• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pihak Yang Berwenang Membuat Surat Keterangan Ahli Waris (SKAW) Bagi Perkawinan Poligami

2. Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris (SKAW)

a. Pejabat Yang Berwenang Menerbitkan Surat Keterangan Ahli Waris (SKAW) Bagi Perkawinan Poligami

Hak Perdata yang dimiliki oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini sudah merupakan rahmat dan anugerah serta takdir dari Allah SWT. Dengan demikian tidak ada seorang manusia atau lembaga (pemerintah, swasta, militer,kepolisian) di muka bumi ini untuk menghalangi implementasi hak perdata manusia yang lainnya, baik pengadilan ataupun instansi lainnya. Hak perdata akan berakhir jika yang bersangkutan meninggal dunia atau dicabut oleh suatu putusan pengadilan untuk hak hak perdata tertentu, dan membuktikan seseorang sebagai ahli waris dari siapa merupakan salah satu implementasi dari hak perdata tersebut diatas.106

Berdasarkan Surat Departemen Dalam Negeri Direktorat Jenderal Agraria Direktorat Pendaftaran Tanah (Kadaster), tanggal 20 Desember

104

I Gede purwaka, Op.Cit., hlm. 6

105 Bangun K.L.T. Sibarani, Notaris/PPAT Kabupaten Deli Sedang, Wawancara tanggal 9 Mei 2015

106

Habib Adjie, Pembuktian Sebagai Ahli Waris Dengan Akta Notaris, (Bandung: Mandar Maju, 2008), hlm. 17

1969 Nomor Dpt/12/63/12/69 tentang Surat Keterangan Warisan dan Pembuktian Kewarganegaraan dan Pasal 111 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Negara Agaria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, pada saat ini ada 3 (tiga) bentuk (formal) bukti waris dan juga 3 (tiga) institusi yang dapat membuat bukti sebagai ahli waris yang disesuaikan dengan golongan atau etnis penduduk atau Warga Negara Indonesia. Penggolongan penduduk berdasarkan etnis dan hukum yang berlaku untuk tiap golongan penduduk tersebut merupakan warisan Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Padahal dalam rangka pembaharuan hukum dan membangun bangsa yang bermartabat dan beradab aturan seperti itu harus segera kita tinggalkan, karena sudah tidak sesuai lagi dengan bangsa kita yang sudah merdeka. 107

Ketiga bentuk formal bukti ahli waris dan institusi, yaitu:

1. Golongan Eropa, Cina/Tionghoa, Timur Asing (kecuali orang Arab yang beragama Islam ) berdasarkan Surat Keterangan Waris (SKW) yang dibuat oleh Notaris, dalam bentuk Surat Keterangan.

2. Golongan Timur Asing (bukan Cina/Tionghoa), berdasarkan SKW yang dibuat oleh Balai Harta Peniggalan (BHP).

3. Golongan Pribumi (Bumiputera) berdasarkan SKW yang dibuat dibawah tangan, bermaterai, oleh para ahli waris sendiri dan diketahui atau dibenarkan oleh Lurah dan Camat sesuai dengan tempat tinggal terakhir pewaris. 108

Ketiga bentuk formal (Surat) bukti sebagai ahli waris dan instansi yang membuatnya perlu untuk dikaji lebih jauh lagi dan dikaitkan dengan aturan hukum yang sekarang ini berlaku.

Dalam perundang- undangan di Indonesia pada waktu ini tidak ada peraturan khusus mengenai keterangan waris. Dengan tidak adanya suatu

107Ibid., hlm. 17-18

108 Lebih lanjut lihat Surat Direktorat Jenderal Agraria atas nama Menteri Dalam Negeri, tertanggal 20 Desember 1969 Nomor Dpt/12/63/12/69 tentang Surat Keterangan Warisan dan Pembuktian Kewarganegaraan juncto Pasal 42 ayat 1 PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah juncto ketentuan Pasal 111 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Negara Agaria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

undang-undang atau peraturan perundang-undangan mengenai keterangan waris di Indonesia, maka sebenarnya masalah keterangan waris di Indonesia mengambang karena tidak mempunyai jangkar .109

Dalam Surat Edaran yang ditandatangani oleh Badan Pembinaan Hukum Direktorat Jenderal Agraria, Departemen Dalam Negeri, tertanggal 20 Desember 1969, Nomor: 44 Dp/J12/63/12/69, tentang Keterangan Warisan Dan Pembuktian Kewarganegaraan diatur mengenai kewenangan pejabat Lurah/Kepala Desa dan Camat untuk menyaksikan, membenarkan dan menguatkan Surat Keterangan Ahli Waris (SKAW) yang dibuat oleh ahli waris. Surat Keterangan Ahli Waris tersebut demi hukum diakui sebagai alat bukti otentik oleh instansi pejabat Kantor Pertanahan (Agraria) untuk mengurus barang warisan berupa tanah dalam melakukan pendaftaran hak (balik nama) atau permohonan hak baru ( sertifikat).

