• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMASYARAKATAN KELAS II B KOTA LANGSA

D. Aktifitas Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa

1. Pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan (internal)

Pembinaan yang diterapkan di dalam lembaga pemasyarakatan kelas II B Kota Langsa ini mencakup pembinaan kepribadian (mental dan spritual) serta pembinaan kemandirian. Adapun target yang hendak dicapai dari pembinaan ini ialah agar narapidana menjadi insaf atau menyadari akan kesalahannya dan supaya narapidana tidak mengulangi lagi perbuatannya dan setelah selesai menjalani hukuman di lapas narapidana memiliki keterampilan dan dapat lebih berguna bagi keluarga dan masyarakat sekitar.68

a. Pembinaan kepribadian

68

Pembinaan kepribadian selama waktu tertentu, agar narapidana dikemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi dan taat terhadap terhadap hukum yang berlaku di dalam masyarakat. pembinaan narapidana dipengaruhi masyarakat luar yang menerima narapidana menjadi anggotanya. Arah pembinaan bertujuan membina pribadi narapidana agar jangan sampai mengulangi kejahatan dalam menaati peraturan hukum, membina hubungan antara narapidana dengan masyarakat luar, agar dapat berdiri sendiri dan dapat menjadi anggotanya.69

1) Pembinaan kesadaran beragama

Adapun yang menjadi pembinaan kepribadian ini yaitu :

Berdasarkan Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan yang menyatakan bahwa setiap Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan wajib mengikuti program pendidikan dan bimbingan agama sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Usaha ini dilakukan agar narapidana dan anak didik pemasyarakatan menjauhkan dari tindakan tidak terpuji, dan tindakan melanggar hukum oleh sebab itu, pendidikan agama di lembaga pemasyarakatan sangat penting sekali, terutama dalam menggugah kesadaran beragama bagi narapidana dan anak didik pemasyarakatan. Pendalaman ajaran agama, harus disertai dengan praktek-praktek keagamaan yang diwajibkan oleh agama yang dianutnya. Kehidupan beragama bagi narapidana dan anak didik pemasyarakatan, haruslah mewarnai kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan, karena kehidupan beragama akan menggugah narapidana yang lain untuk ikut serta memperdalam

ajaran agama yang dianutnya. Kewajiban untuk menjalankan ajaran agama yang dianutnya selama menjalani pidana, akan sangat berguna sekali bagi narapidana dan anak didik pemasyarakatan. Menurut Bapak Effendi, penerapan pembinaan tersebut dilakukan dengan cara-cara antara lain : untuk narapidana dan anak didik pemasyarakatan yang beragama islam yaitu dengan cara pengajian dan siraman rohani. Jadwal kegiatan tersebut dilakukan setiap hari senin sampai hari jumat. Pembinaan kesadaran beragama ini Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa mengadakan hubungan kerja sama dengan Dinas Syariat Islam dan Departemen Agama di Kota Langsa. Berhubung narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa mayoritas beragama islam dan ada beberapa narapidana yang beragama Kristen. Pembinaan kesadaran beragama terhadap narapidana kristen tidak terlaksana dikarenakan kurangnya sumber daya manusia yang beragama kristen di Kota Langsa dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada narapidana yang beragama kristen. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Effendi yang menyatakan bahwa kurangnya kesadaran diri dari narapidana dalam hal melakukan pembinaan keagamaan tersebut. Beliau menambahkan bahwa para narapidana lebih memilih untuk berdiam di dalam kamarnya dari pada melaksanakan aktifitas keagamaan yang berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan.70

2) Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara

Usaha ini dilaksanakan melalui pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila termasuk menyadarkan para narapidana dan anak didik pemasyarakatan

agar dapat menjadi warga negara yang baik dan dapat berbakti kepada bangsa dan negaranya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Effendi penerapan pembinaan tersebut dilakukan dengan cara-cara, yaitu dilakukannya upacara bendera setiap proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus dan pada hari Lembaga Pemasyarakatan. Setiap warga negara termasuk narapidana harus memahami pengertian kesadaran berbangsa dan bernegara secara benar sehingga mampu menerapaknnya dalam kehidupan di masyarakat.71

