BAB III GAM BARAN UMUM TENTANG PLURALISME AGAM A D
A. Pemikiran Pluralisme Keagamaan dan Teologi Agama-agama
a. Pengertian Pluralisme Agama
Secara etimologi, pluralisme agama berasal dari dua kata, yaitu "pluralisme" dan "agama." Dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan " al- ta‘addudiyyah al-diniyyah" dan dalam bahasa Inggris " religious pluralism."
Pluralisme berasal dari kata "plural" (Inggris) yang berati "mengenai lebih dari satu atau banyak".1 Dalam kamus The Contemporary English-Indonesian
Dictionary, "plural" diartikan dengan "lebih dari satu/ jamak dan berkenaan dengan keanekeragaman.2 Dalam kajian filosofis, "pluralisme" diberi makna sebagai doktrin, bahwa dunia terdiri dari berbagai kehidupan; atau substansi hakiki itu tidak satu dan tidak dua, akan tetapi banyak.3 Sedangkan dalam bahasa Arab " ta‘addudiyyah" berasal dari kata ta‘addud yang berarti katsrah,
1 Longman, Dictionary of Contemporary English, (Edinburgh: Pearson Education, 2001),
cet. Ke-3, h. 1083.
2 Peter Salim, The Dictionary English-Indonesian Dictionary, (Jakarta: Modern English
Press, 1997), Edisi ke-7, h. 1436.
yaitu hal yang banyak atau beraneka ragam.4 Ta‘addudiyyah berarti yang banyak atau berbilang (lebih dari satu).
Menurut Nurcholis Madjid, "plural" juga berasal dari bahasa latin adalah "plura" atau "plures" yang berarti "beberapa, banyak, lebih dari satu," dengan implikasi perbedaan.5 Pluralis mengandung makna adanya perbedaan, seperti bahasa, etnis, budaya, dan agama.
Secara terminologi pluralisme adalah keadaan di mana kelompok yang besar dan kelompok yang kecil dapat mempertahankan identitas mereka di dalam masyarakat tanpa menentang kebudayaan yang dominan.6 Atau pluralisme adalah paham yang meniscayakan keragaman dan perbedaan.7 Ada juga yang memberikan definisi "koeksistensinya berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karakteristiknya masing-masing."8 Pluralisme juga bisa diartikan dengan pemahaman akan kesatuan dan perbedaan, yaitu
4 Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia,
(Yogyakarta: Ponpes. Krapyak, t.th.), h. 513.
5 Nurcholish Madjid, “ Kebebasan Beragama dan Pluralisme dalam Islam” , dalam
Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF. (ed.) Passing Over Melintasi Batas Agama, (Jakarta: PT. Gramedia bekerja sama dengan Yayasan Wakaf Paramdina, 1998), h. 184.
6 Salim, The Dictionary English, h. 1436.
7 Syafi`i Mufid dan Munawar Fuad Noeh (ed.), Beragama di A bad Dua Satu, (Jakarta:
CV. Zikru'l-Hakim, 1997), h. 222.
kesadaran mengenai satu ikatan kesatuan dalam arti tertentu bersama-sama dengan kesadaran akan keterpisahan dan perpecahan kategoris.9
Menurut Masykuri Abdillah, salah seorang dosen Fakultas Syariah/ Pascasarjana UIN Jakarta, mengatakan pluralisme memiliki dua pemahaman, yaitu 1) Suatu teori yang menentang kekuasaan monolitis; dan sebaliknya, mendukung desentralisasi dan otonomi untuk organisasi- organisasi utama yang mewakili keterlibatan individu dalam masyarakat. Juga, suatu keyakinan bahwa kekuasaan itu harus dibagi bersama-sama di antara sejumlah partai politik. 2) Toleransi keragaman etnik atau kelompok- kelompok kultural dalam suatu masyarakat atau negara, serta keragaman kepercayaan atau sikap dalam suatu badan, kelembagaan, dan sebagainya.10
Farid Esack mendefinisikan pluralisme sebagai sebuah pengakuan dan bentuk penerimaan, bukan hanya sekedar toleransi terhadap adanya keberbedaan dan keragaman antara sesama atau terhadap penganut agama lain.11
9 Krisnanda Wijaya-Mukti, W acana Budha Dharma, (Jakarta: Yayasan Dharma
Pembangunan, 2003), h. 140.
