• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

C. Pembinaan Sosial Keagamaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “pembinaan” mengandung arti penyempurnaan, pembaharuan usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik.25

25

W. J. S Purwadaminta,Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta, Bulan Bintang, 1979) Cet ke-3, h. 23

39

Pembinaan merupakan segala usaha, ikhtiar, dan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian segala sesuatu secara teratur dan terarah.26

Pembinaan sosial merupakan kegiatan yang mengandung tujuan utama yaitu memperkenankan serta memberi jalan agar bakat-bakat yang dimiliki oleh setiap manusia itu dapat berkembang, dalam hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial manusia itu sendiri. Kehidupan sosial menurut Islam didasarkan pada keluhuran budi dan ketinggian akhlak, bahkan dianggap sebagai salah satu bagian penting dalam aqidahnya, juga memperkuat kepribadian manusia itu dalam segala segi dan persoalannya, baik keruhanian, kecerdasan akal, kesucian hati, budi pekerti dan juga tubuhnya.27

Pembinaan sosial merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan sebuah lembaga tertentu dalam hal ini ialah lembaga rehabilitasi korban penyalahguna narkoba/pecandu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Pembinaan sosial menjadi saran bagi residen atau orang yang sedang dalam masa rehabilitasi dalam implementasi nilai-nilai sosial. Pembentukan pribadi residen menjadi manusia seutuhnya akan dapat diwujudkan jika residen memperoleh kesempatan menghayati kehidupan manusia, baik secara universal maupun khusus bagi suatu bangsa. Pengalaman dan

26

Masdar Hilmi,Dakwah dalam Alam Pembangunan,(Semarang: Toha Putra, 1973), h. 53

27Musthafa Husni Assiba’i,

Kehidupan Sosial Menurut Islam,(Bandung: Diponegoro, 1988), h. 323 dan 329

kepercayaan itu diperoleh oleh residen secara langsung ketika masa rehabilitasi dan dari materi-materi yang disampaikan. Disamping itu, sebagian besar lainnya pengalaman itu diperoleh di luar kegiatan dan materi yang disampaikan.

Dengan pembinaan sosial ini dimaksudkan agar residen dapat kembali adaptif bersosialisasi dalam lingkungan sosialnya, yaitu di rumah, di sekolah/di kampus dan di tempat kerja. Program rehabilitasi sosial merupakan persiapan untuk kembali kemasyarakat dan diterima oleh masyarakat.28

2. Pengertian Pembinaan Keagamaan

Pembinaan keagamaan (psikoreligius) terhadap para penyalahguna NAPZA ternyata memegang peranan penting, baik dari segi pencegahan, terapi maupun rehabilitasi.

Keagamaan berasal dari kata “agama” yang telah diberi awalan “ke” dan akhiran “an”. Kata agama berasal dari bahasa sangsekerta. Satu pendapat megatakan bahwa agama terdiri dari dua suku kata yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti pergi. Jadi agama berarti tidak pergi, tetapi ditempat atau diwarisi turun temurun. Pendapat lain mengatakan agama berarti teks atau kitab suci, karena setiap agama memang mempunyai kitab suci.

28

Dadang Hawari,Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif),(Jakarta: FKUI, 2006), h. 138

41

Agama dipandang sebagai suatu institusi yang lain, yang mengemban tugas agar masyarakat berfungsi dengan baik, baik dalam lingkup lokal, regional, nasional maupun mondial. Maka dalam tinjauannya yang dipentingkan ialah daya guna dan pengaruh agama terhadap masyarakat, sehingga berkat eksistensi dan fungsi agama (agama-agama) cita-cita masyarakat (akan keadilan dan kedamaian, dan akan kesejahteraan jasmani dan rohani) dapat terwujud.

Menurut Khodijah Salim sebagaimana dikutip Mujahid Abdul Manaf, agama adalah peraturan Allah SWT, yang diturunkan kepada Rasulnya yang telah lalu, yang berisikan suruhan, larangan dan lain sebagainya yang wajib ditaati manusia dan menjadi pedoman serta pegangan hidup agar selamat dunia akhirat.29

Termasuk dalam pembinaan keagamaan ini adalah semua bentuk ritual keagamaan, misalnya dalam agama Islam antara lain:

a) Menjalankan sembahyang wajib 5 waktu dan ditambah dengan sembahyang sunah.

b) Berdo’a dan berdzikir (memohon dan mengingat Allah

SWT).

c) Membaca dan mempelajari isi kandungan al-Qur’an.

29

Mujahid Abdul Manaf,Sejarah Agama-agama,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996) Cet ke-2,

d) Pendalaman keagamaan dari pembimbing agama yang terkait khususnya di bidang keimanan, kesehatan dan perilaku yang sholeh dan terpuji (akhlakul karimah).30

Pendalaman, penghayatan dan pengalaman keagamaan ini akan menumbuhkan kekuatan kerohanian (spiritual power) pada diri seseorang sehingga mampu menekan resiko seminimal mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan/ketergantungan NAPZA. Hawari (2000) dalam penelitiannya memperoleh data bahwa para mantan penyalahguna/ketergantungan NAPZA apabila taat dan rajin menjalankan ibadah, resiko kambuh hanya 6,83 %, bila kadang-kadang beribadah, resiko kekambuhan 21,50 %, dan apabila tidak sama sekali menjalankan ibadah agama, resiko kekambuhan mencapai 71,67 %.31

Penelitian yang dilakukan oleh Cancerellaro, Larson dan Wilson (1982) manyatakan bahwa terapi keagamaan dalam arti

sembahyang, do’a dan dzikir (mengingat Tuhan) terhadap para pasien

penyalahguna/ketergantungan NAPZA ternyata membawa hasil yang jauh lebih baik daripada hanya terapi medik-psikiatrik saja.32

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa agama adalah suatu kepercayaan yang dianut oleh manusia dalam usahanya mencari hakikat diri hidupnya dan yang mengajarkan kepadanya

30

Dadang Hawari,Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif),h. 140

31

Ibid, h. 141 32

43

dengan Tuhan. Unsur agama dalam rehabilitasi residen mempunyai arti penting dalam mencapai keberhasilan penyembuhan. Unsur agama yang mereka terima akan memulihkan dan memperkuat rasa percaya diri, harapan dan keimanan. Sedangkan keagamaan merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan agama, serta mempunyai peranan penting dalam penyembuhan residen di dalam masa rehabnya. Maka fungsinya Islam dalam pembinaan sosial keagamaan adalah dengan tugas menguatkan agamanya, mendidik pribadinya, membersihkan ruhaninya dan mempertinggi mutu akhlaknya, semua itu agar residen tidak lagi terlibat dan memakai narkoba dan zat adiktif lainnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan pembinaan sosial keagamaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan nilai-nilai sosial dan agama yang diarahkan pada peningkatan pemahaman kesadaran tentang nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agama, baik dari segi akhlak, syariah maupun aqidah serta tataran kehidupan.

D. Rehabilitasi Residen

Dokumen terkait