4.6. Analisis Kasus
4.6.2. Pemenuhan Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26
Koreksi yang dilakukan terbanding berupa obyek PPh Pasal 26 sebesar Rp14.809.928.754,00 didasarkan dari selisih perhitungan ekualisasi obyek PPh Pasal 26 dengan pembebanan dan/atau pencatatan menurut SPT PPh Badan serta selisih ekualisasi PPN Jasa LN lebih besar dari obyek PPh Pasal 26.
Terbanding dalam sengketa materi ini mulai dari tahap pemeriksaan hingga banding di pengadilan pajak meminta bukti kepada pemohon banding berupa tagihan jasa (service charges), time report/ sheet, dan fotokopi pasport tenaga ahli. Namun pihak dari pemohon banding tidak dapat memenuhi permintaan tersebut, sehingga terbanding berasumsi bahwa terdapat objek PPh Pasal 26 yang belum dilaporkan oleh pemohon banding. Berdasarkan hasil dari putusan majelis hakim di pengadilan pajak memutuskan bahwa pihak yang berkewajiban untuk dapat membuktikan bahwa memang terdapat objek PPh Pasal 26 yang belum dilaporkan oleh pemohon banding adalah pihak terbanding.
4.6.2.1.Interpretasi Makna Gramatikal Beban Pembuktian
Dalam pandangan Ganda Christian, putusan majelis tersebut sejalan dengan Pasal 12 ayat (3) UU KUP menyebutkan bahwa apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti bahwa jumlah pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak benar, maka Direktur Jenderal Pajak menetapkan jumlah pajak terutang yang semestinya. Ketentuan dalam Pasal 12 ayat (3) UU KUP 2000 menjelaskan bahwa jumlah pajak yang terutang menurut SPT adalah benar kecuali Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti bahwa jumlah pajak yang terutang dalam Surat Pemberitahuan pajak tersebut adalah tidak benar. Kata yang perlu digarisbawahi dalam bunyi pasal diatas adalah kata mendapatkan bukti. Secara gramatikal, kata mendapatkan dalam kalimat tersebut merupakan kata aktif yang menunjukan bahwa bukti-bukti adanya ketidakbenaran atas informasi yang terdapat dalam SPT yang dibuat oleh Wajib Pajak harus didapatkan sendiri secara aktif oleh Direktur Jenderal Pajak, misalnya dengan cara melakukan Pemeriksaan atau Penelitian. Sedangkan kata
“bukti“ dapat merujuk pada bukti yang digunakan sebagai dasar pendapat dan simpulan yang diambil oleh Tim Pemeriksa untuk kepentingan temuan hasil pemeriksaan sebagaimana yang diatur dalam Penjelasan Pasal 29 ayat (2) UU KUP 2000.
Menurut Darussalam, berdasarkan pertimbangan dan ketentuan hukum di atas, beban pembuktian atas kebenaran SPT yang dibuat oleh pemohon banding berada pada terbanding sebagai pihak yang melakukan koreksi. Prinsip penentuan letak beban pembuktian yang diterapkan oleh ketentuan perundang-undangan perpajakan di Indonesia sejalan dengan prinsip beban pembuktian yang dijelaskan dalam Borje Leidhammar (2013, p. 10) yang menyatakan “the theory is that the burden of proof should rest on the party that makes clain which affects another party”. Prinsip tersebut menyatakan bahwa beban pembuktian harus terletak pada pihak yang membuat klaim yang mempengaruhi pihak lain. Hal ini sama dengan ketentuan dalam Pasal 12 ayat (3) UU KUP 2000, yaitu pihak terbanding merupakan pihak yang menanggung beban pembuktian atas ketidakbenaran dari SPT karena pihak terbanding yang mengajukan klaim atas ketidakbenaran SPT yang telah disampaikan oleh pemohon banding.
Ketentuan mengenai penentuan pihak yang menanggung beban pembuktian di tingkat keberatan diatur dalam Pasal 13 ayat (1) UU KUP 2000.
Penjelasan Pasal 13 ayat (1) UU KUP 2000 menyatakan bahwa: “…Pembuktian atas uraian penghitungan yang dijadikan dasar penghitungan secara jabatan oleh Direktur Jenderal Pajak dibebankan kepada Wajib Pajak… Beban pembuktian tersebut juga berlaku bagi ketetapan yang diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b”. Berdasarkan penjelasan di atas, pemohon banding merupakan pihak yang harus menanggung beban pembuktian atas ketidakbenaran surat ketetapan pajak yang diterbitkan secara jabatan. Penerbitan surat ketetapan pajak secara jabatan disebabkan oleh hal-hal sebagaimana disebutkan dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b dan huruf d UU KUP 2000, yaitu apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 UU KUP 2000 dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran dan apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 atau Pasal 29 UU KUP tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang.
Dalam persidangan, kuasa hukum pemohon banding telah meminjamkan buku atau catatan, dokumen atau dokumen lain yang berhubungan dengan kegiatan usaha dan objek yang terutang pajak, yaitu Surat Keterangan Domisili, kontrak kerja, activity report, serta invoice. Karena surat ketetapan pajak yang diterbitkan atas nama pemohon banding bukan merupakan surat ketetapan pajak yang diterbitkan secara jabatan, maka beban pembuktian atas kebenaran materiil jumlah pajak yang terutang dalam sengketa ini seharusnya dibebankan kepada terbanding. Dengan demikian, keputusan majelis hakim yang tidak mempertahankan koreksi terbanding telah sesuai karena terbanding sebagai pihak yang dibebani kewajiban untuk membuktikan argumennya, tidak dapat membuktikan kebenaran dari koreksinya.
