BAB I PENDAHULUAN
E. Tinjauan Perpustakaan
3. Pembuktian Perkara Pidana
Untuk memperoleh suatu peristiwa yang terjadi, diperlukan suatu proses kegiatan yang sistimatis dengan menggunakan ukuran dan pemikiran yang layak dan rasional. Kegiatan pembuktian dalam hokum acara pidana pada dasarnya diharapkan untuk memperoleh kebenaran yang sebenar-benarnya.
a. Pengertian Pembuktian
Pembuktian dalam hukum acara pidana (KUHAP) dapat diartikan sebagai _____________________
14..
Ibid, hal.221.
suatu upaya mendapatkan keterangan-ketarangan melalui alat-alat bukti dan barang bukti guna memperoleh suatu keyakinan atas benar tidaknya perbuatan pidana yang didakwakan serta dapat mengetahui ada tidaknya kesalahan pada diri terdakwa.15
Menurut Bambang Peornomo pembuktian adalah :
“ Suatu pembuktian menurut hukum pada dasarnya merupakan proses untuk menentukan substansi atau hakekat adanya fakta-fakta yang diperoleh melalui ukuran yang layak dengan pikiran yang logis terhadap
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
fakta-fakta pada masa lalu yang tidak terang menjadi fakta-fakta yang terang dalam hubungannya dengan perkara pidana “.16
Menurut Yahya Harahap pembuktian adalah :
“ Ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usahanya mencari dan mempertahankan kebenaran “.17
Mencari sesuatu pembuktian dalam pemecahan permasalahan dapat menyangkut berbagai hal yang menjadi alat ukur dalam menyelenggarakan pekerjaan pembuktian.
Adapun alat ukur tersebut antara lain adalah : 18
a. Bewijsgronden
Yaitu dasar-dasar atau prinsip-prinsip pembuktian yang tersimpul dalam pertimbangan keputusan pengadilan.
______________________________ 15
. Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia, Jakarta, 1984, hal.77.
16
Bambang Purnomo, Orientasi Hukum Acara Pidana Indonesia, Amarta Buku, Yoyakarta 1990, hal.38.
17.
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Pustaka Kartini, Jakarta, 1993, hal.22.
18
Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, hal.186.
b. Bewijsmiddelen
Yaitu alat-alat pembuktian yang dapat dipergunakan hakim untuk memperoleh gambaran tentang terjadinya perbuatan pidana yang sudah lampau.
c. Bewijsvoering
Yaitu penguraian cara bagaimana menyampaikan alat-alat bukti kepada hakim disidang pengadilan.
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
d. Bewijskracht
Yaitu kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti dalam rangkaian penilaian terbuktinya suatu dakwaan.
e. Bewijslast
Yaitu beban pembuktian yang diwajibkan oleh undang-undang untuk membuktikan tentang dakwaan dimuka sidang pengadilan.
b. Sistem Pembuktian Perkara Pidana
Di dalam hukum acara pidana dikenal beberapa macam teori pembuktian yang menjadi pegangan bagi hakim di dalam melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa di sidang pengadilan. Berdasarkan praktik peradilan pidana, dalam perkembangannya dikenal ada 4 (empat) macam sistem atau teori pembuktian. Masing-masing teori ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan menjadi ciri dari masing-masing sistem pembuktian ini. Adapun teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 19
______________________ 19.
Ibid, hal.187.
1. Conviction Intime
Conviction intime dapat diartikan sebagai pembuktian berdasarkan keyakinan hakim belaka. Sistem pembukt ian ini lebih memberikan kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan suatu putusan. Tidak ada alat bukti yang dikenal selain alat bukti berupa keyakinan seorang hakim. Artinya jika dalam pertimbangan putusan hakim telah menganggap terbukti suatu perbuatan sesuai dengan keyakinannya
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
yang timbul dari hati nurani, terdakwa yang diajukan kepadanya dapat dijatuhi putusan. Keyakinan hakim pada sistem ini adalah menentukan dan mengabaikan hal-hal lainnya jika sekiranya tidak sesuai atau bertentangan dengan keyakina hakim tersebut.
