BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Fenomena Konflik Manusia-Harimau
2.2.4. Pemicu terjadinya KMH
Sebelum pihak otoritas melakukan penanggulanan KMH, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa yang menjadi pemicunya. Hal tersebut digunakan sebagai inikator untuk mengetahui bagaimana penanggulangan terhadap konflik tersebut. Dalam hal ini pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Provinsi Aceh telah mengeluarkan SOP (Standar Operasional Prosedur) penanggulangan konflik manusia dengan harimau karena seringnya fenomena tersebut terjadi dan berdampak merugikan. Konflik manusia dengan harimau yang terjadi di Provinsi Aceh terjadi dipicu oleh (Irvansyah et al., 2017):
1. Perkebunan skala kecil dan besar
2. Pemungutan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) 3. Pertambangan rakyat dan pertambangan skala besar 4. Perburuan satwa mangsa (rusa, kijang, babi hutan) 5. Perburuan harimau
6. Pembalakan liar
7. Peternakan dan penggembalaan hewan ternak dalam kawasan hutan
2.3. Lanskap Leuser-Ulu Masen
Lanskap Leuser-Ulu Masen adalah penyebutan bentang alam dalam bidang konservasi harimau sumatera yang mencakup wilayah Kawasan Ekosistem Ulu Masen (Provinsi Aceh) dan Kawasan Ekosistem Leuser (Provinsi Aceh-Provinsi Sumatera Utara). Pada tahun 2010 ditemukan adanya indikasi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
keterhubungan antara KEL dan Ulu Masen sebagai kesatuan habitat harimau (Wibisono dan Pusparini, 2010), selanjutanya diperjelaskan lagi pada hasil survei okupansi pertama yang menyeluruh di pulau sumatera (Wibisono et al., 2011).
Lanskap ini merupakan bentang alam prioritas yang paling sesuai dengan konservasi harimau liar yang kelestariannya sangat membutuhkan perhatian dan perlindungan (Wibisono et al., 2011). Lanskap Leuser-Ulu Masen dapat dilihat pada lingkaran merah di Gambar 2.1.
Gambar 2.1. Leuser-Ulu Masen pada peta hunian harimau Sumber : Peta hunian harimau (Wibisono et al., 2011)
Kawasan Ekosistem Ulu Masen merupakan kawasan hutan yang berada di bagian Utara Propinsi Aceh yang mencakup taman nasional dan konservasi alam (Wikipedia, 2017). Wilayah tersebut memiliki keunikan tersendiri karena terdiri dari hutan dataran rendah dan dataran tinggi (Adriana, 2011; Wikipedia, 2017)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dengan meliputi luas lebih dari 7.000 km2 (Clarke, 2010; Linkie et al., 2014;
Cochard, 2017; Kurnadi, 2017) dan masih bertatus sebagai hutan lindung (Linkie et al., 2014; Sloan et al., 2018). Terdapat 6 kabupaten yang berada di dalam Kawasan Ekosistem Ulu Masen yaitu (Husnan et al., 2013; Kurnadi, 2017;
Wikipedia, 2017):
1. Aceh Besar (Darul Imarah, Darul Kamal, Indrapuri, Kota Jantho, Kuta Cot Glie, Kuta Malaka, Lhoong, Leupung, Lhoknga, Seulimeum, Lembah Seulawah, Suka Makmur, dan Simpang Tiga).
