• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Perpisahan Meja dan Ranjang Menurut KUH

BAB II TIMBULNYA LEMBAGA PISAH MEJA DAN RANJANG

A. Pengertian Perpisahan Meja dan Ranjang Menurut KUH

KUH Perdata (BW) tidak secara tegas menyatakan definisi tentang perpisahan meja dan ranjang. Namun demikian dari Pasal-pasal yang mengatur tentang perpisahan meja dan ranjang dapat dinyatakan bahwa perpisahan meja dan ranjang adalah suatu keadaan hukum dimana pasangan suami isteri yang masih terikat tali perkawinan tidak lagi memiliki kewajiban untuk tinggal bersama dalam satu atap rumah.31 Seorang suami tidak lagi memiliki hak untuk mewajibkan isterinya tinggal bersama dalam rumah kediamannya. Demikian pula sebaliknya seorang isteri memperoleh kembali kebebasannya untuk menentukan sendiri tempat tinggal/rumah yang ingin didiaminya, dan tidak lagi wajib mengikuti tempat tinggal suaminya. Peristiwa pisah meja dan ranjang yang telah dilakukan pasangan suami isteri tersebut memiliki akibat hukum bagi pasangan suami isteri dibidang harta benda perkawinan yaitu :32

1. Pengakhiran, percampuran harta benda perkawinan antara pasangan suami isteri tersebut seolah-olah telah terjadi suatu perceraian (Pasal 243 KUH Perdata BW).

31 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, SUMUR, Bandung, 1976, hlm. 23.

32

Kho Tjay Sing,Hukum Perdata, Jilid I (Hukum Perseorangan dan Keluarga),Loka Cipta, Semarang, 1984, hlm 12.

2. Penghentian sementara pengurusan atas harta isteri oleh suami (Pasal 244 KUH Perdata BW).

3. Apabila perpisahan meja dan ranjang diputuskan oleh hakim karena alasan tertentu sebagaimana tercantum dalam Pasal 233 KUH Perdata (BW), maka akibat-akibat dari keuntungan tertentu yang diperjanjikan antara pasangan suami-isteri serta pemberian nafkah adalah sama dengan hal perceraian.

Tetapi hal tersebut di atas tidak berlaku apabila keputusan pisah meja dan ranjang diambil oleh suami-isteri tanpa mengajukan alasan. Dalam hal tersebut di atas wajib dibuat suatu akta otentik antara pasangan suami-isteri yaitu suatu perjanjian berdasarkan kesepakatan bersama yang berisikan hak dan kewajiban suami-isteri yang harus dipatuhi dan dilaksanakan bersama pada saat perpisahan meja dan ranjang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Perpisahan meja dan ranjang dapat menimbulkan Perceraian bila selama menjalani masa perpisahan meja dan ranjang pasangan suami-isteri tersebut tidak dapat mencapai suatu kesepakatan untuk berdamai. Sebaliknya apabila selama masa menjalani perpisahan meja dan ranjang dapat tercapai suatu kesepakatan untuk melakukan perdamaian maka demi undang- undang peristiwa perpisahan meja dan ranjang tersebut batal demi hukum. Perdamaian antara pasangan suami-isteri yang menjalani perpisahan meja dan ranjang membawa konsekuensi hukum yaitu semua akibat hukum dari perkawinan diantara pasangan suami-isteri tersebut dinyatakan hidup/berlaku kembali, namun semua tindakan kepada pihak ketiga selama menjalani perpisahan meja dan ranjang sebelumnya tetap berlaku. Pasal 248 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa :

“Perpisahan meja dan ranjang demi hukum menjadi batal karena perdamaian suami-isteri, dan hiduplah kembali karenanya segala akibat perkawinan, sementara itu dengan tidak mengurangi akan terus berlakunya perbuatan- perbuatan perdata terhadap pihak ketiga, yang dilakukan kiranya dalam tenggang antara perpisahan dan perdamaian. Segala persetujuan antara suami-isteri bertentangan dengan ini, adalah batal.”

Pasal 119 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum berlakulah persatuan bulat antara harta kekayaan suami- isteri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian kawin tidak diadakan ketentuan lain”. Pasal 119 KUH Perdata (BW) ini memberikan penegasan bahwa sejak adanya perkawinan antara suami dan isteri, seluruh harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan tersebut berlangsung merupakan harta bersama (gono-gini) sepanjang tidak ditentukan lain melalui suatu perjanjian sebelum perkawinan tersebut dilangsungkan.

Pasal 120 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Sekedar mengenai laba- labanya, persatuan harta kekayaan tersebut meliputi harta kekayaan suami dan isteri, bergerak dan tak bergerak, baik yang sekarang maupun yang kemudian, maupun pula yang mereka peroleh dengan cuma-cuma, kecuali dalam hal yang terakhir ini yang mewariskan atau yang menghibahkan dengan tegas menentukan sebaliknya”. Pasal 120 KUH Perdata (BW) ini menegaskan tentang bagian-bagian yang menjadi harta bersama, termasuk harta kekayaan yang diperoleh secara Cuma-cuma dari pihak ketiga. Kemudian pihak ketiga yang memberikan harta kekayaan tersebut menentukan bahwa harta yang diberikannya tersebut merupakan harta bawaan yang terlepas dari harta bersama. Selanjutnya Pasal 121 KUH Perdata (BW) menyatakan

bahwa, “Sekedar mengenai beban-bebannya, persatuan itu meliputi segala utang suami-isteri masing-masing yang terjadi, baik sebelumnya maupun sepanjang perkawinan”.

Pasal 124 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Suami sendiri harus mengurus harta kekayaan persatuan. Suami diperbolehkan menjual, memindah tangankan dan membebaninya tanpa campur tangan isteri, kecuali memindah tangankan atau membebani barang-barang tak bergerak si isteri, surat-surat pendaftaran dalam buku besar tentang perutangan umum, surat-surat berharga lainnya dan hutang-piutang atas nama isteri, sekedar olehnya dimasukkan dalam persatuan, atau yang sepanjang perkawinan masuk kiranya dari pihak isteri di dalamnya”. Suami bertindak sebagai kepala persatuan suami-isteri hanya dalam masa perkawinan tersebut masih berlangsung. Bila terjadi perceraian, maka segala wewenang suami terhadap harta persatuan menjadi gugur, karena Undang-Undang mengharuskan pembagian harta persatuan tersebut secara adil diantara pasangan suami-isteri itu. Dalam pasal 243 KUH Perdata (BW), dinyatakan bahwa, “Perpisahan meja dan ranjang selamanya mengakibatkan perpisahan harta kekayaan dan karenanya merupakan alasan untuk mengadakan perpisahan persatuan, seolah-olah perkawinan telah dibubarkan”. Selanjutnya Pasal 244 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Karena perpisahan meja dan ranjang, pengurusan suami atas harta kekayaan isteri dipertangguhkan”.

Akibat hukum perpisahan meja dan ranjang terhadap harta kekeyaan suami- isteri yang diperoleh selama masa perkawinan (gono-gini) adalah sama dengan

perceraian, yakni diharuskannya dilakukan pembagian yang sama diantara suami- isteri tersebut dan secara otomatis mempertangguhkan untuk sementara waktu hak suami sebagai kepala persatuan suami-isteri dalam mengurus harta kekayaan persatuan tersebut. Artinya hak suami dalam pengurusan harta kekayaan isterinya untuk sementara waktu tidak dapat lagi dilaksanakannya.33

B. Tujuan Diadakannya Lembaga Pisah Meja dan Ranjang dalam Pengaturan

Dokumen terkait