4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum PT AS
PT AS adalah anak perusahaan dari PT Garuda Indonesia Tbk yang khusus menangani sistem teknologi informasi penerbangan. PT AS ini berdiri sejak tahun 2005 dan berlokasi di Jakarta. Ruang lingkup kegiatan PT AS meliputi bidang jasa konsultasi dan rekayasa sistem teknologi informasi serta jasa pemeliharaan kepada perusahaan-perusahaan penerbangan dan industri-industri lainnya.
PT AS menggarap sistem untuk PT Garuda Indonesia baik untuk layanan penumpang, kargo, internet booking, revenue accounting, hingga penjadwalan pesawat beserta pilot dan pramugarinya. Bisnis utama dari PT AS adalah menyediakan solusi hosting dengan tiga layanan utama, yaitu yang pertama layanan perangkat lunak (SaaS) seperti Sistem Pelayanan Penumpang (PSS) dan model bisnis ERP. Diperkuat dengan Layanan Platform (PaaS) yang terdiri dari sistem operasi, reverse proxy, web server, application server, serta layanan database. Layanan yang ketiga merupakan Layanan Infrastruktur (Laas). PT AS disini menyediakan beragam hal yang berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur teknologi bagi PT Garuda Indonesia. Hal tersebut meliputi server, penyimpanan data, peralatan dan perelengkapan jaringan, pusat data, serta disaster recovery center. PT AS menggunakan infrastruktur dengan sistem dan area penyimpanan jaringan dengan kapasitas sangat besar.
4.2. Kronologis Kasus Sebelum Tahap Banding
Sebelum diajukan keberatan, kronologis dari penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 bermula ketika PT AS (selanjutnya disebut pemohon banding) menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) pada tanggal 12 April 2010 dilanjutkan dengan Closing Conference tanggal 20 April 2010. Setelah dilakukannya Closing Conference, pemohon menerima Risalah Pembahasan pada tanggal 22 April 2010. Dikarenakan dalam Closing Conference masih terdapat hal yang belum disetujui pemohon dengan terbanding, maka pemohon mengajukan
surat untuk dibahas di tingkat Unit Tim Pembahas pada tanggal 23 April 2010.
Namun pada tanggal tersebut langsung diterbitkan SKPKB oleh terbanding.
Adapun perincian perhitungan SKPKB PPh Pasal 26 yang diterbitkan oleh terbanding tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1. SKPKB PPh Pasal 26 Nomor 00015/204/08/058/10 tanggal 23 April 2010
No. Uraian Jumlah Menurut (Rp)
Pembahasan Akhir (Disetujui)
Terbanding Selisih
1. Penghasilan Kena Pajak/
Dasar Pengenaan Pajak (1)
14.072.421.400 28.882.350.154 14.809.928.754
2. PPh Pasal 26 yang terutang (2)
1.520.874.907 4.482.002.667 2.961.127.760
3. Kredit Pajak
Setoran Masa (3) 1.520.874.907 1.520.874.907 0 Jumlah Pajak yang dapat
dikreditkan (4) = (3)
1.520.874.907 1.520.874.907 0
4. Pajak yang tidak/ kurang dibayar (5) = (2) – (4)
0 2.961.127.760 2.961.127.760
5. Sanksi Administrasi : Bunga Pasal 13 ayat (2) KUP (6)
0 947.560.883 947.560.883
Jumlah Sanksi Administrasi (7) = (6)
0 947.560.883 947.560.883
6. Jumlah PPh yang masih harus dibayar (8) = (5) + (6)
0 3.908.688.643 3.908.688.643
Sumber: Putusan Pengadilan Pajak Nomor 59705/PP/M.VIIIA/13/2015 (2015, p.
3)
Koreksi dari hasil pemeriksaan sebesar Rp 14.809.928.754 ditemukan atas selisih ekualisasi antara PPN Jasa Luar Negeri dengan objek PPh Pasal 26.
Koreksi tersebut dilakukan atas dasar pengenaan pajak PPh Pasal 26 dikarenakan menurut terbanding seharusnya atas pembayaran jasa ke Singapura dilakukan pemotongan PPh Pasal 26 dikarenakan bertransaksi dengan wajib pajak luar negeri. Oleh karena pemohon Banding tidak setuju dengan SKPKB PPh Pasal 26 Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2008 Nomor 00015/204/08/058/10
tanggal 23 April 2010 tersebut, maka pemohon banding mengajukan keberatan dengan surat Nomor ASI/FAC-TAC-011-10 tanggal 22 Juli 2010. Dalam tahap keberatan, pemohon banding menyampaikan argumennya bahwa terdapat P3B antara Indonesia dengan Singapura. Dengan adanya argumen tersebut, lebih lanjut untuk tidak mengurangi potensi penerimaan negara terbanding menyatakan terbentuk bentuk usaha tetap atas jasa yang diberikan oleh wajib pajak luar negeri.
Seharusnya apabila terbanding menyatakan terbentuk bentuk usaha tetap dari transaksi jasa yang diberikan oleh negara Singapura, seharusnya terbanding menerbitkan SKPKB PPh Pasal 23. Terbanding disini dalam menetapkan skp tidak memperhatikan bahwa terdapat P3B antara negara Indonesia dengan Singapura, sehingga terbanding mengeluarkan SKPKB PPh Pasal 26 atas asumsi bertransaksi dengan wajib pajak luar negeri.
Melalui surat Nomor ASI/FAC-TAX-011/10 tanggal 22 Juli 2010 pemohon banding mengajukan keberatan dari dua aspek, yang pertama atas aspek formal yaitu prosedur pemeriksaan hingga terbitnya surat ketetapan pajak berdasarkan hasil pemeriksaan dan yang kedua dari aspek material yaitu materi atau isi dari ketetapan pajak. Berdasarkan pengajuan keberatan tersebut, terbanding menerbitkan keputusan Keberatan sebagai berikut :
Tabel 4.2. Keputusan Direktur Jenderal KEP-1667/WPJ.07/2011 tanggal 19 Juli 2011
Uraian Semula Ditambah /
(Dikurangi) Menjadi
(Rp) (Rp) (Rp)
Dasar Pengenaan Pajak (1) 28.882.350.154 0 28.882.350.154
PPh Terutang (2) 4.482.002.667 0 4.482.002.667
Kredit Pajak (3) 1.520.874.907 0 1.520.874.907
Kompensasi Tahun Pajak/ Masa
Pajak sebelumnya (4) 0 0 0
PPh Kurang (Lebih) bayar (5) = (2)
– (3) – (4) 2.961.127.760 0 2.961.127.760
Sanksi Administrasi (6) 947.560.883 0 947.560.883
Jumlah PPh yang (lebih) dibayar
(7) = (5) + (6) 3.908.688.643 0 3.908.688.643
Sumber: Putusan Pengadilan Pajak Nomor 59705PP/M.VIIIA/13/2015 (2015, p.
3).
4.3. Kronologis Kasus Pada Tahap Banding
4.3.1. Pemenuhan Aspek Formal Pengajuan Banding
PT AS yang belum puas atas keputusan yang diterbitkan oleh fiskus, mengajukan permohonan banding ke pengadilan pajak. Permohonan banding diajukan tanggal 21 Oktober 2011 dengan nomor surat 03/ASI/FAC/TAC-10-11.
Permohonan banding diajukan dalam bahasa Indonesia terhadap Keputusan Direktur Jenderal Nomor KEP-1667/WPJ.07/2011 dan disertai dengan alasan- alasan yang jelas dan mencantumkan tanggal diterimanya surat keputusan yang dibanding, yaitu tanggal 21 Juli 2011. Permohonan banding yang diajukan adalah untuk tahun pajak 2008, sehingga berlaku Ketetntuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (selanjutnya disebut UU KUP) Tahun 2007. Maka sesuai dengan Pasal 25 ayat (3a) UU KUP menyatakan bahwa dalam hal wajib pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, wajib pajak wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang disetujui wajib pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan.