Bertolak pangkal pada pemikiran itulah maka teori berdasarkan keyakinan hakim melulu yang didasarkan kepada keyakinan hati nuraninya sendiri ditetapkan bahwa terdakwa telah melakukan perbuatan yang telah didakwakan.
Dengan sistem ini, pemidanaan dimungkinkan tanpa didasarkan kepada alat-alat bukti dalam undang-undang. Sistem ini dianut oleh peradilan juri di Prancis.20 Konsekuensi dari sistem pembuktian yang demikian tidak membuka kesempatan atau paling tidak menyulitkan bagi terdakwa untuk mengajukan pembelaan dengan menyodorkan bukti-bukti lainnya sebagai pendukung pembelaannya itu.
_____________________ 20.
Dikutip dari D.Simons, Beknopte Handleiding tot het Wetboek van Strafvordering, hal.149. Dalam , Andi Hamzah, Op.Cit, hal.248.
2. Conviction Rasionnee
Sistem pembuktian conviction rasionnee adalah sistem pembuktian yang tetap menggunakan keyakinan hakim tetapi keyakinan hakim didasarkan pada alasan-alasan (reasoning) yang rasional.
Berbeda dengan sistem conviction intime, dalam sistem ini hakim tidak lagi memiliki kebebasan untuk menentukan keyakinannya, keyakinannya itu harus diikuti dengan alasan-alasan yang mendasari
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
keyakinannya itu dan alasan-alasan itupun harus “reasonable “ yakni berdasarkan alasan yang dapat diterima oleh akal pikiran.
Sistem conviction rasionnee masih menggunakan dan mengutamakan keyakinan hakim didalam menentukan salah tidaknya seseorang terdakwa. Sistem ini tidak menyebutkan adanya alat-alat bukti yang dapat digunakan dalam menentukan kesalahan terdakwa selain dari keyakinan hakim semata-mata. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem ini hampir sama dengan sistem pembukt ian conviction intime yaitu sama-sama menggunakan keyakinan hakim, bedanya adalah terletak pada ada tidaknya alasan yang rasional yang mendasari keyakinan hakim. Jika dalam sistem conviction intime keyakinan hakim bebas tidak dibatasi oleh alasan-alasan apapun sementara dalam pembuktian conviction rasionnee kebebasan itu tidak ada tetapi terikat oeh alasan-alasan yang dapat diterima oleh akal sehat.
3. Positief Wettelijk Bewijstheorie
Sistem ini adalah sistem pembuktian berdasarkan alat bukti menurut undang-undang secara positif. Pembuktian menurut sistem ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat bukti yang sebelumnya telah ditentukan dalam undang-undang. Untuk menentukan ada tidaknya kesalahan seseorang, hakim harus mendasarkan pada alat-alat bukti
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
yang tersebut di dalam undang-undang jika alat bukti tersebut telah terpenuhi, hakim sudah cukup beralasan untuk menjatuhkan putusannya tanpa harus timbul keyakinan terlebih dahulu atas kebenaran alat-alat bukti yang ada.
Sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif adalah sistem pembuktian yang bertolak belakang dengan teori pembuktian menurut keyakinan atau conviction intime. Keyakinan hakim dalam teori ini tidak diberikan kesempatan dalam menetukan ada tidaknya kesalahan terdakwa, keyakinan hakim harus dihindari dan tidak dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kesalahan seseorang.
Pembuktian berdasarkan undang-undang yang secara positif ini mempunyai keuntungan untuk mempercepat penyelesaian perkara dan bagi perkara pidana yang ringan dapat memudahkan hakim mengambil keputusan karena resiko kekeliruan kemungkinan kecil sekali.21
__________________________
21.
Rusli Muhammad, Op.Cit, hal.189.
