1
I.
PENDAHULUAN
Diawali dari keberhasilan H. Djamhari membuat rokok dari tembakau yang diracik dengan cengkeh untuk mengobati batuk, maka semakin banyak orang yang meggunakan rokok semacam itu. Bagi Nitisemito, kegemaran orang mengisap rokok yang mengandung cengkeh ditangkap sebagai peluang bisnis sehingga didirikanlah pabrik di Kudus yang memproduksi rokok semacam itu, yang kemudian popular disebut dengan rokok kretek.
Gambar 1. Nitisemito, pelopor industri rokok kretek Indonesia
Sejak itu konsumsi rokok kretek terus bertambah, bahkan melampaui konsumsi rokok putih yang lebih dahulu menjadi produk utama perusahaan. Seiring dengan perkembangan tersebut, kebutuhan bahan baku juga terus meningkat, utamanya bahan baku berupa tembakau. Hal yang unik dan bahkan menjadi faktor kekuatan rokok kretek adalah tembakau yang digunakan lebih dari 86% berupa tembakau lokal yang dihasilkan dari berbagai daerah di Indonesia.
Tentang racikan dalam rokok kretek, untuk menghasilkan mutu dan rasa yang spesifik diperlukan bermacam-macam tembakau dengan komposisi tertentu. Salah satu yang sangat besar perannya dalam racikan rokok kretek adalah tembakau temanggung.Karena perannya sebagai pemberi rasa dan aroma pada rokok kretek, maka tembakau temanggung disebut sebagai tembakau lauk. Sebagian besar industri rokok kretek menggunakan tembakau temanggung sebagai bahan racikannya.
2
Pada awalnya tembakau temanggung diusahakan di beberapa wilayah tertentu, terutama di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.Masing-masing wilayah menghasilkan mutu dengan ciri tertentu (Mamat, 2006), sehingga dikenal pembagian sebagai berikut. Tembakau Lamuk merupakan mutu terbaik, dihasilkan di lereng utara dan timur G. Sumbing. Tembakau Lamsi mutunya di bawah Lamuk, juga berasal dari lereng utara dan timur G. Sumbing. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur G. Sindoro. Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan G. Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur G. Sumbing yang berbatasan dengan penghasil tembakau Lamsi dan Tionggang/sawah. Tembakau Tionggang/sawah dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara G. Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di G. Prahu.
Tembakau temanggung memiliki mutu khas yang sangat dibutuhkan untuk bahan baku rokok kretek. Karena kebutuhannya semakin bertambah, sedangkan ketersediannya terbatas, maka industri rokok saling “berebut” sehingga harga tembakau rajangan temanggung menjadi sangat mahal. Sebagai perbandingan, harga tembakau di luar Temanggung sekitar Rp.30.000,-/kg sampai Rp.50,000,-/kg, sedangkan di Temanggung harga tembakau mutu rendah yang berasal dari daun bawah harganya sekitar Rp. 40.000,- sampai Rp. 50.000,-. Tembakau rajangan temanggung yang berasal dari daun yang posisinya lebih tinggi menghasilkan mutu lebih tinggi dengan harga lebih tinggi pula sehingga dapat mencapai Rp. 125.000,- sampai Rp. 150.000,- Daun pucuk dapat menghasilkan mutu spesifik yang disebut „tembakau Srinthil‟, pada tahun 2009 harganya dapat mencapai Rp.500.000,-/kg sampai Rp.700.000,-/kg.
Nilai ekonomi yang tinggi menjadi faktor penting yang menyebabkan petani dan Pemerintah Daerah Kabupaten Temanggung memiliki perhatian besar terhadap tembakau temanggung. Bila produksi tembakau temanggung setiap tahun antara 10.000 ton – 12.000 ton dan harga rata-rata antara Rp. 80.000,-/kg sampai Rp.100.000,-/kg, maka nilai transaksinya dapat mencapai Rp. 1,2 trilyun. Nilai tersebut besarnya lebih tinggi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Temanggung tahun anggaran 2012.
Kebutuhan tembakau Srinthil untuk industri rokok kretek hanya sedikit. Akan tetapi untuk merk rokok tertentu sangat dibutuhkan karena dapat memberikan
3
rasa dan aroma dengan mutu tertentu. Harga yang sangat mahal mendorong para oportunis untuk membuat Srinthil tiruan yang hampir mirip dengan Srinthil asli. Informasi dari sumber di Temanggung menyebutkan bahwa untuk membuat Srinthil tiruan tersebut tembakau yang diperam diberi perlakuan khusus, antara lain diberi minyak entok (Cairina scutulata), pewarna dan aroma. Sepintas Srinthil yang dihasilkan sangat mirip dalam hal warna, tekstur dan kilapnya, demikian juga aromanya. Akan tetapi setelah disimpan beberapa waktu, Srinthil tiruan tersebut akan terdeteksi. Hal tersebut tidak hanya merugikan industri rokok yang membelinya, tetapi yang lebih parah adalah merugikan petani yang benar-benar menghasilkan Srinthil.
Tembakau Srinthil merupakan produk spesifik yang dihasilkan oleh satu komunitas masyarakat di suatu wilayah tertentu dengan agroekologi tertentu dan cara budidaya yang diwariskan secara turun temurun. Srinthil tidak dapat dihasilkan di luar masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Sebagai produk spesifik, tembakau Srinthil di Kabupaten Temanggung layak memperoleh pengakuan dan perlindungan berupa Indikasi Geografis yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 15 tahun 2001 tentang Merek dan Petunjuk Pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2007 tentang Indikasi Geografis.
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka masyarakat pertembakauan di Kabupaten Temanggung yang tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tembakau Srinthil Temanggung (MPIG-TST) dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung mengajukan permohonan sertifikat Indikasi Geografis Tembakau Srinthil Temanggung.
4
II.
SEJARAH
Tembakau Srinthil merupakan produk spesifik dan merupakan bagian dari produk tembakau rajangan di Kabupaten Temanggung. Oleh karena itu sejarah tentang Srinthil tidak dapat terlepas dari sejarah tembakau temanggung secara keseluruhan.
2.1. Tembakau Temanggung
Dokumentasi dan sejarah tentang tembakau temanggung secara tertulis sulit ditemukan. Sejarah dan asal usul tembakau temanggung dapat ditelusuri berdasarkan legenda yang ada di masyarakat Kabupaten Temanggung, khususnya yang ada di wilayah pertanaman tembakau. Secara ilmiah asal usul tembakau temanggung dapat ditelusuri dari masuknya tembakau ke Indonesia yang kemudian menyebar ke berbagai daerah. Pada bagian ini diuraikan tentang sejarah tembakau temanggung dan tembakau Srinthil.
2.1.1. Legenda Tembakau Temanggung
Tembakau temanggung memiliki legenda yang bertahan dan berkembang di masyarakat Temanggung sampai saat ini. Selain itu tembakau temanggung juga dapat ditelusuri dari beberapa sumber tentang tembakau secara umum dan sumber lain yang memiliki kaitan dengan tembakau temanggung.
Sejarah tembakau temanggung varietas Kemloko digali dari Bapak Subakir, Kepala Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Sumber lain yang diacu adalah tulisan Nizar Anwar tanggal 14 Juli 2012 (http://marnendra.blogspot.com/2012/07/legenda-tembakau-Srinthil.html).
Pada awal berdirinya Kerajaan Demak, Sunan Kudus memimpin Pondok Pesantren Glagahwangi di Kudus. Pada saat itu datang seorang pemuda etnis Cina bernama Ma Kuw Kwan yang berguru kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus memberi nama sang murid tersebut Syarif Hidayat. Di antara kesembilan santri Sunan Kudus, Ma Kuw Kwan merupakan murid yang paling tinggi ilmunya.
Karena dikejar-kejar oleh prajurit Kerajaan Capiturang yang dipimpin oleh Gagaklodra, Ma Kuw Kwan melarikan diri, kemudian berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menghilangkan jejak, Ma Kuw Kwan menggunakan nama samaran
5
Jaka Teguh. Berbagai ilmu diajarkan oleh Sunan Kalijaga, selain ilmu agama dijarkan juga cara bercocok tanam serta olah kanuragan, termasuk ilmu untuk terbang. Ilmu kanuragan diajarkan agar dapat digunakan untuk menjaga diri selama melakukan perjalanan.
Setelah ilmu yang diberikan dirasa cukup, Sunan Kalijaga menugaskan Ma Kuw Kwan menyebarkan agama di daerah Kedu. Ma Kuw Kwan menetap di Desa Pendang dan menyebarkan agama Islam. Sesuai petunjuk Sunan Kalijaga, Ma Kuw Kwan mengajarkan agama melalui kegiatan bertani dengan banyak memberikan contoh. Setiap tiba waktu dhuhur di sawah, Ma Kuw Kwan tak segan-segan meminta air dari warga untuk berwudu. Setelah itu melakukan sholat di tempat terbuka agar dilihat oleh banyak orang.
Melihat hal tersebut, banyak orang yang penasaran sehingga menanyakan apa yang dilakukan oleh Ma Kuw Kwan. Dengan sabar Ma Kuw Kwan menjelaskan bahwa yang dilakukan tersebut adalah berdoa memohon berkah dari Yang Maha Kuasa agar diberi hasil panen yang melimpah. Warga tidak langsung mengikuti apa yang dilakukan oleh Ma Kuw Kwan, akan tetapi pada saat hasil panen melimpah banyak warga yang meminta diajari sholat. Akhirnya Ma Kuw Kwan banyak memperoleh pengikut dan memeluk agama Islam. Ma Kuw Kwan makin disegani sebagai pemimpin agama yang mengajari cara bertani. Para pengikutnya memberikan julukan Ki Ageng Kedu. Walaupun banyak pengikutnya yang tetap menyebut nama aslinya yaitu Ki Ageng Ma Kuw Kwan. Lidah Jawa lebih mudah menyebutkan sebagai Ki Ageng Makukuhan.