Dikarenakan jumlah yang disetujui wajib pajak dalam pembahasan hasil pemeriksaan sebesar Rp 0, maka tidak ada pajak terutang yang harus dibayar dalam mengajukan sengketa ini ke tahap banding. Permohonan banding PT AS juga telah dilampiri oleh salinan keputusan yang dibanding. Dengan demikian, permohonan banding telah memenuhi syarat formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) dan (2) serta Pasal 36 ayat (1), (2), (3), dan (4) UU PP.
4.3.2. Surat Permohonan Banding
Dalam surat ini, pemohon banding memaparkan argumentasi atas dua aspek material pengajuan banding. Aspek material yang dimaksud mencakup seluruh proses sengketa ini, yang dimulai dari saat pemeriksaan hingga diterbitkannya keputusan terbanding yang menolak permohonan keberatan pemohon banding. Aspek material yang pertama argumentasi atas Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 dan yang kedua atas Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26.
4.3.2.1. Permohonan Banding atas Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh 26 Bahwa dalam aspek formal penerbitan SKPKB PPh Pasal 26, yaitu pada tanggal 30 Juli 2009 terbanding menerbitkan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3) dan pada 28 September 2009 pemohon banding menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan Lapangan. Untuk Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) yang diterima pemohon tanggal 12 April 2010, kemudian dilanjutkan Closing Conference pada tanggal 20 April 2010. Setelah dilakukannya Closing Conference, pemohon menerima Risahlah Pembahasan pada tanggal 22 April 2010. Dikarenakan Closing Conference masih terdapat hal yang belum disetujui antara pemohon dengan terbanding, maka pemohon mengajukan surat untuk dibahas di tingkat Unit Tim Pembahasan pada tanggal 23 April 2010.
Namun, pada tanggal tersebut langsung diterbitkan SKPKB oleh terbanding.
Gambar 4.1. Skema Kronologis Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26
Dengan demikian, terbukti bahwa penerbitan SKPKB oleh terbanding tanpa didahului dengan pembahasan di tingkat Tim Pembahas sebagaimana yang dimintakan oleh pemohon dikarenakan masih terdapat hal-hal yang belum disetujui antara pemohon dengan terbanding (Tim Pemeriksa). Sesuai dengan ketentuan Pasal 23 ayat (8) PMK Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak (selanjutnya disebut PMK-199) yang berbunyi sebagai berikut:
“Dalam hak terdapat perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Wajib Pajak Dapat Mengajukan Permintaan Agar Perbedaan Tersebut Dibahas Lebih Dahulu Oleh Tim Pembahas”.
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, jelas bahwa permintaan untuk mengajukan pembahasan pada tingkat Tim Pembahas dalam hal terdapat perbedaan pendapat
Surat Perintah Pemeriksaan Pajak
(SP3) 30 Juli 2009
Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan 30 September 2009
Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan
(SPHP) 12 April 2010
Closing Conference 20 April 2010
Risahlah Pembahasan 22 April 2010 Permohonan
Pengajuan ke Tingkat Pembahasan
23 April 2010 Terbit Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar 23 April 2010
antara pemohon dan terbanding (Tim Pemeriksa), nyata-nyata merupakan hak yang dimiliki oleh pemohon sebagaimana yang diatur dalam dalam Pasal 13 ayat (1) huruf „g‟ PMK-199 yang menegaskan sebagai berikut:
“(1) Dalam pelaksanaan Pemeriksa untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan Wajib Pajak berhak:
a. ...
g. Mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan oleh Tim Pembahas dalam hal terdapat perbedaan pendapat antara pemohon banding dengan terbanding (Pemeriksa Pajak) dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksa;
Dalam surat permohonan banding, pemohon banding menjelaskan bahwa terbanding justru langsung menerbitkan surat ketetapan pajak dan tidak menindaklanjuti hak yang dimiliki oleh pemohon. Dengan demikian, keputusan yang diterbitkan oleh terbanding nyata-nyata telah melanggar hak-hak pemohon.
Pemohon banding selanjutnya menjelaskan skema pengajuan pembahasan ke tingkat Tim Pembahas sebagaimana diatur dalam PMK-199 dapat dilihat pada Gambar 4.2. berikut ini:
Gambar 4.2. Skema Pengajuan Pembahasan ke Tingkat Tim Pembahas Apabila Wajib Pajak
mengajukan Pembahasan kepada Tim Pembahas
Pembahasan tingkat Tim Pembahas
Pasal 13 ayat (1) huruf g
Risahlah Pembahasan tingkat Tim Pembahas
Pasal 23 ayat (9)
Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Pasal 6 ayat (1) dan (2)
Kertas Kerja Pemeriksaan oleh Tim Pembahas
Pasal 8 huruf i
Laporan Hasil Pemeriksaan oleh Tim Pembahas
Pasal 9 huruf (a) i
Surat Ketetapan Pajak (SKP) Pasal 8 huruf j
Bahwa dari Gambar 4.2. tersebut dapat dlihat bahwa seharusnya terbanding membuat Risahlah Pembahasan pada tingkat Tim Pembahas, untuk kemudian menghasilkan Kertas Kerja Pemeriksaan yang digunakan sebagai dasar pembuatan Laporan Hasil Pemeriksaan, yang nantinya Laporan Hasil Pemeriksaan tersebut menjadi dasar diterbitkannya surat ketetapan pajak. Bahwa terbanding dalam menerbitkan SKP tidak berdasarkan atas Kertas Kerja Pemeriksaan di tingkat Tim Pembahas, melainkan SKP langsung diterbitkan berdasarkan hasil Closing Conference yang pada kenyataannya masih terdapat perbedaan pendapat antara pihak pemohon dan terbanding. Dengan demikian, terbukti bahwa terbanding tidak melakukan prosedur standar pelaksanaan Pemriksaan dengan benar.
4.3.2.2. Permohonan Banding atas Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh 26 Atas aspek material penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 yang menjadi pokok sengketa adalah ketidaksetujuan pemohon atas Koreksi Pengenaan Pajak PPh Pasal 26 dengan nilai koreksi sebesar Rp 14.809.928.754,00 atas objek PPh Pasal 26. Bahwa persandingan antara perincian transaksi per account pada general ledger pemohon, yang menurut terbanding merupakan objek PPh Pasal 26, dengan dokumen invoice yang diberikan pemohon, tidak diperoleh data yang memadai yang dapat menjelaskan selisih ekualisasi antara PPN Jasa Luar Negeri dengan PPh Pasal 26 yang menjadi koreksi objek PPh Pasal 26
Pemohon banding sangat tidak menyetujui koreksi Dasar Pengenaan Pajak (objek) PPh Pasal 26 sebesar Rp 14.809.928.754,00 dengan alasan dan argumentasi sebagai berikut:
1. Bahwa yang menjadi dasar koreksi terbanding atas objek PPh Pasal 26 adalah atas aktivitas pemberian jasa yang dilakukan oleh beberapa Subjek Pajak Luar Negeri (resident luar negeri) yang memiliki Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (selanjutnya disebut dengan P3B) dengan Indonesia.
2. Adapun jasa-jasa tersebut diberikan dengan cara:
a. Melakukan pemberian jasa dari luar negeri (pemberi jasa tidak datang ke Indonesia); dan/atau
b. Melakukan pemberian jasa dengan datang ke Indonesia, namun dilakukan tidak melebihi persyaratan time test sebagaimana ketentuan yang terdapat dalam P3B Indonesia dengan negara-negara di mana pemberi jasa tersebut berdomisili.
