• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMETAAN PERMASALAHAN UNTUK PENENTUAN PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

Dalam dokumen RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) (Halaman 31-36)

No Masalah Pokok Masalah Akar Masalah

1 2 3 4

1 Cakupan Meningkatnya Level Maturitas ULP (Level 5 tertinggi)

Meningkatkan kematangan organisasi yang berpengaruh pada semakin membaiknya proses pengadaan barang dan jasa pemerintah sehingga dapat mengurangi stigma terkait pengadaan barang dan jasa pemerintah

Peraturan Regulasi Tingkat Daerah Tentang Struktur Organisasi Tata Kelaksanaan

2 potensi penolakan dari berbagai pihak terlibat untuk mengedepankan orientasi pelaksanaan prosedural lebih ke arah orientasi pada proses yang sesuai dengan regulasi sebagai akibat dari organisasi pengadaan barang dan jasa pemerintah yang semakin tinggi level maturitasnya ketimbang berorientasi pada hasil akhir saja

Tugas dan fungsi sudah didefinisikan dan sudah berbasis beban kerja serta sudah sesuai peraturan. Sudah ada pembagian tugas dan fungsi antar unit kerja secara seimbang. Pelaksanaan distribusi pekerjaan sudah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Distribusi pekerjaan, monitoring evaluasi dilakukan secara komputerisasi atau berbasis teknologi informasi

Perbandingan jumlah paket terbanyak yang dikelola pokja/anggota pokja dengan jumlah paket tersedikit yang dikelola pokja/anggota dibawah 1,1, dan kategori pekerjaan dapat dikerjakan oleh seluruh Pokja

3 manajemen resiko tidak ada pada proses perencanaan dan pembinaan

sudah menetapkan prosedur baku (SOP) pengelolaan resiko dalam

pengadaan barang/jasa dan sudah dilakukan monitoring evaluasi

pelaksanaannya serta sudah berbasis teknologi informasi

Memiliki Dokumen SOP pengelolaan resiko yang ditetapkan dan telah memiliki dokumen penerapan/lem bar kontrol oleh anggota pokja dan telah dilaksanakan dengan berbasis teknologi informasi Standarisasi proses pengadaan barang

dan jasa pemerintah dalam melaksanakan proses pengadaan barang dan jasa untuk dapat tetap memberikan

pelayanan yang standar tanpa harus melihat siapa aparatur yang melayani

Memiliki maklumat pelayanan yang didukung teknologi informasi

Bagan alur kerja tentang pemilihan penyedia telah dirumuskan menjadi SOP (ada mutu baku yang terukur dan sudah ditetapkan oleh pimpinan dengan substansi dan atau tata cara penyusunan yang terus dikembangkan sesuai peraturan perundangundangan Minimnya perangkat prasarana dan

sarana penunjang dalam pelayanan

Kesediaan anggaran dalam memenuhi prasarana dan sarana

penunjang layanan pengadaan

Memiliki Standar spesialisasi kebutuhan ULP: Ruang rapat Pokja terdiri dari: ruang pertemuan dengan penyedia;

ruang

kepala dan sekretaris ULP;

ruang arsip; ruang kerja pegawai dan front office).

Standar peralatan (prasarana)

kerja meliputi : meja kursi pegawai, meja kursi rapat, LCD

Projector, perangkat komputer, scanner, ATK, jaringan

internet, alat komunikasi, lemari arsip

standar mutu baku penyimpanan dokumen yang

tidak ada pada proses perencanaan dan pembinaan

Terlaksananya Verifikasi Penerimaan dan Evaluasi RUP dan

Distribusi Dokummen RPP dan Retrival Dokumen Kontrak Penyedia

Tersedianya Dokumentasi RUP, RPP, Hasil Pemilihan dan

Kontrak

Integritas organisasi dan nilai-nilai budaya, kode

etik, dan prinsip-prinsip pengadaan yang

dituangkan dalam regulasi kedaerahan yang disosialisasikan diharapkan dapat mengikis

keraguan dan stigma negatif aparatur sipil negara

dalam berkarir pada bidang pengadaan barang dan jasa

Membangun sistem budaya pada Bagian Pengadaan Barang dan

Jasa

Telah terbentuk komite etik dan tim internalisasi untuk melaksanakan evaluasi terukur dan tindak lanjut atas

