• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jauhar Azizy Pluralisme Agama dalam Al Quran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jauhar Azizy Pluralisme Agama dalam Al Quran"

Copied!
200
0
0

Teks penuh

(1)

PLURALISM E AGAM A DALAM AL-QUR'AN :

TELAAH TERHADAP TAFSIR D EPARTEM EN AGAM A

TESIS

Telah Diujikan Sebagai Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Magister dalam Ilmu Agama Islam

Disusun oleh:

JAUHAR AZIZY

NIM: 04.2.00.1.05.01.0086

SEKOLAH PA SCA SA RJANA

UNIV ERSITA S ISLA M NEGERI (UIN)

(2)
(3)
(4)

ABSTRAK

Pluralisme Agama telah menjadi salah satu wacana kontemporer yang sering dibicarakan akhir-akhir ini di penghujung abad 20, khususnya di Indonesia. Wacana ini salah satunya, sebenarnya ingin menjembatani hubungan antaragama yang seringkali terjadi disharmoni dengan mengatasnamakan agama, diantaranya kekerasan sesama umat beragama, maupun kekerasan antarumat beragama. Dari masalah-masalah tersebut muncul pertanyaan apakah pemahaman seseorang terhadap agamanya yang kurang sesuai―untuk tidak mengatakan salah―atau memang ajaranya agamanya yang tidak benar.

Melihat fenomena hubungan disharmoni dalam umat beragama dan antaragama yang seringkali terjadi, memunculkan kebutuhan akan dialog (intra agama dan antaragama/antariman). Orang Islam, misalnya, mulai melihat kembali doktrin al-Qur'an tentang perlunya mencari titik temu (kalimah al-sawâ') di antara agama-agama (QS. Âli ‘Imrân/3: 64). Di antara intelektual Islam ada yang berpendapat bahwa dialog antaragama bukan saja mungkin dilakukan, tetapi juga harus dilakukan. Karena merupakan salah satu tema pokok al-Qur'an.

Peran lembaga negara yang menangani urusan-urusan agama, salah satunya di Indonesia, juga memainkan peranan penting untuk menciptakan kehidupan yang rukun dan damai dalam kemajemukan agama yang ada, dengan tanpa melihat umat agama yang mayoritas maupun yang minoritas. Departemen Agama RI sebagai lembaga negara yang menangani urusan-urusan keagamaan, sangat berperan dalam menciptakan koeksistensi-pluralistik beragama, yaitu kehidupan berdampingan secara damai dalam kemajemukan agama.

Tesis yang berjudul "Pluralisme Agama dalam Al-Qur'an: Telaah Terhadap Tafsir Departemen Agama" ini ingin melihat dan mengungkap penafsiran Tim Tafsir Depag RI terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan pluralisme agama. Khsususnya tentang pluralitas/kemajemukan agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama. Penelitian ini difokuskan pada kitab tafsir Al-Qur'an dan Tafsirnya (Edisi Yang Disempurnakan, 2004) Departemen Agama RI.

Alasan pemilihan kajian terfokus kepada tafsir Depag RI, karena Depag RI sebagai lembaga negara yang menangani urusan keagamaan dan menaungi enam agama besar yang ada di Indonesia, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Selain itu, wacana pluralisme agama ini marak dibicarakan sebelum dan sedang dikerjakannya proyek penyempurnaan Al-Qur'an dan Tafsirnya Depag RI. Penulis membatasi kajian ini dengan tiga pertanyaan dalam melihat penafsiran Tim Tafsir Depag RI, yaitu bagaimanakah penafsiran Al-Qur'an dan Tafsirnya Depag RI terhadap ayat-ayat pluralitas agama?; bagaimanakah penafsiran Al-Qur'an dan Tafsirnya Depag RI terhadap ayat-ayat kebebasan beragama?; dan bagaimanakah penafsiran Al-Qur'an dan Tafsirnya Depag RI terhadap ayat-ayat toleransi beragama? Dari batasan masalah di atas, penulis merumuskan penelitian dengan pertanyaan,

(5)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis. Deskriptif yang penulis maksud di sini adalah menggambarkan dan mengurai penafsiran Departemen Agama yang tertuang dalam al-Qur'an dan Tafsirnya terhadap ayat—ayat pluralisme agama. Adapun pluralisme agama yang penulis maksud di sini adalah hanya mencakup pembahasan tentang pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama.

Analitis sebagai upaya eksplorasi dan klarifikasi mengenai fenomena pemahaman, pemaksaan, interpretasi al-Qur'an, dan mengukuhkan pengetahuan tentang berbagai eksperimen tersebut. Dan analisis isi (content anlysis) dilakukan untuk menganalisis penafsiran al-Qur'an dan Tafsirnya Departemen Agama seputar ayat-ayat pluralisme agama.

Dari permasalahan di atas, dapat diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama.

(6)

KATA PENGA NTA R

Alhamdulillâh, puji syukur kepada ilahi yang telah memberikan hidayah

dan izin-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Tanpa restu dan izin-Nya, niscaya tesis ini tak mungkin dapat diselesaikan penulis.

Dalam pengantar tesis ini, penulis hendak menebarkan serangkaian terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan tugas akhir perkuliahan S1.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M. A., Direktur Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Azyumardi Azra, M. A. beserta jajarannya, atas semua bakti beliau-beliau terhadap kelangsungan dinamika sekolah pascasarjana di mana saya menempuh studi. Tak terkecuali juga, kepada segenap dosen dan karyawan yang tak kalah semangat pengabdiannya.

Berikutnya, terima kasih sedalam-dalamnya saya tujukan kepada pembimbing penulis, Bapak Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, M. A., yang senantiasa mengarahkan dan memberikan masukan dalam proses penulisan tesis ini.

Ungkapan terima kasih setulus hati juga tak lupa penulis haturkan kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda Drs. H. M. Syarbini Syam & Ibunda Dra. H. Mardlijah Busjairi, M. Pd., kesabaran, nasehat, dan doanya kepada penulis semakin membakar semangat penulis untuk senantiasa patuh dan bisa membahagiakannya. Juga kepada abang-abangku tercinta terima kasih atas segala motivasi dan bantuannya.

Tak lupa penulis sampaikan terima kasih banyak kepada Bapak Drs. M. Sohib Tahar, yang telah membantu mendapatkan data-data primer yang penulis butuhkan dalam penulisan tesis ini.

(7)

ucapkan terima kasih atas segala kebaikannya yang mempermudah penulis mengakses buku-buku untuk keperluan tesis ini.

Dalam perjalanan intelektual di konsentrasi Tafsir Hadis, penulis banyak mendapat motivasi dari kawan-kawan Konsentrasi Tafsir Hadis angkatan 2004, dan teman-teman konsentrasi lainnya yang sudah menciptakan suasana nan bersahabat, baik dalam diskusi di kelas maupun di luar, penulis sampaikan terima kasih atas diskusi dan tukar ilmunya.

Juga tak boleh terlewatkan, terima kasih kepada Mas Adib & Lembaga Kajian Pendidikan, Keilaman, dan Sosial Nusantara (LeKDIS), Om Owiec, dan Om Edi atas pinjaman bukunya. Tuk sahabatku Nahar "Bugis" Assaf tempat diskusi kecil, Lina IPB, Hendra "35" dan Zumaro, terima kasih atas diskusinya.

Spesial terima kasihku kepada Kholisoh "Iis" yang senantiasa memberikan semangat dan sabar menanti penulis dalam menyelesaikan tesis. Kesabaran dan kesetiaanmu lah yang juga selalu mengiringi penulis dalam mendapatkan ide penelitian tesis ini.

Keterbatasan ruang, meniscayakan penulis tak mungkin mencantumkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Kepada mereka yang namanya belum tercantum dalam pengantar ini, terima kasih penulis tak berkurang sebagaimana tertujukan kepada semua pihak-pihak yang telah tertulis.

Walhasil, tanpa mengecilkan wujud kontribusi pihak-pihak yang telah disebut, karya tulis ini memang tidak luput dari beragam kekurangan. Karena itu, segenap masukan yang datang kemudian sepatutnya mendapat tindak lanjut.

