3. Hasil Penelitian, Pembahasan dan Analisa
3.2 Deskripsi dan analisis masalah kebutuhan lanjut usia di Panti Wredha
3.2.3 Pemenuhan Kebutuhan Kepemilikan dan Cinta
Hasil penelitian yang peneliti dapatkan tentang pemenuhan kebutuhan kepemilikan dan cinta adalah 9 dari 10 responden merupakan lanjut usia yang masih memiliki keluarga namun diantara kesembilan orang ini, terdapat 1 responden yang hanya memiliki keluarga angkat yaitu anak yang ia asuh dan dibesarkan dari kecil. Sedangkan 1 orang responden lainnya menjawab bahwa ia sudah tidak memiliki keluarga dari kecil sebut saja Oma YM.54 1 responden lainnya sebut saja oma KL.55merupakan lansia yang memiliki keluarga yaitu anak dan cucunya yang tinggal bersama di Panti ini. Diantara ke-9 responden ini terdapat 1 lansia yang tidak pernah dikunjungi sama sekali oleh keluarga sebut saja Opa SP.56 Dan lansia yang lain pernah dikunjungi namun tidak secara rutin kerena berbagai alasan.
Dari data yang diperoleh penulis menumukan ada dua alasan yang melatarbelakangi pihak keluarga tidak melakukan perkunjungan secara rutin kepada lansia. Pertama, karena alasan pekerjaan. Pekerjaan merupakan salah satu faktor yang sering dikeluhkan oleh lansia kepada keluarga. Akibat adanya pekerjaan yang merupakan tanggungjawab keluarga (anak) maka beberapa lansia di Panti ini tidak memiliki waktu yang efektif untuk bertemu dan berbagi kasih sayang dengan keluarga mereka, namun disatu sisi lansia juga sadar bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh keluarga (anak) merupakan wujud tanggungjawab yang harus dilaksanakan guna memenuhi kehidupan mereka. Kedua, karena faktor keluarga. 4 dari 10 responden mengatakan bahwa selama ini mereka tidak pernah dikunjungi secara teratur karena anak-anak mereka telah berkeluarga sehingga sibuk mengurusi rumah tangga mereka dan lupa untuk mengunjungi mereka sebagai orang tua yang telah dititipkan. Namun
54
Wawancara dengan Oma YM, 03 Juli 2017, pukul 09.34 WIB.
55
Wawancara dengan Oma KL, 17 Juli 2017, pukul 12.57 WIB.
56
25
lansia juga sadar bahwa anak-anak yang mereka miliki, mempunya kebebasan untuk memilih jalan kehidupan mereka masing-masing termasuk untuk berkeluarga. Kedua hal diatas merupakan faktor yang sering kita jumpai dalam kehidupan lansia di Panti ini dan menjadi permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan akan kepemilikan dan cinta. Dari kedua hal diatas mengakibatkan lansia tidak bisa berhubungan dengan baik dengan anggota keluarga mereka. 1 responden sebut saja oma SU mengatakan bahwa natal merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu karena dari situlah ia bisa bertemu dengan keluarganya. Ini berarti bahwa setiap hari yang ia lewati di Panti ini tidak ada seorangpun yang datang mengunjunginya. Perasaan yang dialami oleh oma SU menggambarkan bahwa ia sangat membutuhkan kasih sayang dan kunjungan dari keluarganya. Namun ia juga sadar bahwa jarak yang terlalu jauh membuat mereka jarang untuk bertemu.
Selain dua hal di atas penulis menemukan alasan lain yaitu lansia sulit diterima oleh keluarga karena dianggap membawa masalah. Hal ini dialami oleh Opa AL, menurut beliau keluarga (istri) tidak menginginkan kehadirannya sehingga ia dititipkan di Panti ini. Sampai saat ini Opa AL belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan ia ditempatkan di Panti ini karena sang istri tidak pernah memberi tahunya bahkan ketika Opa AL meminta untuk membawanya pulang istrinya menolak.
Hal ini didukung oleh pemikiran Elizabeth Hurlock yang menyatakan bahwa di Amerika Serikat terdapat banyak sekali sterotipe yang cenderung melukiskan lanjut usia sebagai usia yang tidak menyenangkan dan menggambarkan mereka sebagai orang yang rewel dan jahat, maka ini adalah bukti bahwa di Indonesia juga sterotipe ini masih menguasai kehidupan manusia sehingga kebanyakan kita jumpai lansia pada lembaga-lembaga sosial. Menurut Abraham Maslow, kebutuhan merupakan inti dari kodrat manusia yang harus dipenuhi, hanya saja mereka lemah, mudah diselewengkan dan dikuasai oleh proses belajar, atau tradisi yang keliru. Dengan demikian ini adalah realita yang terjadi dalam msyarakat Indonesia saat ini. Kebanyakan dari lansia tidak memiliki seutuhnya kebutuhan pada tingkat ini
26
disebabkan karena faktor eksternal yang datang dari pihak keluarga sehingga lansia tidak mendapat tempat di lingkungan keluarga karena dianggap sebagai masalah.
Menurut teori Abraham Harold Maslow, kebutuhan akan kepemilikan dan cinta meliputi kebutuhan yang saling memberi dan menerima perhatian dari orang lain hal ini disebabkan karena manusia adalah mahkluk sosial yang selalu ingin bertemu dan berinteraksi dengan yang lainnya. Kebutuhan ini dapat ditemui melalui kehidupan orang-orang yang tidak memiliki kedekatan fisik dengan orang-orang yang dicintainnya atau dapat dikatakan orang-orang yang tidak memiliki kasih sayang dari keluarga (kekasih, sahabat, teman, suami/istri). Jika teori dikaitkan dengan realita yang terjadi pada lansia maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebenarnya lansia yang tinggal di Panti ini adalah orang-orang yang secara fisik ditinggalkan oleh keluarga dan secara psikis menyadari bahwa mereka tidak menerima perhatian secara penuh dari keluarga.
Meskipun keluarga mampu membiayai kebutuhan mereka namun yang jelas uang tidak bisa memberikan dan menjamin kasih sayang dan perhatian dari pihak keluarga. Ada beberapa lansia yang secara terbuka menceritakan tentang keadaan ini namun ada juga yang menganggap bahwa ini adalah hal biasa yang telah dijalani selama puluhan tahun. Kenyataan menunjukan bahwa meskipun mereka mengatakan bahwa ini adalah hal biasa namun seseungguhnya mereka mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga hal ini terlihat dari raut wajah mereka. Secara sederhana penulis ingin mengatakan bahwa kalimat-kalimat yang dikeluarkan oleh lansia seolah-olah menutupi kesedihan dan harapan yang mereka miliki saat ini.
Berdasarkan teori Karl Menninger yang menjelaskan bahwa seingkali cinta menjadi rusak akibat salah satu pihak merasa takut kelemahannya terungkap. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa lansia adalah pihak yang takut kelemahannya terungkap (rewel dan merepotkan orang lain) sehingga ia memutuskan untuk tinggal dan menenetap di lembaga-lembaga sosial seperti Panti Wredha. Meskipun demikian mereka juga menyadari bahwa sebenarnya memerlukan perhatian dan kasih sayang.
27
Tentunya, keluarga bertugas untuk memberikan perhatian dan kesih sayang bagi kaum lanjut usia. salah seorang responden mengatakan bahwa ia tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya karena mungkin saja ia tidak diharapkan oleh keluarga bahkan juga pihak keluarga tidak ingin mencari tahu tentang keberadaannya. Dalam hal inilah keluarga dituntut untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang maksimal bagi lansia meskipun mereka memiliki kesibukan masing-masing.