• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Karena tadi orang tua,

Dalam dokumen RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007 (Halaman 37-50)

88. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M Terbenturnya kenapa?

89. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA Karena tadi orang tua,

90. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M Karena sudah ada putusan pengadilan?

91. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Putusan pengadilan, melanggar undang-undang itu.

92. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Jadi masalahnya itu tadi sebetulnya permasalahan mengenai masalah ganti rugi yang tidak bisa diuangkan menjadi persoalan sekarang menjadi persoalan norma yang dipersoalkan, Pasal 10 ayat (3) bukan?

93. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Saya juga memiliki tanah lebih. Apa yang dikatakan oleh Pemerintah, saya itu sebelas hektar, di Kabupaten Subang itu 7,5 untuk tanah sawah dan sembilan hektar untuk tanah kering, jadi sudah ada ketentuan sebetulnya. Tapi kenyataan di lapangan bukan saya saja, banyak petani-petani yang melebihi. Jadi dengan tadi saya mengikutilah, karena saya orang awam, mengikuti dengan tadi amandemen Undang-Undang Dasar 1945 ini ada anggapan saya pada Konstitusi yang bertentangan.

94. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Jadi yang persoalan tadi artinya persoalan ini semula adalah ganti rugi yang tidak terwujud, sehingga sekarang karena terbuka ada saluran yang lain Saudara mempersoalkan norma. Kepada Ibu Arie, di dalam keterangan Ibu saya belum baca tadi, tapi didengar tadi bahwa Pasal 10 ayat (3) dan (4) itu yang menjadi persoalan menurut Ibu Arie itu yang tidak bersesuaian dengan hukum tanah. Tapi ada hal yang perlu dicermati, Pasal 3 dan 4 ini, inikan tidak berdiri sendiri. Ini Pasal 3 dan 4

ini ada kaitannya dengan Pasal 10 ayat (1), ini saya bacakan, Pasal 10 ayat (3) itu mengatakan, “jika terjadi tindak pidana sebagai yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a pasal ini, maka pemindahan hak itu batal karena hukum, sedang tanah yang bersangkutan jatuh pada negara”, tidak ada kata rampas. Nanti saya akan jelaskan, “tanpa hak untuk menuntut ganti kerugian berupa apapun”. Sekarang kita baca dan Pasal 4 ini ada kaitannya dengan Pasal 3.

Pasal 3 dan Pasal 4, “orang-orang atau sekeluarga yang memiliki tanah pertanian yang jumlah luasnya melebihi luas maksimum yang dilarang untuk memindahkan hak miliknya atas seluruh atau sebagian tanah tersebut”. Jadi dia sudah tahu bahwa ada tanah yang jumlahnya itu dilarang untuk dipindahkannya, masih dipindahkannya. Karena Pasal 3 mengatakan, “orang-orang kepala keluarga yang anggota keluarga menguasai tanah pertanian yang jumlahnya melebihi luas maksimum wajib melaporkan”. Jadi di sini ada kolerasi bahwa undang-undang ini mengatur ada kewajiban daripada warga negara kalau melebihi jumlah sekian, maka Anda harus melapor. Bahwa menurut Ibu tadi bahwa ini kurang tersosialisasi sehingga tidak ada kepatuhan itu masalah lain, itu masalah efektivitas,

95. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Coba langsung ke pertanyaannya saja.

96. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M

Tunggu Pak, ini ada kaitannya dengan pertanyaannya, sehingga Pasal 10 ayat (3) dan (4) ini adalah merupakan konsekuensi daripada pelanggaran dari pada Pasal 3 dan 4 ini terhadap orang itu, sehingga kelebihannya itu tidak ganti rugi. Kalau dia memang dilaporkannya maka kelebihannya itu dapat diganti rugi karena ayat (3) itu. Sekarang apakah boleh dirampas apa tidak? Ini boleh dirampas, Pasal 39 KUHP mengatakan demikian, saya bacakan, oleh karena itu di dalam putusan pengadilan dikatakan itu dirampas selebihnya, Pasal 39 mengatakan demikian. Ayat (2), “dalam hal pemidanaan karena kejahatan yang tidak dilakukan dengan sengaja atau karena pelanggaran dapat dijatuhkan dengan perampasan berdasarkan hal yang ditentukan dalam undang-undang”.

Undang-undang ini sendiri sudah menentukan, sehingga norma yang diatur dalam undang-undang ini, ini tidak bertentangan sama sekali, itu kira-kira tanggapan Ibu bagaimana?

97. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Bagaimana, kita mulai dari Pemerintah dulu. Tadi banyak pertanyaannya atau Pemohon dulu? Ada yang perlu disampaikan? Sudah terjawab belum tadi yang ditanya? Silakan.

98. PEMOHON : YUSRI ARDISOMA

Terima kasih, mungkin saya akan bertanya kepada Pemerintah, barangkali tadi, tadi sesuai dengan (…)

99. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Tidak, tidak. jawab pertanyaan, kalau tidak ada ya sudah.

Saudara tidak boleh bertanya kepada Pemerintah, karena dia bukan pihak, Saudara bertanya kepada Ahli. Kalau misalnya Pemerintah mengajukan ahli juga, Saudara tanya kepada ahli yang diajukan Pemerintah, begitu ya! Tapi tanya kepada Pemerintah tidak, karena dia bukan orang yang berperkara, jadi ini lain dengan di pengadilan negeri, dia bukan pihak, dia hanya pemberi keterangan saja karena dia pembentuk undang, dia pun tidak ikut membentuk undang-undangnya, begitu ya? Kalau tidak ada lagi saya persilakan Pemerintah.

100. PEMERINTAH : JOYO WINOTO (KEPALA BPN)

Terima kasih Yang Mulia,

Izinkan kami pertama merespons pertanyaan Yang Mulia Hakim Maruarar Siahaan. Kalau boleh kami rumuskan ulang pertanyaannya sebenarnya lebih konkret dua hal. Kalau nanti kurang tepat mohon bisa diingatkan. Yang pertama sesungguhnya reforma agraria ke depan ini acuannya apa? Apakah mau bergerak ke kiri atau ke kanan? Mau adopsi ideologi kiri atau ideologi kanan? Kurang lebih itu sebenarnya pertanyaannya secara konkret. Kami akan buka saja nanti. Pertanyaan yang kedua, apakah sesungguhnya model yang akan diambil oleh Pemerintah dalam pelaksanaan reforma agraria ke depan itu? Karena kedua pertanyaan ini sesungguhnya juga menyambung.

Pertanyaannya begini, negara pada tahun 1946 melahirkan suatu undang-undang, yang undang-undang itu hanya satu lembar, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1946 mengenai penghapusan tanah-tanah perdikan, itu baru sesaat kita merdeka yang kita masih bergulat dengan Belanda sampai 1949. Itu pertama sudah dikeluarkan untuk menunjukkan bahwa spirit mengenai penataan ketidakadilan dalam penguasaan tanah. Di tanah air ini cukup menjadi concern daripada pendiri bangsa. Dari situ bergulirlah kemudian pada tahun 1946 itu negara membentuk panitia-panitia negara, Panitia Negara Yogya, Jakarta, dan seterusnya yang akhirnya melahirkan Undang-undang

Pokok Agraria, artinya undang-undang ini empat belas tahun prosesnya dan menuntaskan juga persoalan-persoalan ideologi yang ada di sana.

Dan Undang-Undang Pokok Agraria ini dinyatakan secara jelas di tahun 1959 pada bulan Agustus dikatakan bahwa payung dari perjalanan kita menata keagrariaan di tanah air itu adalah undang-undang yang akan kita sahkan. Berarti ini adalah undang-undang yang komitmen para pendiri bangsa yang cukup tinggi. Lepas dari persoalan sosial politik yang kita hadapi di periode itu yang nanti kita bisa analisis dan telaah terpisah. Kalau begitu land reform atau reforma agraria yang kita tuntaskan sekarang, yang kita jalankan sekarang ini, acuannya apa?

Ternyata acuan yang bisa kita turunkan dari semua yang setelah kita telaah itu, ya Undang Agraria. Kalau kita menggunakan Undang-Undang Pokok Agraria kemudian kita ini berideologi kiri atau berideologi kanan?

Secara normatif dulu, Undang-Undang Pokok Agraria ini satu-satunya undang-undang yang masih menarik sampai saat ini, Pasal 2 itu disebutkan diulang, berdasarkan Pasal 33 ayat (3) Undang Undang Dasar 1945 dan seterusnya, berarti dia nyantol penuh dengan undang-undang ini. Tapi kalau kita lihat lagi dari Pasal 1 sampai 15, itu isinya keadilan sosial. Kalau isinya keadilan sosial, kita tidak bisa menyatakan bahwa arah yang kita tempuh adalah kapitalistik, tidak bisa. Tetapi, apakah kalau begitu menjadi sosialistik atau komunistik? Tidak bisa juga, karena Undang-Undang Pokok Agraria ini mengatur kepemilikan pribadi. Kalau begitu dasar dari ideologi yang menaungi ini jelas Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan payungnya, acuannya Undang-Undang-Undang-Undang Pokok Agraria itu. Jadi dengan demikian konkret kemudian.

Pertanyaannya yang mungkin agak dibiaskan secara ekonomi politik adalah apakah kalau begitu kita menggunakan pasar atau bukan pasar sebagai pendekatan? Pasar itu ada, baik di kapitalistik, sosialistik, maupun yang tradisional. Pasar itu ada kalau pasar itu didefinisikan sebagai kelembagaan masyarakat yang tempat dilakukannya voluntary exchange—pertukaran secara volunteer, itu pasar. Cuma persoalannya pasar ini ada yang diabsorsi kapitalistik ada yang di sosialistik. Ciri dari segala ciri pasar kapitalistik itu adalah dia privat property right systems sebagai penopangnya. Pertanyaannya kemudian model kita ke depan apa? Apakah market based agrarian reform atau restitution of land right, karena kita tidak mungkin melakukan radikal. Berbagai kondisi sosial politik tidak mungkin. Yang paling mungkin restitution of land right atau market based? Tetapi kalau kita lihat porsi ini pun juga porsi kecil dari keseluruhan program yang digunakan. Dari 9,25 juta hektar itu hanya 1,1 juta hektar, dari 1,1 itu pun juga ada yang voluntary penyerahannya dan ada juga yang menggunakan undang-undang lain.

Intinya kemudian strategi kita tentu sebenarnya paling ideal adalah strategi yang tidak eksklusif, satu di antara empat ini. Yang paling mungkin adalah di situ adalah pendekatan yang disebut sebagai state driven agrarian reform karena diberikan tanah fresh oleh negara

sebanyak 18,5 juta hektar yang dikombinasikan dengan land restitution dan market setelah dia bergulir. Jadi itu yang menjadi pandangan kita, sehingga kemudian ada pertanyaan implikasi dari pertanyaan ini kalau saya mencoba meraba-raba, apakah kemudian bagi tanah terlantar, tanah kelebihan maksimum dan sebagainya, itu bisa diproses secara hukum? Iya itu bisa.

Kalau untuk perorangan kita punya Undang-Undang 56, tetapi kalau untuk perusahaan kita punya Pasal 18 Undang-Undang Pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. Sebagai mekanisme itu yang tentu kami menyadari ini kurang sempurna untuk efektivitasnya. Ini barangkali catatan kami untuk Yang Mulia Hakim Maruarar Siahaan, nanti pertanyaan seberapa besar tanah dan sebagainya nanti kami akan minta Direktur Penanganan Perkara Pertanahan untuk merespon. Pertanyaan secara khusus dari Yang Mulia Hakim Mukthie Fadjar, kami ingin merespons, mengapa gagal agrarian reform di tahun 1960? Kalau dilihat perangkatnya ada, hukumnya siap, tapi waktu itu tentu saya tidak in position menjelaskan kecuali saya mendalami dari sejarah dan sekian banyak Cornell paper yang saya baca untuk mendalami situasi ini. Di situ nampak sebenarnya ada proses yang baik terjadi tahun 1961 sampai 1964 dari land reform kita. Tetapi mengenai tahun 1964 ketika persoalan-persoalan politik cukup hangat di tanah air dan pada pertengahan tahun 1965 terjadi penguasaan sepihak dari proses politik yang tujuannya bukan agrarian reform, tetapi untuk tujuan politik yang lebih besar. Ini yang menyebabkan asosiasi dari land reform itu terkait erat dengan persoalannya. Tetapi undang-undangnya semua sudah sangat memadai.

Pertanyaannya kemudian setelah amandemen Undang-Undang Dasar 1945 dengan lahirnya (Pasal) 28H, tetapi tentu barangkali kalau kami melihatnya senantiasa semua terkait juga dengan (Pasal) 28J.

Tetapi sebagaimana tadi dijelaskan oleh Yang Mulia Hakim Natabaya, sebenarnya tidak ada pertentangan secara khusus yang lahir ini, tokh ini terkait dengan suatu proses, tidak serta merta seseorang dihukum, diambil, dan dirampas, tidak ada proses semacam itu. Undang-undang ini melihatnya dalam suatu konteks yang proper. Dan pertanyaannya apakah dalam reforma agraria kemudian, ketentuan Pasal 10 ayat (3) dan (4) ini tetap ingin dipertahankan? Jawaban kami begini, ini jawaban konsepsional dan jawaban yang praktis.

Jawaban konsepsionalnya adalah idealnya negara ini membentuk panitia negara atau apapun bentuknya untuk menata kembali semua hukum pertanahan di tanah air ini sekaligus untuk memperkuat reforma agraria bisa dijalankan, sengketa dan konflik pertanahan bisa diselesaikan, tumpang tindih bisa diselesaikan, masih ragamnya persepsi masyarakat mengenai hukum-hukum pertanahan bisa diselesaikan. Tapi ini butuh proses, yang tentu Kepala BPN not in capacity. Di dalam proses itu tentu ada proses politik yang mengarah ke sana.

Yang kedua, yang pragmatis. Sebelum itu ada, undang-undang yang menjamin keadilan sosial harus kita pertahankan, tetapi ada pertanyaan harus lebih diefektifkan. Dalam kaitannya dengan Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1960 ini dia di dalam kerangka besar reforma agraria yang sudah kita matangkan cukup panjang ini dan yang insya Allah akan segera di-launching secara resmi di tahun 2007 ini. Karena proses-proses ini sudah kita masuki dengan sangat apik dan sangat hati-hati. Jadi pertanyannya kalau secara konkret, ya tentu di dalam situasi yang kita hadapi sekarang karena ini undang-undang yang kita miliki dan kedua ayat itu menjadi unsur yang mengefektifkan undang-undang ini kami ingin tetap dipertahankan secara utuh dan bahkan hal ini adalah dan bahkan ini adalah mekanisme yang semakin memperkuat bagi kita untuk menyelesaikan sengketa-sengketa pertanahan, karena kita memiliki penyidik PNS tersebut.

Selebihnya kami kalau diizinkan memberikan Direktur Perkara Pertanahan untuk pertanyaan yang terkait langsung dengan yang disampaikan oleh Pemohon.

Silakan, Saudara Agus.

101. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Silakan!

102. PEMERINTAH : RB. AGUS WIJAYANTO, S.H., M.H. (DIRT PERKARA BPN)

Mohon izin Bapak Kepala Badan.

Barangkali saya ingin mengelaborasi sedikit mengenai pertanyaan nomor dua dan nomor empat, sekaligus menambah jawaban dari Bapak Kepala Badan kaitannya dengan efektifitas dan mengenai keberlakuan Pasal 10 ayat (3) dan (4). Kalau tidak salah tadi ada pertanyaan dari Yang Mulia Majelis bahwa apakah Pasal 10 ayat (3) dan (4) ini tidak berlebihan? Sebagaimana tadi sudah disampaikan oleh Bapak Kepala Badan bahwa ketika kita melihat ketentuan Pasal 28H Undang-Undang Dasar 1945 tentunya kita juga perlu melihat ketentuan Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, bahwa di dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan atau penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrasi.

Mengenai pembatasan ini diatur di dalam Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960, sehingga barangkali sebagaimana tadi disampaikan bahwa ketentuan-ketentuan yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 harmonis dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Mengenai ketentuan pidana, kita tahu bahwa di dalam sistem hukum pidana dikenal adanya hukuman pokok dan hukuman tambahan. Di dalam hukuman pokok di situ ada hukuman mati, hukuman penjara, hukuman kurungan, dan denda. Dan dimungkinkan ada hukuman tambahan berupa pencabutan hak, perampasan, atau pengambilalihan hak, dan pengumuman putusan pengadilan. Di dalam konteks ini sebagaimana tadi disebutkan oleh Bapak Hakim yang mulia, pengambilalihan ini dilakukan jatuh kepada negara, tanah ini jatuh kepada negara apabila dapat dibuktikan bahwa yang bersangkutan adalah telah melakukan pelanggaran, pelanggaran atas ketentuan pasal-pasal yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960.

Karena itu pembuktiannya perlu melalui proses hukum acara pidana dan kepada yang bersangkutan telah terbukti secara pidana melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasal-pasal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960, sehingga untuk itu sanksi tambahan itu dikenakan.

Dan melengkapi pernyataan Bapak Kepala Badan, Yang Mulia dengan adanya proses pidana, maka tentu tindak pidana yang dilakukan ini sebetulnya adalah tindak pidana tertentu, sehingga sejalan dengan itu tepat apabila ke depan barangkali Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 ini juga bisa menjadi cantolan untuk pembentukan suatu penyidik PNS yang saat ini sangat dibutuhkan oleh BPN. Yang di masa lalu barangkali teratasi dengan adanya peradilan land reform yang kemudian telah dibubarkan. Kemudian yang berkaitan dengan efektifitas, Yang Mulia tadi menanyakan seberapa besar jumlah yang diperoleh melalui Kejaksaan dalam proses. Jumlah itu tidak besar Yang Mulia, justru efektifitas dari Pasal 10 ayat (3) dan (4) ini terlihat dari data yang tadi disampaikan banyaknya wajib lapor dari para pemilik tanah kelebihan maksimum. Jadi efektifitas ini dilihat dari bukan seringnya dilakukan peradilan, tetapi dari banyaknya wajib lapor. Karena sanksi tersebut, maka wajib lapor cukup banyak. Dan sebagaimana disinyalir oleh Bapak Kepala Badan masih ada tanah-tanah kelebihan maksimum yang belum dilaporkan. Dan oleh karena itu ke depan kelembagaan BPN di sini barangkali akan bisa mengidentifikasi tanah-tanah kelebihan maksimum yang belum dilaporkan. Dan oleh karena itu sangat relevan Pasal 10 ayat (3) ini dengan keberadaan saat ini maupun masa yang akan datang.

Kemudian, berkaitan dengan perolehan ahli waris yang telah menandatangani STP3. Justru dari pernyataan yang bersangkutan yang telah menandatangai STP3, jelas di dalam kasus ini adalah tuntutannya adalah tuntutan ganti rugi. Tuntutan ganti rugi yang belum terpenuhi karena ada Pasal 10 ayat (3). Dan oleh karena itu barangkali Yang Mulia tidak berkelebihan apabila kami berpendapat bahwa apabila memang tujuannya adalah untuk tuntutan ganti rugi yang terhalang oleh Pasal 10 ayat (3) yang kemudian tidak dilakukan penyelesaian oleh Pemerintah dalam kasus ini BPN, maka penyelesaiannya seharusnya dilakukan melalui peradilan perdata atau PTUN berkaitan dengan penolakan yang

fiktif negatif apabila itu tidak dituangkan dalam suatu beschiking. Barangkali itu tambahan dari kami Yang Mulia melengkapi jawaban dari Bapak Kepala Badan.

Terima kasih.

Mengenai proses distribusi tanah, barangkali dari Direktur Land Reform dapat menjelaskan secara lebih rinci dan lengkap apabila diperkenankan.

Terima kasih.

103. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Boleh. Mungkin sedikit saja, disingkat.

104. PEMERINTAH : GUNAWAN SASMITA, MPA (DIRT LAND REFORM, BPN)

Mohon izin Pak Kepala, Majelis Hakim yang mulia.

Bahwa pelaksanaan redistribusi tanah diatur yang merupakan Peraturan Pemerintah Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 adalah Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian.

Jadi bagi tanah-tanah kelebihan maksimum yang pemiliknya memenuhi kewajibannya dalam pengertian melaporkan dan menerima ganti kerugian, tanah tersebut dibagikan kepada para penggarapnya. Dan karena Pemerintah telah mengeluarkan uang untuk memberikan ganti kerugian, maka para penggarapnya itu juga membayar dengan mengansur selama 15 tahun. Apabila tanah-tanah tersebut jatuh pada negara, maka tanah tersebut menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara dan didistribusikan kepada penggarap yang ada di situ, petani penggarap dengan tidak membayar, karena Pemerintah sendiri tidak mengeluarkan uang untuk memberikan ganti kerugian.

Demikian Yang Mulia.

Terima kasih.

105. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.

Baik, nanti yang tadi disampaikan itu, powerpoint itu tadi, termasuk barangkali data-data yang belum disampaikan dari yang ditanya tadi, kalau masih ada bisa ditambahkan, itu penting sekali. Itu peraturan pemerintah yang tadi juga tolong copy-nya! Mualimin juga koordinasi dengan BPN, apa saja yang perlu tadi itu, yang disebut tadi.

Baik, sekarang saya persilakan Ibu Arie.

106. AHLI DARI PEMOHON : Prof. Dr. ARIE SUKANTI HUTAGALUNG, S.H.

Terima kasih atas kesempatannya.

Pertanyaannya saya akan coba jawab satu persatu, tetapi mungkin maklum kalau sudah Profesor suka lupa. Ada masalah sedikit saya, karena saya sedang flu.

Perbedaan antara bumi dan tanah. Pengertian bumi itu lebih luas daripada tanah. Dari segi yuridis yang disebut tanah oleh Undang-Undang Pokok Agraria adalah permukaan bumi, tetapi hak atas tanah yaitu penggunaan permukaan bumi sebagian dan di dalam dan di atas dalam bentuk-bentuk yang wajar dengan penggunaannya. Karena itu tidak pernah ada secara konkret, kemarin juga dibicarakan dalam pelaksanaan RUU Tata Ruang. Jadi tidak konkret sampai mana bisa digunakan yang disebut tanah dalam hak atas tanah itu.

Lalu mengenai Pasal 10, sekalian menjawab Yang Mulia Bapak Profesor Natabaya mengenai anggapan saya mengenai Pasal 10 bahwa itu bertentangan. Saya tidak melihat itu bertentangan dengan undang-undang yang sebelumnya, yang saya lihat adalah bertentangan dengan asas hukum. Asas hukumnya itu pada, kalau seseorang tanahnya diambil oleh negara, itu pada asasnya diberikan ganti rugi. Jadi saya melihat dari asas hukumnya itu dan mengaitkannya dengan hak asasi manusia. Ini terus terang ini pekerjaan rumah yang sulit buat saya menjelaskan, untuk membantu Pemohon, tetapi mungkin bisa dikaji lagi apa yang saya tulis, saya melihat ada asas hukum tanah dengan asas-asas penguasaan tanah. Sedangkan untuk pencabutan hak saja harus ada ganti rugi.

Mengenai efektifitas dari Undang-Undang Nomor 56, saya sudah meneliti sejak tahun 1979. Mungkin Prof. Jimly juga tahu saya mendatangi para penggarap sendiri, lokasi adalah di Kabupaten Minahasa Kecamatan Kerakas, lalu saya selalu mengadakan penelitian pustaka juga di University of Wisconsin, memang dari buku-buku bacaan di sana learn training center yang terbesar. Di sana saya lebih banyak mendapatkan buku di sana daripada Perpustakaan Universitas Indonesia.

Di sana terlihatlah bahwa Undang-Undang Nomor 56 tidak efektif. Jadi saya meragukan itu yang data yang diterima oleh BPN karena memang banyak seperti Pak Sujarwo itu menyatakan sendiri dan ada seorang Polandia Wolf Ladinsky juga bahwa itu land retribution itu tidak efektif, karena apa? Karena ada jangka waktu tiga bulan untuk melapor.

Di sana terlihatlah bahwa Undang-Undang Nomor 56 tidak efektif. Jadi saya meragukan itu yang data yang diterima oleh BPN karena memang banyak seperti Pak Sujarwo itu menyatakan sendiri dan ada seorang Polandia Wolf Ladinsky juga bahwa itu land retribution itu tidak efektif, karena apa? Karena ada jangka waktu tiga bulan untuk melapor.

Dalam dokumen RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-V/2007 (Halaman 37-50)

Dokumen terkait