• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan dengan Metode Membran Filter

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN AKHIR RISBINKES (Halaman 36-47)

HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Wilayah

3. Pemeriksaan dengan Metode Membran Filter

Survei darah filariasis menggunakan metode membran filter telah dilakukan terhadap penduduk terpilih di empat desa, yaitu Desa Cupat, Teluk Limau, Puput dan Tuik. Proporsi jumlah responden yang diperiksa untuk masing-masing desa diambil berdasarkan jumlah kasus yang ada di setiap desa tersebut, sehingga didapatkan jumlah seluruh penduduk yang diperiksa sebanyak 150 orang. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan tiga orang positif mikrofilaria di Desa Tuik, sedangkan responden di Desa Teluk Limau, Cupat dan Puput tidak ditemukan mikrofilaria. Hasil pemeriksaan darah telah dilakukan crosscheck antara petugas Loka Litbang P2B2 Baturaja dengan Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar.

Hasil survei darah di Desa Tuik menunjukkan proporsi kejadian filariasis di desa tersebut sebesar 3,6 persen, sedangkan proporsi kejadian filariasis di empat desa penelitian adalah 2 persen. Jenis cacing yang berhasil ditemukan dalam penelitian ini adalah Brugia malayi yang ditandai dengan adanya sarung berwarna merah muda serta perbandingan lebar dan panjang ruang kepala adalah 1:2.

20

Kepadatan mikrofilaria dari tiga responden yang positif mikrofilaria adalah 116, 245, dan 112 per 1 ml darah.

Jumlah positif mikrofilaria paling banyak dijumpai pada responden yang belum pernah minum obat pencegahan filariasis. Responden dengan mikrofilaria teridentifikasi pada golongan umur 50 tahun ke atas, dimana dua dari tiga respondennya adalah perempuan. Salah satu responden mengalami riwayat demam berulang pada satu bulan terakhir.

Hasil pemeriksaan darah menggunakan metode membran filter dan karakterisasi responden dengan mikrofilaria dapat dilihat pada tabel 2 dan 3.

Tabel 3 Hasil pemeriksaan darah menggunakan metode membran filter Kecamatan Desa Jumlah

Sampel

Positif Mf

Proporsi Kejadian Filariasis

Kelapa Tuik 83 3 3,6%

Puput Teluk Limau Cupat Puput

17 33 17

0 0 0

0%

0%

0%

Jumlah 150 3 2%

21 Tabel 4 Karakterisasi responden berdasarkan hasil pemeriksaan darah

No Id

Subyek

Umur/Jenis Kelamin

Pendidikan Pekerjaan Alamat Riwayat

Demam

22

4.3. Karakteristik, Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat tentang Filariasis 1. Karakteristik Responden

Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 150 orang terdiri dari 17 responden berasal dari Desa Teluk Limau, 33 responden dari Desa Cupat, 17 responden dari Desa Puput dan 83 responden dari Desa Tuik. Berdasarkan kelompok umur, populasi yang paling tinggi adalah umur 50 tahun ke atas (34,7%).

Petani merupakan pekerjaan yang ditekuni oleh mayoritas masyarakat setempat.

Sebanyak 150 responden yang berhasil diwawancarai , 44 persen diantaranya merupakan petani karet maupun sahang, sisanya bekerja sebagai nelayan, PNS, wiraswasta, honor dan buruh. Sebagian besar responden yang diwawancarai berpendidikan tamatan SD (49,3%), sedangkan yang mempunyai pendidikan tinggi (lulusan perguruan tinggi) hanya sebesar 0,7 persen (Tabel 5).

Tabel 5 Sosiodemografi karakteristik responden

Variabel Sampel (N=150) Persen (%) Jenis Kelamin

Hasil wawancara dengan responden didapatkan bahwa sebagian besar adalah penduduk asli yang telah tinggal selama lebih dari 10 tahun (92,7%), sedangkan 2,7 persennya adalah penduduk yang sebelumnya berasal dari Belitang, Bengkulu, Jebus dan

23

Parit Tiga. Suatu keluarga di desa tersebut memiliki jumlah anggota keluarga kurang dari lima orang dengan rata-rata jumlah anggota keluarga dalam satu rumah adalah 4 orang.

Sebanyak 10,7 persen responden mempunyai riwayat demam berulang dalam satu bulan terakhir yang merupakan gejala awal adanya infeksi mikrofilaria dalam darah. Tujuh (4,7%) responden menyatakan pernah mendapatkan pemeriksaan darah jari oleh petugas kesehatan untuk mengetahui adanya cacing mikrofilaria (Tabel 4).

