BAB III METODOLOGI PENELITIAN
H. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan, dalam hal ini, penulis melakukan kunjungan perpustakaan dalam rangka pengumpulan data.
2. Tahap Pelaksanaan, dalam tahap ini, penulis melakukan pengumppulan data dari buku-buku sumber yang diperoleh dari perpustakaan dan internet untuk penelitian.
3. Tahap Penyelesaian, dalam tahap ini penulis berusaha menyimpulkan dan menyusun data dalam bentuk laporan/hasil penelitian.
BAB IV
KOMPARASI PEMIKIRAN HASYIM ASY’ARI DAN HAFIZ HASAN AL-MAS’UDI TENTANG PENDIDIKAN AKHLAK
Sebelum mengetahui secara mendalam serta menjauh tentang komparasi kedua tokoh pemikiran pendidikan akhlak tersebut, alangkah lebih baiknya terlebih dahulu mengetahui riwayat hidup, karya-karya dan pemikiran tentang pendidikan akhlak para tokoh.
A. Pemikiran Pendidikan Akhlak Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adab al-‘Alim Wa al-Muta’allim
1. Riwayat Hidup
Hasyim Asy’ari mempunyai nama lengkap Muhammad Hasyim Asy’ari yang merupakan seorang ulama yang sangat alim dan sebagai tokoh pendidikan Islam yang hebat. Ia pun seoang penentang bangsa penjajah (Belanda dan Jepang) di Nusantara. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia memberikan gelar sabagai Pahlawan Nasional.
Sementara itu dikalang NU, ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syaikh yang berarti maha guru lantaran ia mampu mengusai banyak disiplin ilmu keislaman.55
Kehidupan Hasyim Asy’ari bisa dikatakan sangat sederhana “dari pesantren kembali ke pesantren,” karena ia dibesarkan di lingkungan pesantren. Hasyim Asy’ari dilahirkan di Desa Gedang, Jombang Jawa Timur, pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqaidah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M. Ayah Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Pesantren keras di Jombang, lalu kakeknya juga seorang kyai terkenal dan pendiri Pesantren Gedang yang didirikan pada akhir abad ke-19 bernama
55 Yanuar Arifin, Pemikiran Emas Para Tokoh Pendidikan Islam, (Yogakarta: IRCiSoD, 2018), Cet. I, h. 375
Kyai Usman. Bahkan moyangnya yaitu Kyai Sihah pendiri Pesantren Tambak beras, Jombang.56
Hasyim Asy’ari diasuh oleh orang tua dan kakeknya di Pesantren Gedang sampai umur 5 tahun. Dan pada umur 6 tahun bertepatan 1876 M.
ayahnya mendirikan Pesantren Keras sebelah selatan Jombang. Karakter Hasyim Asy’ari yang sederhana dan rajin belajar tak terlepas dari suasana yang ia dapat di pesantren dimana tempat para santri mengamalkan ilmu agama Islam dan belajar berbagai cabang ilmu agama Islam.57
Di bawah bimbingan orang tua sampai umur 13 tahun, Hasyim Asy’ari sudah berani mengajar murid-murid yang tak jarang umurnya lebih tua darinya di pesantren sebagai guru pengganti (badal). Beranjak umur 15 tahun Hasyim Asy’ari mulai belajar ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura yaitu Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis, Pesantren Kademangan (Bangkalan Madura), dan Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo). Menjadi seorang santri telah biasa mengikuti pelajaran diberbagai pesantren karena setiap pesantren mempunyai spesialis dalam pelajaran dibidang agamanya masing-masing.58
Di pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo) tinggal selama 5 tahun ia diminta menikahkan putri kyai Yakub bernama Khadijah. Permintaan ini di karenakan kyai sangat terkesan akan kedalaman pengetahuan dan karakter Hasyim Asy’ari dan permintaan ini juga sebagai tradisi pesantren.59
Tahun 1891 beranjak umur 21 tahun setalah menikah Hasyim Asy’ari dan istrinya menunaikan ibadah haji di Mekkah. Tujuh bulan lamanya disana ia kembali ke tanah air sendiri karena istrinya meninggal setelah malahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. kemudian Abdullah pun meninggal pada umur 2 bulan.60
56 Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2000), Cet. II, h. 16
57 Ibid., h. 18
58 Ibid., h. 28
59 Ibid., h. 19
60 Ibid., h. 20
