strategis, khususnya mengenai keterkaitan dengan perjuangan DPD terhadap perubahan amandemen kelima sebagai berikut.

1. Upaya untuk melakukan langkah-langkah taktis dan politis terkait perubahan Undang-Undang Dasar 1945 untuk sementara akan di-pending sambil mengikuti dan memantau perkembangan politik dan sikap-sikap fraksi di MPR, terutama mengenai isu GBHN dan penguatan kewenangan MPR. Saya baru kembali dari Padang dan Kendari, ternyata isu GBHN itu gencar dilakukan oleh Badan Pengkajian MPR, tetapi juga mendapat penolakan yang serius dari kelompok-kelompok perguruan tinggi di berbagai daerah. Dapat saya katakan bahwa justru isu penguatan DPD itu mendapatkan simpati yang luar biasa ya, tinggal momentum politik yang kita pilih untuk itu.

2. Diharapkan agar Anggota DPD tetap solid, kompak, dan menaruh perhatian serius terhadap perkembangkan selanjutnya dalam amandemen kelima.

3. Sesuai hasil sidang pleno Kelompok DPD di MPR tanggal 15 September diharapkan kepada Anggota Kelompok DPD yang belum mendatangangi dukungan amandemen dapat segera menandatangani pada setiap hari kerja Senin sampai dengan Kamis, mulai dari pukul 13 sampai dengan 14 di ruang rapat BKK lantai 1 Gedung A DPD. 4. Perlu ditingkat kebersamaan dan kerja sama yang solid antara Kelompok DPD BPKK,

Badan Pengkajian MPR, Lembaga Pengkajian dalam mengkonsolidasikan wawasan dan visi strategis terkait dengan upaya penguatan kewenangan DPD melalui amandemen kelima itu.

5. Kerja sama yang baik harus dilakukan juga dengan komunitas maupun entitas politik yang mendukung amandemen, antara lain dengan gerakan Civil Society atau gerakan masyarakat yang mendukung upaya amandemen kelima, juga dengan forum rektor perguruan tinggi dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Saudara-saudara sekalian, lima poin penting ini sebenarnya merupakan hakikat perubahan konstitusi untuk memperkuat institusi demokrasi, menyesuaikan sistem pemerintah negara, dan mengoreksi pasal -pasal konstitusi yang belum sesuai dengan nilai-nilai ideal sistem ketatanegaraan berdasarkan Pancasila.

Sidang Dewan yang terhormat, demikian laporan perkembangan pelaksanaan tugas BPKK pada Sidang Paripurna yang terhormat ini. Atas perhatian Pimpinan dan Anggota DPD kami ucapkan terima kasih. Semoga cobaan yang kita hadapi dapat segera dilalui sehingga tekad dan semangat utuh untuk melaksanakan penataan sistem ketatanegaraan di Indonesia melalui perubahan kelima UUD 1945 tetap terjaga dan mendapatkan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Bersama kita melangkah menuju amandemen kelima UUD 45, khususnya dalam penataan penguatan kewenangan DPD RI.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om shanti shanti shanti om.

Jakarta, 20 September 2016.

Ketua: John Pieris. Wakil Ketua: Instiawati Ayus. Sekretaris atau Wakil Ketua, sorry, Wakil Ketua: Dr. Bambang Sadono, S.H., M.H.

(8)

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI)

Terima kasih dari BPKK, Pak Prof. John Pieris. Kami persilakan dari PPUU. Kami mohon dari PPUU.

PEMBICARA: Drs. MUHAMMAD AFNAN HADIKUSUMO (KETUA PPUU DPD RI) Terima kasih, Pimpinan.

Yang terhormat Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, yang terhormat Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, dan hadirin yang berbahagia.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Shalom.

Om swastiastu.

Hadirin yang kami hormati, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga sidang pada hari ini dapat kita laksanakan. Berhubung masih bulan Dzulhijah, izinkan kami atas nama Pimpinan dan Anggota Panitia Perancang Undang-Undang mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 Hijriah.

Sesuai dengan agenda Sidang Paripurna hari ini, izinkan kami atas nama Panitia Perancang Undang-Undang menyampaikan perkembangan pelaksanaan tugas Panitia Perancang Undang-Undang selama Masa Sidang I Tahun Sidang 2016-2017, yang antara lain:

1. Laporan perkembangan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Pembentukan Undang-Undang.

Perlu kami sampaikan bahwa untuk penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Pembentukan Undang-Undang kami telah melaksanakan kegiatan rapat dengar pendapat umum untuk mendapatkan masukan dari ahli atau pakar terhadap hasil uji sahih sebagai bahan untuk finalisasi Rancangan Undang-Undang tentang Pembentukan Undang-Undang yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 sampai dengan 14 Oktober 2016. Diperoleh pandangan dan pendapat dari pakar yang antara lain bahwa perlu penegasan terhadap materi Rancangan Undang-Undang tentang Pembentukan Undang-Undang hanya mencantumkan materi yang berkaitan dengan undang-undang atau sampai perundang-undangan. Bahwa berkaitan dengan pengaturan mengenai partisipasi masyarakat, perlu adanya pengaturan yang lebih jelas dan lebih aktual.

2. Laporan perkembangan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Perekonomian Nasional.

Untuk RUU tentang Sistem Perekonomian Nasional, PPUU juga telah melaksanakan rapat dengar pendapat umum untuk mendapatkan masukan dari ahli atau pakar terhadap hasil uji sahih sebagai bahan untuk finalisasi RUU tentang pembentukan undang-undang yang akan dilaksanakan tanggal 12 sampai dengan 14 Oktober 2016. Diperoleh pandangan dan pendapat dari pakar yang antara lain bahwa RUU tentang Sistem Perekonomian Nasional harus dapat mempertegas isi dari RUU dengan memberikan batasan atau penjelasan terhadap undang-undang yang telah ditetapkan sebelum RUU ini ada. Yang kedua, bahwa RUU tentang Sistem Perekonomian Nasional harus menjadi RUU payung bagi undang-undang yang telah ada atau menjadi RUU yang sama sekali baru.

(9)

3. Laporan perkembangan penyusunan Program Legislasi Nasional atau Prolegnas Rancangan Undang-Undang Prioritas tahun 2017.

Selain kegiatan penyusunan RUU, PPUU juga telah melakukan rapat gabungan dengan pimpinan komite yang telah dilaksanakan pada tanggal 1 September 2016 yang lalu. Disepakati akan mendorong kembali untuk segera dibahasnya RUU usulan DPD RI yang masuk dalam daftar perubahan Prolegnas Prioritas tahun 2016 yang sampai sekarang belum ditindaklanjuti perubahannya pembahasannya daftar RUU tersebut, yakni RUU tentang Jabodetabekjur, RUU tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Wilayah Kepulauan, RUU tentang Sistem Budidaya Tanaman, RUU tentang Barang dan Jasa negara, dan RUU tentang Perkopesian. Apabila dari kelima RUU tersebut belum dibahas di tahun 2016 ini, maka kelima RUU itu akan diusulkan kembali menjadi RUU Prioritas tahun 2017 dan ditambah dengan sepuluh RUU usulan dari komite dan PPUU yang masing-masing mengusulkan dua RUU.

