• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI

9) Pembuatan Laporan Hasil Penyelidikan (LHP)

Laporan ini baik format maupun isinya hampir mirip dengan resume, dimana ada uraian dugaan perkara TPK, para pihak yang sudah diminta keterangan, dokumen yang diperoleh, resume keterangan para pihak, analisa fakta, analisa yuridis dan kesimpulan (layak atau tidak untuk dinaikan ke tahap penyidikan).

b. Penyidikan

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Sebagaimana halnya Penyelidikan yang memiliki langkah-langkah yang harus dilaksanakan secara seksama dalam pelaksanaannya, maka Penyidikkan pun memiliki langkah-langkah yang perlu dicermati dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut :

1) Tahap Persiapan :

a) Membuat Rencana Penyidikan.

Pada dasarnya rencana penyidikan hampir sama dengan rencana penyelidikan dalam hal formatnya, yang membedakanya adalah isi/content nya. Rencana Penyidikan dibuat atas dasar Laporan Hasil Penyelidikan dan Laporan Polisi tentang dugaan tindak pidana korupsi tersebut kemudian dibuatlah rencana penyidikan dibuat dalam bentuk matrik atau kolom.

b) Membuat rencana kebutuhan.

Sesuai dengan pagu RAB Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Korupsi TA. 2014,

c) Membuat pembagian tugas yang jelas.

(1) Pengelolaan barang bukti.

(2) Pembuatan administrasi penyidikan.

(3) Pembuatan resume.

(4) Pemberkasan.

PENCEGAHAN DAN PENINDAKAN KORUPSI 149 SEKOLAH TINGGI ILMU KEPOLISIAN 2) Tahap Pelaksanaan :

a) Pembuatan Laporan Polisi :

Menindaklanjuti hasil ekspose pada tahap penyelidikan dimana disepakati kasus yang dilakukan penyelidikan statusnya ditingkatkan ke tahap penyidikan dan kemudian mendasari Laporan Hasil Penyelidikan (LHP) maka dibuatlah Laporan Polisi Model A atau ”tindak pidana yang ditemukan”.

b) Upaya Paksa Pemanggilan:

Panggilan ini diberikan kepada para pihak yang diduga terlibat dalam dugaan tindak pidana korupsi sesuai LP. Pihak-pihak yang dipanggil ini akan diperiksa di tempat yang telah ditentukan oleh penyidik (di SOP ditentukan pemeriksaan harus di Kantor Polisi). Jika pihak yang diperiksa tidak bisa datang ketempat yang telah ditentukan maka pemeriksaan bisa dilakukan ditempat yang disepakati dalam wilayah hukum NKRI.

c) Penangkapan:

Penangkapan dilakukan terhadap tersangka sesuai dengan ketentuan Pasal 17 KUHAP “ Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga kerasa melakukan tindak pidana.” Apabila setelah penggilan kedua tidak memenuhi panggilan penyidik dan kemudian dialakukan penjemputan untuk dibawa, pada kenyataannya tersangka tidak ada ditempat maka terhadap tersangka dilakukan penangkapan dengan surat perintah penangkapan.

d) Penahanan:

Penahanan terhadap tersangka kasus tindak pidana korupsi berpedoman kepada Pasal 21 KUHAP. Khusus untuk penahanan terhadap kepala daerah, anggota legislative dan lembaga tinggi Negara lainnya harus mendapat ijin dari Presiden. Yang perlu diperhatikan dalam penahanan adalah waktu penahanan pada tahap penyidikan yaitu 20 hari dan bisa diperpanjang 40 hari oleh Kepala Kejaksaan sebagaiman diatur dalam Pasal 24 (2) KUHAP. Untuk tindak pidana korupsi yang

150

ancamannya 9 tahun atau lebih bisa diperpanjang lagi 30 hari jika masih diperlukan masih bisa diperpanjang lagi selama 30 hari oleh Ketua Pengadilan Negeri, sebagaiman diatur dalam Pasal 29 (1) hurup b dan (2) KUHAP.

e) Penggeledahan :