Selain itu, dalam hal pewarisan notaris juga membuat Surat Keterangan Waris yang merupakan akta di bawah tangan dan bukan merupakan akta notaris. Adapun Surat Keterangan Waris (verklaring van erfrecht) yang di buat oleh notaris adalah keterangan waris yang dibuat bagi ahli waris dari warga/golongan keturunan Tionghoa. Surat Keterangan Waris tersebut dibuat dibawah tangan, tidak dengan akta notaris. Pembuatan Surat Keterangan Waris bagi keturunan Tionghoa oleh notaris, menurut Edison, mengacu pada surat Mahkamah Agung (MA) RI tanggal 8 Mei 1991 No. MA/kumdil/171/V/K/1991. Surat MA tersebut telah menunjuk Surat Edaran tanggal 20 Desember 1969 No. Dpt/12/63/12/69 yang diterbitkan oleh Direktorat Pendaftaran Tanah (Kadaster) di Jakarta, yang menyatakan bahwa guna keseragaman dan berpokok pangkal dari penggolongan penduduk yang pernah dikenal sejak sebelum merdeka hendaknya Surat Keterangan Hak Waris (SKHW) untuk Warga Negara Indonesia:

1. Golongan Keturunan Eropah (Barat) dibuat oleh Notaris;

109 Tan Thong Kie, Studi Notariat, Serba-Serbi Praktek Notaris, Buku I, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000), hlm 290

2. Golongan penduduk asli Surat Keterangan Ahli Waris (SKAW), disaksikan oleh Lurah/Desa dan diketahui oleh Camat;

3. Golongan keturunan Tionghoa, oleh Notaris;

4. Golongan Timur Asing bukan Tionghoa, oleh Balai Harta Peninggalan (BHP).110

Syahril Sofyan dalam makalahnya yang berjudul “Peran Jasa Notaris Dalam Penyelesaian Warisan” mengatakan bahwa Surat Keterangan Hak

Waris (verklaring van erfrecht) pembuatannya disesuaikan dengan kewenangan pejabat yang berwenang membuatnya dan kewenangan pejabat yang menerbitkannya disesuaikan pula menurut penggolongan hukum dan penggolongan penduduk yang berlaku bagi WNI yang bersangkuan. Untuk WNI yang termasuk ke dalam golongan hukum Eropa dan Timur Asing Cina, pembuatan surat keterangan hak warisnya dilakukan oleh Notaris, bagi yang termasuk ke dalam golongan Pribumi (tunduk kepada Hukum Adat) dibuat oleh Camat dan bagi penduduk yang tergolong ke dalam golongan Timur Asing Bukan Cina dibuat oleh Balai Harta Peninggalan. Tetapi tak dapat dipungkiri fenomena kesadaran WNI yang mencari kepastian hukum sekaligus kepastian hak serta kepastian kewajiban mereka dengan memintakan peran Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama untuk menerbitkan keterangan hak warisnya, dan dalam praktek jasa Pengadilan lazimnya diterbitkan dalam bentuk penetapan (beschikking) dan pada umumnya Notaris menerima penetapan atau keputusan hakim (vonnis) yang bersangkutan untuk dilaksanakan dengan atau melalui aktanya dalam pembagian warisan yang bersangkutan, tentu saja sesudah Notaris meyakinkan dirinya bahwa beschikking atau vonnis tadi sudah mempunyai kekuatan pasti (in kracht van gewijsde).111

110 http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4d9ed1f603631/dasar-hukum-penetapan-waris-dan-akta-waris, diakses pada Juni 2015

111https://library.pancabudi.ac.id/jurnal_files/c6604f3ff6afcf9991c4d02b6369a0e9ee87c7f4_9 ._H._Syahril_Sofyan.pdf , diakses pada Juni 2015

b. Prosedur Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris (SKAW) Bagi Perkawinan Poligami.