Adapun kesepuluh RUU tersebut adalah: 1) RUU tentang Pengelolaan Kawasan Perbatasan usulan Komite I; 2) RUU tentang perubahan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua usulan Komite I; kemudian 3) Rancangan Undang-Undang tentang perubahan atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman usulan Komite II, 4) RUU tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup usulan Komite II; 5) Rancangan Undang-Undang tentang Bahasa Daerah usulan Komite III; 6) Rancangan Undang-Undang tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan usulan Komite III; 7) Rancangan Undang-Undang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional usulan Komite IV; 8) Rancangan Undang-Undang tentang Penilai usulan Komite IV; 9) RUU tentang Pembentukan Undang-Undang usulan PPUU; dan 10) RUU tentang Sistem Perekonomian Nasional usulan PPUU. Sehingga, usul Prolegnas DPD RI Prioritas RUU tahun 2017 berjumlah 15 buah RUU. Dari kelima belas RUU yang diusulkan tersebut, tentunya akan dipetakan lebih lanjut terkait dengan persiapan dan kelengkapannya, baik naskah akademik maupun draf RUU-nya.

Dalam rapat gabungan kemarin juga kita mintakan usul RUU yang akan dibahas di internal masing-masing komite untuk tahun 2017 mendatang, dan telah ada beberapa judul RUU yang diusulkan oleh komite, kecuali Komite I yang belum mengusulkan RUU yang akan dibahas secara internal pada tahun 2017. Adapun usul RUU dari komite yang dibahas pada tahun 2017 di internal masing-masing, yaitu RUU tentang Indikasi Geografis usulan Komite II, RUU tentang Geologi usulan Komite II, RUU tentang Kebidanan usulan Komite III, RUU tentang Perubahan UU Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan usulan Komite III, RUU tentang Pajak Penghasilan usulan Komite IV, RUU tentang Pengelolaan Kekayaan Negara dan Daerah usulan Komite IV, RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1980 tentang Hak-hak Keuangan Administratif Pimpinan dan Anggota Lembaga Tinggi Negara usulan PPUU.

Sedangkan berdasarkan masukan dari LSM dan anggota, maka terdapat beberapa RUU yang dapat kita ajukan sebagai salah satu usulan dalam Prolegnas Prioritas tahun 2017, yaitu RUU tentang Pemilu dan RUU tentang Perubahan atas PPUU tentang Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kedua RUU itu disampaikan oleh Perludem dan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia di mana kedua RUU itu telah lengkap dari sisi naskah akademik maupun RUU-nya. Kedua RUU yang masuk ini akan kami ajukan dalam Prolegnas Prioritas 2017 agar pemerintah dan DPR dapat bergerak untuk segera membahas kedua RUU ini.

(10)

Bapak Ibu yang saya hormati, kami juga menyampaikan turut perhatian atas musibah yang menimpa Ketua DPD RI Bapak Irman Gusman dan kami sangat berhadap teman-teman semua, Pimpinan juga, BK, dalam hal memberikan pandangannya bisa lebih adil karena adil adalah pangkal dari kesejahteraan dan ketidakadilan itu pangkal dari kehancuran. Saya kira itu dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf.

Billahi taufik walhidayah.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom

Om shanti shanti shanti om.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Yang saya hormati Pimpinan dan para Anggota DPD RI, kita akan memasuki laporan dari Komite II dan IV yang dalam hal ini untuk pengambilan keputusan, dan saat ini sudah hadir sebanyak 70 anggota sehingga dalam pengambilan keputusan bisa diambil. Kami persilakan dari Komite II. Oh terbaru sudah 79 anggota dengan komposisi tugas 1, maaf Bu Anna, izin 13, dan 2 sakit.

Silakan, Bu Anna.

PEMBICARA: ANNA LATUCONSINA (WAKIL KETUA KOMITE II DPD RI)

Yang kami hormati Pimpinan beserta seluruh Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, yang kami hormati Saudara Sesjen berserta seluruh staf, yang kami hadirin sekalian.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Om swastiastu.

Perkenankan pada saat ini saya akan menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite II DPD RI pada Sidang Paripurna ke-2 DPD RI penutupan Masa Sidang I Tahun Sidang 2016-2017. Perkembangan pelaksanaan tugas yang akan dilaporkan Komite II pada sidang hari ini, yaitu mengenai pertama penyusunan RUU usul inisiatif DPD RI, kedua pandangan DPD terhadap rancangan undang-undang.

Penyusunan RUU usul inisiatif DPD RI, yaitu tugas Komite II dalam menyusun RUU inisiatif saat ini antara lain: 1) penyusunan RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2) penyusunan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 23 tentang Perlindungan Varitas Tanaman. Pada Masa Sidang I Tahun Sidang 2016-2017, Komite II telah melaksanakan uji sahih terhadap RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 23 tentang Perlindungan Varitas Tanaman sebagai salah satu tahap penyusunan RUU usul inisiatif DPD dan penyusunan RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup akan dilaksanakan kegiatan diuji sahih. Komite II DPD RI berharap pada masa sidang berikutnya dapat menyelesaikan dua RUU usul inisiatif tersebut.

Kedua, pandangan Komite II. Komite II DPD RI pada Masa Sidang I ini juga telah menyelesaikan pandangan terhadap dua RUU, yakni RUU tentang Arsitek dan RUU tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Adapun beberapa poin penting pandangan DPD RI adalah sebagai berikut.

RUU tentang Arsitek:

a. DPD RI berpendapat naskah akademik RUU Arsitektur tidak sesuai dengan sistematika penyusunan naskah akademis. Naskah akademis RUU Arsitektur tidak memuat landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis, dan jangkauan arah pengaturan dan

(11)

ruang lingkup materi undang-undang serta tidak menggunakan metode penelitian hukum, baik yuridis, normatif, maupun yuridis empiris.

b. DPD RI berpandangan bahwa pada setiap diktum yang menyatakan pembentukan satu undang-undang perlu mencantumkan dasar hukum yang memuat keberadaan DPD RI. Untuk mempertegas fungsi dan kewenangan DPD RI, maka pada bagian dasar hukum mengingat ditambahkan Pasal 22d.

c. DPD RI memandang RUU tentang Arsitek menekankan keberadaan profesi arsitek. Penekanan profesi arsitek dalam RUU ini ditandai dengan menggunakan frasa profesi arsitek berulang kali dalam beberapa pasal. Dengan demikian pengertian profesi arsitek dengan prinsip dasar pada etika profesi yang memahami dan menguasai permasalahan desain arsitek perlu didefinisikan dalam Bab Ketentuan Umum.

d. DPD RI berpandangan bahwa suatu rancangan RUU yang terdiri atas batang tubuh memuat pengelompokan materi muatan yang dirumuskan secara lengkap sesuai dengan kesamaan materi yang bersangkutan. Dan, jika terdapat materi muatan yang diperlukan, tetapi tidak dapat dikelompokkan dalam ruang lingkup pengaturan yang sudah ada, materi tersebut akan dimuat dalam Bab Ketentuan Lain-lain.

e. Dalam pandangan DPD RI, pendidikan arsitek mengacu pada Undang-Undang Perguruan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012 dan International Union of Architects (UIA) yang mengatur kompetensi arsitek serta setara internasional.

f. DPD RI berpendapat arsitek harus memperhatikan artistik, estetik, savety, comfort, dan konteks.

g. DPD RI berpandangan substansi standardisasi adalah kualitas arsitek yang diperoleh dengan mendapatkan gelar akademik, gelar profesi, dan sertifikat keahlian tertentu sebagaimana disebutkan dalam Pasal 18 Ayat (1) dalam RUU ini.

h. DPD RI memandang Pasal 20 Ayat (5) yang berbunyi lisensi diberikan oleh pemerintah daerah provinsi atas rekomendasi organisasi profesi arsitek dapat menimbulkan perdebatan kewenangan di kemudian hari.

