BAB II TIMBULNYA LEMBAGA PISAH MEJA DAN RANJANG
C. Pembubaran Perkawinan Setelah Perpisahan Meja dan Ranjang
Pasal 201 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Tuntutan pisah meja dan ranjang karena salah satu alasan sebagaimana tercantum dalam pasal 233 KUH Perdata (BW), maupun atas permintaan kedua belah pihak pasangan suami-isteri tersebut karena telah genap 5 (lima) tahun jangka waktu pisah meja dan ranjang diantara keduanya, harus segera ditolak bilamana pihak yang digugat, setelah tiga kali dari bulan ke bulan dipanggil di muka pengadilan, tidak datang menghadap atau datang mengahadap, melancarkan tantangan, atau pada akhirnya menyatakan dirinya sanggup berdamai dengan pihak lawan”.
Dari rumusan pasal 201 KUH Perdata (BW) tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa meskipun jangka waktu perpisahan meja dan ranjang diantara pasangan suami-isteri tersebut telah mencapai 5 (lima) tahun dan oleh karena itu para pihak berhak mengajukan tuntutan perceraian terhadap pasangannya. Namun hakim harus segera menolak tuntutan perceraian yang diajukan pasangan suami-isteri tersebut apabila pihak yang digugat, setelah tiga kali dipanggil dari bulan ke bulan oleh pengadilan tidak datang menghadap, atau pihak tergugat mengatakan dirinya sanggup berdamai dengan pihak lawan (penggugat). Pernyataan dari pihak tergugat untuk sanggup berdamai dengan pihak lawan (penggugat) mengakibatkan hakim menolak tuntutan perceraian yang diajukan penggugat untuk sementara waktu dengan tujuan memberi kesempatan kepada pasangan suami-isteri yang sedang mengalami pisah meja dan ranjang tersebut untuk berdamai kembali. Hakim memerintahkan kedua pasangan suami-isteri tersebut untuk menghadap di muka pengadilan secara bersama- sama dan secara langsung tanpa diwakilkan kepada orang lain atau kuasanya. Pasangan suami-isteri yang sedang menjalani masa perpisahan meja dan ranjang tersebut diwajibkan menghadap dimuka seorang anggota atau lebih hakim pengadilan yang pada tujuan akhirnya akan mencoba mendamaikan kedua belah pihak. Seandainya upaya memperdamaikan tersebut tidak berhasil dilakukan maka pengadilan harus memerintahkan pertemuan diulang sekali lagi, Jangka waktu pertemuan untuk kedua kali tersebut secepat-cepatnya dilaksanakan 3 (tiga) bulan dan paling lambat 6 (enam) bulan setelah pertemuan pertama yang gagal tersebut dilaksanakan. Jika ternyata ada alasan-alasan yang sah untuk tidak menghadap bagi
pasangan suami-isteri tersebut, maka anggota atau anggota-anggota yang ditunjuk tadi harus pergi ke rumah suami-isteri tersebut. Jika si suami atau isteri ataupun keduanya bertempat tinggal di luar daerah Hakim Pengadilan Negeri kepada siapa permintaan itu diajukan, maka pengadilan itu boleh meminta kepada Pengadilan Negeri, yang mana dalam daerah hukumnya kedua suami-isteri tadi bertempat tinggal supaya melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, yaitu41:
1. Menolak gugatan perceraian yang diajukan oleh salah satu pihak tersebut dengan alasan pihak tergugat tidak hadir/tidak datang menghadap setelah dipanggil secara wajar sebanyak 3 (tiga) kali dari bulan ke bulan dan pihak tergugat juga telah membuat pernyataan dalam bentuk tertulis tentang kesanggupan untuk berdamai dengan pihak lawan (penggugat).
2. Memerintahkan pasangan suami-isteri tersebut untuk datang menghadap ke pengadilan secara bersama-sama dan dengan hadir sendiri tanpa bisa diwakilkan oleh orang lain/ kuasanya dan hakim pengadilan akan mencoba memperdamaikan pasangan suami-isteri tersebut.
