• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KEABSAHAN PENGIKATAN ASURANSI MELALUI

B. Pembuktian Keabsahan Pengikatan Asuransi Jiwa

B. Pembuktian Keabsahan Pengikatan Asuransi Jiwa Melalui Telemarketing

Pada prinsipnya setiap perbuatan hukum yang dilakukan para pihak dalam perjanjian asuransi perlu dilandasi dokumen perjanjian. Dari dokumen tersebut akan dapat diketahui berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan, obyek maupun isi serta tujuan dari perjanjian yang dilakukan tertanggung dan penanggung. Dokumen tersebut juga sangat penting terutama sebagai alat bukti yang sah baik untuk kepentingan tertanggung maupununtuk kepentingan penanggung, serta pihak ketiga yang mempunyai keterkaitanh dengan perjanjian asuransi.

Adapun dokumen penting yang ada dalam setiap perjanjian asuransi termasuk dalam hal ini asuransi jiwa BNI Life adalah sebagai berikut :89

1) Form Aplikasi

Merupakan form yang memuat berbagai macam keterangan yang berkaitan dengan penutupan asuransi. Form tersebut antara lain memuat tentang identitas

88

Hasil Wawancara dengan Gemala PS.SN, Finansial Consultant BNI Life Cabang Pekanbaru Riau.

89

Hasil Wawancara dengan Gemala PS.SN, Finansial Consultant BNI Life Cabang Pekanbaru Riau.

calon tertanggung, jenis pertanggungan, obyek yang dipertanggungkan, besarnya pertanggungan, lama waktu pertanggungan sertabesarnya premi yang harus dibayar calon tertanggung, serta hal penting lainnya.

Calon tertanggung dalam perjanjian asuransi dipersyaratkan untuk mengisi dan mengajukan aplikasi permohonan membeli asuransi meskipun pada kenyataannya yang melakukan pengisian adalah agen asuransi, namun tanda tangan harus dibubuhkan oleh calon tertanggung sendiri.

2) Kwitansi Premi

Kwitansi premi merupakan dokumen penting dari perajanjian asuransi,

karena tidak hanya secara materiil saja yang menunjukkan bahwa premi telah dibayar, akan tetapi kwitansi tersebut juga merupakan alat bukti

pembayaran yang sah tentang telah terjadinya perjanjian asuransi terutama pada saat polis asuransi belum diterbitkan oleh penanggung atau lembaga

asuransi. Kwitansi juga merupakan kelangkapan alat bukti yang

dipersyaratkan untuk mengajukan klaim apabila terjadi risiko yang menimpa diri tertanggung

3) Polis

Polis merupakan dokumen penting dalam perjanjian asuransi karena polis memuat berbagai hal yang berkaitan dengan perjanjian asuransi. Polis merupakan alat bukti yang menunjukkan tentang adanya hak-hak dan

kewajiban-kewajiban baik tertanggung maupun penanggung.Hak tertanggung sebagaimana tertulis dalam polis adalah hak tertanggung atas penggantian kerugian oleh penanggung terhadap terjadinya risiko yang diderita dan kewajiban tertanggung atas pembayaran sejumlah uang premi asuransi sesuai kesepakatan.

Dengan adanya tandatangan polis oleh penanggung, maka dapat dikatakan bahwa penanggung telah terikat dengan tertanggung terhadap segala hak dan kewajiban sebagaimana tertuang dalam polis. Kandungan polis atau isi polis itu antara lain adalah :

a) Deklarasi

Deklarasi merupakan pernyataan yang dibuat oleh tertanggung, sumber informasi mengenai risiko, dasar pengeluaran polis serta penentuan besarnya premi. Deklarasi antara lain memuat; identitas tertanggung/ penanggung, nilai pertanggungan, ketentuan mengenai obyek pertanggungan serta masa pertanggungan. Informasi mengenai hal tersebut diperoleh baik secara lisan maupun secara tertulis dalam form aplikasi permohonan penutupan asuransi yang ditandatangani calon tertanggung.

b) Pasal Pertanggungan

Pasal pertanggungan selanjutnya disebut klasula, merupakan bagian terpenting dari suatu polis, karena dari klausula tersebut dapat dilihat ketentuan

tentang risiko yang ditanggung dalam perjanjian. Dengan demikian tanggung jawab penanggung dalam hal terjadinya penggantian terhadap risiko yang terjadi dapat diketahui oleh tertanggung.

