4.7. Budidaya Tembakau Srinthil
4.7.6. Pemeliharaan Tanaman 1. Pemupukan
Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar di kowakan, sebanyak 0,5kg - 1kg pupuk kandang atau untuk setiap hektar dibutuhkan rata-rata 28 truk setara 15ton - 20 ton pupuk kandang. Setelah itu kowakan ditutup dengan tanah. Pupuk kandang yang banyak digunakan berasal dari kotoran sapi yang diolah terlebih dahulu menjadi kompos. Semakin banyak pupuk kandang sampai batas dosis tertentu akan menyebabkan mutu tembakau yang dihasilkan semakin tinggi.
52
Penggunaan pupuk buatan terdapat variasi antar petani. Sebagian petani menggunakan dosis sekitar 400 kg pupuk ZA, 450 kg pupuk majemuk NPK dan 150 kg KNO3. Pupuk ZAsebanyak 100 kg diberikan pada umur 7 hari dan sisanya pada 21 hari setelah tanam. Pupuk NPK dan KNO3 diberikan dua kali pada umur 3 dan 18 hari setelah tanam. Setiap selesai memupuk, lubang pupuk ditutup kembali dengan tanah.Petani lain yang juga sering menghasilkan Srinthil ada juga yang menggunakan dosis sekitar 400 kg ZA, 400 kg NPK dan 100 kg KNO3.
4.7.6.2. Dangir dan Bumbun
Pendangiran dan pembumbunan tanaman dilakukan paling sedikit 3 kali. Pendangiran dan pembumbunan pertama dilakukansesudah pemupukan ZA kedua. Pendangiran dan pembumbunan kedua dilakukan pada sekitar umur 35 hari. Dangir dan bumbun ketiga dilakukan menjelang tanaman berbunga pada umur + 50 hari. Setelah itu masih dapat dilakukan pendangiran lagi, terutama bila terlihat tanah di sekitar pangkal batang memadat.
4.7.6.3. Pengendalihan Hama dan Penyakit utama
Karakter tembakau temanggung yang khas dan produksi yang terbatas menyebabkan harganya mahal sehingga petani banyak yang menanam tembakau secara intensif di lahan yang sama. Akibatnya terjadi penurunan kesuburan lahan dan akumulasi patogen penyebab penyakit terutama yang bersifat soil borne disease (penyakit tular tanah).
Penyakit tular tanah tersebut, lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai penyakit lincat. Patogen yang berasosiasi dengan penyakit lincat, yaitu bakteri Ralstonia solanacearum dan nematoda puru akar (Meloidogyne spp.). Menurut Dalmadiyo (2004) dan Aewiyanto (2009), sebagai penyebab utama penyakit lincat adalah R. solanacearum ras I biovar III dan Meloidogyne incognita ras 2, terutama pada ketinggian antara 800 – 1100 m dpl.
Kejadian penyakit lincat pada pertanaman tembakau erat kaitannya dengan sistem budidaya yang sangat intensif yang dilakukan terus menerus selama bertahun-tahun. Sistem pertanaman monokultur yang terus menerus cenderung meningkatkan populasi mikroorganisme penghuni zona perakaran seperti patogen tular tanah (Glandorf et al., 1993). Di lahan tegal patogen akan lebih lama bertahan
53
dibanding lahan sawah karena penggenangan dapat mematikan spora atau klamidospora patogen tular tanah.
Gambar 31. Akar tanaman tembakau berbintil-bintil akibat terserang nematode puru akar yang disebabkan oleh Meloidogyn sp.
Patogen M. incognita dan R. Solanacaerum mempunyai banyak tanaman inang (polifag), baik tanaman budidaya seperti tembakau, tomat, terung, cabai, kacang tanah, kacang babi, jahe, dan pisang ambon, maupun gulma seperti rumput teki, krokot, dan babadotan (Dalmadiyo, 2004). Untuk mengatasi penyakit lincat antara lain adalah (a) rehabilitasi lahan, (b) peningkatan keanekaragaman budidaya tanaman melalui rotasi atau tanaman sela, (c) penggunaan bibit sehat dari varietas tahan/toleran, dan (d) penggunaan agensia hayati.
Rehabilitasi lahan dapat dilakukan dengan pengolahan tanah minimal dan penggunaan tanaman penutup. Pengolahan tanah minimal merupakan salah satu usaha mempertahankan kapasitas daya simpan air dan mempertahankan bahan organik tanah; mengurangi erosi dan resiko kehilangan hara serta kerusakan tanaman. Penggunaan tanaman penutup selain berfungsi sebagai penahan erosi, juga bisa sebagai sumber bahan organik dan hara serta pakan ternak. Djajadi et al. (1992) selama 3 tahun telah merintis sistem konservasi lahan dengan teras bangku bidang miring dan penanaman Setaria, atau Flemingia congesta pada bibir teras.
