• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Model Pendekatan Just and Pope

Model Just and Pope ini dapat menjelaskan bagaimana pengaruh dari faktor-faktor produksi terhadap produksi dan bagaimana pengaruh dari faktor-faktor-faktor-faktor produksi terhadap risiko produksi yang ditunjukakan dari nilai variance produktivitas. Sejalan dengan pendapat Napitupulu et al., (2020) model Just and Pope ini akan menghasilkan dua fungsi, yaitu fungsi produktivitas rata-rata dan

fungsi variance produktivitas. Model ini menggunakan prosedur dua langkah yaitu yang pertama dengan membuat fungsi produksi Cobb-Douglas untuk mencari nilai estimasi produksinya. Berikut ini adalah fungsi produksi Cobb-Douglas kentang:

𝐿 π‘Œ = 𝐿0 + 𝛼1𝐿 𝑋1 + 𝛼2𝐿 𝑋2 + 𝛼3𝐿 𝑋3 + 𝛼4𝐿 𝑏4 + 𝛼5𝐿 𝑋5 + 𝛼6𝐿 𝑏6 +….+𝛼n𝐿 𝑋n

dimana a adalah intersep sedangkan 𝛼1- 𝛼5 adalah koefisien parameter. Y adalah jumlah produktivitas kentang (ton/ha), X1 jumlah benih kentang (kg/ha), X2 jumlah pupuk urea (kg/ha), X3 jumlah pupuk KCL (kg/ha), X4 jumlah pupuk NPK (kg/ha),

X5 jumlah pupuk phonska (kg/ha), X6 jumlah pestida (liter/ha). X7 jumlah tenaga kerja (HOK/ha) dan Xn adalah luas lahan (ha). Risiko produksi dapat diformulasikan:

𝜎2π‘Œ = (π‘Œ βˆ’ π‘Œ ) 2

𝜎2π‘Œ adalah residual model regresi (varians produksi), Yi adalah produksi actual sedangkan π‘Œ adalah hasil produksi estimasi, selanjutnya fungsi risiko produksi dijabarkan sebagai:

𝐿 𝜎2π‘Œ = 𝐿 + 𝑏1𝐿 𝑋1 + 𝑏2𝐿 𝑋2 + 𝑏3𝐿 𝑋3 + 𝑏4𝐿ss X4 + 𝑏5𝐿 𝑋5 + 𝑏6𝐿 X6 + 𝑏7𝐿 𝑋7 + …𝑏n𝐿 𝑋n + Ξ΅

Metode pendugaan parameter fungsi Regresi Berganda menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Dimana metode ini dilakukan secara dua tahap, yaitu (1) pengujian terhadap pelanggaran asumsi klasik, dan (2) pengujian terhadap kesesuaian model.

2.8 Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian Choiruddin et al., (2018), dalam penelitian Preferensi Risiko Produksi Pada Usahahtani Kentang (Solanum Tuberosum) di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Dalam penelitiannya menyimpulkan rata-rata total penerimaan yang diterima oleh petani kentang di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan sebesar Rp 58.517.780 perhektar persatu kali musim tanam, sedangkan total biaya produksi yang dikluarkan oleh petani yaitu sebesar Rp 37.602.088 perhektar, persatu kali musim tanam dengan rincihan pengeluaran untuk biaya tetap sebesar Rp 416.495 serta pengeluaran untuk biaya variable sebesar Rp 36.393.840. Jadi pendapatan Rata-rata bersih yang didapatkan petani kentang sebesar Rp 21.123.940 perhektar persatu kali musim

tanam. Nilai R/C ratio pada usahatani kentang di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari yaitu sebesar 1,58 angka ini diperoleh dari pembagian antara pendapatan dengan total biaya yang yang dapat diartiakan, pada setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar 1,58 rupiah. Jika nilai R/C ratio > 1 menandakan bahwa usaha ini layak dijalankan. Analisis preferensi petani Obeseved Economic Behavior (OEB) terhadap dua variable independen diantaranya: A) Preferensi petani kentang di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan terhadap penggunaan pupuk SP36 cenderung menghindari risiko (Risk Averse). Hal dilihat dari nilai Rk sebesar 0,163> 0. Petani yang bersikap menghindari risiko akan lebih berhatihati dalam mengalokasikan inputnya terutama untuk penggunaan pupuk SP36. B) Hasil preferensi petani kentang terhadap penggunaan pupuk Kandang cenderung berani mengambil risiko (Risk Taker). Hal ini dapat dilihat dari nilai Rk yaitu sebesar -0,0117 < 0. Petani yang bersikap berani mengambil risiko akan mengalokasikan input lebih banyak. Preferensi yang dibahas hanya 2 variabel yaitu variable SP36 dan Pupuk Kandang, karena kedua variable tersebut adalah yang mempengaruhi resiko usahatani kentang yang ada di Desa Wonokitri. Dari hasil analisis faktor – faktor yang mempengaruhi produksi terdapat lima variable diantaranya bibit (X2), pupuk kandang (X3), pupuk urea (X4), pupuk ZA (X5), obat-obatan (X6), dan tenaga kerja (X7). Sedangkan fakto – faktor yang mempengaruhi resiko hanya dua variable yaitu SP36 dan Pupuk Kandang jadi pembahasan preferensi hanya meliputi dua variable tersebut

