• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setiap parameter memiliki skor yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pengaruh dari masing-masing parameter terhadap hasil akhir kesesuaian lahan rumput laut. Tabel 1 berikut merupakan penilaian setiap parameter untuk kesesuaian lahan budidaya rumput laut :

Tabel 1. Kriteria kesesuaian budidaya rumput laut

Sumber : DKP (2006); SNI (2010) No Parameter Tidak sesuai

(1) Sesuai (3) Sangat Sesuai (5) Bobot (B) 1 Keterlindungan Terbuka Terlindung Sangat

Terlindung

2 2 Arus (m/s) <0.1 & >0.4 0.1 – 0.2 &

0.3 – 0.4

0.2 – 0.3 2 3 Kedalaman (m) <5 & >20 10 – 20 5 – 10 2 4 Dasar Perairan Lumpur &

Karang hidup

Pasir Karang mati & Makro alga

1

5 Salinitas (ppt) <28 & >35 28 - 32 32 - 35 2 6 Suhu (oC) <20 & >32 20 – 26 26 - 32 2 7 Kecerahan (m) <1 & >10 1 – 2 &

5 - 10

Setiap zona akan memiliki nilai kesesuaian dari setiap parameter yang dianggap paling penting dalam penentuan kesesuaian lahan. Didasarkan pada perhitungan dengan rumus sebagai berikut (scoring) :

N = Σ(Bi x Si) ... (2) Dimana : N = Total bobot nilai

Bi = Bobot pada tiap kriteria Si = Skor pada tiap kriteria

Interval kelas kesesuaian lahan diperoleh berdasarkan metode Equal

Interval (Prahasta, 2002), selang tiap-tiap kelas diperoleh dari jumlah perkalian

nilai maksimum tiap bobot dan skor dikurangi jumlah perkalian nilai

minimumnya yang kemudian dibagi jumlah kelas, kelas kesesuaian dibagi 3 yaitu sangat sesuai, sesuai, dan tidak sesuai. Maka dapat dinyatakan dengan rumus dibawah ini :

Selang tiap kelas = Σ (Bi x Si)max – Σ (Bi x Si)min ... (3)

3

Berdasarkan rumus di atas, selang masing-masing kelas ditetapkan nilainya sebagai berikut :

Kelas sangat sesuai (S1) : 44 - 60 Kelas sesuai (S2) : 28 - 43 Kelas tidak sesuai (S3) : 12 - 27

Masing-masing kelas di atas didefinisikan sebagai berikut (Suwargana et

al., 2006) :

Kelas Sangat sesuai (S1), lahan ini tidak memiliki faktor pembatas yang berarti untuk suatu penggunaan secara lestari. Hambatan tidak mengurangi produktivitas atau keuntungan yang diperoleh dan tidak akan meningkatkan

masukan yang diperlukan sehingga melampaui batas-batas yang masih dapat diterima. Kelas sesuai (S2), lahan yang tergolong dalam kelas ini memiliki faktor pembatas yang dapat mengurangi tingkat produksi atau keuntungan yang

diperoleh. Pembatas yang ada meningkatkan masukan atau biaya yang diperlukan. Kelas tidak sesuai (S3), lahan ini disarankan untuk dibiarkan tanpa dikelola atau dikelola secara alami, karena faktor pembatasnya bersifat permanen.

Selain faktor ekologis diatas ada faktor-faktor lain yang perlu

dipertimbangkan yaitu : faktor resiko (keamanan, keterlindungan, dan konflik) dan kemudahan (aksesibilitas), faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan

berpengaruh (DKP, 2006). Taman Nasional Karimunjawa sudah membuat zonasi di masing-masing tempat (BTNKJ, 2010) sesuai kebutuhan , zonasi tersebut mempertimbangan kelestarian lingkungan, konflik, dan lain-lain, sehingga akan terwujud pengelolaan taman nasional yang efektif dan optimal sesuai dengan fungsinya.

25 4.1 Substrat Dasar Perairan Dangkal

Pengolahan citra untuk mendapatkan penampakan substrat dasar perairan maka dilakukan transformasi citra dengan pendekatan “Standard Exponential

Attenuation Model”. Dilakukan ekstrak nilai digital band 1 dan band 2 dari citra

Landsat 7 ETM+ sehingga didapatkan nilai koefisien attenuasi perairan (ki/kj) yaitu 2,357859718 (contoh perhitungan pada Lampiran 1). Setelah didapat nilai koefisien attenuasi perairan (ki/kj) maka persamaan algoritmanya yaitu Y= ln (Band1) – 2,357859718*ln (Band2).

Dari hasil transformasi citra maka didapatkan perbedaan penampakan pada citra antara karang hidup, karang mati, lamun/makro alga, dan pasir. Karang hidup berwarna cyan, karang mati berwarna merah, lamun/makro alga berwarna merah menuju kuning (bercak coklat), dan pasir berwarna kuning.

