• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemenuhan Rasa Aman

Dalam dokumen Rasa Aman Dan Nyaman (Halaman 23-42)

I. Konsep Dasar  A. Definisi Keamanan

Keamann sering di definisikan keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis yang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus di penuhi.

B. Dasar Pengetahuan Ilmiah 1. Kemanan lingkungan

Lingkungan klien mencakup semua factor fisik dan psikososial yang mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup klien. Keamanan dalam lingkungan diperlukan untuk mengurangi insiden terjadinya   penyakit dan cedera memperpendek lamanya tindakan dan hospitalisasi,

meningkatkan atau mempertahankan status gizi klien, meningkatkan kesejahteraan klien dan juga memberiksn rasa aman kepada staff sehingga kerja mereka menjadi optimal.

2. Kebutuhan dasar  

Kebutuhan fisiologis yang terdiri dari kebutuhan terhadap oksigen,nutrisi,dan suhu yang optimum,nutrisi, dan suhu yang optimum akan mampengaruhi keaman seseorang.

Perawat harus menyadari berbagai factor yang ada di lingkungan yang dapat menurunkan jumlah oksigen yang tersedia. Bahaya umum yang ditemukan di rumah sakit adalah sistem pemanasan yang tidak berfungsi dengan baik. Pembakaran yang tidak sempurna menyebabkan penumpukan karbon monoksida di dalam ruangan. Karbon monoksida adalah gas beracun yang tidak berbau dan tidah berwarna yang di hasilkan dari pembakarsn karbon atau bahan bakar organik. Karbon monoksida berikatan kuat dengan oksigen,sehingga mencegah terbentuknya oksihemoglobin dan akhirnya akan mengurangi persediaan oksigen yang diberikan ke seluruh tubuh.

 b. Kelembaban

Kelembapan relatif udara dalam lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan dan keamanan klien. Kelembapan relative adalah jumlah uap air di udara di bandingkan jumlah uap air maksimum yang dapat di kandung oleh udara pada suhu yang sama. Angka kelembapan yang nyaman bagi setiap orang bervariasi,tetapi kebanyakan orang merasa nyaman pada kelembaban antara 60% - 70%.

Jika kelembaban relatifnya tinggi maka kelembaban kulit akan terevaporasi dengan lambat. Jadi,pada cuaca panas,lembab,orang akan merasa tidak nyaman pada lembab dan panas.

Jika kelembaban relatifnya tinggi maka kelembaban kulit akan terevaporasi dengan lambat. Jadi pada cuaca panas,lembab,orang akan merasa tidak nyaman pada lembab dan panas. Jika kelembaban relatifnya rendah maka kelembaban kulit akan terevaporasi dengan cepat. Hal inilah yang menjadi sabab mengapa orang akan merasa lebi dingin dan lebih nyaman jika  berada pada suhu 32,2 darajat C dengan kelmbaban relatif 30% daripada

  berada pada suhu32,2 dengan kelembaban relatif 85%. Peningkatan kelembaban lingkungan dapat menghasilkan keuntungan terappeutik.

c. Nutrisi

Pemenuhan kebutuhan nutrisi secara adekuat dan aman memerlukankontrol lingkungan dan pengetahuan misalnya jika di rumah ,klien memerlukan kulkas dan alat pembeku untuk menjaga makanan yang cepat membusuk agar tetap segar.

Makanan yang tidak di siapkan atau di simpan dalam kulkas akan meningkatkan resiko terjadinya infeksi dan keracunan dalam makanan.

Infeksi bakteri melalui makanan disebabkan karena adanya kontaminasi mkanan oleh bakteri seperti salmonela,shigela,dan listeriosa. Keracunan makanan disebabkan ingesti toksin bakteri yang di hasilkan dalam makanan.

Pengkajian terhadap kemungkinan adanya infeksi atau keracunan makanan mencakup riwayat klein,melaksanakan pemeriksaan sauran cernadan sistem saraf pusat,mengobservasi adanya demam dan menganalisa kultur feses dan muntah.

