• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemecahan untuk Kritik 1: Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas

Dalam dokumen Bab 13 Siklus Produksi (Halaman 29-35)

Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity-based costing—ABC) dapat memperbaiki dan meningkatkan alokasi biaya di bawah sistem biaya berdasarkan proses dan pesanan. Perhitungan ini mencoba untuk menelusuri biaya ke berbagai aktivitas yang menimbulkannya, seperti penghalusan dan pelapisan, dan secara berurutan hanya mengalokasikan biaya-biaya tersebut ke produk atau departemen. Tujuan yang mendasari perhitungan biaya berdasarkan aktivitas adalah untuk menghubungkan biaya ke strategi perusahaan. Strategi perusahaan menghasilkan keputusan tentang barang dan jasa apa

yang akan dibuat. Aktivitas harus dilakukan untuk nenghasilkan barang dan jasa ini, yang selanjutnya akan menimbulkan biaya. Jadi, strategi perusahaan menentukan biaya. Oleh karenanya, dengan mengukur biaya aktivitas dasar, seperti penanganan bahan baku atau pemrosesan pesanan pembelian, ABC dapat memberikan informasi pada pihak manajemen untuk mengevaluasi konsekuensi keputusan strategisnya.

Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas vs sistem biaya tradisional

Berikut ini adalah tiga perbedaan utama antara ABC dan pendekatan tradisional ke perhitungan biaya produk:

1. Sistem ABC mencoba untuk secara langsung menelusuri lebih banyak biaya overhead ke produk. Kemajuan dalam TI membuat hal ini memungkinkan. Contohnya, pemberian kode garis memfasilitasi penelusuran berbagai bahan yang digunakan dalam setiap produk atau tahapan proses. Ketika mengimplementasikan sistem ABC, para akuntan mengamati operasi produksi dan mewawancarai para pekerja pabrik dan supervisor untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana biaya berhubungan dengan produksi.

2. Sistem ABC menggunakan lebih banyak pool biaya untuk mengakumulasi biaya tidak langsung (overhead pabrik). Sementara sebagian besar sistem biaya tradisional menyatukan semua biaya overhead menjadi satu, sistem ABC membedakan overhead ke dalam tiga kategori terpisah:

• Overhead yang berhubungan dengan batch. Contoh meliputi biaya penyetelan, pemeriksaan dan penanganan bahan baku. Sistem ABC mengakumulasi biaya-biaya ini untuk satu batch dan kemudian mengalokasikannya ke unit yang diproduksi dalam batch tersebut. Jadi, produk yang dihasilkan dalam jumlah besar akan memiliki biaya overhead yang terkait dengan batch, lebih rendah untuk per unitnya daripada produk yang dihasilkan dalam jumlah kecil.

• Overhead yang berhubungan dengan produk. Biaya-biaya ini dihubungkan ke berbagai lini produk perusahaan. Contoh-contohnya meliputi penelitian dan pengembangan, pelepasan, pengiriman dan penerimaan, peraturan lingkungan, serta pembelian. Sistem ABC mencoba untuk menghubungkan biaya-biaya ini ke

produk tertentu jika memungkinkan. Contohnya, apabila sebuah perusahaan memproduksi tiga lini produk, salah satunya menghasilkan limbah berbahaya, sistem ABC akan membebankan semua biaya yang sesuai dengan peraturan lingkungan hanya ke satu rangkai produk tersebut. Biaya-biaya lainnya, seperti pembelian bahan baku, dapat dialokasikan antar produk berdasarkan jumlah relatif pesanan pembelian yang dibutuhkan untuk membuat setiap produk.

• Overhead keseluruhan pabrik. Kategori ini meliputi biaya-biaya seperti sewa atau depresiasi. Biaya-biaya ini berlaku untuk semua produk. Jadi, sistem ABC biasanya mengalokasikan biaya dengan menggunakan tarif departemen atau pabrik.