2. Pidie (Keumala, Tiro, Tangse, Mane, Geumpang, Sakti, Padang Tiji, Mila, Glumpang Tiga dan Delima).
3. Pidie Jaya (Meurah Dua Bandar Baru, Bandar Dua, Meureudu, Trienggadeng dan Ulim).
4. Aceh Jaya (Teunom, Panga, Krueng Sabee, Setia Bakti, Sampoiniet dan Jaya)
5. Aceh Barat (Sungai Mas, Kaway XVI dan Pantai Ceureumen) 6. Sebagian kecil wilayah Aceh Tengah.
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) terletak di dua provinsi paling utara Sumatera (Aceh dan Sumatera Utara), dengan luas 2,6 juta hektare yang sangat kaya keanekaragaman hayati. KEL ini terbentang di 13 Kabupaten (Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subulussalam, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang) di Provinsi Aceh dan 4 Kabupaten Langkat, Dairi, Karo dan Deli Serdang di Sumatera Utara.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
24 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Gambar 3.1. Peta lokasi penelitian di Kecamatan Mane
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Mane Kabupaten Pidie Provinsi Aceh, dapat dilihat pada Gambar 3.1. Kecamatan Mane memiliki satu Mukim (institusi pemerintah adat dibawah kecamatan yang membawahi gabungan dari beberapa gampong / desa di Provinsi Aceh) yaitu Mukim Lutueng. Mukim Lutueng / Kecamatan Mane terdiri dari 4 desa/gampong yaitu :
1. Desa Lutueng, 2. Desa Mane, 3. Desa Turue Cut, 4. Desa Blang Dalam.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Peneltian ini dilakukan selama bulan Nopember 2018 hingga Juni 2019.
Tahap persiapan di bulan Nopember 2018 – Januari 2019 yaitu studi literatur dan observasi awal penelitian. Pengambilan data lapangan selama bulan Februari-Maret 2019. Proses analisis data selama bulan April-Mei 2019 dan tahap publikasi karya ilmiah selesai di bulan Juni-Juli 2019.
3.2. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendeketan gabungan antara kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan cara survei kepada sampel penelitian. Kuesioner survei tersebut di susun menjadi berbagai pertanyaan dengan bobot nilai yang ditentukan peneliti, sehingga diketahui distribusi, nilai rataan, frekuensi dan persentasenya.
Sedangkan pendekatan kualitatif berdasarkan deskripsi dari hasil observasi yang dilakukan di lokasi penelitian, wawancara mendalam terhadap informan penelitian dan studi dokumentasi.
3.3. Objek / Sampel dan Informan Penelitian 3.3.1. Populasi
Salah satu tujuan penelitian adalah menjelaskan sifat populasi. Populasi dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan subjek, variabel, konsep, atau fenomena (Morissan, 2017). Populasi di dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang berada di Kecamatan Mane. Sesuai dengan data yang ditampilkan pada Tabel 3.1 maka jumlah populasi yaitu berjumlah 2.607 keluarga.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 3.1. Data penduduk Kecamatan Mane tahun 2018
No Nama Desa Jumlah Jiwa Jumlah Keluarga
1 Blang Dalam 1.900 476
2 Lutueng 2.264 454
3 Mane 4.700 1.260
4 Turue Cut 9.43 417
Total 9.807 2.607
Sumber : Kantor Camat Mane, 2019
3.3.2. Sampel
Sampel di dalam penelitian ini adalah kepala keluarga yang bertempat tinggal di lokasi penelitian. Perhitungan untuk menentukan ukutan sampel yang diambil menggunakan rumus Slovin (Yusuf, 2016) sebagai berikut :
= 1 + .
dimana s = sampel, N = populasi, e = derajat ketelitian atau nilai kritis yang diinginkan.
Dengan diketahui besaran populasi sebesar 2.607 dan dengan menggunakan derajat ketelitian atau nilai kritis yang diinginkan sebesar 10% atau 0,10 maka perhitungan untuk mengetahui ukuran sampel sebagai berikut :
= 2607 Hasil dari perhitungan diatas, diketahui bahwa jumlah sampel yang akan dijadikan responden adalah 96 kepala keluarga. Akan tetapi untuk mempermudah perhitungan dan pendistribusian, maka peneliti menambahkan sedikit jumlah sampel menjadi sebanyak 100 responden agar mempermudah perhitungan frekuensinya serta pendistribusiannya tiap desa di lokasi penelitian.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Besaran sampel yang akan dijadikan responden dapat dilihat pada Tabel 3.2 yang berjumlah 100 dan didistribusikan sesuai dengan persentase jumlah keluarga disetiap desa (3,8%).
