2.2 Kerangka Teori
2.2.3 Jenis-jenis Perubahan Bunyi
2.2.3.14 Pemecahan Vokal
Pemecahan vokal (vowel breaking) adalah perubahan satu bunyi vokal menjadi diftong. Dalam proses ini, vokal asal tidak berubah tetapi menerima bunyi luncur yang ditambahkan sebelum atau sesudah bunyi tersebut. Jika bunyi luncur ditambahkan ke depan bunyi vokal, penambahan tersebut dinamakan on- glide dan jika bunyi luncur ditambahkan ke belakang vokal penambahan tersebut dinamakan off-glide.
Pengucapan kata bad bd dengan bd dan bid merupakan contoh pemecahan vokal melalui proses off-glide. Pengucapan cat dengan kjt dalam dialek bahasa Inggris Barbadia merupakan contoh pemecahan vokal melalui proses on-glide. Lihat beberapa contoh lainnya di bawah ini:
b. Kairiru
*pale pial rumah
*manu mian burung
*namu niam nyamuk
*ndanu rian air
*lako liak pergi
Sebagai catatan, contoh di atas juga merupakan contoh apakop, yakni hilangnya vokal pada posisi akhir kata.
2.2.3.15 Asimilasi
Asimilasi (assimilation) adalah perubahan bunyi yang diakibatkan oleh pengaruh bunyi yang berdekatan. Dua bunyi dikatakan lebih mirip secara fnetis antara satu dengan yang lain setelah terjadi perubahan bunyi (jika kedua bunyi yang berdekatan mempunyai kemiripan ciri fonetis) dibanding dengan sebelum perubahan bunyi terjadi. Jika perubahan bunyi mengakibatkan bertambahnya fitur (ciri) fonetis yang dimiliki kedua bunyi yang berdekatan, berarti asimilasi telah terjadi.
Sebagai contoh, klaster konsonan pada np, n dan p dapat saling mempengaruhi. Kedua konsonan mempunyai fitur-fitur fonetis sebagai berikut:
1.voiced (bersuara) voiceless (tidak bersuara)
2. alveolar bilabial
3. nasal stop
Bunyi n dapat kehilangan fitur nasalnya dan menggantikannya dengan fitur p yang mengikutinya yang dapat ditunjukkan dengan
*np → dp
Selain mengasimilasi fitur nasal, kita juga dapat mengasimilasi titik artikulasi dengan mengikuti fitur konsonan berikutnya dengan menghasilkan perubahan berikut:
*np → mp
Jika fitur kebersuaraan nasal menyerap ketidakbersuaraan bunyi hambat yang mengikutinya, diperoleh perubahan berikut:
*np → np
Contoh-contoh di atas mencakup perubahan satu fitur fonetis saja. Perubahan dua fitur fonetis secara serentak dapat terjadi seperti dalam contoh berikut:
*np → bp
(bunyi n hanya mempertahankan kebersuaraan nasalnya pada b tetapi menyerap keadaan artikulasi (manner of articulation) dan titik artikulasi (point of articulation) bunyi p yang mengikutinya secara serentak)
(bunyi n hanya mempertahankan titik artikulasi nasal alveolar pada t tetapi mengikuti fitur p dalam ketidakbersuaraan dan keadaan artikulasinya), dan
*np → mp
(bunyi n hanya mempertahankan kenasalannya tetapi menyerap ketidakbersuaraan dan titik artikulasi bunyi p yang mengikutinya).
Contoh-contoh di atas merupakan contoh-contoh asimilasi parsial (partial assimilation), karena bunyi yang mengalami perubahan selalu mempertahankan paling sedikit satu dari fitur-fitur fonetis bunyi aslinya yang membedakannya dari bunyi yang tidak mengalami perubahan. Jika semua fitur berubah untuk menyesuaikan diri dengan fitur-fitur bunyi lainnya, maka kedua bunyi itu menjadi identik yang dinamakan geminate (bunyi ganda secara fonetis) yang juga disebut sebagai asimilasi penuh yang dapat ditunjukkan dengan perubahan np menjadi pp.
Contoh-contoh asimilasi tersebut dinamakan asimilasi regresif (regressive assimilation) yang ditandai dengan pengaruh bunyi dari arah kanan ke kiri. Fitur-fitur p lah yang mempengaruhi Fitur-fitur-Fitur-fitur n yang mendahuluinya. Asimilasi seperti ini dapat ditunjukkan dengan A < B. Asimilasi yang berlawanan dengan asimilasi tersebut (kiri ke kanan) dinamakan asimilasi progresif (progressive assimilation) yang dapat ditunjukkan dengan A > B.