Substrat dasar perairan di Taman Nasional Karimunjawa lebih didominasi oleh pasir kemudian karang hidup, lamun/makro alga, dan karang mati. Luas masing-masing substrat dasar perairan dapat dilihat pada Tabel 2. Umumnya substrat dasar yang mengelilingi pulau-pulau di Taman Nasional Karimunjawa dimulai dengan substrat pasir, lamun/makro alga, karang mati, dan karang hidup (Lampiran 2). Klasifikasi substrat dasar perairan dapat dilihat pada Gambar 8. Tabel 2. Luas substrat dasar perairan Kepulauan Karimunjawa

Substrat dasar Luas (m2) Luas (ha)

Karang hidup 16282380 1628,23

Karang mati 13631442 1363,14

Lamun / makro alga 15812335 1581,23

26 Gambar 8. Kesesuaian berdasarkan substrat dasar perairan pada zona budidaya Taman Nasional Karimunjawa

Substrat dasar perairan pada zona budidaya lebih didominasi oleh substrat dasar pasir, lamun/makro alga, dan karang mati, hanya sedikit karang hidup. Substrat dasar karang hidup dominan berada diluar zona budidaya, kondisi seperti ini menunjukan hasil yang baik karena kegiatan budidaya rumput laut dapat dimaksimalkan pada zona budidaya tanpa mengganggu karang hidup yang ada di Taman Nasional Karimunjawa. Persentase substrat dasar perairan pada zona budidaya dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Komposisi substrat dasar perairan pada zona budidaya Hasil ini pun tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya (DKP, 2005) dimana substrat dasar perairan di masing-masing pulau didominasi oleh substrat dasar pasir, persentase substrat dasar perairan di masing-masing pulau tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 3. Dasar perairan berupa berupa karang, pecahan karang, dan pasir kasar, dipandang baik untuk budidaya rumput laut, kondisi seperti ini menunjukan adanya pergerakan air yang baik

(Anggadiredja et al., 2006; DKP, 2006). Sedangkan substrat dasar lumpur akan mengganggu pertumbuhan rumput laut, karena partikel lumpur lebih mudah

teraduk di kolom perairan dan akan menutupi rumpun rumput laut (Sulistijo, 2002).

Tabel 3. Persentase substrat dasar perairan P. Kemujan, P. Karimunjawa, P. Menjangan Besar dan Kecil, dan P. Nyamuk.

Jenis Substrat

Persentase (%) substrat dasar perairan

Kemujan Karimunjawa Menjangan

Besar Menjangan Kecil Nyamuk karang hidup 15% 5% 10% 10% 15% karang mati 20% 20% 15% 15% 10% makro alga 15% 5% 10% 10% 10% pasir 50% 70% 65% 65% 65% (Sumber : DKP, 2005) 4.2 Arus

Pola pergerakan arus permukaan sangat dipengaruhi oleh kecepatan angin. Arus perairan di Taman Nasional Karimunjawa pada bulan April berkisar antara 0,23 – 0,42 m/s. Dapat dilihat pada Lampiran 3 pola sebaran arus permukaan laut bergerak dari arah utara menuju selatan, kecepatan arus besar pada bagian selatan Taman Nasional Karimunjawa. Kecepatan arus bulan April pada zona budidaya berkisar antara 0,28 – 0,35 m/s (Gambar 11). Pada bulan Mei arus perairan berkisar antara 0,2 – 0,3 m/s (Gambar 12). Kecepatan arus di bagian barat lebih besar dari pada bagian timur Taman Nasional Karimunjawa dan arah arus bergerak kearah barat dan utara. Sebaran arus permukaan laut pada bulan Mei dapat dilihat pada Lampiran 4.

Kecepatan arus pada zona budidaya bulan April dan Mei menunjukan kondisi yang baik untuk dilakukan budidaya rumput laut, kecepatan arus pada dua bulan tersebut berkisar antara 0,2 – 0,35 m/s. Di Laut Jawa pada musim

dibeberapa tempat terjadi olakan-olakan (eddies). Biasanya dalam Musim Pancaroba ini arus sudah mengalir ke barat dipantai selatan Kalimantan

sedangkan dilepas pantai utara Jawa arus masih mengalir ke timur (Nontji, 2005). Pola pergerakan arus di Kepulauan Karimunjawa pada Pancaroba 1 (April – Juni) bergerak dari arah barat laut, utara, dan timur laut menuju selatan. Arah arus dapat dilihat pada Gambar 10 (DKP, 2005).

Gambar 10. Arah arus pada musim Pancaroba 1 (April – Juni) Kepulauan Karimunjawa

Kecepatan arus yang ideal untuk budidaya berkisar antara 0,2 – 0,4 m/s, arus seperti ini berguna membawa nutrien yang berada di perairan masuk kedalam tubuh rumput laut, mempercepat proses metabolisme dan sekaligus membersihkan kotoran yang menempel pada thallus (DKP, 2006). Menurut Sulistijo (2002) pada saat arus lemah rumput laut akan mudah kotor/penuh penempel dan terkena penyakit, saat arus cukup kuat sirkulasi air di daerah rumput laut tumbuh akan baik sehingga rumput laut tidak mudah terkena penyakit.