Untuk melindungi konsuma,mkanan yang diproses dan dikemas secara komrsial merupakan hal pokok yang di atur oleh Food and Drug Administration (FDA)/ Bdan Administrasi Makanandan Obat-obatan. FDA adalah lembaga federal yang bertanggung jawab melksanakan peraturan federal tentang pembuatan,proses,dan distribusi pada makanan,obat-obatan,dan kosmetik yang bertujuan untuk melindungi konsumen dari  penjualan substansi yang tidak murni atau berbahaya.

d. Suhu

Suhu lingkungan yang nyaman bagi individu sangat bervariasi,tetapi individu biasanya nyaman pada suhu antara 18,3-23,9 C.

Pemaparan terhadap udara yang sangat dingin dalam waktu lama menyebabkan radang dingin(fosbite) dan hipotermia.frosbite terjadi saatdaerah  permukaan kulit membeku akibat paparan suhu yang sangat dingin. Hipotermia

terjadi pada saat suhu tubuh inti sama atau urang dari 35 C.

Pemaparan terhadap panas yang eksterm akan menyebabkan headstroke(sengatan terik mtahari) atau heat exhaustion. Heat exhaustion menyababkan diaforesis yang berlebihan, hipotensi, perubahan status mental.kejang otot, dan mual. Sedangkan headsroke adalah kondisi yang mengancam kehidupan dengan perubahan status mentalyang berat.

3. Bahaya fisik  

Bahaya fisik yahg ada dalam komunitas dan tempat pelayanan kesehatan mengakibatkan cedera pada pasien. Banyak bahaya fisik,khususnya yang mengakibatkan jatuh,dapat diminimalkan melalui pencahayaan yang adekuat,pengurangan penghalang fisik,pengontrolan bahaya yang mungkin mandi,dan tindakan pengamanan ada di kamar. Kita dapa meminimalkan bahaya fisik, terutama yang berhubungan dengan kecelakaan jatuh melalui pencahayaan yang cukup, mengatur, mengurangi gangguan, mengatur kamar mandi, dan tindakan pengaman.

a. Menjamin pencahayaan yang adekuat

Pencahayaan yang adekuat akan mengurangi bahaya fisik dengan cara menerangi tempat bergerak dan bekerja klien. Di dalam rumah,gang,tangga,dan ruangan individu harus diberikan pencahayaan yang adekuat sehingga penghuninya bisa beraktivitas dengan aman. Pencahayaan  buatan harus berupa cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan mata, karena

cahaya yang menyilaukan adlah masalah utama yang di hadapi oleh lansia.  b. Mengurangi penghalang fisik 

Cedera yang di alami di rumah sering di sebabkan oleh benda,termasuk keset yang ada di lantai,kain yang kusut di samping meja, lemari dinding,bahkan

atas kulkas, dan lemari buku.Untuk mengurangi resiko cedera,seluruh  penghalang fisik harus di pindahkan dari gang dan tenpat lalu lalang lainya. Untuk benda yang dibutuhkan klien misalnya kacamata atau tissue diletakkan di tempat yang dapat di jangkayu klien tapi tidak dapat di jangkau oleh anak-anak. Benda-benda yang penting di letakkan di dalam laci untuk menghindari kekecauan.

c. Mengontrol Bahaya yang Ada di Kamar Mandi

Kecelakaan, seperti jatuh, kebakaran dan keracunan, seringkali terjadi di kamar mandi. Pegangan yang mudah terlihat dan aman serta perekat yang tidak licin yang ada di dasar bak mandi berfungsi untuk mengurangi resiko  jatuh di dalm bak mandi. Tempat duduk toilet yang dki tinggikan dengan   pegangan tangan dan alas yang tidak licin pada lantai depan toilet juga  berfungsi mengurangi bahaya yang terjadi di kamar mandi.

d. Mengamankan Rumah

Klien perlu melakukan tidakan pencegahan untuk mengankan rumahnhya dari  penyelundup. Saat perawat melakukan pengkjian terhadap keadaan rumah , maka klien harus mengevaluasi keberadaan dan kualitas kunci pintu dan  jedela.