3. Dalam hal ini, pemohon telah melakukan ekualisasi objek PPh Pasal 26 menurut pemohon yang dilaporkan di dalam SPT PPh Badan dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.3. Perhitungan Ekualisasi Objek PPh Pasal 26 menurut Terbanding
Keterangan
Menurut
Bukti Selisih (Rp) Pemohon
Banding (Rp)
Terbanding (Rp)
Objek PPh Pasal 26 cfm SPT PPh Badan, meliputi
Perjalanan Dinas Konsultan (USD)
63.057.294 63.057.294 - 0
Perjalanan Dinas Konsultan (Eur)
123.168.452 123.168.452 - 0
Tiket Konsultan (USD) 43.379.070 43.379.070 - 0
Tiket Konsultan (Eur) 22.909.992 22.909.992 - 0
Maintenance Software (USD)
4.208.651.827 4.208.651.827 - 0
Maintenance Software (Eur)
5.984.210.612 5.441.758.100 - 542.452.512
Konsultan (USD) 1.689.904.732 1.330.814.537 - 359.090.195
Konsultan (Eur) 4.717.508.526 4.717.508.526 - 0
Konsultan (USD) 1.716.912.799 1.716.912.799 - 0
Beban Pelatihan (USD) 423.783.149 423.783.149 - 0
Komunikasi (USD) 143.680.076 143.680.076 - 0
Komunikasi (Eur) 82.849.638 82.849.638 - 0
Inf. Tech. Services 10.144.553.128 10.144.553.128 - 0
Profitline/Price +/+ Selisih ekualisasi
PPN JASA
2.246.636.685 - 0
-/- Tan Raja & Cheah (1.716.921.799) (1.716.921.799) - 0
(jasa yang dilakukan di Singapore)
-/- PCS Training Ltd (jasa yang dilakukan di Inggris)
(399.621.550) (110.850.321) - (288.771.229)
LSAP Inv.2008/76- consultant&fix travel exp Sukhana &Siguna
(8.735.715) - 1,2,3 (8.735.715)
LSAP Inv.2008/76- consultant&fix travel exp
(8.735.715) - 1,2,3 (8.735.715)
LSAP Inv.2008/170 consultant expense for FFP in March & April
(41.993.856) - 1,2,3 (41.993.856)
Luthansa System
Hungaria KFT
#20080772 jakarta test consulting 2007
(123.168.452) - 1,2 (123.168.452)
LSAP inv 2008/170 consultant & ticket expense for FFP in March & April
(43.379.070) - 1,2,3 (43.379.070)
LSAP inv 2007/82 nettline sched Garuda Indonesia Maintenance
(22.909.992) - 1,2 (22.909.992)
LSAP inv 2008/109 maintenance profitline yield 31 Jan 08-30 Jun08
(1.000.007.354) - 1,2 (1.000.007.354)
LSAP inv 2008/139 maintenance profitline yield 31.07.08 – 30.09.08
(600.627.164) - 1,2 (600.627.164)
Credit Note for invoice 2007/156 (disc 20%)
411.627.631 - 1,2 411.627.631
CN For Reduction in Maintenance fee charged in 2008/139
120.125.433 - 1,2 120.125.433
CN For Reduction in Maintenance fee charged in 2008/109
239.376.829 - 1,2 239.376.829
LSAP inv 2008/174 maintenance & hotline service,maintenance profitline yield Oct-Des 2008
(531.021.058) - 1,2 (531.021.058)
LSAP inv 2008/176 maintenance
netline/sched 31.12.08
(1.373.330.322) - 1,2 (1.373.330.322)
Accured Expenses PLP Dec 2008
(144.385.605) - 1,2 (144.385.605)
Accured Expenses NLP Dec 2008
(1.330.410.218) - 1,2 (1.330.410.218)
Reed Business
Information Ltd#inv No.904048
(14.372.260) - 1 (14.372.260)
LSAP inv 2008/04-SOW
General IT
Airlane&Process Consultancy Feb 08
(199.779.489) - 1,2,3 (199.779.489)
LSAP inv 2008/04-SOW
General IT
Airlane&Process Consultancy Feb 08
(136.118.592) - 1,2,3 (136.118.592)
LSAP inv 2008/029 cons service data center (Ceyhun Yildrim)
(23.192.114) - 1,2,3 (23.192.114)
LSAP inv 2008/76 consultant & fix travel expense Sukhana &
Siguna
(139.081.483) - 1,2,3 (139.081.483)
LSAP inv 2008/76 consultant & fix travel expense Sukhana &
Siguna
(177.012.796) - 1,2,3 (177.012.796)
LSAP inv 2008/105 fixprice consultant 31.01.2008 (18.75 man
(283.744.140) - 1,2 (283.744.140)
days)
LSAP inv 2008/170 consultant& Ticket expense for FFP in March & April
(340.155.094) - 2,3 (340.155.094)
Eoghan Maher
(DATALEX)
(2.120.402.731) - 1,2,3 (2.120.402.731)
Claudia Hupprich #inv LSI-08-001 consulting Mar 08
(51.812.579) - 1,2 (51.812.579)
Lufthansa Sys Hungaria KFT#20080772 jakarta test consulting 2007
(193.869.174) - 1,2 (193.869.174)
LSAP inv 2008/114 maintenance hotline service profitline yield (Sept 06)
(199.516.448) - 1,2,3 (199.516.448)
LSAP inv 2008/141 consultancy of Hans Kern Jan to Sep
(1.267.466.400) - 1,3 (1.267.466.400)
Accured Exp iinet Account LH21 Dec 08
(20.764.595) - 1,2 (20.764.595)
Calibration &
Impiernentation Profitline Price
(3.551.201.053) - 1,2 (3.551.201.053)
Jumlah Obyek PPh Pasal 26
14.072.421.400 28.882.350.153 - 14.809.928.754
Sumber: Putusan Pengadilan Pajak Nomor 59705PP/M.VIIIA/13/2015 (2015, p.
10).
bahwa dari hasil ekualisasi tersebut di atas, maka pemohon tidak menyetujui koreksi objek PPh Pasal 26 sebesar Rp 14.809.928.754,00 dikarenakan pemohon telah memberikan kepada terbanding dokumen-dokumen pendukung sewaktu dilakukannya pemeriksaan maupun saat proses keberatan sebagai berikut:
Tabel 4.4. Bukti Dokumen Pendukung Pemeriksaan Yang Diberikan Oleh Pemohon Banding
Bukti Keterangan
1. Surat Keterangan Domisili/ Certificate of Domicile 2. Kontrak Kerja
3. Activity Report 4. Invoice
Sumber: Putusan Pengadilan Pajak Nomor 59705PP/M.VIIIA/13/2015 (2015, p.
12).
Pemohon banding mendalilkan argumennya bahwa berdasarkan Pasal 7 ayat (1) P3B Indonesia-Singapura menyebutkan bahwa:
“The profits of an enterprise of a Contracting State shall be taxable only in that State unless the enterprise carries on business in the other Contracting State through a permanent establishment situated therein. If the enterprise carries on business as aforesaid, the profits of the enterpise may be taxed in the other State but only so much of the as is attributable to the permanent establishment”
sesuai dengan ketentuan di atas, maka hak pemajakan atas suatu business profit berada pada negara domisili (Singapura). Namun, Indonesia selaku negara sumber (source country) diberikan hak pemajakan sepanjang atas pemberian jasa yang dilakukan oleh perusahaan asing membentuk permanent establishment (Bentuk Usaha Tetap) di Indonesia. Dalam kasus penentuan ada atau tidaknya bentuk usaha tetap di Indonesia melihat kembali dalam Pasal 5 ayat (2) huruf i P3B Indonesia dengan Singapura yang menyebutkan bahwa:
“The term “permanent establishment” shall include especially:
(i) the furnishing of services, including consultancy services, by an enterprise through an employee or other person (other than an agent of an independent status within the meaning of paragraph 7) where the activities continue within a Contracting State for a period of periods aggregating more than 90 days within a twelve-month period;
berdasarkan ketentuan dalam pasal P3B tersebut di atas, diatur bahwa Bentuk Usaha Tetap atas aktivitas pemberian jasa terjadi ketika aktivitas pemberian jasa dilakukan di negara sumber (dalam hal ini Indonesia) melebihi jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari. Faktanya, aktivitas jasa dilakukan di Indonesia tidak melebihi jangka waktu (time test) sebagaimana diatur dalam ketentuan P3B.
Dengan demikian Indonesia selaku negara sumber tidak berhak memajaki
penghasilan yang diterima oleh pemberi jasa tersebut, sehingga dasar koreksi terbanding tidak relevan dan tidak dipertahankan.
4.3.3. Surat Uraian Banding
Pengadilan pajak menerima permohonan banding dari pemohon banding dengan nomor surat 03/ASI/FAC/tax-10-11 pada tanggal 17 Oktober 2011.
