IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pemetaan Klasifikasi Iklim Oldeman dan Schmidth-Fergusson
Dari 265 data curah hujan yang digunakan dengan menggunakan software GIS maka didapat hasil peta klasifikasi iklim Oldeman (Gambar 5 dan Tabel 6) dan Schmidth-Fergusson (Gambar 6 dan Tabel 7).
Gambar 5. Peta Klasifikasi Iklim Oldeman Tahun 2009
Tabel 6. Klasifikasi Iklim Oldeman (Tahun 2009) di Masing-masing Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Utara
KLASIFIKASI IKLIM KLASIFIKASI IKLIM
OLDEMAN TAHUN 2009 OLDEMAN TAHUN 2009
1 Langkat A1, B1, C1, D1, D2, E2, E3 15 Tobasa C1, D1, D2, E1, E2
2 Binjai B1, C1, D1, D2 16 Samosir C1, D1, E1, E2
3 Deli Serdang C1, D1, D2, E2, E3 17 Humbahas A1, C1, D1, E1, E2
4 Medan C1, D1, D2, E2 18 Tapanuli Utara A1, D1, E1, E2
5 Serdang Bedagai C1, D1, D2, E1, E2, E3 19 Tapanuli Tengah A1, C1, D1
6 Tebing Tinggi D1, E1, E2, E3 20 Labuhan Batu C1, D1, E1
7 Karo C1, D1, D2, E1, E2 21 Tapanuli Selatan A1, C1, D1, E1, E2
8 Dairi C1, D1, D2, E1, E2 22 Padang Sidempuan D1, E1, E2
9 Pak-Pak Barat C1, D1, E1 23 Padang Lawas Utara D1, E1, E2
10 Simalungun B1, C1, D1, D2, E1, E2, E3 24 Padang Lawas D1, D2, E1, E2
11 Pematang Siantar C1, D1 25 Mandailing Natal C1, D1, E1, E2
12 Asahan C1, D1, D2, E1, E2, E3 26 Nias A1, C1, D1
13 Tanjung Balai D1, D2, E2 27 Nias Selatan C1, D1
14 Batu Bara C1, D1, D2, E1, E2, E3
Gambar 6. Peta Klasifikasi Iklim Schmidth-Fergusson
Tabel 7. Klasifikasi Iklim Schmidth-Fergusson di Masing-masing Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Utara
KLASIFIKASI IKLIM KLASIFIKASI IKLIM
SCHMIDTH-FERGUSSON SCHMIDTH-FERGUSSON
1 Langkat A, B 15 Tobasa A, B, C, D, E
2 Binjai A, B 16 Samosir A, B, C
3 Deli Serdang A, B, C 17 Humbahas A, B, C
4 Medan A, B 18 Tapanuli Utara A, B
5 Serdang Bedagai A, B, C, D 19 Tapanuli Tengah A, B
6 Tebing Tinggi B, C 20 Labuhan Batu A, B
7 Karo B, C, D 21 Tapanuli Selatan A, B
8 Dairi A, B, C, D 22 Padang Sidempuan B
9 Pak-Pak Barat A, B 23 Padang Lawas Utara A, B, C
10 Simalungun A, B, C 24 Padang Lawas B, C
11 Pematang Siantar A 25 Mandailing Natal A, B, C
12 Asahan A, B, C, D 26 Nias A
13 Tanjung Balai B 27 Nias Selatan A, B
14 Batu Bara B, C, D
Tabel 8. Klasifikasi Iklim Oldeman (Tahun 2009 dan 1993)
KLASIFIKASI IKLIM KLASIFIKASI IKLIM
OLDEMAN TAHUN 1993 OLDEMAN TAHUN 2009
1 Langkat A, B1, C1, D2, E2 A1, B1, C1, D1, D2, E2, E3
2 Binjai B1, C1, D1 B1, C1, D1, D2
3 Deli Serdang A, D1, E2 C1, D1, D2, E2, E3
4 Medan D1 C1, D1, D2, E2
5 Serdang Bedagai A, C1, D1, E2 C1, D1, D2, E1, E2, E3
6 Tebing Tinggi D1, E2 D1, E1, E2, E3
7 Karo D1, E2 C1, D1, D2, E1, E2
8 Dairi C1, D1 C1, D1, D2, E1, E2
9 Pak-Pak Barat C1, D2 C1, D1, E1
10 Simalungun A, C1, D1, E2 B1, C1, D1, D2, E1, E2, E3
11 Pematang Siantar C1 C1, D1
12 Asahan C1, D1, E2 C1, D1, D2, E1, E2, E3
13 Tanjung Balai D1, E2 D1, D2, E2
14 Batu Bara E2 C1, D1, D2, E1, E2, E3
15 Tobasa C1, D1, E2 C1, D1, D2, E1, E2
16 Samosir E2 C1, D1, E1, E2
17 Humbahas A, D1, E2 A1, C1, D1, E1, E2
18 Tapanuli Utara A, C1, D1 A1, D1, E1, E2
19 Tapanuli Tengah A A1, C1, D1
20 Labuhan Batu C1, D1 C1, D1, E1
21 Tapanuli Selatan A, C1, D1, E2 A1, C1, D1, E1, E2
22 Padang Sidempuan E2 D1, E1, E2
23 Padang Lawas Utara C1, D1, E2 D1, E1, E2
24 Padang Lawas D1, E2 D1, D2, E1, E2
25 Mandailing Natal A, E2 C1, D1, E1, E2
26 Nias B1 A1, C1, D1
27 Nias Selatan B1 C1, D1
NO KAB/KOTA
