HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Pengamatan
4.3.2 Pembuatan Larutan NaOH
- Pembuatan larutan HCl M = �� � � = , = � , = 1,075 M C C O O C C O O C C ONa ONa + 2H2O Tidak bereaksi O
- Standarisasi NaOH V1M1 = V2M2 10 x 0,1 = 9,5 x M2 M2 = 1,05 M
4.4 Pembahasan
Larutan merupakan campuran homogen dari dua atau lebih zat yang terdispersi sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan digunakan dlaam jumlah maksimum zat terlarut yang larut di dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni ataupun campuran. Zat yang terlarut dapat berupa zat murni ataupun campuran. Zat yang terlarut dapat berupa gas, cairan lain, ataupun padat. Kelarutan bervariasi, dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulut terlarut seperti perak klorida dalam air. Istilah “tak larut” (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.
Campuran homogen adalah suatu campuran yang terdiri dari 2 bahan atau lebih dalam fase yang sama.campuran homogen komposisinya begitu seragam sehingga tidak dapat lagi diamati bagian-bagian komponen penyusunnya meskipun dengan mikroskop ultra. Campuran hetrogen adalah campuran yang komponen- komponennya dapat memisahkan diri secara fisik karen perbedaan sifatnya dan penggabungan yang tidak merata antara dua xat tunggal atau lebih sehingga berbandingan komponen yang satu dengan yang lainnya tidak sama. Dan juga campuran ikatakan heterogen jika antara komponennya masih terdapat bidang batas dan seringkali dapat dibedakantanpa menggunakan mikroskop, hanya dengan mata telanjang, serta campuran memiliki 2 fase, sehingga sifat-sifatnya tidak seragam.
1. Persen berat (w/w) adalah jumlah gram zat terlarut dalam 100 gr larutan. Pesen berat biasanya diguakan untuk menyatakn kadar komponen yang berupa zat padat. Adapun rumus dalam penentuan persen berat adalah :
% berat= gr zat terlarutgr larutan x 100%
2. Persen volume (v/v) adalah jumlah volume (mL) zat erlarut dalam 100 mL larutan. Persen volume biasanya digunakan untuk menyatakan kadar komponen berupa zat cair atau gas. Adapun rumus dalam penentuan persen volume adalah:
% � = � �� � �� � � %
3. Persen berat per volume (w/v) menyatakan banyaknya gr zat terlarut dalam 100 mL larutan. Cara ini digunakan untuk menyatakan kadar zat padat dalam suat cairan atau gas. Adalun rumus penentuan persen bobot per volume adalah :
% berat per volume = �� �� � ��
�� %
4. Molalitas adalah jumlah zat terlarut dalam 1000 gr (1kg) pelarut. Satuan molal tidak bergantung pada suhu dan biasanya digunakan untuk menyatakan banyaknya pertikel zat terlarut dalam sejumlah tertentu pelarut. Rumus dari molalitas adalah :
m = ��
�
5. Molaritas adalah banyaknya mol zat erlarut dlam satu liter larutan. Jika dalam penggunaanya istilah molar gidunakan untuk zat-zat yan gberbentuk molekul atau ion. Adapun rumus molaritas adalah :
M = ��
� �
6. Fraksi mol adalah jumlah mol zat erlarut terhadap jumlah mol seluruh zat dalam larutan. Fraksi mol merupakan perbandingan mol salah satu komponen dengan jumlah mol seluruh komponen. Bila suatu larutan mengandung zat P dan Q dengan jumlah mol masing-masing nP dan nQ, maka rumus untuk menentukan fraksi mol pada tiap komponen adalah :
XP =
7. PPm (part per million) adalah satuan yang digunakan pada larutan yang sangat encer dengan satuan PPm. Satuan PPm ekivalen dengan 1 mg zat terlarut dalam 1 liter larutan, dengan rumus :
PPm = � �� � ��
�� � %
8. Normalitas adalah jumlah gr ekivalen (grek) zat terlarut dalam satu liter larutan. Satuan konsentrasi Normalitas sering digunakan untuk analisa volumetri, terutama untuk reaksi asam-basa dan reduksi-oksidasi. Rumus Normalitas adalah sebagai berikut :
N = M x a Dari rumus tersebut keterangannya :
N : Normalitas M : Molaritas a : Valensi
larutan standard adalah larutan yang megnandung reagensia dengan konsentrasi yang diketahui dlam suatu volume larutan larutan terbagi menjadi standard primer yang dapat diketahui secara langsung konsentrsinya saat pembutan bahan, dan jua ada standard sekunder yang harus distandarisasi terlebih dahul dngan menggunakan standard primer.