Kemudian, pengadilan pajak mengirimkan surat kepada terbanding berkenaan dengan permintaan Surat Uraian Banding (SUB) pada tanggal yang sama yaitu 17 Oktober 2011. Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Desember 2011 terbanding mengirimkan SUB Nomor 7750/WPJ.07/2011. SUB tersebut berisi jawaban atas alasan banding yang diajukan oleh pemohon banding.
Bahwa melalui surat uraian banding ini, terbanding memberikan tanggapan terhadap surat permohonan banding yang terbagi menjadi dua aspek yaitu yang pertama atas Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 dan yang kedua atas Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26.
4.3.3.1. Tanggapan atas Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh 26
Bahwa atas aspek formal, terbanding dalam surat uraian banding ini menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap pemohon banding dilakukan atas dasar SPT Tahunan PPh Badan Tahun Pajak 2008 yang disampaikan pemohon banding terhadap terbanding tanggal 29 April 2009 dengan dasar Surat Perintah Pemeriksaan Pajak Nomor PRIN-176.L/WPJ.07/KP.0600/2009 tanggal 30 Juli 2009. Selama proses pemeriksaan dilakukan, terbanding dan pemohon banding telah melakukan klarifikasi dan pembahasan terhadap buku-buku, data-data, catatan-catatan serta dokumen-dokumen pendukung yang diperlukan dalam pembuktian kebernaran SPT pemohon banding. Terbanding juga telah mengirimkan 2 (dua) kali Surat Peringatan dengan nomor masing-masing S- 120/WPJ.07/KP.0600/2010 tanggal 26 Maret 2010 yang diterima pemohon banding juga pada tanggal 26 Maret 2010, dan S-129/WPJ.07/KP.0600/2010 tanggal 12 April 2010 yang diterima pemohon banding juga pada tanggal 12 April 2010, oleh karena terdapat beberapa buku/data/catatan/dokumen pendukung
pemeriksaan yang diperlukan Pemeriksa belum diberikan pemohon banding kepada Pemeriksa.
Pemeriksa telah mengirimkan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) Nomor PHP-084.IV.2/WPJ.07/KP.0600/2010 tanggal 12 April 2010 yang diterima juga oleh pemohon banding pada tanggal 12 April 2010. Berdasarkan Pasal 22 ayat (4) huruf b Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 tanggal 28 Desember 2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak (pada bagian kesembilan perihal Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan dan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan) dijelaskan bahwa dalam ayat (4) :
“Wajib Pajak wajib memberikan tanggapan tertulis atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan dan berhak hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan paling lama
Huruf b:
7 (tujuh) hari kerja sejak Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan diterima oleh Wajib Pajak untuk Pemeriksaan Lapangan”
sehingga jika Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan diterima pemohon banding pada tanggal 12 April 2010, maka berdasarkan kalender kerja, hari ketujuh tanggapan tertulis pemohon banding atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan wajib dikirimkan dan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dilakukan paling lama 20 April 2010. Pemohon banding disini telah mengirimkan Surat Tanggapan atas SPHP secara tertulis terhadap terbanding tanggal 20 April 2010 (hari ketujuh sejak SPHP diterima pemohon banding) dengan Surat Nomor ASI/FAC-TAX- 004/10 dan surat pendukung tanggapan (tanpa nomor surat tanggal 20 April 2010) pada tanggal 21 April 2010 (delapan hari sejak SPHP diterima pemohon banding.
Terbanding dan pemohon banding melakukan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dengan dituangkannya hasil tersebut ke dalam Risahlah Pembahasan pada tanggal 22 April 2010. Disini terbanding telah memberikan kelonggarang 2 (dua) hari melebihi waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak SPHP diterima pemohon banding.
Berdasarkan Pasal 23 ayat 7 PMK Nomor 199/PMK.03/2007 tanggal 28 Desember 2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak yang telah disebutkan bahwa:
“Dalam hal Wajib Pajak menolak menandatangani berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) atau ayat (3), Pemeriksa Pajak membuat catatan tentang penolakan tersebut dalam berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan”;
sebagaimana diatur dalam ayat (1) dan (3)
“Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (4) Wajib Pajak menyampaikan surat tanggapan hasil pemeriksaan yang berisi tentang ketidaksetujuan atas sebagian atau seluruh hasil pemeriksaan dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak menggunakan surat tanggapan tersebut sebagai dasar untuk melakukan pembahasan akhir dengan Wajib Pajak dan hasil pembahasannya dituangkan dalam risahlah pembahasan dan berita acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Tim Pemeriksa dan Wajib Pajak.”
bahwa berdasarkan ketentuan di atas, dimana waktu paling lama untuk melakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dan menandatangani berita acara hasil pemeriksaan adalah 7 (tujuh) hari sejak SPHP diterima Wajib Pajak, dan sesuai uraian-uraian tersebut diatas dimana risahlah pembahasan ditandatangani pada tanggal 22 April 2010 (lebih lama dua hari dari tujuh hari waktu paling lama sejak SPHP diterima pemohon banding), namun pemohon banding menolak untuk menandatangani berita acara hasil pemeriksaan, maka pemeriksa membuat dan menandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan (Tim Pemeriksa dengan Kepala Kantor) dengan membuat note/ catatan “Wajib Pajak menolak untuk menandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan” di bawah berita acara tersebut.
Terbanding berkesimpulan bahwa terbitnya Surat Ketetapan Pajak telah sesuai dengan peraturan tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak.
4.3.3.2. Tanggapan atas Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh 26
Atas aspek material penerbitan SKPKB PPh Pasal 26, koreksi terbanding berdasarkan selisih pehitungan ekualisasi objek PPh Pasal 26 dengan pembebanan dan/ atau pencatatan menurut SPT PPh Badan serta selisih ekualisasi PPN Jasa Luar Negeri lebih besar dari objek PPh Pasal 26. Selain iu, pemohon banding tidak memberikan data/ bukti pelaksanaan jasa di Indonesia seperti perhitungan tagihan jasa (service charges), time report/ sheet, fotokopi pasport tenaga ahli, sehingga Pemeriksa berkesimpulan bahwa jasa tersebut dilakukan di Indonesia adalah terutang PPh, sesuai dengan Pasal 26 UU PPh Tahun 2000 dengan perhitungan sebagai berikut:
Objek PPh Pasal 26 Cfm. SPT/WP 14.072.421.400,00 Objek PPh Pasal 26 Cfm. SPT PPh Badan:
614131 Perjalanan dinas-konsultan (USD) 63.507.294,00 614132 Perjalanan dinas-konsultan (EUR) 123.168.452,00 614141 Tiket-konsultan (USD) 43.379.070,00 614142 Tiket-konsultan (EUR) 22.909.992,00 613221 Maintenance software (USD) 4.208.651.827,00 613222 Maintenance software (EUR) 5.441.758.100,00
614111 Konsultan (USD) 1.330.814.537,00
614112 Konsultan (EUR) 4.717.508.526,00
616241 Konsultan (USD) 1.716.921.799,00
612141 Beban Pelatihan (USD) 423.783.149,00
613311 Komunikasi (USD) 143.680.076,00
613312 Komunkasi (EUR) 82.849.638,00
123110 Inf. Tech. Services ProfitLine/ Price 10.144.553.128,00 +/+ Selisih equaliasasi PPN Jasa LN > Obyek PPh Pasal 26 2.246.636.685,00 -/- Tan Rajah&Cheah aasa dilakukan di Singapura (1.716.921.799,00) -/- PCS Training Ltd (jasa dilakukan di Inggris) (110.850.321,00)
28.882.350.154,00
Selisih Ekualisasi 14.809.928.754,00
Selisih ekualisasi dengan PPN Jasa Luar Negeri dihitung sebagai berikut:
Objek PPh Pasal 26 cfm SPT PPh Badan 26.346.942.239,00 +/+ Bukan objek PPh Pasal 26 namun DPP 2.116.543.349,00 -/- Objek PPh Pasal 26 namun bukan DPP
+/+ DPP PPN JLN 2007 Lapor 2008 2.553.488.700,00 -/- DPP PPN JLN 2008 Lapor 2009 (1.757.235.763,00)
29.259.738.525,00
DPP PPN JLN cfm SPT PPN 31.506.375.210,00
Selisih Ekualisasi 2.246.636.685,00
Dalam surat uraian banding, terbanding tetap mempertahankan koreksi positif sebesar Rp 14.809.928.754 atas objek PPh Pasal 26 karena Wajib Pajak memberikan penjelasan dalam surat tanggapannya namun tidak disertai atau tidak diberikan bukti pendukung yang lengkap dan memadai termasuk bukti pendukung berupa copy pasport tenaga ahli.