Ketenaran Ki Ageng Makukuhan dan kesuburan tanah Kedu sampai terdengar oleh Sunan Kudus.Sunan Kudus mengutus salah satu santrinya yang bernama Bramanti dan membawakan bibit padi Rajalele dan Cempa serta bibit tanaman yang kelak dikenal sebagai tanaman tembakau.Setelah sampai di Kedu dan menyerahkan bibit dari Sunan Kudus, Bramanti tidak mau kembali ke Pondok Pesantren Glagahwangi, tetapi memilih mengabdi kepada Ki Ageng Makukuhan.Ki Ageng Makukuhan menugaskan kepada Bramanti untuk mengerjakan tanah di Desa Balongan atau Mbalong di daerah Parakan, sambil menyebarkan agama Islam.Seperti Ki Ageng Makukuhan, Bramanti juga cepat mendapatkan banyak pengikut sehingga oleh para pengikutnya diberi gelar Ki Ageng Parakan.
6
Seiring dengan waktu, lahan pertanian yang dikelola Ki Ageng Makukuhan semakin luas, padi Rajalele dan Cempa digemari dan banyak ditanam masyarakat karena pulen dan rasanya enak. Pada saat musim kemarau lahan ditanami dengan tanaman tembakau. Pada suatu hari terdapat orang sakit dan meminta obat kepada Ki Ageng Makukuhan. Ki Ageng Makukuhan mengambil bunga tanaman tembakau sebagai obat. Ternyata orang yang diobati dengan bunga tersebut dapat sembuh sehingga terucap dari orang tersebut kata “iki tambaku” (Jawa) yang berarti ini obatku.
Kata tambaku kemudian dijadikan nama tanaman yang ditanam oleh Ki Ageng Makukuhan. Kata “iki” dihilangkan sehingga tinggal kata “tambaku” yang kemudian berubah menjadi “tembako”, sering disingkat menjadi “mbako”. Biji tanaman tembako pertama ditanam di Desa Kemloko, sehingga nama tembakau tersebut terkenal menjadi varietas tembakau Kemloko.
Pada saat Ki Ageng Makukuhan sedang menanam tembakau, utusan Sunan Kudus datang dan menyampaikan pesan agar Ki Ageng Makukuhan melaporkan perkembangan penyebaran agama Islam di Kedu dan hasil panen bibit yang diberikan. Ternyata bibit tembakau yang belum ditanam masih banyak, sehingga Ki Ageng menyelesaikan menanam agar bibit tidak layu dan mati. Karena merasa terlambat maka Ki Ageng Makukuhan tidak lewat jalan darat, tetapi terbang menggunakan ilmu yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.
Sesampai di Pondok Pesantren Glagahwangi, Ki Ageng Makukuhan tidak langsung turun, tetapi berputar-putar mengelilingi masjid untuk mencari tempat yang aman untuk mendarat. Mengetahui hal tersebut Sunan Kudus mengira Ki Ageng Makukuhan memamerkan ilmunya. Maka Sunan Kudus mengutus santrinya untuk melemparkan nyiru (tampah; Jawa) yang berada didekatnya.Ki Ageng tidak menghindar tetapi menaiki nyiru tersebut sehingga Sunan Kudus marah melihat kelakuan muridnya tersebut. Dengan menahan marah Sunan Kudus melempar dengan kerikil sehingga Ki Ageng jatuh. Ki Ageng Makukuhan merasa malu dan memohon maaf sambil menjelaskan duduk persoalannya.Akhirnya Sunan Kudus dapat memaklumi dan memaafkan Ki Ageng Makukuhan.
Pada malam harinya Ki Ageng Makukuhan melaporkan perkembangan pe-nyebaran agama yang dilakukan. Dilaporkan juga bahwa bibit padi yang ditanam sangat disukai oleh masyarakat. Sebaliknya tembakau yang ditanam rasanya
7
kurang enak dan harganya kurang baik. Oleh karena itu Ki Ageng Makukuhan memohon petunjuk Sunan Kudus agar dapat menghasilkan tembakau yang baik. Sunan Kudus bersedia membantu murid kesayangannya tersebut mencarikan lokasi yang tepat untuk bercocok tanam tembakau.
Untuk mencari lokasi tersebut Sunan Kudus cukup dengan mengambil rigen (Jawa), yaitu anyaman bambu berbentuk segi empat berukuran sekitar 2m x 1m, kemudian melemparkan ke arah Kedu. Selanjutnya dijelaskan bahwa lokasi di sekitar jatuhnya rigen tersebut merupakan daerah yang sangat sesuai untuk menanam tembakau. Ternyata rigen tersebut jatuh di lereng G. Sumbing dan tanah tempat jatuhnya rigen tersebut melesak (legok; Jawa). Oleh karena itu tempat tersebut dinamakan Legoksari, yang kemudian berkembang menjadi Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung
Sunan Kudus juga menjelaskan bahwa bila pada malam hari tanah tempat tembakau ditanam seperti memancarkan sinar, maka tembakaunya akan menghasil-kan kualitas sangat istimewa. Sampai sekarang petani di wilayah tersebut tetap mempercayai bila suatu malam lahannya kejatuhan ndaru rigen yang memancarkan cahaya, maka tembakau di lahan tersebut akan menghasilkan mutu istimewa.
Mulailah Ki Ageng Makukuhan membuka lahan di lereng G. Sumbing dan G. Sindoro untuk menanam tembakau. Pada saat pertama kali mulai menanam tembakau, Ki Ageng Makukuhan mengajak warga sekitar untuk bersama-sama berkumpul di lahan untuk diajari menanam tembakau. Sebelum mengajarkan cara menanam tembakau, Ki Ageng Makukuhan mengadakan selamatan berupa jajan pasar, buah-buahan dan kopi kental, minuman kegemaran Ki Ageng Makukuhan. Ki Ageng Makukuhan memimpin doa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar tembakau yang mereka tanam hasilnya memuaskan. Hal tersebut sengaja dilakukan sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam. Sampai saat ini warga di daerah tersebut masih tetap melestarikan acara wiwit sebelum tanam seperti contoh yang diberikan oleh Ki Ageng Makukuhan.
Sebelum panen Ki Ageng Makukuhan juga mengadakan selamatan. Sampai sekarang masyarakat juga masih melestarikannya dengan menyajikan semua kegemaran Ki Ageng Makukuhan berupa tumpeng robyong terbuat dari ketan hitam berbentuk kerucut menyerupai gunung. Tumpeng tersebut dilengkapi
8
dengan lauk-pauk berupa ingkung ayam, pepes teri, telur dadar dan tahu – tempe goreng. Tidak lupa jajan pasar, buah-buahan dan kopi kental tanpa gula kegemaran Ki Ageng Makukuhan. Ritual selamatan tersebut dihadiri oleh semua warga, laki-perempuan, tua-muda. Warga menyebutnya sebagai among tebal.
Bila diperhatikan, tembakau yang ditanam di tanah kering (tegal) bila dirajang hasilnya berbeda dengan tembakau yang ditanam di sawah. Selain itu tembakau tegal yang kejatuhan ndaru rigen bila dirajang akan menggumpal berwarna coklat kehitaman sampai hitam, warga menyebutnya sebagai tembakau Srinthil, karena saat dirajang menghasilkan gumpalan-gumpalan. Tembakau Srinthil memiliki kualitas dan rasa istimewa sehingga harganya juga istimewa.Namun demikian, ndaru rigen tidak setiap tahun datang, selain itu tidak semua lokasi dapat kejatuhan ndaru rigen, bahkan tidak setiap tahun ndaru rigen jatuh di tempat yang sama. Oleh karena itu tidak semua tembakau menjadi Srinthil.
Sampai saat ini masyarakat sangat menghormati Ki Ageng Makukuhan. Penghormatan tersebut ditunjukkan antara lain pada setiap musim tembakau, sebelum musim tanam banyak petani tembakau yang berziarah ke makam Ki Ageng Makukuhan di Kedu. Selain itu menurut Badil (2011), setiap tahun sebelum tanam dan sebelum panen petani tetap melakukan upacara seperti disebutkan di atas sebagai rasa syukur atau memanjatkan doa terkait dengan tembakau.
2.1.2. Kajian Asal-Usul Tembakau Temanggung
Kajian asal-usul tembakau temanggung berasal dari penelusuran berbagai sumber yang kemudian dirangkai untuk mencari benang merahnya. Hal ini dilakukan karena tidak ada pustaka atau sumber tertulis khusus tentang sejarah dan asal-usul tembakau temanggung yang dapat digunakan sebagai acuan.
Berdasarkan referensi yang ada, genus Nicotiana merupakan salah satu anggota famili Solanaceae, pusat sebaran genetiknya adalah Amerika Selatan, kemudian tersebar ke Amerika Utara, Australia dan Pasifik Selatan (Goodspeed, 1954). Genus ini memiliki anggota 4 subgenus, salah satunya adalah Tabacum. Subgenus Tabacum terdiri atas 6 spesies, salah satu di antaranya adalah tabacum (Smith, 1979). Tembakau yang dibudidayakan saat ini sebagian besar adalah spesies Nicotiana tabacum L. Berdasarkan studi genetik dan sitologi menunjukkan
9
bahwa spesies N. Tabacum merupakan hasil persilangan secara allotetraploid antara N. sylvestris dan N. tomentosiformis (Legg dan Smeeton,1999).