Bapak Ibu hadirin yang kami hormati, RUU berikutnya yaitu tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

a. Karantina adalah suatu lembaga yang dibentuk pemerintah di pelabuhan darat dan udara untuk menangkal bahaya penyakit yang dilengkapi dengan beberapa laboratorium dan sumber daya manusia tertentu.

b. DPD RI berpandangan bahwa salah satu hal yang harus mendapat perhatian dalam penyusunan RUU Karantina ini adalah sebagaimana, adalah bagaimana mencegah masuknya hama penyakit di satu sisi, tetapi juga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar dunia melalui efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan karantina sehingga tidak menimbulkan high cost berupa biaya penumpukan produk di pelabuhan bagi para importir dan eksportir.

c. DPD RI memandang bahwa fasilitas karantina yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan juga ketersediaan sumber daya manusia yang andal di bidang karantina harus diperhatikan agar pelaksanaan fungsi dan peran karantina akan lebih optimal ke depan.

d. DPD RI memandang bahwa untuk melaksanakan tujuan dan fungsi karantina hewan, ikan, dan tumbuhan secara lebih optimal, maka diperlukan adanya badan khusus karantina yang dapat menyinergikan fungsi karantina karena kelembagaan yang menyelenggarakan karantina hewan, ikan, dan tumbuhan berada pada kondisi badan yang berbeda, yakni Badan Karantina Pertanian yang berada di bawah karantina Kementerian Pertanian dan Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan.

(12)

Bapak Ibu hadirin yang kami hormati, demikianlah dua rancangan undang-undang. Sebelum kami menghadiri laporan Komite II ini, kami mengharapkan Sidang Paripurna ini dapat menghasilkan: pertama, hasil penyusunan pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Arsitek, dan yang kedua hasil penyusunan DPD RI terhadap RUU tentang Karantina Hwean dan Tumbuhan. Demikian laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite II pada Sidang Paripurna ke-2 Masa Sidang I Tahun Sidang 2016-2017.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua. Om shanti shanti shanti om.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Sidang yang mulia, Bapak dan Ibu sekalian, setelah kita mendengarkan bersama laporan Pimpinan Komite II, apakah kita dapat menyetujui: satu, pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Arsitek, yang kedua pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Karantina Hewan dan Tumbuhan, dapat disetujui?

KETOK 2X

Kemudian selanjutnya, kami persilakan kepada Komite IV untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugasnya.

PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA KOMITE IV DPD RI)

Bismillah.

Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita sekalian.

Om swastiastu.

Yang saya hormati Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah selaku pimpinan siding, yang saya hormati para Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, hadirin yang berbahagia. Terlebih dahulu marilah kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Mahakuasa yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian sehingga dapat menghadiri Sidang Paripurna ke-2 Dewan Perwakilan Daerah hari ini. Kami atas nama Pimpinan dan segenap Anggota Komite IV menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan laporan kinerja laporan tugas Komite IV yang terdiri atas: pertama, kami laporkan bahwa saat ini sedang merampungkan Rancangan Undang-Undang Penilai yang sudah pada tahap penyelesaian naskah akademik dan draf RUU; yang kedua adalah penyelesaian RUU Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang telah disampaikan kepada PPUU untuk finalisasi dan sinkronisasi.

Hadirin Sidang Paripurna yang berbahagia, pada saat ini perkenankan saya menyampaikan pertimbangan terhadap RAPBN tahun 2017 yang merupakan pertimbangan tahap dua untuk melanjutkan pertimbangan atas kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2017 yang telah disampaikan sebelumnya. Pertimbangan ini disusun setelah melaksanakan rapat pleno Komite IV bersama tim anggaran Komite I, II, dan III; rapat-rapat kerja dengan Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas, Gubernur Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik; dan telah melaksanakan finalisasi dengan mengundang narasumber. Hasilnya sebagai berikut, karena di tangan Bapak-bapak Ibu serta di layar sebelah kanan saya sudah ada, maka saya tidak akan

(13)

membacakan lengkap. Saya akan bacakan bagian-bagian yang merupakan rekomendasi pertimbangan DPD RI.

Pertimbangan terhadap asumsi ekonomi makro tahun 2017:

1. DPD RI memberikan pertimbangan asumsi ekonomi makro tahun 2017 yang lebih realistis sebesar 4,9% sampai 5,2%.

2. Inflasi tahun 2017, target inflasi tahun 2017 yaitu 4%. Rekomendasinya di sana agar pemerintah berusaha bekerja keras menjaga stabilitas harga komoditas dan mengurangi potensi kenaikan inflasi.

3. Nilai tukar rupiah, DPD RI merekomendasikan pemerintah harus menjaga rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar pada kisaran 13.300 sampai 13.600 perdolar US di tahun 2017.

4. DPD RI merekomendasikan rata-rata tingkat bunga SPPN di tahun 2017 sebesar 5,0% sampai 6,0%.

5. DPD RI merekomendasikan pemerintah untuk menyiapkan suatu pengaman, sistem pengaman untuk mengurangi dampak fluktuasi harga minyak di pasar internasional, termasuk penetapan pengurangan subsidi.

6. DPD merekomendasikan bahwa untuk mencapai lifting minyak pada tahun 2017, pemerintah harus mengoptimalkan perolehan dari sumur minyak yang sudah ada, peningkatan kapasitas produksi, dan percepatan produksi di sumur-sumur minyak yang baru.

7. Angka kemiskinan, pengurangan angka kemiskinan tahun 2017 pemerintah pada kisaran 9,5% sampai 10,5%. DPD RI merekomendasikan target penurunan tingkat kemiskinan agar dibuat lebih progresif, yaitu di bawah 9%.

8. DPD RI merekomendasikan target tingkat pengangguran, pengurangan tingkat pengangguran tahun 2017, yaitu 5,2% sampai 5,5%.

9. Gini ratio, DPD RI berpendapat agar target pengurangan tingkat kesenjangan atau gini ratio tahun 2017 yang dibuat oleh pemerintah, yaitu sebesar 0,38%. Diperlukan kebijakan jangka panjang yang dilaksana oleh pemerintah secara konsisten.