Pada praktikum ini dilakukan pembuatn larutan HCl dan NaOH serta standarisasi larutan NaOH. Pada praktikum petam adilakukan pembuatan laruan HCl. Larutan HCl yang akan diencerkan memiliki konsentrasi 6N. Pertama, dimasukkan akuades ke dalam labu ukur secukupnya. Hal ini dilakukan agar saat HCl dimasukkan ke dalam labu ukur, langsung bercampur dengan akuades sehingga kondisi di dalam labu ukur tidak terlaklu mengalami perubahan yang ekstrim, karena HCl telah bercampur dengan aquades dan menjadi lebih encer. Setelah itu, aquades dimasukkan kembali ked lam labu ukur sampai batas tera. Batas tera merupakan skala di mana volume larutan telah sesuai dengan yang tertulis di labu ukur. Lalu labu ukur ditutup dan dihomogenkan larutan yang ada di dalam labu ukur. Pada pembuatan larutan HCl ini, diambil larutan HCl 6N sebanyak 8,3 mL ke dalam labu ukur dengan volume 50 mL. Jika 6N HCl dikonverikan
menjadi konsentrasi dalam molaritas, maka diperoleh hasil 6N sama dengan 6M, hal ini diperoleh dari rumus Normalitas :
N = M x a
Dimana a merupakan valensi yang diperoleh dari jumlah H+ dalam HCl. Jumlah H+
dalam HCl adalah 1, dilihat dari :
HCl H+ + Cl-
Setelah itu untuk mengetahui konsentrasi larutan HCl yang baru dibuat, maka dapat dipakai rumus pengenceran, yaitu :
V1M1 = V2M2
Sehingga jika data yang ada dimasukkan diperoleh hasil bahwa konsetrasi HCl yang dibuat 1M.
Pad praktikum ke dua dilakukan pembuatan larutan NaOH dari padatan NaOH. NaOH ditimbang sebesar 2,15 gram. Setelah itu NaOH dipindahkan ke gelas beker dan diberi aquades, lalu diaduk hingga larut. Pada saat pengadukan, suhu larutan menjadi pansa. Hal ini dikarenakan reaksi antara NaOH dan aquades menghasilkan reaksi eksoterm, yaitu reaksi yang melepas panas ke lingkungan. Lalu, sebelum larutan NaOH dimasukkan ke dalam labu ukur, labu ukur terlebih dahulu diisi dengan sedikit aquades. Hal ini dilakukan agar saat NaOH dimasukkan, langsung bercampur dengan aquades sehingga suhu NaOH menjadi turun dan tidak lagi panas. Dengan demikian, hal ini dilakukan untuk menghindarikerusakan alat akibat pengaruh suhu dari NaOH. Lalu dimasukkan aquades ke dalam labu ukur hingga tanda tera dan dihomogenkan. Dari hasil yang telah diperhitungkan, diperoleh konsentrasi dari larutan NaOH yang telah dibua. Konsentrasi NaOH dihitung dengan rumus :
M = ��
� �
Sehingga setelah setiap data dimasukkan ke dalam rumus diproleh konsentrasi NaOH sebesar 1,975 M.