c) Pengecualian

Setiap polis dalam perjanjian asuransi akan memuat bagian yang mengatur secara tegas ketentuan mengenai pengecualian. Tertanggung oleh karenanya harus tahun apa saja yang dikecualikan dalam penutupan perjanjian asuransi itu.

d) Kondisi

Kondisi yang dimaksud di dalam polis adalah tentang rincian tugas masing-masing pihak sehubungan dengan penutupan asuransi. Mengingat bahwa perjanjian asuransi merupakan kontrak bersyarat, maka ada keharusan dari tertanggung untuk memahami kondisi-kondisi tertentu dan tidak mengharapkan penanggung akan memenuhi kewajibannya menurut kontrak jika ia tidak memenuhi kondisi yang diharuskan dalam perjanjian. Kondisi sebagaimana diuraikan tersebut diantaranya adalah menyangkut pembayaran premi atau pertanggungan-pertanggungan lainnya.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa dalam suatu perjanjian asuransi tahapan ini keterikatan hubungan tertanggung/pemegang polis dengan pihak perusahaan asuransi jiwa sebagai penanggung muncul sejak adanya kata sepakat

dari kedua pihak dengan polis sebagai bukti autentiknya. Secara umum inilah yang disebut sebagai perjanjian konsensual. Keterikatan itu dibuktikan dengan diterbitkannya polis asuransi jiwa. Substansi polis tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang pertanggungan (asuransi) sebagaimana dijelaskan diatas.

Hal ini tentunya berbeda dengan pengikatan asuransi dengan menggunakan

telemarketing, dimana pengikatannya atau persetujuan atas kesepakatan untuk ikut asuransi hanya merupakan perjanjian pra kontrak. Dalam tahap pra kontrak ini seperti yang dilakukan oleh agen atau wiraniaga BNI Life ini calon nasabah (calon tertanggung) akan memilih asuransi mana yang cocok dengan objek asuransi seperti asuransi jiwa yang diselenggarakan oleh BNI Life serta kemampuan untuk membayar preminya.

Untuk menentukan asuransi yang dipilihnya, maka calon nasabah (calon tertanggung) akan diberikan informasi melalui telepon atau saran

tekekomunikasi lainnya dan mempelajarinya secara singkat tentang ketentuan (klausul) dalam perjanjian asuransi yang ditawarkan. Dalam perjanjian asuransi berisi ketentuan-ketentuan yang merupakan ketentuan standar perusahaan asuransi, meskipun merupakan standar akan tetapi tidak sedikit antara perusahaan asuransi yang satu berbeda dengan perusahaan asuransi lainnya. Dari ketentuan tersebut calon nasabah (calon tertanggung) akan menentukan pilihnya. Apabila cocok,

maka ia akan “mengambil” asuransi tersebut. Namun apabila tidak cocok, maka ia akan memilih asuransi lainnya.90

Dengan demikian, pada tahap pra kontrak ini seperti halnya pra kontrak dengan menggunakan telemarketing pengikatan asuransi jiwa pada BNI Life

menurut hukum belum terjadi atau belum melakukan perbuatan hukum apapun. Akan tetapi, pada saat kesepakatan melalui telemarketing ini akan diperoleh

kejelasan mengenai ketentuan hukum yang nantinya akan mengikat kedua pihak dan kemampuan finansial dari calon tertanggung sebagai pertimbangan saja

baik bagi calon nasabah (calon tertanggung).

90

BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERTANGGUNG TERHADAP

PENGGUNAAN TELEMARKETING DALAM

PENGIKATAN ASURANSI.

A.Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Penggunaan Telemarketing Dalam Pengikatan Asuransi Jiwa

1. Hak dan Kewajiban Perjanjian Asuransi Jiwa pada Umumnya

Dalam perjanjian asuransi, seperti diketahui bahwa implikasi dari sebuah perjanjian pada umumnya, demikian juga pada asuransi jiwa BNI Life ini, setelah dilakukannya penandatangan polis antara para pihak terdapat suatu hubungan hukum yang saling mengikat serta menimbulkan hak dan kewajiban yan harus dipenuhi oleh semua pihak.

Santoso Poedjosoebroto, menjelaskan pengertian para pihak adalah sebagai berikut :

Dalam artian yang sempit, maka yang dimaksud para pihak adalah pengambil asuransi/tertanggung dan penanggung, akan tetapi jika diberikan dalam artian yang lebih luas, maka yang dimaksud para pihak bukan saja pengambil asuransi/tertanggung dan para penanggung melainkan pula

orang-orang lain yang dipertanggung untuk adanya perjanjian pertanggungan dari mereka yang dapat diperoleh hak dari perjanjian itu.91

Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas, maka dalam pelaksanaan asuransi jiwa pada BNI Life terdapat beberapa pihak, yaitu (1) Penanggung, (2) Pemegang Polis/Tertanggung dan (3) Tertunjuk/penerima faedah.