Tabel 6 Distribusi jumlah sampel menurut jumlah ART, lama tinggal, status Variabel Sampel (N = 150) Persen (%) Jumlah Anggota Rumah Tangga

< 5

Riwayat Pemeriksaan Darah Jari Ya 2. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Responden tentang Filariasis

a. Pengetahuan responden

Jumlah responden yang mengetahui tentang penyebab filariasis sebesar 2,7 persen, sedangkan sebagian besar responden (72%) tidak mengetahui mengenai penyebab filariasis. Sebanyak 4,7 persen responden dapat memberikan jawaban mengenai gejala awal dari filariasis yaitu adanya demam berulang, sedangkan 13,3 persen responden menyatakan gejala adanya perbesaran tubuh pada bagian kaki dan tangan.

Cara penularan filariasis melalui gigitan nyamuk hanya diketahui oleh 35,3 persen dari seluruh responden. Penyebab penularan filariasis lainnya menurut anggapan responden adalah melalui bersentuhan dan makan makanan penderita.

Sebanyak 11,3 persen responden menyatakan akibat yang ditimbulkan apabila seseorang terkena filariasis adalah cacat seumur hidup. Hasil wawancara menunjukkan pengetahuan responden terkait dengan upaya pencegahan terhadap

24

filariasis dengan minum obat pencegahan filariasis sebesar 20 persen, sedangkan pengetahuan pencegahan lainnya merupakan perlindungan terhadap gigitan nyamuk melalui penggunaan kelambu (2%), obat antinyamuk (4,7%) dan penggunaan kain kassa (0,7%) (Tabel 7).

Tabel 7 Pengetahuan Responden Mengenai Filariasis

Variabel Sampel

Tergantung kepada orang lain Meninggal

Minum obat pencegahan filariasis Tidak Tahu

Hasil wawancara dan analisa data diketahui bahwa pengetahuan responden tentang filariasis kurang baik (96%). Hanya 4 persen responden yang mengetahui penyebab, gejala, cara penularan, akibat yang ditimbulkan dan cara pencegahan.

Status pengetahuan responden terhadap filariasis dapat dilihat pada grafik 1.

25

Gambar 1 Grafik pengetahuan responden tentang filariasis b. Sikap responden

Sikap responden dalam upaya pencegahan dan pemberantasan filariasis termasuk dalam kategori baik. Hal ini terlihat dari tingginya persentase responden yang menyetujui untuk melakukan upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan filariasis. Hampir seluruh responden setuju untuk minum obat pencegahan (99,3%), melakukan pemeriksaan darah sebesar 98 persen, memanfaatkan rawa menjadi lahan produktif sebanyak 93,3 persen serta menghindari gigitan nyamuk (92,7%)

Gambar 2 Grafik sikap responden terhadap upaya pencegahan dan

Baik Kurang baik Penyebab Gejala Cara

penularan

26 c. Perilaku responden

Proporsi responden yang sudah pernah mendapatkan pengobatan pencegahan filariasis sebesar 70 persen, dimana 66 persen dari responden tersebut bersedia minum obat tersebut. Sedangkan 4 persen responden menolak minum karena alasan hamil (33,3%), efek samping pusing dari obat (16,7) dan merasa sehat sehingga tidak perlu minum obat (50%). Meskipun 66 persen responden sudah pernah mimun obat pencegahan filariasis, namun hanya 2 persen responden yang minum obat pencegahan sebanyak lima kali (Grafik 3).

Gambar 3 Grafik Kepatuhan responden minum obat pencegahan filariasis

Hasil wawancara terhadap responden menunjukkan bahwa 73,3 persen responden menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari. Selain itu, reponden juga menggunakan obat antinyamuk sebagai upaya perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk (65,3%). Aktifitas keluar rumah pada malam hari dilakukan oleh sebagian masyarakat (78,7%). Hal ini akan menyebabkan seseorang lebih mudah untuk tergigit nyamuk.

Tabel 8 Proporsi perilaku perlindungan diri responden terhadap gigitan nyamuk dan perilaku keluar rumah pada malam hari

Variabel Sampel Jumlah Persen (%)

Perilaku keluar malam Ya

27

Lingkungan mempunyai pengaruh terhadap distribusi filariasis dan mata rantai penularannya. Sebanyak 23,2 persen responden menyatakan bahwa di sekitar rumahnya terdapat rawa. Keberadaan rawa merupakan tempat potensial yang erat kaitannya dengan kehidupan vektor. Lima puluh (33,3%) responden tinggal berdekatan dengan penderita filariasis. Rumah responden yang jaraknya ≤ 500 m dengan rumah penderita sebesar 29,3 persen. Keberadaan hewan reservoir seperti kucing dan kera di sekitar rumah responden sebesar 40,7 persen. Kucing dan kera mempunyai peran sebagai sumber penularan filariasis, terutama untuk cacing Brugia malayi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 2 persen responden disekitar rumahnya terdapat hewan ternak besar seperti sapi dan kambing. Hewan ternak dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk ke manusia (cattle barrier).