3. Sistem ABC mencoba untuk merasionalisasikan alokasi overhead ke produk dengan mengidentifikasi penggerak biaya. Penggerak biaya adalah apa pun yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan biaya. Contohnya, jumlah pesanan pembelian yang diproses adalah salah satu penggerak biaya dari biaya bagian pembelian; yaitu biaya total pemrosesan pesanan pembelian (contohnya, gaji bagian pembelian, perangko), dapat sangat berbeda sejalan dengan jumlah pesanan pembelian yang diproses. Seperti dalam contoh ini, penggerak biaya dalam sistem ABC sering kali merupakan variabel nonkeuangan. Sebaliknya, sistem perhitungan biaya tradisional sering kali menggunakan variabel keuangan, seperti nilai uang pembelian, sebagai dasar untuk mengalokasikan overhead pabrik.

Manfaat dari sistem ABC

Sistem ABC lebih mahal untuk dijalankan daripada sistem biaya tradisional karena sistem ini membutuhkan pengumpulan data yang lebih terkait dengan produksi dan lebih terinci. Sistem ABC juga lebih rumit, sebagian karena lebih banyak dasar yang digunakan untuk mengalokasikan overhead pabrik. Pendukung sistem ABC berargumentasi bahwa kenaikan biaya dan kerumitan tersebut memberikan dua manfaat: Data biaya yang lebih akurat menghasilkan bauran produk serta keputusan penetapan harga yang lebih baik, dan data biaya yang lebih terinci dapat meningkatkan kemampuan manajemen untuk mengendalikan serta mengelola total biaya.

Keputusan yang lebih baik. Sistem biaya tradisional cenderung membebankan terlalu banyak overhead ke beberapa produk dan terlalu sedikit ke produk lainnya, karena terlalu sedikitnya pengumpulan biaya yang digunakan. Hal ini mengarah pada dua jenis masalah, yang keduanya dialami oleh AOE. Pertama, perusahaan dapat menerima kontrak penjualan untuk beberapa produk dengan harga di bawah biaya produksi yang sesungguhnya. Akibatnya, walaupun penjualan meningkat, laba menurun. Kedua, perusahaan dapat menetapkan harga produk lainnya terlalu mahal, hingga mengundang pesaing baru untuk memasuki pasar. Ironisnya, apabila data biaya yang lebih akurat tersedia, perusahaan akan menemukan bahwa mereka dapat memotong harga untuk mencegah masuknya pesaing dari pasar dan tetap mendapatkan laba untuk setiap penjualan. Sistem ABC menghindarkan dari terjadinya masalah ini karena biaya overhead dibagi ke dalam tiga kategori dan dibebankan menggunakan penggerak biaya yang berhubungan sebab-akibat dengan produksi. Oleh karenanya, data biaya produk akan lebih akurat.

ABC juga menggunakan data untuk memperbaiki desain produk. Contohnya, biaya yang berhubungan dengan pemrosesan pesanan pembelian dapat digunakan untuk menghitung biaya overhead yang berkaitan dengan pembelian yang terkait dengan tiap komponen yang digunakan dalam barang jadi. Departemen teknis dapat menggunakan informasi ini, bersama dengan data mengenai pemakaian relatif berbagai komponen antar produk, untuk mengidentifikasi komponen-komponen khusus yang dapat digantikan dengan bagian yang lebih rendah biayanya dan umum.

Terakhir, data ABC meningkatkan pengambilan keputusan manajerial dengan menyediakan informasi mengenai biaya yang berhubungan dengan aktivitas tertentu, daripada hanya mengklasifikasikan biaya-biaya itu berdasarkan kategori laporan keuangan. Tabel 13-3 menunjukkan sebuah contoh tentang bagaimana pengaturan data ini dapat meningkatkan analisis manajerial dengan memfokuskan perhatian pada proses utama.

Peningkatan Pengelolaan Biaya. Para pendukung berargumentasi bahwa manfaat lain dari ABC adalah secara jelas mengukur hasil tindakan manajemen atas keseluruhan tingkat laba. Apabila sistem biaya tradisional hanya mengukur pengeluaran untuk

memperoleh sumber daya, sistem ABC mengukur baik jumlah yang dikeluarkan untuk memperoleh sumber daya maupun konsumsi sumber daya tersebut. Perbedaan ini dicerminkan dalam rumus berikut ini:

Biaya kapabilitas aktivitas = Biaya aktivitas yang digunakan + Biaya kapasitas yang tidak digunakan