10 Masykuri Abdillah, "Pluralisme dan Toleransi", dalam Nur Achmad, (ed.),
Pluralitas Agama Kerukunan dalam keragaman, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2001), h. 12.
Kata "agama" dalam agama Islam diistilahkan dengan " dîn". Dîn
menurut bahasa adalah tunduk, taat, patuh, jalan, wara'.12 Dalam kamus
Mukhtar al-Shihhah, kata dîn juga diartikan dengan taat, tunduk, dan patuh.13 Menurut istilah, dîn berarti jalan kepatuhan dan ketaatan kepada hukum, karena dîn juga berarti wara' berarti jalan menghindarkan dari perbuatan yang melanggar hukum.14
Menurut para ahli sejarah sosial cenderung didefinisikan sebagai suatu institusi historis atau suatu pandangan hidup yang institutionalized
(telah melembaga) yang mudah dibedakan dari yang lain yang sejenis, misalnya secara alami sangat mudah membedakan antara agama Budha dan Islam dengan hanya melihat sisi kesejarahan yang melatarbelakangi keduanya dan dari perbedaan sistem kemasyarakatan, keyakinan, ritual, dan etika yang ada dalam ajaran keduanya.15
Muhammad ‘Abd Allâh Darrâz mendefinisikan agama dari dua aspek,
pertama, sebagai keadaan psikologis, yakni religiusitas. Dengan demikian agama adalah kepercayaan atau iman kepada Zat yang bersifat ketuhanan
12Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A‘lâm, (Beirût: Dâr al-Masyrûq, 2003), h. 231. Lihat juga
Ibn Manzhûr, Lisân al-‘Arab, (Kairo: Dâr al-Ma‘ârif, t.th.), Jil. 2, h. 1469.
13 M. Abû Bakar bin ‘Abd al-Qâdir al-Râzî, Muktâr al-Shihhah, (Kairo: Dâr al-Hadîts,
2002), h. 127.
14 Ibn Manzhûr, Lisân al-‘Arab, Jil. 2, h. 1469. 15 Thoha, Tren Pluralisme, h. 13.
yang patut ditaati dan disembah. Kedua, sebagai hakikat eksternal, bahwa agama adalah seperangkat panduan teoritis yang mengajarkan konsepsi ketuhanan dan seperangkat aturan praktis yang mengatur aspek ritualnya.16
Harun Nasution memahami agama sebagai ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia.17 Ikatan ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap panca indera.18
Anis Malik Thoha menegaskan definisi agama di atas adalah yang yang mencakup semua jenis agama, kepercayaan, sekte maupun berbagai jenis ideologi modern seperti komunisme, humanisme, sekularisme, nasionalisme, dan lainnya.19
Jika "pluralisme" dirangkai dengan "agama" sebagai predikatnya, maka berdasarkan pemahaman tersebut di atas "pluralisme agama" adalah kondisi hidup bersama antar agama (dalam arti yang luas) yang berbeda-
16 Muhammad ‘Abd Allâh Darrâz, Al-Dîn: Buhûts Mumahhidah li Dirâsat al-Adyân,
(Kairo: tp., 1952), h. 29-32.
17 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI-Press, 1985), Jil.
I, h. 10.
18 Harun, Islam Ditinjau, h. 10. 19 Thoha, Tren Pluralisme, h. 14.
beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama.20
Dari beberapa pengertian mengenai pluralisme di atas, setidaknya ada beberapa hal yang perlu dipahami oleh masing-masing pemeluk agama dalam konteks pluralisme agama, antara lain: pertama, pluralisme adalah keterlibatan aktif seseorang dalam kemajemukan tersebut. Artinya setiap masyarakat mampu berinteraksi dengan cara positif dalam lingkungan kemajemukan. Kedua, pluralisme berbeda dengan kosmopolitanisme. Kosmopolitanisme meniadakan interaksi positif dalam wilayah kemajemukan, walaupun kenyataannya lingkungan ini beraneka ragam agama, ras, dan bangsa yang hidup berdampingan. Ketiga, pluralisme juga berbeda dengan relativisme, karena dalam relativisme kerangka berpikir seseorang atau masyarakat menentukan sebuah kebenaran dan juga seorang relativis tidak mengenal dan menerima suatu kebenaran yang menyeluruh yang berlaku untuk semua zaman.21 Keempat, dalam pluralisme agama