10. Pendapatan dalam negeri, ini sudah berkaitan dengan pendapatan, pendapatan tahun 2017 ditargetkan 1.736 triliun atau turun sebesar 2,7% jika dibandingkan dengan APBNP tahun 2016. DPD RI merekomendasikan penurunan target pendapatan dalam negeri masih realistis. Berdasarkan out log APBNP tahun 2016 gambaran Kementerian Keuangan, realisasi pendapatan dalam negeri diestimasi akan terealisir sebesar 1.583 triliun. Dengan demikian, sebenarnya target pendapatan dalam negeri tahun 2017 masih bisa mengalami pertumbuhan sebesar 153 triliun. Ini ada kajiannya terlampir yang disusun oleh Pusat Kajian Anggaran atau Budget Office DPD.

Pertimbangan DPD RI terhadap kebijakan fiskal tahun 2017, target penerimaan saya sudah gambarkan seperti tadi. DPD RI merekomendasikan bahwa peningkatan target penerimaan ini membutuhkan kecermatan dan keseriusan dalam pengelolaannya sehingga pengalaman tahun 2016 tidak terulang yang menunjukkan adanya kesenjangan antara target dan realisasi.

Poin B.

1. DPD merekomendasikan perlunya kecermatan, keseriusan dalam pengelolaan, saya tidak bacakan dari atas angka-angkanya tadi. Langkah-langkah yang perlu dilakukan meliputi: a) pembenahan sistem perpajakan, b) penetapan peta jalan wajib bagi pajak yang telah dideklarasikan yang berkait dengan tax amnesty, c) pemberlakuan insentif terhadap kekayaan yang direpatriasi malalui tax amnesty terutama yang digunakan untuk membiayai pokok-pokok proyek-proyek strategis, d) pengintegrasian data lintas departemen, dan e) mengintensifkan penerimaan pajak pada bisnis daur ulang.

(14)

2. DPD RI merekomendasikan agar seluruh kebijakan belanja negara, khususnya dana transfer daerah harus dirumuskan secara realistis dengan mempertimbangkan kebutuhan daerah yang strategis untuk menjamin keberlangsungan pembangunan, penyelenggaran pemerintahan, dan pelayanan bagi masyarakat di daerah yang berkepastian, ada kata yang hilang di situ.

3. DPD RI merekomendasikan subsidi, jadi ada subsidi, merekomendasikan subsidi tersebut perlu dilanjutkan dengan memprioritaskan sasaran rumah tangga sebesar 15,5 juta keluarga.

4. Terhadap subsidi pupuk, DPD RI merekomendasikan bahwa dalam subsidi pupuk perlu langkah-langkah sebagai berikut: ketepatan sasaran subsidi, kontrol atas harga eceran tertinggi, penyederhanaan tata niaga, penataan basis data kelompok sasaran. Pertimbangan DPD tentang dana transfer ke daerah dan dana desa tahun 2017:

1. DPD RI merekomendasikan pemerintah perlu fokus untuk mengatasi berbagai kendala dalam pengelolaan dana transfer daerah, seperti terlambatnya penerbitan petunjuk teknis sekalipun diakui akan terbit atau sudah terbit untuk petunjuk teknis tiga tahunan melalui kepres, tetapi selalu ada penyempurnaan tiap tahun. Karena, ini akan menyebabkan kesulitan administrasi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah, kurang tertatanya manajemen pengolahan dana lokasi khusus atau DAK sebagai akibat terlalu banyaknya jenis program DAK, terlambatnya penyaluran DAK sebagai akibat keterlambatan pedoman penerbitan teknis, dan meningkatnya beban aparat pemerintah daerah yang menyusun dana penggunaan DAK dengan dasar hukum dalam pemeriksaan penggunaan DAK, dan kurang efektifnya pembangunan DAK sebagai akumulasi dari berbagai permasalahan sebelumnya.

2. Dana transfer yang ditargetkan di tahun 2016, 723, 9 triliun ini realisasinya hanya diperkirakan 659,1. Target PABN 2017, 700 triliun, ada peningkatan sebesar 40,9 triliun atau 6,08%. DPD RI merekomendasikan agar dana transfer ke daerah pada RUU APBN tahun 2017 berada pada kisaran 723,49 triliun.

3. poin 3 berkait dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Dana Desa, DPD RI meromendasikan perlunya diberikan kewenangan dan sumber daya lebih besar kepada masyarakat dan pemerintah desa untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah yang berdasarkan prakarsa, asal usul, adat dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini ada rumusan yang merupakan kajian Budget Office yang menjadi lampiran nanti.

4. poin 4 pengelolaan dana desa dan seterusnya, rekomendasi DPD adalah pemerintah perlu segera melakukan langkah-langkah perbaikan untuk mengatasi potensi permasalahan pengelolaan dana desa.

5. poin 5 DPD merekomendasikan agar penataan target penerimaan negara yang dilakukan secara lebih realistis dan berkepastian untuk menghindari ketidakpastian daerah dalam penyusunan APBD provinsi, kabupaten, maupun kota.

6. Berkait dengan dana alokasi umum, DPD RI merekomendasikan agar besaran DAU tidak mengalami penundaan dan pengurangan sekalipun target penerimaan negara tidak tercapai sesuai dengan pengaturan pada Pasal 11 Ayat (8) Undang-Undang Nomor 14 tahun 2015 tentang APBN tahun 2016 yang ditetapkan dan diberlakukan pada APBN tahun 2016, yakni pada Pasal 11 Ayat (9) RUU APBN tahun 2017. Komite IV dalam kaitannya dengan DAU tahun 2016 ini akan membentuk tim timja, tim kerja, tim kajian untuk nanti akan mengeluarkan pertimbangan terhadap DAU tertunda terbayar tahun 2016.

(15)

7. poin 7 DPD RI merekomendasikan perlu adanya kejelasan pemerintah tentang posisi anggaran untuk pembayaran DAU yang tertunda tersebut dalam RUU APBN tahun 2017. Jika dana untuk pembayaran RUU ditunda telah diperhitungkan dalam RUU APBN tahun 2017, maka DAU tahun 2017 semuanya hanya sebesar 385,4 triliun. Dengan demikian, tidak ada penambahan DAU, melainkan justru terjadi penurunan DAU. Jadi, analisis Komite IV seperti itu, DAU tertunda tahun 2016 masuk pembayarannya pada tahun 2017, maka sesungguhnya tidak ada penambahan dalam DAU tahun 2017 pada RAPBN tersebut.

8. poin 8 Yang berkait dengan tunjangan profesi guru dan lain sebagainya, DPD RI merekomendasikan agar pemerintah menyesuaikan anggaran tunjangan profesi guru (TPG) dalam RUU APBN tahun 2011 dengan jumlah minimal sebesar 46,4 triliun dan bukan 56,6 triliun sebagaimana tercantum dalam nota keuangan dan RUU APBN tahun 2017.

Pimpinan dan para Anggota serta Sidang Paripurna yang kami hormati, demikian materi pertimbangan DPD RI yang dirumuskan oleh Komite IV yang kami mohonkan untuk diputuskan pada Sidang Paripurna saat ini karena pembahasan RUU RAPBN oleh DPR sedang berlangsung sekarang ini yang kemungkinan akan disahkan pada pertengahan Oktober tahun 2016. Demikian laporan pelaksanaan tugas Komite IV yang dapat kami sampaikan dalam Sidang Paripurna terhormat ini. Kami atas nama Pimpinan dan Anggota Komite IV mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dukungan terhormat Pimpinan, Anggota, dan seluruh jajaran Sekretariat Jenderal DPD RI, staf ahli, teman-teman wartawan, dan terkhusus para tim anggaran Komite I, II, dan III. Demikian kami sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om shanti shanti shanti om.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Bapak dan Ibu sekalian, setelah kita mendengarkan laporan dari Komite IV, apakah kita dapat menyetujui pertimbangan DPD RI terhadap Rancangan Undang-Undang APBN tahun 2017?