Semanggi II/ 05, Ciputat 23 Mei 2007

Penulis,

(8)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR... vi

DAFTAR ISI ... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah... 8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 9

D. Kajian Pustaka... 10

E. Landasan Teori ... 15

F. Metodologi Penelitian 1. Metode Pengumpulan Data……….... 21

2. Metode Pembahasan ... 24

3. Teknik Penulisan……… ... 25

G. Sistematika Pembahasan ... 25

(9)

B. Tahapan-tahapan Penyempurnaan Tafsir Departemen Agama a. Perubahan Keputusan Menteri Agama (KMA) Tentang Dewan

Penyelenggara Pentafsir Al-Qur'an……… 31

b. Perkembangan Penyempurnaan Tafsir Departemen Agama. 36 C. Metode dan Corak Tafsir Departemen Agama... 45

D. Sumber-sumber Penafsiran Departemen Agama……… 61

BAB III GAM BARAN UMUM TENTANG PLURALISME AGAM A DI INDONESIA... 66

A. Pemikiran Pluralisme Keagamaan dan Teologi Agama-agama a. Pengertian Pluralisme... ... 66

b. Sikap dalam Teologi Agama-agama... ... 73

B. Islam dan Kemajemukan Agama... 76

C. Pluralisme Agama di Indonesia... 88

D. Departemen agama dan Kehidupan Beragama di Indonesia... 99

BAB IV TELAAH TERHADAP PENAFSIRAN DEPARTEMEN AGAM A TENTANG AYAT-AYAT PLURALISM E AGAM A ... 88

A. Penafsiran Ayat-ayat Tentang Pluralitas Agama... 88

a. QS. Al-Baqarah/ 2: 62 ... 109

b. QS. Al-Baqarah/ 2: 148 ... 118

c. QS. Al-Mâ'idah/ 5: 48 ... 123

(10)

B. Penafsiran Ayat-ayat Tentang Kebebasan Beragama ... 135

a. QS. Al-Baqarah/ 2: 256 ... 136

b. QS. Yûnûs/ 10: 99 ... 141

c. QS. Yûnûs/ 10: 108 ... 147

d. QS. Al-Isrâ'/ 17: 15... 150

e. QS. Al-Kahfi/ 18: 29 ... 153

C. Penafsiran Ayat-ayat Tentang Toleransi Beragama ... 157

a. QS. Al-Mâ'idah/ 5: 48 ... 159

b. QS. Al-An‘âm/ 6: 108... 164

BAB V PENUTUP... 172

A. Kesimpulan... 172

B. Saran... 173

DAFTAR PUSTAKA ... 175

(11)

PEDOM AN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

= tidak dilambangkan

= f

= b

= q

= t

= k

= ts

= l

= j

= m

= h

= n

= kh

= w

= d

= h

= dz

= '

= r

= y

= z

_

َ

___

= a

= s

ِ

= i

= sy

ُ

____

= u

= sh

ﻱ

...

َ

= a

i

= dh

ﻭ

َ

...

= a

u

=

th

َ

...

= â

= zh

ِ

...

= î

=

ﻭ

ُ

...

= û

= gh

ﻱ

...

ِ

=

iy

= h, kecuali bila di-idhâfah-kan, maka = t

= h

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur'an diyakini oleh kaum Muslim sebagai kitab suci yang sempurna. Di dalamnya terdapat tata aturan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama makhluk. Isi al-Qur'an mencakup semua tuntunan bagi kehidupan manusia di muka bumi agar selamat dan bahagia menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Bila dilakukan penelitian lebih lanjut, ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang berkaitan dengan hubungan vertikal kepada Allah swt.

(13)

dalam prakteknya, semakin rinci dan detail sebuah aturan akan semakin sulit diimplementasikan dalam kehidupan yang dinamis dan berubah. Itulah sebabnya mengapa al-Qur'an dan ajaran Islam tidak ketinggalan zaman, dan selalu dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi manusia yang berubah-ubah. Hal ini sesuai dengan kaidah al-Islâm shâlih li kulli zamân wa

makân (Islam kompatibel dengan perkembangan zaman dan dimana saja). Inti ajaran Islam adalah tauhid, yaitu mengajarkan kepada manusia bahwa hanya ada satu pencipta, yaitu Allah swt. Selain Dia, semua hanyalah makhluk. Di antara ciptaan-Nya, manusia adalah makhluk yang paling sempurna (QS. Al-Isrâ/ 17: 70).1 Makhluk lain patut memberikan penghormatan kepada manusia.

Manusia adalah makhluk yang bermartabat dan harus dihormati tanpa membedakan ras, suku, bangsa, agama, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, gender, dan berbagai ikatan primordial lainnya. Keragaman manusia adalah sunnatullah. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai (QS. Al-Hujurât/ 49: 13).

(14)

Pluralitas tidak hanya dari aspek kejadian manusia yang dulunya berawal dari yang tunggal, tetapi juga dalam aspek agama Samawi yang pada awalnya berawal dari satu agamaTauhidtelah berubah menjadi realitas plural. Al-Qur'an telah memberikan prinsip-prinsip yang harus dipegang sebagai cara yang baik untuk mengatasi pluralitas tersebut.2

Nabi Muhammad saw. telah mencontohkan sebuah tatanan kehidupan yang tak berkonflik di tengah pluralitas agama dan suku. Dengan "Piagam Madinah"3 ternyata saat itu kedamaian mampu diwujudkan tanpa perlu mengorbankan nyawa dan harta benda, namun mampu hidup berdampingan satu sama lain tanpa melihat perbedaan. Maka, patutlah kiranya kembali dapat diterapkan dalam konteks bermasyarakat sekarang.4

2 QS. Al-Baqarah/ 2: 256; Al-Mâ'idah/ 5: 48, Yûnûs/ 10: 99.

3 Dalam Piagam Madinah ini intinya menggarisbawahi lima hal pokok sebagai dasar

bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pertama, prinsip persaudaraan dalam Islam (ukhuwah Islamiyah), semua umat Islam dari berbagai latar belakang dan dari berbagai suku pada hakekatnya bersaudara. Kedua, prinsip saling menolong dan melindungi, penduduk Madinah yang terdiri dari beragam suku, agama, dan bahasa harus saling membantu dalam menghadapi lawan. Ketiga, prinsip melindungi yang teraniaya. Keempat, prinsip saling kontrol. Kelima, prinsip kebebasan beragama. Lihat Nurcholis Madjid, Islam dan Kebebasan Beragama, (PT. Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, 1998), h. 195.

4 Hal ini akan memudahkan umat Muslim dalam memaparkan teladan yang pernah

(15)

Pluralitas/ kemajemukan agama, perlu dipahami sebagai suatu realitas yang harus ditanggapi secara positif melalui dialog dan kerjasama untuk menemukan satu titik temu dan mencapai kalimah sawâ'. (QS. Âli ‘Imrân/ 3: 64). Pada dataran itu, sebagaimana dinyatakan Amin Abdullah setelah menyadari sifat truth claim (klaim kebenaran) yang terdapat dalam keyakinan para pemeluk agama yang berbeda-beda,5 kitab suci (al-Qur'an) ini mengajak seluruh penganut agama-agama non-Islam dan juga kepada penganut agama Islam untuk mencapai titik temu di luar aspek teologis yang memang sudah berbeda sejak awal.

Quraish Shihab mengakui bahwa dalam sejarah agama-agama telah terjadi pertikaian dalam pemeluk agama yang sama dan antar pemeluk agama yang berbeda. Tetapi pertikaian tersebut lebih disebabkan oleh kepentingan lain di luar agama.6 Manusia diberi kebebasan untuk menerima atau menolak petunjuk agama (QS. Yûnûs/ 10: 108; Isrâ'/ 17: 15; al-Kahfi/ 18: 29). Karena itu Tuhan menuntut ketulusan beragama dan tidak

"Tanamkanlah dalam hatimu kasih sayang, cinta, kelembutan kepada rakyatmu… sesungguhnya mereka ada dua golongan, baik mereka sebagai saudaramu dalam agama, atau mitramu sebagai makhluk." Lihat Fahmi Huwaydi, Demokrasi, Oposisi dan Masyarakat Madani, terj. Muhammad Abdul Ghaffar E. M., (Bandung: Mizan, 1996), cet. 1, h. 172.

5 Ayat-ayat al-Qur'an yang menginformasikan pemeluk masing-masing agama

(utamanya tiga agama Samawi) mengklaim kebenaran akan agamanya adalah QS. Al-Baqarah/ 2: 11, 120, 213 dan Âli ‘Imrân/ 3: 85. Lebih lanjut lihat Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural; Pemetaan Atas W acana Islam Kontemporer, (Bandung: Mizan, 2000), cet. I, h. 74.

(16)

membenarkan paksaan dalam bentuk nyata maupun terselubung, besar atau kecil sekalipun (QS. Al-Baqarah/ 2: 256; Yûnûs/ 10: 99). Prinsip utama agama adalah kemaslahatan umat manusia.7 Dengan menggali ajaran-ajaran agama, meninggalkan fanatisme buta, dan berpijak pada kenyataan, jalan akan dapat dirumuskan.

Universalitas al-Qur'an menunjukkan bahwa wahyu itu menerima pluralitas agama8 (QS. Al-Baqarah/ 2: 62) sebagai suatu keniscayaan sehingga kaum muslimin harus menegosiasikan, mentransformasikan, dan menekankan kesatuan fundamental umat manusia sebagai sama-sama makhluk yang berasal dan diciptakan Tuhan.9 Al-Qur'an juga menegaskan

7 Shihab, Membumikan al-Qur'an, h. 219.

8 Al-Qur'an memang tidak menyebut pluralitas agama secara langsung secara jelas.

Al-Qur'an menyebutkan dengan "para penganut" atau "orang-orang" dalam menggambarkan adanya keragaman agama, misalnya dalam QS. Al-Baqarah/ 2: 62 disebutkan orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan Shâbi'în. Namun dalam berbagai kitab tafsir, khususnya dalam Al-Qur'an dan Tafsirnya Depag RI, dijelaskan yang dimaksud orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang mengakui adanya Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-malaikat-Nya, para rasul-malaikat-Nya, hari kiamat, dan qadha & qadar. Sedangkan orang-orang Yahudi adalah orang-orang-orang-orang yang menganut agama Yahudi. Orang-orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang menganut agama Nasrani. Dan Shabi'în adalah orang-orang yang mengetahui adanya Tuhan Yang Maha Esa, dan mempercayai adanya pengaruh bintang-bintang.