20 Thoha, Tren Pluralisme, h. 14.
21 Pendapat yang sama juga dilontarkan oleh Alwi Shihab tentang poin ini.
Walaupun Alwi mengakui bahwa dalam paham pluralisme juga terdapat unsur relativisme, yakni unsur tidak mengklaim kepemilikan tunggal (monopoli) atas suatu kebenaran, apalagi memaksakan kebenaran tersebut kepada pihak lain. Dalam konteks agama, konsekuensi dari relativisme agama akan menyatakan bahwa doktrin agama apapun harus dinyatakan benar, atau tegasnya “ semua agama adalah sama (equal value)” . Karena kebenaran agama-agama walaupun berbeda-beda dan bertentangan satu dengan lainnya tetap harus diterima. Lebih
seseorang tidak dibenarkan untuk menciptakan agama baru. Dengan cara mengelaborasi ajaran agama-agama lain untuk disatukan menjadi agama baru, karena pluralisme bukanlah sinkritisme.22
Pluralisme merujuk kepada kesadaran untuk hidup bersama secara sah dalam keberagaman pemikiran, kehidupan, dan tingkah laku yang dalam sisi tertentu sebenarnya tidak rukun antara satu dengan yang lain. Dalam konteks agama, konsep itu menuntut setiap pemeluk agama bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan dalam rangka pencapaian kerukunan dalam kebhinekaan.23
Pluralisme keagamaan bukanlah sekedar masalah mengakomodasi berbagai klaim kebenaran agama dalam wilayah keimanan pribadi seseorang. Pluralisme keagamaan secara inheren selalu merupakan masalah kebijakan publik di mana suatu pemerintah harus mengakui dan melindungi hak pemberian Tuhan kepada setiap pribadi untuk menentukan sendiri nasib spritualnya tanpa paksaan. Pengakuan terhadap kebebasan hati nurani dalam hal keimanan ini adalah titik temu konsep al-Qur'an mengenai
jelasnya baca Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1999), cet. ke-5, h. 41-42.
22 Penjelasan ini penulis rangkum dari Ruslani, Masyarakat Kitab dan Dialog
Antaragama: Studi Atas Pemikiran Mohammed Arkoun, (Yogyakarta: Bentang, 2000), h. 167-168.
pluralisme keagamaan, pluralisme antaragama maupun intraagama.24 Kompleksitas permasalahan pluralisme yang ada menuntut agar hal itu dipecahkan oleh semua pemeluk agama, karena pluralisme menjadi suatu keniscayaan yang harus diterima.
b. Sikap Dalam Teologi Agama-agama
Dalam penelitian ilmu agama-agama, paling tidak ada tiga sikap keberagamaan yang sering digunakan untuk pengklasifikasian pandangan, yaitu eksklusivisme, inklusivisme, dan pararelisme.25 Berikut akan penulis jelaskan ketiga pandangan teologis tersebut.
Pertama, sikap eksklusif. Sikap ini merupakan pandangan yang mengklaim kebenaran dan keselamatan hanya pada agama anutannya, tidak pada agama lain. Dalam agama Kristen, pandangan ini adalah bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan yang sah untuk keselamatan. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa,
24 Sachedina, Beda Tapi Setara, h. 53.
25 Dalam menjelaskan ketiga sikap ini, penulis merujuk pada teori Budhy Munawar-
Rachman yang tertuang dalam bukunya yang berjudul Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Paramadina, 2001), h. 44-48. Teori ini yang akan penulis gunakan untuk melihat dan menilai penafsiran Tim Tafsir Departemen Agama RI dalam menjelaskan ayat-ayat pluralisme yang penulis kaji, apakah penafsirannya tergolong eksklusivisme, inklusivisme, atau pararelisme dalam teologi agama-agama.
kalau tidak melalui Aku " (Yohanes 14: 6). Kemudian gereja merumuskan "Tidak ada keselamatan di luar Gereja" (extra ecclesiam nulla salus!).
Dalam agama Islam, banyak penafsir yang pemikirannya menyiratkan pandangan-pandangan eksklusif. Ada beberapa ayat yang biasa dipakai sebagai ungkapan eksklusifitas Islam, yaitu: QS. Al-Mâ'idah/ 5: 3, QS. Âli
‘Imrân 3/ 19 dan 85.
