• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemenuhan Kebutuhan Pada Komunitas Online Perempuan

Dalam dokumen M01184 (Halaman 31-38)

Yudi Basuki1, Roos Akbar2, Pradono3, Miming Miharja4 1

Program Doktor Perencanaan Wilayah & Kota SAPPK ITB;

[email protected]

2

Program Doktor Perencanaan Wilayah & Kota SAPPK ITB; [email protected] 3

Program Doktor Perencanaan Wilayah & Kota SAPPK ITB; [email protected]

4

Program Doktor Perencanaan Wilayah & Kota SAPPK ITB; [email protected]

ABSTRAK

Perkembangan aktivitas perkotaan di seluruh dunia dewasa ini berlangsung sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi, terutama yang menyangkut informasi dan komunikasi. Pada perkembangannya hal ini mengakibatkan perubahan definisi masyarakat (society) menjadi masyarakat jejaring (network society). Pada masyarakat jejaring, pola hubungan sosial masyarakat berubah dari struktural hirarkis menjadi lebih fleksibel.

Perubahan pola hubungan sosial masyarakat ini tidak hanya terjadi di negara maju namun juga di negara berkembang sehingga gejala perubahan hubungan sosial akibat masyarakat jejaring dapat dikatakan telah mendunia. Hal ini tergantung dari ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi yang cenderung menjadi semakin mudah dan murah. Awalnya, teknologi informasi dan komunikasi diyakini akan mengurangi pertemuan fisik manusia atau meniadakan jarak (death of distance)

Kemudahan aplikasi di internet memudahkan orang untuk membentuk komunitas online (online communities) berdasarkan kesamaan kepentingan dan ketertarikan. Komunitas online yang terbentuk dapat beranggotakan banyak orang ataupun terbatas. Jenis komunitas online pun beragam. Keberadaan komunitas online juga dapat bertahan lama ataupun hanya sebentar. Aktivitas anggota komunitas online juga beragam namun pada umumnya adalah berupa pertukaran informasi dan pengetahuan.

Kemudahan ini juga telah memfasilitasi kaum perempuan dalam mengaktualisasikan dirinya melalui komunitas onlline perempuan. Dengan keunikan dan kekhasan tersendiri kaum perempuan membuat suatu komunitas yang sesuai dengan ketertarikan dan kesamaan kepentingannya. Dalam komunitas online, orang dapat beraktivitas tanpa harus bertemu secara langsung. Hal ini yang awalnya menjadi keyakinan bahwa sebagian besar urusan dapat diselesaikan dengan tanpa harus bertemu.

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pemenuhan kebutuhan komunitas online perempuan untuk membuktikan apakah pertemuan fisik masih diperlukan. Anallisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan karakteristik komunitas online perempuan dengan kerangka sample adalah dua komunitas perempuan yaitu Komunitas Emak Emak Blogger dan Komunitas Ibu Hamil.com.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa fenomena komunitas online perempuan merupakan kebutuhan perempuan akan informasi yang difasilitasi teknologi informasi dan

komunikasi. Dalam komunitas online perempuan, sebagian besar kebutuhan anggota terpenuhi namun masih diperlukan pertemuan fisik .

Kata Kunci : Komunitas online perempuan, pemenuhan kebutuhan, teknologi informasi dan komunikasi.

1. Pendahuluan

Perkembangan aktivitas perkotaan di seluruh dunia dewasa ini berlangsung sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi, terutama yang menyangkut informasi dan komunikasi yang dikenal dengan the informational city (Castells, 1989). Pada perkembangannya hal ini mengakibatkan perubahan definisi masyarakat (society) menjadi masyarakat jejaring (network society) (Gustavo, 2006). Pada masyarakat jejaring, pola hubungan sosial masyarakat berubah dari struktural hirarkis menjadi lebih fleksibel. Dari perkenalan fisik (langsung) menjadi perkenalan virtual (tidak perlu bertemu dan relatif baru) Pola hubungan sosial masyarakat tidak lagi didasarkan pada kedekatan jarak geografis. Selain itu, muncul perubahan dari masyarakat yang terhubung secara langsung (fisik) menjadi terhubung secara virtual (maya) dan membentuk kelompok sosial baru (Gamal, 2010; François, 2009).

