MAKLOEMAT PEMERINTAH
2.3 Pembubaran Partai Politik Di Beberapa Negara
2.3.1 Pembubaran Partai Politik di Negara Jerman
234 Muchamad Ali Safa’at, op.cit., hlm. 89.
235 Tim Konstitusi, Naskah Akademis Rancangan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, hlm.10.
Republik Federal Jerman sebagai salah satu negara yang terletak di Eropa Barat menganut demokrasi liberal dengan sistem multi partai.236 Negara dengan
nama resmi Bundesrepublik Deutschland atau Federal Republik of Germany ini menerapkan sistem demokrasi parlementer dengan Kanselir sebagai kepala pemerintahan federal dan Presiden sebagai kepala negara. Jerman pasca Perang Dunia ke-2 menggunakan Basic Law 1949 sebagai konstitusi yang mengatur sistem kenegaraan dan sistem pemerintahannya. Sistem demokrasi parlementer dengan kombinasi multi partai telah membuka ruang bagi berdirinya partai-partai politik dengan beragam ideologi. Di Jerman sendiri terdapat beberapa partai politik yang selalu memperoleh suara signifikan dalam pemilihan umum yakni:
Sozialdemokratische Partei Deutschlands atau Social Democratic Party of Germany (SPD), Christlich Demokratische Union Deutschlands atau Christian Democratic Union (CDU), dan Christlich-Soziale Union in Bayern atau Christian Social Union (CSU).237
Jerman merupakan negara federasi yang terdiri dari enam belas negara bagian (lander) yang menerapkan sistem parlemen dua kamar atau bikameral. Pada tingkat federal terdapat majelis rendah (Bundestag) sementara perwakilan negara bagian ditampung dalam majelis tinggi (Bundesrat). Bundestag merupakan parlemen tingkat federal yang anggotanya dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Fungsi Bundestag adalah memilih Kanselir yang akan menjalankan tugas sebagai kepala pemerintahan, membentuk undang-undang bersama pemerintah serta mengawasi jalannya pemerintahan federal. Bundesrat
adalah semacam Senat yang anggotanya berfungsi memperjuangkan kepentingan dari masing-masing negara bagian dalam proses legislasi di tingkat federal. Anggota Bundesrat berasal dari delegasi 16 negara bagian dengan pembagian secara proporsional. Bundesrat juga menjadi bagian dalam proses pengambilan keputusan dalam pembuatan kebijakan pemerintah federal bersama Bundestag.238
236 Pieter Vanhuysse and Achim Goerres, Agein Populations In Post-Industrial Democracies: Comparative Studies of Policies and Politics, (Oxon: Routledge, 2012), hlm. 63.
237 Hari Poerna Setiawan, “Kebijakan Luar Negeri Jerman Dalam Merespon Isu Perubahan Iklim Global (Periode 1997-2007), (tesis Universitas Indonesia, Jakarta, 2008), hlm.21.
238 German Federal Foreign Office, “Facts about Germany”, Frankfurt/Main, incollaboration with the German Federal Foreign Office, (Berlin: Societäts-Verlag, 2008), hlm. 61- 67.
Partai politik merupakan pilar utama dalam sistem politik Jerman sebab berfungsi untuk memfasilitasi kehendak politik rakyat. Jerman mengakui partai politik sebagai instrumen yang dibutuhkan secara konstitusional dalam pembentukan kemauan politik rakyat dan diangkat sesuai dengan lembaga. Namun demikian, partai-partai bukanlah merupakan lembaga-lembaga pemerintah dalam arti yang sebenarnya. Pasal ini juga memberikan jaminan perlindungan dan pengakuan yang kuat terhadap partai politik, oleh karena statusnya yang khusus dalam konstitusi. Bahkan tidak ada seorang yang yang boleh menyatakan suatu partai bertentangan dengan konstitusi, kecuali diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Federal Jerman. Bahkan keistimewaan partai politik di Jerman juga terlihat ketika MK Jerman, menafsirkan Pasal 19 bagian 3 Undang- Undang Dasar Republik Federal Jerman yang menyatakan bahwa hak-hak dasar juga berlaku bagi badan-badan hukum dalam negeri sejauh mana sesuai dengan keberadannya hal itu dapat diterapkan. Atas ketentuan pasal ini, MK Jerman memutuskan bahwa kemerdekaan mengeluarkan pendapat bukan hanya milik setiap orang, tetapi juga hak ini diberikan kepada partai politik sebagai corong kemauan politik masyarakat. Hal ini dipertegas dalam Pasal 21 Konstitusi Jerman bahwa partai politik berperan dalam pembentukan kehendak rakyat.239 Dalam
Konstitusi Jerman, partai politik diatur dalam Pasal 21 sebagai berikut:
“(1) The political parties participate in the forming of the political will of the people.They may be freely established. Their internal organization must conform to democratic principles. They have to publicly account for the sources and use of their funds and for their assets.
(2) Parties Which, by reason of their aims or the behaviour of their adhrents, seek to impair or abolish the free democratic basic order or to endanger the existence of the Federal Republic of Germany are unconstitutional. The Federal Constitutional Court decides on the question of unconstitutionality.