Dalam peradilan pidana terutama pada waktu mengadili perkara yang tidak ringan sudah banyak keberatannya untuk menggunakan teori pembuktian menurut undang-undang secara positif karena ada kecenderungan dengan mutlak memperlakukan pemeriksaan perkara secara inquisitoir dan apabila sudah dapat pengakuan terdakwa atau keterangan saksi-saksi, wajib diputus terbukti dan dipidana oleh hakim
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
sekalipun dapat dirasakan pengakuan dan keterangan itu bohong sebagai versi buatan.22
4. Negatief Wettelijk Bewisjtheorie
Negatief wettelijk bewisjtheorie ataupun pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif adalah pembuktian yang selain menggunakan alat-alat bukti yang dicantumkan di dalam undang- undang juga menggunakan keyakinan hakim.
Sekalipun menggunakan keyakinan hakim, namun keyakinan hakim terbatas pada alat bukti yang tercantum dalam undang-undang.
Dengan menggunakan alat bukti yang tercantum dalam undang-undang dan keyakinan hakim maka teori pembuktian ini sering juga disebut pembuktian berganda ( doubelen grondslag).
Sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatief adalah sistem yang menggabungkan antara sistem pembuktian menurut
undang-undang secara positif dan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction intime, dari hasil penggabungan kedua sistem yang saling bertolak belakang tersebut, terwujudlah suatu sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif.
Inti ajaran teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatief adalah bahwa hakim di dalam menentukan terbukti tidaknya perbuatan atau ada tidaknya perbuatan kesalahan terdakwa harus
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
berdasarkan alat-alat bukti yang tercantum di dalam undang-undang dan terhadap alat-alat bukti tersebut hakim mempunyai keyakinan terhadapnya. Jika alat bukti terpenuhi tetapi hakim tidak memperoleh keyakinan terhadapnya, hakim tidak dapat menjatuhkan putusan yang sifatnya pemidanaan. Sebaliknya sekalipun hakim mempunyai keyakinan bahwa terdakwa adalah pelaku dan mempunyai kesalahan, tetapi jika tidak dilengkapi dengan alat-alat bukti yang sah, ia pun tidak dapat menjatuhkan putusan pidana tetapi putusan bebas.
Di dalam KUHAP Pasal 183 berbunyi :
“ Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya “.
Ketentuan tersebut memperlihatkan bahwa dalam pembuktian diperlukannya sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan keyakinan hakim. Kedua syarat ini harus ada dalam setiap pembuktian dan dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut, memungkinkan hakim menjatuhkan pidana kepada seorang terdakwa, sebaliknya jika kedua hal ini tidak terpenuhi berarti hakim tidak dapat menjatuhkan pidana kepada terdakwa.
Dari penjelasan tersebut, nyatalah bahwa sistem pembuktian yang dianut KUHAP adalah sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif (negatief wettelijk bewijstheorie ) karena kedua syarat yang harus dipenuhi dalam sistem pembuktian ini telah terjermin dalam Pasal 183 KUHAP dan dilengkapi
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
Pasal 184 KUHAP dengan menyebutkan yang menyebutkan alat-alat bukti yang sah.
Sistem pembuktian yang dianut KUHAP itu :23
a. disebut wetelijk atau menurut undang-undang karena untuk pembuktian undang-undanglah yang menentukan tentang jenis danbanyaknya alat bukti yang harus ada.
b. disebut negatief karena adanya jenis-jenis dan banyaknya alat-alat bukti yang ditentuakan oleh undang-undang itu belum dapat membuat hakim harus menjatuhkan putusan pidana bagi seorang terdakwa apabila jenis-jenis dan banyaknya alat-alat bukt i itu belum dapat menimbulkan keyakinan pada dirinya bahwa suatu tindak pidana itu benar-benar telah terjadi dan bahwa terdakwa telah bersalah melakukan tindak pidana tersebut.
c. Alat Bukti yang Sah Menurut KUHAP
Di dalam pemeriksaan persidangan perkara pidana maka menurut Pasal 184 KUHAP ada 5 ( lima ) alat bukti yang sah, diantaranya adalah :
________________________ 23.
Rusli Muhammad, Op.Cit, hal.189.