Rotasi tanaman mampu mempertahankan kesuburan, dan kandungan bahan organik tanah (Howard, 1996) serta mampu menurunkan penyakit terutama yang disebabkan oleh patogen tular tanah. (Emmond dan Ledingham, 1972; Frank dan Murphy, 1977; Scholte, 1987). Kebanyakan patogen hanya mempunyai kisaran
54
inang tertentu, oleh karena itu hampir semua jenis patogen bisa diperkecil populasinya melalui rotasi tanaman.
Penggunaan bibit sehat yang berasal dari varietas tahan merupakan syarat pertama agar tanaman tembakau tumbuh sehat dan mengurangi akumulasi patogen di musim yang akan datang. Varietas yang ditanam, sebaiknya varietas yang tahan atau agak tahan terhadap R. solanacearum dan Meloidogyne spp. Balittas telah menghasilkan beberapa varietas tembakau temanggung yang bisa digunakan seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Ketahanan varietas tembakau Temanggung terhadap R. solanacearum, dan Meloidogyne spp.
Varietas Ketahanan
Ralstonia solanacearum Meloidogyne spp.
Kemloko 1 Rentan Tahan
Sindoro 1 Moderat tahan Rentan
Kemloko 2 Tahan Tahan
Kemloko 3 Sangat tahan Tahan
Sumber: Rochman dan Yulaikah (2008)
4.7.6.4. Pemangkasan dan Wiwil
Pemangkasan dilakukan pada saat tunas bunga mulai mekar dengan memotong bagian pucuk tanaman dan membuang daun bendera. Pangkas dilakukan pada umur sekitar 70-100 hari. Makin tinggi tempatnya, makin lambat pertumbuhan tanaman dan waktu pangkasnya. Rata-rata pangkasan dilakukan pada umur 80 hari.
Pembuangan tunas ketiak atau sulang dlakukan agar pertumbuhan dan perkembangan daun optimal. Pembuangan tunas ketiak atau wiwilan dilakukan beberapa kali secara periodik. Pada umumnya petani tidak menggunakan zat kimia penghambat tunas karena dianggap dapat merusak atau mengurangi mutu tembakaunya.
55 4.8. Pengolahan Produk Tembakau Srinthil
Untuk menghasilkan tembakau Srinthil harus didukung dengan teknik budidaya sesuai baku teknis serta kondisi cuaca yang sesuai selama pertumbuhan, panen dan pascapanennya. Apabila kondisi cuaca selama pertumbuhan, panen, dan pascapanen, yaitu antara bulan Mei hingga Oktober optimal (relatif kering dengan sedikit hujan cukup untuk kebutuhan tanaman), maka peluang untuk menghasilkan tembakau Srinthil menjadi semakin besar.Curah hujan yang semakin banyak umumnya akan menyebabkan semakin turunnya kualitas tembakau yang dihasilkan. Daun yang dapat menghasilkan mutu Srinthil adalah daun posisi tengah hingga daun atas dari tanaman tembakau yang ditanam pada lahan dengan ketinggian diatas 800 m dpl. Cara pengolahan tembakau Srinthil pada dasarnya sama dengan cara pengolahan tembakau rajangan temanggung pada umumnya. Hanya saja setelah pemeraman pada hari kelima muncul tanda-tanda tembakau akan menjadi Srinthil, seperti tumbuhnya jamur berwarna kuning yang dikenal sebagai puthur kuning, melunaknya jaringan daun disertai keluarnya cairan dan aroma yang harum,adanya penurunan tinggi tumpukan tembakau yang diperam (mimpes, Jawa) serta terjadinya retak-retak urat daun. Apabila tanda-tanda tersebut muncul, maka pemeraman akandilanjutkan. Semakin tinggi potensi tembakau untuk menjadi tembakau Srinthil mutu tertinggi dengan kelas mutu I atau K maka pemeraman menjadi semakin lama.
Produksi tembakau temanggung antara 700 kg/ha sampai 800 kg/ha. Dari produksi tersebut apabila kondisi cuaca dan pemeliharaan tanaman mendukung untuk munculnya mutu Srinthil yang dapat dihasilkan hanya sekitar 50kg/ha -100kg/ha. Dari jumlah tersebut mutu Srinthil yang dihasilkan masih bervariasi, dari mutu E sampai H atau I. Harga jual dari tembakau mutu Srinthil sangat dipengaruhi oleh tingkat mutu yang dicapai, namun sampai saat ini harga masih sangat ditentukan oleh pabrik rokok.
Bagan proses pengolahan tembakau Srinthil temanggung sejak pemeraman sampai pengemasan terdapat pada Gambar berikut :
56
Gambar 32. Bagan proses pengolahan Tembakau Srinthil Temanggung