Gambar 1. Perubahan Bentuk Hubungan Sosial Masyarakat Sumber : Francois, 2009

Perubahan pola hubungan sosial masyarakat ini tidak hanya terjadi di negara maju namun juga di negara berkembang sehingga gejala perubahan hubungan sosial akibat masyarakat jejaring dapat dikatakan telah mendunia. Hal ini tergantung dari ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi yang cenderung menjadi semakin mudah dan murah.

Awalnya, teknologi informasi dan komunikasi diyakini akan mengurangi pergerakan manusia atau meniadakan jarak (death of distance) (Cairncross, 1997). Beberapa kegiatan yang menggunakan teknologi informasi seperti teleconference dan tele education telah mengurangi pergerakan manusia. Pada perkembangannya hal ini tidak mutlak terjadi. Perkembangan ini juga mengubah konsep keruangan (spatial) dari spatial reality menjadi spatial virtual (Francois, 2009). Ruang itu mengalir dan waktu

menjadi relatif (Castells, 2010). Pergerakan maya (virtual mobility) dan akses pada

jejaring (cyberspace) memungkinkan orang untuk terhubung dalam berbagai aktivitas pada setiap waktu dan tempat. (Ohmori, 2006; Golob, 2001).

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia mulai berkembang pesat. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa Indonesia menjadi pengguna aplikasi internet yang sangat aktif. Pengguna facebook di Indonesia menduduki peringkat tiga terbesar di dunia di bawah Amerika Serikat dan Inggris dengan jumlah pengguna lebih dari 26.000.000 orang. Facebook selain digunakan untuk beraktivitas sosial juga digunakan untuk mempromosikan hasil hasil inovasi melalui belanja online. (Social Media World Forum Asia, 2010). Meskipun angka di atas apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia masih relatif kecil namun gejala penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di perkotaan menunjukkan perkembangan yang tidak kecil.

Kemudahan aplikasi di internet memudahkan orang untuk membentuk komunitas online (online communities) berdasarkan kesamaan kepentingan dan ketertarikan. Komunitas online yang terbentuk dapat beranggotakan banyak orang ataupun terbatas. Jenis komunitas online pun beragam. Keberadaan komunitas online juga dapat bertahan lama ataupun hanya sebentar. Aktivitas anggota komunitas online juga beragam namun pada umumnya adalah berupa pertukaran informasi dan pengetahuan. Dalam keterhubungannya orang dapat membentuk suatu komunitas online baru berdasar kepentingannya. Kecenderungan adanya face book, twitter, mailling list menunjukkan orang tergabung dalam kelompok online yang tidak tunggal dan bermacam macam jenisnya.

Kepentingan yang mendorong terbentuknya komunitas online merupakan representasi dari aktualisasi diri manusia yang tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya (Maslow dalam Williams, 1995). Komunitas online ini sangat beragam mulai dari pertemanan lama maupun baru, komunitas sesama penggemar kegiatan atau hobi, sampai kepada komunitas yang dipicu oleh aktivitas tertentu seperti sumbangan bencana dan sebagainya. Hummel & Lechner (2002) mengklasifikasikan komunitas online menjadi lima yaitu: (1) gaming communities: (2) communities of interest: (3) consumer-to-consumer communities (C2C): (5) business-to-business communities (B2B)

Kemudahan aplikasi di internet juga telah memfasilitasi kaum perempuan dalam mengaktualisasikan dirinya melalui komunitas onlline perempuan. Dengan keunikan dan kekhasan tersendiri kaum perempuan membuat suatu komunitas yang sesuai dengan ketertarikan dan kesamaan kepentingannya. Komunitas online yang terbentuk dapat bersifat eksklusif yaitu hanya beranggotakan kaum perempuan saja seperti bundagaul.com, the hijabers community ataupun bebas seperti komunitas emak emak blogger dan komunitas ibu hamil.com. Dalam komunitasnya kaum perempuan berusaha memenuhi kebutuhannya baik itu hanya sekedar informasi, sosialisasi maupun jual beli.