Kedua, sikap inklusif. Sikap ini merupakan pandangan yang mengklaim bahwa agama yang dianutnya memiliki kebenaran dan keselamatan yang lebih sempurna dibanding dengan agama lain; artinya agama lain masih mungkin benar dan selamat asalkan memiliki sejumlah kriteria tertentu. Dalam agama Kristen, pandangan inklusif ini berarti percaya bahwa seluruh kebenaran agama non-Kristiani mengacu kepada Kristus. Agama non-Kristen akan selamat, selama mereka hidup dalam ketulusan hati terhadap Tuhan, karena karya Tuhan pun ada pada mereka, walaupun mereka belum pernah mendengar Kabar Baik. Secara tidak lansung, sikap inklusif ini berpandangan bahwa agama-agama lain merupakan bentuk implisit dari agama yang dianut.
Kalangan Islam inklusif berpandangan bahwa agama semua nabi adalah satu, yaitu mengajarkan al-islâm (ketundukan dan kepasrahan total kepada Tuhan Yang Maha Esa). Karena pada hakekatnya, para nabi adalah
saudara satu ayah; ibu mereka banyak, namun agama mereka satu.26 Kalangan ini menganut pandangan al-Qur'an tentang adanya titik temu agama-agama (QS. Âli ‘Imrân/ 3: 64), di mana masing-masing umat telah
ditetapkan sebuah syarî‘ah (jalan menuju kebenaran) dan minhâj (cara atau metode perjalanan menuju kebenaran).
Ketiga, sikap pararelisme. Sikap ini berpandangan bahwa setiap agama (selain agama yang dianut) memiliki jalan keselamatannya sendiri. Klaim kebenaran hanya ada dalam agamanya (sikap eksklusif), atau yang melengkapi atau mengisi agama lain (sikap inklusif), haruslah ditolak demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis.
Terdapat satu sikap keagamaan lagi yang mirip dengan sikap pararelisme, yaitu sikap pluralis. Sikap pluralis memiliki beragam rumusan, yaitu Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama; Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran yang sama sah; atau setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran. Secara tidak langsung, sikap pluralis ini
26 ﻲِﻓ ﻡﻴﺭﻤِﻥﺒﺍ ﻰﺴﻴِﻌِﺒِﺱﺎﱠﻨﻟﺍ ﻰﹶﻟﻭَﺃﺎﹶﻨَﺃ ﻡﱠﻠﺴﻭِﻪﻴﹶﻠﻋﻪﱠﻠﻟﺍﻰﱠﻠﺼ ِﻪﱠﻠﻟﺍُلﻭﺴﺭ َلﺎﹶﻗَلﺎﹶﻗﹶﺓﺭﻴﺭﻫﻲِﺒَﺃﻥﻋ ﺩِﺤﺍﻭﻡﻬﹸﻨﻴِﺩﻭ ﻰﱠﺘﹶﺸﻡﻬﹸﺘﺎﻬﻤُﺃٍﺕﺎﱠﻠﻌِﻟﹲﺓﻭﹾﺨِﺇ ﺀﺎﻴِﺒﹾﻨَﺄﹾﻟﺍﻭِﺓﺭِﺨﺂﹾﻟﺍﻭﺎﻴﹾﻨﺩﻟﺍ ) . ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍﻩﺍﻭﺭ (
Dari Abû Hurairah ra. berkata, telah bersabda Rasûlullâh saw., " Aku adalah orang yang paling berhak atas Isa putra Maryam di dunia dan akhirat. Para Nabi adalah saudara satu bapak, ibu mereka berbeda-beda namun agama mereka satu. (HR. al-Bukhârî) Lihat CD Mausû‘ah al-Hadîts al-Syarîf, Sahih al-Bukhârî, no. hadis 3187.
berpandangan bahwa setiap agama memiliki peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan. Bukan sikap yang mengupayakan penyeragaman bentuk agama.
Sikap-sikap keagamaan di atas inilah yang nantinya penulis gunakan untuk melihat dan menganalisis penafsiran Tim Tafsir Departemen Agama RI terhadap ayat-ayat pluralisme yang penulis kaji.