HASIL DAN PEMBAHASAN
7. Pemilihan Jenis Teknologi dan Equipment
Peralatan dalam usaha tahu ini sebagian besar masih bersifat semi tradisional. Peralatan yang digunakan dalam usaha tahu bandung Kayun-Yun, antara lain mesin penggiling atau molen. Peralatan ini pertama kali dibeli oleh produsen dalam keadaan bekas pakai. Lalu, terdapat tungku semen untuk melakukan proses perebusan yang dibuat sendiri oleh produsen. Dalam tungku semen terdapat kuali dengan diameter 80 cm yang digunakan sebagai wadah untuk menaruh bubur kedelai dalam proses perebusan dan tahu yang sudah dipotong menjadi ukuran tertentu dan direbus dengan menggunakan parutan kunyit. Selanjutnya adalah berbagai peralatan yang terbuat dari kayu atau bambu, produsen memiliki satu toko langganan yang terletak di daerah Lembur Pos untuk membeli peralatan baru jika peralatan lama sudah tidak dapat digunakan kembali, seperti tahang kayu, tanggok, cetakan, tampir, mistar, dan serok. Akan tetapi, toko tersebut tidak menyediakan barang secara langsung sehingga jika ada peralatan yang sekiranya tidak dapat dipergunakan maka produsen harus melakukan pemesanan terlebih dahulu peralatan apa saja yang ingin dibutuhkan.
Peralatan lain yang biasa dibuat sendiri oleh produsen adalah rak penyimpanan tahu yang sudah jadi. Rak ini terbuat dari bambu dan mampu menopang sebanyak
lima sampai sepuluh tampir. Sedangkan peralatan seperti bak plastik, ember, gentong dan box dapat dibeli di toko kelontong terdekat.
Hasil Analisis Aspek Teknis
Berdasarkan hasil analisis, jika dilihat dari aspek teknis, usaha pembuatan tahu dapat dikatakan layak. Hal ini dapat ditunjukkan dari lokasi usaha yang strategis, dilihat dari kemudahan dalam akses transportasi, ketersediaan sumber listirk dan air. Bahan baku juga cukup mudah diperoleh. Perbedaan harga kedelai antar toko dinilai tidak jauh berbeda, serta kualitas kedelai yang lebih disukai oleh para pengrajin memang kedelai impor karena memiliki kualitas yang lebih baik (tidak mengandung banyak kotoran dan biji relatif lebih besar). Selain itu, proses produksi juga sudah sesuai dengan alur atau standar operasi yang digunakan. Untuk pemilihan jenis teknologi dan equipment masih tergolong semi tradisional. Sebagian besar peralatan masih menggunakan bahan yang terbuat dari kayu atau bambu. Para pengrajin tahu di Indonesia masih didominasi oleh skala usaha rumah tangga dan usaha kecil sehingga keterbatasan modal menjadi salah satu kendala utama dalam keberlangsungan dan kemajuan usaha. Walaupun demikian, seluruh peralatan selalu dijaga dan dirawat dengan cukup baik. Tata letak pabrik juga sudah diatur oleh pemilik dengan memperhatikan kemudahan pekerja dalam melakukan alur produksi agar pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Aspek Manajemen dan Hukum 1. Aspek Manajemen
Pelaksanaan pembangunan bisnis harus direncanakan dengan baik supaya tidak terjadi hal-hal yang dapat menghambat pembangunan. Penyelesaian pembangunan bisnis yang tidak sesuai dengan jadwal akan menyebabkan pembengkakan biaya dan dapat menyebabkan gangguan pada pemasaran karena gagalnya pencapaian target waktu berproduksi.
Usaha pembuatan tahu bandung ini merupakan usaha perseorangan. Sebagian besar pengrajin tahu menjalankan usahanya secara tradisional. Hal ini membuat usaha dijalankan secara non formal dan belum memiliki struktur organisasi tetap. Pemegang kendali berada di tangan pemilik, sambil tetap mengontrol dan mengkoordinasi seluruh aktivitas bisnis yang dilakukan.