1. Menurut KUHD

Mengenai hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian asuransi secara tegas dalam Pasal 246 KUHD secara tersirat telah termuat dalam pengertian asuransi itu sendiri, di mana penanggung berhak menikmati suatu premi dan berkewajiban memberikan ganti rugi atas suatu kerugian tertanggung. Sedangkan tertanggung berkewajiban membayar premi dan berhak atas ganti rugi atas suatu kerugian sesuai perjanjian.92

Untuk lebih jelasnya mengenai hak dan kewajiban para pihak dalam asuransi jiwa ini dapat dilihat

a. Hak dan Kewajiban Penanggung

Dalam KUHD mengenai penanggung, baik dalam perjanjian asuransi umum ataupun dalam asuransi khusus, tidak dijumpai sedikitpun petunjuk

91

Santoso Poedjosoebroto, Beberapa Aspek Tentang Hukum Pertanggungan Jiwa di Indonesia, Bharata, Jakarta, 1969, Hal. 117.

92

Gemala Dewi, Perbankan dan Perasuransian Syari’ah di Indonesia, Prenada Media, Jakarta, 2004, hal. 179-180.

bahwa penanggung haruslah suatu maskapai atau perseroan terbatas ataupun suatu badan hukum lainnya.93

Ketentuan dalam hukum perdata memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk menjadi para pihak dalam suatu perjanjian, tentunya dengan persyaratan tertentu pula. Namun, khusus bagi pihak penanggung dalam perjanjian asuransi diatur dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Perasuransian.

Dalam Pasal 7 Undang-undang Usaha Perasuransian dinyatakan tentang bentuk badan hukum bagi usaha perasuransian, yaitu :

a. Perusahaan Perseroan

b. Koperasi

c. Perseroan Terbatas d. Usaha Bersama (mutasi)

Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa, per-seorangan tidak diperkenankan menjadi penanggung. Hal ini dapat dipahami karena perjanjian asuransi berlangsung dalam jangka waktu yang lama di samping juga membutuhkan biaya besar.

2. Menurut Isi Polis

a. Hak dan Kewajiban Penanggung

Berdasarkan penelaahan pada polis Asuransi Jiwa BNI Life dijelaskan beberapa hak dari pihak penanggung, yaitu :

93

1. Hak atas premi, yang selama pertanggungan itu berjalan pemegang polis atau tertanggung harus membayar premi pertanggungannya untuk dimasukkan ke dalam rekening tabungan dan rekening khusus peserta.

2. Hak untuk menghentikan perjanjian pertanggungan, bilamana pemegang

polis/tertanggung tidak melaksanakan pembayaran premi sebagaimana yang disepakati.

3. Hak untuk menolak pembayaran klaim, apabila tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam perjanjian.

Kewajiban-kewajiban dari penanggung adalah :

1. Kewajiban untuk menyerahkan polis yang telah ditandatanganinya kepada tertanggung.

2. Kewajiban untuk membayar klaim

Kewajiban ini akan diberikan jika pemegang polis/tertanggung mengalami musibah kematian ataupun hidup sampai dengan akhir perjanjian. Jika Pemegang Polis/peserta meninggal dunia dalam masa perjanjian, maka tertunjuk harus menyerahkan dokumen-dokumen sebagai berikut :

(a) Polis asli

(b) Bukti pembayaran terakhir

(d) Surat keterangan dari dokter yang menyebutkan sebab atau hal yang menyebabkan kematiannya.

Sedangkan apabila pemegang polis/tertanggung, hidup sampai akhir perjanjian, maka dokumen yang diserahkan adalah sebagai berikut :

(a) Polis asli

(b) Bukti pembayaran terakhir (c) Fotocopy identitas diri.

b. Hak dan Kewajiban Pemegang Polis

Dalam asuransi jiwa termasuk pada polis asuransi BNI Life, pemegang polis merangkap sebagai tertanggung, karena pemegang polis hanya mempertanggungkan jiwanya sendiri, bahkan dalam prakteknya mereka menggunakan istilah “peserta”.