Asimilasi progresif juga dapat berwujud asimilasi progresif parsial dan asimilasi progresif total. Dalam lingkungan klaster konsonan np, asimilasi progresif parsial dapat menunjukkan perubahan-perubahan bunyi sebagai berikut: *np → nb (asimilasi kebersuaraan)
*np → nt (asimilasi titik artikulasi)
*np → nm (asimilasi keadaan artikulasi)
*np → nm (asimilasi dengan mempertahankan fitur tak bersuara p)
*np → nm ( asimilasi dengan mempertahankan fitur bilabial p)
*nd → nd (asimilasi dengan mempertahankan fitur stop p)
Dalam lingkungan yang sama, asimilasi progresif total dapat menunjukkan perubahan bunyi berikut:
*np → nn (tanpa menyerap satu pun dari fitur-fitur p)
Asimilasi titik artikulasi sangat sering terjadi dalam bahasa Inggris. Misalnya, in- dalam prefiks in- bervariasi menjadi im- di depan konsonan bilabial, i- di depan velar, dan in- di depan bunyi-bunyi lainnya, termasuk vokal) seperti dalam contoh-contoh berikut:
in-dvizbl inadvisable im-blns imbalance
i-knsidt inconsiderate in-dmisbl inadmissable
Dalam contoh-contoh di atas in- berasimilasi dengan titik artikulasi konsonan berikutnya (misalnya, fitur alveolar digantikan dengan fitur titik artikulasi bunyi berikutnya, yakni bilabial atau velar). Perubahan bunyi yang termasuk dalam palatalisasi juga merupakan perubahan asimilasi. Melalui proses ini, bunyi yang bukan palatal (misalnya, dental, alveolar, dan velar) berubah menjadi bunyi palatal, biasanya di depan vokal depan i atau e atau semi vokal j. Bunyi-bunyi yang termasuk dalam bunyi palatal adalah bunyi afriktif t dan d serta bunyi sibilan dan .
Selain dari asimilasi yang menghasilkan perubahan bunyi pada titik artikulasi, perubahan juga terjadi pada keadaan artikulasi. Lihat contoh berikut dalam bahasa Banoni, Provinsi Salomo Utara.
b.Bonani
*pekas → beasa kotoran
*wakar → baara akar
*pakan → vaana menambah daging
*tipi → tsivi tarian tradisional
*makas → maasa kelapa kering
Bunyi-bunyi hambat intervokalik pada contoh di atas berubah menjadi frikatif bersuara pada titik artikulasi yang sama. Vokal, nasal, frikatif, dan lateral mempunyai fitur fonetik kontinuan (continuant), pengucapannya dapat diteruskan atau dihentikan. Bunyi-bunyi ini merupakan kebalikan dari bunyi-bunyi yang mempunyai fitur non-kontinuan (non-continuant) seperti hambat, afrikatif, dan semi-vokal yang pengucapannya tidak dapat dihentikan. Perubahan bunyi hambat menjadi bunyi kontinuan di antara dua bunyi kontinuan lainnya merupakan contoh asimilasi pada keadaan artikulasi dan kebersuaraan.
Jenis perubahan bunyi lainnya adalah perubahan bunyi bersuara menjadi bunyi tidak bersuara pada posisi akhir kata (final devoicing). Bunyi-bunyi pada posisi akhir kata, khususnya hambat dan frikatif (tetapi kadang-kadang termasuk bunyi-bunyi lainnya, termasuk vokal) sering berubah dari bunyi bersuara menjadi bunyi tidak bersuara.
Perhatikan contoh berikut dalam bahasa Jerman: b. Jerman
*ba:d → ba:t mandi
*ta:g → ta:k hari
*hund → hunt anjing
*ga:b → ga:p beri
Asimilasi lainnya adalah asimilasi langsung ( assimilation at distance) sebagai kebalikan dari asimilasi langsung (immediate assimilation) yakni perubahan bunyi akibat pengaruh bunyi yang berdekatan baik yang mendahului maupun yang mengikuti seperti yang ditunjukkan dalam semua contoh di atas.
Pada asimilasi langsung, sebuah bunyi dipengaruhi oleh bunyi lain tidak secara langsung dari kiri ke kanan atau sebaliknya, tetapi mempunyai jarak pada posisi kata atau suku kata. Di Papua New Guine Selatan, ketika penutur bahasa Huli mengadopsi kata piksi ‘gambar’ dalam bahasa Tok Pisin ke dalam bahasa mereka, kata itu sering diucapkan kikida alih-alih pikida. Hal ini terjadi karena p pada suku kata pertama telah berasimilasi dalam jarak jauh pada titik artikulai k pada suku kata kedua.