Menurut Muarip et al., (2019) dalam penelitian Analisis Efisiensi Teknis Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Kentang (Solanum tuberosum L) di

Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, dalam penelitianya menyimpulkan didapat tujuh variabel yang berpengaruh secara nyata terhaap hasil produksi kentang di Desa Wonokitri, yaitu luas lahan, pupuk urea, pupuk SP36, pupuk ZA, pupuk organik, obat-obatan, tenaga kerja. Faktor-faktor produksi tersebut mempengaruhi hasil produksi kentang. Analisis infensiensi teknis terdapat empat variabel yang berpengaruh nyata terhadap faktor-faktor social ekonomi yang berpengaruh terhadap efisiensi teknis usahatani kentang, yaitu variabel umur (X1), pendidikan (X2), lahan (X3), dan dummy bibit (X4). Sedangkan variabel yang tidak berpengaruh nyata adalah anggota keluarga (X5), dan pengalaman (X6).

Berdasarkan hasil penelitian Auni A (2017) dalam penelitiannya yang berjudul β€œAnalisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Kentang di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara” dari hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa faktor produksi luas lahan negative dan tidak signifikan terhdap hasil produksi kentang dengan koefisien elastisitas sebesar -,0,01. Diduga lahan yang digunakan di daerah penelitian terlalu luas. Faktor produksi bibit, pestisida, pupuk, tenaga kerja, berpengaruh positif dan siginifikan terhadap hasil produksi. Nilai efisiensi teknis adalah sebesar 0,83 atau 83 % sedangkan sisanya sebesar 17 % menyebabkan inefisiensi teknis. Sebab rata-rata produktivitas yang mampu dicapai adalah 83 % berdasarkan perhitungan frontier (produksi maksmal yang dapat dicapai) Berdasarkan hasil penelitian Zuriana et al., (2019) dalam penelitiannya yang berjudul β€œAnalisis Usahatani Kentang di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci”

Alat analsis yang digunakan adalah analisis biaya produksi, pendapatan dan keuntungan usahatani serta analisis kelayakan usahatani berdasarkan R/C ratio, dan

Produktivitas Modal (Ο€/C). Hasil penelitian menunjukan bahwa biaya produksi usahatani kentang di Kecamatan Kayu Aro tergolong cukup besar untuk satu kali musim tanam dengan rata-rata luas tanam sebesar 0,92 ha membutuhkan total biaya sebesar Rp.35.629.535/MT dengan produksi rata–rata jenis KL 7.400/kg, jenis super 4.520/kg, jenis M 3.396/kg. Usahatani kentang ini menguntungkan, hal ini dapat diketahui dari besarnya pendapatan yang diperoleh petani yaitu Rp.33.902.909/MT dengan keuntungan usahatani sebesar Rp.32.780.810/MT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kentang layak untuk diusahakan. Berdasarkan analisis kelayakan diperoleh nilai R/C ratio sebesar 1,95 lebih besar dari 1, berarti bahwa setiap penambahan biaya sebesar Rp.1.000 akan diperoleh penerimaan sebesar Rp.1.950. Produktivitas modal yang digunakan sebesar 92% berarti lebih besar dari suku bunga tabungan Bank Rakyat Indonesia yang berlaku tahun 2014 yaitu 11 %.

Berdasarkan hasil penelitian Putri et al., (2018) meneliti Analisis Risiko Produksi Bawang Merah di Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa Songan B memiliki kelompok tani yang tersebar dari dataran rendah ke dataran tinggi. Masalah yang dihadapi berada pada fluktuasi produktivitas bawang yang menunjukkan bahwa pertanian bawang menghadapi risiko produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenisjenis risiko dan menganalisis risiko produksi bawang merah. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa jenis risiko produksi yang dihadapi dalam pertanian bawang merah di dataran tinggi dan daerah dataran rendah di desa Songan B, yaitu kondisi iklim, hama, dan serangan penyakit. Risiko produksi bawang merah di daerah dataran tinggi (KV = 3.09) dan daerah dataran rendah (KV = 2,46) relatif

tinggi, di mana tingkat risiko bawang merah produksi di daerah dataran tinggi lebih besar daripada di daerah rendah. Ini karena untuk produksi yang diharapkan, varian, dan standar deviasi produktivitas bawang merah di daerah dataran tinggi lebih besar daripada di daerah bawah. Saran yang bisa diberikan dalam penelitian ini adalah bahwa petani perlu mengenali jenis risiko produksi yang dihadapi untuk mengantisipasi penurunan produksi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lawalata et al., (2017), meneliti Risiko Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul. Penelitian ini bertujuan mengukur risiko produksi dan risiko pendapatan usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mengetahui perilaku petani terhadap risiko usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan terhadap 60 petani bawang merah di Kabupaten Bantul. Metode penelitian yang digunakan untuk mengukur risiko produksi dan pendapatan menggunakan nilai koefisien variasi (KV), dan perilaku petani terhadap risiko menggunakan metode Moscardi dan de Janvry.