Meskipun usaha ini belum memiliki struktur organisasi, tapi pembagian pekerjaan dilakukan secara sederhana dan jelas. Pemilik bertugas untuk membeli kedelai, mengantarkan tahu ke pasar serta mengawasi jalannya proses produksi, istri pemilik juga ikut membantu dalam keuangan, memarut kunyit, dan melakukan pembungkusan tahu dengan plastik dan penempatan tahu ke dalam box dan gentong untuk diambil oleh pedagang keliling dan sisanya akan dijual ke pasar. Pemilik memiliki tiga pekerja. Satu orang pekerja bertugas untuk merendam, menggiling, dan merebus kedelai. Satu orang pekerja bertugas menyaring bubur tahu (dibantu oleh satu orang pekerja lain) dan mencetak tahu yang sudah jadi hingga menjadi potongan-potongan. Dan satu orang pekerja bertugas merebus tahu yang sudah dicetak dengan parutan kunyit yang sudah disediakan sebelumnya lalu menaruh potongan tahu yang sudah direbus dengan menggunakan parutan kunyit ke tampir yang sudah disediakan untuk ditaruh ke dalam rak. Total tenaga kerja yang digunakan berjumlah lima orang.
Tenaga kerja terdiri atas tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja dalam keluarga terdiri dari tiga orang, yaitu produsen, istri,
dan satu orang anak yang dipekerjakan. Sedangkan dua tenaga kerja lainnya berasal dari penduduk sekitar. Produsen memiliki kualifikasi bagi pekerja yang ingin bekerja di usaha tahunya, yakni harus memiliki pengalaman dalam proses pembuatan tahu agar pekerja tidak perlu diberi pengajaran terlebih dahulu. Jam kerja yang diberikan oleh produsen cenderung fleksibel, tergantung para pekerjanya itu sendiri. Yang terpenting pekerjaan dilakukan sesuai dengan target yang diharapkan. Rata-rata kegiatan produksi dimulai pada pukul 08.00 – 17.00.
Jika dilihat dari segi administrasi, usaha ini belum memiliki pencatatan finansial. Produsen hanya berpatokan kepada keuntungan yang diperoleh. Jika terdapat penerimaan melebihi biaya produksi, maka usahanya mendapatkan keuntungan. Jika tidak, maka hal yang terjadi adalah sebaliknya.
2. Aspek Hukum
Aspek hukum mengkaji ketentuan hukum yang harus dipenuhi sebelum menjalankan usaha. Ketentuan hukum untuk setiap jenis usaha berbeda-beda, tergantung kompleksitas bisnis tersebut. Adanya otonomi daerah menyebabkan ketentuan hukum dan perizinan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda-beda.
Usaha Tahu Bandung Kayun-Yun memiliki bentuk badan perusahaan perseorangan. Perusahaan perseorangan adalah salah satu bentuk usaha yang dimiliki oleh seseorang dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua risiko dan kegiatan perusahaan. Keuntungan dari bentuk usaha perorangan adalah memiliki kebebasan dalam bergerak, penguasaan sepenuhnya terhadap keuntungan yang diperoleh, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat, serta rahasia perusahaan terjamin. Sedangkan kelemahannya adalah keterbatasan dalam kemampuan keuangan dan manajerial.
Terkait dengan peraturan perundangan, tidak ada peraturan untuk pendirian perusahaan perseorangan yang diperlukan hanya izin permohonan dari kantor perizinan setempat. Dalam menjalankan aktivitas usaha, pemilik telah mendapatkan izin dari pemerintah setempat, yaitu dari Kepala Desa Cihideung Ilir.
