• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan Penunjang

Dalam dokumen KEGAWATDARURATAN OBSTETRI (Halaman 86-95)

Bab 8 : Mola Hidatidosa

8.9. Pemeriksaan Penunjang

Darah lengkap dengan hitung platelet, blood urea nitrogen (BUN), kreatinin, dan fungsi hati. Golongan darah, fungsi tiroid diindikasikan.

Prothrombin time (PT), partial thromboplastin time (PTT), protrombin, fibrinogen diperiksa jika secara klinis diindikasikan.23 Kadar hCG yang tinggi (> 100.000 IU/L) biasanya dijumpai pada pasien dengan kehamilan mola komplit. Penilaian kadar hCG > 100.000 IU/L disertai dengan perdarahan pervaginam dan pembesaran uterus merupakan sugestif untuk diagnosis kehamilan mola komplit. Pada kehamilan mola parsial biasanya kurang berhubungan dengan peningkatan kadar hCG, biasanya <

100.000 IU/L. berdasarkan subunit hCG, kehamilan mola komplit memiliki kadar subunit beta hCG yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan mola parsial (24:1). Sedangkan, pada kehamilan mola parsial mempunyai kadar alfa hCG yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan mola komplit (0,85:0,17). Rata-rata persentasi rasio beta hCG terhadap alf hCG pada kehamilan mola komplit dan mola parsial adalah 20,9:2,4.12

2. Foto polos

Foto polos abdomen dapat dilakukan jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu. Pada kehamilan mola dapat dijumpai bayangan janin yang negatif. Pemeriksaan foto polos dada juga dilakukan untuk mengetahui adanya embolisasi paru.4

3. USG

Pencitraan sonografi merupakan andalan dalam mendiagnosis penyakit trofoblastik. USG merupakan teknik yang akurat dan sensitif untuk mendiagnosiss mola hidatidosa komplit. Kehamilan mola komplit dengan karakteristik pola vesikuler akibat pembengkakan pada seluruh korionik vili. Korionik vili pada trimester satu tampak kecil dan sedikit kavitasi.

Namun, secara umum pada kehamilan mola komplit menunjukkan massa uterin ekogenik dengan beberapa rongga kistik anekoik tetapi tanpa janin atau kantung amnion, tampilan ini sering disebut sebagai badai salju (snow storm) atau gambaran seperti sarang lebah (honey comb).

Tampilan USG pada kehamilan mola parsial berupa penebalan dan multikistik plasenta bersama dengan janin yang disertai retardasi pertumbuhan atau setidaknya jaringan janin. Walaupun beberapa karakteristik ini hanya dijumpai kurang dari setengah kejadian mola hidatidosa.1,4,10

Gambar 8.5. Sonografi pada Mola Hidatidosa Komplit. Karakteristik Tampilan

“snowstorm” dikarenakan massa ekogenik uterine yang banyak mengandung beberapa rongga kistik anekoik9

Gambar 8.6. Sonografi Mola Hidatidosa Parsial, Janin Terlihat Di Atas Plasenta Multikistik9

Gambar 8.7. USG Menunjukkan Kehamilan Ganda dengan Adanya Mola dan Janin6

4. CT dan MRI

Penggunaan CT dan MRI untuk diagnosis tidak dianjurkan.4

Diagnosis pasti mola hidatidosa didapati melalui pemeriksaan histopatologi dari hasil konsepsi.4

8.10. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan mola hidatidosa yaitu : 1. Perbaikan keadaan umum

Yang termasuk diantaranya misalnya pemberian transfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia dan menghilangkan atau mengurangi penyulit seperti preeklampsia atau tirotoksikosis.1

2. Pengeluaran jaringan mola, terdapat dua cara yaitu : a) Vakum kuretase

Setelah keadaan umum diperbaiki, dilakukan vakum kuretase tanpa pembiusan. Evakuasi mola dilakukan dengan vakum kuretase, terlepas dari seberapa besar ukuran uterus. Dilatasi serviks pada preoperasi dengan agen osmosis direkomendasikan jika serviks dilatasi minimal. Perdarahan yang hebat dapat terjadi selama operasi pada kasus kehamilan mola dibandingkan kehamilan nonmolar.

Sehingga pada mola yang besar, anestesia yang adekuat, akses intravena yang cukup, dan persiapan transfusi darah diperlukan.

Serviks dilatasi secara mekanik agar dapat memasukkan vakum kuretase dengan ukuran 10 mm sampai 14 mm. Ketika evakuasi dimulai, oksitosin diberikan untuk mengurangi perdarahan. USG selama operasi direkomendasikan untuk membantu dalam menentukan kavitas uterus telah dikosongkan. Ketika miometrium berkontraksi, dilakukan kuret secara menyeluruh dan hati-hati dengan alat kuret sharp large-loop Sims. Jika perdarahan terus berlangsung walaupun evakuasi uterus dan infus oksitosin, agen uterogenik dapat diberikan. Pada beberapa kasus embolisasi arteri pelvis atau histerektomi mungkin dibutuhkan. Tindakan kuretase cukup dilakukan 1 kali saja, asal bersih. Kuretase kedua hanya dilakukan bila ada indikasi.1,10

b) Histerektomi

Metode selain vakum kuretase mungkin dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu. Histerektomi dengan preservasi ovarium dapat dipertimbangkan pada wanita yang sudah pernah melahirkan. Alasan dilakukannya histerektomi ialah karena umur tua dan paritas tinggi merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya keganasan, batasan yang dipakai adalah umur 35 tahun dengan anak hidup tiga. Pada wanita usia 40 tahun atau lebih, sekitar sepertiganya berkembang menjadi PTG dan histerektomi dapat menurunkan angka kejadian PTG ini. Tidak jarang bahwa pada sediaan histerektomi bila dilakukan pemeriksaan histopatologik sudah tampak adanya tanda-tanda keganasan berupa mola invasif/koriokarsinoma.1,10

