Jadi ada satu studi yang menyatakan begini, kurang lebih 0,2%
dari penduduk di negeri ini menguasai kurang lebih 56% aset nasional, tetapi ini tetap butuh verifikasi, tetapi indikasi, kita anggap saja sebagai indikasi. Dari studi lebih lanjut 62 sampai 87% tergantung lokasinya, tergantung wilayahnya. Konsentrasi aset ini dalam bentuk tanah. Ini bisa dalam bentuk perkebunan, tambak, properti, dan seterusnya. Intinya, jika kita bisa menata politik pertanahan di tanah air ini, maka pertanahan sebenarnya bisa berkontribusi antara 62 sampai 87% di dalam penataan kehidupan yang lebih berkeadilan di tanah air ini. Ini adalah suatu prinsip yang menurut pendapat kami sangat-sangat mendasar, belum lagi kalau kita lihat data-data semacam ini bahwa penguasaan tanah dari hari ke hari semakin terparsialisasi, semakin kecil, semakin kecil oleh karena hukum pewarisan dan sebagainya. Jadi komplikasinya memang kaitannya banyak, jadi tidak bisa berdiri sendiri.
Yang ketiga, atau prinsip yang ketiga adalah pertanahan harus punya kontribusi yang nyata untuk mewujudkan keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan Indonesia. Di dalam konteks sustainability—keberlanjutan, hal ini bisa terjamin jika dan hanya jika, keberagaman terjaga, akses rakyat, masyarakat terjaga, tapi yang lebih penting dari itu adalah kesempatan bagi anak cucu kita besok lebih baik secara sah, lebih luas daripada kita hari ini. Di dalam konteks pertanahan ada dua hal yang sangat mendasar yang menurut pendapat saya sangat penting untuk dibangun konsensus baru di negeri ini, yaitu yang pertama mulai ada degradasi di dalam pemikiran kita untuk tidak membedakan antara suatu keputusan negara dengan persoalan-persoalan pelayanan, yang menurut berbagai tataran ini tidak bisa disamakan. Yang kami maksudkan di sini adalah sebagai contoh mengenai batas waktu pemberian hak.
Undang-Undang Pokok Agraria sebagai contoh memberikan untuk HGU 35 tahun dan bisa diperpanjang 25 tahun, kalaupun kita jumlahkan itu 60 tahun. 60 tahun itu adalah kisaran dua sampai dua setengah generasi. Apapun yang diputuskan oleh negara ini boleh, sejauh ini dibangun melalui konsensus bersama yang dituangkan secara hukum.
Pertanyaannya kemudian, ini didekritir dalam konteks pelayanan, kenapa kita tidak bisa memberikan hak langsung 90 tahun? 95 tahun dan
sebagainya? Pertanyaannya adalah apakah betul negara di dalam mengelola sumber dayanya, mengelola tanah yang vital bagi NKRI ini mengikuti sistem itu atau sistem yang lain? Apapun kalau bagi kami itu harus bangun konsensus politik yang tertuang di dalam hukum kita, itu yang pertama.
Jadi ini menjadi hal yang menurut pendapat saya layak dibangun konsensus-konsensus baru. Yang kedua, mengenai luasan. Berapa banyak luasan seseorang itu boleh memiliki? Kita punya undang-undang, kita bersyukur dengan Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1960 sebagaimana yang diajukan oleh Saudara Ardi Soma, yang ada juga persoalan pribadi yang menyangkut dengan ini, tetapi ini adalah suatu undang-undang yang sangat penting yang sudah memberikan tonggak bagi kita untuk memberikan pembatasan yang jelas, yang clear.
Walaupun Majelis Hakim yang kita miliki sekarang baru pembatasan pemilikan untuk perorangan dan rumah tangga. Yang belum kita miliki adalah untuk penguasaan dan pengusahaan oleh badan-badan hukum, ini juga persoalan yang menurut pendapat kami adalah hal yang harus diatur melalui suatu konsensus bangsa dan dituangkan dalam undang-undang, tidak boleh asal apa saja boleh.