penerapan etika pengadaan barang dan jasa

Maturitas dari unit pelaksana yang terbilang rendah

sehingga fasilitas moderen yang tersedia tidak

termanfaatkan dengan baik dan cenderung

mempengaruhi akuntabilitas dari proses pengadaa

Belum tersedianya pelaksanaan pemanfaatan media komunikasi berbasis teknologi informasi untuk memperkenalkan akuntabilitas

terhadap proses pengadaan barang dan jasa

1. Sistem Informasi Pengolah, pengelolaan Dan Penyimpan Data dan Dokumen2.

Dokumen Perencanaan Pengembangan Sistem Pakar3.

Pengembangan Sistem Pakar

tidak terdapat manajemen resiko secara spesifik

pada pekerjaan jasa konstruksi yang memiliki

sangat banyak variabel permasalahan beresiko

Belum Ada Dokumen SOP pengelolaan resiko yang ditetapkan

oleh ULP dan ada dokumen penerapan/lemba r kontrol oleh anggota pokja secara spesifik terhadap proses perencanaan dan

pembinaan, khususnya pada pekerjaan konstruksi yang terus

dikembangkan mengikuti peraturan perundangan khususnya pada PermenPU

1. Dokumen SOP pengelolaan resiko yang ditetapkan 2.

dokumen penerapan/lem bar kontrol oleh anggota pokja dan 3. telah dilaksanakan dengan berbasis teknologi informasi

perkembangan regulasi dan metode pengadaan

barang dan jasa pemerintah lebih cepat terjadi

ketimbang proses edukasi terhadap dunia usaha

Telah memiliki standar pengelolaan perubahan

Kepemilikan standar pengelolaan perubahan

akses informasi masyarakat yang ditunjang dengan

infrastruktur internet dapat dikembangkan untuk

pemanfaatan pelayanan tugas-tugas pada unit

pelaksana yang memiliki tugas berbeda, mulai dari pemanfaatan pendaftaran pengguna badan usaha/perorangan secara online, e-learning, dan

lainlain

Telah memiliki standar pengelolaan pendukung layanan

Kepemilikan standar pengelolaan pendukung layanan

perlunya manajemen resiko dalam menghadapi

kemungkinan penanganan masalah yang timbul

Pembentukan strategi, panduan, dan tata cara pelaksanaan

manajemen resiko pada kejadian proses pengadaan barang dan jasa

1. Dokumen SOP pengelolaan resiko yang ditetapkan2.

dokumen penerapan/lem bar kontrol oleh anggota pokja

akibat ketidakpahaman publik terhadap proses

pengadaan barang dan jasa pemerintah

pada tahapan evaluasi dan penyelesaian sanggah

dan 3. telah dilaksanakan dengan berbasis teknologi informasi

3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Daerah Terpilih

a. Tugas dan Fungsi Organisasi Perangkat Daerah terkait Visi, Misi serta Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih;

Visi dan Misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih periode 2016-2021 yang telah dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2016 tentang RPJMD Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2016-2021 telah menjadi Visi dan Misi Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2016-2021 adalah : ” Sulawesi Tengah yang Maju, Mandiri dan Berdaya Saing”.

Visi tersebut dikedepankan sebagai salah satu upaya untuk mencapai Visi yang secara eksplisit tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Sulawesi Tengah 2005-2025 yaitu “Sulawesi Tengah yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan”.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan yang akan dilakukan pada masa kini dan masa akan datang, optimis untuk mewujudkan visi, maka perlu dituangkan dalam bentuk misi kegiatan yang akan dilakukan yang memungkinkan penyediaan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus untuk memelihara kesinambungan dan perkembangan kehidupan masyarakat yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, Misi Provinsi Sulawesi Tengah dirumuskan sebagai berikut :

1. Maju :

a) Melanjutkan Reformasi Birokrasi, mendukung Supremasi Hukum dan HAM,

b) Meningkatkan pembangunan infrastrukur daerah dan mendukung kemandirian energy.

2. Mandiri :

a) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

3. Berdaya Saing :

a) Mewujudkan pengelolaan sumber daya agribisnis dan maritime yang optimal dan berkelanjutan sejajar dengan provinsi maju di Kawasan Timur Indonesia;

b) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing dan berbudaya.