Kemudian pada tahun 1893, Hasyim Asy’ari kembali ke Mekkah bersama saudaranya bernama Anis, yang kemudian ia meninggal dunia. Ia tinggal di Mekkah selama 7 tahun, menjalankan ibadah haji, belajar berbagai ilmu agama Islam, dan bertapa di Gua Hira. Di Mekkah ia belajar oleh ulama-ulama terkenal diantaranya Syaikh Mahfud Termas, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Ahmad Amin al-Attar, Sayyid Sultan bin Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syaikh Ibrahim Arab, Sayyid Husein al-Habsy, Sayyid Akbar Syatha, dan Syaikh Rahmatullah.61
Selama di Mekkah Hasyim Asy’ari sempat mengajar, menjadi awal karir mengajar yang kemudian diteruskan ketika kembali ke tanah air pada 1900. Di kampung halamannya ia mengajar di pesantren ayah dan kakeknya, sedangkan antara 1903-1906 mengajar di kediaman mertua istri keduanya, Nafisah putri kyai Romli Kemuring (Kediri).62
Hasyim Asy’ari pun seorang pendiri Pesantren Tebuireng di Jombang dan beliau pun pendiri organisasi besar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama. Hasyim Asy’ari seorang guru paripurna ribuan santri beliau didik bahkan ratusan dari mereka menjadi ulama atau kyai, pendiri pondok pesantren, dan menjadi tokok-tokoh umat Islam. semua itu belum termasuk santri-santrinya yang terbilang mustami’ ngaji sekilas kepada beliau kemudian hanya sekedar minta doa dan obat beliau.63
Diketahui pada tahun 1907, mula berdirinya Pesantren Tebuireng itu sendiri mempunyai kecaman dari orang-orang tertentu yang menyebutkan memberi pelajaran bid’ah. Namun ia tidak membalas kecaman itu menghadapinya dengan lapang dada. Sebab ia sangat menginginkan persatuan dan kesatuan yang merupakan suatu keutaman besar.64
Kemudian pada 31 Januari 1926 Nahdlatul Ulama didirikan, ia sebagai tokoh utama atau promotornya. Ketika itu ia dipilih sebagai Rais
61 Arifin, op.cit., h. 376
62 Khuluq, op.cit., h. 20
63 Ahmad Baso, Agus Sunyoto, dan Rizal Mummaziq, KH Hasyim Asy’ari Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri, (Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional ), h. 7-8
64 Arifin, op.cit., h. 377
Akbar dalam organisasi tersebut. Sebagaimana mendirikan pesantren, pendirian NU pun memiliki banyak kecaman dari orang-orang tertentu.
Kendati demikian ia tidak membalasnya karena ia menginginkan umat Islam di Indonesia, apa pun latar belakang organisasinya untuk bersatu melawan musuh sebenarnya yaitu Belanda.65
Semasa hidupnya Hasyim Asy’ari menikah sebanyak tujuh kali, semua istrinya yaitu anak kyai diantaranya pertama Khadijah putri kyai Ya’kub dari Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), kedua Nafisah yang dinikahi setelah istri pertama meninggal dunia, putri kyai Romli dari Kemuring (Kediri), ketiga Nafiqah putri kyai Ilyas dari Sewulan (Madiun), keempat Masrurah, putri saudar kyai Ilyas, pimpinan Pesantren Kapurejo (Kediri).66
Dari pernikahan tersebut, Hasyim Asy’ari mempunyai 15 anak.
Sembilan diantara anak perempuan sisanya yaitu enam anak laki-laki.
Nama-nama anak perempuan tersebut diantaranya Hannah, Khairiyah, Aisyah, Ummu Abdul Jabar, Ummu Abdul Haq, Masrurah, Khadijah, dan Fatimah. Sedangkan enam anak laki-laki bernama diantaranya Abdullah, Abdul Wahid Hasyim, Abdul Hafizh yang lebih dengan Abdul Khalih Hasyim, Abdul Karim, Yusuf Hasyim, Abdul Kadir, dan Ya’kub.67
Hasyim Asy’ari menghembuskan nafas terakhir pada 7 Ramadhan 1366/ 25 juli 1947 karena tekanan darah tinggi. Hal itu terjadi karena ia mendengar berita dari Jendral Sudirman dan Bung Tomo bahwa pasukan Belanda di bawah Jendral Spoor telah kembali ke Indonesia dan menang dalam pertempuran di Singosari (Malang) dengan meminta korban yang banyak dari rakyat biasa. Hasyim Asy’ari sangat terkejut dengan peristiwa ini sehingga terkena serangan stroke yang menyebabkan meninggal dunia.68
65 Ibid.,
66 Khuluq, op.cit., h. 20-21
67 Arifin, op.cit., h. 378
68 Khuluq, op.cit., h. 25-26
2. Karya-karya
Hasyim Asy’ari adalah seorang kyai yang sangat terkenal dengan kealiman serta keilmuannya. Telah kita ketahui perjalanan ia dalam menimba ilmu dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Namun tidak luput dari itu Hasyim Asy’ari memiliki banyak karangan kitab yang ia tulis, karena ulama zaman dahulu itu sangat gemar mengarang kitab bahkan bisa disebut sebagai tradisi para ulama dalam mengarang kitab.