PEMBICARA: Drs. H. ABDURACHMAN LAHABATO (MALUT) Mohon izin bicara, Pimpinan. Dari Malut, Maluku Utara.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Silakan, Pak.

PEMBICARA: Drs. H. ABDURACHMAN LAHABATO (MALUT) Terima kasih.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rekan-rekan anggota yang saya hormati, pertama saya menyampaikan apresiasi kepada Komite IV telah berhari-hari, bahkan sampai tengah malam berusaha untuk menyusun pertimbangan APBN 2017. Tetapi, saya ingin meminta pertimbangan dalam satu poin yang dibacakan oleh Ketua Komite IV tadi.

(16)

Subsidi pupuk mohon dipertimbangkan dalam jumlah puluhan triliun. Dalam amatan saya, di wilayah-wilayah tertentu di republik Indonesia, utamanya di wilayah Maluku dan Maluku Utara dan beberapa wilayah provinsi kepulauan, distribusi pupuk sangat jarang terlihat. Karena itu, saya meminta pertimbangan agar subsidi pupuk sebagian diperuntukan kompensasi pembiayaan terhadap pembangunan di bidang perikanan dan perkapalan. Saya memberi contoh di wilayah Maluku Utara, tidak pernah saya dalam setiap reses saya melakukan tatap muka dengan masyarakat petani, tidak pernah saya lihat distribusi pupuk sampai di wilayah-wilayah pedesaan. Justru yang menjadi problem di wilayah-wilayah provinsi kepulauan adalah bagaimana pengadaan kapal yang bisa menyaingi illegal fishing yang dilakukan oleh negara-negara tetangga di Filipina. Itu yang menjadi problem bagi wilayah-wilayah tertentu. Karena itu, mohon dengan sangat kepada Komite IV untuk mempertimbangkan ulang subsidi pupuk sebagian dikompensasi untuk pengadaan kapal di wilayah-wilayah provinsi tertentu.

Terima kasih

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Iya terima kasih, Pak. Saya kira, oh silakan Pak Bahar.

PEMBICARA: Drs. H. BAHAR NGITUNG, M.B.A. (SULSEL)

Terima kasih, Pimpinan yang saya hormati, Saudara-saudaraku Senator Indonesia. Mendengarkan laporan Pimpinan Komite IV walaupun dia berada di samping saya sama-sama dari Sulawesi Selatan, tetapi ada hal yang ingin saya sampaikan belajar dari pengalaman selama 12 tahun keberadaan DPD. Bahwa, cara-cara kita membuat pertimbangan dengan model seperti ini tidak satu pun yang pernah tahu apakah itu dipertimbangkan atau tidak, bahkan kita tidak tahu ujung surat itu ada di mana. Kenapa kita tidak belajar dari 12 tahun pengalaman itu?

Kita mengubah cara memberikan pertimbangan dengan langsung masuk memberikan pertimbangan terhadap kebutuhan daerah. Hasil dari reses maupun aspirasi masyarakat dan daerah yang disampaikan kepada anggota itulah yang menjadi bahan pertimbangan yang diajukan ke DPR, bukan dengan model sekarang ini. Yang ada sekarang ini, itu saya yakin bahwa itu di tempat sampah, saya yakin sekali karena tidak satu pun pertimbangan DPD yang pernah disebutkan di dalam nota pengantar APBN tahun 2017. Oleh karena itu, sekali lagi belajar dari pengalaman itu, saya usulkan agar kita masing-masing anggota mengumpulkan aspirasi masyarakat dan daerah dan dimasukkan ke sekretariat kesetjenan dan dirangkum menjadi sebuah laporan. Itulah menjadi bahan pertimbangan yang disampaikan kepada DPR sehingga masyarakat dan daerah bisa langsung merasakan manfaatkan kehadiran Anggota DPD. Yang selama ini yang dikatakan bahwa kita adalah corong jembatan komunikasi antara rakyat dan daerah dengan pusat itu tidak dapat terwujud karena kita tidak punya kewenangan terhadap budgeting. Dengan cara seperti ini mungkin kita bisa menjawab tantangan ini ke depan.

Terima kasih, Pimpinan.

PEMBICARA: M. SYUKUR, S.H. (JAMBI) Izin, Pimpinan. Jambi. Pimpinan, kiri. Bu.

(17)

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Oh, Pak Syukur silakan. Kalau saya sebelah kanan, Pak.

PEMBICARA: M. SYUKUR, S.H. (JAMBI)

Bu Pimpinan yang saya hormati, saya melihat laporan dari pertimbangan Komite IV, saya melihat laporan yang tahun lalu, kemudian apa yang disinggung oleh Pak Abdurachman Lahabato dan di Komite II saya pernah menjadi Ketua Tim Panja untuk pupuk. Pupuk itu subsidi hampir 35 triliun Bu, dan boleh dikatakan hampir seluruh daerah itu mengeluh soal subsidi pupuk. Dan, lembaga ini pernah waktu itu Paripurna tidak salah saya merekomendasikan supaya subsidi pupuk diganti menjadi subsidi harga. Itu pertimbangan waktu itu saya melihat laporan sehingga 35 triliun itu bisa dinikmati oleh masyarakat. Kejanggalan pupuk itu sangat besar sekali kalau kita telaah. Saya beri contoh seperti ini supaya lebih gampang untuk ilustrasinya. Kita pernah studi di Bali. Di Bali itu rata-rata orang punya sawah setengah hektar. Kalau setengah hektar itu bisa menghasilkan 6 ton gabah dikalikan selama setahun berarti ada 12 ton gabah. Kalau dihitung dengan harga PP misalnya 4.000, maka penghasilan masyarakat dari padi hanya hanya sekitar 1.800.000. Hitungan saya apakah mungkin masyarakat Indonesia bisa hidup dengan angka 1.800.000. Tetapi, kalau 35 triliun itu disubsidi menjadi harga, maka rata-rata dari penghasilan padi atau sawah gabah bisa menghasilkan Rp3 juta. Maka, kalau pemerintah suap pada pangan, tidak perlu sebenarnya kita impor lagi dari Thailand, Vietnam, beras. Saya pikir kita sudah bisa dengan 35 triliun itu dialihkan menjadi subsidi harga. Jadi, itu pertimbangan saya.

Terima kasih.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Ya terima kasih.

Pak Asri, silakan.

PEMBICARA: MUH. ASRI ANAS (SULBAR) Terima kasih.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat pagi.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Om swastiastu.

Yang pertama, Pimpinan, saya mendukung dua pendapat teman saya yang terdahulu yang background-nya adalah petani, Pak Syukur dan Pak Abdurachman Lahabato yang berbicara tentang pupuk. Saya sangat mengapresiasi pendapat beliau.