Ini merupakan dua hal besar yang menurut pendapat kami memberikan jaminan kepada anak cucu kita, opportunity—peluang—
yang sah yang lebih baik, apapun mekanisme pengaturannya. Kita sering diplesetkan sebagai contoh, “lho sekarangkan harga sawit tinggi? Iya betul, harga sawit tinggi. Apakah kita tidak perlu mengembangkan sawit? Perlu. Pertanyaannya apakah harus dikuasasi oleh satu, dua, tiga orang, empat orang atau mungkin lima orang atau aksesnya dibuka lebih luas untuk rakyat dan bangsa ini? Ini adalah pertanyaan mendasar yang menurut pendapat kami adalah bagian dari sistem politik pertanahan yang kita atur dan inilah pilar ketiga yang menurut pendapat kami sangat-sangat penting untuk menjadi perhatian kita sebagai bangsa saat ini.
Yang keempat, prinsip pertanahan kita yang keempat adalah kita ingin secara nyata bahwa pertanahan itu punya kontribusi yang nyata untuk harmoni sosial, mohon maaf kami menggunakan istilah lebih sosiologis tidak menggunakan istilah law and order di dalam pengertian hukum karena ini kami tarik dengan perspektif yang lebih luas. Hasil simulasi kami kalau persoalan-persoalan sengketa dan konflik pertanahan di tanah air sekarang ini tidak diatasi secara sistemik, sepuluh tahun ke depan persoalan-persoalan yang kita hadapi lebih banyak persoalan pertanahan. Hari ini dari hasil konsultasi kami dengan Ketua Mahkamah Agung menunjukkan bahwa perkara-perkara pertanahan lebih dari 50% mendominasi perkara di pengadilan kita sekarang ini. Dan ini menjadi catatan kita adalah ini persoalan-persoalan yang lahir tahun 60-an, 70-an, 80-an, dan awal 90-an, ketika kita tahun 1973 membubarkan Pengadilan Land Reform dan yang kedua pelemahan dari kelembagaan pertanahan, sementara dinamika masyarakat dalam
kaitannya dengan kebutuhan tanah semakin hari semakin tinggi, realitas di lapangan mengenai pertanahan ini hampir tidak ter-comprehen oleh kelembagaan kita di masa lalu, yang kita harapkan kelembagaan ke depan dari hari ke hari semakin ber-comprehen. Yang kami ingin kami nyatakan di sini adalah pertanahan harus punya kontribusi yang nyata untuk harmoni sosial itu dengan cara mengatasi sengketa dan konflik pertanahan baik mengatasi secara ad hoc yang sudah ada sekarang, maupun secara sistemik ke depan.
Kalau diizinkan kami akan menyampaikan data dan data ini adalah data yang sangat-sangat relevan barangkali di dalam perspektif pembahasan undang-undang ini dan apalagi dengan usulan kaitannya dengan sengketa yang mungkin lebih banyak adalah sengketa perdata sebenarnya dalam kaitan ini, bukan persoalan undang-undang. Sampai dengan akhir tahun 2006, kami berhasil mengindentifikasi setelah kami mendirikan satu kelembagaan baru yang sebelumnya tidak ada yang menangani ini. Dengan kelembagaan baru kita sudah mulai mengindentifikasi, sengketa dan konflik pertanahan yang skalanya cukup luas itu 2.810 kasus. Dari 2.810 kasus itu, yang berupa sengketa itu 1.423, yang konflik 322. Ini magnitude-nya bisa apa saja, bisa ke mana saja dan yang dalam konteks perkara di pengadilan sekarang 1.065 kasus, cukup besar.