Karya-karya Hasyim Asy’ari yang berhasil didokumtasikan dan masih bisa ditemui serta dikaji di pesantren-pesantren Nusantara sampai sekarang diantaranya:
a. Al-tibyan fi nahi ‘an Muqatha’at Arham wa Aqarib wa al-Ikhwann. Kitab ini berisikan tentang pentingnya membangun persaudaraan di tengah perbedaan serta bahaya memutus tali persaudaraan.
b. Muqaddimah al-Qonun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Kitab ini berisikan tentang pemikiran dasar NU yang terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an, Hadist dan pesan-pesan penting yang melandari berdirinya organisasi Muslim terbesar di dunia.
c. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Kitab ini berisikan pentingnya berpedoman kepada empat mazhab yaitu Imam Syafii’, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hambal.
d. Mawa’idz. Kitab ini berisikan tentang nasihat baagaimana menyelesaikan masalah yang muncul di tengah umat akibat hilangnya kebersamaan dalam membangun pemberdayaan.
e. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama.
Kitab ini berisikan 40 hadist yang perlu dipedomi oleh Nahdlatul Ulama.
Hadist-hadist itu berisikan pesan untuk meningkatkan ketakwaan dan kebersamaan dalam hidup yang harus menjadi fondasi kuat bagi setiap umat dalam mengarungi kehidupan yang begitu sarat tantangan.
f. Al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin. Kitab ini berisikan biografi Rasulullah Saw dan akhlaknya yang beitu mulia. Seruan agar setiap muslim mencintai Rasulullah Saw dengan cara bershalawat setiap saat dan mengikuti segala ajaranya.
g. Al-Tanbihat al-wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Kitab ini berisikan peringatan tentang hal-hal yang harus diperhatikan saat merayakan Maulid nabi.
h. Risalah Ahl Sunnah wa Jama’ah fu Hadist Mawta’ wa Syuruth al-Sa’ah wa Bayani Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Kitab ini berisikan tentang distingsi paradigmatic antara sunnah dan bid’ah. Kemudian dalam kitab ini menjelaskan hakikat faham ahlussunnah wal jamaah dan menjelaskan tanda-tanda akhir zaman.
i. Adab al-‘Allim wa al-Muta’alim fi ma Yahtaju Ilayh al-Muta’allim fi Ahwal Ta’limihi wa ma Yatawaqqafu ‘alayhi al-Mu’allim fi Maqamati Ta’limihi. Kitab ini berisi hal-hal yang harus dipedomani oleh seorang pelajar dan pengajar sehingga proses belajar mengajar berlangsung denganbaik dan mencapai tujuan yang diinginkan dalam dunia pendidikan.69
3. Pemikiran pendidikan akhlak Hasyim Asy’ari dalam kitab adab al-‘alim wa al-muta’allim
Kitab adab al-‘alim wa al-muta’allim sampai sekarang masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan khususnya pesantren. Karya Hasyim Asyari ini mepunyai arti sopan santun atau akhlak pendidik dan orang yang di didik. Kitab ini mempunyai delapan bab, yang meliputi akhlak seorang guru dan pelajar serta keutamaan ilmu, ulama dan keutamaan proses belajar mengajar.
a. Keutamaan ilmu dan ulama serta keutamaan proses belajar dan mengajar
69 Abdul Hadi, KH HAsyim Asy’ari, (Yogyakarta: DIVA Press, 2018), Cet. I, h. 28-31
Hasyim Asy’ari dalam hal ini menjelaskan keutamaan ilmu dan ulama banyak sekali mengukip ayat al-Qur’an, Hadist serta perkataan ulama. Uraian Beliau mengukitp firman Allah Swt. dalam al-Qur’an,
َ ي ْر َف
“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara engkau dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “ (Q.S. Al-Mujadalah : 11).