Penggeledahan diatur dalam KUHAP mulai Pasal 32 s/d Pasal 37. Walaupun penggeledahan bukan merupakan keharusan, tetapi dalam penyidikan tindak pidana korupsi, pelaksanaan penggeledahan menjadi hal yang sangat penting karena sifat dari tindak pidana korupsi itu sendiri dimana pembuktiannya selalu berhubungan dengan masalah dokument.

f) Penyitaan:

Penyitaan diatur dalam KUHAP mulai Pasal 38 s/d 46, yang paling penting diperhatikan pada saat akan melakukan penyitaan yaitu memastikan bahwa barang yang akan disita berhubungan dengan tindak pidana yang sedang disidik.

g) Pencekalan:

Cekal (cegah / tangkal) adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pihak Kementrian Hukum dan HAM Cq Dirjen Imigrasi.

Untuk Pencegahan diatur dalam Pasal 91 s/d 97 Undang-Undang No.6 tahun 2011 tetang Keimigrasian. Sedangkan Penangkalan diatur dalam Pasal 98 s/d Pasal 103 Undang-Undang No.6 tahun 2011 tetang Keimigrasian.

h) Pemeriksaan:

Yang perlu diperhatikan dalam BAP adalah ”fokus” dari pemeriksaan tersebut yaitu setiap pertanyaan yang diajukan kepada saksi sebaiknya berkaitan dengan perbuatan atau peristiwa yang ada kaitannya dengan tersangka. Seringkali pemeriksa justru asik untuk menggali perbuatan dari saksi yang terkadang tidak terkait dengan perbuatan dari tersangka.

Padahal jika kita mengingat kembali hakikat dari pemeriksaan saksi adalah dalam rangka menjelaskan ”perbuatan tersangka”

yang dikaitkan dengan unsur-unsur pasal yang dipersangkakan kepadanya.

PENCEGAHAN DAN PENINDAKAN KORUPSI 151 SEKOLAH TINGGI ILMU KEPOLISIAN Dalam pemeriksaan tersangka harus diusahakan agar tersangka menjelaskan ”actus reus” yaitu tindakan nyata dalam tindak pidana / perbuatan melawan hukum dengan penjelasan yang meliputi ”tempus,locus,corpus dan content” yang dikaitkan dengan dokumen dan keterangan dari saksi-saksi. Selain actus reus, penyidik harus pula menggali ”mens rea” yaitu niat atau itikad buruk yang mengawali terjadinya tindak pidana.

i) Rekostruksi :

Pada umumnya rekostruksi dilakukan untuk tindak pidana korupsi yang menyangkut penerimaan atau pemberian (suap).

Maksudnya agar telihat jelas peristiwa pemberian atau penerimaan sesuatu tersebut sehingga dari adegan dalam rekonstruksi yang didokumentasikan akan memberikan tambahan keyakinan kepada majelis hakim terkait dengan peristiwa pemberian atau pernerimaan tersebut.

j) Pembuatan Resume :

Resume adalah ringkasan dari berkas perkara yang bertujuan untuk memberikan gambaran kepada JPU dan HAKIM terkait dengan isi berkas perkara. Yang paling utama dalam Resume adalah kronologis tindak pidana yang dituangkan dalam analisa fakta dan pemenuhan unsur-unsur pasal yang dipersangkakan kepada Tersangka yang dituangkan dalam analisa yuridis.

Karena analisa fakta dan analisa yuridis berdasarkan kepada informasi yang ditemukan oleh penyidik selama melaksanakan penyidikan maka ada juga yang menyebut RESUME dengan BERITA ACARA PENDAPAT. Yang harus diperhatikan dalam pembuatan resume yaitu : tidak semua jawaban saksi dikutif dan dimasukan dalam resume, hanya jawaban-jawaban yang mengandung nilai pembuktian terhadap unsur-unsur pasal yang dipersangkakan terhadap Tersangka saja yang dimasukan dalam resume. Dibawah ini disajikan salah satu contoh analisa fakta dan analisa yuridis

152