a. Kami narapidana berjanji menjadi manusia susila yang berpancasila dan berjanji menjadi manusia pembangunan yang aktif dan produktif ; Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara yang diterapkan melalui baris-berbaris guna upacara bendera yang wajib diikuti narapidana dan anak didik pemasyarakatan pada setiap Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan pada hari Lembaga Pemasyarakatan selalu mengucapkan Catur Dharma Narapidana (empat janji narapidana) yaitu :

b. Kami narapidana menyadari dan menyesali sepenuhnya perbuatan yang pernah kami lakukan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang melanggar hukum ;

c. Kami narapidana berjanji memelihara tata krama, tata tertib, melakukan perbuatan yang utama serta menjadi contoh teladan dalam lembaga pemasyarakatan ;

d. Kami narapidana dengan tulus ikhlas menerima bimbingan, dorongan serta patuh, taat, hormat kepada petugas dan pembina pemasyarakatan.

3) Pembinaan kemampuan intelektual

Pembinaan ini diperlukan agar narapidana dan anak didik pemasyarakatan memiliki pengetahuan serta kemampuan berpikir yang semakin meningkat, sehingga diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan positif yang diperlukan selama masa pembinaan. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan dinyatakan bahwa setiap Lapas wajib melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran bagi Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan dan berdasarkan Pasal 10 Ayat (1) dan Ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap Lapas wajib disediakan petugas pendidikan dan pengajaran dan dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran, Kepala Lapas dapat bekerjasama dengan instansi Pemerintah yang lingkup tugasnya meliputi bidang pendidikan dan kebudayaan, dan atau badan-badan kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran. Amanat Pasal dalam Peraturan Pemerintah tersebut tidak demikian halnya yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa, berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Effendi bahwa pembinaan kemampuan intelektual di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa hanya berjalan di bidang pendidikan non formal, seperti kegiatan-kegiatan ceramah umum dan membuka kesempatan bagi narapidana dan anak didik pemasyarakatan untuk membaca buku yang tersedia di

perpustakaan Lapas dan memperoleh informasi yang seluas-luasnya dari luar, misalnya dengan membaca koran atau majalah, dan sebagainya.72

4) Pembinaan kesadaran hukum

Pembinaan kesadaran hukum dilakukan dengan memberikan penyuluhan hukum kepada narapidana dan anak didik pemasyarakatan dengan tujuan supaya narapidana dan anak didik pemasyarakatan memiliki kesadaran hukum yang tinggi, sehingga narapidana dan anak didik pemasyarakatan sebagai anggota masyarakat dapat mengetahui mengenai aturan-aturan hukum yang berlaku dan dapat menyadari akan hak dan kewajiban yang berlaku. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Effendi yang menyatakan bahwa pembinaan kesadaran hukum ini dilakukan dengan mengadakan kerjasama dengan pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa untuk memberikan penyuluhan hukum tentang bahaya akibat penyalahgunaan Narkotika dan obat-obat terlarang lainnya dan mengadakan kerjasama dengan pihak Polresta Kota Langsa yang memberikan penyuluhan hukum secara umum kepada narapidana.73 Pembinaan kesadaran hukum yang berjalan di lembaga pemasyarakatan kelas II B Kota Langsa tidaklah berjalan dengan lancar dikarenakan warga binaan pemasyarakatan (Narapidana) tidak banyak yang berminat dalam mengikuti proses pembinaan kesadaran hukum.74

5) Pembinaan jasmani

72

Wawancara dengan Bapak Effendi, SH, Kasi Bimbingan dan Kegiatan Kerja Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa, pada tanggal 03 Maret 2014.