Pengertiannya adalah Allah Swt. akan mengangkat derajat para
‘ulama, sebab mereka sanggup memadukan antara ilmu pengetahuan dan pengamalannya.
“Sesungguhnya dari hamba-hamba allah yang takut kepada Nya adalah para ulama”. (Q.S. al-Fathir: 28)
ىإ من
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan adalah makhluk yang paling baik (disisi Allah)…
(sesungguhnya) surga ‘Adh itu hanya disediakan bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan Nya (Allah).”
Dari dua ayat diatas secara jelas ulama merupakan orang yang senantiasa takut kepada Allah Swt. maka dari itu mereka disebut sebaik-baiknya makhluk yang Allah Swt. ciptakan. Ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi adalah kekasih Allah Swt., sebagaimana Nabi Saw.
menyatakan dalam sabda yang berbunyi:
70
ىءا َي ىب ْن َْلِا ُة َث َر َو ُءا َم َل ُع ْلا : َم مل َس َو ىه ْي َل َع ُللا ى مل َص َلا َق َو
“Dan Nabi Saw. bersabda: orang yang ahli ilmu (ulama) adalah penerus panji perjuangan para Nabi.”
70 Muhammad Hasyim Asy’ari, Adab al-Alim wa al-Muta’alim, (Surabaya: Tsurasil Islam), h. 13
Perlu diingat karena sesungguhnya buah dari ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. Mengamalkan ilmu yang dimiliki akan mendapatkan manfaat khususnya diri sendiri umumnya orang lain.
Orang yang mengamalkan ilmunya dengan baik termasuk orang-orang yang beruntung. Namun sebaliknya orang yang tidak mengamalkan ilmunya termasuk orang-orang yang merugi.
Kemudian Hasyim Asy’ari mengingatkan kepada orang yang memiliki ilmu serta mengamalkannya agar bertujuan hanya untuk memperoleh keridhaan Allah Swt. mendapatkan surga yang penuh kenikmatan bukanlah bertujuan mencari jabatan, harta benda dan mencari reputasi semata. Hasyim Asy’ari mengutip hadist dan perkataan para ulama yaitu:
Telah diriwayatkan dari Nabi Saw: “Barang siapa mencari ilmu untuk menjatuhkan para ulama atau berdebat dengan para ahli fiqh atau bertujuan untuk memalingkan pandangan manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka.” (H.R. Turmudzi)
bahwa ilmu itu digunakan untuk mencapai perolehan hal-hal duniawi;
berupa harta atau jabatan, maka pahala orang yang mencari ilmu itu benar-benar telah amat sangat rugi.
71 Ibid., h. 22-23
72 Ibid., h. 23-24
Hasan al Basri telah berkata: ”Siksaan ilmu pengetahuan adalah hati yang mati, kemudian ia ditanya: “Apa yang dimaksud dengan hati yang mati?.Ia menjawab: “Matinya hati adalah mencari harta dunia dengan menggunakan perbuatan-perbuatan akhirat”.
b. Akhlak Guru
1) Akhlak Guru Terhadap Diri Sendiri
Mengenai akhlak guru kepada diri sendiri menurut Hasyim Asy’ari terdapat dua puluh diantaranya yaitu seorang guru hendaknya:
pertama, selalu istiqamah dalam muraqabah kepada Allah SWT, baik ditempat yang sunyi atau ramai. Pengertian muraqabah ialah melihat Allah dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmahnya atau jalan yang terbaik bagi dirinya dengan mempertimbangkan dan merasakan tentang adanya pemantauan Tuhan kepadanya.
Kedua, senantiasa berlaku khauf ( takut kepada Allah ) dalam segala ucapan dan tindakanya, baik ditempat yang sunyi atau tempat ramai, karena orang yang alim (ustazd) adalah orang yang selalu dapat menjaga amanat, dapat dipercaya terhadap sesuatu yang dititipkan kepadanya, baik itu berupa ilmu, hikmah, dan perasaan takut kepada Allah.
Ketiga, senantiasa bersikap tenang.
Keempat, senantiasa bersikap wira’i. Wira’I menurut Ibrahim ibn Adham, adalah meninggalkan setiap perkara subhat sekaligus
73 Ibid.,
meninggalkan setiap perkara yang tidak bermanfaat yakni perkara yang sia-sia.