Kalau kita dalami lebih lanjut karakteristik dari sengketa-sengketa yang ada di tanah air, ternyata sengketa terbesar pertanahan di tanah air adalah sengketa penguasaan dan pemilikan, yang ini sudah lepas dari konteks pertanahan ketika nanti tanah yang sudah haknya jelas dipertukarkan, penipuan, diperdagangkan, atau apapun dari konteks itu atau melalui proses-proses pewarisan. Dan ini cukup besar, kurang lebih 67% dari total kasus yang kita hadapi. Yang kedua, ini adalah bagian dari kelembagaan kami untuk membenahi yaitu yang lahir dari sengketa prosedur penetapan hak dan pendaftaran tanah, tetapi yang lebih menarik dari semua ini adalah kalau kita lihat bagian F, bahwa sejak kita jalankan land reform pada tanggal 1 Januari 1961, sengketa land reform itu sangat kecil, kurang dari tiga persen termasuk salah satunya yang sekarang dihadapi oleh Pemohon, kecil dan hampir semuanya itu adalah sengketa perdata. Dan kalau melihat karakteristik itu sebenarnya sumber-sumber sengketanya sudah terindentifikasi dan kita sebenarnya bisa melakukan langkah-langkah tetapi sekaligus juga kita justru semakin menganggap pentingnya dikaitkan dengan persoalan prinsip yang ketiga semakin pentingnya Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1960 ini, apapun nanti kerangka politik dalam menjembatani dan memproses serta mengimplentasikannya. Lebih lanjut, ini kalau kita ingin memperoleh gambaran siapa pihak-pihak yang bersengketa? Di sini yang paling banyak pihak yang bersengketa adalah orang per orang, itu kurang lebih 36,85%. Setelah itu disusul yang dua persen masyarakat dengan masyarakat, artinya kelompok masyarakat. Yang ketiga instansi Pemerintah dan masyarakat, ini cukup besar 8,2% tetapi yang menarik
juga ada instansi Pemerintah dengan instansi Pemerintah 0,9%, yang seharusnya di dalam konteks Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, pindah dari kantong kiri ke kantong kanan seharusnya. Dan yang 18%
itu cukup besar adalah perorangan dengan badan hukum. Jadi karakteristik ini sudah kita dalami dan yang menarik adalah ketika kita tidak meng-komprehen secara keseluruhan persoalan-persoalan sengketa ini, jenis, modus dari persoalan-persoalan pertanahan ini imajinasi kita yang kebetulan saya seorang akademisi sama dengan Bapak Ketua, ini seringkali imajinasi kita tidak sampai untuk bisa memikirkan seperti begitu rumitnya dan peliknya permainan-permainan yang ada di balik sengketa-sengketa dan konflik-konflik pertanahan ini.
Di dalam kerangka itu ada sesungguhnya agenda besar negara yang untuk sementara ini kita letakkan di dalam kerangka agendanya BPN-RI, tapi sesungguhnya ini sebagian besar adalah agendanya negara.
Hal yang pertama adalah, yang nomor satu urusan internal saja BPN dan yang kedua, meningkatkan pelayanan pelaksanaan pendaftaran tanah serta sertifikasi tanah serta menyeluruh di seluruh tanah air. Saat sekarang ini dari seluruh bidang-bidang tanah yang sudah berhasil kita identifikasi baru 35% yang tersertifikatkan. Dari yang tersertifikatkan itu baru sebelas persen yang terpetakan sampai level bidang tanah, jadi inipun juga membuka peluang, potensi konflik di kemudian hari. Kita sudah merombak cara baru, kita harapkan dengan cara yang baru tanpa percepatan insya Allah, kalau dengan cara yang ada sekarang butuh seratus sampai 120 tahun untuk mendaftar dan berikan hak semuanya, tapi dengan cara yang baru kita introduksikan insya Allah 18 tahun dan bisa dipercepat dengan introduksi teknologi.
