II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4.6 Pemilihan Metode Peramalan
Penggunaan peramalan dalam pengambilan keputusan merupakan hal yang sangat penting sehingga pemilihan teknik dan metode peramalan yang tepat sangat diperlukan untuk pemecahan suatu masalah atau keadaan tertentu. Ada enam faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode peramalan (Assauri, 1984), yaitu : (1) Horison waktu, (2) Pola data, (3) Jenis dari model, (4) Biaya, (5) Ketepatan (accuracy), (6) Mudah tidaknya penggunaan atau aplikasinya.
Ukuran-ukuran akurasi model peramalan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar (Aritonang, 2002), yaitu: ukuran yang bersifat mutlak, terdiri atas mean error (ME), mean absolute error (MAE), mean squared error (MSE) dan ukuran yang bersifat relatif terdiri dari mean percentage error (MPE), mean absolute percentage error (MAPE), U dari Theil dan McLaughlin Batting Average (MBA). Dari semua ukuran tersebut ukuran yang lebih lazim digunakan adalah MSE, dengan pedoman bahwa semakin kecil nilai MSE berarti model itu semakin tepat untuk digunakan.
2.5 Hasil penelitian yang relevan
Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Widyastuti (2001) dengan judul Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku Susu Kental Manis, studi kasus PT. Indolakto, Sukabumi. Penelitian tersebut menggunakan analisis EOQ, persediaan pengaman (safety stock), dan titik
pemesanan kembali (reorder point). Bahan baku yang menjadi fokus dalam penelitian tersebut adalah susu segar, gula, skimmed milk powder (SMP). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kebijakan perusahaan terhadap pengendalian persediaan belum optimal dan perusahaan perlu mengurangi persediaan pengaman untuk ketiga bahan baku tersebut.
Astuti (2002), menganalisis pengendalian persediaan bahan baku susu bubuk, studi kasus: PT. Mirota KSM Inc., Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan metode EOQ dan model persediaan probabilistik (persediaan pengaman dan titik pemesanan kembali). Bahan baku yang menjadi fokus penelitian adalah Full Cream Milk Powder (FCMP) dan Skimmed Milk Powder (SMP) yang masing-masing didatangkan dari Australia dan New Zealand. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan metode EOQ jumlah pemesanan bahan baku memiliki kuantitas yang lebih kecil dengan frekuensi pemesanan optimal yang lebih sering dibanding jumlah dan frekuensi pemesanan bahan baku yang dilakukan perusahaan. Jika perusahaan mengadakan persediaan pengaman (dengan perhitungan metode EOQ) maka persediaan pengaman yang optimal bagi perusahaan adalah 41 255.4 kg untuk FCMP dan 19 834 kg untuk SMP asal New Zealand. Sedangkan FCMP dan SPM asal Australia masing-masing 38 270 Kg dan 21 261 Kg. Pemesanan kembali kepada pemasok di New Zealand dilakukan pada saat FCMP dan SMP asal New Zealand di gudang masing-masing berjumlah 169 304.8 Kg dan 90 972.5 Kg. Sedangkan pemesanan kembali kepada pemasok di Australia terjadi saat FCMP dan SMP asal Australia di gudang masing-masing berjumlah 220 804.4 Kg dan 122 669 Kg.
Rajagukguk (2004), menganalisis pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu olahan (studi kasus di PT. Indomilk). Penelitian tersebut bertujuan mengetahui pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu olahan yang dilakukan di PT. Indomilk, kemudian menganalisis besarnya biaya yang dikeluarkan dalam rangka pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku dengan metode MRP teknik EOQ dan Part Period Balancing (PPB) serta membandingkan model aternalif pengendalian persediaan bahan baku yang efektif dan efisien pada perusahaan. Teknik Lot For Lot yang prinsipnya tidak memerlukan adanya persediaan di gudang tiap periodenya tidak digunakan dalam penelitian tersebut karena kebijakan PT. Indomilk menginginkan adanya persediaan pengaman dalam pelaksanaan proses produksinya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode MRP memberikan penghematan yang cukup besar terutama dengan teknik EOQ jika dibandingkan dengan metode yang digunakan perusahaan selama ini.
Sary (2004), menganalisis mengenai peramalan produksi dan pengendalian persediaan bahan baku kelapa pada PT. Riau Sakti United Plantations. Penelitian tersebut memperkirakan kebutuhan bahan baku kelapa yang diturunkan dari hasil peramalan produksi perusahaan tahun 2004 dengan metode ARIMA sehingga perusahaan dapat menentukan persediaan bahan baku yang optimal. Metode pengendalian persediaan yang digunakan adalah metode Material Requirement Planning (MRP) dengan teknik EOQ, Lot For Lot, danPPB. Teknik pengendalian persediaan kelapa yang dilakukan perusahaan selama ini adalah menggunakan teknik Lot For Lot. Total biaya persediaan terendah diperoleh dengan metode PPB yaitu sebesar 1.2 miliyar rupiah. Dengan menggunakan metode PBB, perusahaan
dapat menghemat biaya persediaan sebesar 6.8 persen yaitu dari 1.271 miliyar rupiah menjadi 1.18 miliyar rupiah.