Pada praktikum ke tiga dilakukan standarisasi dari NaOH yang telah dibuat. Standarisasi dilakukan untuk mengetahui konsentrasi suatu larutan dengan pasti. Dalam hai ini, NaOH yang telah dibuat, dihitung telah memiliki konsentrasi 1,075 M. namun, pada dasarnya, NaOH merupakan larutan yang tidak stabil. Ada nenerapa faktor yang menyebabkan NaOH tidak stabil, slah satunya adlah sifat higroskopis dari NaOH yang membuat bahan ini selalu mengikat air dan CO2 dari udara. Selain itu dalam larutan encernya, NaOH mengandung pengotor Natrium Karbonat. Bebrapa faktor di atas dapat mempengaruhi konsentrasi dari NaOH yang telah dibuat. Untuk itulah dilakukn standariasasi. Standarisasi dilakukan dengan cara dititrasi. Dimana NaOH dimasukkna ked lam buret dan HCl 1 M sebanyak 10 mL dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang kemudian dibubuhi indikator PP. Lalu dilakukanlah proses titrasi hingga terjadi perubahan warna menjadi merah lembayung. Ternyata, dibutuhkan 9,5 mL NaOH untuk menunjukkan perubahn warna menjadi mrah lembayung. Dlam titrasi dikenal istilah Titik Ekivalen (TE) dan Titik Akhir Titrasi (TAT) . TE adalah titik dimana terjadi kesetaraan mol antara zat peniter dengan titran. Sedangakn TAT adalah titik dimana larutan kelebihan 1 tetes peniter, sehingga larutan mengalami perubahan warna. Jadi, yang dapat diamati oleh mata saat titrasi, untuk mengidentifikasi titk setara adalah TAT, sebab akan sulit untuk mengamati TE karena dalam TE tidak terjadi perubahan warna. Pada saat titrasi NaOH dan HCl yang telah dilakukan, indicator PP mengalami perubahan warna menjadi merah lembayung. Sebab, trayek pH untuk indikator PP adalah 8,2 – 10. Berarti TAT dari tirasi ini terjadi pada pH 8,2 – 10. Konsentrasi NaOH hasil standarisasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
V1 M1 = V2M2
Setelah data yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus diperoleh konsentrasi NaOH adalah sebesar 1,05 M. Hasil ini berbeda dengan perhitungan konsentrasi NaOH dari penimbangan. Sebab ada beberapa faktor yang menyebabkan konsentrasi dari hasil perhitungan awal berbeda dari hasil titrasi :
1. Pada saat membuat larutan NaOH tidak digunakan aquades yang bebas CO2.
Hal ini menyebabkan CO2 dalam aquades diikat oleh NaOH membentuk senyawa karbonat yang dapat mengganggu peniteran dengan indicator PP.
2. Sifat NaOH yang higroskopis, sehingga mengikat CO2 dan air di udara selama proses penimbangan. Sehingga bobot yang diperoleh bukan bobot asli NaOH melainkan bobot NaOH yang ditambahkan dengan bobot air dan CO2 yang diikatnya.
Hal ini menyebabkan perbedaan konsentrasi antar NaOH yang dihitung langsung konsentrasinya dengan hasil titrasi.
Pada praktikum ini ada beberapa perlakuan. Setiap perlakuan memiliki fungsinya masing-masing. Beberapa perlakuan tersebut antara lain :
1. Menghomogenkan larutan dalam labu ukur. Hal ini bertujuan untuk membuat
larutan homogen, atau bercampur dengan baik sehingga komposisi larutan di tiap bagian sama.
2. Pengadukan pada pembuatan NaOH brtujuan untuk mempercepat kelarutn NaOH dalam aquades.
3. Pembilasan alat yang digunakan untuk membaut HCl dan NaOH bertujuan untuk melsrutkansisa-sisa zat yang masih menempel di alat untuk kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur yang berisi larutan tersebut.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain :
1. Labu ukur, yang berfungsi untuk membuat larutan dengan konsentrais tertntu 2. Corong kaca, berfungsi untuk memindahkan larutan dari suatu wadah ke
wadah yang lain.
3. Gelas ukur, untuk mengukur volume larutan
4. Pipet tetes, untuk mengambil cairan dala skala kecil
5. Botol semprot, untuk mengeluarkan aquades sedikit demi sedikit
6. Spatula, berguna untuk mengambil bahan berupa padatan
7. Neraca analitik, untuk menimbang bahan
8. Batang pengaduk, berfungsi untuk mengaduk larutan
9. Gelas beker, berfungsi untuk menampung larutan
10.Buret, digunakan untuk menambah larutan pereaksi dimana volume
11.Erlenmeyer, digunakan untuk tempat HCl saat dititrasi
12.Statif dan klem, digunakan untuk menegakkan dn menjepit buret saat titrasi 13.Power supply berfungsi untuk menghubungkan neraca analitik dengan sumber
arus listrik
14.Botol reagen, berfungsi untk menyimpan reagen kimia. Bahan-bahan yan gdigunakan pada praktikum ini :
1. HCl 6N, digunakan untuk membuat larutan HCl 1M
2. Aquades , digunakan untuk mengencerkan bahan , seta untuk mencuci alat 3. NaOH, digunakan sebagai bahan pembuatan larutan NaOH 1,075 M yang
bersifat basa.