Menurut Goodspeed (1954), penyebaran Nicotiana sangat dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu: (1) sebagai bahan ritual atau kenikmatan, (2) transportasi benih yang kadang-kadang sampai ke tempat yang sangat jauh, dan (3) kecenderungan sejumlah spesies untuk menempati tanah-tanah yang terlantar. Dua spesies Nicotiana yang memiliki nilai ekonomi penting adalah N. tabacum dan N. rustica. Keduanya banyak dibudidayakan di Amerika Utara dan Selatan serta di Hindia Barat yang beriklim tropis sampai subtropis, antara 60o Lintang Utara sampai 45o Lintang Selatan.
Orang-orang Portugis dan Spanyol memiliki peran penting dalam penyebaran tembakau ke berbagai daerah di dunia. Introduksi tembakau ke India terjadi sekitar tahun 1605 sehingga berkembang menjadi komoditas penting di negara terebut. Penyebaran ke Cina dan Jepang terjadi sekitar pertengahan abad ke 16. Introduksi tembakau ke Indonesia diperkirakan terjadi pada periode yang sama (Akehurst, 1983).
Tembakau pertama kali dimasukkan ke Jawa sekitar tahun 1600 oleh orang-orang Portugis. Hal ini dikemukakan oleh botanis De Candolle seperti dikutip oleh Van der Reijden (1931). Sebutan tembakao, mbako atau bako yang biasa diguna-kan di Jawa lebih sesuai dengan istilah tabacco atau tumbacco dalam bahasa Portugis. Asal-usulnya tidak tercatat dengan baik, tetapi benihnya diduga berasal dari Meksiko, dibawa ke Filipina melalui Lautan Pasifik kemudian menyebar ke seluruh Asia. Pada tahun 1609 orang-orang Spanyol mulai menanam tembakau di pulauJawa menggunakan N. tabacum var. fructicosa (Comes dalam Hamid, 1973).
Pada tahun 1650 tanaman tembakau telah ditanam oleh rakyat di berbagai tempat, terutama dieks Karesidenan Kedu (Temanggung, Wonosobo, Magelang, Bagelen), Malang dan Priangan. Pada tahun 1830 benih tembakau juga didatangkan dari Manila dan dicoba di Karawang dan Pasuruan. Tahun 1845 pertanaman tembakau semakin luas, terutama di Karesidenan Rembang dan Semarang. Selain itu tembakau berkembang juga di daerah Banten, Cirebon, Tegal, Surabaya dan Pasuruan.
10
Pada tahun 1870-1875 beberapa daerah yang dikenal sebagai sentra penting tembakau adalah Kediri, Malang, Besuki, Rembang, Probolinggo, Lumajang, Kedu dan Banyumas. Berdasarkan catatan, varietas yang ditanam adalah keturunan dari hibrida tembakau Manila dan Havana yang didatangkan pada tahun 1830 dengan tembakau yang telah lama ditanam dan berkembang di Indonesia.
Mengingat materi yang ditanam adalah hibrida seperti disebutkan di atas, maka akan terjadi segregasi sehingga terbentuk genotipa-genotipa yang sangat beragam. Selama beratus generasi akan terjadi juga seleksi alami dan adaptasi di berbagai lingkungan yang berbeda. Dalam pembentukan jenis-jenis liar atau strain-strain liar, Sumarno (2012) menyatakan ada beberapa faktor yang berperan, antara lain: (1) keberadaan atau okupasi spesies di wilayah tersebut sudah sangat lama, (2) iklim dan lingkungannya kondusif untuk terjadinya perkembangan dan persilangan alam intra spesies, (3) lingkungan spesifik yang membentuk timbulnya strain-strain yang beradaptasi secara spesifik, dan (4) lingkungan yang kondusif untuk terjadinya mutasi alam.
Karena berbagai faktor yang berpengaruh terhadap hibrida-hibrida tersebut, maka saat ini dapat dijumpai tembakau yang berbeda-beda di berbagai daerah di Indonesia, baik berbeda secara morfologi, fisiologi, produksi maupun kualitasnya. Melalui proses tersebut di atas maka terbentuklah berbagai tipe tembakau lokal spesifik seperti yang ada pada saat ini. Masing-masing tipe tembakau lokal memiliki ciri umum tertentu, sedangkan dalam tipe terdapat variasi sifat tertentu yang dapat menjadi penciri varietas. Demikian juga tembakau yang berkembang di wilayah Kedu, diperkirakan menyebar ke berbagai daerah sekitarnya, termasuk ke Desa Kemloko yang berada di Kabupaten Temanggung.
Pada awalnya tembakau yang berkembang di Temanggung, Wonosobo dan Magelang disebut sebagai tembakau Kedu. Untuk membedakan produk yang ber-beda-beda, terutama tembakau dari lereng G. Sumbing dan G. Sindoro yang terletak di Kabupaten Temanggung maka tembakau dari Kabupaten Temanggung disebut sebagai tembakau temanggung. Tembakau yang berasal dari Muntilan, Magelang, Wonosobo dan sebagainya disebut sesuai dengan daerah asalnya. Akan tetapi tembakau dari sekitar Temanggung lebih sering disebut sebagai tembakau temanggungan.
11
2.2. Tembakau Srinthil
Tembakau temanggung diolah menjadi tembakau rajangan. Mutu yang di-peroleh dipengaruhi oleh posisi daun pada batang, semakin tinggi posisi daunnya, semakin tinggi juga mutunya. Makin tinggi posisi daunnya, makin tinggi juga kadar nikotinnya.
Gambar 2. Di lahan pada ketinggian di atas 800 m dpl berpotensi menghasilkan tembakau Srinthil
Selain posisi daun, ketinggian tempat penanaman juga sangat besar penga-ruhnya terhadap mutu yang dihasilkan. Tembakau temanggung ditanam di lahan dengan ketinggian antara 600 m dpl hingga 1.600 m dpl. Perbedaan ketinggian tempat berpengaruh besar terhadap umur tanaman tembakau. Semakin tinggi tempatnya, umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umurtanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin dalam daun juga menjadi semakin panjang. Keadaan tersebut mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.
Tembakau yang disebut dengan Srinthil hanya dapat terjadi di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat dapat menghasilkan Srinthil. Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil Srinthil, mutu istimewa tersebut hanya dapat terjadi bila cuaca selama musim tanam
12
tembakau sangat kering. Pada kondisi demikian daun yang berpotensi menjadi mutu Srinthil, dapat diketahui setelah diperam 5 hari. Ciri-ciri daun tersebut adalah berubah warna menjadi coklat kehitaman, tumbuhnya puthur (semacam hifa jamur berwarna kuning, Gambar 3) dan mengeluarkan cairan serta aroma seperti alkohol. Daun tembakau yang diperam tersebut tidak busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat, tetapi menjadi hancur menggumpal, bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.
Beberapa peneliti pasca panen mengamati pada tembakau yang sedang diperam tersebut tumbuh beberapa macam mikroorganisme semacam jamur yang berwarna kuning yang oleh petani disebat sebagai puthur kuning. Usaha untuk membuat mutu Srinthil dengan memanfaatkan mikroorganisme tersebut (setelah diisolasi, inokulasi dan disemprotkan) tidak berhasil, karena mikroorganisme tersebut tidak berkembang.Berdasarkan informasi dari para penghasil Srinthil, varietas yang dapat menjadi Srinthil adalah Kemloko, Kemloko 1 dan Kemloko 2. Sedangkan daerah-daerah yang biasa menghasilkan Srinthil adalah Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.
13
III.
PEMOHON
Pemohon Indikasi Geografis Tembakau Srinthil Temanggung adalah
Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tembakau Srinthil Temanggung
atau disingkat sebagai MPIG-TST, yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Temanggung No. 050/485 Tahun 2013 tertanggal 24 Juni 2013 (Lampiran 5). Selanjutnya MPIG-TST akan didaftarkan ke Notaris untuk menjadi Badan Hukum yang dilengkapi dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tanggaserta unit-unit lainnya yang diperlukan.
Pengurus dan anggota MPIG-TST terdiri dari petani dan pengolah tembakau Srinthil yang terdiri dari 45 kelompok tani yang beranggotakan 675 petani di 8 Desa 3 Kecamatan, dengan luas areal sekitar 200 ha.Susunan organisasi MPIG-TST saat ini sesuai dengan lampiran SK. pembentukannya adalah sebagai berikut
Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tembakau Srinthil Kabupaten Temanggung
I. Pelindung
1. Bupati Temanggung : Ketua
2. Wakil Bupati Temanggung : Wakil Ketua 3. Sekretaris Daerah
Kabupaten Temanggung : Sekretaris
II. Penasehat
1. Asisten Ekonomi, Pembangunan
dan Kesra Setda : Ketua
2. Kepala Bappeda : Sekretaris
3. Kepala Bapeluh : Anggota
4. Kepala Dinas Pertanian,
Perkebunan dan Kehutanan : Anggota
5. Kepala Dinas Perindagkop dan
UMKM : Anggota
6. Kepala Bagian Perekonomian
Setda : Anggota
III. Pengurus
1. Subakir : Ketua
2. Heru : Wakil Ketua
3. Yamuhadi : Sekretaris
14
5. Slamet : Wakil Sekretaris
6. Mustar : Seksi Pembudidayaan
7. Waldiyono : Seksi Pengendalian Penyakit
8. Sumaryo : Seksi Pengolahan Hasil
9. Imbuh : Seksi Pemasaran
10. Suamin : Seksi Pembinaan Sumber Daya Manusia
11. Sutopo : Koordinator Kecamatan Tlogomulyo
12. Kasdi : Koordinator Kecamatan Bulu
13. Haryono : Koordinator Kecamatan Tembarak Seluruh anggota dan pengurus MPIG-TST memiliki kartu anggota dengan bentuk seperti pada Gambar 4 :
Gambar 4. Kartu Anggota MPIG-Tembakau Srinthil Temanggung
Sekretariat MPIG-TST saat ini beralamat di : Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung.