4.3.4. Surat Bantahan
Setelah menerima Surat Uraian Banding Nomor S-7750/WPJ.07/2011 tanggal 23 Desember 2011, pengadilan pajak kemudian mengirimkan surat tersebut beserta dengan permintaan surat bantahan pada tanggal 13 Januari 2012 kepada pemohon banding. Permintaan surat bantahan diterima langsung oleh Pemohin Banding pada tanggal 20 Januari 2012. Surat Bantahan dengan Nomor 02/ASI/FAC/TAX-02-12 yang dikirimkan pada tanggal 10 Februari 2012 tersebut berisi bantahan atas argumen terbanding mengenai Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 dan atas Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26.
4.3.4.1. Bantahan atas Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh 26
Dalam surat bantahan yang dibuat pemohon banding dalam rangka menanggapi surat uraian banding terbanding menjelaskan bahwa yang pertama atas aspek formal, sengketa pajak muncul dikarenakan terbanding dalam menerbitkan SKPKB PPh Pasal 26 Nomor 00015/204/08/058 tanpa didahului dengan pembahasan di tingkat Tim Pembahas sebagaimana yang dimintakan oleh pemohon dikarenakan masih terdapat hal-hal yang belum disetujui pemohon dengan terbanding. Pemohon banding menyatakan dalam hal terdapat perbedaan pendapat antara pemohon dan terbanding mengenai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, pemohon mempunyai hak untuk dapat mengajukan pembahasan pada tingkat Tim Pembahas.
Pemohon banding juga menyatakan dalam surat bantahan ini bahwa terbanding nyata-nyata telah melanggar hak-hak pemohon, dan berdasarkan prinsip hukum negara hukum, keputusan yang diterbitkan terbanding yaitu SKPKB PPh Pasal 26 Nomor 00015/204/08/058/10 harus batal demi hukum.
Terbanding dalam menerbitkan SKP tidak berdasarkan atas Kertas Kerja Pemeriksaan di tingkat Tim Pembahas, melainkan SKP langsung diterbitkan berdasarkan hasil closing conference yang pada kenyataannya masih terdapat perbedaan antara pemohon dan terbanding. Dengan itu terbukti bahwa terbading tidak melakukan prosedur standar pelaksanaan Pemeriksaan dengan benar. Bahwa penerbitan surat ketetapan pajak yang tidak menindaklanjuti terlebih dahulu permohonan pemohon banding yang meminta adanya pembahasan di Tim
Pembahas adalah menyalahi peraturan perundang-undangan yang berlaku (PMK- 199).
4.3.4.2. Bantahan atas Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh 26
Pemohon banding juga menanggapi terbanding dalam aspek material penerbitan SKPKB PPh Pasal 26, bahwa pemohon banding telah menyampaikan bukti-bukti kompeten kepada terbanding sejak tahap keberatan antara lain berupa salinan perjanjian, salinan invoice, dan salinan Surat Keterangan Domisili (Certificate of Domicile) yang dikeluarkan oleh pemerintah negara-negara pemberi jasa berdomisili Berdasarkan data-data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak berhak memajaki penghasilan yang diterima oleh pemberi jasa, karena aktivitas jasa dilakukan di Indonesia dalam jangka waktu yang tidak melebihi time test sebagaimana diatur dalam ketentuan P3B.
Pemohon banding menambahkan argumennya bahwa dalam Pasal 26 Konvesi Wina 1969 (Vienna Convention on the Law of Treaties) tersirat di dalamnya prinsip pacta sunt servanda, yaitu prinsip yang mendasar dalam hukum perjanjian yang membuat negara pihak terkait pada setiap perjanjian. Dengan demikian, para pihak dari suatu perjanjian internasional haruslah menaati kewajiban-kewajibannya yang timbul dari perjanjian tersebut. Oleh karena itu, ketika terbanding tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam P3B, maka koreksi terbanding bertentangan dengan prinsip pacta sunt servanda dan good faith dalam penerapan perjanjian internasional, sehingga koreksi objek PPh Pasal 26 sebesar Rp 14.809.928.754,00 tidak dapat dipertahankan.
4.4. Fakta Dalam Persidangan
4.4.1. Fakta Persidangan Pemohon Banding
Dalam proses persidangan, pemohon banding menyampaikan argumentasi berupa kesalahan dari pihak terbanding dalam menerbitkan SKPKB PPh pasal 26 sama seperti dengan penjelasan yang ditulis pemohon dalam surat permohonan banding. Seharusnya setelah dilakukannya Closing Conference, pemohon menerima Risalah Pembahasan pada Tanggal 22 April 2010. Dikarenakan dalam Closing Conference masih terdapat hal yang belum disetujui antara pemohon dengan terbanding (Tim Pemeriksa), maka pemohon mengajukan surat untuk dibahas di tingkat Unit Tim
Pembahas pada tanggal 23 April 2010. Namun kenyataannya pada tanggal tersebut langsung diterbitkan SKPKB oleh terbanding.
Dengan demikian, terbukti bahwa penerbitan SKPKB oleh terbanding tanpa didahului dengan pembahasan di tingkat Tim Pembahas sebagaimana yang dimintakan oleh pemohon dikarenakan masih terdapat hal-hal yang belum disetujui antara pemohon dengan terbanding (Tim Pemeriksa). Pemohon banding menyampaikan kepada majelis hakim bahwa dalam proses pemeriksaan pajak tersebut, pemohon nyata-nyata telah meminta terbanding (Tim Pemeriksa) untuk melakukan pembahasan atas hasil temuannya pada tingkat Tim pembahas pada tanggal 23 April 2010. Namun, terbanding (Tim Pemeriksa) tidak menindaklanjuti permintaan pemohon dan justru langsung menerbitkan SKPKB berdasarkan temuannya. Dalam proses pembahasan hasil pemeriksaan, terdapat kemungkinan adanya perbedaan pendapat antara pemohon dengan terbanding (Tim Pemeriksa) mengenai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Oleh karena itu, pemohon diberi hak untuk dapat mengajukan pembahasan pada tingkat Tim pembahas, sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan Pasal 23 ayat (8) PMK No.
199/PMK.03/2007 tentang tatacara pemeriksaan pajak (selanjutnya disebut dengan PMK-199).
Dalam hal ini pemohon menyimpulkan bahwa secara formal, penerbitan surat ketetapan pajak yang tidak menindaklanjuti terlebih dahulu permohonan pemohon yang meminta adanya pembahasan di Tim Pembahas adalah menyalahi peraturan perundang-undangan yang berlaku (PMK-199), sehingga dengan menimbang bahwa dari segi doktrin Hukum Administrasi Negara dikenal adanya pembatalan surat putusan dengan alasan cacat yuridis atau ada kesalahan dalam prosedur (“vormverzuim” atau “vice de procedure”), untuk itu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 No.
00015/204/08/058/10 tanggal 23 April 2010 harus dibatalkan demi hukum.