4. Indikator PP, digunakan untuk mengetahui apakah reaksi sudah mencapai TAT 5. Kertas label, digunakan untuk menandai bahan
6. Aluminium foil, digunakan sebagai wadah saat menimbang NaOH
7. Tisu, digunakan untuk mengeringkan alat
Dalam praktikum ini ada beberapa faktor kesalahan, yaitu :
1. Ketidaktepatan saat mengukur volume aquades yang digunakan untuk
mengencerkan larutan
2. Ketidaktepatan saat menimbang NaOH, sehingga konsentrasi NaOH menjadi
tidak tepat.
3. Pada saat titrasi, zat peniter ditambahkan berlebihan, sehingga warna yang terbentuk merah lembayung tua. Hal ini dapat mempengaruhi hasil perhitungan konsentrasi.
Contoh aplikasi dari pembuatan larutan adalah :
1. Saat membuat the, diberi gula dan diaduk agar manisnya merata
2. Pada saat memuat the manis dan gula yang ditambahnkan berlebihan, maka ditambahkan air untuk megnurangi rasa manisnya. Hai ini sama seperti saat melakukan pengenceran.
3. Pada sat membilas pakaian, pelembut yang ditambahkan diaduk rata di dalam
air. Hai ini dilakukan agar konsentrasi pelembut di setiap bagian air sama. Dalam praktikum ini, terjadi rekasi eksoterm ketika NaOH dicampurkan
dengan aquades. Reaksi eksoterm terjadi karena NaOH yang diberi aquades melepas panas dari sistem ke lingkungan.
Sifat fisik NaOH :
- Rumus molekul : NaOH
- Berat molekul : 40 gr/mol - Titik lebur, 1 atm = 318oC - Titik didih, 1 atm = 1390oC
- Densitas = 2,1 gr/ml ,bentuk padatan putih Sifat kimia NaOH:
- Berdifat eksoterm
- Sangat larut dalam air
- Larut dalam etanol dan metanol
- Tidak larut didalam dietil eter dan pelarut nonpolar Sifat fisik HCl (asam klorida);
- Masa atom =36,45
- Masa jenis = 3,21 gr/cm3 - Titik leleh = -101oC
- Energi ionisasi = 1250 Kj/mol
- Pada suhu kamar, HCl berbentuk gas yang tak berwarna
- Berbau tajam
Sifat kimia HCl (asam klorida) :
- Larut dalam alkali hidroksida, kloroform, dan eter
- Merupakan oksidator kuat
- Racum bagi pernafasan
- Gasnya berwarna kunignkehijauan dan berbau merangsang
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
- Konsentrasi NaOH yang diperoleh dari hasil titrasi sebesar 1,05 M
- Konsentrasi HCl dari pengenceran HCl 6N adalah sebesar 1 M
- Perubahan warna yang terjadi pada larutan yang diberi indikator PP terhadap NaOH adlah dari bening menjadi merah lembayung
5.2 Saran
Untuk praktikum selanjutnya, sebaiknya digunakan berbagi macam bahan untuk membuat larutan, misaklnya AgNO3 atau H2SO4 agar dapat lebih memahami
DAFTAR PUSTAKA
Achmad,Hiskia.2001.Kimia Larutan.Bandung:Citra Aditya Bakti. Chang, Raymond.2004.Kimia Dasar.Jakarta:Erlangga.
Chon, Ahmad.1982.Titrimetri.Bogor:Departemen Perindustrian AKA Bogor. Gumilar.1993.Kimia Analisis II. Bogor:Departemen Perindustrian AKA Bogor. Gunawan, Adi dan Roeswati.2004.Tangkas Kimia.Surabaya:Kartika.
Karyadi,Grenny.1994.Kimia 2.Jakarta:Depdikbud. Keenan.1992.Kimia Untuk Univesitas.Jakarta:Erlangga.
Khopkar,S.M.1990.Konsep Dasar Kimia Analitik.Jakarta:Universitas Indonesia. Muliyono,HAM.2006.Membuat Reagen Kimia di Laboratorium.Jakrata:Bumi
Aksara.
