BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Pembuatan Spesimen Hard Chrome
Perlakuan yang dilakukan dalam pembuatan material hard chrome: 1. Pembuatan material uji dilakukan tanpa proses pemesinan dan dengan
proses pemesinan.
2. Sumber arus menggunakan aki. 3. Pengecekan dilakukan tiap satu jam.
3.3.1 Percobaan 1
Percobaan pertama mendapat perlakuan berupa material disiapkan tanpa proses pemesinan dan sumber arus menggunakan aki. Prosesnya:
1. Material disiapkan dengan kikir dan gergaji.
2. Material diberi lubang berdiameter 4 mm sebagai lubang gantung. 3. Permukaan tebal dihaluskan menggunakan amplas.
4. Material dibersihkan dengan menggunakan air sabun.
5. Material digantung menggunakan kawat tembaga berdiameter 1,8 mm dan dicelupkan pada larutan hard chrome.
6. Sumber arus berupa aki dan jarak anoda-katoda sejauh 200 mm.
Gambar 3.4 Instalasi proses elektroplating percobaan 1
7. Pengecekan pertama didapatkan hasil: lapisan tebal, tidak rata, dan pecah-pecah.
Gambar 3.5 Hasil percobaan 1
8. Dari hasil pengecekan pertama dapat disimpulkan bahwa material hasil elektroplating hard chrome tidak sesuai yang diharapkan, maka percobaan dihentikan.
3.3.2 Percobaan 2
Percobaan kedua mendapat perlakuan berupa material disiapkan dengan proses pemesinan dan sumber arus menggunakan aki. Prosesnya:
1. Material disiapkan dengan proses milling dan surface grinding. 2. Material diberi lubang berdiameter 4 mm sebagai lubang gantung. 3. Material dibersihkan dengan menggunakan air sabun.
4. Material digantung menggunakan kawat tembaga berdiameter 1,8 mm dan dicelupkan pada larutan hard chrome.
5. Sumber arus berupa aki dan jarak anoda-katoda sejauh 200 mm.
21
6. Pengecekan pertama didapatkan hasil: lapisan tebal, tidak rata, dan pecah-pecah.
Gambar 3.7 Hasil percobaan 2
7. Dari hasil pengecekan pertama dapat disimpulkan bahwa material hasil elektroplating hard chrome tidak sesuai yang diharapkan, maka percobaan dihentikan.
3.3.3 Perlakuan Tambahan Dalam Pembuatan Spesimen Hard Chrome Karena hasil percobaan pertama dan kedua tidak memuaskan, maka penulis memutuskan untuk mendatangi supplier unit elektroplating di Semarang. Dari kunjungan tersebut, didapatkan saran untuk mendapatkan performa dan kualitas yang baik, yaitu:
1. Sumber arus menggunakan rectifier dengan arus yang dapat diatur. 2. Pembersihan material dari kotoran dan minyak menggunakan air sabun
yang dipanaskan.
3. Besar arus sesuai dengan luas material yang dikrom (fluks: 10-30A/dm2). 4. Pengaktifan ion pada permukaan material dengan menggunakan HCl
(karena berbahaya untuk kesehatan, saran ini tidak dilakukan dalam proses penelitian).
Dari saran-saran tersebut, percobaan selanjutnya akan diberlakukan perlakuan yang berbeda-beda. Perlakuan itu berupa:
1. Pembuatan material uji dilakukan dengan proses pemesinan. 2. Sumber arus menggunakan rectifier.
3. Jarak anoda-katoda sejauh 100 mm dan 200 mm. 4. Pengaitan material dengan cara digantung dan dililit. 5. Pengecekan dilakukan tiap satu jam.
3.3.4 Percobaan 3
Percobaan ketiga mendapat perlakuan berupa material disiapkan dengan proses pemesinan, sumber arus menggunakan rectifier, jarak anoda-katoda sejauh 200 mm, dan pengaitan dengan cara digantung. Prosesnya:
1. Material disiapkan dengan proses milling dan surface grinding. 2. Material diberi lubang berdiameter 4 mm sebagai lubang gantung. 3. Material dipanaskan bersamaan dengan air sabun.