3. Jika ternyata pasangan suami-isteri tersebut tidak bisa datang menghadap ke depan pengadilan dengan alasan yang sah, maka hakim anggota yang ditunjuk oleh pengadilan harus pergi ke rumah pasangan suami-isteri tersebut untuk memperdamaikan pasangan suami-isteri tersebut di tempat kediamannya itu. Jika si suami atau isteri ataupun keduanya berdiam di luar wilayah Indonesia, maka
41Taslim sastro hadi,Perkawinan yang Bersangkutan di LuarNegeri dan akibat Hukumnya, Perdata Agung, Jakarta, 2003, hlm 39.
bolehlah pengadilan Negeri meminta kepada pejabat pengadilan tempat mereka berdiam, supaya melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana yang telah diuraikan pada point 1 sampai dengan poin 3 di atas atau bolehlah pengadilan tersebut memerintahkan kepada jawatan perwakilan Indonesia yang mana dalam daerahnya mereka berdiam. Jawatan perwakilan tempat pasangan suami-isteri tersebut berdiam akan membuat berita acara perbuatan itu dan segera dikirimkan kepada pengadilan Negeri yang memerintahkan perbuatan-perbuatan tersebut dilaksanakan42.
Pasal 203 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Apabila pertemuan untuk kedua halnya pun tak berhasil pula, maka Pengadilan Negeri setelah mendengar jawatan kejaksaan, harus memberikan putusannya dan mengabulkan permintaan itu, jika segala syarat dalam pengajuan perkara tersebut di atas telah dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Sementara itu pengadilan leluasa setelah selesainya pemeriksaan mempertangguhkan putusannya selama 6 (enam) bulan, jika nampak olehnya kemungkinan-kemungkinan akan masih dapat tercapainya perdamaian.
Dari rumusan pasal 203 KUH Perdata (BW) tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa bila pertemuan kedua kalinya dalam upaya memperdamaikan pasangan suami- isteri tersebut juga mengalami jalan buntu atau gagal, maka Pengadilan Negeri setelah mendengar pertimbangan dan saran yang diajukan oleh jawatan kejaksaan harus mengambil suatu keputusan terhadap permasalahan yang dihadapi pasangan
42 Muchsan Ali,Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Tentang Perkawinan, Nuansa Aulia, Jakarta, 1996, hlm 53.
suami-isteri tersebut dan mengabulkan pengajuan tuntutan perceraian yang diajukan pihak pengugat (salah seorang pasangan suami-isteri tersebut). Pengabulan tuntutan perceraian yang diajukan oleh pihak penggugat oleh hakim di pengadilan dilakukan setelah hakim memeriksa dan meneliti secara seksama, tentang apakah segala syarat dan ketentuan yang seharusnya dilaksanakan dalam proses perdamaian antara pasangan suami-isteri tersebut telah berjalan dengan sebaik-baiknya. Apabila hakim pengadilan memandang bahwa segala upaya perdamaian antara pasangan suami-isteri tersebut belum dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka hakim berwenang memerintahkan untuk melaksanakan terlebih dahulu segala syarat dan ketentuan yang menjadi kewajiban untuk dijalankan sebelum hakim mengambil keputusan. Meskipun seluruh syarat dan ketentuan tentang upaya perdamaian tersebut telah dilaksanakan sepenuhnya dan sebaik-baiknya, hakim masih punya kewenangan untuk mempertangguhkan putusannya selama 6 (enam) bulan, jika kiranya hakim masih melihat kemungkinan akan masih tercapainya perdamaian diantara pasangan suami- isteri tersebut43.
Pasal 204 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Terhadap putusan Pengadilan Negeri yang tidak memuaskan para pihak, dapat dimohonkan banding selambat-lambatnya dalam waktu 1 (satu) bulan”. Pasal 204 KUH Perdata (BW) tersebut di atas menjelaskan bahwa apabila putusan Pengadilan Negeri tidak memuaskan baik bagi penggugat maupun tergugat maka terhadap putusan tersebut
43 Sulaiman Rasjid, Ketentuan Tentang Lembaga Pisah Meja dan Ranjang dan Prospek
dapat dimohonkan banding ke Pengadilan Tinggi. Apabila putusan pengadilan Negeri tidak dimintakan banding baik oleh penggugat maupun tergugat, maka putusan tersebut telah memiliki kepastian hukum (Incraht Van Gewijsde) dan dengan demikian putusan dapat segera berlaku bagi para pihak. Namun sebaliknya apabila terhadap putusan Pengadilan Negeri tersebut dimintakan banding ke Pengadilan Tinggi oleh para pihak yang berperkara, maka putusan Pengadilan Negeri tersebut belum memperoleh kekuatan hukum yang tetap dan karena itu putusan Pengadilan Negeri tersebut belum dapat diberlakukan bagi para pihak. Permohonan banding ke Pengadilan Tinggi dilakukan oleh pihak yang tidak puas dengan keputusan tersebut dengan cara memasukkan memori banding ke Pengadilan Tinggi. Memori banding tersebut berisikan permohonan kepada Pengadilan Tinggi agar dapat memeriksa perkara tuntutan perceraian yang telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri. Disamping itu memori Banding juga berisi kronologis peristiwa dan ringkasan gugatan yang diajukan oleh pihak yang merasa tidak puas dengan keputusan Pengadilan Negeri tersebut. Pengadilan Tinggi dalam memeriksa dan mengadili perkara gugatan perceraian antara pasangan suami-isteri tersebut memiliki dua kemungkinan keputusan yaitu:
1. Menguatkan putusan yang diambil oleh Pengadilan Negeri.
2. Mengadili sendiri dan memutuskan perkara tersebut berdasarkan pertimbangan hukum sendiri dengan memandang putusan Pengadilan Negeri keliru dalam menetapkan hukum.
Pasal 205 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Perkawinan bubar demi putusan itu beserta pembukuannya dalam register catatan sipil”. Pasal 205 KUH Perdata (BW) ini menjelaskan bahwa apabila putusan Pengadilan Negeri menyatakan tuntutan perceraian dikabulkan, dan terhadap putusan tersebut tidak dimintakan banding oleh para pihak, maka putusan tersebut dinyatakan berlaku bagi pasangan suami-isteri tersebut karena telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Dengan berlakunya keputusan Pengadilan Negeri tersebut yang memutuskan pengabulan tuntutan perceraian yang diajukan, maka sejak saat itu pula perkawinan bubar karena perceraian. Keputusan tersebut oleh hakim akan dicatatkan dalam buku register catatan sipil agar dapat diketahui oleh pihak ketiga, disamping di catatkan di buku register catatan sipil, para pihak yang telah menerima salinan putusan pengadilan tentang perceraian tersebut dapat pula mengumumkannya di media cetak (surat kabar) agar pihak ketiga dapat lebih mudah mengetahuinya secara lebih luas. Pengumuman perceraian tersebut sangat penting diketahui oleh pihak ketiga terutama menyangkut perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak (suami-isteri) saat perkawinan masih berlangsung. Dengan terjadinya perceraian tersebut, maka dengan sendirinya akan terjadi pula pembagian harta persatuan di antara suami-isteri yang telah bercerai tersebut. Pembubaran perkawinan setelah pisah meja dan ranjang tidak menutup hak dari suami-isteri untuk menikmati segala keuntungan, yang mana karena perkawinan telah dijanjikan oleh pihak lain, juga jika keuntungan itu oleh kedua belah pihak dijanjikan bertimbal-balik. Ketentuan ini berlaku terhadap pihak suami- isteri yang memenangkan tuntutan perceraian tersebut di pengadilan. Namun
sebaliknya bagi pihak suami-isteri yang kalah dalam tuntutan perceraian tersebut akan kehilangan segala keuntungan, yang mana karena perkawinan telah dijanjikan oleh pihak lain. Dengan mulai berlakunya perceraian tidaklah segera boleh dituntut segala keuntungan yang telah diperjanjikan untuk dinikmati, setelah salah satu pihak meninggal dunia, melainkan pihak atas kemenangan siapa perceraian itu dinyatakan, haruslah diperbolehkan menuntut keuntungan-keuntungan itu setelah pihak lawan meninggal dunia. Pasal 225 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Jika pihak suami atau isteri, atas kemenangan siapa perceraian itu dinyatakan, tak mepunyai penghasilan yang cukup guna membelanjai nafkahnya, maka Pengadilan Negeri boleh menentukan sejumlah tunjangan untuk itu dari harta kekayaan pihak lain. Pasal 225 KUH Perdata (BW) ini menjelaskan bahwa pihak suami-isteri yang menang dalam tuntutan perkara perceraian tersebut. Namun tidak mempunyai penghasilan yang cukup guna membelanjai nafkahnya, oleh hakim pengadilan negeri boleh menentukan sejumlah tunjangan untuk pihak suami-isteri tersebut dari harta kekayaan pihak lain. Jumlah tunjangan yang dibayarkan tersebut bisa dilakukan dalam jangka waktu tertentu secara berkelanjutan hingga meninggalnya pihak suami-isteri tersebut atau telah melangsungkan perkawinan berikutnya dengan laki-laki/perempuan lain.