KARTU ANGGOTA MPIG-TST TEMBAKAU SRINTHIL TEMANGGUNG
--- No : ..../MPIG-TST/.... Nama : Alamat : Jabatan : Pekerjaan : Temanggung, ..., 2013 Ketua, Subakir
15
IV.
BUKU PERSYARATAN
Pengusulan Perlindungan Indikasi Geografis suatu produk membutuhkan persyaratan-persyaratan tertentu serta pemahaman bagi masyarakat yang akan mengusulkannya. Berkaitan dengan itu maka dilakukan sosialisasi di tiga lokasi penghasil tembakau Srinthil, yaitu di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu dan Desa Kemloko, Kecamatan Tembarak. Sosialisasi diikuti oleh perwakilan petani dari 8 desa penghasil Srinthil. Narasumber dalam sosialisasi tersebut adalah tim ahli indikasi geografis (Gambar 5).
Gambar 5. Dr. Ir. H. Riyaldi (tim ahli indikasi geografis) memberikan penjelasan kepada para petani tembakau di Desa Kemloko, Kecamatan Tembarak
Selain melakukan sosialisasi, tim juga membantu dalam penyusunan Buku Persyaratan. Dalam menyusun buku persyaratan, tim melakukan pengumpulan informasi menyangkut Kelompok Tani dan Masyarakat Pertembakauan, sejarah pengembangan tembakau, adat istiadat yang terkait, budidaya, pengolahan dan mutu tembakau Srinthil. Informasi juga dikumpulkan dari beberapa konsumen tembakau perwakilan industri rokok besar yang ada di Temanggung. Selanjutnya draf yang telah disusun didiskusikan dan dibahas bersama MPIG-TST, BAPPEDA, Distanbunhut, Disperindagkop dan UMKM, Bapeluh, Bagian Perekonomian, Asisten Ekonomi, Pembangunan dan Kesra serta Kepala Desa dan Camat lokasi penghasil tembakau Srinthil (Gambar 6).
16
Gambar 6. Pembahasan draf Buku Persyaratan Indikasi Geografis Tembakau Srinthil Temanggung di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten
Temanggung
4.1. Nama Indikasi Geografis
Nama Indikasi Geografis yang dimohonkan pendaftarannya, adalah :
Tembakau Srinthil Temanggung
4.2 Nama Barang
Nama barang yang diusulkan untuk mendapat sertifikat Indikasi Geografis tembakau Srinthil Temanggung adalah tembakau Srinthil yang diolah dari daun tembakau yang dihasilkan dari Kabupaten Temanggung dan diproses menjadi tembakau Srinthil di Kabupaten Temanggung.
4.3. Karakteristik Dan Kualitas Tembakau Srinthil Temanggung
Pada pembuatan sigaret keretek, tembakau dikelompokkan sebagai bahan pemberi rasa atau “lauk” dan bahan pengisi atau „nasi‟. Tembakau rajangan temanggung merupakan tembakau pemberi rasa atau lauk. Sebagai bahan pemberi rasa, tembakau rajangan temanggung mempunyai posisi penting sehingga mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan tembakau jenis lain.
17
Gambar 7. Penampilan dan harga tembakau Srinthil temanggung
Mutu tembakau rajangan temanggung yang tertinggi adalah tembakau Srinthil (Gambar 7). Oleh sebab itu petani tembakau temanggung setiap tahun berharap dapat menghasilkan mutu Srinthil karena mempunyai harga yang tinggi, melalui perbaikan teknik budidaya (terutama dalam penggunaan pupuk, perbaikan cara panen dan pengolahan). Namun demikian juga terjadi upaya pemalsuan melalui berbagai cara, antara lain dengan memberi pewarna dan bahan lainnya yang dapat dikategorikan sebagai Non Tobacco Related Material (NTRM).
Mutu tembakau Srinthil Temanggung terdiri dari beberapa tingkatan yang dimulai dari mutu E hingga K, namun demikian untuk mutu H, I, J dan K saat ini sudah sulit dihasilkan. Karena mutu tertinggi tembakau Srinthil sulit dihasilkan, maka petani yang dapat menghasilkan mutu H, I, J dan K seolah-olah mendapat berkah atau ndaru rigen.
4.3.1. Fisik
Padilla dalam Abdallah (1970) mendefinisikan bahwa mutu tembakau adalah gabungan dari sifat fisik, organoleptik dan kimia, yang menyebabkan tembakau tersebut sesuai atau tidak untuk tujuan pemakaian tertentu. Mutu tembakau juga didefinisikan sebagai gabungan semua sifat kimia dan organoleptik yang dapat ditransformasi oleh perusahaan, pedagang atau perokok yang secara ekonomis dan ditinjau dari rasa dapat diterima (Manuel Llanos Company, 1985).
Tso (1972) menyatakan bahwa mutu mempunyai sifat relatif, yang dapat berubah karena pengaruh selera atau subyektifitas orang, waktu dan tempat. Berdasarkan batasan-batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu ditentukan
18
oleh perbedaan kepentingan masing-masing pihak sesuai dengan tujuan berdasarkan aspek fisik, kimia, dan sensori. Penilaian karakteristik dan kualitas tembakau Srinthil Temanggung secara fisik harus dilakukan bersamaan dengan pengujian secara organoleptik.
4.3.2. Kimia
Penentuan keaslian, karakteristik dan kualitas produk tembakau Srinthil Temanggung terutama dengan menggunakan indikator kandungan nikotin. Kandungan kadar nikotin pada masing-masing mutu tembakau temanggung disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Mutu dan kadar nikotin tembakau temanggung
Mutu Nikotin (%) Panen ke- Organoleptik
(warna, aroma dan pegangan) A B C D-E E-F F-K 2,33 2,16 2,38 5,42 4,58 6,97 I II III III-IV IV-V V-VII
Hijau kekuningan, tidak ada aroma, ringan Kuning kehijauan, sedikit aroma, ringan
Kuning, beraroma, minyak, agak tebal Coklat, segar, berminyak, tebal “antep” Coklat, segar, berminyak, tebal “antep” Hitam, lebih segar, tebal, lebih “antep” Keterangan : tembakau Srinthil Temanggung dimulai dari mutu E - K
Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada tahun 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil Temanggung dari sepuluh daerah pengambilan contoh ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05% sampai 7,58% (Tabel 2).
19
Tabel 2. Hasil analisa kadar nikotin tembakau Srinthil dari beberapa daerah Temanggung
No Blok Lahan Desa Kadar nikotin (%)
01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 Gongseng Tanggul Petung ngisor Ngelo ngisor Sekinjeng ndhuwur Nglempong ndhuwur Ngringin tengah Sekelenteng Puntukgong Tawang Tlilir Kemloko Legoksari Legoksari Legoksari Legoksari Legoksari Losari Kemloko Tlilir 7,12 – 7,58 5,11 – 5,37 5,74 – 6,14 5,74 – 5,74 5,05 – 5,28 6,61 – 7,18 6,56 – 6,84 7,52 – 7,53 6,56 – 6,72 7,31 – 7,36 4.3.3. Organoleptik
Dalam transaksi jual beli, penentuan mutu dilakukan dengan uji sensori atau organoleptik yang didasarkan pada kenampakan warna, pegangan, dan aroma. Cara lain dalam penilaian mutu adalah dengan uji secara kimia, tetapi cara uji tersebut masih belum ada kesepakatan tentang komponen kimia apa yang dapat menggambarkan mutu tembakau Srinthil. Cara penilaian mutu dengan uji secara kimia juga memerlukan waktu lama dan biaya yang cukup mahal, sedangkan transaksi harus dilakukan secepatnya.
Penilaian mutu tembakau secara organoleptik dilakukan pada kondisi cahaya matahari yang cukup, yaitu antara pukul 07.00 sampai 16.00 WIB. Jika pada saat penilaian mutu kondisi cuaca mendung (kurang sinar) maka dapat menyulitkan penetapan mutunya sehingga dapat merugikan penjual atau pembelinya.
Kriteria mutu yang dinilai terlebih dahulu adalah warna, meliputi warna dasar (value) dan tingkat kecerahannya (chroma) yang ditentukan secara visual. Dari warnanya tembakau dapat diperkirakan tingkat kemasakan daun sewaktu dipanen, baik buruknya proses pemeraman, tingkat kemasakan daun pada saat dirajang, sempurna atau tidaknya proses pengeringan, serta posisi daun pada batang. Warna tembakau harus cukup cerah, jangan sampai kusam/”kusi”. Semakin tinggi mutu tembakau, warnanya semakin cerah atau bercahaya.