30 Gambar 11. Kesesuaian berdasarkan arus perairan pada zona budidaya Taman Nasional Karimunjawa (bulan April)

31 Gambar 12. Kesesuaian berdasarkan arus perairan pada zona budidaya Taman Nasional Karimunjawa (bulan Mei)

4.3 Angin

Kecepatan angin bulanan tahun 2009 di daerah Kepulauan Karimunjawa berkisar antara 0,5 – 11 m/s. Keterangan arah dan kecepatan angin dapat dilihat pada Gambar 13 dan Tabel 4. Pada musim Barat (Desember – Maret) angin dominan bertiup dari arah barat dengan kecepatan berkisar antara 5,7 – 8,8 m/s, pada bulan Februari kecepatan angin mencapai maksimum yaitu berkisar antara 8,8 – 11 m/s. Musim Pancaroba 1 (April – Mei) arah angin bervariasi dari arah barat dan timur dengan kecepatan berkisar antara 3,6 – 5,7 m/s. Musim timur (Juni – Agustus) arah angin dominan berasal dari arah timur dengan kecepatan berkisar antara 3,6 – 5,7 m/s. Pada musim Pancaroba 2 (September – November) arah angin bervariasi dari arah barat dan timur laut dengan kecepatan berkisar antara 3,6 – 5,7 m/s.

Angin di Kepulauan Karimunjawa pada bulan maret hingga desember bertiup dengan kecepatan berkisar antara 3,6 – 5,7 m/s. Berdasarkan skala angin Beaufort yang tertera pada Lampiran 5 (Met Office, 2010), kecepatan angin seperti ini disebut juga angin sepoi-sepoi lembut dan akan menimbulkan dampak di laut yaitu gelombang laut kecil. Pada musim Barat (Desember – Februari) kecepatan angin lebih besar dibandingkan dengan musim yang lain yaitu berkisar antara 5,7 – 8,8 m/s (angin sepoi-sepoi sedang) dan angin bertiup maksimum pada bulan Februari dengan kisaran 8,8 – 11 m/s (angin sepoi-sepoi segar). Dampak yang akan timbul di laut yaitu banyak ombak berujung putih dan sedikit percikan air. Kondisi ini menunjukan pada bulan April – Mei tergolong aman (baik) untuk dilakukan kegiatan budidaya.

Gambar 13. Arah dan kecepatan angin bulan Januari – Desember 2009 di daerah penelitian

Tabel 4. Arah dan kecepatan angin bulan Januari – Desember tahun 2009 di daerah penelitian (Sumber : ECMWF, 2010)

Bulan arah Kecepatan (m/s)

total (%) 0.5 - 2.1 2.1 - 3.6 3.6 - 5.7 5.7 - 8.8 8.8 - 11.1 Januari barat daya 3.2 - - - - 3.2 barat - 6.5 16.1 64.5 - 87.1 barat laut - - 6.5 3.2 - 9.7 Februari barat daya - - 3.6 - - 3.6 barat 3.6 14.3 39.3 10.7 10.7 78.6 barat laut - - 3.6 7.1 7.1 17.8 Maret barat 29.1 6.5 6.5 - - 42.1 barat laut 12.9 3.2 3.2 - - 19.3 timur 12.9 6.5 3.2 - - 22.6 April barat laut 6.7 - - - - 6.7 timur 10 10 20 3.3 - 43.3 tenggara 13.3 10 3.3 - - 26.6 Mei barat laut - 3.2 - - - 3.2 timur 12.9 12.9 41.9 3.2 - 70.9 tenggara - 12.9 6.5 - - 19.4 Juni timur 3.3 6.7 60 30 - 100 Juli timur laut - 3.2 - - - 3.2 timur - 16.1 54.8 19.4 - 90.3 tenggara - - 3.2 3.2 - 6.4

Agustus timur laut 3.2 - 25.8 - - 29

timur - - 45.2 25.8 - 71 September utara 3.3 6.7 3.3 - - 13.3 timur laut - 13.3 33.3 - - 46.6 timur - 3.3 10 20 - 33.3 Oktober utara 3.2 3.2 - - - 6.4 timur laut 3.2 12.9 19.4 - - 35.5 timur 3.2 9.7 19.4 12.9 - 45.2 November barat daya 3.3 16.7 - - - 20 barat 10 3.3 3.3 3.3 - 19.9 timur - - 10 23.3 - 33.3 Desember barat 16.1 19.4 6.5 - - 42 barat laut 9.7 - 9.7 - - 19.4 utara 12.9 - 3.2 - - 16.1

Dokumen terkait