GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN DAERAH KABUPATEN TEGAL
4. Peminjaman buku tandon
4.3 Pemecahan Masalah
Dari permasalahan yang telah ditentukan, tentunya kita tidak dapat membiarkan keterbatasan yang ada sebagai alasan untuk tidak mengatasi masalah yang ada, seharusnya ada upaya untuk mencari solusi yang dapat dijadikan jalan keluar sebagai wujud pengembangan dan peningkatan mutu perpustakaan dan arsip daerah kabupaten Tegal. Adapun solusi atau pemecahan masalah yang dapat penulis sampaikan adalah :
commit to user
4.3.1 Pemanfaatan Katalog Yang Tidak Maksimal
Tujuan dari pembelian bahan pustaka adalah untuk kepentingan pengguna. Katalog perpustakaan mencatat data mengenai buku itu sehingga pembaca dapat menemukan informasi dengan cepat. Melihat begitu pentingnya katalogisasi bagi pengguna perpustakaan, maka sudah menjadi keharusan seorang pustakawan mampu memberi pemahaman dan pengarahan kepada pengguna untuk dapat memanfaatkan layanan katalog secara maksimal. Untuk mengatasi hal ini maka pendidikan pemakai sangatlah berguna, pendidikan pemakai perlu disampaikan dengan metode yang menarik agar pemakai dapat dengan mudah memahami dan mengerti dengan materi yang diberikan. Ada beberapa teknik atau metode yang dapat digunakan dalam perpustakaan daerah kabupaten Tegal antara lain:
1. Presentasi/ Ceramah
Kegiatan presentasi/ceramah ini dilakukan di ruang aula perpustakaan daerah kabupaten Tegal. Ruangan ini menampung sekitar 40 orang. Kita dapat mengundang pengguna yang sedang berkunjung di perpustakaan dan menjelaskan tentang pendidikan pemakai kepada mereka. Kegiatan ini dikemas seperti layaknya seminar ilmiah, dengan mengundang pembicara yang cukup dikenali oleh masyarakat. Hal ini ditujukan agar pengguna merasa tertarik terhadap kegiatan ini.
commit to user
2. Permainan dan Tugas Mandiri
Permainan tugas mandiri dilaksanakan melalui kerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di kabupaten Tegal. Karena letak perpustakaan daerah kabupaten tegal yang berdekatan dengan SDN Kudaile 05, Para guru seringkali memberi tugas dengan referensi yang ada pada layanan tandon. Sehingga mengharuskan para siswa mengunjungi layanan tandon.
Penggunaa dua metode ini ternyata masih belum mampu mengatasi kurangnya pemahaman pengguna tentang penggunaan katalog maka perlu dilakukan metode yang lain, antara lain :
1. Wisata Perpustakaan
Kegiatan wisata perpustakaan ini dapat dilakukan melalui perjalanan wisata mengenai layanan tandon. Dengan wisata ini pengguna dapat dijelaskan langsung oleh petugas layanan tandon, mengenai bagaimana cara mencari buku melalui lemari katalog, meminjam bahan pustaka layanan tandon, dan berbagai hal mengenai layanan tandon. Untuk lebih jelas mungkin dapat diperagakan langsung oleh pengguna melalui instruksi petugas.
2. Penggunaan Audio Visual
Kegiatan ini dapat dilaksanakan dalam ruang aula perpustakaan dan dapat dilakukan disela-sela kegiatan presentasi/ceramah. Pengguna yang datang disuguhi dengan tayangan mengenai bagaimana cara
commit to user
memanfaatkan layanan tandon. Tayangan hendaknya dibuat semenarik mungkin, agar pengguna tidak merasa bosan ketika menyaksikannya.
3. Penggunaan Buku Pedoman dan Pamflet
Penggunaan buku pedoman ini dapat dilakukan dengan pembuatan handbook atau buku pegangan. Untuk menghemat biaya, buku dan pamflet ini hendaknya dibuat sesederhana dan sejelas mungkin. Sehingga pengguna dengan cepat mampu menangkap apa yang diuraikan didalamnya.
4.2.3 Penyusunan Bahan Pustaka pada Rak Tidak Beraturan
Klasifikasi menurut Mudyana dan Royani (1987 : 7) adalah suatu pendekatan yang formal kepada buku dan bahan bacaan lainnya. Dengan klasifikasi akan memudahkan keberlangsungan suatu perpustakaan dalam menyebarkan informasi. Adapun tujuan utama dari penggunaan klasifikasi adalah untuk memudahkan penelusuran atau pencarian dan penempatan kembali bahan pustaka yang digolongkan tersebut. Dari tujuan tersebut sudah seharusnya perpustakaan menyusun bahan pustaka yang ada berurutan sesuai dengan urutan nomor kalsifikasi, dengan demikian efesiensi waktu akan tercipta dan penemuan kembali bahan pustaka akan semakin mudah.
