Pemeriksaan penunjang menurut Sinclair (2010) a. Lakukan pemeriksaan HCG serial setiap 2-3 hari
b. Pemeriksaan Doppler atau USG, untuk menentukan apakah janin masih hidup
c. Kunjungan klinik mingguan (kunjungan ulang)
7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan umum Abortus incomplete
1) Menentukan besar uterus (taksiran usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikas.
2) Hasil konsepsi yang telah tertangkap pada servik yang disertai perdarahan hingga ukuran sedang. Setelah itu evaluasi perdarahan
a) Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 gr per oral.
b) Bila perdarahan terus berlangsung, evaluasi hasil konsepsi dengan ANM atau D&K tergantung dari usia gestasi, pembukaan servik dan keberadaan bagian-bagian janin. c) Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, beri anti biotik
profilaksis (ampisiilin 500gr oral atau disisiklin 100 gr). d) Bila terjadi infeksi beri ampisilin 1 gram dan
e) Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu segera lakukan evkuasi dengan AVM.
f) Bila pasien tanpak anemik, berikan sulfas ferosus 600 mg per hari selama 2 minggu pada anemia sedang atau transfuse darah pada anemia berat (Prawirohardjo, 2008) Untuk kasus Abortus incomplete erat kaitannya dengan abortus tidak aman, oleh karena itu perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Pastikan tidak ada komplikasi berat seperti sepsis, perforasi uterus dan cidera intra abdomen (mual muntah, nyeri pinggang, demam, perut kembung, nyeri perut bawah, dinding perut tegang).
2) Bersihkan ramuan tradisional, jamu, kayu atau benda-benda lainnya dari region genetalia.
3) Berikan boster tetanus toksoid 0,5 ml bila tampak luka kotor pada dinding vagina atau kanalis servisis dan pasien pernah diimunisasi.
4) Bila riwayat pemberian imunisasi tidak jelas berikan Anti Tetanus Serum (ATS) 1500 unit IM dengan pemberian tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu
5) Konseling untuk kontrasepsi pasca keguguran dan pemantauan lanjut (Prawirohardjo, 2008).
b. Penatalaksanaan Keperawatan 1) Pathway keperawatan
1. Faktor janin 1. Kelainan plasenta 1. Trauma
2. Faktor ibu 2. Gamet yang menua 2. Faktor lingkungan 3. Faktor hematologik
5
Sumber : (Nanda,2013)
Post Anestesi Jaringan terputus Kurang pengetahuan
Ansietas Penurunan syaraf
oblongata
Nyeri Invasi bakteri
Penurunan syaraf vegetafif
Intoleransi aktivitas
Gangguan pemenuhan ADL Peristatk menurun Penyerapan cairan dikolon Nyeri abdomen Gangguan rasa Perdarahan Resiko syok (hipovelemik) Gangguan eliminasi (konstipasi) Kekurangan volume cairan Resiko infeksi Resiko syok
Abortus (mati janin ,16-28mnggu/BB ,400-1000 gr)
Abortus inkomplit
2) Fokus intervensi keperawatan a) Ansietas
Intervensi :
Anxiety reduction (penurunan kecemasan)
- Gunakan pendekatan yang menenangkan
- Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien - Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
prosedur
- Pahami prespektif pasien terhadap situasi stress - Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
mengurangi takut
- Dengarkan dengan penuh perhatian - Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
- Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
- Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi - Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
b) Nyeri Intervensi :
Pain management
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk likasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
- Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
- Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
- Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri - Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
- Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan control nyeri masa lampau
- Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
- Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Pilih dan lakukan penanganan nyari (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi - Ajarkan tentang teknik non farmakologi
- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri - Evaluasi keefektifan control nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
- Monitor penerimaan pesien tentang managemen nyeri c) Intoleransi aktivitas
Intervensi : Activity Therapy
- Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi Medik dalam merencanakan program terapi yang tepat.
- Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan.
- Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
- Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
- Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
- Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai - Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
- Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
- Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas - Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan
penguatan
- Monitor respon fisik, emosi, sosisal dan spiritual. d) Gangguan rasa nyaman
Intervensi :
Anxiety reduction (penurunan kecemasan)
- Gunakan pendekatan yang menenangkan
- Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien - Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
prosedur
- Pahami prespektif pasien terhadap situasi stress - Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
mengurangi takut
- Dengarkan dengan penuh perhatian - Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
- Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
- Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi - Berikan obat untuk mengurangi kecemasan e) Gangguan eliminasi (konstipasi)
Intervensi :
Constipation/ impaction management :
- Monitor tanda dan gejala konstipasi - Monitor bising usus
- Monitor feses: frekuensi, konsistensi, dan volume - Konsultasi dengan dokter tentang penurunan dan
peningkatan bising usus
- Monitor tanda dan gejala ruptur usus/peritonitis
- Jelaskan etiologi dan rasionalisasi tindakan terhadap pasien - Identifikasi faktor penyebab dan kontribusi konstipasi - Dukung, intake cairan
- Kolaborasikan pemberian laksatif - Pantau tanda dan gejala konstipasi - Pantau tandan dan gejala impaksi
f) Resiko syok Intervensi : Syok Prevention :
- Monitor status sirkulasi BP, warna kulit, suhu kulit, denyut jantung, HR, dan ritme, nadi perifer, dan kapiler refill. - Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan.
- Monitor suhu dan pernafasan - Monitor input dan output
- Pantau nilai labor : HB, HT,AGD, dan elektrolit. - Monitor hemodinamik invasi yang sesuai
- Monitor tanda dan gejala asites - Monitor tanda awal syok
- Tmpatkan pasien pada posisi supine, kaki elevasi peningkatan preload dengan tepat.
- Lihat dan pelihara kepatenan jalan nafas - Berikan vasodilator yang tepat
- Ajarkan pasian dan keluarga tentang tanda dan gejala datangnya syok
g) Resiko infeksi Intervensi :
Infection Control (kontrol infeksi )
- Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. - Pertahankan teknik isolasi.
- Batasi pengunjung bila perlu.
- Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat. berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien. - Gunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan.
- Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. - Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
- Pertahankan lingkungan antiseptic selama pemasangan alat - Tingkatkan intake nutrisi.
- Berikan antibiotic bila perlu
- Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal - Monitor hitung granulosit, WBC
- Monitor kerentanan terhadap infeksi - Inspeksi kondisi lika/insisi bedah. - Dorong masukan nutrisi yang cukup.
h) Kekurangan volume cairan Intervensi :
Fluid Management
- Timbang popok/ pembalut jika diperlukan
- Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
- Monitor status hidrasi (kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan.
- Monitor vital sign
- Monitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kalori harian.
- Dorong masukan oral
- Berikan penggantian nesogratik sesuai output - Dorong keluarga untuk membantu pasien makan. - Atur kemungkinan tranfusi