Hasil Analisis Aspek Manajemen dan Hukum
Jika dilihat dari aspek manajemen, usaha tahu bandung ini kurang layak diusahakan. Hal ini dikarenakan usaha tahu belum memiliki pencatatan finansial. Keuangan dikelola oleh pemilik usaha dan istri tanpa adanya pencatatan pemasukan dan pengeluaran yang jelas. Jika ada penerimaan lebih berarti usaha mendapatkan keuntungan, begitu juga sebaliknya. Pada era globalisasi ini pencatatan finansial dinilai cukup penting. Pencatatan minimal terkait dengan pemasukan maupun pengeluaran usaha. Akan menjadi lebih baik jika dilakukan juga perhitungan terkait dengan cashflow dan laporan laba rugi. Cashflow berguna untuk melihat arus kas masuk dan keluar sejak pendirian usaha sedangkan laporan laba rugi digunakan untuk melihat kinerja suatu perusahaan melalui kondisi keuangan. Jika suatu usaha memiliki pencatatan finansial yang baik, maka dapat terlihat peningkatan maupun penurunan yang terjadi. Dengan demikian, pemilik usaha dapat melakukan berbagai strategi untuk memajukan usahanya. Usaha ini memang belum memiliki struktur organisasi formal, tetapi telah terdapat pembagian pekerjaan yang jelas antara produsen dan pekerja. Hal ini dikarenakan usaha tahu masih tergolong kepada usaha berskala kecil dengan jumlah tenaga kerja minimum, yaitu berjumlah tiga orang sehingga hierarki atau struktur organisasi tidak menjadi suatu kepentingan.
Jika dilihat dari aspek hukum, usaha tahu bandung ini sudah layak untuk diusahakan. Hal ini dilihat dari perolehan perizinan yang didapat dari kantor perizinan setempat yaitu Kepala Desa Cihideung Ilir. Berhubung usaha tahu ini masih tergolong usaha kecil dan termasuk salah satu usaha perseorangan sehingga proses perolehan izin setempat tidak terlalu rumit.
Aspek Sosial dan Ekonomi
Lingkungan tempat bisnis akan yang akan dijalankan harus dianalisis dengan cermat. Hal ini disebabkan lingkungan di satu sisi dapat menjadi peluang dari bisnis yang akan dijalankan, namun di sisi lain lingkungan juga dapat menjadi ancaman bagi perkembangan bisnis. Keberadaan bisnis dapat berpengaruh terhadap lingkungan, baik lingkungan masyarakat maupun lingkungan ekologi tempat bisnis akan dijalankan.
Suatu aktivitas bisnis dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan di sekitar lokasi bisnis, khususnya perubahan sosial dan ekonomi. Perubahan kehidupan sosial, dan ekonomi dalam masyarakat dapat menimbulkan gesekan antara masyarakat di sekitar dengan pelaku bisnis, maupun di antara anggota masyarakat sendiri. Masyarakat yang akan memperoleh dampak positif akan mendukung keberadaan bisnis yang dilaksanakan. Sebaliknya, masyarakat yang merasa dampak negatif dari keberadaan bisnis lebih besar dari dampak positifnya akan menolak keberadaan bisnis tersebut.
Usaha pembuatan tahu ini telah membuka peluang kerja bagi penduduk sekitar. Terdapat dua pekerja dari penduduk sekitar yang bekerja pada usaha Pak Uun. Walaupun usaha ini memiliki tenaga kerja yang minim, yaitu berjumlah tiga orang. Akan tetapi peluang ini cukup menambah kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Selain itu, usaha tahu ini juga cukup berkontribusi dalam pembangunan fasilitas umum dan pemberian sumbangan terhadap anak yatim. Jika ada pembangunan fasilitas umum, seperti pembangunan masjid, perbaikan jalan, usaha tahu ini cukup memberikan kontribusi agar perjalanan pembangunan dapat berjalan dengan lancar.