Menurut LeCompte dalam Tso (1972) pada masing-masing tingkat mutu tembakau Connecticut terdapat perbedaan kandungan jumlah pigmen, terutama pigmen kuning dan hijau. Pada tembakau temanggung bermutu rendah yang
20
berasal dari daun posisi bawah berwarna hijau kekuningan cerah, makin tinggi mutunya, warnanya menjadi semakin hitam berkilau sampai hitam nyamber lilen (hitam berkilat).
Karena warna tembakau dapat berubah seiring dengan waktu, terutama untuk posisi daun bawah sampai tengah, maka gudang-gudang pembelian menghendaki proses jual beli dari petani dilakukan sesegera mungkin setelah tembakau tersebut kering. Tembakau yang tidak segera dijual umumnya dihargai sangat rendah karena grader (penilai mutu dari pabrikan) mengalami kesulitan dalam menentukan status mutunya akibat terjadi perubahan warna.
Cara penilaian selanjutnya, tembakau dipegang (digenggam) untuk mengetahui bodinya atau tingkat kesupelannya. Pengertian bodi menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan pegangan, yaitu ketebalan daun, keantepan, kekenyalan, kelekatan, dan keberminyakan. Semakin supel atau berbodi, tembakau semakin berisi, yaitu suatu keadaan yang menunjukan semakin baik mutu tembakaunya. Beberapa petani melakukan manipulasi untuk memperbaiki tingkat kesupelan tersebut dengan memberikan bahan aditif berupa gula (tepung gula). Cara tersebut tidak dikehendaki oleh konsumen karena dapat merusak mutu tembakau pada waktu fermentasi di gudang penyimpanan sebelum tembakau tersebut diproses untuk rokok.
Setelah dilihat dan dipegang, kemudian dicium untuk mengetahui aromanya. Semakin tinggi mutu tembakau aromanya semakin harum, antep, halus, gurih, dan manis. Tembakau yang bermutu rendah ditandai dengan aroma yang tidak segar. Menurut Tso (1972) kandungan gula dapat memberikan aroma yang harum pada tembakau sehingga dapat memberikan rasa yang dikehendaki.
Dalam melakukan penilaian mutu disamping menggunakan penilaian berdasarkan warna, pegangan dan aroma, beberapa grader kadang-kadang juga membakar dan menghisap asapnya untuk lebih meyakinkan.
Keuntungan pengujian mutu secara sensori atau organoleptik adalah mempercepat penyelesaian pekerjaan dan pengambilan keputusan. Sedangkan kerugiannya, tidak terukur secara obyektif yang dapat dihayati pihak lain. Unsur utama penentu mutu yang digunakan untuk pengujian sensori adalah warna, pegangan, dan aroma. Ketiga unsur penentu mutu tersebut diduga erat kaitannya dengan komponen kimia penyusun mutu. Menurut Tso (1972) dan Akehurst (1981)
21
warna, pegangan, dan aroma tembakau ditentukan oleh komponen kimianya, antara lain pigmen, gula, nikotin, dan total volatile basis.
Tahap berikutnya adalah penilaian kemurnian tembakau untuk mengetahui tembakau tidak tercampur dengan tipe tembakau lain maupun tercampur dengan posisi daun tembakau yang lain. Setelah dilakukan penilaian kemudian ditetapkan mutunya berdasarkan spesifikasi persyaratan mutu (Tabel 3).
Tabel 3. Spesifikasi Mutu tembakau Srinthil Temanggung (SNI :01-4101-1996, diolah).
Mutu
Jenis uji Warna Pegangan/bodi/
Cekel
Aroma Posisi daun Kemur nian Keber sihan E Cokelat kemerahan, cokelat kehitaman, cerah Tebal, ”antep”, mantap,supel, berminyak, lekat, mudah ”ngempel” Segar, sangat harum, halus, mantap, gurih, dan manis Atas s.d. tengah atas (Pronggolan s.d. tenggokan”) Cukup Bersih F Cokelat tua kehitaman, hitam kecokelatan cerah Tebal, ”antep”, mantap,supel, berminyak, lekat, mudah ”ngempel” Segar, sangat harum, halus dan dalam, mantap sekali, gurih, dan manis Atas (Pronggolan”) Murni Bersih G Hitam sedikit kemerahan, cerah Tebal, ”antep”, mantap,supel, berminyak, lekat, mudah ”ngempel” Segar, sangat harum, halus dan dalam, mantap sekali, gurih, dan manis Atas (Pronggolan”) Murni Bersih H Hitam berkilau, cerah Tebal, ”antep”, mantap, supel, lebih berminyak, lebih lekat, dan lebih mudah ”ngempel”
Lebih segar, sangat harum, halus dan dalam, mantap sekali, gurih, manis sekali Atas (Pronggolan”) Murni Bersih I Hitam “nyamber lilen” cerah sekali Tebal, ”antep”, mantap, lebih supel, lebih berminyak, lebih lekat, dan lebih mudah ”ngempel”
Lebih segar, sangat harum, halus dan dalam, mantap sekali, gurih sekali, manis sekali Atas (Pronggolan”) Murni Bersih K Hitam “nyamber lilen” cerah sekali Tebal, lebih ”antep”, lebih mantap, lebih supel, lebih berminyak, lebih lekat, dan lebih mudah ”ngempel”
Lebih segar, sangat harum, lebih halus dan dalam, mantap sekali, gurih sekali, manis sekali Atas (Pronggolan”) Murni Bersih
22
4.4. Kondisi Umum Wilayah
4.4.1. Administrasi
Kabupaten Temanggung berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo (sebelah barat), Kabupaten Magelang (sebelah selatan dan timur), Kabupaten Kendal (sebelah utara)dan Kabupaten Semarang (sebelah utara dan timur). Luas wilayah Kabupaten Temanggung 87,065 km2 dan terdiri dari 20 kecamatan. Dari total luasan tersebut sekitar 13.000 ha merupakan lahan tembakau.
Daerah penghasil tembakau temanggung mutu Srinthil terkonsentrasi di beberapa desa di Kabupaten Temanggung, yaitu Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko (Gambar 8). Daerah-daerah tersebut memiliki posisi geografis 7˚18˒30”S dan 110˚4˒0”E. Peta daerah pertanaman tembakau yang dapat menghasilkan tembakau Srinthil terdapat pada Gambar 8 berikut :
23
4.4.2 Geologi
Berdasarkan Peta Geologi Skala 1: 100.000 Lembar Magelang dan Lembar Banjarnegara, wilayah penghasil tembakau temanggung mutu Srinthil memiliki jenis batuan: Qsm (Batuan Gunung Api Sumbing). Batuan gunung api tersebut terdiri dari andesit-augit-olivine. Formasi batuan ini tersebar di sebelah selatan kota Temanggung dan Parakan, tepatnya dari puncak G. Sumbing sampai lereng bawah G. Sumbing. Peta geologi daerah penghasil tembakau Srinthil terdapat pada Gambar 9.
24
4.4.3 Bentuk Lahan
Daerah penghasil tembakau mutu Srinthil terdiri dari dua bentuk lahan yang terbagi menjadi lereng vulkan atas dan lereng vulkan tengah. Lereng vulkan atas memiliki kerucut yang curam, pada umumnya mempunyai garis-garis kikisan yang dalam, sedangkan pada lereng vulkan tengah memiliki kerucut vulkan yang tidak terlalu curam dengan poladrainase radial. Proses pembentukan tanah di daerah tersebut sangat dipengaruhi oleh bentuk lahan vulkanik yang memiliki sub grup vulkanik berlapis, yaitu sistem gunung berapi dengan proses letusan berulang-ulang sehingga terjadi pelapisan bahan piroklastik dan aliran lava. Peta peta sebaran bentuk lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 10.
25
4.4.4 Lereng
Daerah penghasil tembakau mutu Srinthil mempunyai kemiringan berombak (3%-8%), bergelombang (8%-15%) dan berbukit (15%-30%). Peta sebaran lereng lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 11.
Gambar 11. Peta sebaran lereng lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
4.4.5 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di daerah tembakau penghasil mutu Srinthil adalah sebagai lahan kering, dengan pola tanam jagung-tembakau, bawang putih-tembakau, atau lombok-tembakau. Peta penggunaan di lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 12
26
Gambar 12. Peta penggunaan di lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
Secara umum kondisi topografi di Kecamatan Bulu adalah bergelombang, berombak dan terjal. Lahan didominasi lahan kering dengan vegetasi yang dominan adalah tembakau. Kondisi topografi di Kecamatan Tlogomulyo adalah bergelombang, berombak, curam dan sangat curam. Kondisi topografi di kecamatan Tembarak adalah bergelombang dan berbukit.
27
4.4.6.Ketinggian Lahan
Tembakau Srinthil hanya dihasilkan pada daerah pertanaman tembakau di Kecamatan Bulu, Tembarak dan Tlogomulyo yang terletak pada ketinggian diatas 800meter dpl. Peta daerah pertanaman tembakau Srinthil berdasarkan batasan ketinggian terdapat pada Gambar 13.
28
4.5. Identifikasi Tanah 4.5.1. Klasifikasi Tanah
Berdasarkan sistem Taksonomi Tanah (Soil Survei Staff,1998), maka daerah penghasil tembakau mutu Srinthil I Kabupaten Temanggung (Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari dan Wonotirto) adalah daerah yang dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dan termasuk ordo Inceptisol. Jenis tanah tersebut merupakan tanah muda dan mulai berkembang, memiliki penampang profil dengan horison yang pembentukannya agak lambat sebagai alterasi bahan induk.