(3) Details are regulated by federal statutes.”
Berdasarkan ketentuan diatas, dapat diketahui bahwa dasar pembubaran partai politik di negara jerman adalah apabila tujuan atau perilaku pengikutnya yang tidak sesuai atau berupaya menghapuskan tatanan dasar demokrasi, atau membahayakan eksistensi negara Republik Federal Jerman. Pembubaran 239 Jerman, “Basic Law for The Federal Republic of Germany”, diunduh melalui https://www.btg-bestellservice.de/pdf/80201000.pdf.
dilakukan dengan menyatakan bahwa partai politik yang dimaksud bertentangan dengan konstitusi (unconstitutional). Kewenangan untuk menyatakan suatu partai politik bertentangan dengan konstitusi terdapat di lembaga Mahkamah Konstitusi Jerman. Sebagaimana yang tertuang dalam Article 21 ayat (3) Basic Law Jerman, pengaturan lebih lanjut tentang partai politik diatur dalam undang-undang federal dan undang-undang yang dimaksud adalah Parteiengesetz (Political Parties Act)
yang ditetapkan pada 24 Juli 1967 dan telah beberapa kali mengalami perubahan terakhir pada 31 Januari 1994.240
Undang-Undang tersebut dibuat untuk memperbaiki kesalahan utama pada masa Republik Weimar yang mentoleransi partai ekstrim dan cendung merusak demokrasi sehingga memunculkan rejim Hitler. Berpijak pada pengalaman masa lalu itu, penyusun konstitusi Jerman berpendapat bahwa negara tidak akan pernah dapat netral menghadapi musuh yang akan menghacurkannya. Untuk itu, upaya menghancurkan negara demokrasi dengan sendirinya bertentangan dengan demokrasi dan harus dihadapi. Dalam jurispudensi konstitusional Jerman, hal itu disebut dengan istilah militant democracy.241
Sesuai dengan ketentuan Article 21 ayat (2) Konstitusi Jerman, apabila tujuan partai politik atau perilaku pengikutnya tidak sesuai dan berupaya menghapus tatanan demokrasi atau membahayakan eksistensi negara Republik Federal Jerman, maka partai politik tersebut harus dinyatakan Unconstitusional
oleh Mahkamah Konstitusi jerman. Hal itu sesuai dengan Pasal 13 Undang- Undang Mahkamah Konstitusi Federal Jerman (Bundesverfassunggericht-Gesetz) menyatakan bahwa salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi Jerman adalah memberikan putusan tentang konstitusionalitas partai politik yang ditangani oleh Panel Kedua Mahkamah Konstitusi Jerman.242
Permohonan putusan tentang konstitusionalitas partai politik dilakukan oleh Bundestag, Bundesrat, atau Pemerintah Federal. Namun demikian, 240 Jerman, “Political Parties Act of 24 July 1967”, diunduh melalui https://www.bundestag.de/blob/189734/2f4532b00e4071444a62f360416cac77/politicalparties- data.pdf.
241 Kommers, The Constitutional Jurisprudence of the Federal Republic of Germany, (Durham: Duke University Press, 1989), hlm. 222.
pemerintah negara bagian juga bisa mengajukannya jika organisasi partai itu berada di wilayahnya.243 Partai politik diwakili oleh pihak yang ditentukan sesuai
dengan anggaran dasar partai, atau oleh orang yang menjalankan partai.244 Partai
politik tersebut harus diberi kesempatan pada waktu tertentu untuk memberikan pernyataannya.245
Putusan Mahkamah Konstitusi dapat meliputi keseluruhan partai politik atau bagian tertentu saja dari organisasi partai politik yang bertentangan dengan konstitusi. Jika secara keseluruhan dinyatakan bertentangan dengan konstitusi maka putusan tersebut diikuti dengan pembubaran partai dimaksud. Jika bagian tertentu saja, maka bagian tersebut yang dibubarkan dan disertai dengan larangan pembentukan organisasi penggantinya. Mahkamah juga dapat memutuskan bahwa kekayaan partai atau bagian dari partai disita untuk kepentingan negara.246 Jika
organisasi atau aktivitas tertentu dari suatu partai politik dinyatakan
unconstitutional dalam wilayah provinsi negara bagian tertentu, Menteri Dalam Negeri Pemerintah Federal mengeluarkan keputusan yang diperlukan untuk memastikan pelaksanaan putusan tersebut. 247
Di negara Jerman, sanksi dari pembubaran partai politik adalah dilarangnya mendirikan partai atau organisasi yang sama untuk menggantikan partai yang dibubarkan, kemudian terhadap anggota termasuk pendiri yang tidakan atau pernyataanya menyebabkan dibubarkan partai politik, tidak dapat menjadi pendiri, anggota, pengurus, maupun pengawas partai politik lain selain itu juga akibat hukumnya adalah harta kekayaan partai politik dapat disita untuk kepentingan publik. Hal itu tertuang dalam Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Jerman.