Dari keterangan di atas, dapat dipahami meskipun secara eksplisit tidak menyebutkan agama secara langsung, namun secara implisit mengirformasikan adanya kemajemukan agama. Karena pemeluk agama tidak bisa dipisahkan dari agama yang dipeluknya. Alasan penulis memilih QS. Al-Baqarah/ 2: 62 dalam menjelaskan adanya pluralitas agama, akan dibahas pada sub bab Landasan Teori dalam Bab I ini.

9 Abdul Aziz Sachedina, The Islamic Roots od Democratic Pluralism, (New York: Oxford

(17)

bahwa keragaman manusia tidak terelakkan bagi suatu tradisi tertentu untuk menentukan kepercayaan umum, nilai, dan tradisi yang perlu bagi kehidupan masyarakat.10 Menjalin kedekatan dengan al-Qur'an menjadi sangat penting, karena umat Islam akan semakin toleran apabila memahami kandungan al-Qur'an dengan baik. Karena menurut Nurcholis Madjid yang menjadikan orang Islam tidak toleran adalah ketidaktahuannya tentang al-Qur'an.11

Di Indonesia, Departemen Agama12 sebagai lembaga yang menaungi enam agamaIslam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu13memiliki peranan penting dalam upaya membangun dialog

Beda Tapi Setara: Pandangan Islam Tentang Non-Islam terj. Satrio Wahono, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2004), cet. ke-2, h. 55-57.

10 Sachedina, Beda Tapi Setara, h. 58.

11 Nurcholis Madjid, Agama dan Dialog Antarperadaban, (Jakarta: Paramadina, 1996), h.

231.

12 Departemen Agama ini berdiri setelah Islam tidak bisa menjadi dasar negara

Indonesia dan setelah kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya," dihapus dari Piagam Jakarta. Lembaga ini berdiri atas usulan dua tokoh nasionalis sekuler, yaitu Syahrir dan Amir Syarifuddin, yang belakangan menjadi tokoh komunis. Karena mereka menyadari bahwa di kemudian hari pasti bisa timbul gejolak dari umat Islam untuk memasukkan delapan kata di atas dalam Undang-Undang Dasar 1945. Lihat makalah M. Dawam Rahardjo, Hari Depan Kebebasan Beragama di Indonesia, pada seminar "Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia," di Universitas Paramadina pada 19 Juli 2006, bandingkan dengan Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945: Kajian Perbandingan Tentang Hidup Bersama dalam Masyarakat yang Majemuk, (Jakarta: UI Press, 1995), h. 152-154.

13 Agama Konghucu diakui oleh pemerintah pada masa pemerintahan Presiden

(18)

dan kerukunan antar umat beragama. Dengan berdirinya Departemen Agama sebenarnya berlaku kesetaraan antara semua agama, tidak ada minoritas maupun mayoritas agama, kesemuanya mempunyai hak-hak yang sama, yaitu kebebasan beragama sebagaimana tercantum dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945 sebagai salah satu kebebasan sipil pada tingkat warga.

Selain itu, Departemen Agama menerbitkan Al-Qur'an dan Tafsirnya

yang telah mengalami beberapa revisi.14 Dan wacana tentang "pluralisme agama" di Indonesia telah marak sebelum revisi tafsir Departemen Agama Edisi Yang Disempurnakan (Th. 2004) dilakukan. Secara tidak langsung, pemaknaan kembali terhadap ayat-ayat al-Qur'an sesuai dengan kondisi sosial masyarakat juga perlu dilakukan oleh Departemen Agama. Penafsiran kembali inilah yang mendorong penulis untuk mengkaji dan meneliti lebih

mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Meskipun Inpres tersebut tidak secara eksplisit mencabut pengakuan terhadap eksistensi agama Konghucu, namun dalam praktek di lapangan kesan pengingkaran terhadap agama Konghucu sangat dirasakan sehingga hak-hak sipil penganut agama Konghucu menjadi terabaikan, seperti masalah perkawinan di mana Kantor Catatan Sipil tidak mau mencatat, tidak memperoleh pendidikan agama Konghucu di sekolah, perayaan hari raya, dan sebagainya.dengan terbitnya Kepres No. 6 Tahun 2000, maka hak-hak sipil penganut agama Konghucu dipulihkan kembali.

14 Tafsir Departemen Agama pertama kali diterbitkan lengkap 30 juz pada 1980.

(19)

jauh tentang tafsir Departemen Agama Edisi Yang Disempurnakan, khususnya terhadap ayat-ayat pluralisme agama, di mana wacana tersebut marak di Indonesia sebelum edisi yang disempurnakan tersebut mulai dilakukan. Untuk itu, penelitian tesis ini penulis beri judul: " Pluralisme

Agama dalam Al-Qur'an: Telaah Terhadap Tafsir Departemen Agama."

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Kajian tentang pluralisme agama secara garis besar membahas permasalahan-permasalahan sebagai berikut: (1) kemajemukan/ pluralitas agama, (2) kebebasan beragama, (3) keragaman syariat, (4) anjuran berbuat baik/ kompetisi dalam kebaikan, (5) berlaku adil dan hidup damai berdampingan, (6) toleransi umat beragama, dan (7) dialog antaragama untuk mencari titik temu (kalimah al-sawâ’).

(20)

dibahas ini juga hanya dibatasi dari perspektif penafsiran " al-Qur'an dan

Tafsirnya" (edisi yang disempurnakan, 2004) Departemen Agama Republik Indonesia.

Berdasarkan batasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah dengan pertanyaan: Bagaimanakah Al-Qur'an dan Tafsirnya (edisi yang disempurnakan, 2004) Departemen Agama RI menjelaskan ayat-ayat al-Qur'an

yang terkait dengan wacana pluralisme agama? Dalam hal ini, kajian penelitian tesis ini lebih menitikberatkan pada analisis terhadap penafsiran al-Qur'an

dan Tafsirnya (edisi yang disempurnakan, 2004) Departemen Agama RI terhadap ayat-ayat pluralisme agama.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian tesis ini dimaksudkan untuk memberi jawaban terhadap masalah pokok di atas, yaitu Bagaimana penafsiran " al-Qur'an dan Tafsirnya"

(edisi yang disempurnakan, 2004) Departemen Agama RI terhadap ayat-ayat pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama? Karena di satu sisi Departemen Agama sebagai lembaga yang menaungi dan mengatur enam agama―Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu―

(21)

penafsirannya termasuk sikap keberagamaan yang eksklusif, inklusif, atau pluralis.

Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain adalah:

1. Sebagai sumbangan informasi ilmiah bagi para peminat dan pengkaji masalah pluralisme agama;

2. Memperluas wawasan terhadap penafsiran al-Qur'an menyangkut masalah-masalah atau wacana kontemporer;

3. Menjadi kontribusi ilmiah dalam menyikapi masalah-masalah atau wacana kontemporer dengan berlandaskan al-Qur'an;

4. Kajian ini melengkapi dan menambah khazanah keilmuan Islam, dan dengan harapan dapat memberikan arah bagi penelitian-penelitian yang lebih intensif di kemudian hari.

D. Kajian Pustaka

Pembahasan mengenai " pluralisme agama" bukanlah hal yang baru. Karena telah cukup banyak ditemukan berbagai tulisan yang membahas tentang pluralisme agama baik oleh orang-orang Barat maupun peneliti peribumi.

(22)

bukunya Qur'ân, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interrelegius

Solidarity Against Oppression, kemudian buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Watung A. Budiman dengan judul Membebaskan Yang Tertindas Al-Qur'an, Liberalisme, Pluralisme diterbitkan Mizan, 2000. Di sini dibahas tentang pluralisme untuk pembebasan Afrika Selatan dari rezim Apartheid.15 Karya ini berusaha mendekonstruksi konsep iman, kufur, dan Islam demi sebuah tatanan kehidupan yang membebaskan. Menurutnya perbedaan keberagamaan tidaklah menghalangi seseorang untuk bekerjasama dalam menegakkan kemanusiaan universal. Namun, pluralisme harus dibumikan untuk menggalang solidaritas kemanusiaan.

Abdul Aziz Sachedina dengan bukunya The Islamic Roots of Democratic

Pluralism, kemudian buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Satrio Wahono dengan judul Kesetaraan Kaum Beriman Akar Pluralisme

Demokratis dalam Islam, diterbitkan oleh PT. Serambi Ilmu Semesta pada 2002. Buku ini berbicara tentang akar pluralisme demokratis dalam Islam, Pluralisme dalam al-Qur'an, dan landasan kebebasan beragama.

Gamal al-Banna dengan bukunya Ta‘addudiyyah fî Mujtama‘

al-Islamiy, kemudian buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Taufik Damas dengan judul Doktrin Pluralisme Dalam al-Qur'an, diterbitkan

15 Farid Esack, A l-Qur'an, Pluralisme, Liberalisme: Membebaskan yang Tertindas, terj.

(23)

oleh PT. Menara pada 2006. Selain berbicara tentang kenyataan pluralistik di kalangan masyarakat Islam, buku ini berbicara tentang Pluralisme dalam al-Qur'an, yaitu al-Qur'an mengandung isyarat-isyarat tentang pluralisme dan merupakan sumber otentik bagi pluralisme.

