• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Iklan

2.2.8 Pemilihan Media yang Tepat

Dalam menentukan di mana menempatkan iklannya, suatu perusahaan

harus memilih beberapa media yang bisa digunakan secara tunggal atau

bersama-sama (dipadukan) untuk memperoleh hasil (pengaruh) yang maksimal. Dalam hal

ini para pemasang iklan ataupun pengusaha harus bisa memilih media yang efektif

bagi pencapaian tujuan iklannya.

Untuk memperluas khalayak sasaran, tentunya, media yang perlu

digunakan adalah media massa. Media massa terbagi dalam tiga golongan

(menurut sifatnya), yaitu yang bersifat auditif (lisan) atau juga disebut the spoken word; yang bersifat visual (tertulis) atau the printed word; dan yang bersifat audio visual (perpaduan gambar/tulisan dengan suara). Namun kini orang banyak mengenalnya sebagai media cetak (seperti surat kabar, majalah, dan barang-barang cetakan lainnya) dan media elektronik (seperti radio, televisi, film, dan internet). Berikut ini beberapa pertimbangan dalam pemilihan media dilihat dari

Tabel 2.1

Kebaikan dan Keburukan Beberapa Media Iklan

No Media Kebaikan Keburukan

1. Suratkabar - Biasanya relatif tidak mahal - Sangat fleksibel

- Dapat dinikmati lebih lama

- Mudah diabaikan - Cepat basi

2. Majalah -Dapat dinikmati lebih lama -Pembacanya lebih selektif -Dapat mengemukakan gambar yang menarik

-Biayanya relatif tinggi -Fleksibilitasnya rendah

3. Televisi - Dapat dinikmati oleh siapa saja

- Waktu dan acara siarannya sudah tertentu

- Dapat memberikan kombinasi antara suara dengan gambar yang bergerak

- Biayanya relatif tinggi

-Hanya dapat dinikmati sebentar - Kurang fleksibel

4. Radio - Biayanya relatif rendah -Dapat diterima oleh siapa saja -Dapat menjangkau daerah yang luas

-Waktunya terbatas

-Tidak dapat mengemukakan gambar

-Pendengar sering kurang mendengarkan secara penuh karena sambil melakukan pekerjaan lain

Sumber: Swastha (1996:255)

2.2.9 Iklan Televisi

2.2.9.1 Defenisi Iklan Televisi

Sebagaimana diketahui, iklan televisi adalah wacana publik dalam ruang

sosiologis yang telah menghidupkan diskusi-diskusi tanpa henti di kalangan

anggota masyarakat. Dalam pandangan konstruksi sosial, iklan televisi adalah cara

bagaimana pengetahuan itu dibangun dalam dunia intersubjektif serta proses

Raymon Williams dalam bukunya yang berjudul The Magic System (1993:320) menerangkan bahwa iklan bagaikan sebuah dunia magis yang dapat

mengubah komoditas ke dalam gemerlapan yang memikat dan mempesona.

Sebuah sistem yang keluar dari imajinasi dan muncul ke dalam dunia nyata

melalui media.

Dalam Advertising Exellence, Bovee (1995:14) mendeskripsikan iklan sebagai sebuah proses komunikasi, di mana terdapat: pertama, orang yang disebut

sebagai sumber munculnya ide iklan; kedua, media sebagai medium; dan ketiga,

adalah audiens.

Dalam proses menuangkan ide ke dalam pesan, terjadi proses encoding di

mana ide itu dituangkan dalam bahasa iklan yang meyakinkan orang. Media

kemudian mengambil alih ide itu dan kemudian dikonstruksi menjadi bahasa

media. Pada tahap ini terjadi decoding karena audiens menangkap bahasa media

itu dan membentuk pengetahuan-pengetahuan atau realitas, dan pengetahuan itu

bisa mendorong respons balik kepada iklan tersebut. Respons ada dua macam,

yaitu pemirsa merespons materi iklan atau merespons pesan media. Merespons

materi iklan bisa berbentuk reaksi terhadap iklan tersebut, karena merugikan

pihak-pihak tertentu. Sedangkan merespons pesan media, bisa merupakan

bersikap untuk membeli atau tidak membeli produk.