4. Material dibilas dengan air bersih.
5. Material digantung menggunakan kawat tembaga berdiameter 1,8 mm dan dicelupkan pada larutan hard chrome.
6. Sumber arus berupa rectifier dan jarak anoda-katoda sejauh 200 mm.
23
7. Pengecekan pertama didapatkan hasil: lapisan tipis (tembus pandang dan material awal terlihat samar), rata, dan tidak pecah-pecah.
8. Pengecekan kedua didapatkan hasil: lapisan tipis (penambahan tebal tidak signifikan dari pengecekan pertama), rata, dan tidak pecah-pecah.
Gambar 3.9 Hasil percobaan 3
9. Akhirnya, untuk mencapai tuntutan ketebalan (0,1-0,2 mm) diperlukan waktu 6 jam. Hasilnya: rata, tidak pecah-pecah, dan warna sedikit gelap.
3.3.5 Percobaan 4
Percobaan keempat mendapat perlakuan berupa material disiapkan dengan proses pemesinan, sumber arus menggunakan rectifier, jarak anoda-katoda sejauh 200 mm, dan pengaitan dengan cara dililit. Prosesnya:
1. Material disiapkan dengan proses milling dan surface grinding. 2. Material dipanaskan besamaan dengan air sabun.
3. Material dibilas dengan air bersih.
4. Material dililit menggunakan kawat tembaga berdiameter 1,8 mm dan dicelupkan pada larutan hard chrome.
5. Sumber arus berupa rectifier dan jarak anoda-katoda sejauh 200 mm.
Gambar 3.11 Instalasi proses elektroplating percobaan 4
6. Pengecekan pertama didapatkan hasil: lapisan tipis (tembus pandang dan material awal terlihat samar), permukaan material yang dekat dengan lilitan terlihat lebih tipis dibanding permukaan yang jauh dari lilitan, dan tidak pecah-pecah.
7. Pengecekan kedua didapatkan hasil: lapisan tipis dan terlihat jelas perbedaan permukaan material yang dekat dengan lilitan lebih tipis dibanding permukaan yang jauh dari lilitan.
Gambar 3.12 Hasil percobaan 4
8. Karena pengecekan kedua telah didapat hasil dengan perfoma yang tidak sesuai, maka percobaan dihentikan.
3.3.6 Percobaan 5
Percobaan kelima mendapat perlakuan berupa material disiapkan dengan proses pemesinan, sumber arus menggunakan rectifier, jarak anoda-katoda sejauh 100 mm, dan pengaitan dengan cara digantung. Prosesnya:
25
1. Material disiapkan dengan proses milling dan surface grinding. 2. Material diberi lubang berdiameter 4 mm sebagai lubang gantung. 3. Material dipanaskan besamaan dengan air sabun.
4. Material dibilas dengan air bersih.
5. Material digantung menggunakan kawat tembaga berdiameter 1,8 mm dan dicelupkan pada larutan hard chrome.
6. Sumber arus berupa rectifier dan jarak anoda-katoda sejauh 100 mm.
Gambar 3.13 Instalasi proses elektroplating percobaan 5
7. Pengecekan pertama didapatkan hasil: lapisan tipis, rata, dan tidak pecah-pecah.
8. Pengecekan kedua didapatkan hasil: lapisan mulai terlihat gelap.
9. Pengecekan ketiga didapatkan hasil: lapisan menjadi lebih gelap, tetapi ketebalan belum tercapai.
Gambar 3.14 Hasil percobaan 5
10.Pengecekan keempat didapatkan hasil: ketebalan lapisan memenuhi tuntutan (0,185 mm).
3.4 Pengujian Keausan
Pengujian keausan bertujuan untuk menganalisa keausan material hard chrome dan material awal. Proses pengujian aus berupa material dipasang dalam
mesin uji yang diseting dengan beban 4,5 kg sebagai dan jarak 400 m. Pengujian aus dilakukan selama 1 menit. Untuk melihat hasil uji aus, digunakan mikroskop.
Gambar 3.15 Mesin uji keausan