• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemetaan Tanaman

Dalam dokumen Biomass for energy prefeasibility study (Halaman 29-38)

Pengembangan pembangkit energi biomassa paling baik dilakukan dengan membangun hutan tanaman energi biomassa di daerah yang relatif kompak (terkonsentrasi pada satu tempat), dan tidak jauh dengan pabrik pengolah biomassa.

Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan manajemen Perum Perhutani dan pemangku kepentingan, wilayah yang memenuhi persyaratan untuk tanaman energi biomassa adalah wilayah di KPH Semarang, KPH Sukabumi, dan KPH Purwodadi, dengan karakteristik sebagai berikut:

a. Memiliki nilai Kerapatan Bidang Dasar (KBD) di bawah 0,6 dan / atau ditetapkan sebagai daerah yang terdegradasi;

b. Memiliki topografi datar-menengah, yang memungkinkan aktivitas pemeliharaan dan eksploitasi;

c. Memiliki lahan yang cocok untuk menanam tanaman energi biomassa, d. Memiliki probabilitas konflik sosial yang rendah;

e. Area yang kurang terfragmentasi, atau daerah yang terletak di dekat lokasi fasilitas energi yang direncanakan;

f. Daerah yang dekat dengan pembeli potensial produk wood pellet. Beberapa area yang diindikasikan sebagai daerah potensial untuk tanaman energi biomassa telah dikembangkan oleh KPH Semarang bekerjasama dengan kelembagaan Korea, yaitu KOFPI yang menanam biomassa Gliricidia di area seluas 1.500 ha. KPH Sukabumi juga telah menanam Calliandra

callothyrsus di lahan seluas 400 ha, yang dikembangkan sebagai program rehabilitasi lahan. Peta indikatif pengembangan pembangkit energi biomassa di KPH Semarang ditampilkan pada Gambar 12.

Gambar 12: Area indikatif untuk perkebunan biomassa yang berada di KPH Semarang (warna

pink)

KPH Semarang di Jawa Tengah merupakan alternatif utama untuk

pengembangan tanaman energi biomassa karena telah dilakukan uji coba untuk penanaman Gliricidia seluas 1.500 ha, yang akan diperluas menjadi

Wood biomass processor

4.000 ha. Potensi pengembangan pabrik pengolah biomassa berbasis kayu di daerah ini akan mendapat manfaat dari kedekatan dengan bahan baku, dan pelabuhan Tanjung Mas Semarang yang jaraknya cukup dekat.

Pilihan kedua dalam pengembangan tanaman energi biomassa adalah di KPH Sukabumi di Jawa Barat. Pada tahun 1990-an, beberapa wilayah BKPH di bagian KPH Sukabumi ini telah menanam spesies Calliandra sebagai bagian dari program rehabilitasi lahan. Pada saat itu, program tersebut merupakan upaya untuk merehabilitasi kawasan yang rusak akibat pembalakan liar, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.

Gambar 13: Area indikatif untuk perkebunan biomassa yang berada di KPH Sukabumi (warna

pink)

Namun karena kendala topografi, pengembangan tanaman energi biomassa di wilayah ini tampaknya akan sulit. Kawasan yang memungkinkan

pengembangan tanaman energi biomassa adalah di wilayah BKPH Lengkong, dengan area yang tersedia untuk tanaman energi biomassa seluas 6.000 ha. Di wilayah ini, topografinya sesuai yaitu rata sampai dengan kemiringan sedang. Kawasan ini juga memiliki aksesibilitas yang tinggi ke pasar lokal wood pellet di Kecamatan Lengkong, Sukabumi dan Bandung Selatan. Peta indikatif pengembangan tanaman energi biomassa potensial di KPH Sukabumi dapat dilihat pada Gambar 13.