1) Hak pemegang Polis/Tertanggung Adapun hak pemegang polis adalah :

(a) Hak untuk menunjukkan orang yang akan menerima manfaat asuransi

(b) Hak atas pembayaran klaim dari penanggung

(c) Hak untuk merubah atau menggantikan orang yang akan menerima

manfaat asuransi

(e) Hak untuk menggadaikan polis

Menggadaikan yang dimaksud disini adalah hak menggadaikan kepada

penanggung, berhubung lazimnya diberikan dengan jumlah di bawah harga tunai.

2) Kewajiban Pemegang Polis/Tertanggung

(a) Kewajiban untuk memberikan keterangan yang diperlukan oleh penanggung.

(b) Kewajiban untuk membayar premi

Pembayaran premi merupakan kewajiban terpenting, jika pemegang polis tidak membayarnya, penanggung dapat menuntut melalui hakim agar tertanggung dihukum atau membayar uang premi tersebut.

(c) Kewajiban untuk memberitahukan bilamana terjadi kekeliruan dalam pengisian aplikasi/formulir.

c. Hak dan Kewajiban Tertunjuk

Adapun hak-hak tertunjuk adalah hak untuk menerima manfaat asuransi, bilamana pemegang polis terlah meninggal dunia. Oleh karena itu kadang kedudukannya sama dengan pemegang polis. Sedangkan kewajiban tertunjuk adalah :

1) Memberitahukan kepada penanggung bahwa pemegang polis/tertanggung

tertunjuk, karena penanggung akan menyelidiki sebab kematian atau hal lain yang berkenaan kewajibannya saat ini.

2) Membuktikan wewenangnya untuk menerima manfaat asuransi, dalam hal ini ia harus menunjukkan identitas diri untuk disesuaikan dengan nama yang termuat di halaman depan polis.

3) Memperlihatkan bukti/kwitansi pembayaran terakhir, serta

dokumen-dokumen lain yang dianggap perlu.

4) Menyerahkan polis, dan perjanjian dianggap telah berakhir.

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa di dalam perjanjian asuransi jiwa BNI Life sebagaimana perjanjian pada umumnya dalam perjanjian asuransi juga diatur mengenai hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian baik penanggung, tertanggung maupun tertanggung tertunjuk.

2. Hak dan Kewajiban Penanggung Terhadap Tertanggung Jika Terjadi Klaim Lewat Telemarketing

Sebagaimana diketahui kesepakatan antara tertanggung dan penanggung itu dibuat secara bebas, artinya tidak berada di bawah pengaruh, tekanan, atau paksaan pihak tertentu. Kedua belah pihak sepakat menentukan syarat-syarat perjanjian asuransi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-undang Usaha Perasuransian ditentukan bahwa

penutupan asuransi atas objek asuransi harus didasarkan pada kebebasan memilih penanggung kecuali bagi program Asuransi Sosial.94

Ketentuan ini dimaksud untuk melindungi hak tertanggung agar dapat secara bebas memilih perusahaan asuransi sebagai penanggungnya. Hal ini dipandang perlu mengingat tertanggung adalah pihak yang paling berkepentingan atas objek yang diasuransikan, jadi sudah sewajarnya apabila mereka secara bebas tanpa pengaruh dan tekanan dari pihak manapun dalam menentukan penanggungnya.

Persetujuan atau kesepakatan yang diperoleh antara perusahaan asuransi yang dilakukan melalui telemarketing juga merupakan kesepakatan yang bebas, dimana calon tertanggung dapat menolak atau menerima informasi tentang keuntungan asuransi yang disampaikan melalui telemarketing. Jadi dengan terjadinya kesepakatan untuk ikut asuransi yang ditawarkan, maka walaupun secara tidak langsung dan belum terikat dalam suatu perjanjian namun kedua pihak memiliki kewajiban secara moril untuk memenuhi kesopakatan untuk memenuhi segala yang disepakati melalui telemarketing.

Adapun yang menjadi kewajiban penanggung dalam hal ini adalah menyediakan berbagai informasi yang sebenarnya tentang berbagai ketentuan asuransi yang semula ditawarkan tanpa ada yang disembunyikan sehingga janji

94

yang sebelumnya diutarakan melalui telemarketing dapat direalisasikan dalam bentuk perjanjian yang nyata. Demikian pula pihak calon tertanggung yang menyatakan setuju untuk ikut asuransi dapat menepati janjinya dan bersedia mengikuti berbagai persyaratan yang ditentukan.95

Dengan demikian, jelaslah bahwa walaupun hanya dilakukan melalui

telemarketing tetap diupayakan kedudukan yang seimbang antara para pihak dalam pra kontrak perjanjian asuransi termasuk dalam hal ini Asuransi Jiwa BNI

Life dan hubungan hukum nantinya ditentukan oleh adanya polis dan syarat umum yang menjadi bukti pengikat antara pihak penanggung dengan pihak tertanggung.