Hasil Analisis Aspek Sosial dan Ekonomi
Berdasarkan aspek sosial dan ekonomi, usaha tahu ini telah cukup memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja di daerah setempat dan kontribusi terhadap pembangunan fasilitas umum di lingkungan sekitar, serta telah memberikan peningkatan pendapatan masyarakat dan menambah aktivitas ekonomi.
Aspek Lingkungan
Suatu bisnis terdiri atas berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan di sekitar lokasi bisnis. Salah satu dampak yang terjadi dan harus diperhatikan adalah dampak bagi lingkungan ekologi berupa polusi, baik polusi udara, tanah, air, maupun suara.
Usaha tahu memiliki tiga limbah produksi, yaitu limbah berupa ampas tahu, air sisa produksi dan asap akibat perebusan dalam proses produksi tahu. Pertama, yaitu limbah berupa ampas tahu dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak. Ampas tahu dapat dijual dan sudah memiliki langganan tersendiri, yaitu salah satu pemilik peternakan yang berada di daerah Ciampea. Kedua, yaitu limbah berupa air sisa produksi. Limbah air ini dialirkan ke sungai terdekat melalui saluran pipa yang ditanam dan dihubungkan langsung kepada aliran sungai. Pak Uun selalu melakukan pengontrolan rutin dua hari sekali untuk melakukan pengecekan pada saluran pipa. Hal
ini dilakukan untuk menghindari kebocoran pada pipa yang akan mengakibatkan bau yang tidak sedap.
Jumlah aliran air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri, pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, serta derajat pengolahan limbah air yang ada. Secara umum komposisi air limbah tersusun atas 99.9% air dan 0,1 % bahan padat. Bahan padat sendiri tersusun atas bahan padat organik dan anorganik. Bahan padat organik terdiri atas protein, karbohidrat, dan lemak. Sedangkan bahan padat anorganik terdiri atas butiran, garam, dan metal. Pengaliran air limbah langsung ke sungai tanpa pengelolaan lebih lanjut akan menimbulkan gangguan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kehidupan sekitar. Gangguan yang ditimbulkan dapat berupa gangguan terhadap kesehatan, gangguan terhadap kehidupan biotik, gangguan terhadap keindahan, dan gangguan terhadap kerusakan benda (Sugiharto 1987).
Untuk meminimalisir gangguan yang ditimbulkan akibat air limbah maka sebaiknya pemilik tidak langsung mengalirkan air limbah ke sungai. Air limbah dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali dengan suatu perlakuan khusus.
Gambar 14 Saluran air limbah produksi
Limbah ketiga yaitu berupa asap akibat proses produksi. Pabrik dapat dikatakan memiliki posisi yang cukup strategis. Walaupun berada di pemukiman penduduk tapi posisi pabrik tidak menempel dengan rumah warga. Pabrik memiliki halaman yang luas dan tidak berdesakan dengan rumah warga sehingga asap yang ditimbulkan dari proses produksi tidak terlalu mengganggu aktivitas warga yang berada di daerah sekitar.
Hasil Analisis Lingkungan
Jika dilihat dari aspek lingkungan, maka usaha ini dapat dikatakan kurang layak. Hal ini dapat dilihat pada air limbah yang kurang dapat dikelola dengan baik. Air limbah produksi dialirkan langsung ke kali sehingga dapat menyebabkan gangguan terhadap lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, sebaiknya pengelolaan air limbah dibuat
suatu perlakuan khusus untuk meminimalisir bahkan mencegah gangguan terhadap lingkungan sekitar. Salah satu perlakuan yang dapat dilakukan adalah penerapan sistem netralisir atau aerodinamis. Pembuangan limbah hasil aerodinamis tidak perlu dibuang ke sungai, akan tetapi dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman. Perlakuan ini membutuhkan tiga kolam besar dan satu kolam kecil dengan tahapan sebagai berikut :
1. Kolam kecil digunakan untuk menghilangkan benda padat. Kolam ini dilengkapi dengan saringan kawat. Dari kolam penyaringan, air limbah disalurkan ke kolam besar pertama.