Kawasan KPH Purwodadi berdekatan dengan KPH Semarang, yang hanya berjarak sekitar 50 km ke arah timur. KPH Purwodadi belum menetapkan program tanaman energi biomassa tertentu, melainkan menanam tanaman kayu putih yang menghasilkan minyak atsiri dari dedaunnya. Pada tahun kedua, pohon kayu putih dipotong untuk memicu pertumbuhan daun lebih banyak. Batang dan ranting dari potongan kayu putih adalah produk samping biomassa yang saat ini belum dimanfaatkan. KPH Purwodadi akan

mengembangkan tanaman kayu putih seluas 1.000 ha, dan telah menanam sekitar 500 ha. Namun dari keseluruhan wilayah KPH Purwodadi yang bisa dialokasikan untuk tanaman energi biomassa adalah seluas sekitar 4.300 ha.

Gambar 14: Area indikatif untuk tanaman biomassa yang berada di KPH Purwodadi (warna

pink)

Alokasi lahan, pola tanam spasial, dan pengaturan jarak tanam untuk tanaman energi biomassa harus memperhatikan rencana rotasi sistem trubusan, target produktivitas panen terkait dengan jumlah pohon yang akan ditanam dan sistem pemanenan kayu. Selain faktor teknis ini, faktor sosial juga harus diperhatikan, terutama alokasi lahan untuk mengakomodasi kebutuhan lahan pertanian bagi kelompok tani yang merupakan bagian dari resolusi konflik penggunaan lahan.

Gambar 15. Contoh model agroforestri tumpangsari antara kaliandra dan jagung yang

dipraktekan di Ghana (atas kiri) (sumber: Trees for the future), Lamtoro dan kaliandra ditanam secara campuran dengan tanaman jagung di Bungamayang (atas kanan) , dan contoh

penanaman campuran antara pinus dan kaliandra di Kabupaten Wonosobo, Jateng (bawah).

Kemungkinan pola ruang tanam untuk KPH Semarang dan KPH Purwodadi adalah kombinasi tanaman energi biomassa dan tanaman pertanian dengan mengatur ruang tanam khusus untuk tanaman energi biomassa yang dipisahkan menjadi garis tanaman pertanian. Misalnya, untuk area seluas 1 hektar, 75% dapat dialokasikan untuk tanaman biomassa utama, 20% untuk tanaman pertanian, dan 5% untuk jalur inspeksi.

Pola penanaman harus mempertimbangkan sistem pemanenan kayu yang diterapkan. Pada tanaman energi biomassa ada dua alternatif model pemanenan yaitu, pertama, pemanenan manual yaitu pemotongan pohon yang dilakukan dengan pemotong tradisional atau gergaji rantai, dan kedua, pemanenan mekanis yaitu pemotongan pohon pembuatan chip menggunakan traktor dan peralatan khusus.

Gambar 16. (Kiri) Model pemanenan manual tanaman biomassa kaliandra di Bangkalan

Madura. (Kanan) Terubusan tumbuh setelah 3 bulan panen kaliandra di Bangkalan. Gambar ini menunjukan pola panen non-mekanis yang secara tradisional dilakukan oleh petani Bangkalan. Praktik ini adalah bagian dari sistem trubusan daur pendek menggunakan spesies kaliandra. Setelah pemanenan, trubusan akan muncul dan kemudian bisa dipanen kembali setelah 1 tahun tanpa penanaman lagi. Kegiatan ini belum memunculkan masalah terkait patogen. KPH Semarang sebagai bagian dari Perhutani dan Organisasi Korea KOFPI juga telah mempraktekkan pola panen yang sama.

Pemanenan secara manual menghasilkan kayu biomassa dengan panjang tertentu dan diangkut dari blok pemotong dengan cara dipanggul. Sedangkan pemanenan secara mekanis memungkinkan kayu yang diangkut ke tempat tujuan sudah menjadi chip kayu, sedangkan alat pembuat chip kayunya didesain mengikuti traktor. Pada tanah dengan kemiringan tidak melebihi 10% memungkinkan untuk dilakukan pemanenan secara mekanis.