Pemohon banding juga memperkuat argumentasinya dengan menggunakan aturan pada Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 (selanjutnya disebut dengan UU PP) yang menyatakan bahwa Pelaksanaan pemungutan pajak yang tidak sesuai dengan Undang-Undang perpajakan akan menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat Wajib Pajak, sehingga dapat
mengakibatkan timbulnya sengketa pajak Wajib Pajak dengan Pejabat yang berwenang. Bahwa menurut Penjelasan Umum UU PP tersebut timbulnya sengketa pajak disebabkan oleh adanya pelaksanaan pemungutan pajak yang tidak sesuai dengan Undang-Undang perpajakan. Dalam UU perpajakan yang mengatur hak dan kewajiban dari wajib pajak serta otoritas pajak, pelaksanaan pemungutan pajak yang dilakukan oleh Pejabat yang berwenang tidak hanya menyangkut pelaksanaan pemenuhan kewajiban material, tetapi juga menyangkut pelaksanaan pemenuhan kewajiban formal dari pelaksanaan pemungutan pajak tersebut. Hal ini dapat dilihat pada berbagai kewajiban prosedural yang dimuat dalam UU perpajakan, misalnya, tentang prosedur pemeriksaan pajak hingga penerbitan surat ketetapan pajak dan juga prosedur permohonan Keberatan hingga tata cara penerbitan Keputusan Keberatan yang menjadi dasar koreksi terbanding atas objek PPh Pasal 26 adalah atas aktivitas pemberian jasa yang dilakukan oleh beberapa Subjek Pajak Luar Negeri (resident luar negeri) yang memiliki Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (selanjutnya disebut dengan P3B) dengan Indonesia. Adapun jasa-jasa tersebut diberikan dengan cara melakukan pemberian jasa dari luar negeri (pemberi jasa tidak datang ke Indonesia) dan/ atau melakukan pemberian jasa dengan datang ke Indonesia, namun dilakukan tidak melebihi persyaratan time test sebagaimana ketentuan yang terdapat dalam P3B Indonesia dengan negara-negara di mana pemberi jasa tersebut berdomisili.
Bahwa melalui proses uji bukti pemohon telah menyampaikan rekapan penghitungan dan daftar dari akun-akun yang dikenakan pemotongan PPh Pasal 26. Adapun yang tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 26 lebih merupakan penghasilan yang dibayarkan atas suatu penyerahan jasa yang tidak terhutang PPh Pasal 26 karena Indonesia tidak memiliki hak untuk mengenakan pajak.
Pemotongan terhadap pemberian jasa lebih merupakan PPh Pasal 23 apabila telah terbentuk BUT. Akan tetapi, apabila tidak terbentuk BUT, maka tidak ada pengenaan pajak yang dapat dilakukan oleh Indonesia, karena Indonesia tidak memiliki hak untuk mengenakan penghasilan tersebut berdasarkan P3B yang telah diikat Indonesia dengan Negara mitra. Lebih lanjut, berdasarkan uji bukti yang dilakukan. Terbanding tidak dapat membuktikan bahwa akun-akun yang disangkakan merupakan objek pengenaan PPh Pasal 26.
4.4.2. Fakta Persidangan Terbanding
Dalam proses persidangan, terbanding membantah argumentasi yang disampaikan pemohon banding atas kesalahan dalam menerbitkan SKPKB dikarenakan telah melanggar peraturan yang ditulis dalam PMK-199. Terbanding disini menjelaskan bahwa pemohon banding juga melakukan kesalahan dikarenakan mengajukan keberatan dari aspek formal yaitu prosedur pemeriksaan hingga terbitnya ketetapan pajak berdasarkan hasil pemeriksaan dan dari aspek material yaitu materi atau isi dari ketetapan pajak. Pengajuan keberatan yang diajukan pemohon banding tersebut diajukan atas dua aspek, padalah menurut Pasal 25 ayat (1) UU KUP Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu surat ketetapan pajak. Terbanding menjelaskan bahwa kata suatu berarti hanya pada satu aspek atau satu masalah saja. Disini pemohon mengajukan keberatan atas dua aspek yaitu atas aspek formal penerbitan SKPKB dan atas aspek materi atau isi dari SKPKB.
Terbanding juga berpendapat apabila pemohon banding menemukan kesalahan dalam penerbitan SKPKB seharusnya menggunakan mekanisme pembetulan SKPKB sebagaimana diatur dalam Pasal 16 UU KUP, sehingga terbanding menyatakan bahwa keberatan pemohon banding dari aspek formal tidak dapat dipertimbangkan karena bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan serta tidak sesuai dengan prinsip- prinsip hukum yang berlaku umum dalam hukum publik.
Terbanding juga menyatakan bahwa dalil pemohon banding yang menyatakan bahwa Keputusan Keberatan batal demi hukum adalah tidak berdasar dan mengada-ada, karena sebuah keputusan yang dibuat berdasarkan kewenangan yang sah dan tidak mengandung kecacatan sebagaimana diatur dalam Pasal 53 ayat (2) UU PTUN tidak mungkin batal demi hukum.
Dari sisi aspek material, terbanding tetap mempertahankan koreksi positif sebesar Rp 14.809.928.754 atas objek PPh Pasal 26 karena Wajib Pajak hanya memberikan penjelasan dalam surat tanggapannya namun tidak disertai atau tidak diberikan bukti pendukung yang lengkap dan memadai. Terbanding menyatakan bahwa terbanding telah meminta bukti berupa copy pasport tenaga ahli yang memberikan jasa di Indonesia mulai dari tahap pemeriksaan hingga persidangan
saat ini. Namun pemohon banding tidak memberikan bukti tersebut kepada terbanding,
Dikarenakan pemohon banding tidak bisa memenuhi permintaan bukti berupa copy pasport tenaga ahli, terbanding disini meminta kepada pemohon banding data/ bukti pelaksanaan jasa di Indonesia seperti perhitungan tagihan jasa (service charges), time report/ sheet. Namun pihak dari pemohon banding sekali lagi tidak bisa memberikan bukti yang diminta, sehingga Pemeriksa berkesimpulan bahwa jasa tersebut dilakukan di Indonesia adalah terutang PPh, sesuai dengan Pasal 26 UU PPh Tahun 2000.
4.5. Putusan Pengadilan
Pasal 31 ayat (1) UU PP mengatur bahwa pengadilan pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus sengketa pajak. Dengan demikian, permohonan banding pemohon banding Nomor 03/ASI/FAC/TAX-10-11 tanggal 21 Oktober 2011 atas Keputusan Terbanding Nomor KEP-1667/WPJ.07/2011 wajib diperiksa dan diputus oleh pengadilan pajak. Hal ini karena permohonan banding tersebut berisi sengketa yang dikemukakan pemohon banding dalam permohonan keberatan yang seharusnya diperhitungkan dan diputuskan dalam keputusan keberatan.
Pengadilan pajak kemudian membaca dokumen-dokumen mengenai duduk perkara dari sengketa pajak ini. Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah surat permohonan banding, SUB, dan Surat Bantahan. Pengadilan pajak juga mendengar keterangan para pihak yang bersengketa dalam persidangan dan memeriksa bukti-bukti yang disampaikan para pihak yang diajukan dalam persidangan. Setelah hal itu, pengadilan pajak memutuskan sengketa pajak ini dengan nomor 59705/PP/M.VIIIA/13/2015 di Jakarta. Putusan ini diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum tanggal 23 Februari 2015.
4.5.1. Putusan atas Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26
Majelis hakim dalam sengketa banding PT AS terkait aspek formal penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 memutuskan untuk tidak membahas lebih lanjut terkait dengan kesalahan yang dilakukan terbanding dalam penerbitan SKPKB
PPh Pasal 26. Pemohon banding menyatakan bahwa pihak terbanding dalam penerbitan SKP berdasarkan hasil closing conference, tanpa dilakukan terlebih dahulu pembahasan ke tingkat Unit Tim Pembahas sebagaimana diatur dalam PMK-199. Sedangkan menurut pendapat majelis, seharusnya apabila pemohon banding menyakini kebenaran atas kesalahan penerbitan SKP yang dilakukan terbanding tersebut pemohon banding mengajukan permasalahan formal dengan mengajukan gugatan kepada pengadilan pajak sejak 30 hari pada waktu diterimanya SKPKB atau Keputusan yang digugat. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 23 ayat (2) huruf d UU KUP sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2000, yang berbunyi:
“Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak terhadap:
d. penerbitan Surat Ketetapan Pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, hanya dapat diajukan kepada Badan Peradilan Pajak.
Majelis menambahkan bahwa berdasarkan Pasal 36 ayat (1) huruf d UU KUP, yang berbunyi:
“Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat:
d. Membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa:
1. Penyampaian surat pemberitahuan hasi pemeriksaan atau 2. Pembahasan hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak.
Majelis hakim memutuskan dikarenakan pemohon banding tidak pernah mengajukan sengketa PT AS sebagaiman diatur dalam Pasal 23 ayat (2) huruf d UU KUP atau Pasal 36 ayat (1) UU KUP, maka majelis tidak akan membahas sengketa formal penerbitan SKP dan akan langsung membahas materinya.