Berdasarkan Pasal 7 Ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan yang menyatakan bahwa Setiap Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan berhak mendapat perawatan jasmani berupa pemberian kesempatan melakukan olahraga dan rekreasi, pemberian perlengkapan pakaian, dan pemberian perlengkapan tidur dan mandi. Bentuk pembinaan jasmani dilaksanakan melalui beberapa cabang olahraga, diantaranya bagi narapidana dewasa dilaksanakan dengan : sepak bola dilakukan pada setiap hari (sore), badmintoon dilakukan pada hari senin dan rabu, tenis meja dilakukan pada hari selasa dan kamis, volley ball dilakukan pada hari jumat, sabtu dan minggu. Bagi anak didik pemasyarakatan dilaksanakan dengan cabang olahraga seperti sepak bola dilakukan pada hari senin sampai hari kamis, sedangkan cabang olahraga volley dilakukan pada hari jumat sampai hari minggu. Bagi narapidana wanita tidak ada dilakukan pembinaan jasmani dengan melakukan senam atau olahraga. Pembinaan jasmani di lembaga pemasyarakatan juga mengadakan pertandingan olahraga yang dilakukan antar kamar sesama narapidana. Berdasarkan Penjelasan Pasal 7 Ayat (1) dinyatakan bahwa jenis rekreasi yang diadakan antara lain berupa penayangan televisi, penyelenggaraan kesenian yang dilakukan oleh Narapidana atau petugas pemasyarakatan atau pertunjukkan kesenian yang didatangkan dari luar Lapas. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Effendi yang menyatakan bahwa pembinaan jasmani di bidang rekreasi ini tidak berjalan dikarenakan tidak tersedianya sarana televisi di lembaga pemasyarakatan dan narapidana atau petugas pemasyarakatan kurang berminat atau kurang kreatifitas dalam

menyelenggarakan pagelaran kesenian dan masyarakat luar juga kurang aspiratif dalam memberikan hak rekreasi kepada narapidana.75

b. Pembinaan kemandirian

Menurut Bapak Ramli selaku Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja bahwa pembinaan kemandirian adalah sebagai bekal narapidana agar bisa hidup mandiri (minimal bisa menghidupi dirinya sendiri dan keluarga) dan mampu menciptakan lapangan kerja ketika selesai menjalani masa pidananya. Pembinaan kemandirian diberikan melalui program-program, yaitu :76

1) Keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan minat dan bakat para narapidana masing-masing. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ramli yang menyatakan bahwa hal tersebut belum dapat direalisasikan karena belum cukupnya sarana dan prasarana di Lembaga Pemasyarakatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu narapidana yang menyatakan bahwa sewaktu dirinya pertama kali masuk ke lembaga pemasyarakatan kelas II B Kota Langsa tidak ada dilakukan pendataan mengenai bakat dan kemampuan yang dimiliki narapidana dan hal ini pun berimplikasi selama berada di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa narapidana tersebut tidak pernah melakukan keterampilan pekerjaan atau bimbingan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat narapidana.77

2) Bagi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa diadakan pembagian bimbingan kerja diantaranya bagi narapidana wanita membuat kerajinan dompet, membuat kotak tisu. Bagi narapidana laki-laki dengan bimbingan kerja di bengkel las dan bimbingan kerja di bidang kerajinan kayu (membuat kursi, lemari dan meja), membuat sangkar burung dan asbak rokok, membuat tudung saji. Bagi anak didik pemasyarakatan membuat kerajian kayu seperti membuat sangkar burung. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu narapidana wanita yang menyatakan bahwa kurangnya bimbingan kerja yang diterima di Lapas, dikarenakan narapidana wanita terkendala dana dalam membeli perlengkapan untuk membuat alat-alat keterampilan, narapidana

75

Wawancara dengan Bapak Effendi, SH, Kasi Bimbingan dan Kegiatan Kerja Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa, pada tanggal 03 Maret 2014.

76

Wawancara dengan Bapak Ramli Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa, pada tanggal 03 Maret 2014.

77

Wawancara dengan Sanggul Brata Simorangkir Narapidana dengan klasifikasi tindak pidana Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa pada tanggal 04 Maret