4. Pengurangan Transmisi Pathogen

Pathogen adalah setiap mikroorganismeyang mampu menyebabkan   penyakit. Salah satu metode yang paling efektif untuk membatasi penyebaran  pathogen adalah dengan cuci tangan sesuai dengan tehnik aseptic.

Penyebaran penyakit dari orang ke orang juga dapat di cegah dengan tehnik imunnisasi. Imunisasi adalah proses yang menghasilkan atau menambah resistensi seseorang terhadap penyakit infeksi. Imunisasi pasig di peroleh dengan menyuntikkan sejumlah kecil mikroorganismeyang telah dilemahkan atau yang telah mati atau toksin dari organism tertentu yang telah di modifikasi. Sedsngkan

imunisasi aktif diperoleh saat antibody yang di hasilkan oleh orang lain atau hewan masuk ke dalam pebuluh darah seseorang untuk melindunfi diri dari  patogen.(Phipps,dkk,1995).

  Human immunodefisiensy virus (HIV),yaitu virus yang menyebabkan AIDS,dan virus hepatitis B yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu. Perawat menggunakan standar kewaspadaan saat memberikan perawatan  bagi seluruh klien untuk melundungi diri mereka dari kongtak dengan darah dan

cairan.

Penyebaran penyakit juga dikonrtol melalui pembuangan sampah manusia yang adekuat ke dalam tempat yang tepat,serta perbaikan pembuangan air dan drainase. Pengontrolan terhadap serangga dan hewan pengerat juyga perlu dilakukan untuk mengurangi tarjadinya penyebaran penyakit.

5. Pengontrolan polusi

Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bebas dari polusi.

a. Polutan adlah zat kimia atau sampah material yang berbahaya yang dibuang kedalam air,tanah atau udara. Pada umumnya manusia hanya berfikir   jenis polusu itu hanyalah polusi udara,air ataupun tanah. Padahal ada juga  polusi yang menimbulkan resiko tarhadap kesehatan.

 b. Polusi udara adalah kontaminasi terhadapatmosfir. Pemaparan yang lama terhadap polusi udara akan meningkatkan resiko terjadinya penyakit paru- paru. Pada daerah perkotaan,sampah industry dan zat buangan kendaraan  bermotor menjadi penyebab terjadinya polusi udara. Di rumah ,sekolah,atau tempat kerja asap rokok menjadi penyebab utema polusu udara. Polusi tanah dapat disebabkan oleh pembuanagan radoiaktif dan sampah bioaktif yang tidak tepat,nisalnya dioksin.

c. Polusi air adalah kontaminasi terhadap danau,sungai,dan aliran air,yang   biasanya di sebabkan polutan yang dihasilkan industry. Banjir seringkali menyebabkan kerusakan pada penyediaan air bersih dan juga memerlukan  perebusan air hingga mendidih untuk minum dan memasak.

d. Polusi udara terjadi bila tingkat bunyi pada lingkungan menyebabkan ketidaknyamanan bagi penghuni di lingkh gan tersebut. Tingkat bunyji diukur 

dengandengan suatu intensitas bunyi decibel. Toleransi tarhadap terhadap tingkat bunyi sangat bervariasi dari masing-masing individu. Yang dipengaruhi status kesehatan individu tarsebut.

Lembaga pelayanan kesehatan seperti unit pelayanan intensif juga mengalami kebisingan. Walaupun tingkat kebisingan tidak terlalu tinggi namun mempengaruhi ketajaman pendengaran,tapi kebisingan dapat menghasilkan suatu sindrom yang disebut kelebihan beban sensorik (sensory overload). Kelebihan beban sensorik ditandai dengan peningkatan intensitas auditori dan stimulus visual. Kelebihan beban sensorik akan mengganggu  proses informasi dank lien tidak lagi merasakan lingkungan yang berarti lagi  baginya.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa aman 1. Usia dan Perkembangan

Individu belajar melindungi diri mereka sendiri dan berbagai cedera melalui   pengetahuan dan pengkajian yang akurat terhadap lingkungan.Kemungkinan  bahaya tertentu yang dapat terjadi pada kelompok usia tertentu.