Yang ketiga, memastikan penguatan hak-hak rakyat atas tanah bagi negara. Lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria itu adalah tonggak untuk melahirkan apa yang disebut dalam istilah akademik cross border identity bagi negara ini, tetapi realitas di masyarakat keragaman masih ada, maka konversi ke arah sini adalah merupakan suatu proses keharusan. Selanjutnya menyelesaikan persoalan pertanahan dan seterusnya, tetapi agenda-agenda besar yang penting lagi adalah nomor delapan, karena ini agendanya BPN, sebenarnya yang paling penting adalah di sini penataan penguasaan tanah yang dari sudut pandang kepantasan, sudut pandang keadilan, itu terganggu batin dan pikiran kita. Penguasaan-penguasaan tanah skala besar banyak dan itu harus dikelola dan banyak di antaranya yang terlantar. Undang-Undang Pokok Agraria menjamin itu harus diambil dan dikelola oleh negara, tapi Peraturan Pemerintah kita—kami sedang merevisi, itu malah tidak memungkinkan itu dilakukan. Ini sedang kami tata Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 dan di situ kalau data ini benar, baik yang di kawasan kehutanan maupun non kehutanan, tanah terlantar ini kurang lebih 7,15 juta hektar, itu kurang lebih 120 kali luas Singapura. Dan ini sudah susah dimasuki aksesnya bagi masyarakat karena sudah ada hak dan karena ada hak biasanya sudah terkait juga dengan perbankan, ini
adalah persoalan-persoalan yang tidak ringan untuk kita tata karena itu ketika kita sudah memiliki pondasi ini kita menginginkan pondasi ini justru diperkuat bukan diperlemah.
Selanjutnya yang bagian yang kesebelas, agenda yang kesebelas itu mengembangkan dan memperbaharui politik hukum dan kebijakan pertanahan, ini adalah mandat Tap MPR Nomor IX Tahun 2001 yang diperkuat oleh Keputusan MPR Nomor 5 Tahun 2003, jika kami diizinkan untuk meng-komprehen persoalan-persoalan itu dan mengkaitkannya dengan nantinya pentingnya Undang-Undang Nomor 56 PRP 1960 ini, kami mohon izin untuk bisa menyampaikan gagasan mengenai reforma agraria, sebelumnya nanti kami masuk ke Undang-Undang 1956, terima kasih.
Ada dua pengertian sekarang yang lahir mengenai reforma agraria atau pembaharuan agraria. Tap MPR Nomor IX itu menyebutkan pengertiannya pembaruan agraria, tapi Undang-Undang Pokok Agraria dan Keputusan MPR Nomor 5 itu menyebutkan pengertian reforma agraria. Jadi dua pengertian ini secara konsepsional kita artikan untuk sementara sama dan kita definisikan sesuai dengan hukum kita miliki, kalau menurut Tap MPR yang disebut pembaruan agraria atau reforma agraria itu suatu proses yang berkesinambungan bukan one stop program. Berkenaan dengan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia, sedangkan menurut Undang-Undang Pokok Agraria terutama tertuang di dalam Penjelasan Pasal 10 ayat (1) dan (2) dikatakan di sana yang menarik situasi tahun 1960 sama persis situasinya dengan kita, setelah kita dalami.
Dewasa ini sedang menjadi dasar daripada perubahan-perubahan dalam struktur pertanahan hampir di seluruh dunia yaitu negara-negara yang telah sedang menyelenggarakan apa yang disebut land reform atau agrarian reform, yaitu tanah harus dikerjakan atau diusahakan secara aktif oleh pemiliknya sendiri, ini adalah konsepsinya land reform dan yang menarik juga penjelasannya cukup baiknya Undang-Undang Agraria dikatakan, akhirnya ketentuan itu perlu dibarengi pula dengan pemberian kredit, bibit, dan bantuan dan seterusnya.
Sebenarnya di dalam pengertian ini reforma agraria itu mengandung dua pengertian, satu, asset reform yaitu aset tanah untuk masyarakat dan access reform, akses mereka yang ikut dalam program agrarian reform untuk mendapatkan semua hal yang dibutuhkan bagi mereka untuk mengelola dan memanfaatkannya. Oleh karena itu biasanya kami menyebut secara simple saja, reforma agraria itu harus ditempuh dengan dua jalan; jalan pertama, itu tentu kami ingin ikut berproses BPN RI, tetapi ini adalah kewenangan negara yaitu penataan sistem politik dan hukum pertanahan berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan UUPA. Mengapa kami menyampaikan UUPA sebagai acuan juga di dalam kita melakukan penataan sistem politik ini?