Kemudian yang kedua, ini kita butuh pendapat pandangan termasuk dari Pimpinan dan Komite IV. Kami mengapresiasi laporan yang disampaikan oleh Komite IV, dari tahun ke tahun rasanya inilah yang berulang-ulang kan begitu, dan tentu kita mengapresiasi kerja ini. Saya hanya ingin bertanya, ketika kita turun ke daerah di pertengahan dan akhir tahun 2016 ini rasanya semua kepala daerah mengeluh kepada kita untuk dua hal. Yang pertama adalah pemotongan anggaran transfer daerah tahun 2016 sebesar 68,8 triliun, kemudian 65 dari total 1.133 triliun pemotongan APBN 2016. Daerah lebih besar, apa itu? Banyak DAK reguler yang sudah dilelang dipotong kembali membuat pelayanan publik berbengkalai. Lalu pertanyaannya, di mana DPD waktu itu ketika daerah membutuhkan? Seluruh daerah dipotong. Kita baru ribut-ribut ketika dana DPD dipotong, dana MPR dipotong, dan dana

(18)

kementerian semua dipotong. Tidak ada sikap yang jelas di DPD ketika transfer daerah itu yang dipotong. Kemudian, ketika pemotongan kedua 19,4 triliun pemotongan DAU 2016, mana DPD bersikap? Tatib jelas memberikan kewenangan kepada kita untuk memberikan hak bertanya kepada pemerintah. Pimpinan DPD diam, lembaga diam. Kemudian, saya berharap Komite IV memberikan klarifikasi berpihak ke daerah untuk itu. Saya butuh klarifikasi dari ini.

Kita hadir di sini karena daerah. Saya ke dapil saya, gubernur bertanya yang juga ikut dipotong, mana sikapnya DPD? Kenapa tidak berani berteriak tentang ini? Lalu, kita berulang-ulang, berulang kali mengundang kementerian, lembaga Bappenas ketika dana DPD dipotong, tetapi ketika dana daerah, DAU, DAK, kemudian teman-teman Komite IV mohon maaf, ada dana tambahan DAK tambahan 2016 yang dikelola oleh teman-teman DPR lebih 20 triliun tanpa formula yang jelas. Saya yakin teman-teman Komite IV tahu. Ada tidak sikap kita terhadap itu? Saya khawatir kita diam saja. Tidak jelas formulanya, ada daerah yang mendapat 90, ada yang mendapat 100, ada daerah yang sama sekali miskin tidak mendapatkan formula itu.

Ini mohon maaf ini teman sekalian, saya hanya mau menggugah saja, teman-teman di Komite IV kan begitu. Saya merasa, saya menunggu-menunggu secara jelas sikap dari lembaga dan sikap dari Komite IV secara tegas ketika pemerintah melakukan ini, tetapi rasanya tidak ada. Mohon maaf saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Komite IV, tetapi rasanya tidak ada sesuatu kebanggaan yang luar biasa kita temukan dari laporan ini. Yang kita butuhkan adalah keberpihakan daerah yang jelas.

Terima kasih.

PEMBICARA: ADRIANUS GARU, S.E., M.Si. (NTT) Pimpinan, saya mau bicara Pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Ya silakan Pak Andre.

PEMBICARA: ADRIANUS GARU, S.E., M.Si. (NTT)

Saya terima kasih, Pimpinan. Saya mohon izin langsung terhadap kedua Saudara saya dan Asri yang terakhir ini.

Jadi, saya harap semua komisi, Komite I, II, dan III juga kalau diundang rapat oleh Komite IV jangan debat kusir di sini. Dikasih formulir kamu semua rapat karena tidak mau hadir. Mental apa ini? Jangan omong di sini saja, jago omong di sini, waktu rapat komite kamu tidak mau hadir ya. Setengah mati kita formulasikan setiap hari, kita rapat kementerian, kok salahnya Komite IV. Komite lain di mana? Ya, jangan saya tidak mau dengar lagi begitu. Kalau memang kamu Anggota DPD, kamu perjuangkan kamu punya daerah, diundang Komite IV kamu harus hadir. Seenak saja mau persalahkan.

Terus yang kedua, saya minta sekali lagi kalau rapat-rapat penting juga hadir. Kita mengeluh terus, meminta rengek-rengek terus untuk kewenangan, datang sidang juga nggak mau. Kita sudah diserang, kok malah ndak mau menjaga diri sendiri. Sudah saatnya bangkit, kita harus serius ya. Bukan apa-apa, kecewa saya kalau seakan-akan, kita sudah rekomendasikan Menteri Keuangan termasuk pimpinan di depan supaya jangan dipotong. Ini negara dalam keadaan begini. Kita punya anggaran sendiri saja nggak bisa ngomong anggaran, anggaran daerah lagi. Marilah kita sadar, ini berbangsa dan bernegara yang baik, ini kondisi. Dengan cara apa pemerintah pusat, nah karena apa? Keenakan. Sekian tahun

(19)

negara ini dijajah mafia, ya inilah risikonya. Baru mau dibenahi ... (kurang jelas, red.), kita semua kelaparan, kebingungan. Saya minta dengan hormat ini seruan moral saya, kita mari bersatu. Kalau mau daerah itu maju, bersatu kita bepikir di sini sama-sama, rapat juga harus sama-sama, menjaga ini lembaga marwah, marwah lembaga ini.

Terima kasih.

Saya kembalikan, Pimpinan.

PEMBICARA: Drs. H. GHAZALI ABBAS ADAN (ACEH) Saya sekarang, Pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Silakan, Pak.

PEMBICARA: Drs. H. GHAZALI ABBAS ADAN (ACEH)

‘Ala kulli hal, terima kasih banyaklah kepada sohib-sohib kami dari beberapa orang

tadi atas masukannya, atas kritik membangunnya untuk kemaslahatan kita semuanya. Karena kami sadar kami-kami Komite IV bukanlah orang-orang yang sangat sempurna, bukan

superman dan superwoman, tetapi adalah orang-orang yang banyak kelemahan ya, perlu

masukan dari sohib-sohiblah, tetapi dengan bahasa yang simpati, tidak perlu marah-marah. Dan, saya pun sambil senyum-senyum, saya kan senyum ini kan tidak marah. Coba lihat wajah saya di layar, senyum tidak ini? Kendati tidak keren-keren amat, tetapi lumayanlah.

Maaf ya saya tidak memuji-muji Komite IV. Yang paling rajin orang hadir itu Komite IV, Anda boleh cek. Ketua kami Pak Ajiep Pandindang sangat pintar. Saya makmumnya, saya tidak ngerti banyak masalah ekonomi karena saya sekolah “ah” dulu, “ah-ah” pokoknya tidak pakai yang lain. Saya banyak belajar dari Pak Ajiep dan teman-teman yang lain, tetapi saya ingin tetap rajin datang. Di situ saya akan banyak mendapatkan pelajaran-pelajaran. Itu yang pertama. Kalau Bapak-bapak, teman-teman datang raker Komite IV dengan Bappenas, tadi sudah kita omong semua di depan Bappenas, apakah masalah pupuk dan sebagainya. Cuma kan Anda malas datang kalau kami undang, itu persoalannya. Begitu banyak bacot, di sini. Bacotnya agar didengar orang banyak ya di sini, ini yang tidak benar. Tetapi, hadir rapat tidak mau ya.