Dari kalangan peneliti pribumi karya tentang pluralisme agama lebih banyak, di antaranya Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban Sebuah Telaah Kritis Tantang Masalah Keimanan (1992), Pluralitas Agama Kerukunan dalam Agama (2001), Islam Agama Kemanusiaan, Membangun tradisi dan Visi baru Islam Indonesia (2003); Amin Suma (2001), Pluralisme Agama Menurut al-Qur'an: Telaah Aqidah dan Syari‘ah; Budhi Munawar Rachman (2001), Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. Buku-buku tersebut hampir keseluruhannya menggunakan pendekatan sosial dalam membahas masalah pluralisme agama, kecuali yang dilakukan oleh Amin Suma yang berangkat dari ayat-ayat al-Qur'an dan untuk konsumsi umat Islam, maka dia menggunakan pendekatan akidah dan syariah dalam membahas masalah pluralisme agama sesuai dengan ayat-ayat al-Qur'an yang dibahas.

(24)

pluralisme agama menurut al-Qur'an secara umum, tidak mengacu pada penafsiran atau pendapat ulama tertentu. Karya ini juga masih luput dari arah yang hendak penulis teliti.

Selain itu, terdapat beberapa akademisi yang mengulas seputar tafsir Depag RI " Al-Qur'an dan Tafsirnya" , diantaranya adalah Adang Kuswaya dengan artikelnya Menimbang Tafsir DEPAG R.I: Telaah Penafsiran Surat al-Fatihah, artikel ini dimuat pada situs http:/ / www.stainsalatiga.ac.id. Dalam artikelnya, Kuswaya secara khusus menyoroti surah al-Fâtihah, dengan mengungkapkan pesan keagamaan yang terkandung di dalamnya, yaitu menyangkut masala ibadah, hukum-hukum dan peraturan-peraturan, janji dan ancaman, dan kisah-kisah atau cerita-cerita. Selain itu, Kuswaya sedikit menyinggung tentang bentuk penyajian dan corak penafsiran yang terdapat dalam " Al-Qur'an dan Tafsirnya" dengan studi kasus pada surah al-Fâtihah.

(25)

tersebut tahun 2003. pembahasannya mencakup latar belakang penulisan tafsir, metodologi: format buku, metode dan sistematika penulisan, bentuk dan corak, pemikiran yang mempengaruhi penafsiran, dan disertai contoh penafsiran. Namun, di sini Tahar hanya menginformasikan profil tafsir Depag tanpa ada penelitian/ analisis lebih dalam.

M. Quraish Shihab dalam salah satu tulisannya "Pengamatan Sekilas Terhadap Al-Qur'an dan Tafsirnya" yang dimuat dalam bukunya Menabur

Pesan Ilahi, diterbitkan Lentera Hati, 2006, melakukan pengamatan sekilas terhadap Al-Qur'an dan Tafsirnya Depag RI, khususnya sebelum dilakukan upaya penyempurnaan terhadap tafsir tesebut. Hal-hal yang diamati oleh Quraish adalah riwayat-riwayat yang disajikan, utamanya dalam menukil riwayat hadis yang sahih dan tidak sahih; ketelitian alih bahasa, yaitu upaya mengalihbahasakan/ menterjemahkan makna-makna al-Qur'an sesuai dengan pesan yang dikandungnya; rujukan yang digunakan, utamanya dalam juz 30 kurang labih 95 % merupakan teks asli tafsir al-Maraghi; dan beberapa masalah ilmiah.

(26)

dan Tafsirnya Departemen Agama berikut uraian kritis terhadapnya berdasarkan metodologi pendekatan yang digunakan.

E. Landasan Teori

Landasan teori ini, penulis maksudkan untuk menjelaskan alasan pemilihan ayat-ayat al-Qur'an yang terkait dengan kajian yang akan diteliti oleh penulis, yaitu pluralisme agama. Para akademisi yang pernah meneliti tentang pluralisme agama, berbeda-beda dalam memilah dan mengutip ayat-ayat al-Qur'an berkenaan dengan wacana tersebut. Berikut ini akan penulis bandingkan pemilahan ayat-ayat al-Qur'an yang dilakukan oleh para peneliti wacana pluralisme agama tersebut, khususnya yang berkaitan dengan pengakuan al-Qur'an terhadap pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama.

Abdul Aziz Sachedina misalnya, mengelompokkan ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan wacana pluralisme agama. Menurutnya, ayat-ayat al-Qur'an yang termasuk dalam pembahasan pluralitas agama diantaranya QS. Al-Baqarah/ 2: 62 dan 213, Mâ'idah/ 5: 48, dan al-Kâfirûn/ 109: 1-6.16 Sedangkan ayat-ayat al-Qur'an yang membahas tentang kebebasan beragama, diantaranya QS. Al-Baqarah/ 2: 256, Yûnûs/ 10: 99, dan

(27)

Qâf/ 50: 45.17 Dan ayat-ayat al-Qur'an yang menjelaskan toleransi beragama, diantaranya QS. Al-Mâ'idah/ 5: 48 dan al-An'âm/ 6: 108.18

Gamal al-Banna juga memilah ayat-ayat al-Qur'an yang terkait dengan wacana pluralisme agama sebagai berikut: 1) pluralitas agama: QS. Al-Baqarah/ 2: 62;19 2) kebebasan beragama: QS. Al-Baqarah/ 2: 256, Yûnûs/ 10: 99 & 108, al-Isrâ'/ 17: 15, al-Kahfi/ 18: 29;20 3) toleransi beragama: dalam pembahasan ini, secara eksplisit al-Banna tidak menjelaskannya, namun dia langsung membahas dan menjelaskan masalah "perbedaan" yang terjadi, baik seumat beragama maupun antarumat beragama diserahkan kepada Allah swt.―dari perspektif umat Islam. Al-Banna banyak mengutip ayat

al-Qur'an yang mengandung kata ikhtalafa (berselisih) dengan berbagai derivasinya, diantaranya: QS. Al-Baqarah/ 2: 113, Âli ‘Imrân/ 3: 55, Mâ'idah/ 5: 48, An‘âm/ 6: 164, Yûnûs/ 10: 19 & 93, Nahl/ 16: 124, al-Syûrâ/ 42: 10, al-Sajdah/ 32: 25, dan al-Zumar/ 39: 46.21

17 Sachedina, Beda Tapi Setara, h. 160 dan 169. 18 Sachedina, Beda Tapi Setara, h. 125 dan 167.

19 Gamal al-Banna, al-Ta‘addudiyyah fî al-Mujtama‘ al-Islâmiy, telah diterjemahkan ke

dalam bahasa Indonesia oleh Taufik Damas dengan judul Doktrin Pluralisme dalam al-Qur'an, (Jakarta: Menara, 2006), h. 46.

(28)

Fathimah Usman memilah ayat-ayat al-Qur'an yang termasuk dalam pembahasan pluralitas agama. Menurutnya, Ayat-ayat al-Qur'an yang ia kutip ini adalah pengakuan al-Qur'an terhadap para pemeluk agama-agama yang berarti diakuinya agama-agama mereka. Diantara ayat-ayat tersebut adalah QS. Al-Baqarah/ 2: 62 dan al-An‘âm/ 6: 108.22 Fathimah hanya mengutip satu ayat al-Qur'an yang membicarakan tentang kebebasan beragama, yaitu QS. Al-Baqarah/ 2: 256.23 Sedangkan toleransi agama tidak termasuk dalam pembahasan penelitiannya.

J. Suyuthi Pulungan dalam bukunya "Prinsip prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau dari Pandangan al-Qur'an" mengelompokkan ayat-ayat al-Qur'an yang membicarakan tentang kebebasan beragama, yaitu QS. Al-Baqarah/ 2: 256, Yûnûs/ 10: 99, Yûsuf/ 12: 103, dan al-Kâfirûn/ 109: 6.24 Dalam hal prinsip hubungan antarpemeluk agama, Pulungan mengelompokkan QS. Al-Mâ'idah/ 5: 5, al-‘Ankabût/ 29: 46,

22 Fathimah Usman, W ahdat al-Adyan: Dialog Pluralisme Agama, (Yogyakarta: LkiS,

2002), h. 71-71.

23 Fathimah, W ahdat al-Adyan, (Yogyakarta: LkiS, 2002), h. 70.

24 J. Suyuthi Pulungan, Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau

(29)

dan al-Mumtahanah/ 60: 8-9.25 Namun, Pulungan tidak membahas masalah pluralitas/ kemajemukan agama dalam bukunya ini.

Hendar Riyadi misalnya, memilah ayat-ayat al-Qur'an sesuai dengan pesan/ isi yang dikandung oleh ayat yang dikutipnya. Riyadi mengelompokkan QS. Al-Baqarah/ 2: 148 dan al-Mâ'idah/ 5: 48 sebagai penegasan terhadap pluralitas atau kemajemukan agama.26 Sedangkan QS. al-Baqarah/ 2: 62, Riyadi masukkan dalam pembahasan jaminan keselamatan bagi komunitas agama-agama yang termasuk dalam Ahl al-Kitâb (Yahudi,

Nashrani, Shabi'în), bahkan Riyadi mengutip QS. al-Hajj/ 22: 40 untuk menjelaskan pengakuan atau penerimaan atas spiritualitas agama-agama, bukan hanya dimaksudkan untuk menjaga integritas masyarakat multiagama.27 Dalam hal kebebasan beragama, Riyadi hanya mengutip QS. Al-Baqarah/ 2: 256 dalam penjelasannya. Sedangkan masalah toleransi beragama, Riyadi mengelompokkan QS. Al-Mâ'idah/ 5: 48 dan 2, al-An‘am/ 6: 108, al-Nisâ'/ 4: 86,28 dan al-Mumtahanah/ 60: 8.29 Ayat-ayat

25 Pulungan, Prinsip-prinsip, h. 172-173 dan 313-314.

26 Hendar Riyadi, Melampaui Pluralisme: Etika al-Qur'an Tentang Keragaman Agama,

(Jakarta: RMBOOKS & PSAP, 2007), h. 67-68.