Siaran televisi turut mempengaruhi efektivitas iklan. Ada dua kategori

utama siaran televisi yang penting dalam periklanan, yakni televisi jaringan dan

kabel. Dalam televisi jaringan, sebuah bisnis independen yang disebut jaringan,

program-program dan periklanannya. Para pelanggan kabel membayar iuran bulanan untuk

tiga puluh atau lebih saluran yang mereka terima, termasuk afiliasi jaringan di

tingkat lokal dan stasiun-stasiun independen, berbagai jaringan kabel,

superstasiun-superstasiun, serta saluran-saluran sistem kabel lokal.

2.2.9.2 Kategorisasi Iklan Televisi

Iklan televisi berkembang dengan berbagai kategori di samping karena

iklan televisi perlu kreativitas dan selalu menghasilkan produk-produk iklan baru,

namun juga karena daya beli masyarakat terhadap sebuah iklan televisi yang

selalu bervariasi karena tekanan ekonomi. Bila dibandingkan dengan media lain,

iklan televisi memiliki kategorisasi yang jauh berbeda karena sifat media yang

juga berbeda. Kategori besar dari sebuah iklan televisi adalah berdasarkan sifat

media ini, di mana iklan televisi dibangun dari kekuatan visualisasi objek dan

kekuatan audio (Burhan Bungin, 2008:111).

Iklan televisi adalah salah satu dari iklan lini atas (above-the-line).

Umumnya iklan televisi terdiri atas iklan sponsorship, iklan layanan masyarakat,

iklan spot (Bovee, 1995:405), Promo Ad, dan iklan politik.

Iklan sponsorship atau juga yang dimaksudkan dengan iklan konsumen

merupakan dominasi utama dalam iklan televisi. Iklan ini perkembangannya lebih

pesat karena didukung oleh dana yang besar dan kreativitas yang menakjubkan

serta sarat dengan harapan-harapan konsumtif.

Iklan layanan masyarakat lebih dimaksudkan untuk memberi informasi

kerjasama dengan pihak-pihak lembaga nonkomersial atau divisi nonkomersial

dari sebuah perusahaan komersial. Contohnya iklan bahaya merokok, iklan

bahaya narkotika, iklan anti kekerasan, dan sebagainya.

Iklan spot ialah iklan yang hanya menampilkan gambar-gambar yang

tidak bergerak dengan latar suara tertentu sebagai dukungan utama terhadap

gambar tersebut. Iklan ini disebut juga ‘Iklan Kecil’.

Promo Ad merupakan bentuk iklan yang menayangkan cuplikan acara

tertentu. Promo Ad memandu para audiens untuk memilih acara-acara mana yang

perlu, harus ditonton, dan bukan harus tertarik pada iklan itu sendiri. Target utama

promo Ad bukan menjual sebuah produk atau jasa, namun jumlah pemirsa yang

menonton sebuah acara di televisi tersebut. Dengan meningkatnya jumlah pemirsa

terhadap acara tersebut, maka akan meningkat pula rating acara tersebut. Kondisi

ini akan sangat menguntungkan untuk meraih sebanyak-banyaknya sponsor untuk

acara tersebut.

Iklan politik hampir sama dengan iklan konsumen, hanya saja berbeda

pada ‘produk’ yang dijual dan penyelesaian akhir tujuan iklan. Iklan politik tidak

menjual barang, namun menjual program partai, dan tidak mengarahkan pemirsa

kepada perilaku membeli, namun mengarahkan perilaku pemirsa kepada sikap

menerima sebuah partai dan memilihnya di saat pemilihan umum.

Dokumen terkait