wanita banyak yang kurang kreatif dalam menghasilkan keterampilan, rendahnya minat atau keinginan dari narapidana wanita dalam membuat keterampilan, tidak adanya dorongan atau motivasi bimbingan kerja kepada narapidana wanita dari pembina.78 Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu anak didik pemasyarakatan yang menyatakan bahwa kurangnya bimbingan kerja yang diterima anak didik selama di Lapas, hal ini dikarenakan rendahnya minat anak didik untuk mengikuti bimbingan kerja, lembaga pemasyarakatan sendiri jarang untuk memberikan program bimbingan kerja kepada anak didik.79 Berdasarkan hasil wawancara dengan narapidana yang menyatakan bahwa bimbingan kerja yang diterapkan di Lapas sudah cukup baik, hanya saja banyak diantara narapidana yang tidak mengikuti proses bimbingan kerja tersebut, keterbatasan jumlah dan kualitas bahan baku yang nantinya akan diolah oleh narapidana di bengkel kerja. Berdasarkan hasil wawancara dengan narapidana bahwa seringkali bahan yang dipakai untuk kegiatan kerja adalah bahan yang tidak layak pakai, seperti kayu yang akan dipakai untuk membuat kusen atau meja berasal dari kayu dengan kualitas biasa dan seadanya, bahkan narapidana juga pernah membuat barang dengan bahan baku bekas atau sudah mulai rusak yang layaknya sebagai sisa-sisa pertukangan, tidak adanya tempat untuk memasarkan hasil-hasil karya yang dihasilkan narapidana, banyak hasil karya dari narapidana yang tidak menghasilkan uang sehingga hal ini membuat minat dari narapidana semakin rendah.80

2. Pembinaan di Luar Lembaga Pemasyarakatan (eksternal)

Menurut Bapak Effendi bahwa tujuan pembinaan di luar lembaga pemasyarakatan supaya narapidana dan anak didik pemasyarakatan dapat berintegrasi dengan baik di lingkungan masyarakat, yang mana hal ini sesuai dengan konsep pemasyarakatan yaitu bahwa narapidana dan anak didik pemasyarakatan tidak boleh diasingkan dari kehidupan masyarakat. Pembinaan secara eksternal yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan disebut Pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas, yaitu proses

78

Wawancara dengan Ibu Zuliana Narapidana Wanita dengan Klasifikasi Tindak Pidana Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa pada tanggal 03 Maret 2014.

79

Wawancara dengan salah satu Anak Didik Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa pada Tanggal 03 Maret 2014.

80

pembinaan narapidana yang telah memenuhi syarat-syarat pengawasannya dilaksanakan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas), karena Bapas merupakan suatu pranata untuk melaksanakan bimbingan klien pemasyarakatan (Pasal 1 Angka 4 undang-undang pemasyarakatan).81

Narapidana atau anak didik pemasyarakatan dapat diberikan pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas apabila telah memenuhi persyaratan substantif dan administratif. Berdasarkan Pasal 6 Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. M.2.PK.04-10 Tahun 2007 Tentang syarat dan tata cara pelaksanaan

Berdasarkan Pasal 1 Angka 2 Pembebasan bersyarat merupakan proses pembinaan narapidana dan anak pidana di luar lembaga pemasyarakatan setelah menjalani sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) masa pidana, dan berkelakuan baik. Program pembebasan bersyarat di lembaga pemasyarakatan kelas II B Kota Langsa maka, narapidana dan anak pidana dapat menjalani sisa pidananya setelah menjalani 2/3 dari masa pidana di luar lembaga pemasyarakatan dengan tujuan agar narapidana dan anak pidana dapat berbaur dengan masyarakat sebelum narapidana dan anak pidana bebas murni.

Berdasarkan Pasal 1 Angka 3 dinyatakan bahwa cuti menjelang bebas merupakan proses pembinaan narapidana dan anak pidana di luar lembaga pemasyarakatan setelah menjalani 2/3 (dua pertiga) masa pidana, sekurang-kurangnya 9 (sembilan) bulan berkelakuan baik.

81

Wawancara dengan Bapak Effendi, SH, Kasi Bimbingan dan Kegiatan Kerja Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa, pada tanggal 03 Maret 2014.

asimilasi, pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas dan cuti bersyarat adapun yang menjadi persyaratan substantif yaitu :

a. telah menunjukkan kesadaran dan penyesalan atas kesalahan yang menyebabkan dijatuhi pidana ;

b. telah menunjukkan budi pekerti dan moral yang positif ;

c. masyarakat dapat menerima program kegiatan pembinaan narapidana dan anak pidana yang bersangkutan ;

d. berkelakuan baik selama menjalani pidana dan tidak pernah mendapat hukuman disiplin.