Selanjutnya menggunakan analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani terhadap risiko usahatani bawang merah di Kabupaten Bantul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko produksi sebesar 0,8518 (85,18 %) dan risiko pendapatan sebesar 1,2416 (124,16 %). Petani bawang merah di Kabupaten Bantul mayoritas memiliki perilaku menolak risiko sebanyak 44 petani (73,33 %) walaupun usahatani bawang merah berisiko. Umur petani, pendidikan, pendapatan usahatani bawang merah dan

pendapatan luar usahatani bawang merah siginifikan dan mempengaruhi perilaku petani terhadap risiko.

2.9 Kerangka Pemikiran

Usahatani merupakan kegiatan yang memproduksi produk di bidang pertanian yang terdapat biaya-biaya yang dikeluarkan dan memperoleh pernerimaan dari hasil penjualan produk tersebut. Proses menjalankan usahatani dibutuhkan beberapa faktor produksi. Kentang merupakan salah satu tanaman hortikultura yang mana bagian umbi yang dikomsumsi; dalam masyarakat yang dikenal sebagai umbi sayur. Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional dan daerah yang potensial untuk dikembangkan.

Usahatani kentang menjadi salah satu komoditi sayurann unggulan di Kecamatan Kayu Aro, hal ini dikarenakan Kecamatan Kayu Aro memiliki kondisi alam yang sesuai dengan komoditi kentang. Tingkat produksi kentang di Kecamatan Kayu Aro pada tahun 2018 sebesar 17.100 ton dengan luas lahan 1.140 ha, tetapi pada tahun 2019 produksi mengalami penurunan sebesar 14.475 ton dengan luas lahan juga menurun menjadi 965 ha, hal ini menyebabkan produktivitas usahatani kentang menurun. Penggunaan faktor-faktor input produksi usahatani kentang yang tepat dan sedemikian rupa agar dalam jumlah tertentu menghasilkan produksi tertentu. Untuk meningkatkan produksi yang diperlukakn adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dalam penggunaan faktor input produksi dan seberapa besar tinkat risiko pada usahatani kentang.

Analisis risiko digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya risiko input produksi yang digunakan pada tingkat tertentu, dimana pada penelitian ini

menggunakan metode Just and Pope. Hal ini dikarenakan penelitian ini memiliki 9 variabel input dan 2 variabel output. Variabel output dalam penelitian yang digunakan produksi kentang dan produktivitas kentang. Penggunaan input produksi dalam kegiatan usahatani kentang dapat mempengaruhi produksi dan produktivitas kentang. Variabel inputnya bibit kentang, Pupuk SP36, pupuk KCl, pupuk Phonska, Herbisida, Fungisida, Insektisida dan tenaga kerja.

Untuk meningkatkan usahatani kentang yang diperlukan adalah bagaimana pengaruh penggunaan faktor-faktor input produksi usahatani kentang agar lebih tepat sasaran. Setelah diketahui pengaruh penggunaan faktor-faktor input produksi yang dicapai, bisa dirumuskan sebuah langkah dan saran yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko input produksi. Secara sistematis kerangka pemikiran untuk menjawab masalah penelitian sebagaimana tertera Gambar 3.

Proses Produksi

Usahatani Kentang

Faktor-faktor Produksi 1. Luas Lahan 2. Bibit

3. Pupuk SP 36 4. Pupuk KCL 5. Pupuk phonska 6. Herbisida 7. Fungisida 8. Insektisida 9. Tenaga Kerja

Upaya peningkatan Produksi Kentang

Produksi Kentang

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Analisis Risiko Produksi Kentang di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci

2.9 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran teoritis yang telah diuraikan, maka hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1. Diduga respon fungsi produksi aktual dan fungsi produksi frontier pada penggunaan input produksi baik secara semutan maupun parsial berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani kentang di Kecamatan Kayu Aro.

2. Diduga respon risiko produksi dalam pada input produksi baik secara semutan maupun parsial berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani kentang di Kecamatan Kayu Aro.

Kesenjangan Produksi Rata-rata

Fungsi Risiko Produksi menggunakan Model Pendekatan Just and Pope Fungsi Produksi Aktual

Metode OLS (Ordinary Least Square)

Fungsi Produksi Frontier Metode MLE (Maximun Likelihood

Estimation)

Dokumen terkait