BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Validasi Metode
6. Pengaruh prosedur analisis terhadap sampel
Pada tahap ini peneliti ingin mengetahui sejauh mana pengaruh prosedur
analisis yang dilakukan terhadap sampel pada masing-masing replikasi. Kerangka
berpikir peneliti adalah apakah terdapat perbedaan hasil antara kurva adisi dengan
kurva baku. Sebab pada penelitian ini kurva baku tidak ikut dalam proses
destruksi sedangkan kurva adisi ikut dalam proses destruksi. Metode statistika
yang dipakai adalah t-test, karena uji tersebut dapat untuk mengukur keberadaan 2
variabel tergantung yang bersifat continuous. Namun sebelum menghitung uji-t, perlu dihitung uji F untuk melihat rumus uji-t mana yang akan digunakan. � =
S12
S22, dimana S1 = Sd slope dari kurva adisi; sedangkan S2 = Sd slope dari kurva
baku.
Tabel VIII. Hasil uji F standar deviasi baku dan adisi (α = 0,05)
F hitung F tabel (two-tailed test) Kesimpulan
0,0376 7.146 Tidak berbeda signifikan
Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa nilai F hitung < F tabel
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara
standar deviasi slope pada kurva adisi dan kurva baku. Karena hasil replikasi uji F menunjukkan perbedaan tidak signifikan maka digunakan rumus uji-t:
�
2=
(�1−1)�12+ (�2−1)�22�1+�2−2
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
�= |�1− �2| ���11+�12
dimana x1 = merupakan slope kurva adisi, x2 = slope kurva baku.
H1 = antara kurva adisi dengan kurva baku terdapat perbedaan signifikan
Keputusan : dengan α = 0,05, tolak H0 jika t>t10(0,05)
Hasil perhitungan uji-t untuk ketiga replikasi adalah:
Tabel IX. Hasil uji signifikansi kurva baku dan kurva adisi
T hitung T tabel Kesimpulan
96,2918 2,23 Signifikan
Tujuan dilakukannya uji-t ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh prosedur analisis terhadap hasil. Hasil uji-t menunjukkan hasil yang
berbeda signifikan, yang berarti ada pengaruh prosedur analisis terhadap hasil.
Hal ini mungkin disebabkan karena selama proses pengerjaan terdapat kesalahan
dalam memipet ataupun adanya kemungkinan sampel yang masih tertinggal di
dalam Erlenmeyer ketika proses penyaringan. Kemungkinan lainnya disebabkan
karena selama proses destruksi basah, terdapat sampel yang tersembur keluar pada
saat dipanaskan diatas hot plate ataupun pada saat penambahan campuran asam pengoksidasi.
55
F. Penetapan Kadar
Penetapan kadar dilakukan setelah metode analisis yang digunakan
dinyatakan valid. Penetapan kadar dilakukan dengan memberi perlakuan pada
daun murbei yang digunakan sebagai pangan cacing. Daun tersebut disemprot
dengan larutan Pb dengan konsentrasi 10 µg/mL kemudian dibolak-balik dan
dikeringkan agar larutan Pb dapat masuk ke dalam daun. Dipilih Pb dengan
konsentrasi 10 µg/mL karena merupakan konsentrasi maksimal adisi yang
digunakan peneliti sehingga diharapkan apabila terjadi akumulasi baik pada daun
maupun air, akan tetap masuk pada range kurva baku yang digunakan. Selain itu, digunakannya konsentrasi ini adalah agar hasil yang diharapkan dapat
menyamakan kadar timbal yang terdapat pada kapsul cacing (Suryasmi, 2013).
Setelah daun disemprot dengan larutan Pb, daun difermentasi dengan tujuan untuk
menyamakan perlakuan seperti yang dilakukan oleh peternak cacing dalam
memberi makan cacing. Karena daun mengalami proses fermentasi dengan
menggunakan cairan pemfermentasi selama 7 hari, maka perlu diketahui kadar
timbal (Pb) baik di air maupun daun selama 7 hari tersebut.
Kadar timbal (Pb) dihitung dengan mensubstitusikan absorbansi yang
diperoleh sebagai nilai y pada persamaan kurva baku penetapan kadar: y = 0,0111
x-0,001. Berdasarkan perhitungan, diperoleh hasil bahwa kadar timbal pada daun
hanya terdeteksi dari hari ke-0 sampai hari ke-3, sedangkan kadar pada hari ke-0
sampai hari ke-4 samapi ke-7 berada di bawah LOD (berada di bawah 0,1233
µg/mL). Sebaliknya, kadar timbal yang terbaca pada air baru dimulai dari hari ke- 3 sampai hari ke-7 sebab kadar timbal pada hari ke-0 sampai ke-2 berada di
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
bawah LOD. Berdasarkan hasil yang diperoleh, terlihat bahwa terjadi perpindahan
timbal (Pb) dari daun ke air. Sedangkan untuk melihat kemungkinan hilangnya
timbal (Pb) yang diduga akibat tersedimentasi dalam cairan pemfermentasi EM-4
57
Daun murbei (bobot kering) rata-rata kadar air
=54,50 %
Fermentasi
kadar timbal di air pada hari ke-0 tidak terdeteksi
(berada di bawah LOD)
cairan pemfermentasi dibuat dalam 1 L = 1000 mL
kadar timbal yang terkandung = tidak dapat diketahui.