(30)

tersebut, Riyadi kelompokkan dalam pembahasan toleransi, khususnya berbicara tentang kompetisi untuk saling berbuat baik dan melakukan kerja sama/ pertemanan dalam rangka kemanusiaan dan masih dalam koridor hubungan antaragama.

Quraish Shihab memilah ayat-ayat al-Qur'an yang termasuk dalam pembahasan tentang kebebasan beragama, yaitu QS. Al-Baqarah/ 2: 256, Yûnûs/ 10: 99, al-Kâfirûn/ 109: 6, al-Mumtahanah/ 60: 8, dan al-Kahfi/ 18: 29.30 Shihab mengelompokkan QS. Al-Mâ'idah/ 5: 48, Syûrâ/ 42: 15, al-Mumtahanah/ 60: 8, al-Baqarah/ 2: 272 dalam pembahasan tentang toleransi beragama.31 Namun, Shihab tidak membahas masalah pluralitas/ kemajemukan agama sehingga beliau tidak melakukan pemilahan ayat-ayat al-Qur'an yang terkait dengan pembahasan tersebut.

Pemilahan ayat-ayat al-Qur'an terhadap masalah pluralisme agama yang dilakukan oleh para peneliti wacana ini sebelumnya, berbeda-beda dalam jumlah pengutipan ayat. Namun, ayat-ayat al-Qur'an yang dikutip dalam satu pembahasan, ada yang memiliki kesamaan. Misalnya pembahasan pluralisme agama tentang pengakuan pluralitas agama, Abd

30 M. Quraish Shihab, "Wawasan al-Qur'an Tentang Kebebasan Beragama", dalam

Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF. (ed.), Passing Over: Melintas Batas Agama, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, 1998), h. 189.

(31)

Aziz Sachedina, Gamal al-Banna, Fathimah Usman, dan Riyadi, semuanya mengutip QS. al-Baqarah/ 2: 62. Meskipun, Riyadi mengelompokkan ayat tersebut ke dalam bahasan keselamatan bagi komunitas agama-agama yang termasuk dalam Ahl al-Kitâb (Yahudi, Nashrani, Shabi'în), secara tidak langsung juga mengakui adanya pluralitas agama. Sedangkan Suyuthi J. Pulungan dan Quraish Shihab tidak mengutip QS. al-Baqarah/ 2: 62, karena mereka tidak membahas masalah pluralitas agama.

Kesamaan kutipan ayat-ayat al-Qur'an juga terdapat dalam pembahasan kebebasan beragama, yaitu: QS. al-Baqarah/ 2: 256 dan Yûnûs/ 10: 99. Sedangkan tentang toleransi beragama, kesamaan ayat al-Qur'an yang dikutip adalah QS. Al-Mâ'idah/ 5: 48.

Dari penelusuran pemilahan ayat-ayat al-Qur'an yang terkait dengan wacana pluralisme agama, khususnya tentang pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama, pada hakekatnya terdapat kesamaan ayat al-Qur'an yang dikutip oleh semua peneliti yang penulis sebutkan sebelumnya, meskipun hanya satu ayat al-Qur'an.32

32 Kesamaan ayat yang dikutip, misalnya dalam membahas pluralitas agama, ayat

(32)

Berdasarkan keterangan di atas, penulis melakukan penggabungan dan penambahan dalam pengelompokan ayat-ayat al-Qur'an yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya terkait dengan wacana pluralisme agama, khususnya masalah pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama. Penggabungan di sini, penulis maksudkan bukan memasukkan pemilahan seluruh ayat-ayat al-Qur'an yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang penulis sebutkan di atas, melainkan memilih dari ayat-ayat al-Qur'an yang telah dipilah tersebut, sesuai dengan pesan atau isi dasar dari masing-masing ayat yang menurut penulis sesuai dengan kajian yang dibahas.

Sedangkan penambahan ayat-ayat al-Qur'an, penulis maksudkan menambah ayat-ayat al-Qur'an yang menurut penulis lebih sesuai daripada ayat al-Qur'an yang telah para peneliti kutip sebelumnya. Dan penambahan ayat-ayat al-Qur'an ini juga dengan memperhatikan pesan atau isi dasar yang dikandung oleh ayat al-Qur'an yang dikutip.

(33)

diberikan syariah dan jalan terangnya masing masing, juga menjelaskan tentang anjuran berkompetisi berbuat baik dan segala keputusan terhadap apa yang diperselisihkan oleh semua umat,terkait dengan siapa yang benar dan salah, atau siapa yang masuk surga dan neraka―akan diselesaikan oleh

Allah swt.

Atas dasar kerangka pemikiran inilah, penulis melakukan pemilahan terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang akan dibahas sesuai dengan pokok bahasan tentang pluralisme agama, khususnya masalah pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama. Penulis juga mengutip ayat-ayat al-Qur'an yang terkait dengan masalah yang penulis bahas sebagai pendukung dan penguat penjelasan terhadap masalah yang penulis bahas. Terkait dengan pluralitas agama, ayat-ayat al-Qur'an yang penulis bahas adalah QS. Al-Baqarah/ 2: 62; Al-Baqarah/ 2: 148; Al-Mâ'idah/ 5: 48 & 69; dan al-Hajj/ 22: 17.

(34)

F. M etode Penelitian

1. M etode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data penelitian tesis ini menggunakan penelitian pustaka (library research). Maksudnya adalah mengkaji literatur yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

Data-data yang berkaitan dengan literatur yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dari buku yang dikaji atau buku-buku yang relevan langsung dengan tema pokok yang dikaji. Buku-buku-buku yang dimaksud adalah " al-Qur'an dan Tafsirnya" karya Departemen Agama RI tahun 1983/ 1984, 1985/ 1986, 1989/ 1990, dan 2004 (edisi yang disempurnakan), " al-Qur'an dan Tafsirnya".

Adapun data sekunder, penulis peroleh dari beberapa referensi yang terkait dengan wacana pluralisme agama, baik yang berbahasa Arab, Inggris, maupun Indonesia untuk mengkaji dan membandingkan dengan penafsiran Departemen Agama tentang pluralisme agama. Referensi yang dimaksud antara lain The Holy Qur'an oleh Yusuf Ali, Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, Islam dan Pluralitas oleh Muhammad Imarah, Beda Tapi Setara oleh Abdul Aziz Sachedina, Islam dan Doktrin Peradaban oleh Nurcholish Madjid,

(35)

kitab-kitab tafsir yang berbahasa Arab, diantaranya karya Ibn Katsîr, al-Thabarî, al-Qurthubî, al-Zamakhsyarî, al-Alûsî, al-Qâsimiy, dan Wahbah Zuhailî. Di samping itu, beberapa tulisan/ makalah yang terkait dengan objek kajian ini turut dijadikan rujukan. Seperti Menimbang Tafsir Depag RI

oleh Adang Kuswaya, Menuju Kebebasan Beragama di Indonesia oleh Siti Musdah Mulia, Hari Depan Kebebasan Beragama di Indonesia oleh Dawam Rahardjo, dan lain-lain.

2. M etode Pembahasan

Metode pembahasan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif-analitis. Secara deskriptif dengan tujuan memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih.33 Di sini, penulis akan menggambarkan dan mengurai penafsiran Departemen Agama yang tertuang dalam al-Qur'an dan Tafsirnya terhadap ayat-ayat pluralisme agama. Adapun pluralisme agama di sini mencakup pembahasan tentang pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama.

Analitis sebagai upaya eksplorasi dan klarifikasi mengenai fenomena pemahaman, pemaknaan, interpretasi al-Qur’an, dan mengukuhkan

33 Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

(36)

pengetahuan tentang berbagai eksperimen tersebut. Dan analisis isi (content

analysis) dilakukan untuk menganalisis penafsiran al-Qur'an dan Tafsirnya

Departemen Agama seputar ayat-ayat pluralisme agama.

3. Teknik Penulisan

Tehnik penulisan skripsi ini mengacu kepada Pedoman Penulisan

Skripsi, Tesis, dan Disertasi edisi terbaru yang diterbitkan oleh UIN Jakarta Press,34 dengan sedikit pengecualian dalam penulisan catatan kaki dan transliterasi. Dalam penulisan catatan kaki, penulis tidak memakai istilah

loc.cit dan op.cit., tetapi menggantinya dengan penulisan nama depan atau nama populer penulis dan dua kata pertama dalam judul atau judul besar karya penulisan.35 Tentang transliterasi yang penulis gunakan telah dilampirkan sebelum bab ini.

G. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan penelitian tesis ini dibagi dalam lima bab dengan perinciannya sebagai berikut:

34Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2002). 35Pedoman Akademik Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(37)

Bab pertama adalah pendahuluan yang menguraikan pandangan umum tentang penelitian tesis ini yang terangkum dalam latar belakang masalah. Selanjutnya dipaparkan fokus dan pembatasan kajian yang dijabarkan dalam pembatasan dan perumusan masalah. Kemudian penulis menjelaskan tujuan penulisan penelitian ini agar tergambar arah yang ingin dicapai. Kajian pustaka dicantumkan sebagai acuan guna menemukan ruang kajian yang layak dibahas. Kemudian, penulis memaparkan metode pendekatan yang ditempuh dalam penelitian dan sistematika pembahasannya.

Bab kedua mengurai profil al-Qur'an dan Tafsirnya Departemen Agama, baik mencakup latar belakang penulisan, tahapan-tahapan penyempurnaan tafsirnya, metode dan corak, serta sumber-sumber (referensi) tafsir yang digunakan dalam penafsirannya.

(38)

Bab keempat mengulas penafsiran al-Qur'an dan Tafsirnya Departemen

Agama seputar pluralisme agama. Dalam hal ini, penulis akan menyajikannya dengan menganalisis ayat-ayat yang berkaitan dengan pluralitas agama, kebebasan beragama, dan toleransi beragama.

Bab kelima merupakan penutup dari penelitian tesis ini yang terdiri dari kesimpulan penelitian. Kesimpulan ini sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dari perumusan dan pembatasan masalah yang penulis teliti. Penulis juga mencantumkan beberapa saran setelah mengadakan penelitian ini.

(39)

BAB II

PROFIL AL- Q UR'AN DAN TAFSIRNYA DEPARTEMEN AGAMA

A. Latar Belakang Penulisan

Sebagaimana ditulis oleh M. Shohib Tahar dalam artikelnya Telaah

Tentang Tafsir al-Qur'an Departemen Agama, ide penulisan Tafsir Departemen Agama dilandasi oleh komitmen Departemen Agama (Depag) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia di bidang Kitab Suci. Setelah berhasil menyusun al-Qur’an dan Terjemahnya yang dicetak pertama kali pada tahun 1965, Depag lalu menyusun al-Qur’an dan Tafsirnya dengan harapan dapat membantu umat Islam untuk lebih memahami kandungan Kitab Suci al-Qur’an secara mendalam.1

Dengan demikian, penulisan tafsir ini merupakan kegiatan atau proyek lanjutan dari penyusunan al-Qur’an dan Terjemahnya. Karenanya, kegiatan penyusunan al-Qur’an dan Tafsirnya ini, secara politik merupakan salah satu proyek pemerintah (baca: pemerintah Orde Baru), dalam

1 M. Shohib Tahar, "Telaah Tentang Tafsir al-Qur’an Departemen Agama RI," Jurnal

(40)

pembangunan lima tahun (Pelita) yang dimulai sejak pertengahan Pelita Pertama dan baru selesai pada pertengahan Pelita Kedua.2

Menteri Agama RI M. Maftuh Basyuni menegaskan dalam sambutannya pada penerbitan al-Qur’an dan Tafsirnya Depag RI edisi yang disempurnakan 2004, bahwa ide penulisan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia dilandasi oleh komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kitab suci, dengan harapan akan dapat membantu umat Islam untuk memahami kandungan Kitab Suci al-Qur’an secara lebih mendalam.3 Dan komitmen pemerintah itu terlaksana pada masa Menteri Agama KH Ahmad Dahlan (1967-1973).

Menag menambahkan, kehadiran tafsir al-Qur’an sebagaimana terjemah Qur’an sangat penting bagi masyarakat Indonesia, karena al-Qur’an yang dalam bahasa aslinya berbahasa Arab, tidak mudah dimengerti oleh semua umat Islam di Indonesia. Sebagai Kitab Suci, al-Qur’an harus dapat dimengerti maksud dan kandungan isinya oleh umat Islam Indonesia agar dapat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar itulah, sejak semula Pemerintah Indonesia menaruh perhatian yang besar

2 Tahar, "Telaah Tentang," hal. 55.

3 Muhammad Maftuh Basyuni, dalam kata sambutan pada Al-Qur’an dan Tafsirnya,

(41)

terhadap terjemah al-Qur’an dan tafsir al-Qur’an dengan terus mengusahakan terjemah al-Qur’an maupun tafsir al-Qur’an yang diterbitkan melalui Depag RI.4

Diakui oleh Menag, kendati kehadiran tafsir ini sangat membantu masyarakat muslim Indonesia untuk memahami pengertian dan makna ayat-ayat al-Qur’an, namun tetap disadari bahwa tafsir al-Qur’an dalam bahasa Indonesia tidak akan dapat sepenuhnya menggambarkan maksud sebenarnya ayat-ayat al-Qur’an. Hal ini, menurutnya, disebabkan beberapa faktor. Dan faktor yang paling utama adalah keterbatasan pengetahuan penafsir selaku manusia untuk mengetahui secara persis maksud al-Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah).5

Menurut Howard Federspiel, dengan terbitnya tafsir Depag ada sejumlah target yang terpenuhi, yaitu: Pertama, pembuatan tafsir tersebut menjadi bagian dari rencana pembangunan pemerintah lima tahunan dari pemerintah pusat, dan telah dianggap oleh masyarakat Islam sebagai bukti bahwa negara telah terlibat dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Kedua, para sarjana muslim dari berbagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) telah dilibatkan dalam menerjemahkan dan mempersiapkan

(42)

komentar-komentar yang menyertainya, memperlihatkan kedewasaan, dan kemampuannya sebagai para ahli tafsir. Ketiga, Depag telah merencanakan untuk menciptakan standar-standar dalam pembuatan tafsir dan terjemahan lebih lanjut, dan tafsir tersebut telah memenuhi harapan itu. Keempat, satu kelompok bangsa Indonesia dari dan luar Indonesia yang disebut "Muslim Nasionalis," telah menginginkan agar pandangan ideologi mereka akan bisa dijelaskan melalui pembuatan tafsir-tafsir tersebut.6

B. Tahapan-tahapan Penyempurnaan Tafsir Departemen Agama

a. Perubahan Keputusan M enteri Agama (KMA) Tentang Dewan

Penyelenggara Pentafsir Al-Qur'an

Tafsir Al-Qur'an Departemen Agama hadir secara bertahap. Pencetakan pertama kali dilakukan pada tahun 1975 berupa jilid satu yang memuat juz 1 sampai dengan juz 3, kemudian menyusul jilid-jilid selanjutnya

6 Howard M. Federspiel, Kajian Al-Qur'an di Indonesia dari Mahmud Yunus hingga

(43)

pada tahun berikutnya.7 Pembuatan tafsir al-Qur'an ini sebagai kelanjutan dari terbitnya al-Qur’an dan Terjemahnya Depag RI pada tahun 1965 (pada masa Menag K.H. Saifuddin Zuhri periode 1962-1966). Kemudian pada masa Menteri Agama K.H. Ahmad Dahlan (1967-1973) dibentuk Tim Penyusun

al-Qur’an dan Tafsirnya yang disebut Dewan Penyelenggara Pentafsir al-Qur’an yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H. Pembentukan Tim ini didasarkan pada Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 90 Tahun 1972.8

KMA No. 90 Tahun 1972 ini hanya berjalan setahun, dan direvisi dengan KMA No. 8 Tahun 1973. Melalui KMA ini, susunan Tim Penyusun

al-Qur’an dan Tafsirnya mengalami perubahan, dengan ketua tim Prof. H. Bustami A. Gani.9 Susunan tim tafsir selengkapnya adalah sebagai berikut:

7 M. Atho Mudzhar, dalam kata sambutannya pada Al-Qur’an dan Tafsirnya

Departemen Agama RI(edisi yang disempurnakan 2004), (Jakarta: Departemen Agama RI, 2004), Jil. I, h. xv.

8 Basyuni, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (edisi yang disempurnakan 2004), Jil. I, h. xiii; dan

lihat pula sambutan Atho Mudzhar pada h. xv. Sayang sekali, penulis tidak mendapatkan informasi lebih jauh siapa saja tokoh yang terlibat aktif sebagai tim pentafsir dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) ini. Tim ini berjalan kurang lebih setahun, kemudian diganti oleh tim pentafsir yang baru pada 1973. Penulis juga tidak mendapatkan data lebih jauh siapa sebetulnya Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H yang ditunjuk sebagai ketua tim pertama itu.

9 Bustami A. Gani, Guru Besar dan dosen Program Pascasarjana IAIN (kini UIN)

(44)

Ketua: Prof. H. Bustami A. Gani. Wakil Ketua: Prof. T.M. Hasbi Ash

Shiddieqy. Sekretaris I: Drs. Kamal Mukhtar. Sekretaris II: H. Gazali Thaib.

