• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABAK SEMIFINAL II

25. Pembicara 3 tim pro : Akhmad Arief Khaerudin

Terima kasih, tapi izinkan saya bertanya kepada tim kontra. Apakah kebutuhan itu nyata kita lihat saat ini? Nyatanya beda. Terbukti saat ini kita sebagai bangsa Indonesia sedang berjuang meniti langkah untuk mempertahankan NKRI. Mengapa demikian? Karena seperti yang disampaikan oleh pembicara dari tim kontra. Bahwa dengan mengubah unamendable provisions ini dalam hal ini ada saya contohkan Pasal 1 ayat 2 mengenai bentuk Negara Republik Indonesia. Hal ini memungkinkan masuknya paham-paham yang membahayakan NKRI maupun pihak-pihak yang ingin menggerogoti ibu pertiwi.

Dimana kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah bangsa yang beraneka ragam dengan berasaskan Bhineka Tunggal Ika. Dewan juri yang kami hormati, tercatat dalam sejarah sejak abad ke 18. Klausul semacam itu telah terdapat dalam konstitusi 2 wilayah. Yang pertama adalah wilayah bebas kolonial Inggris yang menjadi negara bagian Amerika Serikat. Yaitu konstitusi Delaware tahun 1776. Dan yang kedua adalah konstitusi New Jersey tahun 1776. Mungkin hal ini adalah hal baru bagi bangsa Indonesia.

Namun berikut, pada kata-kata tim kontra bahwa kita harus mementingkan mengenai kepentingan bersama dan kesepakatan bersama. Mari kita meniti kembali kapan muncul unamendable provisions ini. Tepatnya adalah pada amandemen ke 4. Hal ini menunjukan bahwa kepentingan maupun kesepakatan bangsa Indonesia yang terbaru adalah untuk mempertahakan bentuk negara Indonesia serta mempertahankan pembukaan.

Selanjutnya Dewan juri yang kami hormati. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sejatinya menyimpan 3 jenis materi yang pertama adalah moral, material, dan instrumental. Dimana klausul yang tidak dapat diubah menyimpan muatan moral dan material. Yaitu semangat, tujuan, cita-cita dan juga norma dasar yang dijadikan landasan bagi pasal-pasal didalamnya. Dimana -interupsi (tim pro)- pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar 1945 dijadikan dasar hukum bagi seluruh peraturan perundang-undangan di Indonesia. Silahkan.

26. Interupsi tim kontra :

Dewan juri yang terhormat dan hadirin sekalian, keberadaan unamendable provisions baru terjadi di Indonesia pada saat amandemen ke 4 dewan juri yang terhormat dan rekan-rekan sekalian. Namun sebelum hal tersebut diformalkan dan dimasukan ke batang tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pun. Kita dapat melihat bagaimana selalu ada resistensi untuk kemudian menghalangi perubahan terhadap bentuk negara kesatuan. Karena bentuk negara kesatuan dirasa masih sejalan dan seiring dengan kebutuhan masyarakat.

27. Pembicara 3 tim pro : Akhmad Arief Khaerudin

Terima kasih atas persetujuan terhadap substansi yang telah kami sampaikan, bahwa unamendable provisions disampaikan atau muncul pada amandemen ke 4, yang itu belum lama. Hal ini menunjukan bahwa ini adalah keputusan masyarakat Indonesia yang terbaru atau terkini.

Dewan juri yang kami hormati, kami sampaikan pula bahwa keadaan klausul yang tidak dapat diubah merupakan bagian dari upaya mempertahankan kesatuan paham konstitusionalisme. Yaitu pembatasan ketentuan pengubahan undang-undang oleh lembaga tertentu. Mengapa demikian? karena menurut Rukmana Anmanwirata bahwa suatu konstitusi mengandung materi muatan-muatan tentang pembatasan-pembatasan konstitusional dan perlindungan HAM. Mari kita simak bersama dalam ketentuan pasal 37 ayat 5 telah memberikan pembatasan terhadap materi muatan perubahan -interupsi (tim kontra)- Undang-Undang Dasar itu sendiri, silahkan saudaraku.

28. Interupsi tim kontra :

Kami tekankan bahwasanya ketika dulu Indonesia menggunakan sistem negara federal. Tapi kemudian masyarakat melakukan suatu resistensi untuk kemudian mengembalikan kepada negara kesatuan apakah itu dengan adanya unamendable provisions? Tidak itu lahir dari resistensi masyarakat.

Dan pertanyaan yang kedua adalah MPR ketika menjaring aspirasi untuk kemudian masyarakat setuju untuk melakukan perubahan terhadap identitas konstitusi. Apakah akan dibiarkan begitu saja?

29. Pembicara 3 tim pro : Akhmad Arief Khaerudin

Sabar saudaraku, adakah data ataupun fakta yang mendukung pendapat anda barusan bahwa Indonesia maupun rakyat Indonesia menghendaki perubahan bentuk negara Indonesia? Saya kira tidak. Dewan juri yang kami hormati, suatu sistem politik haruslah memenuhi 5 fungsi utama yang pertama adalah mempertahankan pola. Kedua adalah pengaturan dan penyelesaian konfl ik, yang ketiga adalah penyesuaian, yang keempat adalah pencapaian tujuan, dan yang keempat adalah integrasi. Jangan sampai perubahan terhadap unamendable provisions ini justru menyebabkan “man hafara hufrotan waqo’a fi i ha”. Barang siapa yang menggali lubang maka ia akan terperosok didalamnya.

Dewan juri yang kami hormati, Ibnu Hutaibah pun pernah menyampaikan bahwa Al Ijma’ qowamuna alal akal wa nnas. Bahwa sebuah kesepakatan berada diatas teks maupun manusia itu sendiri. Dimana dalam hal ini masyarakat Indonesia pada amandemen ke 4 telah menyetujui adanya klausul yang tidak dapat dirubah dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk mendukung apa yang telah kami sampaikan. Kami sampaikan juga teori stufen yang disampaikan oleh Hans Kelsen bahwa grunom berada di luar piramida, dimana piramida itu adalah peraturan perundang-undangan yang dapat diubah. Dewan juri yang kami hormati, maka dengan tegas kami sampaikan kembali lagi bahwa kami setuju akan adanya klausul yang tidak dapat diubah dalam Undang-Undang Dasar 1945. Sekian dari kami, wa billahi taufi k wal hidayah wa ridha wal inayah syukron billa ghoyah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

30. Pembawa Acara : Anya Dwinov

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Baik, demikianlah tadi pembicara ketiga dari tim pro yang menyampaikan bidasan argumetasinya. Dan saya yakin dan saya bisa merasakan bagaimana tim kontra nampaknya semangatnya semakin membara untuk lansung menanggapi bidasan argumentasi yang diberikan oleh pembicara ketiga dari tim pro. Langsung saja kalau begitu saya persilahkan pembicara ketiga dari tim kontra untuk memulai bidasan argumentasinya.