PEMBICARA: H. AHMAD SUBADRI, S. Pd. I. (BANTEN) Jangan pakai istilah bacot, Pak.

PEMBICARA: Drs. H. GHAZALI ABBAS ADAN (ACEH)

Maaf ya saya harus ngomong begini, juga sambil senyum tidak marah saya, sambil senyum. Lihat sambil senyum saya tidak ini, senyum kan, senyum Bu saya kan. Jadi, jangan banyak bacot di sini sekarang pada teman-teman. Tolong datang kalau Komite IV rapat dengan siapa pun. Kita selalu mengundang satu, dua, tiga komite kalau ada rapat-rapat ya, penting. Tetapi, mereka kebanyakan datang pun terakhir, baru datang sudah selesai. Ini kan sudah tidak benar. Ya senyum-senyum, ini senyum saya kan. Tolonglah ya, tetapi yang pasti kami sangat berterima kasih yang tidak terhingga kepada para teman-teman yang sudah memberi masukan. Kami tidak akan marah karena Komite IV bahagian daripada DPD RI.

(20)

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI)

Walaikumsalam.

Jadi, ada beberapa masukan. Saya kira tidak perlu di bahas di sini, dan kita mendengarkan semua apa yang menjadi harapan daripada seluruh Anggota DPD, dan ini kita akan melakukan pekerjaan yang besar dan yang juga cukup berat di waktu yang akan datang sehingga kita tidak bahas di sini dan kemudian tidak juga dijawab oleh Komite IV di sini. Sehingga, kita mengambil keputusan saja kalau disepakati. Sehingga, setelah mendengarkan laporan dan juga tadi masukan dari kawan-kawan, termasuk Bapak yang senyum maupun yang baterainya baru tadi Pak Asri, ya Pak Asri ya. Jadi, saya kira kita semua bisa menyetujui....

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Ketua, sedikit, Ketua. Ketua, Ketua, tengah, Ketua.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Yang mana, yang mana? Di mana?

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Saya, Ketua.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Oh ini, ini baterainya baru juga. Silakan, Pak.

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Iya terima kasih.

Jadi di antara komite itu, Ibu dan Bapak sekalian, yang paling suka mengundang itu Komite IV ya, apalagi ada tim anggaran Komite I, Komite II, Komite III. Saya kira segenap Anggota Komite IV, saya minta saksi saja, Komite I ketuanya sering hadir tidak? Saya minta saksi saja. Lah karena itu, mbok tolong teman-teman yang merasa panitia anggaran dari masing-masing komite hadirlah dalam kesempatan itu. Saya sebagai Ketua Komite I selalu saya share, ayo panggar Komite I datang ke Komite IV. Jadi, saya kira ... (bahasa Arab, red.).

Terima kasih.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Ya ini mohon pengakuan Komite I hadir terus.

PEMBICARA: H. ABU BAKAR JAMALIA (JAMBI) Ibu, Ibu ini dari Jambi, Bu.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Yang mana ini?

(21)

PEMBICARA: H. ABU BAKAR JAMALIA (JAMBI) Jambi Ibu ini, Haji Abu Bakar.

Saya cuma mau mengingatkan teman-teman kita semua, kami di Komite IV itu bekerja sudah luar biasa, Bu sebenarnya Bu ya. Jangan cuma minta perhatian orang saja ya bicara itu ya. Lihat kerja kami, kami bukan asal-asalan ini. Kita punya Budget Office, kita punya tim ahli, bukan sembarang-sembarang kita dalam menetapkan ini. Tolong hadir apa seperti yang disampaikan Pak Andre tadi dengan Pak Ghazali Abbas. Itu saja permintaan saya.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Oke, ya terima kasih.

Kita turunkan tensinya. Pak Farouk akan memberikan masukan sebentar, yang membawahi Komite IV.

PEMBICARA: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI)

Baik, terima kasih masukan-masukan. Ada juga masukan yang perlu di-follow up saya rasa, baik dari Pak Rachman maupun Pak Syukur, tetapi mungkin ini lebih tepat isunya isu pupuk. Ini diserahkan saja nanti Komite II untuk mengangkat kembali isu pupuk ini begitu tanpa kita harus mengubah apa yang dikemukakan.

Kemudian, yang lebih penting saya pikir sebagaimana kesepakatan kita yang lalu, Pak Sesjen tolong setelah ini langsung buat surat, mudah-mudahan ini diketok setuju semua kan. Langsung buat surat kepada DPR, kita minta waktu DPD secara resmi menyerahkan pertimbangannya, termasuk pandangannya kepada Pimpinan DPR. Mudah-mudahan itu salah satu wujud kita lakukan.

Terima kasih.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Ya terima kasih, Pak Farouk.

Jadi, Bapak dan Ibu sekalian, dapat kita setujui usulan Komite IV? Oke.

KETOK 2X

Alhamdulillah.

Kita lanjutkan, Bapak dan Ibu sekalian, setelah pengambilan keputusan Komite III dan Komite IV, mohon kita bersama mendengarkan laporan BK yang tidak mengambil keputusan. Kami silakan, Pak.

PEMBICARA: DR (HC) A. M. FATWA (KETUA BK DPD RI) Saudara Ketua, sekretariat belum siap ya. Diganti dulu yang lain.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Kenapa? Komite I sudah tadi.

(22)

PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA KOMITE IV DPD RI)

Interupsi, Pimpinan

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Komite I mau laporan?

PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA KOMITE IV DPD RI)

Interupsi, interupsi, Ibu Pimpinan. Komite IV.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Silakan, Pak Ajiep.

PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA KOMITE IV DPD RI)

Iya terima kasih, Ibu Ketua.

Sambil BK mempersiapkan laporannya, saya mau memberi informasi bukan menjelaskan atas berbagai tanggapan tadi, dan saya sengaja tidak mau menjawab pada saat kaitan dengan pengambilan keputusan Komite IV. Jadi, sifatnya informasi.

Pertama, Bapak-bapak Ibu sekalian, Komite IV dalam minggu depan akan, tadi saya sudah laporkan akan membuat timja terhadap DAU, akan membuat timja di Komite IV terhadap DAU daerah yang dipangkas atau ditunda pembayaran dana alokasi umumnya. Karena itu, Ibu Pimpinan, Bapak Pimpinan, Pak Farouk, bagi daerah yang tidak memiliki anggota di Komite IV, tolong diperhatikan kalimat saya, bagi daerah yang tidak memiliki anggota di Komite IV, tetapi daerahnya termasuk dalam kategori yang ditunda pembayaran DAU-nya, baik provinsi maupun kabupaten kota sebanyak 160 lebih daerah itu, saya undang bergabung di Komite IV. Kita lakukan analisis, kita lakukan kajian, kita akan undang daerah tersebut, dan nanti kita akan keluarkan rekomendasi. Penundaan DAU ini bukan hanya sebagai konsekuensi keuangan, tetapi ini adalah pelecehan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten kota, Saudara-saudara sekalian. Karena itu, mari nanti kita bicarakan sama-sama di Komite IV, terutama bagi daerah-daerah yang tidak punya anggota di Komite IV. Dan, statement ini telah kami sampaikan kepada Menteri Keuangan pada rapat kerja, rapat dengar pendapat di Komite IV. Bahkan, kalau perlu ujungnya nanti kita minta ada audit dari BPK terhadap pengelolaan dana alokasi umum dari Kementerian Keuangan ke daerah-daerah. Itu informasi, Bu Pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih, Pak Ajiep.