Tabel 3.2. Ditribusi jumlah sampel
No Nama Desa Jumlah Keluarga Jumlah Sampel
1 Mane 1.260 48
2 Blang Dalam 476 18
3 Lutueng 454 17
4 Turue Cut 417 16
Total 2.607 s =100
Selanjutnya sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel yang akan diambil adalah 100 keluarga di Kecamatan Mane yang berkaitan dengan salah satu kriteria sebagai berikut :
a. Bertempat tinggal berjarak 0,5 km dari hutan atau kawasan hutan
b. Memiliki kebun atau sawah yang berada di dalam radius 500 meter dari hutan
c. Beraktifitas masuk ke dalam hutan (contohnya memungut rotan di dalam hutan)
d. Memiliki hewan ternak yang bisa dimungkinkan menjadi satwa mangsa harimau, seperti kerbau, sapi, ayam, itik.
3.3.3. Informan penelitan
Dalam mendukung hasil kuesioner yang ditujukan kepada responden, peneliti telah melakukan wawancara dan diskusi mendalam dengan beberapa informan. Informasi yang didapati dari informan tersebut akan di deskripsikan di
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dalam menganalisis perilaku masyarakat. Informan yang dimaksud tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Informan peneliti
No Informan Keterangan
1 Pihak BKSDA Aceh Pihak otoritas yang berwenang terhadap urusan satwa;
2 Pihak FFI-Aceh LSM yang memiliki program kerja dalam berbagai hal di Kecamatan Mane dan sekitarnya.
3 Tokoh Masyarakat Tokoh masyarakat di Kecamatan Mane yang dijadikan informan sebagai berikut:
a. Kepala Camat,
b. Imuem (Ketua) Mukim, c. Kepala desa,
d. Tokoh pemuda
4 Pawang harimau Pawang harimau adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam menangani harimau berbasis kearifan lokal. Pawang harimau yang bernama Sarwani Sabi
3.4. Pengumpulan Data 3.4.1. Data penelitian
Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu:
1. Data primer, yaitu : data survei perilaku masyarakat terhadap keberadaan harimau, data kearifan lokal dan adaptasi masyarakat terhadap ancaman satwa liar.
2. Data sekunder, yaitu peta administrasi kecamatan, peta fungsi kawasan, data kependudukan, data KMH 2009-2018 Provinsi Aceh, data temuan keberadaan harimau, Qanun Mukim Lutueng Kecamatan Mane No. 1 tentang aturan adat dan dokumen SOP Penanggulangan Konflik Manusia dengan Harimau Provinsi Aceh.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.4.2. Teknik pengumpulan data
Dalam memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Studi literatur dan dokumentasi, teknik pengumpulan data dengan cara membaca literatur yang berhubungan dengan judul penelitian ini dan mengambil data berdasarkan dokumen atau laporan yang ada pada BKSDA Aceh dan lembaga lain yang memiliki program kerja di sekitar lokasi penelitian
2. Kuesioner, yaitu mengumpulkan data dengan menggunakan daftar pertanyaan atau daftar isian terhadap objek yang diteliti, objek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal dan melakukan keseharian aktifitas di lokasi penelitian.
3. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung melalui cara tanya jawab yang dilakukan terhadap objek yang diteliti. Objek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal dan melakukan keseharian aktifitas di lokasi penelitian.
4. Observasi, dilakukan untuk mengumpulkan data terkait adaptasi dan mitigasi masyarakat terhadap konflik harimau.
3.5. Definisi Variabel Penelitian 3.5.1. Definisi KMH
Dalam penelitian ini skema KMH dapat terjadi di dalam maupun diluar kawasan hutan dengan ketentuan tertentu yang dijelaskan pada Tabel 3.4. Makna dari kejadian KMH didalam penelitian ini ditinjau apabila kejadian tersebut sudah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
menimbulkan dampak atau kerugian baik di sisi manusia dan atau di sisi harimau dan juga kejadian tersebut harus dilaporkan dan diketahui oleh pihak otoritas.