2. Gaya Hidup

Faktor gaya hidup yang membuat individu beresiko terhadap cedera adalah lingkungan kerja yang tidak aman,tinggal di lingkungan rawan kejahatan,kemudahan untuk mendapatkan obat terlarang dan lain-lain.

3. Mobilitas dan status Kesehatan

Individu yang mengalami hambatan mobilitas akibat paralisis,kelemahan otot dan keseimbangan atau koordinasi yang buruk sangat rentan terhadap cedera.

4. Perubahan Sensori Persepsi

Persepsi sensori yang akurat terhadap keamanan. Individu yang menglami gangguan persepsi peraba,pendengaran,perasa,pencium,dan penglihat sangat rentan terhadap cedera. Individu yang tidak melihat dengan baik akan terpleset mainan atau tidak melihat kabel listrik.individu yang tuli mungkin tidak  mendengar klakson di jalan,dan individu yang mengalami gangguan indra  pencium mungkin tidak mencium bau masakan yang gosong atau aroma belerang

5. Kesadaran Kognitif  

Kesadaran merupakan kemampuan untuk merasakan stimulus lingkungan dan reaksi tubuh serta untuk berespon secara tepat lewat proses pikir dan tindakan.Klien yang mengalami gangguan kesadaran meliputi individu yang kurang tidur,individu tak sadar,atau semi tak sadar,individu yang disorientasi(individu yang tidak tahu dimana mereka berada atau apa yang harus mereka lakukan untuk menolong diri mereka sendiri),individu yang tidak  merasakan stimulus dan individu yang mengalami hambatan penilaian akibat   proses penyakit atau pengobatan seperti narkotik obat penenang,hipnotik dan

sedatif.

6. Status Emosi

Status emosi yang ekstrim dapat mengganggu kemampuan untuk merasakan   bahaya yang terdapat dalam lingkungan situasi yang penuh tekanan dapat menurunkan tingkat konsentrasi individu,menyebabkan kesalahan penilaian dan  penurunan dan kesadaran terhadap stimulus eksternal. Individu yang mengalami depresi dapat berfikir dan bereaksi terhadap stimulus lingkungan lebih lambat daripada biasanya.

7. Kemampuan komunikasi

Individu yang memiliki hambatan kemampuan untuk menerima dan menyampaikan informasi termasuk klien afasia,individu dengan hambatan bahasa. Dan mereka yang tidak dapat membaca juga beresiko terhadap cedera.

8. Kesadaran terhadap keamanan

Klien yang berada di lingkungan asing sering kali membutuhkan informasi keamanan yang spesifik.

9. Faktor lingkungan

Pada lingkungan dimanapun kita berada termasuk rumah,tempat kerja,sekolah,jalan harus mencakup faktor pendukung keamanan sehingga tidak  menimbulkan bahaya atau cedera fisik.

II. Asuhan Keperawatan Memenuhi Rasa Aman A. Pengkajian

Perawat memberikan perawatan kepada klien dan keluarga di dalam komunitas mereka dan tempat pelayanan kesehatan. Untuk memastikan lingkungan yang aman,   perawat perlu memahami hal-hal yang member kontribusi keamanan rumah,

komunitas, atau lingkungan pelayanan kesehatan, dan kemudian mengkaji berbagai ancaman terhadap keamanan klien dan lingkungan. Pengkajian yang dilakukan pada klien antara lain pengkajian terhadap riwayat dan pemeriksaan fisik. Pengkajian terhadap lingkungan, termasuk rumah klien dan tempat pelayanan kesehatan, mencakup inspeksi pada fasilitas tersebut. Bagian pengkajian berikut ini mendiskusikan berbagai factor risiko yang dihadapi dalam komunitas dan lembaga  pelayanan kesehatan.Komitas factor resiko terdiri :

1. Risiko pada Tahap Perkembangan. Ancaman keamanan dalam komunitas dipengaruhi oleh tahap perkembangan,gaya hidup, status mobilisasi, perubahan sensorik, dan kesadaran klien terhadap keamanan.

