• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABAK FINAL PEREBUTAN JUARA III

15. Pembicara 2 tim kontra : Anisa Nindia Hayati

Indonesia berpijak sebagai negara demokrasi dan juga negara hukum.

Yang artinya dalam proses penyelenggaran ketatanegaraan pun, harus menjadikan hukum sebagai bintang pengarah kehidupan.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dewan juri yang kami hormati, saudaraku dari tim pro yang kami hormati, time keeper serta moderator yang kami hormati pula, dan juga para pecinta, pemerhati konstitusi, kaum intelektual muda yang kami hormati pula.

Sebelum saya masuk kepada tataran argumentasi saya, izinkanlah saya untuk kembali mempertegas posisi kami dalam mosi perdebatan kali ini.

Bahwasanya kami tidak setuju dengan adanya pemberian kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dalam hal memberikan tafsir konstitusi ketika sedang dikakukan pengujian Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Namun, sebelum saya masuk kepada poin-poin utama argumentasi saya, izinkanlah saya untuk sedikit membidaskan apa yang telah disampaikan oleh saudara kami dari tim pro. Bahwasanya mengenai persetujuan mosi perdebatan hari ini, saudaraku dari tim pro berkali-kali menggaung-gaungkan mengenai keadaan kedaulatan rakyat itu sendiri. Kami pun mengamini saudaraku dari tim pro. Kedaulatan rakyat adalah yang paling utama. Namun ketika hukum mampu mengakomodir dengan baik. Maka kedaulatan tersebut akan secara eksplisit lebih pula dalam hal penegakannya.

Dewan juri yang terhormat serta saudaraku dari tim pro. Lagi-lagi perlu kami tegaskan bahwasanya saudaraku dari tim pro telah terjadi kesalahan berfi kir dalam menafsirkan mosi perdebatan kali ini.

Dewan juri yang terhormat, kita tahu betul bahwasanya Majelis Permusyawaratan Rakyat berkaitan dengan tugas dan kewenangannya telah diberikan secara atributif dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945. Yaitu salah satu kewenangannya yang paling bermartabat bagi Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dewan juri yang terhormat yang kami hormati, kami pula harus menegaskan bahwasanya Mahkamah Konstitusi berdasarkan aspek historis kelahirannya merupakan The Guardian of Constitution sekaligus sebagai Intrepeteur of Constitution. Artinya hal ini merupakan cita dalam hal proses penegakkan konstitusi itu sendiri.

Dewan juri yang terhormat, saudaraku dari tim pro rasa-rasanya telah lupa dengan satu hal bahwasanya hal yang berkaitan dengan teknik yudisial dan teknik non yudisial adalah berbeda. Dan Majelis Permusyawaratan Rakyat berada pada teknik non yudisial itu sendiri.

Dewan juri yang terhormat, -interupsi (tim pro)- perlu pula kami paparkan hal lainnya, silahkan saudaraku.

16. Interupsi tim pro :

Apakah menurut saudara dari tim kontra, aspek-aspek diluar daripada hal-hal yang sifatnya yudisial misalkan ketika MK dalam hal ini kemudian meminta argumen, meminta penjelasan, atau meminta tafsir atas undang-undang terhadap suatu lembaga atau terhadap ahli. Ini merupakan diluar kewenangan yudisial, mohon diberi penjelasan, terima kasih.

17. Pembicara 2 tim kontra : Anisa Nindia Hayati

Saudaraku dari tim pro, perlu kami paparkan lebih lanjut. Kami hanya memperkirakan bahwasanya apabila MPR diberikan kewenangan untuk menafsirkan Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945.

Sementara impact dan juga aspek hukumnya tidak jelas. Maka hal tersebut akan menurunkan marwah dari Majelis Permusyawaratan Rakyat itu sendiri.

Terlebih apabila hal tersebut berupa penafsiran yang tidak diakomodir oleh hukum itu sendiri. Ketika tafsiran tersebut tidak diterima oleh Mahkamah Konstitusi. Kita tahu betul bahwasanya amandemen Undang-Undang

Dasar 1945 terakhir. Mencita-citakan adanya separation of power yang nantinya berujung pula pada adanya check and balances. Dimana setiap lembaga negara harus menjaga martabat setiap lembaga yang lainnya. Dewan juri yang terhormat -interupsi (tim pro)- silahkan saudaraku.

18. Interupsi tim pro :

Pola hubungan inilah kemudian yang menjadi alasan mendasar kami mengapa kami kemudian sepakat dengan mosi perdebatan hari ini.

Saudara mengatakan bahwa salah satu konsensus utama yang menjamin tegaknya konstitusionalisme sebenarnya adanya pola hubungan antar lembaga negara. Ini merupakan konsensus ketiga yang menjamin tegaknya konstitusionalisme menurut Prof. DR. Jimly Asshiddiqie dalam bukunya konstitusi dan konsitusionalisme. Sehingga pola hubungan antara MPR dan Mahkamah Konstitusi perlu diatur.