Ordo Inceptisol diklasifikasikan menjadi sub ordo Udepts Grup dengan Dystrudepts, Sub Grup mulai dari Humic Dystrudepts, Humic Pssamentic Dystrudepts, Lithic Dystrudepts, Humic Lithic Dystrudepts dan Typic Dystrudepts. Umumnya, pada Inceptisols tersebut tidak dijumpai kenampakan adanya akumulasi besi (Fe) dan mangan (Mn) sebagai proses reduksi-oksidasi. Peta sebaran jenis tanah penghasil Srinthil terdapat pada Gambar 14.
29
Gambar 14. Peta sebaran jenis tanah penghasil Srinthil
4.5.2. Kondisi Tanah
4.5.2.1. Sifat Fisik Tanah
Sifat-sifat fisik tanah yang terkait dengan survei tanah untuk tanaman tembakau penghasil Srinthil antara lain adalah sifat-sifat tanah yang diindikasikan dengan parameter-parameter tekstur, struktur, konsistensi, permeabilitas, drainase, berat isi, porositas dan kandungan air tersedia.
a. Tekstur
Tekstur tanah sentra tembakau temanggung penghasil mutu Srinthil terdiri atas lima kelas tekstur yang tersebar yaitu pasir, lempung berpasir, pasir berlempung, lempung berdebu, dan lempung. Peta sebaran tekstur lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 15.
30
Gambar 15. Peta sebaran tekstur lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
b. Struktur
Lokasi survei yang terbentuk atas bahan induk abu vulkanik, secara umum tersusun atas struktur tanah dengan bentuk gumpal membulat dalam ukuran kecil sampai sedang dan perkembangannya mulai dari lemah sampai kuat.
c. Permeabilitas dan Drainase Tanah
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kelas permeabilitas tanah di daerah pertanaman tembakau penghasil mutu Srinthil adalah mulai dari sangat cepat sampai lambat, dengan kelas yang mendominasi adalah sedang. Kelas ini berada pada daerah-daerah berlereng dengan tekstur tanah sedang sampai halus pada berbagai tingkat penutupan lahan.
31
d. Berat Isi (BI)
Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kondisi berat isi daerah pertanaman tembakau penghasil tembakau Srinthil dikategorikan kedalam kelas sedang dengan nilai 0,8 g cm-3 - 1,2 g cm-3. Peta sebaran nilai berat isi lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 16.
Gambar 16. Peta sebaran nilai berat isi lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
e. Ketersediaan Air
Lahan tembakau penghasil mutu Srinthil mempunyai nilai ketersediaan air dengan kisaran antara 0,16 cm3 - 0,25 cm3. Peta sebaran nilai ketersediaan air lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 17.
32
Gambar 17. Peta sebaran nilai ketersediaan air lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
f. Porositas
Daerah penghasil tembakau mutu Srinthil mempunyai kisaran nilai porositas antara 45 % – 55 %. Peta sebaran nilai porositas lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 18.
33
Gambar 18. Peta sebaran nilai porositas lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
4.5.2.2 Sifat Kimia Tanah
Sifat kimia tanah memiliki komponen berupa pH, kandungan C-organik
tanah, Nitrogen, Phospor, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa
a. pH
Sentra penghasil tembakau mutu Srinthil didominasi oleh tanah tanah dengan kelas reaksi tanah agak masam (pH 5,5 – 6,5), sisanya mempunyai pH sangat masam (pH <4,5) dan masam (pH 4,5 – 5,5).
34
Gambar 19. Peta sebaran pH tanah pada lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
b. Kandungan C-Organik Tanah
Lahan-lahan sentra tembakau penghasil mutu Srinthil mempunyai kandungan C organik dengan kisaran antara sangat rendah-tinggi antara 0,1% - 5%. Peta sebaran kadar C organik lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 19.
35
Gambar 20. Peta sebaran kadar C-organik lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
c. Nitrogen (N)
Dari hasil analisis lahan-lahan tembakau penghasil mutu Srinthil mempunyai
36
Gambar 21. Peta sebaran nilai N total lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
d. Phospor (P)
Hasil analisis tanah menunjukan bahwa kadar phosphor pada lokasi lahan penghasil tembakau Srinthil mempunyai kisaran rendah yaitu 1,77% - 3,57%. Peta sebaran nilai p lahan tembakau penghasil Srinthil terdapat pada Gambar 22.
37
Gambar 22. Peta sebaran nilai P lahan tembakau penghasil Srinthil
e. Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan parameter yang menunjukkan potensi kesuburan tanah dalam hal ketersediaan unsur hara. Tanah yang memiliki nilai KTK tinggi akan mampu menyediakan unsur hara yang lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Daerah penghasil tembakau mutu Srinthil mempunyai nilai KTK pada kisaran antara rendah sampai sangat tinggi antara 5 me/100gr - 40me/100gr. Peta sebaran nilai kapasitas tukar kation lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 23.
38
Gambar 23. Peta sebaran nilai kapasitas tukar kation lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
f. Kejenuhan Basa
Lahan-lahan tembakau penghasil mutu Srinthil mempunyai nilai kejenuhan basa beragam mulai dari sangat rendah sampai sangat tinggi antara 24%-97%. Basa-basa dapat dipertukarkan (K, Na, Ca, dan Mg) juga dianalisa guna mengetahui persentase kejenuhan basa tanah (KB). Pada lokasi tembakau penghasil mutu Srinthil mempunyai kadar Ca sangat beragam mulai dari rendah sampai dengan tinggi antara 3,96 me/100gr -13,18 me/100gr, sedangkan nilai Mg termasuk kategori berkisar mulai dari sangat rendah sampai dengan tinggi antara 0,17 me/100gr - 7,00me/100gr. Nilai Na rendahantara 0,34me/100gr - 0,42me/100gr sedangkan nilai K beragam mulai dari sedang sampai tinggi antara 0,33 me/100gr - 0,94 me/100gr.
Peta sebaran nilai Ca, Mg, Na dan K pada lahan tembakau penghasil mutu Srinthil terdapat pada Gambar 24.
39
40
Secara umum karakteristik lahan daerah penghasil tembakau Srinthil disajikan pada Tabel berikut:
Tabel 4. Karakteristik Sifat Fisik Tanah pada Lahan Tembakau Penghasil Srinthil
No Karakteristik Sifat Fisik Ukuran
1 Ordo Tanah Inceptisol
2 Tekstur Pasir-pasir berlempung
3 Berat Isi Sedang (0,8-1,2 gcm-3) 4 Ketersediaan Air 0,16-0,25 cm3cm-3
5 Porositas 45,76-55,04 %
Tabel 5. Karakteristik Sifat Kimia Tanah Penghasil Tembakau Srinthil
No Karakteristik Sifat Kimia
Ukuran
1 pH aktual 4,5 – 6,5
2 C-Organik Sangat rendah – tinggi (0,1 - 5%) 3 Nitrogen Sedang –tinggi (0,21 –1,67%) 4 Phospor Sangat Rendah (0 - 20%)
5 KTK Rendah - sangat tinggi (5 - >40 me/100g) 6 Kejenuhan Basa Sangat rendah - sangat tinggi (0 - >75%)
7 Ca Rendah – tinggi (2 - 20 me/100g)
8 Mg Sangat rendah – tinggi (0 - 8 me/100g)
9 Na Rendah (0,1 – 0,3 me/100g)
10 K Sedang – tinggi (0,3 - 1 me/100g)
4.6. Pengaruh lingkungan
Suatu produk merupakan hasil inovasi yang tidak dapat dilepaskan dari interaksi berbagai faktor, termasuk dengan lingkungan. Faktor lingkungan yang terkait dengan tembakau Srinthil dapat berupa faktor alam dan manusia. Selain itu adat istiadat dan budaya lokal juga dapat memberi warna tersendiri.
4.6.1. Faktor alam
Wilayah kabupaten Temanggung yang dapat menghasilkan tembaku Srinthil terletak di lereng G. Sumbing dengan ketinggian lebih dari 800 m dpl. Secara umum daerah tersebut memiliki suhu lebih rendah dan air lebih terbatas dibanding daerah-daerah yang letaknya lebih rendah, lebih-lebih pada musim kemarau. Tidak semua jenis tanaman dapat hidup dan berkembang dengan baik.
Salah satu jenis tanaman yang dapat dibudidayakan dengan hasil yang baik adalah tembakau. Karena air sangat terbatas, sejak ditanam, tembakau tidak pernah
41
disiram, walaupun demikian tanaman tembakau dapat tumbuh dengan baik. Alam menyediakan embun di malam hari yang cukup untuk pertumbuhan tanaman tembakau. Bahkan di tempat tertentu dapat dihasilkan tembakau dengan kualitas sangat tinggi dan dengan nilai ekonomi sangat tinggi pula yang dikenal sebagai tembakau Srinthil. Kualitas demikian tidak dapat diperoleh di tempat lain, lebih-lebih di daerah yang letaknya lebih rendah.
Sentra utama penghasil tembakau mutu Srinthil mempunya rata-rata curah hujan antara 20,7 mm – 27,7 mm per hari. Peta sebaran curah hujan harian lahan tembakau penghasil mutu Srinthil disajikan pada Gambar 25.
