BAB IV KOMPARASI PEMIKIRAN HASYIM ASY’ARI DAN HAFIZ
A. Pemikiran Pendidikan Akhlak Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adab al-
3. Pemikiran pendidikan akhlak Hasyim Asy’ari dalam kitab adab al-
Kitab adab al-‘alim wa al-muta’allim sampai sekarang masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan khususnya pesantren. Karya Hasyim Asyari ini mepunyai arti sopan santun atau akhlak pendidik dan orang yang di didik. Kitab ini mempunyai delapan bab, yang meliputi akhlak seorang guru dan pelajar serta keutamaan ilmu, ulama dan keutamaan proses belajar mengajar.
a. Keutamaan ilmu dan ulama serta keutamaan proses belajar dan mengajar
69 Abdul Hadi, KH HAsyim Asy’ari, (Yogyakarta: DIVA Press, 2018), Cet. I, h. 28-31
Hasyim Asy’ari dalam hal ini menjelaskan keutamaan ilmu dan ulama banyak sekali mengukip ayat al-Qur’an, Hadist serta perkataan ulama. Uraian Beliau mengukitp firman Allah Swt. dalam al-Qur’an,
َ ي ْر َف
“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara engkau dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “ (Q.S. Al-Mujadalah : 11).
Pengertiannya adalah Allah Swt. akan mengangkat derajat para
‘ulama, sebab mereka sanggup memadukan antara ilmu pengetahuan dan pengamalannya.
“Sesungguhnya dari hamba-hamba allah yang takut kepada Nya adalah para ulama”. (Q.S. al-Fathir: 28)
ىإ من
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan adalah makhluk yang paling baik (disisi Allah)…
(sesungguhnya) surga ‘Adh itu hanya disediakan bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan Nya (Allah).”
Dari dua ayat diatas secara jelas ulama merupakan orang yang senantiasa takut kepada Allah Swt. maka dari itu mereka disebut sebaik-baiknya makhluk yang Allah Swt. ciptakan. Ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi adalah kekasih Allah Swt., sebagaimana Nabi Saw.
menyatakan dalam sabda yang berbunyi:
70
ىءا َي ىب ْن َْلِا ُة َث َر َو ُءا َم َل ُع ْلا : َم مل َس َو ىه ْي َل َع ُللا ى مل َص َلا َق َو
“Dan Nabi Saw. bersabda: orang yang ahli ilmu (ulama) adalah penerus panji perjuangan para Nabi.”
70 Muhammad Hasyim Asy’ari, Adab al-Alim wa al-Muta’alim, (Surabaya: Tsurasil Islam), h. 13
Perlu diingat karena sesungguhnya buah dari ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. Mengamalkan ilmu yang dimiliki akan mendapatkan manfaat khususnya diri sendiri umumnya orang lain.
Orang yang mengamalkan ilmunya dengan baik termasuk orang-orang yang beruntung. Namun sebaliknya orang yang tidak mengamalkan ilmunya termasuk orang-orang yang merugi.
Kemudian Hasyim Asy’ari mengingatkan kepada orang yang memiliki ilmu serta mengamalkannya agar bertujuan hanya untuk memperoleh keridhaan Allah Swt. mendapatkan surga yang penuh kenikmatan bukanlah bertujuan mencari jabatan, harta benda dan mencari reputasi semata. Hasyim Asy’ari mengutip hadist dan perkataan para ulama yaitu:
Telah diriwayatkan dari Nabi Saw: “Barang siapa mencari ilmu untuk menjatuhkan para ulama atau berdebat dengan para ahli fiqh atau bertujuan untuk memalingkan pandangan manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka.” (H.R. Turmudzi)
bahwa ilmu itu digunakan untuk mencapai perolehan hal-hal duniawi;
berupa harta atau jabatan, maka pahala orang yang mencari ilmu itu benar-benar telah amat sangat rugi.