Tabel 13-3 Perbandingan Perhitungan biaya Berdasarkan Aktivitas dan Alokasi Biaya Tradisional untuk Departemen Sistem Informasi

Sebagai gambaran, bayangkanlah fungsi penerimaan dalam perusahaan manufaktur seperti AOE. Biaya total pegawai bulanan di bagian penerimaan, termasuk gaji dan kompensasi, mencerminkan biaya untuk memberikan fungsi ini, yaitu menerima pengiriman dari para pemasok. Asumsikan bahwa biaya gaji bagian penerimaan adalah $100.000, dan asumsikanlah bahwa jumlah pegawai cukup untuk menangani 500 kiriman. Biaya per kiriman akan sebesar $200. Terakhir, asumsikanlah bahwa 400 kiriman benar-benar diterima. Sistem ABC akan melaporkan bahwa biaya aktivitas penerimaan yang digunakan adalah $80,000 ($200 x 400 kiriman) dan bahwa sisanya sebesar $20,000 dalam biaya gaji mencerminkan biaya kapasitas yang tidak digunakan.

Dalam cara ini, laporan kinerja dengan sistem ABC akan membantu mengarahkan perhatian manajerial ke bagaimana kebijakan dalam suatu area mempengaruhi biaya di

area lainnya. Contohnya, manajer bagian pembelian dapat saja memutuskan untuk meningkatkan jumlah pesanan minimum untuk mendapatkan diskon yang lebih besar bagi pembelian dalam jumlah besar. Hal ini akan mengurangi jumlah kiriman datang, yang seharusnya ditangani oleh bagian pembelian, hingga meningkatkan kapasitas yang tidak digunakan. Dalam cara yang hampir sama, tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasi, seperti meminta para penjual untuk mengirimkan produk dalam kontainer berkode garis, akan meningkatkan kapasitas praktik dan menghasilkan tambahan kapasitas yang tidak digunakan. Dalam kasus yang manapun, laporan kinerja ABC akan menekankan kelebihan kapasitas ini untuk menjadi perhatian pihak manajemen. Pihak manajemen kemudian dapat mencoba untuk meningkatkan laba dengan menggunakan kapasitas yang tidak digunakan tersebut untuk aktivitas penghasil pendapatan lainnya.

Kritik 2: Pengukuran Kinerja yang Tidak Akurat

Di dalam lingkungan produksi modern, fokus harus dipusatkan pada manajemen kualitas total. Akibatnya, para manajer membutuhkan informasi mengenai seberapa baik proses produksi berlangsung, termasuk tingkat kecacatan, frekuensi kerusakan mesin, persentase barang jadi yang diselesaikan tanpa pengerjaan ulang, serta persentase kecacatan yang ditemukan oleh pelanggan. Walaupun banyak dari informasi ini dikumpulkan dalam sistem informasi siklus produksi, di dalam sistem akuntansi biaya tradisional tidak diintegrasikan dengan data biaya. Oleh karenanya, ukuran kinerja operasi tidak secara langsung dihubungkan dengan konsekuensi keuangan mereka.

Bahkan, dalam banyak perusahaan, sistem akuntansi biaya telah dipisahkan dari sistem informasi operasi produksi. Sistem akuntansi biaya tersebut mengumpulkan data mengenai biaya produksi, menyimpan informasi itu dalam file barang dalam proses. Sistem informasi biaya produksi akan mengumpulkan data mengenai berbagai aspek fisik operasi produksi, menyimpan informasi itu dalam file perintah produksi yang belum diselesaikan. Akan tetapi, kedua jenis data berhubungan dekat dan keduanya dibutuhkan untuk secara efektif mengelola proses produksi. Contohnya, informasi real-time mengenai kualitas produksi memungkinkan perusahaan untuk mendeteksi dan memperbaiki

kecacatan dengan segera, sebelum tenaga kerja dan bahan baku tambahan digunakan. Oleh karenanya, baik data biaya maupun operasi harus diintegrasikan ke dalam satu sistem. Bahkan dalam sistem ABC biasanya membutuhkan kedua jenis data tersebut, dengan menggunakan data operasi sebagai penggerak untuk membebankan biaya ke produk.

Dalam dokumen Bab 13 Siklus Produksi (Halaman 29-35)

Dokumen terkait