Gambar 25. Peta sebaran curah hujan harian lahan tembakau penghasil mutu Srinthil
42
Tabel 6. Data curah hujan KabupatenTemanggung selama 6 tahun
Bulan 2008 2009 2010 2011 2012 CH (mm) HH (hari) CH (mm) HH (hari) CH (mm) HH (hari) CH (mm) HH (hari) CH (mm) HH (hari) Jan 304,6 18,43 412,5 20,8 260,6 22,63 178,2 18 345,5 19,6 Feb 247,5 19,3 305,1 19,5 283,2 18,75 153,3 14,22 295,3 18,89 Mar 329,4 20,18 219,7 14,4 308,3 19,1 280,7 20,75 127,8 11,22 Apr 0 0 101,3 12,57 258,1 15,4 229,2 19,75 156,1 13,29 Mei 0 0 134,8 11,88 344,6 18,9 153,3 13,75 145,3 8,38 Jun 0 0 44 4,86 156,7 10,38 19 2,14 79 4,11 Jul 0 0 4,6 1 106,6 11,75 35,9 4 15,5 1,67 Ags 63,64 4,89 10,1 2 110,9 11,13 4,6 1 0 0 Sep 10,09 1,6 3,9 1,67 270,4 17 15 2 6,3 1,5 Okt 123,4 12,38 52,45 5,57 256,1 15,13 157,3 11,63 84,2 8,13 Nop 220,3 18,33 128,1 12,38 261,6 17,38 221,6 19,63 265,4 12,75 Des 0 18,33 136,4 13 292,5 23 315,8 19,4 346,9 20,88 Juml 1298,9 113,44 1553 119,6 2910 200,55 1763,9 146,3 1867,3 120,4 Rerata 185,56 14,18 129,4 9,969 242,5 16,713 146,99 12,19 169,75 10,95 4.6.2. Faktor Manusia
Manusia dianugrahi kemampuan untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk bertahan hidup, manusia akan berusaha mengatasi dan mengelola lingkungan agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya. Pada kondisi alam seperti digambarkan di atas, petani mencoba berbagai tanaman yang dapat dibudidayakan. Di antara berbagai tanaman yang dicoba, terdapat beberapa yang dinilai cukup menguntungkan, yaitu bawang putih, cabe dan tembakau, akan tetapi tembakau jauh lebih menguntungkan.
43
Gambar 26. Ketrampilan membudidayakan tembakau temanggung diperoleh dari pengalaman secara turun temurun
Ketrampilan membudidayakan tanaman tembakau merupakan ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun. Pengalaman dari waktu ke waktu menambah keterampilan mereka sehingga hasil dan mutu yang diperoleh semakin baik. Pengalaman juga mengajarkan pada mereka berbagai upaya untuk mengatasi berbagai kendala, termasuk untuk mengatasi menurunnya kesuburan lahan.
Bagi generasi yang lebih muda, ketrampilan usaha tani tembakau selain dari pengalaman mengikuti orang tua, juga diperoleh dari mengikuti pelatihan-pelatihan. Sarana-sarana tersebut menjadi salah satu faktor pelestari budaya menanam tembakau, khususnya dalam hal menghasilkan mutu Srinthil.
Petani tembakau temanggung umumnya tergabung dalam kelompok tani, dengan anggota sekitar 10-40 orang. Dalam satu desa bisa terdapat satu atau lebih Kelompok Tani. Dalam sistem MPIG-TST, pada setiap desa terdapat seorang Koordinator yang mengkoordinir kelompok tani yang berada di desa tersebut. Kelompok tani umumnya memiliki jadwal pertemuan tetap sekali dalam 3 bulan, atau berdasarkan kebutuhan anggota. Pertemuan antar petani lebih sering dilakukan di lahan pertanaman ketika melakukan proses budidaya tanaman tembakau atau saat melakukan proses pengolahan tembakau.
4.6.3. Adat Istiadat dan Budaya
Setiap daerah penghasil Srinthil mempunyai kebiasaan dan adat istiadat berbeda. Misalnya di Desa Legoksari, sampai saat ini masyarakat masih tetap melestarikan ritual among tebal sebelum musim tanam tembakau dan wiwit pada
44
saat panen. Hal tersebut memiliki makna, bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sangat ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu manusia harus berdoa dan meminta kepada Yang Maha Kuasa agar apa yang dilakukan mendapat perlindungan. Hasil yang diperoleh juga harus disyukuri karena semua keberhasilan adalah atas berkah dari Yang Maha Kuasa. Ritual juga merupakan perwujudan kebersamaan. Pada ritual sebelum tanam, memulai panen dan sesudah panen selalu melibatkan semua warga yang dengan ikhlas membawa kebutuhan untuk acara ritual tersebut.
Sebagai penghormatan kepada orang yang berjasa mengajarkan ilmu tentang budidaya tembakau, saat ini para petani tetap mengingat jasa Ki Ageng Makukuhan. Oleh karena itu setiap tahun menjelang musim tanam tembakau, banyak petani melakukan ziarah ke makam Ki Ageng Makukuhan di Kedu. Hal semacam ini juga dilakukan dibeberapa daerah di luar Temanggung, misalnya di Kabupaten Sumedang. Setiap menjelang musim tanam tembakau, masyarakat tani melakukan ritual serupa untuk menghormati Dewi Kedu.
4.7. Budidaya Tembakau Srinthil
Areal tembakau di Temanggung tersebar di 15 kecamatan (Anonim, 2012). Topografi areal tembakau sangat beragam mulai dari datar, berbukit, sampai pada lereng gunung dengan kemiringan 60% dengan ketinggian tempat antara 600-1500 m dpl. Jenis tanahnya regosol dan latosol dengan tekstur lempung, lempung berpasir dan pasir, sedangkan lahannya berupa lahan kering/tegal, sawah tadah hujan dan sawah irigasi. Adanya perbedaan lingkungan tumbuh tersebut mengakibatkan munculnya produk dan varietas tembakau Temanggung yang mempunyai ciri khusus.
Tembakau Srinthil sering terjadi hanya di beberapa lokasi tertentu, sedangkan di lokasi tersebut juga tidak setiap tahun dapat terjadi Srinthil. Lokasi yang sering menghasilkan Srinthil adalah Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu serta Desa Kemloko Kecamatan Tembarak.
Teknik budidaya yang biasa dilakukan oleh petani yang sering menghasilkan Srinthil adalah sebagai berikut.
45
4.7.1. Varietas
Varietas Tembakau yang digunakan di Temanggung adalah tembakau aromatis dan spesifik lokasi. Varietas lokal yang berkembang adalah varietas yang telah mengalami adaptasi bertahun-tahun sehingga menghasilkan mutu tembakau yang spesifik. Varietas yang berkembang dan banyak ditanam petani adalah Kemloko/Gober genjah, Sitieng dan Gober dalem.
Seleksi dan pemurnian varietas lokal tembakau Temanggung telah menghasilkan varietas unggul lokal yaitu Sindoro 1 dan Kemloko 1 yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian tahun 2001 dengan SK. No.112/Kpts/ TP.240/2/2001 tangal 8 Februari 2001 dan No. 114/Kpts/TP.240/2/2001 tangal 8 Februari 2001. Kedua varietas terebut mempunyai daya hasil dan mutu lebih tinggi dibanding varietas lokal yang lain (Rochman, 2001). Selanjutnya varietas ini diperbaiki/ ditingkatkan ketahanannya terhadap penyakit dan tahun 2005dilepas dengan nama
Kemloko 2 dan Kemloko 3 (SK. No. 309/Kpts/SR.120/8/2005 tangal 1 Agustus 2005 dan No. 310/Kpts/SR.120/8/2005 tangal 1 Agustus 2005). Keempat varietas tersebut dapat menghasilkan tembakau Srinthil Temanggung, tetapi yang paling potensial adalah Kemloko 1 dan Kemloko 2. Deskripsi masing-masing varietas tersebut sebagai berikut.
46 Nama Varietas : Sindoro 1
Asal : Genjah Kemloko (lokal) Metode pemuliaan : Seleksi individu Species : Nicotiana tabacum L. Habitus : Silindris
Tinggi tanaman : 136,92 - 171,44 cm Panjang Ruas : Panjang berganti;
5,57 - 7,49 cm
Warna batang : Hijau Bulu batang : Berbulu Jumlah daun : 17,75 - 22,65 lembar Sudut daun : Tegak (28,77 - 45,23) Ujung daun : Runcing Tepi daun * : Licin, menggulung
(semua daun)
Permukaan daun : Rata Tebal daun * : Tebal Warna daun : Hijau Phylotaxy * : 3/8 putar ke kiri Tangkai daun : Duduk, tidak bertangkai Sayap : Sempit licin
Telinga : Lebar, memeluk batang Panjang daun : 38,08 - 46,02 cm Lebar daun : 18,76 - 22,74 cm Bentuk daun * : Lonjong, memanjang Indek daun : 0,493 Umur berbunga : 65,04 - 79,36 hst
Warna mahkota bunga : Merah muda sampai merah Warna Kepala sari : Krem
Bentuk buah : bulat telur Warna biji : Coklat Umur panen : 95 - 120 hst
Potensi hasil : 747,42 - 970,88 Kg/ha Indek mutu : 43,52 - 52,26 Kadar nikotin : 3,39 - 8,21 % Kadar gula : 2,33 % Ketahanan terhadap : - Penyakit layu bakteri : Moderat tahan - Penyakit lanas : Sangat rentan - Penyakit nematoda : Rentan - Hama Aphis sp : Rentan
47 Nama Varietas : Kemloko 1
Asal : Kemloko (lokal) Metode pemuliaan : Seleksi individu Species : Nicotiana tabacum L. Habitus : Piramid Tinggi tanaman : 145,23 - 174,01
Panjang Ruas : 4,69 - 6,81; makin keatas makin panjang Warna batang : Hijau
Bulu batang : Berbulu Jumlah daun : 19,63 - 24,49 lembar Sudut daun : Tegak (35,25 - 56,75_o_) Ujung daun : Runcing
Tepi daun * : Berombak, daun atas tidak menggulung, daun bawah menggulung.