Satu tahun setengah ini kami berinteraksi secara intensif dengan DPR, kita coba memikirkan apakah kita ganti? Apakah kita amandemen? Dan seterusnya. Akhirnya kesimpulan terakhir adalah Undang-Undang Pokok Agraria kita pertahankan as it is, tetapi kita menurunkan undang-undang yang konsisten dengan itu terutama dengan prinsip-prinsip yang dituangkan di dalam Pasal 1 sampai 15 mengenai keadilan sosial.
Di dalam konteksnya yang lebih simple reforma agraria itu adalah land reform plus, plus access reform itu di dalam definisi bahwa land reform itu adalah proses redistribusi atau distribusi tanah, bisa redis bisa distribusi. Di dalam konteks yang kita hadapi sekarang ini persoalan redistribusi, tetapi land reform itu bisa juga distribusi tanah untuk menata penguasaan, pemilikan, dan penggunaan dan pemanfaatan tanah berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan bidang pertanahan. Dan access reform-nya adalah suatu proses penyediaan akses bagi masyarakat terhadap segala hal yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan tanahnya sebagai sumber kehidupan, partisipasi ekonomi politik, modal, pasar, dan seterusnya.
Dan secara akademik, ini yang pertama ini di samping bagian yang pertama land reform-nya itu konsisten dengan apa yang tertuang dalam Konstitusi kita, tetapi juga ini sejalan dengan perkembangan keilmuan yang baru termasuk Hernando de Soto meskipun falsafahnya berbeda dari Pancasila yang mendasari dia, tetapi pembangkitan kekuatan tanah untuk sumber-sumber ekonomi dan politik itu ternyata di sini dan access reform ini sejalan betul dengan gagasan yang dilahirkan oleh Profesor Amartiasen pemenang hadiah Nobel tahun 1996, jadi sebenarnya konsisten dengan Konstitusi kita. Di dalam konteks memastikan ini bisa berjalan, layak barangkali kita melihat model-model reforma agraria yang ada di dunia sekarang ini. Ketika kita memperkenalkan reforma agraria hampir selalu, konsensusnya bagus.
Baik yang kapitalistik maupun yang komunistik, apapun setuju biasanya, tetapi perdebatan politik selalu lahir di bawahnya. Model apa yang kita gunakan? Di situ letak perdebatannya dan kalau kita ambil pengalaman negara-negara lain yang menjalankan ini hanya ada empat kategorinya:
1. radical agrarian reform, itu intinya tanah orang kaya diambil dan dibagi atas nama politik dan hampir semua gagal ini.
2. land right restitution, itulah yang Venezuela sekarang lakukan dengan aturan undang yang jelas yang memenuhi aturan undang-undang itu diminta untuk menyerahkan tanahnya dengan kompensasi dibayar oleh negara dan tanah itu yang direstribusikan, secara tidak langsung Undang-Undang Nomor 56 kurang lebih sejalan dengan ini, walaupun nanti juga berkait dengan nomor empat.
3. land colonization—kita tidak menjalankan ini tentu.
4. market based agrarian reform, ini yang banyak di-exercise kalau kita bicara mengenai persoalan pertanahan dari text book-text book dan dari penyelenggaraan pertanahan yang akhir-akhir ini, tapi sebenarnya intinya adalah membuka pasar tanah untuk memungkinkan peralihan
dan perubahan secara voluntary bisa terjadi. Hanya persoalannya ketika kita menghadapi persoalan ketidakadilan secara struktural hal ini tidak bisa digunakan, karena siapa yang bisa bertransaksi adalah mereka yang sudah punya, akses untuk melakukan transaksi bagi sebagian besar rakyat kita tidak bisa. Oleh karena itu tentu pendekatan kita berbeda dari itu, tetapi sebelum itu kami ingin menyampaikan bahwa reforma agraria itu di semua negara adalah upaya bersama untuk mewujudkan keadilan sosial, upaya bersama tidak bisa BPN saja.