2. Kolam besar pertama terdiri atas 8 skat, skat tersebut berisi ijuk, pasir, dan batu koral. Air limbah dialirkan secara bergantian mulai dari skat satu sampai skat delapan. Sebelum dialirkan ke kolam besar pertama, air limbah diberi bahan penetral terlebih dahulu yaitu kapur, kaporit, dan karbit.
3. Kolam besar kedua berisi ijuk, pasir, dan batu koral yang berfungsi sebagai penyerapan.
4. Kolam besar ketiga digunakan untuk penampungan terakhir. Air limbah tersebut dapat digunakan untuk menyiram tanaman.
Analisis Aspek Finansial
Analisis aspek finansial digunakan untuk menganalisis suatu usaha dari segi keuangan. Terdapat empat kriteria penilaian investasi, antara lain Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Payback Period (PP). Dalam melakukan analisis empat kriteria investasi digunakan arus kas untuk mengetahui besarnya manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan selama periode tertentu.
Analisis Inflow Usaha Tahu Bandung Kayun-Yun
Penerimaan usaha pembuatan tahu berasal dari hasil penjualan tahu, ampas tahu dan nilai sisa investasi yang telah dilakukan. Pendapatan didapat dari total penjualan dikali dengan harga jual.
Analisis finansial dilakukan secara forecasting untuk melihat dampak yang terjadi terhadap kenaikan harga bahan baku, yaitu kedelai. Tahun awal dimulainya perhitungan adalah tahun 2010, yaitu tahun dimana produsen melanjutkan usaha ke lokasi baru yang sesuai dengan keinginannya, yaitu Desa Cihideung Ilir. Tahun ini dipilih dengan pertimbangan bahwa usaha melakukan perpindahan lokasi kepada lokasi saat ini sehingga cashflow dibuat untuk melihat bagaimana arus kas mulai tahun 2010 hingga 10 tahun mendatang disertai dengan adanya kenaikan harga kedelai. Periode bisnis 10 tahun berdasarkan umur ekonomis investasi terbesar, yaitu bangunan.
Pada tahun pertama pendirian usaha, terdapat pengeluaran untuk biaya investasi diikuti dengan kegiatan produksi sehingga usaha tetap mendapatkan penerimaan awal walaupun pada tahun pertama usaha masih mengalami kerugian.
Pada tahun 2010, produsen masih memiliki kapasitas produksi yang cukup rendah yaitu sekitar 50 kilogram. Pada tahun berikutnya, kapasitas produksi mulai mengalami peningkatan yaitu tahun 2011 kapasitas produksi mencapai 70 kilogram, tahun 2012 kapasitas produksi mencapai 100 kilogram, hingga pada tahun 2013 kapasitas produksi mencapai titik tertinggi yaitu 120 kilogram. Peningkatan kapasitas produksi diperoleh dari tambahan modal pemilik usaha yang dikumpulkan dari setiap hasil usahanya. Pada tahun 2010 – 2011 produksi hanya memiliki satu jenis ukuran tahu, yaitu tahu berukuran 4 cm. Tahun 2012 ketika produksi sudah mencapai produksi
100 kilogram, produsen mulai menambah jenis ukuran tahu sehingga menjadi dua ukuran, yaitu tahu berukuran 4 cm dan 5 cm. Ketika harga kedelai mengalami kenaikan, yaitu pada tahun 2013, produsen melakukan musyawarah dengan beberapa pengrajin sekitar untuk mencari alternatif penyesuaian agar keberlangsungan usaha tetap terjaga. Salah satu alternatif penyesuaian yang disepakati bersama adalah kenaikan harga jual tahu. Karena itu, produsen menaikkan harga jual untuk setiap jenis ukuran tahu sebesar Rp 50. Pada tahun 2010 total