4.5.2. Putusan atas Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26
Setelah memperhatikan pendapat pemohon banding dan terbanding, majelis menyimpulkan bahwa koreksi terbanding berupa obyek PPh Pasal 26 sebesar Rp14.809.928.754,00 didasarkan dari selisih perhitungan ekualisasi obyek PPh Pasal 26 dengan pembebanan dan/atau pencatatan menurut SPT PPh Badan serta selisih ekualisasi PPN Jasa LN lebih besar dari obyek PPh Pasal 26. Dengan kata lain terbanding mempergunakan hasil ekualisasi tersebut sebagai
bukti bahwa ada obyek PPh Pasal 26 yang belum dilaporkan oleh pemohon banding.
Majelis hakim memutuskan terkait dengan pengertian bukti dalam konteks perpajakan dapat dirujuk antara lain bahwa Pasal 69 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, yang berbunyi:
1) Alat bukti dapat berupa:
a. surat atau tulisan;
b. keterangan ahli;
c. keterangan para saksi;
d. pengakuan para pihak; dan/atau;
e. pengetahuan hakim;
2) Keadaan yang telah diketahui oleh umum tidak perlu dibuktikan.
Penjelasan dalam Pasal 76 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, yang berbunyi:
“Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1).”
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbanding atas selisih hasil ekualisasi sebagai bukti bahwa terdapat obyek PPh Pasal 26 yang belum dilaporkan oleh pemohon banding tersebut tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan UU Pengadilan Pajak mensyaratkan minimal terdapat 2 (dua) bukti namun menurut pendapat majelis, terbanding belum memenuhi syarat minimal terdapat 2 (dua) bukti sehingga terbanding belum memenuhi persyaratan tersebut.
Menurut pendapat majelis adalah merupakan kewajiban terbanding untuk dapat membuktikan bahwa memang terdapat obyek PPh Pasal 26 yang belum dilaporkan oleh pemohon banding. Sesuai dengan asas hukum yang berlaku, pemohon banding tidak wajib membuktikan bahwa selisih hasil ekualisasi menurut terbanding adalah bukan obyek PPh Pasal 26, sebagaimana yang didalilkan oleh terbanding. Selain itu Pasal 26 ayat (1) UU PPh dengan jelas menyatakan tentang obyek PPh Pasal 26 sebagai berikut:
“Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain
bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan:
a. dividen;
b. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;
c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
e. hadiah dan penghargaan;
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
g.premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau h.keuntungan karena pembebasan utang.
bahwa berdasarkan ketentuan dalam Pasal 26 ayat (1) tersebut dapat diketahui bahwa selisih perhitungan ekualisasi obyek PPh Pasal 26 dengan pembebanan dan/atau pencatatan menurut SPT PPh Badan tidak termasuk dalam daftar penghasilan yang harus dipotong pajak.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas majelis berpendapat bahwa koreksi terbanding dilakukan tanpa dasar yang kuat dan meyakinkan sehingga tidak dapat dipertahankan dan harus dibatalkan. Hasil pemeriksaan dalam persidangan, majelis berkesimpulan untuk mengabulkan seluruhnya permohonan banding pemohon dengan koreksi yang tidak dapat dipertahankan dan koreksi yang dapat dipertahankan dapat dihitung sebagai berikut:
Tabel 4.5. Bukti Dokumen Pendukung Pemeriksaan Yang Diberikan Oleh Pemohon Banding
No. Jumlah
Menurut Koreksi Terbanding
(Rp)
Koreksi yang tetap dipertahankan
(Rp)
Koreksi yang tidak dapat dipertahankan
(Rp)
1. Koreksi Penghasilan Kena Pajak/ Dasar Pengenaan Pajak
14.809.928.754,00 0,00
14.809.928.754,00
Jumlah
14.809.928.754,00
0,00
14.809.928.754,00
Sumber: Putusan Pengadilan Pajak Nomor 59705PP/M.VIIIA/13/2015 (2015, p.
74).
4.6. Analisis Kasus
Dalam sengketa di pengadilan pajak, pihak yang bersengketa yaitu pemohon banding dan terbanding akan saling berupaya untuk mendalilkan posisi
Uraian
hukum dan fakta yang mendukung agar dimenangkan oleh majelis hakim pengadilan pajak. Untuk mendalilkan posisi hukum dan fakta masing-masing pihak yang bersengketa, dibutuhkan strategi atau skenario argumentasi hukum dan fakta yang menguatkan posisi sendiri dan menyerang atau melemahkan lawan.
Sengketa banding PT AS ini dijabarkan dalam dua pokok masalah, yakni pemenuhan aspek formal penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 dan aspek material penerbitan SKPKB PPh Pasal 26.
4.6.1. Pemenuhan Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26
Strategi atau skenario argumentasi hukum yang dapat digunakan dalam sengketa di pengadilan pajak oleh pemohon banding antara lain adalah dengan mendalilkan bahwa keputusan terbanding mengandung cacat secara prosedural atau bahkan mengandung cacat hukum. Setelah meneliti keseluruhan dari proses sengketa ini, merujuk pada deskripsi kasus sengketa atas kesalahan penerbitan SKPKB PPh Pasal 26 oleh terbanding bahwa sebagaimana dijelaskan di atas, Pasal 23 ayat (8) PMK Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak (selanjutnya disebut PMK-199) mengatur bahwa apabila terdapat kemungkinan adanya perbedaan pendapat antara pemohon dan terbading mengenai hasil pemeriksaan yang dilakukan. Oleh karena itu, pemohon diberi hak untuk dapat mengajukan pembahasan pada tingkat Unit Tim Pembahas. Namun pada tanggal 23 April 2010, pihak terbanding langsung mengeluarkan SKPKB PPh Pasal 26 tanpa menindaklanjuti permohonan pemohon banding umtuk dilakukannya pembahasan di tingkat Unit Tim Pembahas.
Dalam sidang di pengadilan pajak, pihak tjuga mendalilkan argumennya bahwa pemohon banding juga melakukan kesalahan dalam mengajukan keberatan. Pengajuan keberatan yang diajukan pemohon banding tersebut diajukan atas dua aspek, sedangkan menurut Pasal 25 ayat (1) UU KUP Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu surat ketetapan pajak. Terbanding menjelaskan bahwa kata suatu berarti hanya pada satu aspek atau satu masalah saja. Disini pemohon mengajukan keberatan atas dua aspek yaitu atas aspek formal penerbitan SKPKB dan atas aspek materi atau isi dari SKPKB. Terbanding juga memperkuat dalil
argumentasinya dengan menyatakan bahwa apabila pemohon banding menemukan kesalahan dalam penerbitan SKPKB seharusnya menggunakan mekanisme pembetulan SKPKB sebagaimana diatur dalam Pasal 16 UU KUP.
Dalam putusan pengadilan pajak sengketa PT AS ini, majelis hakim memutuskan bahwa sesuai dengan Pasal 23 ayat (2) huruf d Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 menyatakan bahwa apabila terdapat penerbitan Surat Ketetapan Pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara penerbitan yang telah diatur dalam ketentuan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak dapat mengajukan gugatan kepada Badan Peradilan Pajak. Majelis hakim juga menjelaskan bahwa selain dapat mengajukan gugatan, pemohon banding juga dapat menggunakan Pasal 36 ayat (1) huruf d Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang berbunyi Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat membatalkan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan.
Dalam sengketa PT AS ini, pemohon banding tidak pernah mengajukan sengketa formal memakai salah satu dari kedua dasar hukum tersebut. Menurut pendapat majelis apabila pemohon banding menyakini atas adanya cacat prosedur dalam penerbitan SKPKB, seharusnya atas sengketa formal ini diajukan gugatan kepada pengadilan pajak tanpa mempermasalahkan materinya karena bila pemohon banding benar maka materinya juga akan dikabulkan.