71 Ibid., h. 22-23
72 Ibid., h. 23-24
Hasan al Basri telah berkata: ”Siksaan ilmu pengetahuan adalah hati yang mati, kemudian ia ditanya: “Apa yang dimaksud dengan hati yang mati?.Ia menjawab: “Matinya hati adalah mencari harta dunia dengan menggunakan perbuatan-perbuatan akhirat”.
b. Akhlak Guru
1) Akhlak Guru Terhadap Diri Sendiri
Mengenai akhlak guru kepada diri sendiri menurut Hasyim Asy’ari terdapat dua puluh diantaranya yaitu seorang guru hendaknya:
pertama, selalu istiqamah dalam muraqabah kepada Allah SWT, baik ditempat yang sunyi atau ramai. Pengertian muraqabah ialah melihat Allah dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmahnya atau jalan yang terbaik bagi dirinya dengan mempertimbangkan dan merasakan tentang adanya pemantauan Tuhan kepadanya.
Kedua, senantiasa berlaku khauf ( takut kepada Allah ) dalam segala ucapan dan tindakanya, baik ditempat yang sunyi atau tempat ramai, karena orang yang alim (ustazd) adalah orang yang selalu dapat menjaga amanat, dapat dipercaya terhadap sesuatu yang dititipkan kepadanya, baik itu berupa ilmu, hikmah, dan perasaan takut kepada Allah.
Ketiga, senantiasa bersikap tenang.
Keempat, senantiasa bersikap wira’i. Wira’I menurut Ibrahim ibn Adham, adalah meninggalkan setiap perkara subhat sekaligus
73 Ibid.,
meninggalkan setiap perkara yang tidak bermanfaat yakni perkara yang sia-sia.
Kelima, selalu bersikap tawadlu’.
Keenam, selalu bersikap khusu’ kepada Allah SWT. Maksud dari khusu’ di atas adalah stabilnya hati dalam menghadap kebenaran, namun sebagian ulama yang mengatakan bahwa khusu’ adalah membelenggu mata dari melihat sesuatu yang tidak pantas.
Ketujuh, menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.
Kedelapan, tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga untuk mencapai keuntungan yang besifat duniawi.
Kesembilan, tidak mengagungkan santri-santri karena berasal dari anak penguasa dunia ( pejabat, konglomerat, dan lain-lain).
Kesepuuh, berakhlaq zuhud yaitu memprioritaskan akhirat daripada dunia.
Kesebelas, menjauhkan diri dari usaha-usaha yang rendah dan hina menurut watak manusia, juga dari hal-hal yang dibenci oleh syari’at atau adat istiadat ( kebiasaan ).
Kedua belas, menjauhkan diri dari tempat-tempat yang kotor ( maksiat ) yang dapat mengurangi sifat muru’ah ( menjaga diri dari hal-hal yang tidak terpuji ) sehingga menjadi bahan perbincangan yang jelek bagi orang lain yang dapat menimbulkan dosa bagi orang yang mengolok-oloknya.
Ketiga belas, beristiqamah dalam beramal sebagai syiar islam.
Kempat belas, bertindak dengan menampakkan sunnah-sunnah yang terbaik dan segala hal yang mengandung kemaslahatan kaum
muslimin melalui jalan yang dibenarkan oleh syari’at agama islam, baik dalam tradisi atau pada watak.
Kelima belas, membiasakan diri untuk melakukan kesunahan yang besifat syari’at, baik qauliyah atau fi’liyah.
Keenam belas, bergaul dengan orang lain dengan akhlak yang baik sebagai syiar agama Islam.
Ketujuh belas, membersihkan hati dan tindakanya dari akhlaq-akhlaq yang jelek dan diteruskan untuk merealisasikanya dalam perbuatan yang konkrit dan baik.
Kedelapan belas, senantiasa bersemangat dalam mencapai perkembanagn keilmuan dirinya dan berusaha dengan bersungguh sungguh dalam setiap akitivitas ibadahnya.
Kesembilan belas, mengambil pelajaran dan hikmah apapun dari setiap orang tanpa membeda-bedakan status , baik itu berupa jabatan, nasab, umur dan persoalan yang lainya.
Kedua puluh, hendaknya mampu membuat karangan dari keilmuannya.74
2) Akhlak Guru Ketika Mengajar
Pertama, seorang guru sebelum mengajar hendaknya membersihkan diri dari hadast dan kotoran, berpakaian yang layak serta memakai wangi-wangian.