Dalam komunitas online, orang dapat beraktivitas tanpa harus bertemu secara langsung. Hal ini yang awalnya menjadi keyakinan bahwa sebagian besar urusan dapat diselesaikan dengan tanpa harus bertemu. Pada perkembangannya manusia sebagai makhluk sosial masih membutuhkan pertemuan fisik. Proses interaksi dalam komunitas online menjadi suatu pergerakan untuk melakukan pertemuan fisik melibatkan proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini merupakan hasil dari olah pikir (kognitif) yang menentukan pilihan seseorang. Dalam teori kognitif manusia dapat diibaratkan seperti mesin pemroses informasi (Williams, 1995). Terjadinya pertemuan fisik ini sangat tergantung dari informasi, kebutuhan dan rasionalitas dari pelaku dalam komunitas online.

Implikasi dari pengambilan keputusan ini akan menentukan kapan dan dimana pertemuan fisik ini dilakukan. Waktu pertemuan fisik dapat bersifat reguler (harian,

mingguan atau tahunan) dan tidak reguler (kapan saja). Tempat pertemuan sangat tergantung dari preferensi komunitas online yang dapat berupa tempat yang sekarang dikenal sebagai tempat yang representatif seperti gedung pertemuan, hotel, restauran besar dan semacamnya ataupun cukup dilakukan di rumah seseorang, warung kecil, kafe, taman wisata dan semacamnya. Pergerakan fisik yang ditimbulkan dapat bersifat lokal (dalam kota) ataupun bersifat regional bahkan internasional (antar negara) (Cattan, 2007; Zandvliet, 2005).

Dari uraian teoritikal ini maka permasalahan yang ingin dijawab melalui artikel ini adalah:

1. Bagaimanakan karakteristik komunitas online perempuan?

2. Apakah Aktivitas pada Komunitas Online perempuan telah dapat memenuhi kebutuhan anggotanya?

3. Apakah masih diperlukan pertemuan fisik sebagai akibat aktivitas komunitas online perempuan?

Tujuan dari artikel ini adalah menjelaskan pemenuhan kebutuhan pada komunitas online perempuan.

2. Pembahasan

Pembahasan lebih difokuskan pada karaktetistik masing masing komunitas online untuk mengenali aktivitas serta anggotanya, sebaran anggota dari komunitas online untuk membuktikan bahwa jarak dan lokasi geografis fisik bukan menjadi batasan bagi komunitas online, seberapa besar pemenuhan kebutuhan yang didapat dari komunitas online , dan masih perlukah pertemuan fisik bagi anggota komunitas online. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan kerangka sampling adalah dua komunitas online perempuan (Komunitas Emak Emak Blogger dan Komunitas Ibu Hamil.com). Sampel yang diambil adalah anggota masing-masing komunitas sejumlah 49 orang untuk Komunitas Emak Emak Blogger dan 59 untuk Komunitas Ibu Hamil.com.

Pada Kumpulan Emak Blogger atau yang biasa disebut KEB adalah komunitas blogger perempuan Indonesia. Anggotanya terdiri dari ratusan (tidak ada data pasti jumlah anggota) blogger perempuan dari berbagai komunitas blogger Indonesia, baik yang berdomisili di dalam maupun di luar negeri. Komunitas ini didirikan oleh Mira Sahid pada tanggal 18 Januari 2012. Kegiatan yang dilakukan komunitas ini antara lain adalah berbagi inspirasi, informasi, motivasi dan karya anggotanya. Komunitas ini juga sering mengadakan pertemuan offline (kopi darat) komunitas blogger. Selain itu kegiatan komunitas ini juga dapat berupa peluncuran suatu produk perusahaan dan memfasilitasi tawaran kerja sama dari berbagai pihak. Anggota komunitas ini adalah wanita dengan usia termuda 19 tahun dan tertua 45 tahun dengan profesi anggotanya beragam mulai dari ibu rumah tangga (53%), pegawai swasta (29%), wiraswasta (6%), pelajar/mahasiswa (9%) dan selebihnya adalah belum bekerja/sedang mencari pekerjaan (3%).