Permukaan daun : Rata, agak bergelombang Tebal daun * : Tipis
Warna daun : Hijau Phylotaxy * : 3/8 puter ke kanan Tangkai daun : Duduk, tidak bertangkai Sayap : Sempit licin
Telinga : Sempit, memeluk batang Panjang daun : 41,18 - 49,18 cm Lebar daun : 21,57 - 27,17 cm Bentuk daun * : Lonjong, lebar meruncing Indek daun : 0,482
Umur berbunga : 67,96 - 81,44 hst Warna mahkota bunga : Merah muda sampai
merah
Warna kepala sari : Krem Bentuk buah : Bulat telur
Warna biji : Coklat . Umur panen : 98 - 122 hari
Potensi hasil : 787,82 - 1011,46 Kg/Ha Indek mutu : 37,34 - 47,18 Kadar nikotin : 3,75 - 8,65 % Kadar gula : 3,89 % Ketahanan terhadap : - Penyakit lanas : Tahan - Penyakit nematoda : Tahan - Penyakit layu bakteri : Rentan - Hama Aphis sp : Tahan
48 Nama Varietas : Kemloko 2
Asal : Persilangan : Sindoro 1 x Coker 51 Metode pemuliaan : Back Cross 3 kali
Species : Nicotiana tabacum
Habitus : Silindris
Tinggi tanaman (cm) : 134,77 – 149,57 Panjang ruas : Rapat
Warna batang : Hijau Bulu batang : Berbulu Jumlah daun (produksi) : 18,43 – 21,10 Sudut daun : Tegak
Ujung daun : Runcing
Tepi daun : Berombak
Permukaan daun : Rata Tebal daun : Tipis Warna daun : Hijau Phylotaxi * : 2/5 Tangkai daun : Duduk
Sayap * : Sempit
Telinga : Lebar
Panjang daun (cm) : 47,52 – 51,77 Lebar daun (cm) : 22,32 – 25,95 Bentuk daun : Lonjong Indek daun : 0,501 – 0,502 Umur berbunga (hst) : 94,76 – 100,00 Warna mahkota bunga : Merah muda Warna kepala sari : Krem
Bentuk buah : Bulat telur Warna biji : Coklat Umur panen (hst) : 120 – 140
Potensi hasil (ton/ha) : 0,704 + 0,28 ton/ha Indek mutu : 40,28 + 5,42
Indek tanaman : 28,38 + 12,81
Kadar nikotin (%) : 5,52 + 3,46 % Kadar gula (%) : 2,96 % (relatif sedang) Ketahanan terhadap penyakit :
- Bakteri P. solanacearum : Tahan - Jamur P. nicotianane : -
- Nematoda Meloidogyne spp: Tahan
Keterangan : * Pembeda sifat antara Kemloko 2 dan Kemloko 3
49 Nama Varietas : Kemloko 3
Asal : Persilangan : Sindoro 1 x Coker 51 Metode pemuliaan : Back Cross 2 kali
Species : Nicotiana tabacum
Habitus : Silindris
Tinggi tanaman (cm) : 148,77 – 164,43 Panjang ruas : Rapat
Warna batang : Hijau Bulu batang : Berbulu Jumlah daun : 18,90 – 21,97 Sudut daun : Tegak
Ujung daun : Runcing
Tepi daun : Berombak
Permukaan daun : Rata Tebal daun : Tipis Warna daun : Hijau Phylotaxi * : 3/8 Tangkai daun : Duduk
Sayap * : Lebar
Telinga : Lebar
Panjang daun (cm) : 37,57 – 49,15 Lebar daun (cm) : 20,99 – 24,96 Bentuk daun : Lonjong Indek daun : 0,505 – 0,508 Umur berbunga (hst) : 89,33 – 99,33 Warna mahkota bunga : Merah muda Warna kepala sari : Krem
Bentuk buah : Bulat telur Warna biji : Coklat Umur panen (hst) : 119 – 139
Potensi hasil (ton/ha) : 0,695 + 0,16 ton/ha Indek mutu : 36,01 + 7,01
Indek tanaman : 25,50 + 9,49 Kadar nikotin (%) : 6,02 – 3,72 %
Kadar gula (%) : 1,98 % (relatif sedang) Ketahanan terhadap penyakit :
- Bakteri P. solanacearum : Sangat tahan - Jamur P. nicotianane : -
- Nematoda Meloidogyne spp: Tahan
Keterangan : * Pembeda sifat antara Kemloko 2 dan Kemloko 3
50
4.7.2. Sumber Benih
Benih yang digunakan harus berasal dari sumber yang jelas sehingga pada saat penangkaran dapat dilakukan sertifikasi benih.
Standar mutu benih adalah :
a) Mutu Genetis : - Kemurnian tidak kurang dari 92% (kecampuran benih varietas lain tidak lebih dari 8%).
- Benih tanaman lain tidak lebih dari 1%
b) Mutu Fisiologis : Daya berkecambah tinggi tidak kurang dari 80%. c) Mutu Fisik : - Kadar air 6 – 7 %
- Kotoran tidak lebih dari 3%.
- Bebas serangan hama dan penyakit. Standar mutu bibit adalah:
a) Varietas : Unggul lokal (Sindoro 1, Kemloko 1, Kemloko 2, Kemloko 3). b) Umur bibit : 40 – 55 hari
c) Tinggi bibit : 5 - 12 cm d) Jumlah daun : 4 – 6 lembar
4.7.3. Pesemaian dan bibit
Pesemaian dibuat berupa anjang-anjang/para-para, yaitu semacam bangku yang terbuat dari bambu. Lebar anjang-anjang sekitar 1 m, ditopang beberapa tiang penyangga setinggi sekitar 0,5 m dari tanah. Anjang-anjang juga dilengkapi dengan tiang penyangga atappesemaian. Panjang anjang-anjang disesuaikan dengan tempat yang tersedia.
Anjang-anjang diisi dengan tanah setebal sekitar 10 cm, di atas tanah ditutup dengan pupuk kandang (lemi, Jawa) setebal sekitar 3 cm. Selanjutnya permukaannya diratakan. Anjang-anjang yang telah ditutup campuran tanah dan pupuk kandang tersebut dinamakan prapenan.
Sebelum benih disebar di atas prapenan, benih terlebih dahulu dicampur dengan pupuk kandang yang telah kering, setiap 200 g benih dicampur merata dengan sekitar 4 kg pupuk kandang kering. Campuran tersebut cukup untuk disebar di empat prapenan seluas sekitar 100 m2. Setelah benih disebar, dilakukan penyiraman, setelah itu dibiarkan tanpa disiram sampai bibit siap dicabut. Bibit mulai dicabut pada umur 40 hari. Biasanya penanaman dilakukan sampai bibit berumur 55hari.
51
4.7.4. Pengolahan Tanah
Tanah diolah dengan menggunakan cangkul sedalam 30-40 cm dan dibalik untuk membenam rerumputan dan gulma. Kemudian dibiarkan 2-3 minggu supaya terjadi oksidasi dan terbentuk agregat baru dan rumput-rumputan yang dibenam mengalami proses perombakan sehingga tidak merugikan tanaman.
Selanjutnya dibentuk guludan setinggi sekitar 30 cm, arah guludan agak serong membentuk sudut + 35o dari arah lereng, agar air bisa tuntas dan dapat mengurangi erosi. Panjang guludan disesuaikan dengan tingkat kemiringan. Semakin curam kemiringan lahan, guludan dibuat lebih pendek dengan pembatas saluran pemotong (teras gulud) yang membentuk sabuk gunung. Teras gulud ini berfungsi sebagai penahan air limpasan permukaan guludan. Tingkat kemiringan teras gulud sekitar 5-10% agar air mengalir dengan kecepatan rendah.
Setelah itu dibuat kowakan (lubang tanam) sesuai jarak tanam. Jarak tanam yang dibuat oleh petani masih sangat bervariasi, yaitu berkisar (80-90)cm x (45-70)cm. Pupuk kandang ditaruh di dalam kowakan, setelah itu disusul dengan pemberian pupuk ZA. Kowakan ditutup kembali dengan tanah dan dibiarkan beberapa hari tanpa disiram. Biasanya 5 hari kemudian dilakukan penanaman bibit.
4.7.5. Tanam dan Penyulaman
Bibit ditanam antara umur 40 – 45 hari, tetapi tidak jarang bibit yang ditanam telah berumur 55 hari. Penyulaman dilakukan antara hari ke 5 - 10 setelah tanam. Batas penyulaman terakhir dilakukan sampai umur 14 hari setelah tanam. Apabila penyulaman dilakukan lebih dari 14 hari setelah tanam, maka pertumbuhan dan kemasakan daun tidak seragam.
4.7.6. Pemeliharaan Tanaman 4.7.6.1. Pemupukan
Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar di kowakan, sebanyak 0,5kg - 1kg pupuk kandang atau untuk setiap hektar dibutuhkan rata-rata 28 truk setara 15ton - 20 ton pupuk kandang. Setelah itu kowakan ditutup dengan tanah. Pupuk kandang yang banyak digunakan berasal dari kotoran sapi yang diolah terlebih dahulu menjadi kompos. Semakin banyak pupuk kandang sampai batas dosis tertentu akan menyebabkan mutu tembakau yang dihasilkan semakin tinggi.