Oleh karena itu di dalam mempersiapkan reforma agraria ini kami menekuni dengan berupaya menjadi, mencapai tingkat kesabaran yang tertinggi yang kami bisa lakukan untuk tidak mengulang kesalahan sejarah dan kesalahan politik masa lalu. Dalam persiapan ini kami persiapkan secara matang termasuk kami berkonsultasi secara khusus dengan Ketua MA dengan jajaran, berkonsultasi dan berkoordinasi dengan Jaksa Agung dan Kapolri dengan jajaran, Panglima dengan jajaran, Menhan dengan jajaran, BIN dengan jajaran, BAIS dengan jajaran, Menko dengan jajaran dan menteri-menteri lain. Yang kami secara khusus datang untuk menjelaskan bahwa ini adalah persoalan-persoalan yang kita hadapi bersama dan dari apa yang kita dapatkan semuanya mendukung, tinggal bagaimana kita merealisasikan ke depan?
Apa bentuk yang disebut sebagai upaya bersama ini? Biasanya di Indonesia the devil is a coordinationand the details.
Yang kedua, sebenarnya reforma agraria mandat Konstitusi, politik, dan hukum. Kalau ini tentu kami menggarami laut kalau ini kami jelaskan, tapi ini adalah keharusan sejarah. Kalau kita lihat kenapa kita sebut sebagai keharusan sejarah? Negara-negara yang menjalankan reforma agraria secara baik, hampir semua struktur politik hukum dan politiknya paling stabil, apakah itu Amerika Serikat, Cina, Japan, Taiwan, dan beberapa negara yang lain. Yang menarik adalah Taiwan yang sudah mulai bareng dengan kita tahun 1961, sekarang merevitalisasi reforma agrarianya dan artikulasi politik, artikulasi akademik akhir abad 20 itu justru menyarankan reforma agraria itu menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa-bangsa di abad 21.
Oleh karena itu sekarang Asia; itu Thailand, Filipina, Taiwan itu merevitalisasi kembali reforma agraria. Negara-negara Amerika Latin sekarang bangkit dengan reforma agrarianya dan tentu nanti persoalannya apakah itu dikaitkan penuh dengan realita yang kita hadapi atau tidak. Sebagai contoh misalnya El Savador gagal melakukan ini ketika modal yang berhasil di Jepang dan di Taiwan diambil, diterapkan, tidak berhasil. Karena ahistoris terhadap bangsanya dan terhadap rakyatnya sendiri.
Pengalaman reforma agraria di Indonesia tentu ini kita punya dan artikulasinya ada yang ada di sana itu masih artikulasi yang sama dengan penemuan-penemuan kita sekarang. Dalam konteks ini lebih baik terlambat daripada kita tidak menjalankan sama sekali, tapi kita harus memastikan reforma agraria ini adalah reforma agraria yang damai, tidak
ada lagi gerakan sepihak seperti pengalaman sejarah kita yang lalu. Oleh karena itu selalu kami pelit setiap kali ditanya dimana tanahnya? Kami tidak pernah keluarkan sampai pada saatnya. Karena kalau itu kita khawatirkan aksi-aksi sepihak dan seterusnya yang dulu pernah ada di dalam sejarah kita, tapi ini juga sangat mendasar pengalaman ketika Jepang kalah perang McArthur itu memerintahkan dan office of McArthur mengikuti Jepang untuk menjalankan reforma Agraria, tetapi karena punya pengalaman 1689 mengenai Restorasi Meiji maka pelaksanaannya bagus dan bisa diadopsi di Taiwan karena kulturnya relatif bagus. Di kita pada tanggal 1 Januari 1961 Presiden Republik Indonesia juga menyatakan kita menjalankan reforma agraria sejalan dengan pada saat itu diumumkan pembangunan semesta nasional.
Artinya reforma agraria itu merupakan core dalam konteks pembangunan yang karena juga kebetulan ini sangat mendasar di dalam upaya untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin kami sampaikan. Ada tujuh tujuan di sini yang penting, yaitu menata ulang ketimpangan struktur penggunaan, pemanfaatan penguasaan dan pemilikan tanah ke
Artinya reforma agraria itu merupakan core dalam konteks pembangunan yang karena juga kebetulan ini sangat mendasar di dalam upaya untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin kami sampaikan. Ada tujuh tujuan di sini yang penting, yaitu menata ulang ketimpangan struktur penggunaan, pemanfaatan penguasaan dan pemilikan tanah ke