Berdasarkan hasil rincian tabel di atas dapat dilihat bahwa peta Oldeman tahun 1993 telah mengalami banyak perubahan, dengan kecenderungan terjadinya pertambahan jumlah klasifikasi Oldemannya. Pada Klasifikasi iklim Oldeman tahun 1993 terdapat 6 klasifikasi (A, B1, C1, D1, D2, E2) sedangkan pada Klasifikasi Oldeman tahun 2009 terdapat 8 klasifikasi (A1, B1, C1, D1, D2, E1, E2, E3). Hal ini menunjukkan bahwa di Sumatera Utara telah terjadi pergeseran pola hujan dalam
rentang waktu 1970-2008. Jika dibandingkan dari penampilan petanya dilihat dengan jelas bahwa terjadi penurunan luasan terutama wilayah klasifikasi iklim C1 dan A1, pada klasifikasi iklim 2009 (Gambar 5) luasan klasifikasi iklim C1 dan A1 menjadi lebih kecil dibandingkan dengan peta Oldeman tahun 1993 (Gambar 7).
Gambar 7. Peta Klasifikasi Iklim Oldeman Tahun 1993
Hasil pengolahan data curah hujan tahun 1970-2008 didapatkan klasifikasi Oldeman sebagai berikut:
a. Klasifikasi Oldeman A1
Klasifikasi iklim Oldeman tipe A1 ini terdapat di Kabupaten/Kota: Langkat, Humbahas, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Nias.
Gambar 8. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe A1
Pola hujan pada Tipe A1 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 10 bulan (Maret-Desember) dan tidak terjadi hujan yang < 100 mm. Jumlah curah hujan tahunannya antara 3108-4388 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 3822 mm. Zona agroklimat pada Tipe A1 adalah sesuai untuk padi terus menerus tetapi produksi kurang karena pada umumnya kerapatan fluks radiasi surya rendah sepanjang tahun.
b. Klasifikasi Oldeman B1
Klasifikasi iklim Oldeman tipe B1 ini terdapat di Kabupaten/Kota: Langkat, Binjai, dan Simalungun.
Gambar 9. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe B1
Pola hujan pada Tipe B1 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 8 bulan (Mei- Desember) dan tidak terjadi hujan yang < 100 mm. Jumlah curah hujan tahunannya antara 2595-3104 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 2933 mm. Zona agroklimat pada Tipe B1 adalah sesuai untuk padi terus menerus dengan perencanaan awal musim tanam yang baik.
c. Klasifikasi Oldeman C1
Klasifikasi iklim Oldeman tipe C1 ini terdapat di Kabupaten/Kota: Langkat, Binjai, Deli Serdang, Medan, Serdang Bedagai, Karo, Dairi, Pak-Pak Barat, Simalungun, Pematang Siantar, Asahan, Batu Bara, Tobasa, Samosir, Humbahas, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias dan Nias Selatan.
Gambar 10. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe C1
Pola hujan pada Tipe C1 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 5 bulan (Agustus-Desember) dan terjadi hujan yang < 100 mm pada bulan Pebruari. Jumlah curah hujan tahunannya antara 1750-3957 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 2729 mm. Zona agroklimat pada Tipe C1 adalah dapat tanam padi sekali dan palawija dua kali setahun.
d. Klasifikasi Oldeman D1
Klasifikasi iklim Oldeman tipe D1 ini terdapat di seluruh Kabupaten/Kota Sumatera Utara.
Gambar 11. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe D1
Pola hujan pada Tipe D1 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 4 bulan (Agustus-Nopember) dan terjadi hujan yang < 100 mm pada bulan Pebruari. Jumlah curah hujan tahunannya antara 1705-3085 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 2274 mm. Zona agroklimat pada Tipe D1 adalah tanam padi umur pendek satu kali dan biasanya produksi bisa tinggi karena kerapatan fluks radiasi surya tinggi, waktu tanam palawija cukup.
e. Klasifikasi Oldeman D2
Klasifikasi iklim Oldeman tipe D2 ini terdapat di Kabupaten/Kota: Langkat, Binjai, Deli Serdang, Medan, Serdang Bedagai, Karo, Dairi, Simalungun, Asahan, Tanjung Balai, Tobasa, dan Padang Lawas.
