BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pembuatan Asam Pencuci dan Preparasi Peralatan
Pencucian dengan asam pencuci pada alat-alat gelas yang akan
digunakan dalam penelitian merupakan suatu hal yang harus dilakukan agar alat-
alat gelas yang digunakan tidak tercemar oleh bahan-bahan lain yang masih
tertinggal dalam alat-alat gelas tersebut. Apabila alat-alat gelas yang akan
digunakan tidak dicuci dengan menggunakan asam pencuci terlebih dahulu,
dikhawatirkan masih adanya bahan-bahan lain yang tertinggal dalam alat-alat
gelas tersebut yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Asam pencuci yang digunakan adalah campuran kalium bikromat
(K2Cr2O7) 1 % dalam 500 mL asam sulfat p.a. Kalium bikromat ditimbang
sebanyak 5 gram kemudian dimasukkan ke dalam bekker gelas lalu ditambahkan
dengan sedikit asam sulfat p.a sambil diaduk untuk mempermudah kelarutannya.
Setelah larut, larutan tersebut dituang ke dalam labu ukur 500 mL dan ditambah
39
sempurna. Penggojokan tidak boleh dilakukan dengan keras sebab reaksi dari
larutan ini bersifat eksotermis.
Digunakan asam pencuci berupa campuran kalium bikromat dalam asam
sulfat adalah karena campuran kalium bikromat dan asam sulfat merupakan agen
pengoksidasi yang banyak digunakan dan sangat efektif untuk menghilangkan
bekas dari bahan-bahan organik yang mungkin masih menempel pada alat-alat
gelas yang akan digunakan dalam penelitian (Edward, 2013). Alat-alat gelas yang
akan digunakan dalam penelitian kemudian dicuci dengan menggunakan asam
pencuci selama 15 menit dengan cara diputar-putar agar seluruh permukaan alat
gelas terbasahi dengan asam pencuci. Setelah itu, alat-alat gelas dibiarkan
terendam dengan asam pencuci selama satu malam dengan tujuan agar kotoran-
kotoran yang berupa bahan organik yang masih menempel pada alat-alat gelas
dapat hilang. Selama melakukan pencucian alat-alat gelas dengan menggunakan
asam pencuci dilakukan di dalam lemari asam. Setelah alat-alat gelas direndam
selama satu malam, asam pencuci dituang kembali ke dalam labu ukur 500 mL
untuk digunakan pada pencucian alat-alat gelas berikutnya. Namun apabila asam
pencuci sudah berubah warna dari coklat-kemerahan menjadi hijau atau menjadi
sangat cair setelah digunakan, asam pencuci tidak boleh digunakan lagi sebab
berarti daya pengoksidasinya sudah berkurang sehingga tidak baik lagi apabila
masih digunakan untuk mencuci alat-alat gelas (Anonim, 2013).
Alat-alat gelas kemudian dikeluarkan dari lemari asam lalu dibilas
dengan aquabides selama 3 kali untuk menghilangkan kemungkinan adanya
kotoran yang masih tertinggal di dalam alat gelas. Aquabides merupakan air yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
mengalami destilasi ganda sehingga tidak terkandung mineral di dalamnya.
Digunakan aquabides pada penelitian ini karena yang akan ditetapkan adalah
kandungan logam timbal (Pb) sehingga diharapkan tidak ada mineral lain yang
dapat mengganggu pengukuran logam timbal (Pb). Setelah dibilas dengan
aquabides, alat-alat gelas tersebut kemudian disimpan dalam kantong plastik
sampai saatnya alat-alat gelas tersebut akan digunakan agar terbebas dari debu dan
kotoran (Edward, 2013).
B. Penetapan Bobot Kering
Pada umumnya, semua zat (baik alat maupun bahan) yang disimpan pada
ruangan memiliki kecenderungan untuk menyimpan lembab (air) dari udara. Oleh
sebab itu perlu dilakukan kuantifikasi terlebih dahulu supaya bobot zat yang akan
kita gunakan dapat diketahui secara akurat. Penetapan bobot tetap wadah dan
bobot kering sampel dilakukan dengan prinsip penimbangan bobot berulang kali
sampai diperoleh bobot tetap.
Wadah yang digunakan pada penelitian ini berupa alumunium foil yang
dicetak pada flakon sehingga bentuk alumunium foil mengikuti bentuk dari flakon
tersebut. Tujuan digunakan alumunium foil sebagai wadah adalah agar perolehan
bobot tetap dari wadah mudah didapatkan karena bobot alumunium foil yang
ringan. Setelah wadah dipanaskan dalam oven, wadah dikeluarkan dan
didinginkan sampai mencapai suhu kamar di dalam desikator. Desikator
merupakan suatu wadah yang terbuat dari bahan gelas yang kedap udara dan
41
umumnya digunakan untuk menyimpan sampel agar tetap kering selama proses
pendinginan dan sebelum sampel ditimbang kembali. (Christian, 2004). Wadah
selanjutnya ditimbang untuk diketahui bobotnya setelah pengeringan dengan oven
dan desikator. Proses ini dilakukan berulang kali hingga diperoleh selisih bobot
yang tidak lebih dari 0,5 miligram tiap gram sisa yang ditimbang (Depkes RI,
1974). Berdasarkan hasil kuantifikasi diperoleh bahwa pada penimbangan kedua
sudah diperoleh bobot tetap untuk masing-masing replikasi yaitu dengan selisih
kedua penimbangan untuk masing-masing replikasi sebesar 0,2304; 0,4391; dan
0,4918 mg.
Pada penetapan bobot kering sampel daun, daun dicuci terlebih dahulu
dengan menggunakan air biasa. Tujuan sampel dicuci dengan air biasa adalah
untuk menyamakan perlakuan seperti yang dilakukan oleh peternak cacing dalam
mencuci daun-daunan yang digunakan untuk pangan cacing dengan menggunakan
air biasa. Setelah sampel dicuci, sampel dipotong kecil-kecil dengan tujuan untuk
memperluas permukaan dari daun agar daun cepat kering setelah pencucian serta
untuk mempermudah daun dalam menyerap larutan Pb yang akan disemprotkan
pada saat perlakuan sampel. Selain itu, perlakuan ini juga mengikuti perlakuan
yang dilakukan oleh peternak cacing dimana daun yang digunakan untuk pakan
cacing diberikan dalam bentuk potongan-potongan halus atau diblender. Cacing
akan lebih mudah memakan serta mencerna apabila daun diberikan sudah
dipotong-potong atau diblender. Sampel kemudian dipanaskan dalam oven pada
suhu 1050 C sampai diperoleh bobot tetap. Depkes RI, 1974 mensyaratkan bahwa
selisih bobot yang tidak lebih dari 0,5 miligram tiap gram sisa yang ditimbang.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Berdasarkan hasil penetapan bobot kering daun diperoleh bahwa pada
penimbangan kelima sudah diperoleh bobot tetap untuk masing-masing replikasi
yaitu dengan selisih kedua penimbangan untuk masing-masing replikasi sebesar
0,3219 ; 0,2914 ; 0,3056 mg.