3. Pemeriksaan tindak lanjut

Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa. Untuk tidak mengacaukan pemeriksaan selama periode ini, pasien dianjurkan untuk tidak hamil dulu dengan menggunakan kondom, diafragma atau pantang berkala.1

Table 8.2 Follow-up Mola Hidatidosa12

Mola Hidatidosa Parsial Mola Hidatidosa Komplit Durasi kontrol

Profilaksis kemoterapi Tidak Tidak

Risiko penyakit kehamilan

kehamilan trofoblastik 0,5-2% 15-20%

ganas

8.11. Komplikasi

1. Komplikasi segera a) Perdarahan dan syok

Penyebab perdarahan antara lain akibat pemisahan vesikel dengan ikatannya pada desidua, perdarahan ini dapat tersembunyi atau tidak tersembunyi; perdarahan intraperitoneal yang masif akibat dari perforasi mola; dan perdarahan selama evakuasi mola akibat atonik uterus atau cedera uterus.4

b) Sepsis

Meningkatnya risiko sepsis disebabkan antara lain karena tidak adanya membrane pelindung sehingga organisme vagina dapat masuk ke dalam rongga rahim; adanya degenerasi vesikel, pengelupasan desidua dan darah yang lama merupakan tempat kesukaan bakteri untuk tumbuh; dan meningkatnya intervensi selama operasi.4

c) Perforasi uterus

Uterus mungkin terluka dikarenakan perforasi mola yang menyebabkan perdarahan intraperitoneal yang masif; selama evakuasi vagina terutama dengan metode konvensional atau selama kuretase vakum.4

d) Preeklampsia dengan kejang jarang ditemukan.4

e) Insufisiensi pulmonar akut diakibatkan embolisasi paru dari sel trofoblas dengan atau tanpa stroma vili. Gejala biasanya dimulai dalam waktu 4-6 jam setelah evakuasi.4

f) Kegagalan koagulasi dikarenakan embolisasi paru dari sel trofoblas menyebabkan deposisi fibrin dan trombosit.4

2. Komplikasi lanjut

Perkembangan mola hidatidosa menjadi koriokarsinoma berkisar antara

Risiko langsung dari perdarahan dan sepsis berkurang dengan nyata dikarenakan diagnosis dini, transfusi darah dan pengobatan. Sekitar 15-20%

kehamilan mola komplit menjadi penyakit kehamilan trofoblas persisten, dimana adanya plateu atau peningkatan kembali dari kadar hCG. Pada sekitar 5% kasus, berkembang menjadi metastasis. Risiko rekurensi mola hidatidosa di kehamilan selanjutnya sekitar 1-4%. Sebagian dari pasien mola akan segera sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan, tetapi ada sekelompok wanita yang menderita degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma yaitu sekitar 5,56%. Kejadian malformasi janin tidak meningkat setelah kemoterapi. Perbaikan dan prognosis jangka panjang dapat dikaitkan dengan faktor faktor berikut :1,4

a) Pengenalan faktor risiko tinggi yang terkait dengan koriokarsinoma4 b) Follow up kadar beta hCG4

c) Penggunaan obat sitotoksik pada saat optimal dan dalam kasus yang tepat4

Tabel 8.3. Perbedaan Abortus, KET, dan Mola Hidatidosa

Abortus KET Mola hidatidosa

Anamnesis Amenore

menonjol

2. Virk, Jasveer. 2007. Medical Abortion and the Risk of Subsequent Adverse Pregnancy Outcomes N Engl J Med 2007;357:648-53.

3. Prawirohardjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta:

Yayasan Bina Pustaka

4. Ramsey PS, Owen J. 2000. Midtrimester cervical ripening and labor induction. Clin Obstet Gynecol 43(3):495

5. Kelly H, Harvey D, Moll S. 2006. A cautionary tale.Fatal outcome of Methotrexate Therapy Given for Management of Ectopic Pregnancy.Obstet Gynecol 107:439.

6. Prawirohardjo S, 2011. Ilmu Bedah Kebidanan. PT Bina Pustaka, Jakarta;

474-487.

7. Wiknjosastro, Hanifa. 2000. Kehamilan Ektopik. Ilmu Bedah Kebidanan edisi pertama. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta..hal 198-210.

8. Barash JH, Buchanan EM, Hillson C, 2014. Diagnosis and Mnagement of Ectopic Pregnancy. American Academy of Family Physician. 90(1): 34-40 9. Sepilin VP, 2016. Ectopic Pregnancy. Medscape Reference.Available from:

www.medscape.com/article/2041923-overview

10. Berrocal L, Torino JR, Medrano S, Garcia D, Arcalis N, Conejero A, etc.

Invasive molar pregnancy and MRI: What every radiologist must know.

European Society of Radiology. pp.1-51.

11. Hadijanto B. Perdarahan pada kehamilan muda. Dalam: Prawirohadrjo S.

Ilmu Kebidanan, Edisi keempat, Cetakan ketiga, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2010. hlm.459-91.

12. Markusen TE, O’Quinn AG. Gestational Trophoblastic Diseases. In:

Decherney AH and Nathan L. Current Obstetric and Gynecologic:

Diagnosis and Treatment. Ninth Edition. USA: McGraw-Hill Company.

pp.947-49.

Dalam dokumen KEGAWATDARURATAN OBSTETRI (Halaman 86-95)