Anggota: K.H. Syukri Ghozali, Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, Prof. H.M. Toha

Yahya Omar, K.H. M. Amin Nashir, H.A., Timur Jailani M.A., Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML., K.H. A. Musaddad, Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya, Prof. R.H.A. Soenarya S.H., K.H. Ali Maksum, Drs. Busyairi Majdi, Drs. Sanusi Latif, dan Drs. Abd. Rahim.10

KMA ini pun selanjutnya disempurnakan oleh KMA RI No. 30 Tahun 1980 pada masa Menag Mayjen Alamsjah Ratuprawiranegara (1978-1983) – pencetus trilogi kerukunan umat beragama–. Pada KMA ini al-Qur'an dicetak lengkap 30 juz dengan format dan kualitas yang sederhana.11 Ketua tim tafsir ini adalah Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML. Susunan tim tafsir tersebut sebagai berikut: Ketua: Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML. W akil Ketua: K.H.

Syukri Ghazali. Sekretaris: R.H. Hoesein Thoib. Anggota: Prof. H. Bustami A.

Gani, Prof. Dr. K.H. Muchtar Yahya, Drs. Kamal Muchtar, Prof. K.H. Anwar

utamanya pada juz ke-30. Lebih jelasnya lihat M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi: Al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 329.

10 Seperti tersebut dalam Surat Keputusan Menteri Agama No. 8 Th. 1973.

11 Hal ini bisa diketahui dengan melihat bentuk penyajiannya, seperti pada margin

(45)

Musaddad, K.H. Sapari, Prof. K.H. M. Salim Fachri, K.H. Muchtar Lutfi el-Anshari, Dr. J.S. Badudu, K.H. M. Amin Nashir, H. A. Aziz Darmawijaya, K.H. M. Nur Asjik, MA, dan K.H. A. Razak.12

Sejak diterbitkan secara lengkap pada 1980, sebenarnya penyempurnaan al-Qur’an dan Tafsirnya Depag RI terus-menerus dilakukan oleh Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan. Perbaikan yang agak luas pernah dilakukan pada 1990 pada masa Menag Munawwir Syadzali (1983-1993). Hanya saja, saat itu tidak mencakup perbaikan secara substansial melainkan hanya pada aspek kebahasaan.13

Berdasarkan tanggapan dan saran dari berbagai pihak masyarakat untuk menyempurnakan al-Qur’an dan Tafsirnya secara menyeluruh, baik isi, format, maupun bahasa, Departemen Agama lantas menerbitkan KMA RI No. 280 Tahun 2003. KMA yang dimunculkan pada masa Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Said Agil Husin al-Munawwar ini berisi mandat Pembentukan Tim Penyempurnaan al-Qur’an dan Tafsirnya Depag RI. Susunan tim

12 Lihat Ibrahim Hosen dalam kata sambutan sebagai Ketua Dewan Penyelenggara

Pentafsir al-Qur'an pada Al-Qur'an dan Tafsirnya UII, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf UII, 1995), Jil. II (Mukaddimah), h. xv.

13 Perbaikan ini mencakup penulisan tulisan Arab yang diperindah, penulisan hadis

(46)

selengkapnya adalah sebagai berikut: Pembina: Menteri Agama. Penasehat:

K.H. Sahal Mahfudz, Prof. K.H. Ali Yafie, Prof. Drs. H. Asmuni Abd. Rahman, Prof. Drs. H. Kamal Muchtar, dan K.H. M. Syafii Hadzami.

Konsultan Ahli/Narasumber: Prof. Dr. K.H. Said Agil Husin al-Munawwar,

MA., Prof. Dr. H . M. Quraish Shihab, MA. Pengarah:Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar (Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan), Drs. H. Fadhal AR. Bafadal M.Sc (Ketua Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an). Ketua:

Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, MA. W akil Ketua: Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub, MA. Sekretaris: Drs. H.M. Shohib Tahar, MA. Anggota: Prof. Dr. H.

Rif’at Syauqi Nawawi, MA., Prof. Dr. H. Salman Harun, MA., Dr. Hj. Faizah Ali Sibromalisi, Dr. H. Muslih Abdul Karim, Dr. H. Ali Audah, Drs. H. Agus Salim Dasuki, M.Eng., Prof. Dr. Hj. Huzaimah T. Yanggo, Prof. Dr. HM. Salim Umar, MA., Prof. Dr. Hamdani Anwar, Drs. H. Sibli Sardjaja, LML., Drs. H. Mazmur Sya’roni dan Drs. Syatibi AH.14

Melalui KMA No. 280 Tahun 2003 ini, Tim Penyempurnaan al-Qur’an

dan Tafsirnya Depag RI mencoba melakukan perbaikan dan penyempurnaan

14 Fadhal AR. Bafadal dalam kata sambutannya pada Al-Qur’an dan Tafsirnya

(47)

secara menyeluruh terhadap tafsir Depag baik dari sisi isi, format, maupun bahasa.15

b. Perkembangan Penyempurnaan Tafsir Departemen Agama

Tafsir Departemen Agama pertama kali dicetak lengkap pada tahun anggaran 1980/ 1981 dengan format, sistematika, dan teknik penulisan yang sederhana. Dengan bentuk tafsir seperti ini, ternyata Tafsir Depag edisi awal ini terkesan menyulitkan para pembaca yang ingin menemukan penafsiran ayat yang diinginkannya.16 Setelah melihat adanya kelemahan dan kekurangan dalam produk tafsirnya, Depag kemudian melakukan penyempurnaan atau perbaikan yang dilakukan secara bertahap oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama.

Menurut A. Hafizh Dasuki, dalam dasawarsa pertama (1980-1990) Tafsir Departemen Agama telah dicetak lima kali, yaitu pada tahun anggaran 1983/ 1984, 1984/ 1985, 1985/ 1986, 1989/ 1990, 1990/ 1991. Naskah tafsir mengalami revisi pada tahun 1985/ 1986 dan dicetak dengan menggunakan

15 Mengenai perbaikan dan penyempurnaan A l-Qur'an dan Tafsirnya melalui KMA

No. 280 Tahun 2003 ini akan dibahas pada sub bab berikutnya dengan judul "Perkembangan Penyempurnaan Tafsir Departemen Agama".

(48)

Mushaf Utsmani yang telah distandarkan sesuai dengan SK. Menteri Agama No. 7 tahun 1984. Pada tahun anggaran 1989/ 1990, naskah tafsir mengalami revisi lagi dan kali ini secara menyeluruh, baik isi maupun fisiknya, tulisan Arab diperindah, penulisan hadis dilengkapi dengan menyebutkan rawinya, demikian pula dengan isi dan redaksinya.17

Revisi yang baru-baru ini dilakukan (masih dalam penulisan) adalah revisi edisi yang disempurnakan tahun 2003 berdasarkan KMA No. 280 Tahun 2003, yang mencoba melakukan perbaikan dan penyempurnaan secara menyeluruh terhadap tafsir Depag baik dari sisi isi, format, maupun bahasa.18 Penyempurnaan tafsir al-Qur'an secara menyeluruh ini dirasakan perlu dilakukan, karena perkembangan bahasa, dinamika masyarakat dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang mengalami kemajuan pesat bila dibanding saat pertama kali tafsir tersebut diterbitkan, sekitar hampir 30 tahun yang lalu.

Munculnya KMA No. 280 Tahun 2003 ini sebagai tindak lanjut setelah digelarnya Musyawarah Kerja Ulama Ahli al-Qur’an yang berlangsung 28-30

17 Dasuki, Maklumat Perbaikan, h. 1. Namun setelah penulis merujuk pada kitab

tafsirnya, tidak disebutkan nama perawinya (nama sahabat) dalam pengutipan hadis, melainkan dicantumkan nama mukharrijnya saja di footnote (catatan kaki).

18A l-Qur'an dan Tafsirnya Departemen Agama RI (Edisi Yang Disempurnakan 2004)

(49)

April 2003 dan dihadiri 56 peserta, baik ulama, akademisi, pakar ilmu sosial, kedokteran atau pemerhati.19 Pertemuan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi dan yang paling pokok adalah merekomendasikan perlunya dilakukan penyempurnaan tafsir Depag. Muker Ulama al-Qur'an telah berhasil pula merumuskan pedoman penyempurnaan tafsir, yang kemudian menjadi acuan kerja tim tafsir dalam melakukan tugas-tugasnya, termasuk jadwal penyelesaian.20

Adapun aspek penyempurnaan dalam KMA RI No. 280 Tahun 2003 ini, sebagaimana dipaparkan ketua timnya, Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, meliputi21:

Pertama: Judul. Sebelum memulai penafsiran, ada judul yang disesuaikan dengan kandungan kelompok ayat yang akan ditafsirkan. Dalam tafsir penyempurnaan, perbaikan judul itu dilakukan dalam konteks struktur

19 Tahar, "Telaah Tentang," hal. 55.

20 Mudzhar, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (edisi yang disempurnakan 2004), Jil. 1, h. xvi.

Sebagaimana disampaikannya juga bahwa Al-Qur'an dan Tafsirnya Departemen Agama RI (Edisi Yang Disempurnakan 2004) ini direncanakan dapat menyelesaikan 6 juz setiap tahun, sehingga memerlukan waktu 5 tahun, terhitung mulai tahun 2003. Dan pada saatnyananti akan dicetak utuh pada 2007 sembari menunggu koreksian dan masukan dari masyarakat. Hingga tahun 2005 telah selesai dicetak 4 jilid (12 juz).