Pada Komunitas Ibu Hamil.com adalah merupakan group yang membahas seputar kehamilan dan parenting. Komunitas ini didirikan tahun 2011 dan memiliki anggota aktif 196 dari 849 anggotanya (data per bulan Maret 2013). Aktivitas yang dilakukan komunitas ini adalah diskusi seputar informasi pengetahuan tentang kehamilan dan parenting, seminar dan penjualan produk. Anggota komunitas ini adalah wanita dengan usia antara 19 dan 35 tahun dengan profesi yang beragam mulai dari ibu rumah tangga (66%), pegawai swasta (32%), dan selebihnya adalah belum bekerja/sedang mencari pekerjaan (4%).

Keanggotaan kedua komunitas online perempuan ini berawal dari munculnya komunitas ini di internet. Pada awalnya diprakarsai oleh perorangan dan kelompok kecil yang tidak saling kenal yang kemudian berkembang dan bertambah anggotanya karena mengakses portal komunitas ini. Anggota kedua komunitas ini tersebar di kota kota besar maupun kecil di Indonesia. Sebagian besar berada di kota metropolitan seperti Jakarta (35%) dan kota kota besar lainnya seperti Bandung (18%), Semarang (8%), Yogyakarta (12%), Surabaya (18%), Medan (2%) dan Makasar (2%). Sebagian kecil anggota tersebar di kota kota kecil seperti Ciamis (2%), Kuningan (2%), Lampung (2%), Tulungagung (1%), Balikpapan (1%), Tarakan (1%), Jambi (1%), Padang (1%) dan Nabire (1%). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan sosial komunitas ini tidak terpengaruh jarak dan letak geografis. Hubungan sosial komunitas ini lebih kepada kesamaan minat dan kebutuhan anggotanya sehingga hubungan yang terjadi bersifat fleksibel dan bukan hirarki (Francois, 2009). Hal ini terlihat dari sebaran lokasi anggota komunitas yang beragam dan proses bertambahnya anggota.

Kedua komunitas ini memiliki anggota yang aktif dalam komunitasnya. Hal ini tercermin dalam frekwensi/ tingkat kekerapan anggota untuk mengakses komunitas online nya. Sebagian besar anggotanya setiap hari (72% untuk Komunitas Emak Emak Blogger dan 84% untuk Komunitas Ibu Hamil) aktif mengakses komunitas onlline nya dalam bentuk tanya jawab/mencari informasi. Hanya sedikit yang tidak aktif (belum tentu seminggu sekali) dalam memanfaatkan komunitas online ini (6% masing-masing untuk kedua komunitas). Kegiatan lain yang dilakukan komunitas ini adalah sosialisasi dan penjualan produk terutama pada komunitas ibu hamil.

Salah satu tujuan perempuan menjadi anggota dari suatu komunitas perempuan adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini kebutuhan informasi menjadi kebutuhan yang paling besar yang didapat dari komunitas online perempuan. Informasi seputar kegiatan perempuan yang terwadahi dalam blog merupakan kegiatan utama untuk Komunitas Emak Emak Blogger. Sedangkan untuk Komunitas Ibu Hamil informasi seputar kehamilan, dokter, dan parenting menjadi contoh dari jenis informasi yang dibutuhkan. Namun tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dalam komunitas online perempuan. Dari anggota dua komunitas perempuan ini ternyata hanya sebagian besar kebutuhan yang terpenuhi. Artinya ada yang merasakan sudah terpenuhi namun ada yang menyatakan belum terpenuhi meskipun hanya sebagian kecil. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Anggota Komunitas Online Perempuan Komunitas Emak Emak Blogger Komunitas Ibu Hamil

Terpenuhi 8% 11%

Sebagian besar terpenuhi 78% 76%

Sebagian kecil terpenuhi 12% 10%

Tidak terpenuhi 2% 3%

Dari tingkat pemenuhan kebutuhan yang sebagian besar terpenuhi maka mendorong anggota kedua komunitas ini untuk melakukan pertemuan fisik atau istilah mereka kopi darat. Yang merasakan perlunya kopi darat cukup banyak seperti terlihat pada tabel 2. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi melalui komunitas online.