Selain persyaratan substantif di atas, berdasarkan ketentuan Pasal 7 dari peraturan Menteri Hukum dan HAM di atas, maka narapidana atau anak didik pemasyarakatan juga harus memenuhi persyaratan administratif, diantaranya :

1. Kutipan putusan hakim (ekstrak vonis) ;

2. Laporan penelitian kemasyarakatan yang dibuat oleh pembimbing kemasyarakatan atau laporan perkembangan pembinaan narapidana dan anak didik pemasyarakatan yang dibuat oleh wali pemasyarakatan ;

3. Surat pemberitahuan ke kejaksaan negeri tentang rencana pemberian pembebasan bersyarat, cuti bersyarat dan cuti menjelang bebas terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan ;

4. Salinan register F (daftar yang memuat pelanggaran tata tertib yang dilakukan narapidana dan anak didik pemasyarakatan selama menjalani masa pidana) dari kepala lapas ;

5. Salinan daftar perubahan atau pengurangan masa pidana, seperti grasi, remisi, dan lain-lain dari kepala Lapas ;

6. Surat pernyataan kesanggupan dari pihak yang akan menerima narapidana dan anak didik pemasyarakatan, seperti pihak keluarga, sekolah, instansi pemerintah atau swasta dengan diketahui oleh Pemerintah Daerah setempat serendah-rendahnya lurah atau kepala desa.

Khusus bagi narapidana yang menjalani pembebasan bersyarat, disamping mendapatkan bimbingan dari Balai Pemasyarakatan juga mendapatkan pengawasan dari pihak kejaksaan, sebab sebelum pembebasan bersyarat tersebut dilaksanakan pihak kejaksaanlah yang akan menjadi pelaksana keputusan pembebasan bersyarat tersebut layaknya sebuah eksekusi terhadap vonis

pengadilan, jadi dengan kata lain setiap pelaksanaan pembebasan bersyarat tersebut akan dikoordinasikan dengan pihak kejaksaan selaku pengawas dan pelaksananya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Effendi yang menyatakan hambatan dalam pemberian pembinaan di luar lembaga pemasyarakatan ialah dari pihak narapidana yang sering tidak mendukung pelaksanaan karena tidak menunjukkan sikap dan moral yang positif, adanya kekhawatiran masyarakat akan gangguan keamanan tertib masyarakat (kamtibmas), masih kurangnya pengetahuan aparat pemerintah setempat tentang program pembinaan di Lapas.82

Hasil wawancara dengan salah satu pihak dari keluarga narapidana yang menyatakan bahwa ada sedikit menemui kendala di kantor kelurahan setempat begitu meminta persetujuan atau tanda tangan dari lurah tempat kediaman keluarga narapidana yang bersangkutan.

Salah satu persyaratan administratif yang terlebih dahulu harus dipersiapkan oleh narapidana untuk dapat diberikan program pembinaan di luar lembaga pemasyarakatan adalah surat jaminan dari pihak keluarga terdekat dari narapidana tersebut. Surat jaminan yang dibuat oleh keluarga narapidana yang menyatakan bahwa keluarga narapidana bersedia untuk menerima kembali narapidana yang bersangkutan untuk bertempat tinggal di alamat penjamin dan akan membantu penghidupan narapidana baik moril maupun materil. Surat jaminan yang dibuat oleh keluarga narapidana nantinya akan dibawa ke kelurahan setempat yang dimaksudkan agar pihak pemerintah setempat dapat mengetahui bahwa ada dari warga kelurahan setempat yang sedang menjalani pidana di Lapas dan akan dilaksanakan program pembinaan bebas bersyaratnya oleh pihak Lapas.

83

82

Wawancara dengan Bapak Effendi, SH, Kasi Bimbingan dan Kegiatan Kerja Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa, pada tanggal 03 Maret 2014.

83

Wawancara dengan keluarga Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Berdasarkan hasil wawancara dengan Reza keluarga seorang narapidana yang tinggal di Kampung Paya Bujuk Seulemak yang mengatakan bahwa ia kesulitan

untuk meyakinkan lurah tempat ia tinggal untuk menandatangani surat jaminan keluarga tersebut. Seolah-olah lurah tersebut akan ikut terlibat dalam proses narapidana yang bersangkutan. Selain itu, hambatan yang lain ialah tenggang waktu mulai dari pelaksanaan pengusulan pembebasan bersyarat sampai kepada turunnya surat keputusan pembebasan bersyarat yang realitanya berkisar kurang lebih 6 (enam) bulan dan panjangnya birokrasi yang ditempuh dalam pemberian pembebasan bersyarat ini.