Kelima, selalu bersikap tawadlu’.
Keenam, selalu bersikap khusu’ kepada Allah SWT. Maksud dari khusu’ di atas adalah stabilnya hati dalam menghadap kebenaran, namun sebagian ulama yang mengatakan bahwa khusu’ adalah membelenggu mata dari melihat sesuatu yang tidak pantas.
Ketujuh, menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.
Kedelapan, tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga untuk mencapai keuntungan yang besifat duniawi.
Kesembilan, tidak mengagungkan santri-santri karena berasal dari anak penguasa dunia ( pejabat, konglomerat, dan lain-lain).
Kesepuuh, berakhlaq zuhud yaitu memprioritaskan akhirat daripada dunia.
Kesebelas, menjauhkan diri dari usaha-usaha yang rendah dan hina menurut watak manusia, juga dari hal-hal yang dibenci oleh syari’at atau adat istiadat ( kebiasaan ).
Kedua belas, menjauhkan diri dari tempat-tempat yang kotor ( maksiat ) yang dapat mengurangi sifat muru’ah ( menjaga diri dari hal-hal yang tidak terpuji ) sehingga menjadi bahan perbincangan yang jelek bagi orang lain yang dapat menimbulkan dosa bagi orang yang mengolok-oloknya.
Ketiga belas, beristiqamah dalam beramal sebagai syiar islam.
Kempat belas, bertindak dengan menampakkan sunnah-sunnah yang terbaik dan segala hal yang mengandung kemaslahatan kaum
muslimin melalui jalan yang dibenarkan oleh syari’at agama islam, baik dalam tradisi atau pada watak.
Kelima belas, membiasakan diri untuk melakukan kesunahan yang besifat syari’at, baik qauliyah atau fi’liyah.
Keenam belas, bergaul dengan orang lain dengan akhlak yang baik sebagai syiar agama Islam.
Ketujuh belas, membersihkan hati dan tindakanya dari akhlaq-akhlaq yang jelek dan diteruskan untuk merealisasikanya dalam perbuatan yang konkrit dan baik.
Kedelapan belas, senantiasa bersemangat dalam mencapai perkembanagn keilmuan dirinya dan berusaha dengan bersungguh sungguh dalam setiap akitivitas ibadahnya.
Kesembilan belas, mengambil pelajaran dan hikmah apapun dari setiap orang tanpa membeda-bedakan status , baik itu berupa jabatan, nasab, umur dan persoalan yang lainya.
Kedua puluh, hendaknya mampu membuat karangan dari keilmuannya.74
2) Akhlak Guru Ketika Mengajar
Pertama, seorang guru sebelum mengajar hendaknya membersihkan diri dari hadast dan kotoran, berpakaian yang layak serta memakai wangi-wangian.
Kedua, seorang guru ketika ingin melangkahkan kaki dari rumah ke majlis hendaknya berdoa. Kemudian sesampainya di majlis mengucapkan salam kepada hadirin serta duduk dengan baik dan sopan.
Ketiga, janganlah seorang guru mengajar dengan keadaan lapar, haus dahaga, marah dan ngantuk. Kemudian menjauhkan diri dari
74 Ibid., h. 55-69
bersenda gurau berlebih karena dapat mengurangi kewibawaannya.75
Keempat, seorang guru sebelum memulai pelajaran hendaknya membaca sebagian ayat al-Qur’an sebagai tabarukkan.76
Kelima, hendaknya seorang guru janganlah memperpanjang dan memperpendek pelajaran sehingga menimbulkan kebosanan dan kerusakan pemahaman.
Keenam, seorang guru hendaknya bisa membuat suasana kelas agar kondusif agar materi yang dismpaikan bisa didengar jelas.77
3) Akhlak guru terhadap pelajarannya
Pertama, berniat mendekatkan diri kepada Allah Swt. dalam menyebarkan ilmu serta meyampaikan hukum-hukum Allah Swt.78 Kedua, apabila mengajar dengan pelajaran yang banyak, maka dahulukan pelajaran yang lebih utama. Berawal dari tafsir al-Qur’an, hadist, usuluddin, usul fiqih, kitab-kitab mazhab, dan nahwu.79 Ketiga, seorang guru apabila ditanya suatu pelajaran dan dirinya tidak mengetahui, maka jawablah tidak tahu atau tidak mengerti karena jawaban itu termasuk sebagian dari ilmu.80
4) Tata karma guru terhadap pelajar
Pertama, dalam mengajar dan mendidik mereka, seorang guru hendaknya meluruskan niat mengharapkan ridho Allah Swt.
bermaksud mengamalkan ilmu serta dakwah dalam menegakkan kebenaran.