4.6.2.2.Bukti yang Valid dan Relevan untuk Membuktikan Keberadaan BUT Jasa di Indonesia
Dalam pandangan Darussalam, Danny Septriadi, dan Ganda Christian sesuai dengan ketentuan Bentuk Usaha Tetap Jasa dalam P3B, bukti yang relevan
dalam menentukan keberadaan BUT Jasa adalah dokumen tentang kehadiran atau keberadaan pegawai dari perusahaan luar negeri selama di Indonesia. Copy passport adalah bukti yang valid dan relevan dalam menentukan kehadiran pegawai asing di Indonesia dan menetapkan keberadaan BUT jasa dari kehadiran pegawai asing tersebut.
Selain itu, perlu diperhatikan bahwa ketentuan tentang time test BUT Jasa dalam P3B tidak dibatasi hanya pada waktu untuk melakukan pekerjaan jasa saja, tetapi juga waktu yang dipergunakan oleh pegawai tersebut untuk melakukan aktivitas lainnya di sela-sela melakukan pekerjaan jasa selama berada di Indonesia yang tidak berhubungan dengan pekerjaan jasa. Misalnya, pegawai asing tersebut untuk memutuskan berlibur ke suatu tempat di Indonesia di sela-sela melakukan pekerjaan jasa ataupun karena sakit ketika melakukan pekerjaan jasa di Indonesia, sehingga tetap berada di Indonesia meskipun tidak melakukan pekerjaan jasa.
Artinya, selama pegawai tersebut tidak keluar dari Indonesia sejak kehadirannya di Indonesia dalam rangka memberikan jasa maka durasi tersebut dihitung dalam menentukan keberadaan BUT Jasa di Indonesia. Oleh karena itu, bukti copy passport sangat relevan dalam menentukan durasi kehadiran pegawai asing di Indonesia yang dapat menimbulkan BUT Jasa di Indonesia.
Dalam sengketa ini, PT AS hanya memberikan bukti berupa SKD, kontrak kerja, activity report, dan invoice. Dimana SKD bukan suatu bukti yang relevan untuk menunjukkan keberadaan seseorang di suatu negara karena SKD hanya menunjukkan status subjek pajak dalam negeri dari wajib pajak. Sementara kontrak kerja hanya merupakan indikator atau petunjuk bahwa pekerjaan akan dilakukan selama kurun waktu tertentu sehingga belum menunjukkan fakta sebenarnya. Activity report merupakan bukti yang kompeten dan relevan apabila diisi sesuai dengan fakta yang sebenarnya dan diverifikasi oleh kedua perusahaan yang melakukan transaksi. Invoice hanyalah bukti pembayaran sehingga bukan suatu bukti yang kompeten untuk menunjukkan berapa lama pegawai asing berada di Indonesia. Untuk membuktikan berapa lama pegawai asing berada di Indonesia dalam menentukan keberadaan BUT Jasa di Indonesia adalah sangat bergantung pada fakta yang terjadi.
Pendapat diatas tersebut didukung oleh pandangan dari Syafrian yang menyatakan bahwa visa dan passport dari tenaga asing merupakan bukti yang valid dan relevan. SKD hanya membuktikan bahwa pegawai asing tersebut adalah Wajib Pajak Singapura, kontrak kerja bisa dibuat dengan ilegal misalnya membayar notaris untuk membuat kontrak palsu, activity report dan invoice bisa dibuat sesuai dengan karangan dari perusahaan. Dari hal tersebut, DJP selalu meminta dokumen yang melibatkan pihak ketiga yang tidak bisa dibuat sendiri oleh Wajib Pajak.
4.6.2.3.Pendapat Para Ahli Tentang Perlunya Peraturan yang Mengatur Bukti Keberadaaan BUT Jasa di Indonesia
Dalam pandangan Syafrian seharusnya peraturan harus dibuat sejelas dan sedetail mungkin untuk tujuan menghindari sengketa, walaupun hal tersebut dapat membuat ruang gerak dari Wajib Pajak sendiri menjadi sempit. Undang-undang perpajakan yang berlaku di Indonesia dianggap belum bisa membuat peraturan yang jelas dikarenakan masih merujuk dengan undang-undang yang lain.
Pandangan lain diberikan oleh Ganda Christian dan Danny Septriadi yang menyatakan bahwa aturan tentang bukti yang valid dan relevan dalam membuktikan keberadaan pegawai asing di Indonesia tidak perlu diatur secara detail dalam P3B. Otoritas pajak dapat mengaturnya dalam ketentuan domestik tentang bukti apa yang bisa diterima oleh otoritas pajak dari transaksi crossborder services yang dilakukan melalui kehadiran pegawai dari perusahaan yang berdomisili di negara mitra P3B. Namun aturan yang dibuat haruslah mencermikan asas proporsionalitas dan efektivitas. Artinya bukti yang diminta haruslah proporsional dengan kemampuan Wajib Pajak dan tidak melebihi kemampuan dalam memperolah bukti dimaksud. Hal ini dikarenakan otoritas pajak memiliki kewenangan untuk melakukan pengumpulan informasi, tidak hanya dari otoritas pajak negara mitra P3B saja, tetapi juga dari pihak ketiga atau dari institusi lainnya. Misalnya, otoritas pajak dapat mengumpulkan informasi tentang keberadaan orang asing dari pihak imigrasi dan mencocokkan data yang diperolehnya dari Wajib Pajak tentang kehadiran pegawai asing di Indonesia dengan data dari pihak imigrasi tersebut.
4.6.3. Kesimpulan Analisis Terkait Penentuan Hak Pemajakan atas BUT