Dalam mengucapkan pembubaran perkawinan setelah pisah meja dan ranjang, hakim mengangkat satu diantara bapak dan ibu, yang pada waktu itu melakukan kekuasaan orang tua sebagai wali atas permintaan salah seorang atau kedua orang tua. Pengadilan Negeri berkuasa berdasarkan atas keadaan-keadaan yang timbul karena penetapan pembubaran perkawinan setelah terjadi pisah meja dan ranjang,
memperoleh kekuasaan mutlak, mengubah penetapan yang diberikan terhadap anak- anak, kesemuanya itu setelah mendengar atau memanggil dengan sah kedua orang tua, wali pengawas dan para keluarga sedarah dan semenda dan anak-anak yang belum dewasa. Penetapan ini boleh dinyatakan segera dapat dilaksanakan kendati perlawanan atau bandingan dengan atau tanpa ikatan jaminan. Pemeriksaan akan orang tua dan wali pengawas, yang bertempat tinggal atau berkediaman di luar daerah hukum Pengadilan Negeri, boleh dilimpahkan ke Pengadilan negeri tempat tinggal atau tempat kediaman mereka. Pengadilan mana tentang perbuatan itu harus menyampaikan berita acaranya ke Pengadilan Negeri tersebut pertama. Pemanggilan para orang tua dan wali pengawas dilakukan dengan cara yang sama sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 333 KUH Perdata (BW).
Pasal 333 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Apabila berhubung dengan ketentuan-ketentuan dalam kitab ini diperlukan ikut bicaranya para keluarga sedarah dan semenda dan anak-anak yang belum dewasa, maka seberapa boleh orang itu dipanggil selalu dalam jumlah empat dipilih dari keluarga terdekat, dan seberapa boleh pun dari garis kedua-duanya dengan pengertian bahwa oleh hakim hendaknya yang dipanggil hanya mereka yang bertempat tinggal atau yang berkediaman dalam daerah hakim Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Sedangkan jika dipandang perlu mendengar orang-orang yang bertempat tinggal atau berkediaman diluar daerah hukum tersebut, pemanggilan dan pemeriksaan akan orang-orang itu boleh dilimpahkan ke Pengadilan Negeri yang mana di daerah hukumnya orang-orang itu bertempat tinggal atau berkediaman. Hakim mana akan mengirimkan berita acara pemeriksaannya kepada Pengadilan Negeri tersebut, pertama keluarga sedarah atau semenda yang harus dipanggil, lalu mereka yang telah dewasa dan bertempat tinggal atau berkediaman di Indonesia. Segala pemanggilan termaksud dalam pasal ini dilakukan dengan surat tercatat”.
Pasal 334 KUH Perdata menyatakan bahwa, “Tiap-tiap hak apabila diperlukan hadirnya para keluarga sedarah atau semenda, mereka diperbolehkan mewakilkan dirinya kepada seorang kuasa istimewa, surat kuasa bebas dari bea. Kuasa hanya diperbolehkan bertindak atas nama satu orang saja.”
Terhadap penetapan perwalian tersebut, satu diantara kedua orang tua yang tidak mengajukan permintaan dan yang atas panggilan telah tidak datang menghadap, boleh memajukan perlawanan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah penetapan itu atau suatu akta yang dibuat atas kekuatan atau untuk melaksanakannya diberitahukan kepada si orang tua itu sendiri atau setelah dilakukan olehnya suatu perbuatan yang secara mutlak memberi kesimpulan bahwa penetapan itu atau permulaan pelaksanaanya telah diketahuinya. Orang tua yang permintaannya telah ditolak dan orang tua yang kendati memajukan bantahan telah ditolak, mereka itu boleh meminta bandingan dalam waktu selama tiga puluh hari setelah keputusan diucapkan. Jika anak-anak belum dewasa tidak sungguh-sungguh telah berada dalam kekuasaan seorang yang menurut salah satu ketentuan dalam pasal ini, diwajibkan menjadi wali, maka dalam keputusan atau penetapan harus diperintahkan juga penyerahan anak- anak itu kepadanya. Ketentuan-ketentuan dalam pasal 319 ayat (2) dan (4) dan ke (5) KUH Perdata (BW) berlaku dalam hal ini.