Kedua, memiliki sifat kasih sayang, sabar, dan selalu memotivasi muridnya dalam mengajar dan mendidik.
75 Ibid., h. 71-72
76 Ibid., h. 79
77 Ibid., h. 73-75
78 Asy’ari. loc.cit.
79 Asy’ari. loc.cit.
80 Ibid., h. 77
Ketiga, hendaknya bersungguh-sungguh dalam menyampaikan pengajaran dan guru menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh muridnya. Kemudian meminta kepada murid agar senantiasa diulang-ulang pembelajaran yang telah diajarkan
Keempat, hendaknya seorang guru menanyakan pelajar yang tidak hadir dan mendoakannya. Kemudian apabila pelajar tidak hadir lebih dari tiga hari maka kunjungilah rumahnya.81
c. Akhlak pelajar
1) Akhlak pelajar terhadap diri sendiri
Etika seorang pelajar terhadap dirinya sendiri ada sepuluh, yaitu;
Pertama, harus mensucikan hatinya dari berbohong, berkata kotor, dendam, hasud, keyakinan dan akhlak tidak baik. Agar pelajar dapat menerima ilmu, menghafalkannya, memahami makna-makna yang tersirat secara mendalam.
Kedua, memperbaiki niat dalam mencari ilmu, dengan tujuan untuk mencari ridha Allah SWT. tidak bertujuan untuk memperoleh tujuan duniawi.
Ketiga, jangan menunda-nunda belajar di waktu belia dengan terlalu banyak angan-angan yang bisa menggangu kesempurnaan mencari ilmu karena setiap jam akan terlewati umurnya yang tidak bisa diganti.
Keempat, bersifat qana’ah dalam memperoleh makanan ataupun pakaian serta sabar ketika dalam proses mencari ilmu, sehingga sumber-sumber hikmah akan mengalir kedalam hati.
81 Ibid., h. 81-85
Kelima, harus bisa membagi seluruh waktu dan menggunakannya setiap kesempatan dari umurnya, sebab umur yang tersisa itu tidak ada nilainya.
Keenam, menyedikitkan makan dan minum, karena apabila perut dalam keadaan kenyang maka akan menghalangi semangat ibadah dan badan menjadi berat. Salah satu faedah mempersedikit makan adalah badan menjadi sehat dan mencegah penyakit tubuh.
Ketujuh, seorang pelajar harus bersifat wara’ agar cahaya ilmu dapat mudah masuk.
Kedelapan, menyedikitkan makan yang merupakan salah satu sebab tumpulnya otak dan lemahnya panca indra. Kemudian mengurangi makanan yang menimbulkan banyak dahak yang dapat juga munpulkan akal fikiran dan memperberat badan seperti minum susu, makan ikan dan lain sebagainya.
Kesembilan, mengurangi waktu tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Jam tidur tidak boleh belebihi delapan jam dalamsehari semalam dan itu sepertiga dari waktu satu hari ( dua puluh empat jam).
Kesepuluh, meninggalkan pergaulan yang tidak penting apalagi bergaul dengan lawan jenis sampai pacaran. Itu akan menyia-nyiakan umur tanpa guna.82
2) Akhlak seorang pelajar terhadap guru
Akhlak seorang yang menuntut ilmu kepada gurunya terdapat dua belas macam diantaranya;
pertama, hendaknya seorang pelajar dalam mencari seorang guru harus mempertimbangkan serta istikharah terlebih dahulu tentang
82 Ibid., h. 24-28
siapa akhlak dan etika yang lebih baik serta pengetahuannya.
Kemudian seorang pelajar hendaknya memilih seorang guru yang ahli dalam bidangnya, mempunyai sifat kasih sayang, muru’ah, dikenal kehati-hatiannya serta bagus cara pengajaran dan pemahamannya. Sebagian ulama salaf berkata “ilmu itu agama maka perhatikan dari siapa kalian mengambil atau belajar agama kalian.”
Kedua, hendaknya mencari seorang guru yang secara jelas memiliki pemahaman syariat serta diakui keilmuan oleh guru-guru pada masanya.
Ketiga, menurut terhadap gurunya dalam segala hal dan tidak keluar
Ketiga, menurut terhadap gurunya dalam segala hal dan tidak keluar