Tidak adanya aturan tertulis yang mengatur perihal pejabat atau instansi mana yang berwenang untuk menerbitkan SKHW itu disatu pihak, sedangkan dipihak lain kebutuhan untuk meminta penerbitan SKHW dalam setiap peristiwa hukum terbukanya warisan yang dipergunakan sebagai dasar untuk melaksanakan balik nama atas harta benda tidak bergerak yang terdaftar milik si peninggal harta cukup besar, mengakibatkan timbulnya kekosongan dalam praktek hukum di Indonesia. Oleh karena itu Mahkamah Agung RI dengan suratnya tanggal 8 Mei 1991 Nomor MA/kumdil/171/V/K/1991 yang ditujukan kepada para Ketua Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi Agama, Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Pengadilan Agama seIndonesia berhubungan dengan surat MA RI tanggal 25 Maret 1991 Nomor KMA/041/III/1991, telah menunjuk Surat Edaran tanggal 20 Desember 1969 Nomor Dpt/12/63/12/69 yang diterbitkan oleh Direktorat Agraria Direktorat Pendaftaran Tanah (Kadaster) di Jakarta tentang Surat Keterangan Warisan dan Pembuktian Kewarganegaraan dan Pasal 111 Ayat (1) huruf c angka 4 Peraturan Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yang menyatakan bahwa guna keseragaman dan berpokok pangkal dari penggolongan penduduk yang pernah dikenal sejak sebelum merdeka hendaknya Surat Keterangan Hak Waris (SKHW) untuk

Warga Negara Indonesia itu: Golongan Keturunan Eropah (Barat) dibuat oleh notaris; Golongan penduduk asli Surat Keterangan oleh Ahli Waris, disaksikan oleh Lurah/Desa dan diketahui oleh Camat; Golongan keturunan Tionghoa, oleh notaris; Golongan Timur Asing bukan Tionghoa, oleh Balai Harta Peninggalan (BHP).112

Dalam Pasal 111 Ayat (1) huruf c angka 4, peraturan Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 1997 menyebutkan surat tanda bukti sebagai ahli waris yang dapat berupa:

1. Wasiat dari pewaris, atau 2. Putusan pengadilan, atau

3. Penetapan hakim/Ketua Pengadilan, atau

4. Bagi Warga Negara Indonesia penduduk asli: Surat Keterangan Ahli Waris yang dibuat oleh para ahli waris dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi dan dikuatkan oleh Kepala Desa/Kelurahan dan Camat tempat tinggal pewaris pada waktu meninggal dunia;

Bagi Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa: Akta Keterangan Hak Mewaris dari Notaris;

Bagi Warga Negara Indonesia keturunanTimur Asing lainnya: Surat Keterangan Hak Waris dari Balai Harta Peninggalan.

112

http://suratketeranganwaris.blogspot.com/?zx=f625b1cc153f1feb , diakses Agustus 2015 60

Untuk memperoleh Surat Keterangan Ahli Waris dari Kelurahan harus dilengkapi dengan persyaratan administrasi yaitu Surat Keterangan Kematian dari Kelurahan, Akta Kematian dari Kantor Catatan Sipil, Surat Nikah orang tua ahli waris, Kartu Keluarga, fotocopy KTP semua ahli waris untuk selanjutnya pihak Kelurahan memeriksa berkas berkas tersebut. Apabila persyaratan administrasi belum terpenuhi maka berkas dikembalikan untuk dilengkapi apabila persyaratan administrasi sudah lengkap maka dilakukan pemprosesan pada seksi Pemerintahan dan diproses serta ditandatangani oleh Lurah dan Camat.

Adapun bentuk dan proses pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tahap pertama

Para ahli waris membuat surat keterangan warisan dalam bentuk surat dibawah tangan. Surat keterangan warisan tersebut kemudian ditandatangani oleh orang tua yang hidup terlama dan seluruh ahli waris.

2. Tahap kedua

Kemudian surat keterangan ahli waris tersebut dibawa ke kantor Kelurahan/Kepala Desa setempat untuk memohon ditandatangani oleh pejabat Lurah/Kepala desa. Surat Keterangan itu diberi nomor tanggal dan cap,

dengan kata kata yang berbunyi “Disaksikan dan Dibenarkan oleh kami

Lurah/Kepala Desa…”

3. Tahap ketiga

Selanjutnya Surat Keterangan Ahli Waris tersebut dibawa ke kantor Kecamatan setempat untuk memohon tanda tangan pejabat Camat. Surat keterangan warisan tersebut kemudian diberi nomor, tanggal dan cap dengan kata kata yang berbunyi “Dikuatkan oleh kami Camat “.

Dokumen terkait