penerimaan sebesar Rp 233 400 000. Pada tahun selanjutnya yaitu tahun 2011 dan 2013, total penerimaan terus mengalami peningkatan, yaitu masing-masing sebesar Rp 325 500 000 dan Rp 498 600 000. Hingga pada tahun 2013 dan selanjutnya, penerimaan berada pada titik tertinggi yaitu Rp 661 500 000. Rincian penerimaan usaha dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Rincian pendapatan penjualan usaha tahu Bandung Kayun-Yun per tahun Tahun ke- Produk Kapasitas Produksi Produksi Harga jual (Rp) Pendapatan (Rp) Pendapatan Per Tahun (Rp) Total pendapatan per tahun (Rp) 2010 Tahu 4 cm 50 kilogram 3 000 250 750 000 225 000 000 233 400 000 Ampas tahu 4 7 000 28 000 8 400 000 2011 Tahu 4 cm 70 kilogram 4 200 250 1 050 000 315 000 000 Ampas tahu 5 7 000 35 000 10 500 000 325 500 000 2012 Tahu 4 cm 100 kilogram 3 600 250 900 000 270 000 000 Tahu 5 cm 2 400 300 720 000 216 000 000 498 600 000 Ampas tahu 6 7 000 42 000 12 600 000 2013 - 2020 Tahu 4 cm 120 kilogram 4 200 300 1 260 000 378 000 000 Tahu 5 cm 2 500 350 875 000 262 500 000 661 500 000 Ampas tahu 7 10 000 70 000 21 000 000
Selain penerimaan di atas, terdapat penerimaan lain yaitu berasal dari nilai sisa atau salvage value. Salvage value merupakan nilai sisa dari barang modal yang tidak habis terpakai selama umur bisnis dan dinilai pada akhir umur bisnis. Nilai sisa pada barang investasi ini tidak terlalu banyak, hanya terdapat pada pompa air. Perhitungan menggunakan periode 10 tahun berdasarkan umur ekonomis yang paling lama, yaitu lahan dan bangunan. Pompa memiliki umur ekonomis 7 tahun, sehingga produsen melakukan pembelian ulang pada tahun ke-8 untuk pompa air sebesar Rp 308 660 dengan jumlah total 1 buah sehingga total nilai sisa yang didapat sebesar Rp 171 426.
Analisis Outflow Usaha Tahu Bandung Kayun-Yun
Arus pengeluaran dalam usaha pembuatan tahu ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan pada saat persiapan usaha atau pada saat awal proyek. Sedangkan biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan secara berkala selama proses produksi berlangsung Biaya investasi tidak langsung habis pakai, berbeda dengan biaya
operasional. Biaya operasional terdiri atas dua jenis, yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya investasi yang sering disebut biaya pra-usaha merupakan biaya yang dikeluarkan pada awal kegiatan dan pada saat tertentu untuk memperoleh manfaat beberapa tahun kemudian. Pengeluaran biaya investasi umumnya dilakukan satu kali atau lebih sebelum bisnis berproduksi dan baru menghasilkan manfaat beberapa tahun kemudian. Biaya investasi selain dikeluarkan di awal tahun bisnis, juga dapat dikeluarkan pada beberapa tahun setelah bisnis berjalan, misalkan untuk mengganti peralatan investasi yang umur pakainya sudah habis tapi operasional bisnisnya masih berjalan, biaya investasi yang dikeluarkan tersebut disebut biaya re-investasi. Berikut penjabaran rincian biaya investasi yang dikeluarkan usaha tahu bandung Kayun-Yun dan harga yang digunakan adalah harga yang berlaku pada saat melakukan pembelian. Tabel 5 Biaya investasi usaha tahu Bandung Kayun-Yun
No Jenis Investasi Satuan Jumlah Harga/Satuan (Rp) Total Nilai (Rp) Umur ekonomis 1 Bangunan m2 72 - 25 000 000 10