Gambar 12. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe D2
Pola hujan pada Tipe D2 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 3 bulan (September-Nopember) dan curah hujan yang < 100 mm berturut-turut terjadi selama 2 bulan (Pebruari-Maret). Jumlah curah hujan tahunannya antara 1749-2409 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 1911 mm. Zona agroklimat pada Tipe D2 adalah hanya mungkin tanam padi satu kali atau palawija sekali setahun, tergantung pada adanya persediaan air irigasi.
f. Klasifikasi Oldeman E1
Klasifikasi iklim Oldeman tipe E1 ini terdapat di Kabupaten/Kota: Serdang Bedagai, Binjai, Tebing Tinggi, Karo, Dairi, Pak-Pak Barat, Simalungun, Asahan, Batu Bara, Tobasa, Samosir, Humbahas, Tapanuli Utara, Labuhan Batu, Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, Padang Lawas Utara, Padang Lawas dan Mandailing Natal.
Gambar 13. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe E1
Pola hujan pada Tipe E1 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 2 bulan (September-Oktober) dan terjadi hujan yang < 100 mm pada bulan Pebruari. Jumlah curah hujan tahunannya antara 1615 – 2145 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 1922 mm. Zona agroklimat pada Tipe E1 adalah daerah ini umumnya terlalu kering, mungkin hanya dapat satu kali tanam palawija, itu pun tergantung pada ada tidaknya hujan.
g. Klasifikasi Oldeman E2
Klasifikasi iklim Oldeman tipe E2 ini terdapat di Kabupaten/Kota: Langkat, Deli Serdang, Medan, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Karo, Dairi, Simalungun, Asahan, Tanjung Balai, Batu Bara, Tobasa, Samosir, Humbahas, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, Padang Lawas Utara, Padang Lawas dan Mandailing Natal.
Gambar 14. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe E2
Pola hujan pada Tipe E2 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 2 bulan (September-Oktober) dan curah hujan yang < 100 mm berturut-turut terjadi selama 2 bulan (Januari-Pebruari). Jumlah curah hujan tahunannya antara 1172-2233 mm, rata- rata jumlah curah hujan tahunannya 1685 mm. Zona agroklimat pada Tipe E2 adalah daerah ini umumnya terlalu kering, mungkin hanya dapat satu kali tanam palawija, itu pun tergantung pada ada tidaknya hujan.
h. Klasifikasi Oldeman E3
Klasifikasi iklim Oldeman tipe E3 ini terdapat di Kabupaten/Kota: Deli Serdang, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Simalungun, Asahan, dan Batu Bara.
Gambar 15. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Oldeman Tipe E3
Pola hujan pada Tipe E3 seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 200 mm berturut-turut terjadi selama 1 bulan (Oktober) dan curah hujan yang < 100 mm berturut-turut terjadi selama 4 bulan (Januari-April). Jumlah curah hujan tahunannya antara 1027-1823 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 1488 mm. Zona agroklimat pada Tipe E3 adalah daerah ini umumnya terlalu kering, mungkin hanya dapat satu kali tanam palawija, itu pun tergantung pada ada tidaknya hujan.
Hasil pengolahan data curah hujan tahun 1970-2008 didapatkan klasifikasi Schmidth-Fergusson sebagai berikut:
a. Klasifikasi Schmidth-Fergusson A
Klasifikasi iklim Schmidth-Fergusson tipe A ini terdapat hampir di seluruh Kabupaten/Kota Sumatera Utara, kecuali: Tebing Tinggi, Karo, Tanjung Balai, Batu Bara, Padang Sidempuan dan Padang Lawas.
Gambar 16. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Schmidth-Fergusson Tipe A
Pola hujan pada Tipe A seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 100 mm terjadi selama 12 bulan (Januari- Desember) dan tidak terjadi hujan yang < 60 mm. Jumlah curah hujan tahunannya antara 1705-4338 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 2687 mm. Rata-rata jumlah bulan keringnya adalah 1 bulan. Zona agroklimat pada Tipe A adalah daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropis.
b. Klasifikasi Schmidth-Fergusson B
Klasifikasi iklim Schmidth-Fergusson tipe B ini terdapat hampir di seluruh Kabupaten/Kota Sumatera Utara, kecuali: Pematang Siantar, dan Nias.