2. Bayi, Todler, dan Prasekolah. Cedera merupakan penyebab terbesar kematian anak-anak yang berusia lebih dari 1 tahun dan penyebab kematian dan kecacatan yang lebih besar daripada akibat penyakit lain. Sifat cedera yang dialami  berhubungan erat dengan perilaku pertumbuhan dan perkembangan yang nrmal. Contohnya, bahaya keracunan, biasanya disebabkan oleh ingesti kepingan cat yang mengandung logam, merupakan peristiwa terbanyak yang terjadi pada masa   bayi akhir dan masa toddler karena meningkatnya tingkat aktivitas oral dan

kemampuan mengeksplorasi lingkungan ( Wong, 1995).

3. Anak Usia Sekolah. Cedera akibat bersepeda merupsksn penyebab kematian dan kecacatan yang utama pada anak-anak, yang setiap tahunnya lebih dari 600 kematian dan ribuan anak dibawa ke ruang gawat darurat ( Child Health Alert, 1993 ).

4. Remaja. Cedera yang disebabkan kecelakaan merupakan penyebab kematian yang terbesar pada remaja, dan sekitar 40% dari cidera tersebut disebakan karena   penggunaan alcohol. Alkohol juga mempunyai presentasi yang berarti sebagai   penyebab remaja melakukan pembunuhan dan bunuh diri ( U.S Public Health

Untuk mengkaji klien secara menyeluruh, pertimbangkan semua kemungkinan ancaman keselamatan termasuk lingkungan klien dan juga factor risiko individual. Ajukan pertanyaan spesifik terkait dengan keselamatan .

1. Anamnesis Keperawatan.

Anamnesis ini mencakup data tentang kesejahteraan klien untuk  menentukan adanya kondisi yang mengancam keselamatan. Contohnya,  perhatikan gaya berjalan klien, kekuatan dan koordinasi otot, keseimbangan dan  penglihatan. Pertimbangkan untuk mengkaji status perkembangan klien saat Anda menganalisis informasi pengkajian. Juga tinjau apakah klien sedang mengkonsumsi obat atau menjalani prosedur yang beresiko. Contohnya, diuretic meningkatkan frekuensi berkemih sehingga klien harus lebih sering menggunakan toilet. Kecelakaan jatuh sering terjadi pada klien yang sering bangkit dari tempat tidur dengan terburu – buru karena merasa perlu segera berkemih.

2. Lingkungan rumah klien.

Dirumah, dibutuhkan pengkajian bahaya rumah. Jelajahi rumah bersama klien dan diskusikan bagaimana klien biasanya melakukan aktivitas harian. Area yang harus diperiksa adalah kamar mandi, dapur, dan sekitar tangga. Contohnya, saat mengkajikecukupan pencahayaan, lakukan inspeksi area dimana klien  bergerak dan bekerja, seperti jalan depan rumah, tangga, koridor, dan ruangan di dekat pintu. Mengenali rutinitas klien akan membantu Anda mengenali bahaya yang tersembunyi.

Pengkajian untuk risiko infeksi/keracunan makanan mencakup pengkajian diet selama minggu tersebut; pemeriksaan system gastrointestinal dan saraf pusat; memeriksa adanya demam; dan menganalisis hasil kultur feses dan muntah. Inspeksilah makanan dan minuman yang dicurigai dan periksa praktik cuci tangan yang dilakukan klien. Perawat harus menanyakan klien jadwalrutin klien mencuci. Ini akan memicu diskusi yang berguna tentang tujuan dan kepentingan cuci tangan.