Widowati (2004) dengan penelitiannya yang berjudul “Perencanaan Kebutuhan dan Pengendalian Persediaan Benang Sebagai Bahan Baku Produk Tekstil Pada PT. Asaputex Nusantara, Tegal, Jawa Tengah” menganalisis sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku perusahaan dalam rangka memberikan model alternatif pengendalian persediaan bahan baku yang dapat meminimumkan biaya persediaan dan pembelian bahan baku perusahaan dengan analisis MRP teknik Lot For Lot, EOQ, dan PPB. Selain itu, penelitian tersebut juga melakukan perencanaan produksi, perencanaan kebutuhan bahan baku dan pengendalian persediaan bahan baku pada periode selanjutnya berdasarkan peramalan penjualan dengan metode trend. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa metode LFL dan PPB merupakan metode yang dapat direkomendasikan sebagai alternatif alat pengendalian persediaan benang perusahaan untuk periode operasi tahun 2004 karena memberikan penghematan terbesar yaitu 77.67 persen terhadap biaya persediaan perusahaan dan 6.77 persen terhadap biaya pembelian. Namun dalam pelaksanaannya, metode PPB lebih sesuai untuk diterapkan karena lebih dinamis dalam menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan benang perusahaan. Selain itu, metode PPB lebih fleksibel dalam penggabungan kebutuhan bersih benang selama periode tertentu jika terjadi perubahan biaya persediaan yang diakibatkan oleh peningkatan biaya pemesanan benang.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku, dapat disimpulkan bahwa umumnya model analisis untuk persediaan bahan baku adalah model MRP. Model
MRP teknik LFL cocok digunakan pada perusahaan yang melakukan pemesanan hanya sejumlah kebutuhan bersihnya atau tanpa sediaan pengaman. Model MRP teknik PPB lebih fleksibel dalam menggabungkan kebutuhan bersih selama periode tertentu dan lebih dinamis dalam menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.
2.6 Keunggulan Penelitian
Keunggulanpenelitian ini, yaitu mengkaji sistem pengendalian persediaan PT. Indolakto untuk periode tahun 2005 yang menjadi dasar dalam melakukan perencanaan kebutuhan bahan baku dan pengendalian persediaan bahan baku tersebut pada periode tahun 2006. Penelitian ini tidak hanya menganalisis kebijakan pengendalian persediaan perusahaan juga melakukan perencanaan terhadap kebutuhan bahan baku utama susu UHT dan menganalisis kembali pengendalian persediaan bahan baku tersebut.
2.7 Kerangka Pemikiran Pe nelitian
Bahan baku merupakan unsur yang penting dalam proses produksi perusahaan. Untuk menghasilkan produk susu UHT dibutuhkan beberapa bahan baku utama diantaranya Skim Milk Powder (SMP) dan gula. Ketersediaan bahan baku tersebut sangat menunjang dalam perencanaan produksi perusahaan. Rencana produksi yang dibuat oleh perusahaan dihasilkan dari estimasi permintaan konsumen akan susu UHT. Estimasi yang tidak tepat akan menyebabkan perusahaan beroperasi secara tidak efisien. Oleh karena itu dibutuhkan suatu estimasi yang menghasilkan penyimpangan terkecil.
Berdasarkan rencana produksi tersebut, perusahaan merencanakan kebutuhan bahan baku SMP dan gula.
Dalam merencanakan kebutuhan bahan baku perusahaan sangat diperlukan suatu sistem pengendalian persediaan bahan baku yang tepat agar aktivitas produksi perusahaan berjalan denga n efisien. Sitem pengendalian persediaan bahan baku tersebut dapat dianalisis dengan beberapa model-model system pengendalian persediaan, diantaranya model EOQ dan MRP teknik PPB. Berdasarkan model-model tersebut diharapkan dapat dihasilkan suatu model alternative yang menghasilkan system pengendalian persediaan yang optimal.
Gambar 4. Kerangka Pemikiran Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif sistem pengendalian persediaan bahan baku susu UHT khususnya bahan baku SMP dan gula yang optimal dilihat dari biaya yang dikeluarkan akibat adanya persediaan. Oleh karena itu langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi kebijakan perusahaan dalam perencanaan dan pengendalian persediaan bahan
Bahan Baku Susu UHT SMP GULA INPUT PROSES Rencana Produksi UHT Estimasi Permintaan Konsumen Rencana Kebutuhan Bahan Baku Model Sistem Pengendalian Persediaan EOQ PPB Sistem Model Pengendalian Persediaan Optimal OUTPUT
baku. Kegiatan yang termasuk di dalamnya adalah mengidentifikasi fasilitas penyimpanan dan penanganan bahan baku, jenis dan asal bahan baku, biaya-biaya persediaan, prosedur perolehan bahan baku, serta pengendalian kualitas bahan baku.