Pasal 206 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Apabila ada alasan-alasan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa orang tua yang tidak diangkat menjadi wali tidak akan memberikan sumbangan secukupnya guna memelihara dan mendidik anak-anak tersebut, maka dalam keputusan pembubaran perkawinan setelah pisah
meja dan ranjang, Pengadilan Negeri boleh memerintahkan kepada orang tua itu supaya untuk keperluan tersebut tiap-tiap minggu, tiap-tiap bulan atau triwulan memberikan sejumlah uang yang ditentukan pula dalam penetapan kepada Dewan Perwalian”. Ketentuan yang terdapat dalam pasal 206a KUH Perdata (BW) tersebut diatas semata mata untuk menjamin kepentingan si anak atas biaya hidup dan biaya- biaya lainnya yang wajar untuk dipenuhi oleh orang tua baik yang ditunjuk maupun yang tidak ditunjuk sebagai wali. Penetapan tunjangan terhadap anak tersebut ditegaskan dalam bentuk tertulis kepada Dewan Perwalian dan diuraikan secara jelas dan terperinci.
BAB III
AKIBAT HUKUM YANG TIMBUL DARI TERJADINYA PERISTIWA PISAH MEJA DAN RANJANG MENURUT KUH PERDATA (BW) A. Ruang Lingkup Lembaga Pisah Meja dan Ranjang Menurut KUH Perdata
(BW)
Menurut KUH Perdata (BW) pada bagian sebelas tentang perpisahan meja dan ranjang, lembaga pisah meja dan ranjang hanya berlaku bagi golongan Timur Asing Tionghoa dan tidak berlaku bagi golongan Timur Asing selain dan pada Tionghoa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lembaga pisah meja dan ranjang tersebut hanya dapat diberlakukan bagi golongan Timur Asing Tionghoa. Namun demikian menurut keputusan Raja tertanggal 15 September 1916 No 26 Lembaran Negara 1917-12 Juncto 528 yang mulai berlaku tanggal 1 Oktober 1917 yang mengatur tentang Penundukan Sukarela kepada Hukum Perdata Eropa (KUH Perdata (BW)) dinyatakan pada paragraf 1 Pasal 1 bahwa, “Dengan mengecualikan orang- orang laki-laki yang menikah dengan lebih dari satu orang wanita, wanita-wanita yang telah kawin, orang-orang yang di bawah umur, dan mereka yang ditempatkan di bawah pengampuan, orang-orang Indonesia (Pribumi) dan Timur Asing dapat tunduk dengan sukarela kepada seluruh Hukum Perdata dan Hukum Dagang yang ditetapkan bagi orang-orang Eropa”. Rumusan Paragraf 1 Pasal 1 ayat 1 tersebut di atas memberikan kesempatan/pilihan hukum kepada golongan Bumi Putra/orang Indonesia dan Timur Asing lainnya selain dari Tionghoa untuk dapat tunduk dengan sukarela kepada seluruh Hukum Perdata dan Hukum Dagang yang ditetapkan berlaku
bagi orang-orang eropa. Dengan pernyataan tunduk sukarela tersebut maka sejak saat itu orang-orang Indonesia (Bumi Putra) dan Timur Asing lain selain Tionghoa berlakulah Hukum Perdata dan Hukum Dagang yang ditetapkan bagi orang-orang Eropa tersebut. Penundukan tersebut adalah Penundukan secara keseluruhan dari Hukum Perdata (KUH Perdata (BW)) dan Hukum Dagang (KUHD) (WvK) dan dengan demikian maka orang-orang Indonesia (Bumi Putra) dan golongan Timur Asing selain golongan Timur orang Tionghoa tersebut dipersamakan dengan orang- orang Eropa dan Timur Asing Tionghoa dalam pemberlakuan hukumnya baik hukum perdata (BW) dan Hukum Dagang (WvK). Selanjutnya Pasal 1 ayat (2) paragraf 1. Keputusan Raja tentang Penundukan sukarela kepda hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) Eropa tersebut menyatakan bahwa,”Untuk Penundukan sukarela secara keseluruhan tersebut, seorang laki-laki yang telah menikah membutuhkan persetujuan isterinya. Ketentuan yang terdapat pada Pasal 1 ayat (2) tersebut di atas menegaskan bagi laki-laki yang sudah menikah (suami) wajib memperoleh persetujuan dari isterinya. Dengan tunduk sukarela secara keseluruhan sepasang suami-isteri tersebut kepada hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) eropa tersebut, maka konsekuensinya adalah bahwa anak-anak yang dilahirkan dan masih berada di bawah umur (belum dewasa) dan juga yang berada di bawah pengampuan akan dinilai menurut aturan-aturan dan asas-asas hukum yang ditetapkan bagi orang- orang Eropa.