Pengkajian kenyamanan lingkungan mencakup jadwal pemeliharaan system pemanas dan pendingin dirumah klien. Apakah pembakar dan pemanas

dirumah klien berfungsi? Apakah rumah tersebut memiliki pendingin udara atau kipas angin? Anda harus menginformasikan klien yang menggunakan pemanas tentang risiko kebakaran.

Jika klien menghuni rumah lama, minta klien untuk memeriksa adanya timbale pada bahan cat, debu, atau tanah. Timbale juga dapat berasal dari alat solder atau system saluran air dirumah sehingga mereka harus memeriksa air dari tiap kran. Kantor kesehatan setempat dapat membantu pemilik rumah mencari  pemeriksa timbale terlatih yang mengambil sample dan menganalisis kandungan

timbale dilaboratorium.

3. Lingkungan pelayanan kesehatan.

Disini, anda harus menentukan keberadaan ancaman dilingkungan sekitar. Apakah lokasi perlengkapan atau perabot membatasi usaha ambulasi klien? Apakah posisi klien memungkinkan ia menjangkau benda dimeja smaping tempat tidur? Apakah klien membutuhkan bantuan ambulasi? Perawat juga bekerja sama dengan staf teknik klinis untuk memastikan peralatan telah diperiksa untuk  menjamin fungsi dan kondisi yang normal.

4. Risiko jatuh.

Pengkajian risiko jatuh sangat penting untuk menentukan kebutuhan spesifik dan menyusun intervensi pencegahan. Perawat memulai dengan bertanya adanya riwayat jatuh. Alat pengkajian kedelakaan jatuh membantu mendeteksi risiko  potensial sebelum kecelakaan dan cedera terjadi (farmer 2000). Alat ini menaruh nilai untuk tiap factor risiko. Pengkajian awal dan harian untuk risiko jatuh sangat  penting untuk identifikasi klien yang berisiko jatuh. Pada banyak kasus, keluarga merupakansumber penting dalam mengkaji risiko jatuh. Keluarga mampu melaporkan tingkat kebingungan dan kemampuan ambulasi klien.

5. Risiko kesalahan medis.

Waspadalah terhadap factor lingkungan Anda dimana kesalahn medis lebih mungkin terjadi. Beban kerja dan kelelahan yang berlebihan menyebabkan   penurunan kewaspadaan dan konsentrasi sehingga menyebabkan kesalahan

(Trinkoff et al., 2006). Waspadailah factor tersebut dan berhati – hatilah saat  bekerja dibawah kondisi penuh tekanan. Contohnya, untuk mengurangi potensi

kesalahan medis, perawat harus memeriksa gelang identifikasi klien sebelum memulai prosedur apapun.

6. Serangan bioteroris.

Ancaman ini sangat nyata walaupun masalah terbatas pada kematian akibat antraks setelah peristiwa 11 september 2001. Bersiaplah untuk melakukan   pengkajian akurat dan tepat waktu pada berbagai tatanan lingkungan. Jika

serangan terjadi, kemungkinan besar ada keterlibatan agen biologis seperti antraks, botulisme, cacar, atau wabah bubo. Serangan bioteroris tampak sebagai wabah alami pada awalnya, tetapi Anda harus mengenali bahwa mikroorganisme telah ditingkatkan virulensinya dan mungkin resisten terhadap antibiotic atau vaksin (Jones et al., 2002). Serangan biologis dapat bersifat terbuka (diumumkan) atau tersembunyi. Serangan terbuka membutuhkan pengkajian cepat dari kejadian sebenarnya dan diikuti oleh respons yang tepat. Serangan tersembunyi menjadi   jelas setelah korban mencari pertolongan medis, setelah waktu inkubasi telah lewat, dan tanda klinis mulai muncul (Jones et al., 2002). Pada kasus ini, perawat harus mengenali dan mengetahui sindrom yang berisiko tinggi. Klien dengan  penyakit akut yang menandakan kasus awal setelah serangan tersembunyi akan mencari pertolongan di unit gawat darurat. Klien dengan gejala yang lebih ringan akan mencari pertolongan ke pelayanan primer.