Kedua, seorang guru ketika ingin melangkahkan kaki dari rumah ke majlis hendaknya berdoa. Kemudian sesampainya di majlis mengucapkan salam kepada hadirin serta duduk dengan baik dan sopan.
Ketiga, janganlah seorang guru mengajar dengan keadaan lapar, haus dahaga, marah dan ngantuk. Kemudian menjauhkan diri dari
74 Ibid., h. 55-69
bersenda gurau berlebih karena dapat mengurangi kewibawaannya.75
Keempat, seorang guru sebelum memulai pelajaran hendaknya membaca sebagian ayat al-Qur’an sebagai tabarukkan.76
Kelima, hendaknya seorang guru janganlah memperpanjang dan memperpendek pelajaran sehingga menimbulkan kebosanan dan kerusakan pemahaman.
Keenam, seorang guru hendaknya bisa membuat suasana kelas agar kondusif agar materi yang dismpaikan bisa didengar jelas.77
3) Akhlak guru terhadap pelajarannya
Pertama, berniat mendekatkan diri kepada Allah Swt. dalam menyebarkan ilmu serta meyampaikan hukum-hukum Allah Swt.78 Kedua, apabila mengajar dengan pelajaran yang banyak, maka dahulukan pelajaran yang lebih utama. Berawal dari tafsir al-Qur’an, hadist, usuluddin, usul fiqih, kitab-kitab mazhab, dan nahwu.79 Ketiga, seorang guru apabila ditanya suatu pelajaran dan dirinya tidak mengetahui, maka jawablah tidak tahu atau tidak mengerti karena jawaban itu termasuk sebagian dari ilmu.80
4) Tata karma guru terhadap pelajar
Pertama, dalam mengajar dan mendidik mereka, seorang guru hendaknya meluruskan niat mengharapkan ridho Allah Swt.
bermaksud mengamalkan ilmu serta dakwah dalam menegakkan kebenaran.
Kedua, memiliki sifat kasih sayang, sabar, dan selalu memotivasi muridnya dalam mengajar dan mendidik.
75 Ibid., h. 71-72
76 Ibid., h. 79
77 Ibid., h. 73-75
78 Asy’ari. loc.cit.
79 Asy’ari. loc.cit.
80 Ibid., h. 77
Ketiga, hendaknya bersungguh-sungguh dalam menyampaikan pengajaran dan guru menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh muridnya. Kemudian meminta kepada murid agar senantiasa diulang-ulang pembelajaran yang telah diajarkan
Keempat, hendaknya seorang guru menanyakan pelajar yang tidak hadir dan mendoakannya. Kemudian apabila pelajar tidak hadir lebih dari tiga hari maka kunjungilah rumahnya.81
c. Akhlak pelajar
1) Akhlak pelajar terhadap diri sendiri
Etika seorang pelajar terhadap dirinya sendiri ada sepuluh, yaitu;
Pertama, harus mensucikan hatinya dari berbohong, berkata kotor, dendam, hasud, keyakinan dan akhlak tidak baik. Agar pelajar dapat menerima ilmu, menghafalkannya, memahami makna-makna yang tersirat secara mendalam.
Kedua, memperbaiki niat dalam mencari ilmu, dengan tujuan untuk mencari ridha Allah SWT. tidak bertujuan untuk memperoleh tujuan duniawi.
Ketiga, jangan menunda-nunda belajar di waktu belia dengan terlalu banyak angan-angan yang bisa menggangu kesempurnaan mencari ilmu karena setiap jam akan terlewati umurnya yang tidak bisa diganti.
Keempat, bersifat qana’ah dalam memperoleh makanan ataupun pakaian serta sabar ketika dalam proses mencari ilmu, sehingga sumber-sumber hikmah akan mengalir kedalam hati.
81 Ibid., h. 81-85
Kelima, harus bisa membagi seluruh waktu dan menggunakannya setiap kesempatan dari umurnya, sebab umur yang tersisa itu tidak ada nilainya.
Keenam, menyedikitkan makan dan minum, karena apabila perut dalam keadaan kenyang maka akan menghalangi semangat ibadah dan badan menjadi berat. Salah satu faedah mempersedikit makan adalah badan menjadi sehat dan mencegah penyakit tubuh.
Ketujuh, seorang pelajar harus bersifat wara’ agar cahaya ilmu dapat mudah masuk.