Dalam hal ini pihak otoritas yang menangani KMH adalah pihak BKSDA setempat, sehingga jika tercatat KMH maka telah dilakukan verifikasi
Tabel 3.4. Pendefinisian klasifikasi tipe KMH No Tipe Skenario
1. rendah Harimau terlihat masuk ke permukiman dan membuat resah masyarakat;
2. sedang Harimau masuk ke permukiman masyarakat dan mengakibatkan adanya korban ternak (terluka / mati);
3. tinggi harimau masuk ke permukiman masyarakat, menyerang manusia yang mengakibatkan terluka atau meninggal;
harimau terluka atau terbunuh di area permukiman masyarakat atau di dalam kawasan hutan akibat dari serangan manusia secara langsung atau akibat jerat yang dipasang manusia;
3.5.2. Definisi perilaku masyarakat
Definisi perilaku masyarakat digunakan dalam mencermikan suatu sikap dan perilaku sosial dari masyarakat terhadap harimau. Kategori aspek yang digunakan tersebut merupakan variabel yang digunakan untuk mengkuantifikasi persepsi, sikap dan perilaku masyarakat. Penggunaan kategori aspek tersebut berlandaskan pada variabel sosial yang telah digunakan pada penelitian peneliti lain untuk mengkuantifikasi sesuatu yang ada pada masyarakat yang berhubungan dengan harimau (Tjamin et al., 2017; McKay et al., 2018; St. John et al., 2018; Struebig et al., 2018).
Ada 7 kategori aspek yang digunakan (Struebig et al., 2018) di dalam penelitian ini yaitu :
1. Toleransi terhadap keberadaan harimau (Tolerance) 2. Reaksi emosi/perasaaan terhadap harimau (Affect)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Sikap membunuh dan melindungi harimau (Attitude) 4. Norma dalam memburu harimau (Norm)
5. Pola pikir kepercayaan masyarakat terhadap harimau (Beliefs) 6. Sikap percaya masyarakat kepada pihak otoritas (Trust) 7. Penanganan skenario konflik (Management scenario)
3.6. Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan adalah kuesioner survei. Kuesioner dilihat pada Lampiran 1 digunakan untuk mengkuantifikasikan bagaimana perilaku masyarakat terhadap keberadaan harimau di lokasi penelitian. Terdapat 16 pertanyan didalam survei ini yang jawabannya bersifat tertutup (ditentukan oleh peneliti) dan jawaban tunggal. Selanjutnya jawaban diberi bobot dengan skala likert antara 1 sampai 5.
Untuk mengukur sikap dan perilaku masyarakat tersebut maka peneliti menggunakan kuesioner yang akan dibagikan kepada masyarakat dengan mengadopsi aspek kajian yang sudah pernah dilakukan peneliti lain penelitian terdahulu (Tjamin et al., 2017; McKay et al., 2018; Struebig et al., 2018).
Kategori aspek di dalam kuesioner tersebut sebagai berikut : 1. Toleransi terhadap keberadaan harimau (Tolerance)
Pertanyaan yang mengandung makna toleransi (tolerance) masyarakat setujukah dengan keberadaan harimau.
2. Reaksi emosi/perasaaan terhadap harimau (Affect)
Ada 2 bagian pertanyaan dalam aspek pengaruh (affect) yaitu pertanyaan yang mendeskripsikan persepsi baik-buruk terhadap harimau dan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
petanyaan tentang berbahaya-tidak berbahaya harimau. Kedua poin jawaban terhadap pertanyaan tersebut disesuaikan dengan skala likert 1-5 (setuju – tidak setuju)
3. Sikap membunuh dan melindungi harimau (Attitude)
Pertanyaan yang mengandung makna sikap (attitude) masyarakat dengan harimau terhadap i) membunuh dan ii) melindungi harimau. Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut menggunakan skala 5 poin, mulai dari sangat setuju – sangat tidak setuju.
4. Norma dalam memburu harimau (Norm)
Pertanyaan yang mengandung makna normatif (norms) atau boleh tidaknya menangkap harimau, yang ditujukan jika pada dirinya sendiri (responden) dan jika dia (responden) melihat orang lain yang menangkap harimau. Jawaban menggunakan skala 5 poin (sangat setuju – sangat tidak setuju).
5. Pola pikir kepercayaan masyarakat terhadap harimau (Beliefs)
Pertanyaan yang mengandung anggapan keyakinan (belief) terhadap pengaruh keberadaan harimau dengan aspek i)spritual, ii)kesehatan jasmani/fisik dan iii)pengaruhnya terhadap kerusakan lingkungan. Ketiga pertanyaan tersebut memiliki jawaban dengan 5 skala poin mulai dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju.