19. Pembicara 2 tim kontra : Anisa Nindia Hayati

Terima kasih, lagi-lagi saudaraku telah terjadi kekeliruan berfi kir. Bahwasanya dalam hal pembuatan Undang-Undang Dasar ataupun Undang-Undang.

Tidak lantas badan tersebut menjadi penegak hukum. Dewan juri yang terhormat, kita tahu betul bahwa teori Gustav Radbruch menyebutkan nilai-nilai dalam hukum yaitu meliputi 3 hal. Kepastian, kemanfaatan, dan juga keadilan. Apabila MPR diberikan kewenangan untuk menafsirkan.

Maka akan terjadi ketidakpastian atau ambiguitas dalam masyarakat itu sendiri.

Dewan juri yang terhormat, perlu kita paparkan bahwa salah satu ranah dalam hukum adalah legal substance, legal structure, dan juga legal culture.

Kita paham betul bahwasanya Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah bagian dari konsekuensi adanya legal culture yang menempatkan Majelis Permusyawaratan Rakyat menjalankan fungsi horizontal. Dimana Majelis Permusyawaratan Rakyat tidaklah menjadi lembaga tertinggi di Indonesia.

-interupsi (tim pro)- silahkan saudaraku.

20. Interupsi tim pro :

Apakah saudaraku melihat daulat yang ada di konstitusi hanya 1. Daulat yang ada di konstitusi ada kedaulatan hukum, ada kedaulatan tuhan, ada kedaulatan rakyat yang berlaku secara simultan dan tidak dapat diparsialkan. Sehingga dalam hal ini pengambilan proses-proses kebijakan negara, proses-proses penyelenggaraan negara harus menjalanakan 3 jenis kedaulatan ini secara simultan, terima kasih.

21. Pembicara 2 tim kontra : Anisa Nindia Hayati

Terima kasih, untuk menegakkan kedaulatan hukum itu pula. Kewenangan berkaitan penafsiran tidak diatur secara tersurat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Artinya tim pro terjadi inkonsistensi pendapat, dewan juri yang terhormat. Perlu lagi kita paparkan.

Bahwa lahirnya Mahkamah Konstitusi telah memberikan perlindungan terhadap hak konstitusi itu sendiri. Kita bisa berkaca bahwasanya kemajuan perlindungan hak konstitusi telah tercermin dengan adanya Mahkamah Konstitusi. Dan kita pun ingin menginginkan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai marwah dalam hal menampung aspirasi masyarakat dapat memaksimalkan tugasnya dalam hal mengubah dan juga menetapkan Undang-Undang Dasar Negara tahun 1945. Sehingga setiap lembaga negara mampu menjaga martabat lembaga negara lainnya.

Dewan juri yang terhormat, bukankah Majelis Permusyawaratan Rakyat pula yang menginginkan adanya check and balances dan juga separation of power itu sendiri. Kita tahu bahwa setiap lembaga negara tidak boleh melakukan over laping kewenangan.

Dewan juri yang terhormat, lagi-lagi kami tekankan dalam hal perlindungan konstitusi pun harus melihat aspek hukum yang ada. Tidak boleh dalam hal perlindungan konstitusi lantas melanggar atau melebihi apa yang diatur oleh hukum itu sendiri.

Dewan juri yang terhormat, lagi-lagi perlu kami tekankan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat berdasarkan aspek yuridis formal, historis, ataupun sosiologis merupakan lembaga negara yang saat ini melaksanakan kewenangan horizontal. Untuk itulah kamipun menginginkan untuk setiap

lembaga negara turut bergotong royong dalam menjaga hak konstitusional setiap warga negara. Namun dengan hukum sebagai bintang pengarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dewan juri yang terhormat, lagi-lagi kami perlu tekankan kepada tim pro.

Telah terjadi kesesatan berfi kir dimana antara yudisial dan non yuridisial adalah berbeda. Dan Mahkamah Konstitusilah yang berhak untuk melakukan penafsiran dan pengujian itu sendiri. Karena kita tahu dalam mekanisme pengujian ataupun peradilan negeri sendiri ada juga proses of blow yang tidak dimiliki oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat itu sendiri.

Dimana hal tersebut ataupun ranah tersebut tidak boleh diintervensi dan itu merupakan amanat konstitusi bahwa ranah pengadilan adalah ranah yang bebas, merdeka, tanpa ada intervensi dari lembaga negara lain, lembaga negara manapun.

Dewan juri yang terhormat, kami perlu pertegas kembali bahwasanya kami tidak setuju dengan adanya mosi kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam hal memberikan tafsir konstitusi ketika sedang dilakukan judisial review terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk menyelamatkan setiap lembaga negara, salam konstitusi.

22. Pembawa Acara : Anya Dwinov

Baik, terima kasih banyak pembicara kedua dari masing-masing grup yang sudah menyampaikan bidasan argumentasinya. Dan selanjutnya kita akan memasuki sesi kedua di babak kedua ini, yaitu dimana pembicara ketiga akan menyampaikan bidasan argumentasi diawali dari tim pro, silahkan.

23. Pembicara 3 tim pro : Muhammad Reski Ismail