2 Mesin diesel Unit 1 3 000 000 3 000 000 10
3 Molen Unit 1 2 000 000 2 000 000 10
4 Tungku semen Unit 2 1 000 000 2 000 000 6
5 Bak semen Unit 2 200 000 400 000 6
6 Tahang kayu Unit 3 600 000 1 800 000 5
7 Tanggok bambu Unit 1 200 000 200 000 1
8 Pompa air Unit 1 300 000 300 000 7
9 Saringan air Unit 1 30 000 30 000 1
10 Cetakan Unit 5 140 000 700 000 5
11 Tampir Unit 20 25 000 500 000 5
12 Serok Unit 3 150 000 450 000 5
13 Rak bambu Unit 1 50 000 50 000 6
14 Tampan/ayakan Unit 3 15 000 45 000 1
15 Bak plastik biru Unit 1 200 000 200 000 10
16 Ember plastik Unit 12 5 000 60 000 5
17 Gentong plastik Unit 10 40 000 400 000 5
18 Box plastik Unit 20 60 000 1 200 000 5
19 Mistar Unit 2 10 000 20 000 6
20 Kendaraan Unit 1 70 000 000 70 000 000 10
TOTAL BIAYA INVESTASI 103 355 000
Pembelian peralatan investasi dilakukan pada awal produsen memulai untuk mendirikan usaha tahu, yaitu pada tahun 2004. Pada saat itu, lokasi usaha masih berada di daerah Warung Borong Kecamatan Ciampea. Produsen mengalami perpindahan lokasi hingga menempati lokasi usaha pada saat ini, yaitu Desa Cihideung Ilir Kecamatan Ciampea pada tahun 2010. Lokasi ini dinilai cukup strategis serta memenuhi keinginan produsen. Oleh sebab itu, perhitungan dimulai pada tahun 2010 sejak terjadinya perpindahan lokasi usaha. Agar perhitungan menjadi lebih representative, maka beberapa biaya investasi yang umur ekonomisnya melebihi rentang waktu antara tahun dimulainya usaha dengan tahun awal yang digunakan dalam perhitungan
menggunakan konsep time value of money. Hal ini dilakukan karena sejumlah uang pada saat ini berbeda dengan nilai sejumlah uang pada waktu yang akan datang. Nilai uang selalu mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Konsep time value of money yang digunakan dalam perhitungan ini adalah perhitungan konversi berupa compounding factor. Compounding factor digunakan untuk menghitung nilai di waktu yang akan datang jika diketahui sejumlah uang di saat sekarang untuk suatu periode tertentu. Perhitungan compounding factor juga dapat disesuakan dengan umur ekonomis peralatan investasi. Beberapa alat investasi yang tidak menggunakan perhitungan compounding factor, antara lain tungku semen, kuali, saringan air, rak bambu, tampan/ayakan, dan mistar. Hal ini disebabkan umur ekonomis yang telah habis diantara rentang tahun usaha dan tahun dimulainya perhitungan sehingga harga yang digunakan disesuaikan dengan harga yang berlaku pada saat pembelian peralatan. Berikut adalah rincian biaya investasi setelah dilakukan perhitungan compounding factor.
Tabel 6 Hasil perhitungan biaya investasi sebelum dan sesudah compounding factor No Jenis Investasi Harga sebelum compounding (Rp) Harga setelah compounding (Rp) 1 Bangunan 25 000 000 30 866 031 2 Mesin diesel 3 000 000 3 146 991 3 Molen 2 000 000 3 173 749 4 Tungku semen 2 000 000 2 000 000* 5 Kuali 400 000 400 000* 6 Tahang kayu 1 800 000 2 644 791 7 Tanggok bambu 200 000 476 062 8 Pompa air 300 000 462 990 9 Saringan air 30 000 30 000* 10 Cetakan 700 000 1 028 530 11 Tampir 500 000 734 664 12 Serok 450 000 661 198 13 Rak bambu 100 000 100 000* 14 Tampan/ayakan 45 000 45 000*
15 Bak plastik biru 200 000 317 375