Kedelapan, menyedikitkan makan yang merupakan salah satu sebab tumpulnya otak dan lemahnya panca indra. Kemudian mengurangi makanan yang menimbulkan banyak dahak yang dapat juga munpulkan akal fikiran dan memperberat badan seperti minum susu, makan ikan dan lain sebagainya.
Kesembilan, mengurangi waktu tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Jam tidur tidak boleh belebihi delapan jam dalamsehari semalam dan itu sepertiga dari waktu satu hari ( dua puluh empat jam).
Kesepuluh, meninggalkan pergaulan yang tidak penting apalagi bergaul dengan lawan jenis sampai pacaran. Itu akan menyia-nyiakan umur tanpa guna.82
2) Akhlak seorang pelajar terhadap guru
Akhlak seorang yang menuntut ilmu kepada gurunya terdapat dua belas macam diantaranya;
pertama, hendaknya seorang pelajar dalam mencari seorang guru harus mempertimbangkan serta istikharah terlebih dahulu tentang
82 Ibid., h. 24-28
siapa akhlak dan etika yang lebih baik serta pengetahuannya.
Kemudian seorang pelajar hendaknya memilih seorang guru yang ahli dalam bidangnya, mempunyai sifat kasih sayang, muru’ah, dikenal kehati-hatiannya serta bagus cara pengajaran dan pemahamannya. Sebagian ulama salaf berkata “ilmu itu agama maka perhatikan dari siapa kalian mengambil atau belajar agama kalian.”
Kedua, hendaknya mencari seorang guru yang secara jelas memiliki pemahaman syariat serta diakui keilmuan oleh guru-guru pada masanya.
Ketiga, menurut terhadap gurunya dalam segala hal dan tidak keluar dari nasehat dan aturannya. Diibaratkan seperti seorang pasien kepada dokter.
Keempat, memandang dengan pandangan kemulian dan penuh rasa hormat serta meyakini kesempurnaan derajat seorang guru yang dapat mendatangkan keberkahan terhadap ilmu. Seorang pelajar harus memanggil seorang gurunya dengan panggilan “ya sayyidi”
wahai tuanku dan “ya ustadzi” wahai guruku dan apabila guru tidak ada ditempat diperbolehkan menyebut namanya namun tetap menggunakan sebut tersebut.
Kelima, hendaknya pelajar mengetahui kewajibannya kepada gurunya dan tidak pernah melupakan jasa-jasanya, keagungannya dan kemuliaannya, serta selalu mendoakan kepada gurunya baik ketika beliau masih hidup atau setelah meniggal dunia.
Keenam, bersabar atas sikap dan perilaku yang kurang menyenangkan dari seorang guru dan menyakini guru tidak akan marah kecuali tanpa sebab.
Ketujuh, hendaknya seorang pelajar apabila hendak masuk keruangan guru meski guru sedang sendiri atau dengan yang lain meminta izin terlebih dahulu.
Kedelapan, duduk dihadapan seorang guru dengan sopan santun dan bersikap tenang.
Kesembilan, berbicara sopan dan baik dihadapan seorang guru.
Kesepuluh, hendaknya seorang pelajar mendengarkan guru yang sedang menjelaskan suatu hukum, bercerita suatu kisah, atau membacakan suatu syair meski kalian sudah mengetahui atau mempelajarinya, maka dengarkan dengan serius seolah-olah kalian belum mendengarkannya.
Kesebelas, jangan mendahului penjelasan atau jawaban guru dalam menjelas permasalahan apalagi dengan berniat pamer kepintaran.
Hendaknya jangan memotong pembicaraan seorang guru akan tetapi sabar sampai guru selesai berbicara. Kemudian janganlah berbicara dengan orang lain sedangkan guru sedang bersamanya.
Keduabelas, apabila diamanatkan sesuatu oleh gurunya hendaknya harus menjaga amanat tersebut.83
3) Akhlak pelajar terhadap pelajaranya
Pertama, hendaknya mempelajari hal-hal yang sifatnya Fardlu ‘Ain yaitu mempelajari ilmu tauhid mengenal dzat dan sifat Allah Swt.
ilmu fiqh mengetahui syariat Islam, dan tasawuf mengenai keadaan-keadaan, maqam, tingkatan, dan membahas tentang rayuan dan tipu daya nafsu dan hal yang berkaitan dengannya.
