BAB III METODE KAJIAN
3.2 Metode Kajian
3.2.3 Pembuatan Kompos Daun Bambu
Pelaksanaan kajian pembuatan kompos daun bambu sebagai berikut :
1. Daun bambu kering sebanyak 10kg disiapkan dengan bahan lainnya yaitu 25 ml EM4 pertanian sebagai dekomposer, 100 gram gula putih atau molase, 5 liter air, sprayer dan karung sebagai tempat penyimpanan.
2. Daun bambu disortir dengan membuang benda asing (non organik) seperti sampah plastik jika terdapat didalamnya, membuang ranting pohon bambu.
3. Gula putih dilarutkan ke dalam 5 liter air, dan ditambahkan 24 ml EM4 ke dalam air. Diaduk hingga benar-benar larut dan tercampur merata.
4. Larutan didiamkan selama 5 menit agar mikroba dari EM4 yang dorman dapat bereaksi, kemudian dimasukkan ke dalam sprayer.
5. Daun bambu kering dihamparkan dan larutan dekomposter disemprotkan secara merata dan bolak balik agar basah merata hingga tingkat kebasahan mencapai 30-40%.
6. Daun bambu yang telah disemprot dekomposer dimasukkan ke dalam karung.
7. Karung diikat rapat di tempat teduh yang terbebas dari sinar matahari dan guyuran air hujan dengan sirkulasi udara yang lancar atau suhu ruangan stabil.
8. Kelembaban diperiksa setiap 3 hari sekali dengan cara membuka tali pengikatnya dengan membolak-balik karung untuk sirkulasi udara dan mengurangi suhu udara yang berlebih dalam karung.
9. Pengomposan yang telah dilakukan selama 3 minggu, kompos daun bambu siap untuk digunakan dengan ciri-ciri bentuknya sudah berubah dari kondisi semula, lebih halus dan lebih lembut.
10. Kompos sebelum digunakan sebaiknya diangin-anginkan atau dijemur hingga benar-benar kering dibawah sinar matahari langsung untuk mengurangi suhu dan kadar airnya serta mengusir serangga atau hewan lainnya yang kemungkinan ada di dalamnya.
3.2.4 Pelaksananan Kajian 1. Persiapan Alat Dan Bahan
Alat : tray semai, ayakan, sprayer, alat tulis, timbangan digital dan penggaris.
Bahan : Kompos daun bambu, tanah, pupuk kandang, benih sawi Hijau dan Polibag ukuran (30 x 30cm).
2. Persipan Media Semai
Media semai yang digunakan ketika persemaian benih adalah tanah, kemudian tanah di ayak agar tanah terpisah dari kotoran, lalu masukkan ke dalam tray semai yang telah tersedia. Memasukkan benih pada setiap lubang tray semai sebanyak 1 benih dan lakukan perawatan semai dengan penyiraman secara penyemprotan menggunakan sprayer. Penyemaian benih sawi hijau dilakukan selama 14 hari.
3. Persiapan Media Pindah Tanam
Tanaman sawi yang telah di semai selama kurang lebih 14 hari telah siap pindah tanam ke tempat yang lebih luas untuk budidaya tanaman sawi Hijau dengan pemindahan ke polybag ukuran (30cm x 30cm) yang berisi tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 (1/2 Kg Tanah : 1/2 Kg Pupuk Kandang).
4. Penanaman
Penanaman sawi hijau dilakukan setelah mempersiapkan bibit yang telah disemai dan berumur 14 hari, media tanam yang telah siap di polibag, dan kompos daun bambu yang siap digunakan. Penanaman tanaman sawi yaitu dengan melubangi media tanam 1 lubang per polibag dengan kedalaman ± 3-4 cm bisa menggunakan jari telunjuk atau kayu, kemudian memasukkan bibit pada lubang media tanam yaitu 1 bibit dan menutup dengan tanah. Pengaplikasian kompos daun bambu dapat dilakukan setelah melakukan pindah tanam yaitu dengan cara menimbang terlebih dahulu kompos daun bambu sesuai dengan perlakuan kemudian meletakkan kompos daun bambu pada tanaman sawi hijau.
5. Perawatan
Hal yang perlu diperhatikan yaitu penyiraman dan hama penyakit pada tanaman sawi hijau. Penyiraman dilakukan 1X sehari pada pagi hari dan organisme pengganggu tumbuhan sawi hijau yang utama adalah ulat daun (Plutella xylostella) dalam pengendalian hama ulat daun ini dapat dilakukan secara
6. Panen
Panen tanaman sawi Hijau dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 28- 30 hari dengan cara mencabut hingga akar menggunakan tangan secara manual lalu dilakukan pembersihan tanah yang menempel pada akar menggunakan air. Tetapi pada kajian tugas akhir ini dilakukan panen jika tanaman sawi hijau siap panen meskipun tidak menepati umur tersebut.