Untuk model pemanen mekanis, pengelola dapat mengatur tata letak tanaman satu baris dengan jarak tanam setiap 2 m antara jalur tanam dan jarak tanam 0,6 - 0,7 m berada dalam barisan, sehingga dalam satu hektar dapat ditanam sebanyak 7.100-8.300 pohon. Jarak antara jalur tanam 2m memungkinkan roda traktor melewati celah tanam dengan aman pada saat pemanenan. Sungguhpun demikian pemanen mekanis tidak menyebabkan kerusakan tanaman karena diterapkannya pola tanam yang ditata secara teratur.

Gambar 17. Alat pemanen Mekanik Penuh untuk Tanaman Trubusan Rotasi Pendek (Sumber:

Dimitriou L)

Rencana silvikultur penanaman biomassa untuk KPH Sukabumi dapat dilakukan dengan penanaman tanaman biomassa murni atau kombinasi antara tanaman biomassa dan tanaman pinus. Dengan topografi berbukit, KPH Sukabumi disarankan untuk menerapkan pemanen non mekanis, dimana menerapkan sistem pemanenan secara manual menggunakan parang atau gergaji mesin secara operasional akan lebih baik. Namun, untuk KPH Semarang atau Purwodadi, karena memiliki banyak lokasi datar sangat memungkinkan menggunakan pemanen secara mekanis penuh.

Dimungkinkan untuk menanam tanaman energi biomassa seluruhnya dengan jarak tanam yang rapat sehingga populasi tanaman dapat dimaksimalkan menjadi 10.000 pohon / ha. Bagi KPH Sukabumi, tanaman energi biomassa dapat ditanam di antara jalur tanam pinus. Jumlah pohon pinus ditargetkan mencapai 200 pohon / ha, dengan jarak tanam rata-rata 7 m x 7 m. Di antara jajaran penanaman pinus selebar 7 m, sekitar 3-4 m dapat digunakan untuk 2-3 baris bibit biomassa (penanaman dua baris), dengan jarak antar jalur 1-1,5 m. Dengan jarak antar tanaman di dalam baris 0,75 m - 1 m, maka kepadatan individu tanaman biomassa bisa mencapai 3.300 - 3.500 pohon / ha. Dengan jumlah populasi tanaman yang lebih kecil, area yang lebih luas dibutuhkan untuk mendapatkan produktivitas biomassa yang lebih besar.

Gambar 18. Contoh lay out penanaman yang disederhanakan dengan satu baris (dengan skala yg tidak tepat). (a) adalah jarak dengan header; (b) adalah jarak dengan pembatas tepi atau tanaman masyarakat; (c) adalah antara batang yg dipanen dalam satu barisan (0.6-0.7 m); (d) adalah jarak antar barisan (2m)

Gambar 19. Sebuah contoh penyederhanaan layout penanaman dengan baris ganda untuk KPH Sukabumi (skala tidak sebenarnya). (A) adalah jarak diantara baris penanaman spesies biomassa (1-1.5m); (B) adalah jarak antara dua tanaman pinus sebagai tanaman pokok (7m); (C) adalah jarak diantara pemotongan batang di dalam baris (0.75-1 m); (D dan E) adalah jarak diantara baris dan tanaman pokok (1.5-2m).

Berdasarkan kunjungan di KPH Sukabumi, disimpulkan bahwa ada dua pilihan model rencana. Yang pertama melakukan pembersihan lahan yang tidak produktif dan mengubahnya menjadi perkebunan energi biomassa tanpa mencampur spesies lain. Pilihan kedua agak lebih baik dengan

mengoptimalkan lahan di antara tegakan pinus yang ada, asalkan tidak mengganggu perkebunan utama. Perhutani memiliki pengalaman menanam pinus dan kaliandra di Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah. Jenis pemanenan yang paling mungkin dilakukan di lahan tersebut adalah secara non-mekanik, menggunakan pola panen tradisional dengan pemotong/parang atau gergaji mesin.

A

B

C

D

E

Dalam dokumen Biomass for energy prefeasibility study (Halaman 29-38)

Dokumen terkait