Tabel 2. Perlunya Kopi Darat Bagi Anggota Komunitas Online Perempuan Tingkat Keperluan Komunitas Emak Emak Blogger Komunitas Ibu Hamil

Perlu sekali 72% 66%

Perlu 25% 27%

Tidak perlu 3% 7%

Dari Tabel 2 dapat ditunjukkan bahwa keyakinan akan teknologi informasi dan komunikasi mengurangi pertemuan fisik (Cairncross, 1997) tidak terbukti untuk kedua komunitas ini. Anggota komunitas masih memerlukan pertemuan fisik untuk menindaklanjuti dari komunikasi dalam komunitas online perempuan. Bahkan fenomena komunitas online perempuan ini menunjukkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi akan menimbulkan kebutuhan lanjutan yaitu pertemuan fisik meskipun kebutuhan informasi pada komunitas online telah sebagian besar terpenuhi.

3. Kesimpulan

Dari pembahasan data data di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Komunitas online perempuan di Indonesia merupakan upaya pemenuhan kebutuhan perempuan akan informasi seputar kepentingannya yang terfasilitasi oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

2. Komunitas online perempuan ini telah meretas batas-batas fisik dan hirarki hubungan sosial masyarakat menjadi lebih fleksibel dan tersebar secara geografis.

3. Masih terdapat kebutuhan untuk bertemu secara fisik karena hanya sebagian besar kebutuhan perempuan didapat dari komunitas online perempuan.

Daftar Pustaka

1. Cairncross, F., (1997) The Death of Distance : How the Communications Revolution

Will Change Our Lives, Havard Business School Press, Boston.

2. Castells, M., (2010) The Information Age: Economy, Society and Culture Volume I:

The Rise of The Network Society, Second Edition, A John Wiley & Son, Ltd,

Publication.

3. Castells, M., (2009) Communication Power, Oxford University Press.

4. Castells, M., Cardoso, G., (2005) The Network Society: From knowledge to policy .,

Washington, DC: Johns Hopkins Center for Transatlantic Relations.

5. Castells, M., (1989) The Informational City : Information Technology, Economic Restructuring, and Urban-Regional Process, Blackwell Oxford UK & Cambridge USA. 6. Cattan, N., (2007) Student Mobility, Gender and Polycentrism in Europe"Cities and

networks in Europe. A critical approach of polycentrism, Nadine Cattan (Ed.)

7. Choo, S., (2004) Aggregate Relationships between Telecommunications and Travel: Structural Equation Modeling of Time Series Data., Disertasion of Doctor, University of California Davis.

8. François D., Shang, D., (2009) Becoming mobile in contemporary urban China: How increasing ICT usage is reformulating the spatial dimension of sociability ., International Development Research Centre.

9. Gamal, H,E., (2010) Network society: A social evolution powered by youth. Global Media Journal Arabian Edition Fall/Winter., Vol. 1, No. 1, pp. 16-26.

10. Golob, T. (2001). Travel Behavior.Com: activity approaches to modeling the effects of information technology on personal travel behavior. Institute Transportation Studies Universities of California.

11. Gustavo, C.,(2006) The Media in the Network Society: Browsing, News, Filters and Citizenship, Lisboa, Portugal. CIES – Centre for Research and Studies in Sociology. 12. Hampton, K, N., (2007) Neighborhoods in the Network Society: The e-Neighbors .,

13. Harkness, R.C., (1977) Selected results from a technology assessment of telecommunication-transportation interactions. Habitat 2 (1/2), 37-48.

14. Hummel, J. & Lechner, U. (2002). Social Profiles of Virtual Communities. Proceedings of the 35th Hawaii International Conference on Systems Sciences 15. Lim, M., (2005) The Internet, social network and reform in Indonesia. Research fund

by NOW/WOTRO-DC Programme.

16. Ohmori, N., (2006) Connected anytime: telecommunications and activity-travel behavior from Asian perspectives, paper presented at the 11th International Conference on Travel Behaviour Research, Kyoto.

17. Social Media World Forum Asia, (2010)

18. Williams, RN and Slife BD., (1995) What’s behind the research: Discovering hidden assumptions in the behavioral sciences, Sage Publications, Inc, Printed in the United Stated of America

19. Zandvliet, R., Dijst, M (2006) Short-term Dynamics in the Use of Places: A Space– Time Typology of Visitor Populations in the Netherlands. Urban Studies, Vol. 43, No. 7, 1159–1176.

MERANCANG GEMOO! PERMAINAN EDUKASI KOMPUTER UNTUK

Dalam dokumen M01184 (Halaman 31-38)