Kadang-kadang asimilasi langsung merupakan fitur yang sangat umum dalam satu bahasa dan bahkan kadang-kadang asimilasi mengubah seluruh kata. Perubahan seperti ini disebut harmoni (harmony). Banyak bahasa yang mengalami harmoni vokal (vowel harmony), asimilasi satu atau lebih fitur satu vokal ke beberapa atau semua vokal lainnya dalam satu kata. Dalam bahasa Bislami, misalnya, sufiks -im transitif pada kata kerja mempunyai tiga variasi, seperti terlihat pada contoh berikut:
kuk-um ‘memasak’ mit-im ‘mejumpai’ har-em ‘merasa’ put-um ‘meletakkan’ kil-im ‘memukul’ mek-em ‘membuat’ sut-um ‘menembak’ rit-im ‘membaca’ so-em ‘menunjukkan’
Mengikuti suku kata dengan vokal belakang tinggi, i pada sufiks berubah menjadi u. Perubahan ini merupakan contoh asimilasi jarak jauh
fitur depan pada satu suku kata menjadi fitur belakang pada suku kata lainnya. Mengikuti suku kata dengan vokal tengah atau rendah, i dengan fitur tinggi merendah menjadi e dengan fitur tengah akibat pengaruh vokal pada suku kata yang mendahuluinya.
Kadang-kadang, harmoni melibatkan fitur-fitur selain dari fitur-fitur vokal. Dalam bahasa Enggano, Indonesia, terdapat perubahan bunyi yang dinamakan harmoni nasal (nasal harmony). Dalam bahasa Enggano, semua bunyi hambat bersuara dalam satu kata berubah menjadi nasal homorgan dan semua vokal terpisah berubah menjadi vokal-vokal nasal yang sama ketika mengikuti nasal apa saja dalam sebuah kata seperti terlihat pada contoh berikut:
b. Enggano
*honabu → honamu isterimu
*ehkua → ehkua tempat duduk
*euadaa → euadaa makanan
Ada harmoni vokal yang dinamakan umlaut dalam bahasa-bahasa rumpun Germania. Perubahan bunyi ini merupakan pengedepanan vokal belakang atau peninggian vokal rendah akibat pengaruh vokal depan pada suku kata berikutnya. Sering terjadi vokal tinggi (mengikuti vokal lainnya) yang mengakibatkan perubahan, kemudian hilang melalui proses apokop atau menjadi schwa. Dalam keadaan ini, vokal depan yang baru merupakan satu-satunya cara untuk membedakan satu kata dengan kata-kata lainnya.
Pasangan-pasangan kata yang tidak teratur (tunggal/jamak) seperti foot/feet dalam bahasa Inggris merupakan hasil dari harmoni atau umlaut. Bentuk tunggal aslinya adalah, fo:t dan jamaknya adalah fo:t-i. Bunyi o: dikedepankan ke vokal bulat akibat pengaruh vokal depan -i pada
sufiks jamak, sehingga bentuk jamak menjadi fo:t-i. Kemudian, vokal sufiks tersebut dihilangkan dan vokal bulat depan akar kata menjadi tidak bulat sehingga menjadi e:. Ketika bentuk tunggal adalah fo:t, bentuk jamak telah berubah menjadi fe:t. Perubahan antara fo:t dengan fe:t lah yang melahirkan pasangan foot/feet dalam bahasa Inggris Moderen.
2.2.3.16 Disimilasi
Disimilasi (dissimilation) adalah lawan dari asimilasi. Alih-alih membuat dua atau lebih bunyi menjadi lebih mirip dengan sesamanya (asimilasi), disimilasi menjadikan bunyi yang berdekatan menjadi berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini berarti, terjadi pengurangan fitur fonetik yang sama-sama dimiliki bunyi-bunyi yang berdekatan. Perubahan bunyi-bunyi ini pertama kali dikemukakan Hermann Grassman (1862) melalui Hukum Grassmann (Grassmann’s Law). Dalam bahasa Sanskrit Kuno dan bahasa Junani Kuno, terdapat perbedaan antara hambat beraspirasi dengan tidak beraspirasi. Tetapi jika ada dua suku kata yang mengikuti satu sama lainnya dan kedua-duanya mempunyai bunyi hambat beraspirasi, suku kata pertama kehilangan aspirasinya menjadi tidak beraspirasi. Dalam bahasa Sanskrit, bentuk *bho:dha ‘bid’ berubah menjadi bo:dha dan dalam bahasa Junani bentuk *phewtho dengan arti yang sama berubah menjadi pewtho. Perubahan ini merupakan contoh disimilasi tidak langsung.
Contoh disimilasi langsung ( immediate dissimilation) dapat dilihat dalam bahasa Afrika berikut:
b. Afrika
*sxo:n → sko:n bersih
*sxlt → sklt hutang
Pada bentuk-bentuk kuno bahasa tersebut, terdapat rangkaian dua bunyi frikatif yakni s dan x. Bunyi frikatif x.berubah menjadi bunyi hambat pada titik artikulasi yang sama, yakni k, sehingga tidak ada lagi dua frikatif yang mengikuti satu sama lainnya. Dengan demikian, x.berdisimilasi dalam keadaan artikulai menjadi k dari frikatif s.