1. Keterangan Saksi
Alat bukti keterangan saksi merupakan alat bukti yang paling berperan dalam pemeriksaan perkara pidana. Hampir semua pembuktian perkara pidana selalu berdasarkan pemeriksaan saksi.
Pasal 1 angka 27 KUHAP menyebutkan :
“ Keterangan saksi adalah salah satu bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang didengar, lihat, dan alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu”.
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
Pasal 1 angka 26 KUHAP menyebutkan :
“ Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri “.
Syarat-syarat keterangan saksi sah menurut hukum adalah sebagai berikut :24 1) Pasal 160 ayat 3 KUHAP saksi harus mengucapkan sumpah atau janji
sebelum memberikan keterangannya.
2) Keterangan saksi harus mengenai peristiwa pidana yang saksi lihat, dengar, dan alami sendiri dengan menyebutkan alasan pengetahuannya. 3) Keterangan saksi harus diberikan dimuka sidang pengadilan ( kecuali yang
di tentukan pada Pasal 162 KUHAP ).
4) Pasal 185 ayat 2 keterangan seorang saksi saja tidak cukup membuktikan kesalahan terdakwa ( unur testis nullus testis ).
5) Kalau ada beberapa saksi terhadap beberapa perbuatan, kesaksian itu sah menjadi alat bukti dan apabila saksi satu dengan yang lain terhadap perbuatan itu berhubungan dan bersesuaian, untuk nilainya diserahkan hakim.
_________________________ 24
Dahlan Sofyan, Ilmu Kedokteran Forensik dan Penegak Hukum, Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2000, hal.33.
Keterangan saksi yang memenuhi syarat-syarat tersebut di atas dapat diterima sebagai alat bukti yang sah dan mempunyai nilai kekuatan pembuktian. Penilaian terhadap keterangan saksi bergantung pada hakim dimana hakim bebas, tetapi bertanggung jawab menilai kekuatan pembuktian keterangan saksi untuk mewujudkan kebenaran hakiki.
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
Pasal 1 angka 28 KUHAP berbunyi :
“Keterangan ahli yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus hal yang diperlukan untuk membuat tentang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan”.
Pasal 179 angka 1 KUHAP dapat dikategorikan dua kelompok ahli, yaitu ahli kedokteran dan ahli-ahli lainnya.
Syarat sahnya keterangan ahli yaitu :25 1. keterangan diberikan kepada ahli.
2. memiliki keahlian khusus dalam bidang tertentu. 3. menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. 4. diberikan dibawah sumpah.
Keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1) dengan cara meminta keterangan ahli pada taraf penyidikan sebagaimana Pasal 133 KUHAP. Menurut pasal ini keterangan ahli diberikan secara
_____________________ 25
Ibid, hal.42.
tertulis melalui surat. Atas permintaan ini ahli menerangkan hasil pemeriksaannya dalam bentuk laporan.
2) keterangan ahli diberikan secara lisan dan langsung di pengadilan ( Pasal 179 dan Pasal 186 KUHAP ). Pada prinsipnya alat bukti keterangan ahli tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang mengikat dan menentukan. Dengan demikian nilai keterangan pembuktian keterangan ahli sama dengan nilai kekuatan yang melekat pada alat bukti keterangan
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
saksi namun penilaian hakim ini harus benar-benar bertanggung jawab atas landasan moril demi terwujudnya kebenaran materiil.
Tabel 2
Perbedaan Keterangan Ahli dan Keterangan Saksi. 26
Keterangan Ahli Keterangan Saksi
Dari Segi Subjeknya
Tidak semua orang dapat memberikan keterangan, hanya orang-orang tertentu yang dapat memberikan keterangan yaitu bagi mereka yang memiliki pengetahuan khusus tentang masalah yang dihadapi.
diberikan kepada setiap orang, tidak terbatas pada siapapun yang penting ia melihat, mengetahui dan mengalami sendiri tentang kejahatan yang diperiksa.
Dari Segi keterangannya
Hanya merupakan pendapat seorang ahli tentang suatu masalah yang ditanyakan.