Perpustakaan daerah kabupaten Tegal yang telah menggunakan sistem klasifikasi DDC sudah seharusnya mengetahui sistem klasifikasi DDC, diberi nama desimal karena sistem tersebut mengatur semua pengetahuan sebagaimana
commit to user
nomor 000 sampai 900. Desimal sama dengan persepuluh, artinya setiap bilangan dibagi menjadi sepuluh lalu selanjutnya di bagi sepuluh lagi. Karena hal inilah perpustakaan daerah kabupaten Tegal hendaknya mampu membenahi penyusunan buku berurutan dari subjek besar (kelas utama) menjadi kecil (divisi), lalu dibagi lagi menjadi lebih kecil (seksi) dan lebih rinci lagi (tabel lengkap). Begitu pula pengurutan buku yang bernomor sama akan tetapi berbeda pengarangnya, maka pengurutan hendaknya disesuaikan berdasarkan abjad nama pengarang, karena selama ini yang penulis saksikan pada lapangan ternyata letak buku belum saling berurutan satu sama lain.
Hal tersebut di atas menyebabkan lamanya proses penemuan buku yang hendak dipinjam oleh pengguna. Jika kita kembali pada visi perpustakaan daerah kabupaten Tegal yakni ” Tewujudnya masyarakat membaca dan belajar menuju masyarakat yang sadar informasi”, maka permasalahan ini tentunya akan menghambat masyarakat pengguna dalam memperoleh informasi seperti yang tercantum dalam visi. Karena hal inilah sudah sepatutnya perpustakaan berbenah diri untuk senantiasa memberikan layanan yang semaksimal dan seoptimal mungkin sehingga tujuan perpustakaan dalam menciptakan masyarakat yang sadar informasi akan terwujud.
Petugas perpustakaan hendaknya menyadari betul visi yang seharusnya mereka emban dalam menjalankan tugasnya di perpustakaan, karena tanpa kerja keras visi yang selama ini telah ditetapkan tidak akan terwujud. Oleh karena hal itu maka sudah menjadi kewajiban bagi petugas perpustakaan
commit to user
untuk memanfaatkan dengan semaksimal mungkin waktu yang ada, sehingga permasalahan lamanya proses penemuan buku yang hendak dipinjam dapat teratasi atau dalam kata lain telah menghasilkan suatu layanan yang optimal di dalam perpustakaan.
commit to user
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan
Layanan tandon di Perpustakaan Daerah Kabupaten Tegal memiliki sistem yang berbeda dengan layanan lainnya yang ada di perpustakaan, layanan ini menggunakan sistem tertutup. Berdasarkan hasil pengamatan penulis mengenai layanan tandon, penulis mengambil beberapa kesimpulan yaitu :
1. Dari alur yang berdasarkan pada pengamatan penulis, prosedur layanan tandon dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pengguna memasuki perpustakaan
b. Pengguna mencari buku yang diinginkan melalui lemari katalog, jika mereka belum paham cara pencarian maka petugas hendaknya membantu. c. Setelah pengguna menemukan apa yang diinginkannya, yang dilakukan
oleh mereka selanjutnya adalah mencatat call number buku dan masuk ruang layanan tandon.
d. Memasuki ruang layanan tandon, pengguna diharuskan mengisi buku kunjungan dan menyerahkan call number atau nomor panggil buku yang tertera pada katalog kepada petugas yang berjaga. Kemudian petugas mengecek keberadaan buku di rak, jika ternyata tidak ada atau dipinjam pengguna lain maka petugas berkewajiban memberikan alternatif pilihan kepada pengguna. Jika buku yang diinginkan pengguna terdapat di rak maka yang dilakukan petugas: mencatat nomor pada kartu buku yang
commit to user
tersimpan pada katalog buku, mencatat nomor anggota dan waktu bahan perpustakaan itu harus dikembalikan pada lembar tanggal kembali dan mencatat kode bahan perpustakaan dan waktu kembali. Kemudian ketika menyerahkannya kepada pengguna, petugas meminta pengguna membubuhkan tanda tangan pada kartu bahan perpustakaan.
e. Setelah pengguna memperoleh bahan pustaka yang diinginkannya pengunjung hanya dapat membacanya di dalam perpustakaan, adapun jika mereka ingin membacanya di rumah maka mereka harus memfotocopy bahan pustaka terlebih dahulu.