Hasil wawancara dengan Bapak Effendi yang menyatakan bahwa dalam proses pembinaan di luar lembaga pemasyarakatan ini petugas atau pembina harus benar-benar selektif dalam memberikan pembinaan di luar lembaga pemasyarakan, dikarenakan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa kurang memiliki kesadaran diri atau keinginan dari dalam diri narapidana dalam mendukung proses pembinaan yang ada di lembaga pemasyarakatan. Bapak Effendi juga menambahkan bahwa, apa yang diharapkan oleh undang-undang pemasyarakatan yang mengharapkan masyarakat narapidana yang selama berada di lembaga pemasyarakatan dalam menjalani proses pidana dibina, dibimbing dan diayomi dan setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan narapidana dapat berintegrasi dengan lingkungan masyarakat, dapat menyadari kesalahan, patuh terhadap aturan-aturan hukum yang berlaku dan tidak mengulangi perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, hal yang seperti ini sulit untuk dicapai, dikarenakan tidak adanya dukungan atau partisipasi baik dari narapidana itu sendiri, petugas atau pembina di lembaga pemasyarakatan, keluarga dari narapidana yang kurang memberikan perhatian, pemerintah yang tidak peduli dengan kehidupan narapidana di lembaga pemasyarakatan dan masyarakat yang selalu berpikiran atau bersikap apatis.84

Berdasarkan pendapat P.A.F. Lamintang dan Theo Lamintang yang menyatakan bahwa tujuan dari penempatan seseorang di dalam lembaga pemasyarakatan berupa pemasyarakatan tidak akan pernah dapat dicapai dengan efektif dan efesien, selama masih terdapat perbedaan pandangan diantara para penyidik, jaksa, hakim dan para pelaksanan pemasyarakatan tentang hakikat penempatan seseorang di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Menurut Beliau timbulnya kesadaran untuk kembali menjadi warga negara yang baik pada narapidana tidak ditentukan oleh lamanya narapidana ditutup di dalam Lapas, melainkan ditentukan oleh kerja keras para pelaksana pemasyarakatan di dalam lembaga pemasyarakatan dan bantuan dari masyarakat yang mulai menyadari bahwa orang-orang yang ditempatkan di dalam lembaga

84 Wawancara dengan Bapak Effendi, SH, Kasi Bimbingan dan Kegiatan Kerja Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Langsa, pada tanggal 03 Maret 2014.

pemasyarakatan perlu disembuhkan dan bukan untuk diberikan semacam penderitaan dan untuk diasingkan dari masyarakat.85

Saat memberikan keterangan, Hakim Wasmat menyatakan bahwa kunjungan hakim wasmat ke lembaga pemasyarakatan sangat perlu dilakukan. Menurut hasil wawancara dengan hakim wasmat Pengadilan Negeri Kota Langsa, Bapak Ismail selama hakim wasmat mengunjungi lembaga pemasyarakatan tidak ada mengadakan observasi atas keadaan suasana dan kegiatan-kegiatan di dalam tembok lembaga pemasyarakatan apakah pemidanaan tidak menderitakan dan merendahkan harkat dan martabat manusia. akan tetapi, hanya mengadakan wawancara dengan narapidana di aula dengan mewawancarai secara acak berdasarkan klasifikasi tindak pidana yang dilakukan. Beliau juga menuturkan bahwa selama Beliau berkunjung ke lembaga pemasyarakatan ada melakukan wawancara dengan narapidana, baik mengenai proses pembinaan di dalam lembaga, perkelahian antara narapidana, bidang-bidang pelatihan kerja yang dilakukan narapidana dan lain-lain. Wawancara ini dilakukan secara acak salah satu narapidana berdasarkan klasifikasi tindak pidana. Misalnya hakim wasmat mewawancarai narapidana dengan klasifikasi

Dokumen terkait