4.6.1.1. Pandangan atas Kesalahan Aspek Formal Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26
Dalam pandangan Ganda Christian, Wajib Pajak dapat mengajukan gugatan ke pengadilan pajak apabila penerbitan SKP tidak sesuai prosedur. Wajib Pajak memiliki 30 hari sejak tanggal penerbitan SKP untuk mengajukan gugatan ke pengadilan pajak. Selain itu, Wajib Pajak juga dapat mengajukan pengurangan atau pembatalan SKP yang tidak benar kepada DJP, kecuali SKP yang diterbitkan berdasarkan Pasal 13A UU KUP. Pengurangan SKP yang tidak benar berarti jumlah pajak yang terutang dalam SKP tersebut tidak benar. Sementara pembatalan SKP yang tidak benar meliputi SKP yang seharusnya tidak
diterbitkan. Dalam sengketa PT AS ini, SKPKB diterbitkan tanpa melalui pembahasan di Tingkat Tim Pembahas (Quality Assurance), maka seharusnya Wajib Pajak dapat mengajukan pembatalan SKP kepada DJP.
Pandangan diatas didukung dengan pendapat dari Syafrian, seharusnya Wajib Pajak mengajukan gugatan atas kesalahan aspek formal tersebut. Sengketa banding tidak melihat dari aspek formal hanya melihat dari aspek material saja.
Jika Wajib Pajak memang meyakini atas kebenaran materialnya seharusnya langkah yang diambil adalah mengajukan sengketa ke tahap keberatan lalu banding sehingga tidak perlu mempermasalahkan aspek formalnya. Selaras dengan pandangan yang diberikan oleh Danny Septriadi yang menyatakan bahwa jika DJP meyakini bahwa telah terjadi kesalahan prosedur dalam penerbitan SKP maka langkah yang dapat dilakukan adalah melakukan pembatalan SKP secara jabatan berdasarkan wewenang yang diberikan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam Pasal 36 UU KUP.
4.6.1.2. Keselarasan Jawaban Narasumber dengan Putusan Majelis Hakim Jika melihat dari kesalahan DJP yang tidak membahas di Tingkat Tim Pembahas (Quality Assurance), menurut pandangan Syafrian kesalahan tersebut adalah kesalahan dari aspek formal sehingga langkah yang seharusnya oleh Wajib Pajak adalah mengajukan gugatan. Pendapat tersebut selaras dengan putusan pengadilan pajak yang menyatakan bahwa seharusnya apabila Wajib Pajak menyakini atas kesalahan dalam penerbitan SKPKB seharusnya atas sengketa formal ini diajukan gugatan kepada pengadilan pajak.
Sedangkan menurut Ganda Christian, jika aspek formal penerbitan SKP yang dimaksud mengacu kepada prosedur penerbitan SKP sebagai objek gugatan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 UU KUP, maka pendapat majelis hakim tersebut sudah tepat. Namun, apabila ternyata Wajib Pajak mengajukan keberatan dan kemudian banding terkait aspek formal penerbitan SKP. Dalam tahap keberatan, Ganda Christian menyakini DJP akan menolak keberatan dengan alasan keberatan hanya bisa diajukan terhadap materi atau isi SKP. Di tingkat banding, apabila majelis hakim meyakini bahwa banding merupakan proses lanjutan dari keberatan atas materi SKP dan memberikan bobot pertimbangan
yang lebih besar untuk keyakinannya tersebut, maka majelis hakim cenderung memutuskan seharusnya permasalahan ini masuk dalam wilayah gugatan.
Sedangkan apabila majelis hakim memberikan bobot pertimbangan yang lebih besar dalam melihat ketidakadilan yang dialami Wajib Pajak atas penerbitan SKP yang tidak sesuai prosedur, maka majelis hakim cenderung akan tetap memeriksa formal penerbitan SKP dalam persidangan banding. Meskipun demikian, pemeriksaan sengketa dalam persidangan banding tidak hanya berhenti di aspek formal penerbitan tetapi sebaiknya dilanjutkan ke aspek material sengketa.
Menurut pandangan Danny Septriadi, mengacu pada ketentuan Pasal 23 UU KUP, maka permasalahan dalam proses penerbitan SKP dapat diajukan gugatan ke pengadilan pajak. Oleh karena itu, pernyataan majelis hakim tersebut sudah sesuai dengan Pasal 23 UU KUP tentang pengajuan gugatan ke pengadilan pajak. Selain itu, banding diajukan atas keputusan keberatan. Dalam Pasal 25 UU KUP, keberatan diajukan atas permasalahan materi atau isi dari ketetapan pajak.
Oleh karena banding merupakan kelanjutan dari proses keberatan, maka banding bisa dikatakan terasosiasi dengan masalah materi atau isi dari SKP.
4.6.2. Pemenuhan Aspek Material Penerbitan SKPKB PPh Pasal 26
Koreksi yang dilakukan terbanding berupa obyek PPh Pasal 26 sebesar Rp14.809.928.754,00 didasarkan dari selisih perhitungan ekualisasi obyek PPh Pasal 26 dengan pembebanan dan/atau pencatatan menurut SPT PPh Badan serta selisih ekualisasi PPN Jasa LN lebih besar dari obyek PPh Pasal 26.
Terbanding dalam sengketa materi ini mulai dari tahap pemeriksaan hingga banding di pengadilan pajak meminta bukti kepada pemohon banding berupa tagihan jasa (service charges), time report/ sheet, dan fotokopi pasport tenaga ahli. Namun pihak dari pemohon banding tidak dapat memenuhi permintaan tersebut, sehingga terbanding berasumsi bahwa terdapat objek PPh Pasal 26 yang belum dilaporkan oleh pemohon banding. Berdasarkan hasil dari putusan majelis hakim di pengadilan pajak memutuskan bahwa pihak yang berkewajiban untuk dapat membuktikan bahwa memang terdapat objek PPh Pasal 26 yang belum dilaporkan oleh pemohon banding adalah pihak terbanding.
4.6.2.1.Interpretasi Makna Gramatikal Beban Pembuktian
Dalam pandangan Ganda Christian, putusan majelis tersebut sejalan dengan Pasal 12 ayat (3) UU KUP menyebutkan bahwa apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti bahwa jumlah pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak benar, maka Direktur Jenderal Pajak menetapkan jumlah pajak terutang yang semestinya. Ketentuan dalam Pasal 12 ayat (3) UU KUP 2000 menjelaskan bahwa jumlah pajak yang terutang menurut SPT adalah benar kecuali Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti bahwa jumlah pajak yang terutang dalam Surat Pemberitahuan pajak tersebut adalah tidak benar. Kata yang perlu digarisbawahi dalam bunyi pasal diatas adalah kata mendapatkan bukti. Secara gramatikal, kata mendapatkan dalam kalimat tersebut merupakan kata aktif yang menunjukan bahwa bukti-bukti adanya ketidakbenaran atas informasi yang terdapat dalam SPT yang dibuat oleh Wajib Pajak harus didapatkan sendiri secara aktif oleh Direktur Jenderal Pajak, misalnya dengan cara melakukan Pemeriksaan atau Penelitian. Sedangkan kata
“bukti“ dapat merujuk pada bukti yang digunakan sebagai dasar pendapat dan simpulan yang diambil oleh Tim Pemeriksa untuk kepentingan temuan hasil pemeriksaan sebagaimana yang diatur dalam Penjelasan Pasal 29 ayat (2) UU KUP 2000.
Menurut Darussalam, berdasarkan pertimbangan dan ketentuan hukum di atas, beban pembuktian atas kebenaran SPT yang dibuat oleh pemohon banding berada pada terbanding sebagai pihak yang melakukan koreksi. Prinsip penentuan letak beban pembuktian yang diterapkan oleh ketentuan perundang-undangan perpajakan di Indonesia sejalan dengan prinsip beban pembuktian yang dijelaskan dalam Borje Leidhammar (2013, p. 10) yang menyatakan “the theory is that the burden of proof should rest on the party that makes clain which affects another party”. Prinsip tersebut menyatakan bahwa beban pembuktian harus terletak pada pihak yang membuat klaim yang mempengaruhi pihak lain. Hal ini sama dengan ketentuan dalam Pasal 12 ayat (3) UU KUP 2000, yaitu pihak terbanding merupakan pihak yang menanggung beban pembuktian atas ketidakbenaran dari SPT karena pihak terbanding yang mengajukan klaim atas ketidakbenaran SPT yang telah disampaikan oleh pemohon banding.