Semestinya ketentuan yang tertuang, baik dalam polis maupun syarat-syarat umum polis dibuat secara berimbang dan tidak merugikan konsumen dan perusahaan asuransi. Terutama dalam penetapan besarnya premi, tidak boleh merugikan tertanggung serta tidak mengancam kelangsungan perusahaan asuransi. Di samping itu, terdapat keharusan menyelesaikan klaim asuransi dengan sebaik-sebaiknya. Alasan yang dicari-cari untuk menolak klaim tertanggung seharusnya dihindarkan. Asas itikad baik (utmost good faith) harus diutamakan dalam pelaksanaan perjanjian asuransi.

95

Agar isi polis tidak merugikan tertanggung (konsumen), Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan RI No. 225/KMK.017/1993 tentang Penyelenggaraan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Dalam polis

dilarang pencantuman klausul yang dapat ditafsirkan bahwa tertanggung tidak dapat melakukan upaya hukum, sehingga harus menolok pembayaran klaim. Dalam hal dicantumkan klausul pengecualian (exemption clauses) tentang

risiko yang ditutup, klausul itu harus dicetak sedemikian rupa supaya mudah diketahui.

Namun demikian dalam prakteknya penerapan ketentuan tersebut tidak sebagaimana yang diharapkan karena dalam pelaksanaannya ketentuan tersebut termasuk dalam hal ini asas kebebasan berkontrak termasuk asas keseimbangan dalam perjanjian tidak sepenuhnya berjalan sebagaimana yang diharapkan. Padahal suatu perjanjian harus memenuhi asas utama dari suatu perikatan dan ketentuan syarat sahnya perjanjian yang tertuang dalam ketentuan Pasal 1338 jo Pasal 1320 KUH Perdata. Dengan dipenuhinya ketentuan tersebut, maka perjanjian tersebut akan sah dan mengikat para pihak yang membuatnya.

Dalam hal ini, dibenarkan oleh beberapa tertanggung yang berhasil ditemui bahwa dalam membuat perjanjian asuransi jiwa pada Asuransi Jiwa BNI

Life tertanggung biasanya hanya menyetujui saja isi kontrak yang ditawarkan. Pada umumnya mengatakan hanya memahami perjanjian yang dimuat merupakan

perjanjian dua pihak, dimana apabila setiap angsuran premi dibayar nantinya tentu akan diperoleh keuntungan sesuai dengan perjanjian dan dibayar sesuai ketentuan pastilah menguntungkan. Sedangkan mengenai asas kebebasan dalam berkontrak maupun ketentuan yang diatur dalam polis asuransi yang memberatkan seperti dengan keharusan melaksanakan kewajibannya tanpa dapat membela diri akibat suatu kejadian atau kondisi yang tidak terduga manimpanya maupun mereka tidak mengetahuinya.96

Menanggapi hal tersebut pihak perusahaan asuransi mengatakan bahwa pihaknya sebagai salah satu kantor cabang dari perusahaan asuransi yang berskala nasional hanya melaksanakan ketentuan yang telah menjadi ketentuan perusahaan. Berbagai persyaratan dan ketentuan yang termuat dalam polis merupakan kebijakan perusahaan. Kepada para nasabah hanya ditawarkan manfaat dari asuransi dan apabila disetujui akan dilanjutkan dengan diterbitkannya polis oleh kantor pusat. Jadi dalam hal ini adanya asas keseimbangan telah ada dari setuju atau tidaknya tertanggung tersebut.

Berdasarkan hasil analisis penulis terhadap ketentuan yang disepakati dalam

telemarketing dan yang diatur dalam polis tersebut apabila dikaitkan dengan ketentuan asas kebebasan berkontrak terlihat jelas merupakan suatu pelanggaran karena perjanjian tersebut hanyalah dibuat secara sepihak oleh perusahaan asuransi

96

sedangkan pihak tertanggung hanya memberi persetujuan saja. Dengan demikian kedudukan para pihak dalam perjanjian asuransi belum memenuhi ketentuan asas keseimbangan perjanjian karena polis dan syarat umum yang menjadi bukti pengikat antara pihak penanggung dengan pihak tertanggung hanya dibuat sepihak oleh perusahaan asuransi dan ketentuan yang diatur dalam polis juga memberatkan tertanggung.