Kedua, menghafal al-Qur’an dan mempelajari tafsir al-Qur’an kemudian ditashihkan kepada guru.
83 Ibid., h. 29-43
Ketiga, tahap pemula hendaknya seorang pelajar menghindari belajar dari berbagai macam buku karena biasanya terdapat banyak khilafiyah yang dapat membingungkan diri. Pelajarilah dimulai dengan satu buku terlebih dahulu agar terfokuskan.
Keempat, sebelum menghafalkan sesuatu seorang pelajar hendaknya mentashihkan terlebih dahulu kepada guru atau orang yang mempunyai kapasitas dalam ilmu tersebut. Setelah menghafal hendaknya diulang-ulang yang menjadi kebiasaan. Ketika mengkaji sebuah ilmu pengetahuan hendaknya menyiapkan alat-alat pembelajaran.
Kelima, hendaknya seorang pelajar datang lebih awal daripada guru.
Keenam, ketika pelajar telah mampu menjelaskan apa yang ia hafalkan diperbolehkan untuk mempelajari kitab-kitab yang lebih besar tanpa mengenal rasa lelah. Karena seorang pelajar harus mempunyai cita-cita yang tinggi agar selalu menggunakan kesempatan dan tidak menyia-nyiakan waktu dan peluang.
Ketujuh, aktif dan cekatan pada halaqah (pengajian) yang disampaikan guru.
Kedelapan, mengucapkan salam kepada orang yang telah hadir kemudian sopan dan tentram dalam menghadiri halaqah.
Kesembilan, jangan malu untuk bertanya persoalan yang sulit dan belum dipahami dengan menggunakan tutur kata lemah lembut dan sopan santun.
Kesepuluh, belajar dengan metode sorogan maju satu persatu langsung disimak oleh guru, maka ia harus menunggu gilirannya dengan tertib tidak mendahului yang lain kecuali guru mengizinkan.
Kesebelas, duduk dengan sopan santun dihadapan guru dan memperhatikan kebiasaan yang selama ini dipakai dalam mengajar.
Kemudian membawakan buku guru dan tidak meletakkan buku dibawah dalam keadaan terbuka.
Kedua belas, hendaknya tidak berpindah pada pelajaran yang lain sebelum pelajaran pertama dipahami dan dari satu madrasah ke madrasah lain kecuali sangat mendesak. Hendaknya seorang pelajar pasrah dalam urusan rizki kepada Allah Swt. apabila sedang belajar hendaknya menghadap kiblat.
Ketiga belas, hendaknya seorang pelajar membentuk hasil-hasil pendidikannya sebagai suatu nasehat dan peringatan yang berharga pada dirinya,sehingga ilmu itu bisa membawa berkah dan bersinar serta mendapat pahala yang luar biasa.84
4) Tata krama seorang pelajar dengan buku-buku sebagai alatnya ilmu dan yang berhubungan dengan cara-cara memperolehnya
Pertama, seharusnya seorang pelajar mempunyai buku yang ia sedang pelajari apabila tidak mampu membeli diperkenankan menyewanya.
Kedua, bila memperoleh buku dengan meminjam, janganlah merusak, mencoret-coret meskipun coretannya indah dan bagus.
Kemudian jangan lupa ucapkan terima kasih kepadanya.
Ketiga, apabila menyalin atau muthola’ah (membaca ulang) janganlah meletakkan diatas tanah. Apabila ingin meletakkannya menimbang (memulyakan) ilmu pengetahuan (al-Qur’an, kitab-kitab Hadist, tafsir al-Qur’an, tafsir Hadist, usuluddin, usul fiqh, nahwu, shorof, syair-syair arab, ‘arudh.
Keempat, apabila membeli buku telitilah dalam cetakkannya.
Kelima, apabila menyalin sesuatu berupa ilmu pengetahuan syariat maka sebaiknya dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.
Kemudian memulainya dengan menulis basmalah, pujian kepada Allah Swt. shalawat kepada nabi Saw.85
84 Ibid., h. 43-55
85 Ibid., h. 95-101