kadar daun pada hari ke- 0 = 7,208 µg/g karena bobot daun yang diperoleh setelah bobot kering = 500 g
kadar timbal yang terkandung = 500 g x 7,208 µg/g = 3.604 µg
Validasi metode Kadar yang ditemukan pada
rata-rata ketiga blangko sebesar 21,287 µg/g
karena bobot daun yang diperoleh setelah bobot
kering = 500 g
kadar timbal yang terkandung = 500 g x 21,287 µg/g =
10.643,5 µg
pada pemberian pangan cacing, 1 kg daun = 1 kg
cacing
karena kadar air = 54,50%, maka bobot daun yang diperoleh =
±500 g dibuat dalam 1 L
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
Kadar timbal yang ditemukan pada proses validasi metode yang
dilakukan pada ketiga replikasi blangko (yang tidak mengalami penambahan/adisi
dengan Pb) sebesar 10.643,5 µg, kadar timbal yang ditemukan pada kedua
replikasi penetapan kadar daun hari ke-0 sebesar 3.604 µg sedangkan kadar timbal
pada air tidak dapat ditentukan besarnya sebab berada di bawah LOD. Apabila
kita hitung, terdapat perbedaan kadar timbal (Pb) yang ditemukan pada saat
validasi metode dengan penetapan kadar. Seharusnya, kadar yang ditemukan pada
saat validasi metode sama dengan jumlah kadar timbal yang ditemukan pada air
dan pada daun pada blangko. Namun pada kenyataannnya terdapat selisih sebesar
7.039,5 µg, yang diperoleh dari hitungan:
Kadar timbal pada proses validasi = 10.643,5 µg
Kadar timbal pada penetapan kadar di daun = 3.604 µg –
kadar timbal yang hilang = 7.039,5 µg
Hal ini diduga karena timbal (Pb) sejumlah 7.039,5 µg tersedimentasi di dalam
larutan pemfermentasi EM-4. Perbedaan antara kadar timbal (Pb) pada daun yang
difermentasi dengan non-fermentasi kemudian diuji dengan menggunakan uji-t
dengan tujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan kadar timbal (Pb) yang
signifikan pada daun yang difermentasi maupun yang tidak difermentasi. Pada uji
ini digunakan konsentrasi 10 µg/mL pada validasi metode yang akan
dibandingkan dengan penetapan kadar. Digunakan kadar tersebut sebab pada
penetapan kadar, daun murbei disemprot dengan larutan Pb konsentrasi 10 µg/mL.
59
perbedaan yang signifikan antara standar deviasi hasil absorbansi daun
terfermentasi dengan daun non-fermentasi. Hasil yang diperoleh pada penelitian:
Tabel X. Hasil uji F absorbansi daun terfermentasi dengan daun non-fermentasi (α = 0,05)
F hitung F tabel (two-tailed test) Kesimpulan
11,96656 39.36 Tidak berbeda signifikan
Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan
signifikan antara standar deviasi absorbansi daun terfermentasi dengan daun non-
fermentasi. Setelah dilakukan uji F, dilakukan uji-t pada daun yang terfermentasi
maupun pada daun non-fermentasi. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini
adalah:
Tabel XI. Hasil uji signifikansi daun terfermentasi dengan non-fermentasi
T hitung T tabel Kesimpulan
22,1358 2,26 Signifikan
Berdasarkan hasil uji-t tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan signifikan antara kadar logam berat timbal (Pb) pada daun yang
difermentasi dengan yang tidak difermentasi. Hal ini mungkin disebabkan karena
adanya peran bakteri asam laktat yang terdapat pada cairan pemfermentasi EM-4.
Bakteri asam laktat tersebut menghasilkan exopolysaccharide (EPS) yang dapat digunakan sebagai penjerap logam berat. Berdasarkan hasil analisis spektra dari
Fourier Transform-Infrared Spectroscopy (FT-IR) yang dilakukan pada permukaan exopolysaccharide (EPS), diketahui bahwa ternyata permukaan
exopolysaccharide (EPS) mengandung gugus-gugus yang bermuatan negatif seperti –OH, COO-, C=O dan –NH. Penyerapan timbal (Pb) oleh
exopolysaccharide (EPS) dapat terjadi karena adanya interaksi antara kation dari timbal (Pb2+) dengan muatan negatif yang ada pada exopolysaccharide (EPS).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Berikut merupakan gambar hasil Scanning Electron Micrography (SEM) untuk mengetahui morfologi dari permukaan exopolysaccharide (EPS) baik sebelum maupun sesudah terjadi penyerapan oleh timbal (Pb):
Gambar 8. Permukaan exopolysaccharide (EPS) sebelum terjadi penyerapan timbal (Pb)
(Feng, Chen, Li, Nurgul, Dong, 2012)
Gambar 9. Permukaan exopolysaccharide (EPS) sebelum terjadi penyerapan timbal (Pb)
61
Pada gambar 8 dapat kita lihat bahwa permukaan exopolysaccharide
(EPS) sebelum terjadi penyerapan timbal (Pb) menunujukkan permukaan yang
halus namun setelah terjadi penyerapan timbal (Pb), permukaan
exopolysaccharide (EPS) menjadi terlihat lebih kasar (gambar 9). Hal tersebut menunjukkan bahwa Pb2+ memang terserap di dalam permukaan
exopolysaccharide (EPS) yang ada pada bakteri asam laktat. Rayes (2012) juga menyebutkan bahwa bakteri Lactobacillus, bakteri utama yang terdapat pada cairan pemfermentasi EM-4, dapat menyerap logam berat seperti timbal (Pb)
dalam larutan dan mengakibatkan logam berat tersebut mengendap bersama
dengan bakteri Lactobacillus.
Gambar 10. Bakteri Lactobacillus yang sebelum menyerap logam berat timbal (kiri) dan
bakteri Lactobacillus yang setelah menyerap logam berat timbal (kanan) (Rayes, 2012)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
62
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN