• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISA DATA

3.1.2 Pemerintahan Nagari Setelah Diberlakukannya

Seiring dengan bergulirnya zaman Reformasi yang menuntut diberlakukan Otonomi Daerah dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang kemudian diundangkan dalam Lembaran Negara Nomor 60 Tahun 1999. Maka di Propinsi Smatera Barat disikapi dengan merespon keinginan masyarakat (terutama dari pemuka adat) untuk kembali ke Sistem Pemerintahan Nagari. Berbagai tantangan telah dihadapi dalam pelaksanaannya karena sudah 22 (dua puluh dua) tahun (dari tahun 1979 sampai tahun 2001) masyarakat Sumatera Barat kehilangan jati diri nagari sebagai pusat pemerintahan terendah.

3.2 MEKANISME PEREKRUTAN LEMBAGA-LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI NAGARI

Proses pemilihan Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN) dan Wali Nagari hampir sama prosesnya dengan Pemilihan Umum pada suatu negara demokrasi. Sistem Pemerintahan Nagari menerapkan sistem demokrasi langsung yaitu pemilihan langsung Wali Nagari oleh masyarakat melalui pemungutan suara. Pemilihan tersebut terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pencalonan dan tahap pemilihan yang melibatkan partisipasi dari seluruh komponen yang ada dalam nagari.

Sebelum pemilihan Wali Nagari, maka diadakan dulu memilihan BPAN sebagai lembaga legislatif nagari yang dicalonkan dari unsur Ninik Mamak (Kepala Suku), Alim Ulama, Cerdik Pandai (tokoh-tokoh intelektual atau cendikiawan), Bundo Kanduang (wakil dari tokoh-tokoh perempuan), utusan Jorong, serta utusan golongan yang ada dalam nagari. Jumlah anggota BPAN minimal 19 (sembilanbelas)

orang dan maksimal 25 (dua puluh lima) orang yang ditentukan berdasarkan jumlah penduduk nagari yang bersangkutan.

Setelah BPAN terbentuk, selanjutnya diadakan pemilihan Wali Nagari dengan tahap yang sama seperti pemilihan BPAN, yaitu tahap pencalonan dan pemilihan. Untuk pemilihan Wali Nagari ini, BPAN membentuk panitia pemilihan yang terdiri dari para anggota BPAN dan perangkat nagari yang diketuai langsung oleh Ketua BPAN.

Selanjutnya panitia pemilihan melakukan penjaringan bakal calon Wali Nagari sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Kemudian dilakukan penyeleksian bakal calon untuk ditetapkan menjadi calon sekurang-kurangnya dua calon, yang ditetapkan melalui Rapat Paripurna BPAN.

Tahap berikutnya adalah pemungutan suara pada tempat-tempat yang telah ditetapkan setelah terlebih dahulu panitia pemilihan memberitahukan kepada masyarakat siapa yang berhak memilih untuk menggunakan hak pilihnya. Setelah pemungutan suara berlangsung, panitia pemilihan umum melakukan penghitungan suara secara terbuka. Calon yang berhak dipilih adalah yang memperoleh suara terbanyak dan sekurang-kurangnya memperoleh suara 2/3 (dua pertiga) dari jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya.

Seandainya tidak ada satu orang pun calon yang memperoleh suara terbanyak, maka pemilihan ulang dapat dilakukan pada calon dengan perolehan suara terbanyak pertama dan kedua, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah penandatanganan berita acara pemilihan. Seandainya pada pemilihan ulang tetap tidak ada seorang pun kandidat yang memperoleh suara minimal 2/3 (dua pertiga) dari jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya, maka calon yang memperoleh suara terbanyak pertama langsung menjadi Wali Nagari terpilih.

Penetapan, pengukuhan dan pelantikan Wali Nagari dilakukan oleh Bupati, setelah terlebih dahulu ditetapkan dengan keputusan BPAN berdasarkan laporan Berita Acara Hasil Pemilihan dari Panitia Pemilihan Wali Nagari. Pemilihan Wali Nagari dilakukan selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Wali Nagari berakhir, secara langsung, umum, bebas, dan rahasia.45

Dalam melaksanakan tugasnya, Pemerintahan Nagari (Wali Nagari) tidak memiliki hubungan yang bersifat hirarkhi dengan Kecamatan, namun Wali Nagari menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya kepada Bupati melalui Camat. Dalam hal ini, Camat hanya bertindak sebagai perantara atau perpanjangan tangan Bupati di wilayah Kecamatan, yang berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap nagari serta mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan lintas nagari dalam wilahnya. Tetapi secara umum Wali Nagari tetap bertanggung jawab kepada rakyat melalui BPAN.

3.3 HUBUNGAN KERJA ANTARA PEMERINTAHAN KABUPATEN, KECAMATAN, PEMERINTAHAN NAGARI DAN LEMBAGA- LEMBAGA YANG ADA DALAM NAGARI

46

45

Perda Kabupaten Lima Puluh Kota. Op. Cit. hal.15-21

46

3.4 PERGESERAN YANG TERJADI ANTARA SISTEM PEMERINTAHAN DESA DENGAN SISTEM PEMERINTAHAN NAGARI

Tabel 8

PERGESERAN ANTARA SISTEM PEMERINTAHAN DESA DENGAN SISTEM PEMERINTAHAN NAGARI

N o Bentuk Pergeseran Dimensi Pergeseran

Pemerintahan Desa Pemerintahan Nagari

1 Kekuasaan 1. Jumlah dan

distribusi sumber daya

Tinggi dan terbatas Tinggi dan tersebar

2.Cakup kekuasaan

Meluas Terbatas

3. Konsep kekuasaan

Bersifat konkrit dan menyiratkan sifat kekuasaan yang sentralistik

Bersifat abstrak dan relatif, tapi punya batasan baik secara adat maupun dalam sistem pemerintahan 4. Tipe-tipe sumber daya yang dimiliki: a. Kekuasaan Fisik b.Kekuasaan ekonomi c.Kekuasaan normatif d. Kekuasaan keahlian Cenderung aktual Sangat tergantung bantuan dari pusat Mengacu pada hukum formal semata

Mengacu kepada petunjuk atasan

Bersifat potensial

Dikelola bersama untuk kepentingan anak nagari Mengacu pada hukum formal dan hukum adat Menimbulkan keterikatan emosional yang erat 5. Kapabilitas yang dimiliki : a. Kapabilitas Ekstraktif b.Kapabilitas regulatif c. Kapabilitas distributif d.Kapabilitas responsif Mengandalkan bantuan dari pusat

Adanya unsur pemaksaan untuk mencapai

kepatuhan masyarakat

Relatif terkonsentrasi pada seseorang

Cenderung rendah dalam mengakomodasi tuntutan dari masyarakat

Mendayagunakan potensi yang dimiliki oleh nagari serta pemanfaatan daya alokasi umum

Membutuhkan komitmen dari aparat untuk

membangun kepercayaan masyarakat yang sudah kecewa semasa Pemerintahan Desa Tersebar dalam masyarakat

Butuh komitmen yang lebih dalam menampung aspirasi masyarakat

6. Struktur Organisasi Pemerintahan : a. Satuan haluan dalam struktur organisasi pemerintahan b. Representatif dari satuan haluan c.Peranan satuan haluan dalam pemerintahan Lembaga Musyawarah Desa (LMD) Jumlah keanggotaan dibatasi (9-15 orang)

Hanya sebagai lembaga untuk mengesahkan Keputusan Desa, tidak berperan dalam

rekruitmen Kepala Desa dan tidak mempunyai peranan vital dalam menetapkan Keputusan Desa

Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN)

Walaupun dibatasi tapi sudah dinilai representatif oleh masyarakat dengan jumlah antara 11-33 orang Mempunyai fungsi lain, seperti legislasi, konsultatif, kontroling dan sangat berperan dalam pemilihan Wali Nagari 7. Besarnya kekuasaan (peranan dalam kehidupan politik)

Peran serta dimobilisasi dari pusat

Peran serta sukarela

2 Kepemimpinan 1. Posisi puncak kepemimpinan

Kepala Desa Wali Nagari

2. Tipe kepemimpinan

Cenderung otoriter Berusaha

mengembangkan nilai- nilai demokratis 3. Kedudukan pemimpin dalam pemerintahan Pemimpin lebih berorientasi formal Terjadi penyeimbangan antara pemimpin formal dan informal

4. Keterwakilan kepentingan oleh pemimpin

Kurang terwakili Masyarakat merasa sudah

terwakili 5. Pertanggung

jawaban

Vertikal Vertikal dan Horizontal

6. Konfigurasi elit

Cenderung terpusat ditangan Kepala Desa sebagai elit yang memutuskan Dinamis, berinteraksi dengan lingkungan budaya masyarakat 7. Keterlibatan pemimpin informal

Cenderung melemah atau kurang terlibat Tinggi 8. Pemimpin yang paling berkuasa dalam struktur pemerintahan

Kepala Desa Keseimbangan antara

BPAN dan Wali Nagari

9. Komunikasi antar elit

Searah dan kaku Lebih fleksibel

10. Sumber legitimasi

Mengutamakan sumber legitimasi eksternal

Legitimasi dua arah (eksternal dan intenal)

(Sumber : Jurnal Analisa Politik. Volume 2 Nomor 7. Padang : Laboratorium Ilmu Politik Unand. 2004. hal.69-70)

Perubahan dan pergeseran dalam struktur organisasi pemerintahan yang dapat dicermati dari tabel 8 diatas, dengan memperbandingkan peraturan tentang praktek pemerintahan ketika masih dalam bentuk desa yaitu Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979, dengan peraturan yang mengatur tentang praktek Pemerintahan Nagari khususnya di daerah penelitian yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 1 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari. Lebih jelasnya perubahan dan pergeseran itu akan dilihat dengan membandingkan struktur organisasi Pemerintahan Desa yang diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 dibandingkan dengan Pemerintahan Nagari serta pergeseran dalam hal kepemimpinan dan kekuasaan.

Dalam Sistem Pemerintahan Desa secara rill penyelenggaraan struktur kekuasaan Pemerintahan Desa terletak di tangan Kepala Desa, sedangkan Lembaga Musyawarah Desa (LMD) hanya dijadikan lembaga yang melegalisasi setiap keputusan yang telah ditetapkan oleh Pemerintahan Desa. Dalam masa Pemerintahan Desa kekuasaan personal dan keahlian dipegang oleh Kepala Desa, dimana Kepala Desa hadir dengan kekuasaan mutlak.

Kondisi tersebut terkait langsung dengan filosofi dan orientasi dari Undang- undang Nomor 5 Tahun 1979 yang terlalu menempatkan Kepala Desa sebagai figur sentral. Pasal 17 ayat 2 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 menyebutkan bahwa, karena jabatannya Kepala Desa menjadi Ketua LMD. Kedudukan Kepala Desa yang demikian ditopang juga oleh duduknya Sekretaris Desa menjadi Sekretaris LMD.47

Selain menjabat Ketua LMD, Kepala Desa juga menjabat Ketua Umum Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Hal tersebut diatur dalam Keputusan Mendagri Nomor 27 Tahun 1984 Pasal 4. Semua peraturan tersebut membuat

47

kekuasaan Kepala Desa menjadi dominan dalam Sistem Pemerintahan Desa. Dengan kata lain, peraturan-peraturan tersebut telah mengantarkan Kepala Desa menjadi penguasa tunggal di desa.

Kecederungan seperti yang telah diungkapkan diatas dimungkinkan lagi oleh pasal 16 dan pasal 10 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 yang menyebutkan bahwa Kepala Desa diangkat dan diberhentikan oleh Bupati atas nama Gubernur. Oleh karena itu kendati Kepala Desa dipilih oleh warga desa, namun Kepala Desa memberikan pertanggungjawabannya kepada Bupati. Setelah memberikan pertanggungjawaban kepada Bupati, Kepala Desa hanya menyampaikan keterangan pertanggungjawaban tersebut kepada LMD yang notabene keduanya adalah dia sendiri. Oleh karena itu, Kepala Desa lebih tampil sebagai pemimpin formal dan menempatkan dirinya sebagai aparat pemerintah dan bukan sebagai pemimpin rakyat atau lebih berorientasi ke atas ketimbang pada kepentingan rakyat desa.

Semuanya itu sangat berbeda dengan kondisi Sistem Pemerintahan Nagari sekarang ini. Dimana Wali Nagari tidak lagi mengenal prinsip “asal bapak senang’, tetapi segala sesuatunya selalu dibicarakan terlebih dahulu dan hak masyarakat sekarang sudah mulai dihargai dengan berfungsinya BPAN sebagai perwakilan masyarakat menggantikan LMD dengan berusaha mengembangkan nilai-nilai demokrasi. Keanggotan LMD berbeda dengan keanggotaan BPAN. Keanggotaan LMD terdiri atas Kepala-kepala Dusun, pimpinan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan pemuka-pemuka masyarakat di desa yang bersangkutan. Sedangkan keanggotaan BPAN dipilih dari unsur Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai, Bundo Kanduang (wakil dari tokoh-tokoh perempuan Minagkabau), utusan Jorong serta utusan pemuda. Keanggotaan BPAN diresmikan secara administratif dengan

keputusan Bupati. BPAN juga merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila sebagai mitra pemerintahan nagari.

Selain itu dalam hal sumber daya ekonomi, Sistem Pemerintahan Nagari mengelola sendiri pendapatan nagari dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki oleh nagari serta pemanfaatan daya alokasi umum demi kepentingan anak nagari. hal ini berbeda dengan Sistem Pemerintahan Desa dimana sumber daya ekonominya sangat bergantung dari bantuan pusat. Pada saat Pemerintahan Desa sangat sulit untuk mengharapkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sulit ditemukan masyarakat yang membangun dengan swadaya ketika itu. Sekarang dengan perasaan memiliki nagari yang tinggi swadaya masyarakat juga menjadi tinggi yang ditambah dengan partisipasi “anak rantau” untuk membangun nagari.

Adapun dalam pemilihan Kepala Desa dan pemilih Wali Nagari juga mengalami perbedaan dan pergeseran yaitu dalam proses pemilihan Kepala Desa dalam Sistem Pemerintahan Desa diawali dengan diadakannya musyawarah LMD untuk menyusun panitia pencalonan dan persyaratan administratif Bakal Calon serta segala sesuatu yang bersifat teknis berkenaan dengan pemilihan Kepala Desa. Setelah itu, hasil musyawarah diajukan dan disahkan oleh Bupati melalui Camat. Dalam hal ini hasil musyawarah LMD tersebut baru dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Bupati.

Hasil kerja panitia tingkat desa kemudian di proses oleh suatu kepanitiaan yang juga terdiri dari panitia pengawas yang anggotanya terdiri dari Camat selaku ketua dan dua orang yang terdiri dari unsur ABRI, serta juga ada panitia peneliti dan penguji yang terdiri dari sekretaris wilayah tingkat II, kepala bagian pemerintahan, wakil dari bagian hukum, wakil dari kantor sosial politik, dan wakil dari kantor pembangunan desa. Dari komposisi tersebut tidak terlihat peran serta masyarakat

dalam tahap awal proses pemberian legitimasi. Pada tingkat ini dilakukan penyeleksian berkas calon dan ujian penyaringan calon-calon Kepala Desa. Bagi Bakal Calon Kepala Desa yang dinyatakan lulus, diperkenankan dan disahkan oleh Bupati sebagai calon dalam pemilihan Kepala Desa yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sedangkan pemilihan Wali Nagari dalam Pemerintahan Nagari, dapat dijelaskan sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 1 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Nagari. Wali Nagari dipilih langsung oleh masyarakat nagari dari calon yang telah memenuhi syarat. Untuk pencalonan dan pemilihan Wali Nagari, BPAN membentuk panitia pemilihan yang terdiri dari anggota BPAN dan Perangkat Nagari. Karena jabatannya, Ketua BPAN dan Sekretaris BPAN adalah ketua pemilihan yang merangkap sebagai anggota dan sekretaris pemilihan tetapi tidak merangkap sebagai anggota. Panitia pemilihan dibentuk dan ditetapkan dengan keputusan Ketua BPAN. Dalam hal pengesahan ini terdapat perbedaan legalitas, dimana panitia pemilihan dalam Pemerintahan Desa disahkan oleh Bupati melalui Camat. Sedangkan dalam Pemerintahan Nagari, pemerintah di atas tidak lagi ikut campur tangan tetapi menyerahkannya kepada rakyat yang memang memiliki legitimasi.

Panitia pemilihan yang telah ditetapkan melalui keputusan BPAN mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Melakukan penyaringan Bakal Calon Wali Nagari,

2. Melakukan pendaftaran pemilihan untuk selanjutnya disahkan oleh ketua panitia pemilihan,

3. Melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai Bakal Calon berdasarkan aturan yang ditetapkan,

4. Melakukan kegiatan teknis pemilihan Bakal Calon Wali Nagari

5. Menjadi penanggungjawab penyelenggaraan pemilihan calon Wali Nagari.48

Pemilihan Wali Nagari dilakukan dengan melakukan pemilihan terhadap calon Wali Nagari dengan sistem pemilihan yang langsung, umum, bebas, dan rahasia sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Calon Wali Nagari yang terpilih sebagai Wali Nagari dengan keputusan BPAN berdasarkan laporan berita acara hasil pemilihan dari panitia pemilihan Wali Nagari.

Kenyataan seperti inilah yang menjadikan kekuasaan seorang Wali Nagari mendapatkan legitimasi secara internal, yaitu dari masyarakat yang ada di wilayah nagari. Kemudian Wali Nagari yang telah ditetapkan oleh BPAN, diusulkan kepada Bupati untuk mengeluarkan Keputusan Bupati tentang pengukuhan calon Wali Nagari terpilih sebagai Wali Nagari, dan pada saat ini Wali Nagari juga mendapatkan legitimasi secara eksternal yaitu dari pejabat yang ada di atasnya.

48

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini adalah :

1. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah di Indonesia telah melahirkan penerapan kembali Sistem Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Sumatera Barat Nomor 9 Tahun 2000 tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari yang diikuti dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 01 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Nagari,

2. Pergantian sistem pemerintahan terendah di Sumatera Barat dari Sistem Pemerintahan Desa menjadi Sistem Pemerintahan Nagari telah menimbulkan pergeseran-pergeseran, baik dalam segi kekuasaan maupun dalam hal kepemimpinan,

3. Sistem Pemerintahan Nagari yang otonom dan demokratis sangat efektif dalam mengfungsikan lembaga-lembaga adat yang ada dalam masyarakat Minangkabau dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Pemerintahan Nagari di Nagari Guguak VIII Koto khususnya,

4. Dampak yang dirasakan masyarakat di Nagari Guguak VIII koto dalam penerapan kembali Sistem Pemerintahan Nagari diantaranya adalah semakin meningkatnya kualitas pelayanan umum dengan adanya pelimpahan sebagian wewenang atau urusan pemerintahan antara Kabupaten, Kecamatan

dan Nagari dalam meningkatkan partisipasi dan pendidikan politik masyarakat, meningkatkan solidaritas, dan kemandirian masyarakat.

4.2 SARAN

Setelah melihat penerapan Sistem Pemerintahan Nagari di Nagari Guguak VIII Koto, dan pergeseran-pergeseran yang terjadi antara Sistem Pemerintahan Desa menjadi Sistem Pemerintahan Nagari, serta memperhatikan kendala-kendala yang masih dihadapi, maka peneliti menyampaikan saran sebagai berikut :

1. Kendala yang selalu dihadapi dalam proses pembangunan di Indonesia termasuk di Nagari Guguak VIII Koto Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat adalah rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) baik aparatur pemerintah maupun rakyat, maka peningkatan kualitas SDM harus mendapat perhatian serius dari pemerintah dan harus menjadi prioritas utama,

2. Memberikan pemahaman kepada masyarakat Nagari Guguak VIII Koto dan masyarakat Minangkabau umumnya tentang Sistem Pemerintahan Nagari, agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami atau menafsirkan konsep tersebut, maka perlu dilakukan sosialisasai yang menyeluruh, sistematis dan terarah kepada masyarakat,

3. Nagari Guguak VIII Koto harus lebih mengembangkan potensi yang dimiliki demi kemajuan masyarakat nagari, serta memenuhi semua kebutuhan fasilitas umum, mengingat semakin bertambah padatnya jumlah penduduk di nagari,

4. Masyarakat nagari harus bisa memilih figur Wali Nagari yang benar-benar memahami Sistem Pemerintahan Nagari dan adat-istiadat yang berlaku,

5. Lebih memfungsikan lagi lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada di nagari supaya pelaksanaan Sistem Pemerintahan Nagari sesuai dengan yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Busroh, Abu Daud., Ilmu Negara, Jakarta : Bumi Aksara, 1993.

Joeniarto., Perkembangan Pemerintah Lokal , Jakarta : Bumi Aksara, 1992.

LKAAM., Bunga Rampai Pengetahuan Adat Minangkabau, Padang :Yayasan Sako Batuah, 2000.

LKAAM, Pelajaran Adat Minangkabau, Bandung : Tropic Offset, 1997.

LKAAM, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Padang : Surya Citra Offset, 2002.

Murtimus., Tata Negara, Payakumbuh : SMU N 1 Guguk Press, 2003.

Navis,A.A., Alam Takambang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau, Jakarta : Grafiti Pers, 1984.

Nasution,A.A., Pangamalan Budaya Dalihan Na Tolu dalam Pengelolaan Pemerintahan Daerah Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kota Padangsidempua, Jakarta :Fortasman, 2003.

N. Dunn, William., Analisa Kebiajakn Publik, Yogyakarta : PT Hanindita Graha Widya, 1999.

Pador, Zenwen, Kembali ke Nagari : Batuka Baruak Jo Cigak ?, Jakarta : PT Sinar Grafika,2002.

Syamsuddin, Adrian., Proses Penetapan Kebijakan Publik, Jakarta : Airlangga, 1984. Sutan, M. Amir., Adat Minangkabau, Tujuan dan Pola Hidup Orang Minang,

Jakarta:Mutiara Sumber Widya, 1997.

Winarno, Budi., Teori dan Proses Kebijakan Publik, Yogyakarta : Media Pressindo, 2004.

Peraturan dan Perundang-undangan :

Undang –undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Peraturan Daerah Sumatera Barat Nomor 09 Tahun 2000 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari

Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 01 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari

Tata Tertib DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota No 18/KPTS-DPRD/LK/XII-2004

Internet : Wawancara :

Wawancara dengan Chandrawita (Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota), pada tanggal 9 Oktober 2007 di Kantor DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.

Wawancara dengan Elvi Yandri (Staf Sekretariat / Pendamping Komosi A DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota), pada tanggal 20 September 2007 di Kantor DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.

Wawancara dengan Rismardi (Wali Nagari Guguak VIII Koto, Kabupaten Lima Puluh Kota), pada tanggal 7 Januari 2008 di Kantor Wali Nagari Guguak VIII Koto Kabupaten Lima Puluh kota Sumatera Barat

Wawancara dengan Siti Qadijah (Ketua Bundo Kanduang Kabupaten Lima Puluh Kota), pada tanggal 21 September 2007 di Jl. Tan Malaka Jorong Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.

Dokumen terkait