Saya kira ada, Bapak dan Ibu sekalian, ada satu lagi yang belum diambil keputusannya berdasarkan dari rapat Panmus kemarin telah menyepakati penetapan anggota alat kelengkapan 2016-2017 sesuai dengan usul dari masing-masing provinsi. Sedangkan, untuk provinsi yang tidak atau belum mengajukan usul dan yang sudah menyerahkan usul, tetapi masih belum mendapatkan kesepakatan di provinsinya. Keanggotaan alat

(23)

kelengkapannya mengikuti komposisi keanggotaan alat kelengkapan masa sidang sebelumnya. Mungkin ini ditayangkan, Bapak Ibu bisa melihat, sehingga apakah kita menyetujui apa yang sudah menjadikan kesepakatan kita untuk menetapkan keanggotaan alat kelengkapan 2016 dan 2017, setuju? Oke.

PEMBICARA: Drs. H. A. BUDIONO, M.Ed. (JATIM)

Sebentar, interupsi. Sebentar, Bu. sebentar dari Jawa timur.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Mana, mana, Pak?

PEMBICARA: Drs. H. A. BUDIONO, M.Ed. (JATIM) Jawa Timur.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Oh silahkan, Pak.

PEMBICARA: Drs. H. A. BUDIONO, M.Ed. (JATIM)

Dari Jawa Timur sejak tahun pertama itu belum pernah ada pergantian, baik di komite maupun alat kelengkapan yang lain. Dan, kami berencana untuk melakukan rotasi di tahun sidang ini, namun demikian sampai sekarang belum ada pembicaraan, belum ada kesepakatan di antara empat anggota. Nah oleh sebab itu, untuk Jawa Timur ini bisa di-pending terlebih dahulu karena yang ada sekarang yang sudah bersepakat adalah hanya dua anggota, yaitu saya dan Pak Nawardi.

Terima kasih

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Ya terima kasih, Pak dari Jawa Timur.

Saya kira juga masih ada beberapa provinsi yang da permasalahan, jadi nanti kita sepakati saja. Saya kira kita tunggu, kami masih menunggu, dan saya pikir kita harus segera mungkin menyelesaikannya.

PEMBICARA: Drs. H. GHAZALI ABBAS ADAN (ACEH)

Cuma tambahan sedikit, Bu. Jangan berlama-lama, kita akan bekerja terus ini. PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI)

Iya Pak, saya sudah dengan senyum, jangan berlama-lama. PEMBICARA: Drs. H. GHAZALI ABBAS ADAN (ACEH)

(24)

PEMBICARA: EDISON LAMBE (PAPUA) Izin, Pimpinan.

Papua juga di-pending, Pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Yang mana ini?

PEMBICARA: EDISON LAMBE (PAPUA) Izin.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Tangannya ke atas dong

PEMBICARA: EDISON LAMBE (PAPUA) Izin belakang.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Oh iya silakan, Pak.

PEMBICARA: EDISON LAMBE (PAPUA) Papua untuk sementara di-pending juga, Bu. Terima kasih, Bu Pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Oke Papua, kemudian tadi Jawa Timur, dan mungkin masih ada provinsi yang sebetulnya Bapak bisa lihat di tabel ini dan kami masih menunggu.

Terim kasih.

Bisa kita lanjutkan ke BK? Kok malah tidak ada BK-nya. PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG)

Ibu mohon konfirmasi, Bu.

PEMBICARA: H. AHMAD SUBADRI, S. Pd. I. (BANTEN) Skors dulu Bu, di-skorsing dulu, Bu.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Iya kita skors dulu ya.

(25)

PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (SULSEL) Usul skorsing saja dulu, Bu, 15 menit, 10 menit.

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG)

Yang di-pending itu adalah yang belum melakukan rapat provinsinya saja, Bu. Yang sudah, diputuskan. Sehingga yang belum, itu nanti tinggal menyesuaikan saja dan itu sudah menjadi keputusan yang terkait dengan ini begitu, Bu.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Oke, Silakan Pak Farouk.

PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI)

Usul ya jadi kita putuskan itu yang sudah fix. Yang masih ada permasalahan, kita beri kesempatan untuk menyelesaikan. Dalam waktu berapa lama? Satu minggu saya rasa, satu minggu permasalahan. Begitu juga yang belum dimasukkan. Kita secara formal substansi kita ketok setujui, tetapi administrasinya nantinya itu silakan dilengkapi, begitu saja.

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Ketua, begini Ketua, mohon maaf.

Saya mohon agar ini diketok semuanya, tetapi bagi provinsi yang belum, itu menjadi keputusan pada siang hari ini sehingga tidak perlu lagi Paripurna lagi. Jadi, Jawa Timur bahwa apa pun misalnya Jawa Timur nanti, silakan diputuskan, kemudian tinggal masuk di sini, tidak perlu Paripurna lagi, Ketua.

Terima kasih.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Ya, Pak Muqowam. Jadi, saya kira tadi sudah disampaikan juga bahwa apa yang sudah selesai dari provinsinya dan yang belum sebetulnya tinggal melakukan koordinasi. Jadi, yang sudah tadi sudah kita ketok ya.

PEMBICARA: Drs. H. ABDUL GAFAR USMAN, M.M. (RIAU) Pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Angkat tangan dong.

PEMBICARA: Drs. H. ABDUL GAFAR USMAN, M.M. (RIAU) Saya, Bu. Dari sini, Bu.

Referensi

Dokumen terkait

terkontaminasi dengan batran pencemar yang berasal dari limbah rumah tangga, limbah industri, sisa-sisa pupuk atau pestisida dari daerah pertanian, limbah rumatr sakit,

Beberapa parameter tersebut diperhitungkan untuk menetapkan indeks toleransi tanaman terhadap pencemaran udara yang dinyatakan oleh Singh, Rao, Agrawal, Pandey and

PEMBERIAN EKSTRAK HULBAH SECARA ORAL MENURUNKAN PENYERAPAN TULANG TIKUS PASCA OVARIEKTOMI YANG DITANDAI DENGAN.. PENURUNAN KADAR

bahwa dalam rangka percepatan pelayanan perizinan dan guna menindaklanjuti Rencana Aksi Pemberantasan Koru psi Terintegrasi Tahun 2019- 2020 dari Komisi Pemberantasan

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-Exclusive

Variabel effort expectancy dan social influence tidak berpengaruh terhadap perilaku penerimaan penggunaan program aplikasi akuntansi Accurate pada SMK Yadika 1 Tegal Alur dan SMK

Metode analisis potensi kecelakaan yang digunakan adalah tool FTA dengan pendekatan top down yang dimulai dari top level event yang telah dianalisis berdasarkan

Dengan metode Formal Safety Assessment (FSA) akan didapatkan suatu analisa yang akurat dan mendalam mengenai risiko yang akan terjadi, biaya dalam pengendalian risiko