7. Harapan klien.

Umumnya klien merasa aman dirumah dan fasilitas kesehatan, tetapi harapan ini terkadang tidak sesuai dengan perawat. Oleh karena itu, setiap pengkajian harus menyertakan pemahaman klien tentang persepsinya mengenai factor risiko. Perawat harus mengubah lingkungan klien. Klien biasanya tidak akan menempatkan dirinya dalam bahaya secara sengaja. Jika klien tidak  diinformasikan atau belum berpengalaman, ancaman keselamatan dapat terjadi. Anda harus selalu mengonsultasikan cara untuk mengurangi ancaman di lingkungan klien.

Setelah melengkapi pengkajian status keselamatan klien, tinjau kelompok data untuk  menentukan apakah terdapat pola yang menggambarkan adanya ancaman keselamata. Identifikasi karakteristik penentu dari data akan membantu Anda menegakkan diagnosis. Proses diagnostic membutuhkan pengenalan akurat dari karakteristik penentu dan juga factor yang terkait.

Factor terkait akan menjadi dasar terapi keperawatan. Contohnya, risiko cedera berhubungan dengan gangguan mobilitas dan risiko cedera berhubungan dengan   gangguan dilingkunag rumah membutuhkan intervensi yang berbeda. Klien dengan

gangguan mobilitas membutuhkan bantuan ambulasi dan terapi fisik. Klien dengan gangguan lingkungan rumah membutuhkan perubahan lingkungannya agar menjadi lebih aman. Terkadang dapat diterapkan factor terkait yang multiple. Contoh diagnosis keperawatan yang dapat diterapkan pada klien dengan ancaman keselamatan adalah sebagai berikut :

Risiko gangguan keseimbangan suhu tubuh

Gangguan pemeliharaan rumah

Risiko cedera

Deficit pengetahuan

Risiko keracunan

Gangguan persepsi sensorik 

Risiko sesak napas

Gengguan proses piker 

Risiko trauma

Contoh Diagnosa dn Intervensi

Resiko cedera yang berhubungan dengan dengan percahayaan yang buruk dan lingkungan rumah yang kacau

Definisi: resiko cedera adalah keadaan individu berisiko mengalami cedera karena interaksi kondisi lingkungan dengan adaptasi dan sumber pertahanan individu (kim, 1995)

Tujuan Hal yang

Klien akan mempunyai lingkungan yang aman dalam 6  bulan 1. Pada akhir  sesi  pengajaran yang ketiga, klien akan membuat daftar   bahaya yang ada dalam rumah. 2. Setelah 3  bulan, klien akan memodifikas i 50%  bahaya yang ada. 3. Setelah 6  bulan klien memodifikas i 100%  bahaya yang ada . 1. Berikan sesi  pengajaran ketiga selama 20 menit tentang mengidentifikasi dan menghindari  bahaya atau jatuh

dan cedera , dan meningkatkan keamanan. 2. Minta klien melengkapi daftar keamanan di rumah untuk  mengidentifikasi adanya potensi resiko terhadap keamanan . 3. Amankan  pegangan pada  bak mandi dan

air pancuran . 4. Tempatkan sedikit nya lampu sebesar 75 watt pada ruangan. 1. Konseling dan  pengajaran meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya (law, 1993). 2. Pemeriksaan yang menyeluruh terhadap potensial terjadi nya  bahaya dapat miningkatkan  pengetahuan  pencegahan resiko (loew, 1993). 3. Pegangan dan  permukaan yang tidak licin mengurangi resiko jatuh (Ebersole and hess, 1994). 4. Percahayaan yang baik akan

Dalam dokumen Rasa Aman Dan Nyaman (Halaman 23-42)

Dokumen terkait