21 Keterangan mengenai hal-hal yang disempurnakan, pada dasarnya penulis kutip

(50)

bahasanya, tanpa mengurangi isi judul tersebut. Terkadang tim juga mengubah judul jika dirasa perlu, misalnya karena judul awal dinilai kurang sesuai dengan kandungan ayat-ayat yang ditafsirkan. Misalnya pada tafsir edisi revisi tahun 1985/ 1986, pemotongan judul pembahasan kadang-kadang tidak tepat sehingga tidak jelas maknanya. Seperti dalam jilid I pada h. 107 (Q. S. al-Baqarah/ 2: 38-39) tertera "Kebahagiaan Orang-orang yang."22 Pada edisi yang disempurnakan judul tersebut direvisi dengan "Keuntungan Orang yang Mengikuti Petunjuk Allah dan Kerugian Orang Kafir."23

Kedua: Penulisan kelompok ayat. Dalam penulisan kelompok ayat ini,

rasm yang digunakan adalah rasm Utsmani yang diambil dari Mushaf Standar Indonesia yang telah banyak beredar dan juga mushaf yang ditulis ulang yang diwakafkan oleh Yayasan Iman Jama’ kepada Depag RI untuk dicetak dan disebarluaskan. Rasm ini mulai digunakan pada tafsir edisi revisi tahun 1985/ 1986 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Nomor 7 Tahun 1984. Dan pada bulan November 1984, terbit SK Menteri Agama RI

22 Pada edisi 1989/ 1990, tidak mencantumkan judul bahasan pada halaman atas,

tetapi hanya mencantumkan nama surah. Depag RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, (Jakarta: CV. Andhika Jaya, 1989/ 1990), Jil. 1, h. 107.

(51)

Nomor 25 Tahun 1984 tentang penerapan Mushaf Standar sebagai rasm acuan

dalam penulisan ayat-ayat al-Qur'an.24

Pengelompokan ayat pada edisi yang disempurnakan tidak banyak mengalami perubahan. Hanya saja, jika kelompok ayatnya terlalu panjang, maka tim merasa perlu membagi kelompok ayat dimaksud menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok diberikan judul baru dengan tetap memperhatikan waqaf dan ibtida'-nya.25

Pada dua edisi revisi sebelumnya (tahun 1985/ 1986 dan 1989/ 1990), pembahasan "Masalah Kiblat" misalnya, mengelompokkan ayat pembahasan mulai ayat 142-152 dari surah al-Baqarah/ 2.26 Sedangkan pada edisi yang disempurnakan kelompok ayat tersebut dibagi lagi menjadi tiga kelompok pembahasan, yaitu "Perubahan Arah Kiblat" mulai dari ayat 142-145, "Kebenaran dari Allah" mulai ayat 146-148, dan "Sabar Menghadapi Cobaan

24 Depag RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, t.tp.: tt., t.th., (edisi revisi 1985/ 1986), Jil.

Mukaddimah, h. 15.

25 Ahsin Sakho Muhammad, "Aspek-aspek Penyempurnaan Terjemah dan Tafsir

Departemen Agama," Jurnal Lektur Keagamaan, (Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2005), Volume 3, No. 1, hal. 161.

26 Depag RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (edisi revisi 1985/ 1986), Jil. 1, h. 273-274. Dan

(52)

dalam Menegakkan Kebenaran" mulai ayat 149-167 dari surah al-Baqarah/ 2.27

Ketiga: Terjemah. Dalam menerjemahkan kelompok ayat, terjemah yang dipakai adalah al-Qur’an dan Terjemahnya edisi 2002 yang telah diterbitkan oleh Depag RI pada 2004. Pada edisi revisi 1985/ 1986 dan edisi revisi 1989/ 1990, terjemah al-Qur'an berpedoman pada SK Menteri Agama RI Nomor 25 Tahun 1984 tentang Penerapan Mushaf Al-Qur'an Standar, sedangkan dalam hal ejaannya masih menggunakan ejaan jawatan Pendidikan Agama Departemen Agama.28 Namun pada edisi revisi 1989/ 1990, penyesuaian transliterasi Arab-Latin sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 2 Menteri.29

Keempat: Kosakata. Dalam edisi penyempurnaan ini, tim merasa perlu mengetengahkan unsur kosakata. Dalam penulisan kosakata, yang diuraikan terlebih dulu adalah arti kata dasar dari kata dimaksud, lalu diuraikan pemakaian kata itu dalam al-Qur’an dan kemudian mengetengahkan arti yang paling pas untuk kata itu pada ayat yang sedang ditafsirkan. Jika

27 Lebih jelasnya silakan lihat Depag RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (edisi yang

disempurnakan 2004), Jil. 1, h. 203-213.

28 Depag RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (edisi revisi 1985/ 1986), Jil. Mukaddimah, h. 15. 29 UII, Al-Qur'an dan Tafsirnya, Jil. II (Mukaddimah), h. xx. Dan lihat pula Dasuki,

(53)

kosakata itu diperlukan uraian yang lebih panjang, maka diuraikan sehingga dapat memberi pengertian yang utuh.30

Pada edisi revisi 1985/ 1986 dan edisi revisi 1989/ 1990, tidak melakukan penafsiran terhadap kosakata ayat, kecuali hanya pada surah al-Fâtihah.

Kelima:Munâsabah. Sebenarnya, ada beberapa bentuk munâsabah atau keterkaitan antara ayat dengan ayat atau antara surah dengan surah. Misalnya munâsabah antara satu surah dengan surah berikutnya, munâsabah

antara awal surah dengan akhir surah, munâsabah antara akhir surah dengan awal surah berikutnya, munâsabah antara satu ayat dengan ayat berikutnya, dan munâsabah antara kelompok ayat dengan kelompok ayat berikutnya.

Pada tafsir Depag edisi revisi 1985/ 1986, Tim Tafsir Depag hanya menyebutkan munâsabah antara surah yang dibahas dengan surah setelahnya. Sedangkan pada tafsir Depag edisi revisi 1989/ 1990 dan edisi yang disempurnakan, Tim Tafsir Depag menyebutkan dua jenis munâsabah, yaitu

30 Misalnya pada surah al-Baqarah/ 2: 2, kata " al-muttaqîn" adalah isim fâ‘il dalam

(54)

munâsabah antara satu surah dengan surah sebelumnya dan munâsabah antara kelompok ayat dengan kelompok ayat sebelumnya.31

Keenam:Sabab al-nuzûl. Dalam penyempurnaan tafsir ini, sabab al-nuzûl

dijadikan sub tema. Jika dalam kelompok ayat ada beberapa riwayat tentang

sabab al-nuzûl, maka sabab al-nuzûl pertama dijadikan sub judul. Sedangkan

sabab al-nuzûl berikutnya cukup diterangkan dalam tafsirnya saja.

Pada tafsir Depag edisi revisi 1985/ 1986 dan edisi revisi 1989/ 1990, jika terdapat riwayat yang menerangkan sebab-sebab turunnya suatu ayat, maka sebab-sebab turunnya ayat itu dijadikan salah satu dasar penafsiran ayat tersebut.32

Ketujuh: Tafsir. Secara garis besar, penafsiran yang ada tidak banyak mengalami perubahan, karena masih cukup memadai. Kalaupun ada perbaikan, maka lebih pada perbaikan redaksi, menulis ulang penjelasan yang telah ada tanpa mengubah makna, meringkas uraian yang telah ada, membuang urian yang tidak perlu atau uraian yang berulang-ulang, membuang uraian yang tidak terkait langsung dengan ayat yang sedang

31 Penulis tidak mengetahui alasan mengapa ketua tim tidak memberikan elaborasi

lebih jauh terkait alasan penggunaan dua model munâsabah itu, terutama dalam tafsir Depag edisi yang disempurnakan 2004. Misalnya, atas dasar apa hanya dua model munâsabah itu saja yang ditampilkan?

32 Depag RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (edisi revisi 1985/ 1986), Jil. Mukaddimah, h. 12.

Gambar

TABEL REVISI AL-QUR'AN DAN TAFSIRNYA DEPARTEMEN AGAMA RI

Referensi

Dokumen terkait

Qur‟an menjelaskan bahwa semua pemeluk agama samawi ada yang. beriman tetapi ada pula

Tesis yang berjudul Pandangan Muhammad Rasyîd Ridhâ Terhadap Pluralisme Agama Dalam Tafsîr Al Mannâr ini mempunyai tiga tujuan yaitu: pertama, ditujukan untuk

Jika kita menganut pluralisme agama dalam nuansa etis, kita didorong untuk tidak menghakimi penganut agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap

Adapun konsep- konsep tersebut di dalam al-Qur’an, pluralisme agama telah banyak dijelaskan, diantaranya adalah tidak ada pemaksaan dalam beragama, Untuk itu

Makna Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma tersebut sama dengan prinsip pertama pluralisme agama Coward, yakni mempercayai bahwa Tuhan adalah Yang Satu (dalam hakikat)

Dalam uraian ayat-ayat tersebut dipahami bahwa kaum muslim hendaknya menyadari secara kuat; pluralisme agama merupakan kehendak Tuhan, oleh karenanya dilarang untuk

Informan dalam penelitian ini adalah pasangan berpacaran, baik yang menjalani hubungan berpacaran seagama dan yang berbeda agama. Penelitian ini menggunakan teori

Dari fenomena yang dipaparkan di atas paling tidak sudah begitu mencukupi sebagai bukti bahwa al-qur’an benar-benar menghargai adanya pluralitas, pluralisme agama khususnya,