Yang disampaikan adalah peristiwa dan kejadian yang berhubungan langsung dengan kejahatan yang terjadi.
Dari Segi Sumpah
Saya bersumpah bahwa
akan memberikan keterangan yang sebenarnya
tidak lain dari yang sebenarnya.
Saya bersumpah akan memberikan
keterangan yang sebaik-baiknya tidak lain daripada yang sebaik-baiknya.
_____________________________ 26.
Rusli Muhammad, Op.Cit, hal.153. 3. Alat Bukti Surat
Menurut Pasal 187 KUHAP surat yang dapat dinilai sebagai alat bukti yang sah adalah yang dibuat atas sumpah jabatan atau yang dikuatkan dengan
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
1) berita acara atau surat resmi yang dibuat pejabat umum yang berwenang tentang kejadian atau keadaan yang dialami, didengar atau dilihat pejabat itu sendiri, misalnya akta notaris.
2) surat yang berbentuk menurut undang-undang atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk tata laksana yang menjadi tanggung jawab dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau keadaan 3) surat keterangan dari seorang ahli.
4) surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungan dengan isi dari alat bukti yang lain, misalnya selebaran.
4. Alat Bukti Petunjuk
Pada prinsipnya alat bukti petunjuk hanya merupakan kesimpulan dari alat lainnya sehingga untuk menjadi alat bukti perlu adanya alat bukti lainnya. Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk diatur pada Pasal 188 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana. Pasal tersebut memberikan pembuktian alat bukti petunjuk, yaitu perbuatan, kejadian atau keadaan yang mempunyai persesuaian antara yang satu dan yang lain atau dengan tindak pidana itu sendiri yang menunjukan ada suatu tindak pidana dan seorang pelakunya.27 Petunjuk sebagai alat bukti yang sah pada urutan keempat dari lima ti dengan nilai kekuatan pembuktian yang bebas.
Alat bukti petunjuk dengan nilai kekuatan pembuktian yang bebas, alat bukti petunjuk baru diperlukan dalam pembuktian apabila alat bukti yang lain dianggap hakim belum cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa.
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
5. Alat Bukti Keterangan Terdakwa
Keterangan terdakwa adalah salah satu alat bukti yang diakui dan ditempatkan pada urutan kelima, sebagaimana terlihat dalam Pasal 184 KUHAP. Keterangan terdakwa dapat dilihat dalam Pasal 189 KUHAP yang berbunyi :
1) keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. 2) keterangan terdakwa diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk
membantu menemukan bukti di sidang asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
3) keterangan terdakwa hanya dapat dipergunakan terhadap dirinya sendiri 4) keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia
bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya melainkan harus disertai dengan alat bukti lain.
Kata keterangan terdakwa dalam Pasal 189 KUHAP adalah hal yang baru dan belum dikenal dalam perundang-undangan kita meskipun perkataan tersebut sesungguhnya dalam bahasa Belanda telah digunakan dengan kata “verklaring vaan verdachte” yang artinya adalah “keterangan terdakwa” perkataan ini digunakan di dalam wetboek van straferdering yang berlaku di negeri Belanda. 28 _______________________
27.
Rusli Muhammad, Op.Cit, hal.197. 28.
Ibid, hal.198.
Pasal 189 KUHAP di atas tidak menunjukkan apa sesungguhnya wujud dari “keterangan terdakwa” tersebut, apakah berupa pengakuan atau penyangkalan terhadap tuduhan yang disampaikan kepadanya. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui wujud perkataan “keterangan terdakwa” dapat menggunakan pengertian dari istilah “ verklaring van verdachte “ yaitu setiap keterangan yang
Sri Ingeten Br Perangin Angin : Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan), 2008.
USU Repository © 2008.
diberikan oleh terdakwa, baik keterangan tersebut berisi pengakuan sepenuhnya dari kesalahan yang telah dilakukan oleh terdakwa maupun hanya berisi penyangkalan atau pengakuan tentang beberapa perbuatan atau beberapa keadaan yang tertentu saja.29