Tabel 9 Lingkungan Responden Mengenai Filariasis

Variabel Sampel Jumlah Persen (%)

Keberadaan rawa di sekitar rumah Ya

Tidak

Keberadaan penderita filariasis disekitar rumah Ada

Tidak

Jarak rumah responden dengan rumah penderita

≤ 500 m Pengetahuan responden di Desa Tuik dan responden positif mikrofilaria menunjukkan hasil belum mengetahui mengenai penyebab, gejala, dan cara penularan filariasis. Perilaku untuk menghindari gigitan nyamuk dilakukan dengan menggunakan kelambu dan obat antinyamuk. Akan tetapi, ketiga responden positif mikrofilaria mempunyai kebiasan keluar malam hari. Faktor lingkungan yang dapat berpotensi sebagai sumber penularan filariasis adalah keberadaan hewan reservoir seperti kucing di sekitar rumah.

28

Tabel 10 Karakteristik penderita berdasarkan pengetahuan, sikap, perilaku dan lingkungan Minum obat pencegahan filariasis

Keberadaan penderita di sekitar rumah

Jarak rumah responden dengan rumah penderita

Keberadaan hewan reservoir Keberadaan hewan ternak besar

73,3

29 BAB V PEMBAHASAN

A. Karakteristik Subyek Penelitian 1. Umur dan Jenis Kelamin

Berdasarkan kelompok umur, proporsi responden yang positif mikrofilaria ditemukan pada kelompok umur >50 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian Santoso yang menunjukkan proporsi kelompok umur yang paling banyak positif mikrofilaria adalah diatas 55 tahun. Risiko tertular filariasis pada usia diatas 50 tahun ke atas berkaitan dengan lamanya seseorang tersebut tinggal di daerah endemis, sehingga potensi untuk mendapatkan gigitan nyamuk vektor filariasis semakin besar. Penelitian di Sulawesi Tengah yang dilakukan Garjito dkk mengemukakan tidak ada hubungan antara umur dengan infeksi filaria (r= -0,094; p

= 0,214). Dalam hal ini semua golongan umur mempunyai kesempatan yang sama untuk terinfeksi filariasis.

Penularan filariasis dapat terjadi pada siapa saja tidak tergantung pada umur maupun jenis kelamin, tetapi terjadi karena adanya kontak dengan vektor filariasis (nyamuk) atau tidak. Hasil penelitian menunjukkan 2 dari 3 responden dengan mikrofilaremia adalah perempuan. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat bahwa jenis kelamin laki-laki lebih berisiko terinfeksi filariasis dibanding wanita.13 Hasil serupa yang dilakukan di Muaro Jambi juga menunjukkan bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki memiliki risiko 6,179 kali terkena filariasis dibandingkan dengan responden perempuan.10

Risiko penularan filariasis yang terjadi pada responden positif mikrofilaria lebih berhubungan dengan aktivitas keluar malam hari untuk mencari hiburan dengan menonton televisi di rumah tetangga tanpa menggunakan perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk. Pencegahan kontak dengan nyamuk dapat dilakukan dengan pemakaian lotion antinyamuk ataupun menggunakan pakaian panjang pada saat melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari.

30 2. Pendidikan dan Pekerjakan

Tingkat pendidikan responden di wilayah penelitian masih rendah, dapat dilihat dari hasil menunjukkan lebih dari 50% responden berpendidikan SD ke bawah. Responden positif mikrofilaria memiliki tingkat pendidikan SD dan tidak tamat SD. Penelitian Santoso10 menyatakan bahwa pendidikan rendah memiliki risiko 9 kali terkena filariasis dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan berhubungan dengan pengetahuan seseorang. Penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi relatif lebih mudah menerima informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan sehingga cenderung berperilaku lebih positif terhadap pencegahan suatu penyakit. Hasil berbeda dilaporkan dalam penelitian Nazeh et al14 di Malaysia didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian filariasis.

Jenis pekerjaan sebagian besar responden adalah petani termasuk responden positif mikrofilaria. Penelitian yang dilakukan Nasrin15 di Kabupaten Bangka Barat menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jenis pekerjaan dengan kejadian filariasis (p=0,025; OR = 3,695). Orang yang memiliki pekerjaan berisiko seperti petani karet akan berpeluang untuk terinfeksi filariasis. Kebiasaan penduduk sebagai petani karet yang berangkat ke kebun pada pagi hari dan pulang pada sore hari meningkatkan risiko untuk kontak dengan nyamuk vektor filariasis, didukung juga dengan kebiasaan bermalam di kebun. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengurangi kontak dengan nyamuk vektor filariasis saat melakukan aktivitas di kebun adalah menggunakan pakaian panjang atau obat lotion antinyamuk.

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN AKHIR RISBINKES (Halaman 36-47)

Dokumen terkait