3.2.5 Parameter yang diamati 1. Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman sawi Hijau dimulai pada saat tanaman berumur 4, 8, 12, 16 dan 20 HST. Pengukuran dimulai dari pangkal batang tanaman sampai titik pucuk tanaman. Menggunakan alat ukur penggaris. Interval waktu pengukuran 4 hari sekali.
2. Jumlah daun (helai)
Perhitungan jumlah daun dihitung berdasarkan daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan dimulai berumur 4, 8, 12, 16 dan 20 HST.
3. Berat Segar Konsumsi (gram)
Berat segar konsumsi adalah tanaman sawi Hijau yang dilakukan penimbangan tanaman setelah panen dan siap konsumsi dengan menggunakan timbangan digital.
3.2.6 Analisis data
Hasil pengamatan akan di uji menggunakan uji (ANOVA). jika hasil analisis sidik ragam menunjukkan perbedaan yang nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan menggunakan aplikasi SPSS 20.
3.3 Metode Perancangan Penyuluhan 3.3.1 Penetapan Tujuan
Tujuan dari rancangan penyuluhan adalah untuk mengetahui pengetahuan petani dari penyampaian manfaat kompos daun bambu sebagai mulsa organik terhadap tanaman sawi Hijau.
3.3.2 Penetapan Sasaran
Hal pertama yang dilakukan adalah menetapkan sasaran penyuluhan.
Penerima penyuluhan adalah anggota Kelompok tani Ganting Sejahtera Penetapan sasaran perancangan dengan memperhatikan dari segi :
1. Tingkat pengetahuan, sikap serta keterampilan sasaran karena petani mempunyai kecepatan, keterampilan, dan sikap yang berbeda.
2. Mengetahui adat kebiasaan sasaran sehingga mempermudah penyampaian materi.
3. Banyaknya sasaran yang ingin dicapai.
3.3.3 Penetapan Materi
Penetapan materi penyuluhan pertanian diperoleh berdasarkan hasil yang diperoleh dari kajian yang disesuaikan dengan tujuan penyuluhan dan kebutuhan anggotan Kelompok Tani Ganting Sejahtera. Materi yang dipaparkan adalah hasil terbaik dari kajian yaitu pemanfaatan daun bambu sebagai mulsa organik terhadap pertumbuhan tanaman sawi Hijau. Adapun langkah-langkah perancangan materi penyuluhan, antara lain :
1. Identifikasi potensi wilayah sehingga mendapatkan permasalahan yang dihadapi petani.
2. Menganalisis permasalahan ditingkat kelompok Tani Ganting Sejahtera 3. Menetapkan tujuan dan metode materi penyuluhan pertanian.
4. Menetapkan materi berdasarkan masalah yang didapat.
5. Mencari sumber materi (materi resmi atau sumber materi yang dapat dipercaya).
6. Menyusun sinopsis dengan meringkas suatu materi penyuluhan yang panjang menjadi bentuk narasi. Ringkasan materi penyuluhan pertanian perlu disiapkan dan dituangkan dalam bentuk synopsis.
7. Menyusun LPM (Lembar Persiapan Menyuluh) bertujuan untuk mempermudah dalam penyampaian materi penyuluhan.
Tujuan dari evaluasi penyuluhan adalah untuk mengetahui pengetahuan dan keterampilan petani dari penyampaian tentang Pemanfaatan daun bambu sebagai mulsa organik terhadap pertumbuhan tanaman sawi Hijau.
3.3.4 Penetapan Metode
Metode penyuluhan yang ditetapkan dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Identifikasi dan analisis data sasaran, penyuluh dan perlengkapannya, keadaan wilayah dan kebijakan pembangunan.
2. Menetapkan alternatif metode penyuluhan pertanian berdasarkan jumlah sasaran yaitu secara massal, kelompok maupun perorangan.
3. Menetapkan metode penyuluhan sesuai dengan kondisi keadaan lapangan dan sasaran.
3.3.5 Penetapan Media
Penetapan media dalam penyuluhan ditetapkan sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan dengan menetapkan pesan atau materi sesuai dengan kebutuhan sasaran.
2. Menetapkan jangkauan media yang ingin dicapai dengan mengukur seberapa jauh atau dekat media yang dibuat dapat menjadi penyalur dalam penyampaian materi.
3. Memilih media penyuluhan sesuai dengan karakteristik sasaran dan metode yang digunakan.