6. Sikap percaya masyarakat kepada pihak otoritas (Trust)
Pertanyaan tentang kepercayaan (trust) masyarakat kepada pihak yang memiliki otoritas (dalam hal ini BKSDA) dalam i) membuat keputusan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yang tepat untuk mengelola satwa liar di sekitar desa meraka dan ii) membuat masyarakat aman dari satwa liar berbahaya. Kedua pertanyaan tersebut memiliki jawaban dengan 5 skala poin (sangat setuju – sangat tidak setuju).
7. Penanganan skenario konflik (Management scenario)
Pertanyaan yang mengkaji bagaimana perilaku masyarakat untuk setiap skenario konflik manusia-harimau (Management scenarios), yaitu i) jika harimau muncul (terlihat) tetapi tidak ada ancaman atau kerusakan/kerugian yang timbul, ii) jika terjadi skenario KMH bertipe rendah, iii) jika terjadi skenario KMH sedang, iv) jika terjadi skenario KMH tinggi. Jawaban untuk keempat pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5. Penilaian pada jabawan kuesioner skenario konflik harimau
Jawaban (d) Bobot
(+) Melapor ke pihak berwenang atau instansi otoritas terkait lain 5 Membiarkannya saja / tidak melakukan apapun 4
Berusaha untuk mengusirnya ke hutan 3
Berusaha menangkapnya, memindahkannya ke tempat lain /
translokasi 2
Berusaha menyerang atau membunuh harimau. 1
Seluruh pertanyaan berjumlah 16 dapat dilihat ringkasannya pada Tabel 3.6 dan pembobotan yang ada di tabel tersebut di jelaskan pada Tabel 3.5 dan Tabel 3.7.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 3.6. Pertanyaan pada kuesioner
No Kategori, Pertanyaan Jawaban
1 Toleransi terhadap keberadaan harimau (Tolerance) 1.1 Setujukah responden terhadap keberadaan harimau di
hutan sekitar mereka.
Setuju-tidak setuju (+) 2 Reaksi emosional/perasaaan terhadap harimau (Affect)
2.1 Tanggapan responden terkait baik atau buruk kah harimau. (BadGood)
Baik-buruk (+)
2.2 Tanggapan responden terkait berbahaya atau tidaknya harimau. (DangHarm)
Berbahaya-tidak berbahaya (+) 3 Sikap terhadap keberadaan harimau (Attitude)
3.1 Setujukah responden untuk membunuh harimau pada suatu kejadian. (Kill tiger)
Setuju-tidak setuju (-)
3.2 Setujukah responden untuk melindungi harimau pada suatu kejadian. (Protect tiger)
Setuju-tidak setuju (+) 4 Norma menangkap/berburu harimau (Norm)
4.1 Setujukah responden secara normatif untuk menangkap harimau. (Injunctive)
Setuju-tidak setuju (-)
4.2 Setujukah responden jika melihat orang lain disekitarnya memburu harimau. (Descriptive)
Setuju-tidak setuju (-) 5 Pola pikir kepercayaan masyarakat terhadap harimau (Beliefs)
5.1 Setujukah responden bahwa harimau bisa meningkatkan kesejahteraan rohani spritual.
Setuju-tidak setuju (-)
5.2 Setujukah responden bahwa harimau bisa meningkatkan kesehatan fisik jasmani
Setuju-tidak setuju (-)
5.3 Setujukah responden bahwa keberadaan harimau bisa merusak lingkungan
Setuju-tidak setuju (-) 6 Kepercayaan ke pihak otoritas (trust)
6.1
Setujukah responden bahwa pihak otoritas sudah membuat keputusan yang baik dalam mengelola konflk satwa liar.
Setuju-tidak setuju (+)
6.2 Setujukah responden bahwa pihak otoritas sudah membuat masyarakat aman dari gangguan satwa liar.
Setuju-tidak setuju (+) 7 Penanganan skenario konflik (Management scenarios)
7.1 Respon jika melihat harimau (belum ada dampak/kerugian) dan belum termasuk KMH
sesuai Tabel 3.5 (+) 7.2 Respon jika terjadi KMH 1 (rendah) sesuai Tabel 3.5 (+) 7.3 Respon jika terjadi KMH 2 (sedang) sesuai Tabel 3.5 (+) 7.4 Respon jika terjadi KMH 3 (tinggi) sesuai Tabel 3.5 (+)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 3.7. Pembobotan nilai jawaban kuesioner N
o
Model Jawaban Bobot
Berbahaya-tidak
berbahaya (a) Baik-buruk (b) Setuju-tidak
setuju (c) (+) (-)
Setelah data terkumpul selanjutnya peneliti melakukan penjelasan deskriptif terhadap semua hasil temuan dengan menggabungkan pendekatan gabungan secara kuantitatif dan kualitatif.
Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan cara menghitung nilai rataan terhadap nilai skor kuesioner dan menjelaskan distribusi frekuensinya. Nilai rataan hasil skor yang melebihi nilai netral maka secara kuantitatif dikategorikan pro dan jika sebaliknya dikategorikan kontra. Nilai netral adalah 3 karena menggunakan skala likert antara 1 sebagai nilai minimun sampai 5 sebagai nilai maksimum. Dalam penelitian ini jika nilai rataan melebihi 3 maka perilaku tersebut adalah perilaku pro konservasi.
Pendekatan kualitatif yang dilakukan berdasarkan observasi, wawancara dan studi dokumen bertujuan untuk menguatkan hasil pendekatan kuantitatif sebelumnya dan mendeskripsikan hasil temuan terkait kearifan lokal masyarakat sampai upaya mitigasinya terhadap keberadaaan harimau.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.8. Tahapan Penelitian
1. Melakukan tahap identifikasi awal dengan cara studi literatur, observasi, wawancara kepada informan,
2. Melakukan tahap pengambilan data ke lokasi penelitian dengan cara penyebaran kuesioner, observasi, wawancara kepada informan
3. Melakukan tahap verifikasi temuan dan penguatan informasi dengan cara wawancara kepada informan
4. Melakukan tahap analisa data dengan mendeskripsikan semua hasil temuan dengan pendekatan kuantitatif dan secara kualitatif.
5. Menarik kesimpulan dari suatu kecenderungan setelah tahap analisa.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
37
4.1. Gambaran dan Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Mane Kabupaten Pidie Provinsi Aceh dengan luas wilayah ± 67.959 ha. Secara geografis Kecamatan Mane terletak pada koordinat 4°52'09,8" Lintang Utara dan 96°05'24,1" Bujur Timur pada ketinggian 459 meter diatas permukaan laut. Membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 7 jam perjalanan yang dilakukan dari ibukota Provinsi Aceh yaitu kota Banda Aceh melalui jalur darat lintas Breuneun-Meulaboh.
Kecamatan Mane termasuk merupakan salah satu wilayah yang memiliki tutupan hutan dan ekosistem yang masih baik di dalam Kawasan Ekosistem Ulu Masen dan wilayah KPH 1 Provinsi Aceh (KPH 1 Aceh, 2016), Sesuai dengan status fungsi kawasan yang mengacu pada SK.103/MenLHK-II/2015, Kecamatan Mane terdiri dari 2 fungsi kawasan, yaitu 85% wilayahnya berupa kawasan Hutan Lindung dan sisanya merupakan kawasan APL (Area Penggunaan Lain).
Selain itu beberapa desa di Kecamatan tersebut sudah menerapkan Perhutanan Sosial dengan skema Hutan Desa (Mardhiah, Supriatno dan Djufri, 2018), dengan total luas sekitar 9.060 hektar didalam kawasan hutan lindung.
Secara administrasi Kecamatan Mane berada di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh yang menjadi fokus penelitian ini berbatasan dengan wilayah sebagai berikut (dapat dilihat pada Gambar 3.1) :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pidie Jaya (Kecamatan Bandar Baru, Meureudu dan Meurah Dua),
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sungai Mas Kabupaten.
Aceh Barat,
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan. Geumpang, Kabupaten Pidie,
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie.
Pada awalnya Kecamatan Mane yang terdiri dari 4 desa yaitu desa Mane, Lutueng, Turue Cut dan Blang Dalam merupakan bagian dari Kecamatan Geumpang. Akan tetapi pada tahun 2000 mulai terjadi pemekaran wilayah sehingga ke-4 desa dipisahkan dan menjadi satu kecamatan wilayah administrasi yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan wilayah Kecamatan Geumpang cukup luas dan populasi penduduk yang semakin semakin meningkat.