2. Adapun kendala yang dihadapi oleh perpustakaan daerah kabupaten Tegal dalam layanan tandon antara lain :
a. Pemanfaatan katalog yang tidak maksimal
b. Penyusunan bahan pustaka pada rak tidak berurutan 3. Pemecahan masalaah untuk menghadapi kendala yang ada :
a. Pemanfaatan katalog yang tidak maksimal, melalui pendidikan pemakai antara lain:
a.) presentasi atau ceramah b.) permainan tugas mandiri c.) Wisata perpustakaan d.) Penggunaan audio visual
e.) Penggunaan buku pedoman dan pamflet
commit to user
Membiasakan petugas dalam membenahi penyusunan buku sesuai dengan urutan DDC yakni berurutan dari subjek besar (kelas utama) menjadi kecil (divisi), lalu dibagi lagi menjadi lebih kecil (seksi) dan lebih rinci lagi (tabel lengkap). Begitu pula pengurutan buku yang bernomor sama akan tetapi berbeda pengarangnya, maka pengurutan hendaknya disesuaikan berdasarkan nama pengarang.
5.2 Saran
Setelah penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap pelaksanaan layanan tandon di perpustakaan, maka penulis memberi saran-saran yang barang kali bermanfaat bagi perpustakaan daerah kabupaten Tegal, yaitu :
5.2.1 Sarana Promosi Sebagai Penarik Minat Baca
Untuk meningkatkan pemanfaatan layanan tandon yang belum maksimal, maka sangat diperlukan promosi mengenai layanan tandon. Sehingga pengguna tidak lagi merasa kecewa karena harus pulang tanpa membawa informasi yang dibutuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan papan pengumuman yang bertujuan mempromosikan tentang bahan pustaka yang ada pada layanan tandon, berikut peraturan dan syarat penggunaannya.
5.2.2 Penyediaan Layanan Fotocopy di Dalam Perpustakaan
Mengingat layanan tandon adalah layanan dengan sistem tertutup maka perpustakaan perlu menyediakan layanan foto copy. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pengunjung yang akan foto copy buku dengan
commit to user
cepat dan mudah. Layanan ini hendaknya disediakan di dalam perpustakaan. Untuk efisien waktu, pengunjung tidak perlu keluar jika akan foto copy. Melihat anggaran perpustakaan daerah yang terbatas, maka akan sangat memberatkan jika perpustakaan harus membeli alat fotocopy menngunakan anggaran yang ada. Maka kebijakan yang perlu dipertimbangkan perpustakaan adalah pengadaan alat fotocopy dilakukan dengan bekerjasama dengan jasa fotocopy terdekat.
5.2.3 Memperbaiki Alur Prosedur Layanan Tandon
Melihat alur yang ada di perpustakaan, penulis merasa alur tersebut belum sesuai dengan pelaksanaan prosedur layanan tandon di perpustakaan daerah kabupaten Tegal. Sehingga perlu diperbaiki sehingga sesuai dengan alur yang terjadi dalam layanan tandon.
5.2.4 Petugas Hendaknya Menggunakan Waktu yang Ada dengan Baik
Dalam pembahasan telah dijelaskan bahwa salah satu kendala dari
layanan tandon adalah lambannya petugas dalam menemukan bahan pustaka yang diinginkan oleh pengguna perpustakaan yang disebabkan penataan bahan pustaka yang tidak beraturan. Karena hal inilah maka petugas perpustakaan hendaknya berbenah diri dengan merubah kebiasaan buruk ini, yakni dengan menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baik mungkin.
Jam buka perpustakaan yang cukup lama dengan pengunjung yang relatif sedikit semestinya ada banyak waktu untuk menata atau selving bahan pustaka di saat sepi pengunjung. Sehingga waktu yang dibutuhkan petugas
commit to user
untuk menemukan buku yang diinginkan pengguna dapat seefesien mungkin. Jika kita kembali pada visi perpustakaan daerah kabupaten Tegal, maka permasalahan ini tentunya akan menghambat masyarakat pengguna dalam memperoleh informasi seperti yang tercantum dalam visi. Karena hal inilah sudah sepatutnya perpustakaan berbenah diri untuk senantiasa memberikan layanan yang semaksimal dan seoptimal mungkin sehingga tujuan perpustakaan dalam menciptakan masyarakat yang sadar informasi akan terwujud.