PERCOBAAN 3
KROMATOGRAFI
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1
PERCOBAAN 3
KROMATOGRAFI
DISUSUN OLEH : KELOMPOK 4 NAMA NIM Fauziah Astari 1407035007Jeffrey Yosua Sitinjak 1407035056
Rike Dominta Aprianti Manik 1407035021
Safridah Hannum Nasution 1407035018
Samarinda, 6 Desember 2014 Mengetahui,
Dosen pengajar, Asisten Praktikum
Dr. Rudi Kartika, M.Si Bayu Iskandar
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu analisis kimia meragukan jika pengukuran sifat tidak berhubungan dengan sifat spesifik senyawa. Analisis meliputi pengambilan data cuplikan, pemisahan senyawa pengganggu, isolasi senyawa yang dimaksudkan, pemekatan terlebih dahulu sebelum diidentifikasi dan dapat diukur kadarnya, perlu dipisahkan dari matriksny. Oleh karena itu, pemisahan merupakan langkah penting dalam analisis kuantitas.
Kromatografi pertama kali dikenalkan oleh Michael Tswett, seorang ahli botani dari Rusia pada tahun 1906. Kromatografi berasal dari bahasa Yunani “kromatos” yang berarti warna dan “graphos” yang berarti menulis. Jadi, kromatogrfi adalah terknik pemisahan campuran suatu zat yang didasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan antara dua fase yaitu fase gerak dan fase diam. Fase gerak memperkolasi melalui celah-celah fasa diam. Ada banyak teknik pemisahan/isolasi diantaranya penyaringan, sublimasi, ekstraksi, kromatografi dan lain-lain. Dalam praktikum kali ini akan dilakukan teknik pemisahan kromatografi karena teknik ini yang paling banyak digunakan. Pengetahuan yang cukup mengenai metode-metode pemisahan ini merupakan suatu keharusan bagi mereka yang berkecimpung di dunia sains. Kromatografi dibedakan menjadi beberapa macam berdasarkan jenis fase yang terlibat, antara lain: kromatograsi gas-cair; kromatografi gas-padat, kromatografi cair-cair, dan kromatografi cair-padat. Selain itu, kromatografi digolongkan berdasarkan teknik yang digunakan, terbagi menjadi dua yaitu kromatografi kolom dan kromatografi planar. Penggolongan kromatografi berdasarkan teknik pemisahan adalah kromatografi kolom adsorbs dan kromatografi kolom partisi. Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengancara mengutak-atik langsung beberapa sifat fisik dan kimia molekul.
Oleh karena itu, melalui percobaan ini dilakukan perhitungan jarak pelarut dan komponen-komponen noda yang dipisahkan, sehingga dapatdiketahui factor-faktor yang mempengaruhi jarak pelarut. Dari praktikum ini diharapkan dapat diketahui harga Rf dari berbagai sampel, yang diletakkan dalam elven yang berbeda. Adapun elven itu berupa akuades, kemudian aseton, dan juga alcohol 95%.
Oleh karena itu, melalui percobaan ini dilakukan perhitungan jarak pelarut dan komponen-komponen noda yang dipisahkan, sehingga dapat diketahui factor-faktor yang mempengaruhi jarak pelarut. Selain itu, dapat diketahui pula pelarut yang cocok untuk mengekusikan tinta spidol, ekstrak mawar, ekstrak kunyit, ekstrak pandan, dan tinta cumi-cumi. Dari praktikum ini diharapkan dapat diketahui harga Rf dari berbagai sampel yang diletakkan dalam elven yang berbeda, yang mewakili sifat-sifat polar, nonpolar, dan semipolar yang diwakili oleh akuades, etanol, dan aseton.
1.2 Tujuan Percobaan
- Menentukan nilai Rf tinta spidol merah, biru, hitam, tinta cumi-cumi, serta ekstrak mawar, kunyit, dan pandan pada pelarut aseton.
- Menentukan nilai Rf tinta spidol merah, biru, hitam, tinta cumi-cumi, serta ekstrak mawar, kunyit, dan pandan pada pelarut etanol.
- Menentukan nilai Rf tinta spidol merah, biru, hitam, tinta cumi-cumi, serta ekstrak mawar, kunyit, dan pandan pada pelarut akuades.