Secara umum masyarakat hidup seperti kehidupan di pedesaan pada umumnya, yaitu dengan cara bertani, berkebun, berternak dan tidak jarang juga pergi ke dalam hutan untuk mengambil hasil hutan seperti rotan. Beberapa jenis perkebunan yang bisa dijumpai seperti tanaman coklat, cabe, durian, pinang, kopi serta tanaman holtikultura lainnya. Keadaan iklim disana juga cukup baik dengan hujan sepanjang tahun, sehingga tanah cukup subur dan sesuai untuk bercocok tanam.
Keadaan sosial masyarakat di lokasi penelitian masih sangat kental dengan hukum adat yang bernuansa Islami. Seluruh perilaku masyarakat di Kecamatan Mane diatur oleh lembaga adat kemukiman, yaitu Mukim Lutueng.
Sehingga adanya pelanggaran tertentu yang dilakukan di daerah tersebut terlebih dahulu diselesaikan melalui sanksi adat.
Pada tahun 2008 daerah kawasan hutan di Kecamatan Mane dan Geumpang sempat terjadi perambahan dan pembukan hutan secara besar-besaran (Fasha dan Pakpahan, 2016). Namun saat ini kesadaran masyarakat di Kecamatan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Mane sudah mulai memperhatikan pentingnya keberlanjutan kelestarian hutan.
Hal tersebut ditandai dengan adanya aturan adat dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal yang tercantum dalam Qanun Mukim dan pemberian hak pengelolaan hutan desa.
4.2. Karakteristik Responden
Pada penjelasan di bagian ini peneliti telah menyederhanakan penyebutan nilai dari frekuensi dan persentase yang merupakan representasi makna yang sama. Hal tersebut dikarenakan jumlah dari sampel berjumlah 100 responden.
4.2.1. Karakteristik responden berdasarkan pola aktifitas
Sesuai dengan hasil survei yang telah dilakukan, peneliti mengkaji karakteristik responden berdasarkan pola keseharian masyarakat di pedesaan secara umum yaitu melakukan aktifitas bersawah, berkebun, beraktifitas ke hutan dan beternak. Pada Tabel 4.1 menunjukkan hasil tanggapan dari 100 responden terhadap masing-masing aktifitas yang disebutkan sebelumnya.
Tabel 4.1. Karakteristik aktifitas responden No Jenis aktifitas Ya Tidak f dan % f dan %
1 Bertani 85 15
2 Berkebun 92 8
3 Beraktifitas ke hutan 78 22
4 Berternak 59 41
Sumber : Hasil survei peneliti, 2019.
Secara keseluruhan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4.1 bahwa 85%
responden melakukan aktifitas bertani, 92% berkebun, 78% melakukan aktifitas masuk ke dalam hutan dan 59% berternak. Hal tersebut juga menunjukkan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
responden melakukan lebih dari satu aktifitas. Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan terhadap tokoh masyarakat setempat (informan no. 3a, 3b Tabel 3.3. Informan peneliti) umumnya masyarakat memiliki lahan pertanian dan lahan untuk berkebun.
4.2.2. Karakteristik responden berdasarkan suku dan agama
Seluruh responden yang dijadikan sebagai objek survei kuesioner adalah beragama Islam dan berasal dari Suku Aceh. Peneliti tidak menemukan adanya tempat ibadah yang di peruntukkan untuk agama lain selain yang beragama Islam.
Provinsi Aceh memang pada umumnya memiliki masyarakat yang sangat taat dalam menjalankan perintah agama Islam, sehingga dapat dikaitkan untuk mendorong aksi konservasi (Tjamin et al., 2017).
4.2.3. Karakteristik responden berdasarkan umur
Secara rata-rata responden berumur 48 tahun. Rentang umur yang di perlihatkan pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa mayoritas responden berada di rentang umur antara 36-55 tahun sebanyak 59%, sisanya yaitu yang berumur
Secara rata-rata responden berumur 48 tahun. Rentang umur yang di perlihatkan pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa mayoritas responden berada di rentang umur antara 36-55 tahun sebanyak 59%, sisanya yaitu yang berumur