Keberhasilan pelaksanaan perjanjian pada sebuah lembaga asuransi jiwa ditentukan oleh banyak hal, baik dari calon tertanggung atau dari pihak asuransi sendiri. Sebelum perjanjian asuransi diterbitkan dalam bentuk polis, agen asuransi sebagai wakil dari lembaga asuransi akan melakukan wawancara terlebih dahulu dengan calon tertanggung, mengenai aktifitas dan kesehatan tertanggung terutama dalam dua tahun terakhir. Sementara calon tertanggung harus menyampaikan seluruh fakta yang diketahuinya secara jujur tentang dirinya.

Keterangan secara jujur sangat penting bagi lembaga asuransi, mengingat dari keterangan tersebut akan dapat dianalisis resiko calon tertanggung, sehingga besaran premi yang harus dibayar dapat ditentukan. Di samping itu keterangan secara jujur dari tertanggung juga merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum perjanjian asuransi dibuat secara kongkrit dalam bentuk polis. Keterangan secara jujur akan menjadi prinsip yang sangat penting dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. Demikian pula halnya bagi perusahaan dalam

melaksanakan kewajibannya dalam pembayaran klaim dengan tidak mempermainkan tertanggung dengan berbagai persyaratan yang rumit.

Dalam asuransi istilah demikian disebut dengan itikad baik atau utmost good faith, yaitu setiap tertanggung berkewajiban memberitahukan secara jelas dan teliti mengenai segala fakta penting yang berkaitan dengan obyek yang diasuransikan serta tidak mengambil untung dari asuransi.97

Prinsip utmost good faith (concealment of material fact , non disclosure of material fact) dalam perjanjian asuransi sangat penting karena menyangkut hak dan kewajiban tertanggung serta penanggung di lain pihak. Pada prinsip

utmost good faith tertanggung pada saat melakukan mengajukan form aplikasi penutupan asuransi berkewajiban memberitahukan secara jelas dan teliti mengenai segala fakta penting yang berkaitan dengan dirinya atau obyek yang diasuransikan serta tidak berusaha dengan sengaja untuk mengambil untung dari penanggung.

Dengan kata lain tertanggung tidak menyembunyikan sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai cacat tersembunyi atau menutup-nutupi kelemahan dan kekurangan atas diri atau obyek yang dipertanggungkan, mengingat hal ini berkaitan erat dengan resiko, penetapan pembayaran premi serta kewajiban

97

Bronto Harsono, Prinsip Utmost Good Faith Dalam Pelaksanaan Perjanjian Asuransi Jiwa PT.Asuransi Jiwasraya (Persero) Di Regional Office Semarang, Tesis, Pascasarjana, Undip Semarang, 20005, hal 33.

penanggung jika terjadi kerugian yang diderita oleh tertanggung. Prinsip ini jika dicermati juga sesuai dengan implementasi Pasal 1320 dan Pasal 1338 KUH Perdata, bahwa perjanjian yang dibuat harus berdasarkan atas dasar sebab yang halal serta persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik. Apakah prinsip ini hanya menjadi kewajiban dari tertanggung (konsumen) atau juga mengikat terhadap pelaku usaha (penanggung/ lembaga asuransi).98

Dalam Pasal 4 butir c Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ditegaskan bahwa hak konsumen itu meliputi hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan atau jasa. Jelaslah kiranya bahwa lembaga asuransi sebagai penanggung juga terikat dengan prinsip ini, yaitu kewajiban menjelaskan risiko yang dijamin maupun yang dikecualikan secara jelas dan teliti.

Selanjutnya sebagaimana diketahui bahwa sudah menjadi kelaziman bahwa setiap perjanjian mewajibkan pelaksanaan secara adil, namun satu pihak tidak bertanggung jawab kepada pihak lain untuk memastikannya. Kewajiban demikian ada pada masing-masing pihak untuk melakukannya secara jujur sesuai dengan persyaratan dalam perjanjian.

98

Swady Halim, Permasalahan Umum Nasabah Asuransi Seminar dan Lokakarya Perkembangan Jurnalisme Ekonomi II, Lembaga Studi Pers dan Informasi, Semarang, Tanggal 9 Oktober 2000.

Bagaimana akibatnya apabila persyaratan yang ditetapkan menurut undang-undang ternyata tidak dapat dipenuhi oleh para pihak yang membuatnya, misalnya terdapat cacat kehendak (cacat kesehatan yang disembunyikan). Apabila ditelaah

Dokumen terkait