Pasal 2 keputusan Raja tertanggal 15 September 1916 No 26 tersebut lebih lanjut menjelaskan tentang bagaimana cara bagi orang-orang Indonesia dan golongan
Timur Asing selain Tionghoa untuk dapat tunduk sukarela secara keseluruhan kepada hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) Eropa tersebut.
“Penundukan seluruhnya dilakukan dengan jalan menyampaikan secara pribadi suatu pernyataan tentang tunduk sukarela secara keseluruhan kepada hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) eropa tersebut kepada Pemerintahan setempat di wilayah kediamannya, dengan disaksikan oleh dua orang penduduk Indonesia yang telah dewasa yang secara pribadi dikenal oleh Kepala pemerintahan setempat. Dalam pernyataan itu, yang bersangkutan menyampaikan kepada Kepala Pemerintahan setempat :
1. Nama atau nama-nama yang dipakai, dan bilamana telah dilakukan ganti nama berikut nama-nama yang dipakai sebelumnya.
2. Nama-nama dan dalam hal ganti nama juga nama-nama sebelumnya dari isteri dan anak-anaknya yang masih di bawah umur.
3. Nama-nama dari isteri-isterinya yang sebelumnya dengan menyebutkan cara-cara dilakukannya pemutusan pernikahan.
4. Jika ia tidak mempunyai nama keluarga yang dengan memperhatikan ketentuan ayat (2) Pasal 10 ingin ia memiliki juga nama-nama kecil yang ingin atau yang hendak dipakainya sendiri maupun anak-anaknya yang belum dewasa.
5. Usianya dan juga usia isteri dan anak-anaknya yang belum dewasa satu dan lain kalau perlu dengan kira-kira.
Pernyataan yang dibuat oleh orang-orang Indonesia dan golongan Timur Asing selain Tionghoa dilakukan dalam bentuk tertulis baik berupa pernyataan di bawah tangan maupun dengan menggunakan akta otentik notaril.44 Pernyataan yang dibuat tersebut baik dalam bentuk akta di bawah tangan maupun dalam bentuk akta notaril pada pokoknya wajib mencantumkan/memuat hal-hal sebagaimana telah diuraikan pada poin 1 sampai dengan 6 di atas dan pada persyaratan tersebut dicantumkan kalimat bahwa dimulai sejak pernyataan tersebut ditandatanganinya akan tunduk sukarela kepada hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) Eropa.
Kepala pemerintahan setempat hendaknya yakin bahwa orang yang menyampaikan pernyataan ini betul berwenang untuk itu dan bahwa ia apabila telah kawin, telah memperoleh persetujuan dari isterinya, sebagaimana yang diharuskan pada Pasal 1 ayat (2) ketentuan ini yang telah diuraikan di atas.
Pasal 10 ayat (2) keputusan Raja No 26 Tahun 1916 tentang tunduk sukarela secara keseluruhan pada hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) eropa juga menyatakan bahwa, “Nama keluarga tidak boleh merupakan nama yang menurut pengertian Indonesia mengatakan atau berhubungan dengan suatu derajat atau gelar”. Pasal 5 ayat (1) keputusan Raja No. 26 Tahun 1916 tentang tunduk sukarela secara keseluruhan pada hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) eropa tersebut juga menyatakan bahwa, “Kepala Pemerintahan setempat memberitahukan secara umum tetapi jelas kepada orang yang menyampaikan pernyataan dan apabila ia telah
kawin juga kepada isterinya tentang akibat-akibat dari Penundukan dan tentang perubahan-perubahan yang dialami kedudukan hukumnya maupun kedudukan hukum isteri dan anak-anaknya yang belum dewasa”.
Pasal 5 ayat (2) keputusan Raja No. 26 Tahun 1916 tentang Penundukan sukarela secara keseluruhan kepada hukum perdata (BW) dan hukum dagang (WvK) eropa menyatakan bahwa, “Apabila kemudian orang yang membuat pernyataan itu bertekun pada niatnya untuk melakukan penundukan seluruhnya dan apabila ia telah kawin, isterinya tidak menarik kembali persetujuannya, maka kepala pemerintahan setempat dengan menyebutkan bahwa ketentuan-ketentuan pasal yang lampau dan ayat (1) pasal ini telah dipenuhi, mendaftarkan pernyataan dan hal-hal yang termaksud dalam pasal 2 dan 3 keputusan Raja No. 26 Tahun 1916 ini, dalam sebuah register umum