Gambar 17. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Schmidth-Fergusson Tipe B
Pola hujan pada Tipe B seperti terlihat pada grafik di atas menunjukan bahwa jumlah curah hujan yang > 100 mm terjadi selama 12 bulan (Januari-Desember) dan tidak terjadi hujan yang < 60 mm. Jumlah curah hujan tahunannya antara 1480-2751 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 1931 mm. Rata-rata jumlah bulan keringnya adalah 2 bulan. Zona agroklimat pada Tipe B adalah daerah basah dengan vegetasi hutan hujan tropis.
c. Klasifikasi Schmidth-Fergusson C
Klasifikasi iklim Schmidth-Fergusson tipe C ini terdapat di Kabupaten/Kota: Deli Serdang, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Karo, Dairi, Simalungun, Asahan, Batu Bara, Tobasa, Samosir, Humbahas, Padang Lawas Utara, Padang Lawas dan Mandailing Natal.
Gambar 18. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi Schmidth-Fergusson Tipe C
Pola hujan pada Tipe C seperti terlihat pada grafik di atas menunjukan bahwa jumlah curah hujan yang > 100 mm terjadi selama 10 bulan (Januari-Mei; Agustus- Desember) dan tidak terjadi hujan yang < 60 mm. Jumlah curah hujan tahunannya antara 1283-2083 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 1629 mm. Rata-rata jumlah bulan keringnya adalah 3 bulan. Zona agroklimat pada Tipe C adalah daerah agak basah dengan vegetasi hutan rimba, diantaranya terdapat jenis vegetasi yang daunnya gugur pada musim kemarau, misalnya Jati.
d. Klasifikasi Schmidth-Fergusson D
Klasifikasi iklim Schmidth-Fergusson tipe D ini terdapat di Kabupaten/Kota: Serdang Bedagai, Karo, Dairi, Asahan, Batu Bara dan Tobasa.
Gambar 19. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi
Schmidth-Fergusson Tipe D
Pola hujan pada Tipe D seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 100 mm terjadi selama 4 bulan (September- Desember) dan tidak terjadi hujan yang < 60 mm. Jumlah curah hujan tahunannya antara 1172-1319 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 1213 mm. Rata-rata jumlah bulan keringnya adalah 5 bulan. Zona agroklimat pada Tipe D adalah daerah sedang dengan vegetasi hutan musim.
e. Klasifikasi Schmidth-Fergusson E
Klasifikasi iklim Schmidth-Fergusson tipe E ini terdapat di Kabupaten Tobasa.
Gambar 20. Grafik (Histogram) Rataan Curah Hujan pada Klasifikasi
Schmidth-Fergusson Tipe E
Pola hujan pada Tipe E seperti terlihat pada grafik di atas menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang > 100 mm terjadi selama 4 bulan (September-Desember), curah hujan hujan yang < 60 mm terjadi selama 3 bulan (Januari-Maret). Jumlah curah hujan tahunannya antara 1027-1088 mm, rata-rata jumlah curah hujan tahunannya 1058 mm. Rata-rata jumlah bulan keringnya adalah 7 bulan. Zona agroklimat pada Tipe E adalah daerah agak kering dengan vegetasi hutan Sabana.
Pada peta Oldeman hasil olahan tahun 2009 terlihat bahwa terjadi penurunan luasan wilayah tipe iklim dibanding peta Oldeman tahun 1993. Pada peta Oldeman tahun 1993 seluruh Tapanuli Tengah sampai ke daerah pesisir Tapsel dan Madina adalah tipe iklimnya A, sedangkan pada peta Oldeman tahun 2009 Tapanuli Tengah hanya sebagian kecil yang tipenya A, selebihnya didominasi oleh tipe iklim C1. Daerah pesisir Tapsel berubah menjadi C1 dan pesisir Madina berubah menjadi D1. Kepulauan Nias dari tipe B1 pada peta Oldeman tahun 1993 menjadi dominan C1 dan
D1. Namun secara umum wilayah Sumatera Utara didominasi oleh tipe D1. Adanya informasi perubahan ini tentunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk mengantisipasi kejadian yang ekstrim yang berdampak negatif dengan teknik adaptasi (penyesuaian seluruh kegiatan terhadap kondisi iklim). Menurut IPCC (2001) kemampuan adaptasi (adaptive capacity) merujuk pada kemampuan dari suatu sistem (misalnya pertanian) untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap keragaman iklim saat ini dan akan datang, termasuk kejadian iklim ekstrim, sehingga dampak negatif yang akan ditimbulkan dapat ditekan atau sebaliknya kondisi tersebut dapat disiasati sehingga menimbulkan dampak yang positif. Jadi kemampuan adaptasi tidak hanya menunjukkan kemampuan untuk menekan dampak negatif dari suatu kejadian, tetapi juga kemampuan untuk memanfaatkan potensinya sehingga menimbulkan dampak yang positif.
4.3. Evaluasi Kesesuaian Klasifikasi Iklim Schmidth-Fergusson untuk Bidang