Memperhatikan visi dan misi Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah di atas, terlihat bahwa tugas dan fungsi Biro Pengadaan Barang/ Jasa Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah sangat krusial dan esensial dalam mendukung terwujudnya visi dan misi tersebut. Untuk melaksanakan pengadaan yang baik, maka diperlukan pembenahan kepada organisasi pelaksananya, salah satu alat yang digunakan adalah analisis SWOT. Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi keadaan organisasi/instansi. Dengan mengetahui kondisi internal organisasi/instansi : Strength (kekuatan) dan Weakness (kelemahan), serta kondisi eksternal:

strategi organisasi/institusi ke depan dengan lebih baik. Berikut analisis SWOT Untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal (S dan W) dan eksternal (O dan T) organisasi/instansi dengan lebih tepat dan akurat.

Analisis Lingkungan Internal meliputi : A. Kekuatan (Strenghts)

1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 112 Tahun 2018 Tentang Pembentukan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa Di Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Dan Kabupaten/Kota, Gubernur Membentuk Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa di Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Klasifikasi A Dalam Bentuk Biro Untuk Melaksanakan Tugas Dan Fungsi Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa.

2. Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2016 Tentang Kedudukan Dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah, Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dan Inspektorat Daerah.

3. Tersedianya sarana dan prasarana yang baik dalam mendukung manajemen organisasi yang transparan dan demokratis.

4. Komitmen bersama untuk mewujudkan penguatan kelembagaan Biro Pengadaan Barang/

Jasa

B. Kelemahan (Weaknesses)

1. Jumlah aparatur yang belum memadai Kualitas aparatur masih banyak yang belum sesuai standar yang dipersyaratkan.

2. Kualitas aparatur masih belum memadai dalam memahami tupoksi masing-masing bagian di Biro Biro Pengadaan Barang/ Jasa.

3. Etos kerja atau budaya kerja aparatur masih rendah dimana kecenderungan masih bersifat menunggu/reaktif, tidak produktif dan kurang kreatif

4. Penguasaan teknologi informasi yang masih kurang.

5. Belum optimalnya mekanisme pelayanan, sehingga koordinasi dalam pelayanan belum maksimal.

6. Mekanisme dan pola kerja setiap bagian belum tertata dengan efektif dan efisien.

7. Belum konsistennya kebijakan setiap unit kerja dalam mendukung upaya-upaya mewujudkan pelaksanaan koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan, sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di Biro Pengadaan Barang/Jasa.

8. Belum mantapnya pemahaman koordinasi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing bagian, terutama berkaitan dengan program jangka panjang

Analisis Lingkungan Internal meliputi : A. Peluang (Opportunities)

1. Adanya komitmen yang tinggi dari Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mewujudkan Biro Pengadaan Barang/ Jasa Sekretariat daerah Prov. Sulteng menjadi Pusat unggulan (Center of Excellence) Pengadaan.

2. Kebijakan dan kepedulian pemerintah dalam menyediakan anggaran Biro Pengadaan Barang/ Jasa Sekretariat daerah Prov. Sulteng

B. Ancaman (Threats)

1. Sarana dan prasarana pendukung di Biro Pengadaan Barang/ Jasa Sekretariat daerah Provinsi Sulawesi Tengah belum semuanya terpenuhi.

2. Belum optimalnya partisipasi masyarakat penyedia dalam pelaksanaan pengelolaan Barang/ Jasa.

3. Terjadinya berbagai masalah di bidang sosial seperti bencana, konflik, krisis ekonomi yang memerlukan penanganan yang cepat dan intensif.

4. Masih banyaknya perundangan yang sudah tidak sinkron lagi dengan perkembangan teknologi informasi dan tuntuan masyarakat atas keterbukaan informasi yang semakin tinggi.

5. Harmonisasi kelembagaan yang masih perlu dibangun secara struktural antara Lembaga Penegak Hukum, Kementerian di pusat dan Biro Pengadaan Barang/ Jasa baik provinsi serta kabupaten/kota.

BAB IV

Dalam dokumen RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) (Halaman 31-36)

Dokumen terkait