Kebijakan perusahaan dalam perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT tidak terlepas dari perhitungan-perhitungan kuantitas dan biaya. Perhitungan mengenai penentuan kuantitas pesanan dan frekuensi pemesanan bahan baku yang optimal melibatkan berbagai jenis biaya yang terkandung dalam persediaan. Oleh karena itu, perlu diidentifikasi juga mengenai komponen-komponen biaya persediaan yang terjadi. Biaya persediaan dalam penelitian diasumsikan meliputi biaya pemesanan bahan baku dan biaya penyimpanan bahan baku.
Langkah selanjutnya, kebijakan perusahaan dalam pengendalian bahan baku selama tahun 2005 dianalisis dan dibandingkan dengan metode MRP sebagai alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku khususnya SMP dan gula yang ditujukan untuk produksi susu UHT. Metode MRP yang digunakan sebagai perbandingan dengan metode yang digunakan perusahaan adalah metode MRP teknik EOQ dan PPB. Komponen yang dibandingkan dalam analisis model pengendalian persediaan bahan baku tersebut meliputi: frekuensi pemesanan, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan total biaya persediaan. Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat persediaan dan kebijakan pengendalian bahan baku yang optimal sehingga perusahaan dapat merumuskan suatu alternatif strategi dalam pengendalian persediaan bahan baku yang digunakannya. Metode terbaik dari beberapa metode yang dianalisis tersebut akan direkomendasikan
sebagai metode alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku dan akan digunakan sebagai metode pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula untuk periode tahun 2006 berdasarkan rencana produksi yang diramalkan.
Setelah itu dilakukan perencanaan bahan baku susu UHT yaitu SMP dan gula yang didasarkan dari hasil peramalan produksi produk jadi susu UHT untuk tahun 2006. Data produksi susu UHT selama beberapa tahun ke belakang (tahun 2000 – 2005) akan dianalisis dan diestimasi dengan metode peramalan time series. Data-data produksi perusahaan selama beberapa tahun ke belakang (tahun 2000- 2005) tersebut perlu diidentifikasi terlebih dahulu pola datanya. Pola data yang terjadi dapat berupa pola horizontal, trend, musiman, dan siklis. Pola horizontal terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata yang konstan. Pola trend terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data. Pola musiman terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu tertentu). Pola siklis terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis.
Setelah mengetahui pola data produksi tersebut, selanjutnya adalah menentukan model peramalan dengan metode peramalan time series terbaik. Metode yang memberikan hasil ramalan mendekati kenyataan yang terjadi atau menghasilkan penyimpangan antara hasil peramalan dengan nilai kenyataan yang sekecil mungkin merupakan metode peramalan terbaik. Metode time series yang digunakan untuk mengestimasi jumlah produksi susu UHT sela ma satu periode ke depan (tahun 2006) adalah metode dekomposisi aditif.
Dengan mengetahui jumlah produksi susu UHT dari hasil ramalan dekomposisi aditif, selanjutnya akan diestimasi jumlah bahan baku berupa SMP dan gula yang dibutuhkan selama satu periode ke depan (tahun 2006). SMP dan gula merupakan bahan baku yang memiliki sifat permintaan dependen (terikat) terhadap permintaan produk jadinya, yaitu susu UHT. Hal tersebut merupakan tahapan dalam perencanaan kebutuhan bahan baku. Metode perencanaan kebutuhan bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Material Requirement Planning (MRP). Teknik penentuan lot dalam rangka pengendalian persediaan bahan baku menggunakan teknik lot sizing terbaik dari beberapa teknik yang ada.
Berdasarkan analisis perbandingan model pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula pada tahun 2005 akan dihasilkan model alternatif untuk pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula. Model alternatif tersebut kemudian akan digunakan kembali untuk menganalisis tingkat persediaan bahan baku SMP dan gula di tahun 2006 berdasarkan perencanaan kebutuhan yang telah diramalkan sebelumnya.
Setelah menganalisis pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula di tahun 2006 dengan model alternatif, kemudian akan dibandingkan kembali dengan metode pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan. Perbandingan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah model alternatif yang digunakan dalam pengendalian persediaan bahan baku khususnya SMP dan gula pada tahun 2006 masih memberikan tingkat persediaan bahan baku yang optimal dari segi biaya persediaan bahan bakunya. Kerangka operasional penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.
= alat analisis
Keterangan:
Gambar 5. Bagan Kerangka Operasional Penelitian Model Pengendalian Persediaan Bahan Baku
yang Optimal
Identifikasi Kondisi Perusahaan dalam Sistem Pengadaan dan Penanganan Bahan Baku Jenis dan Asal Bahan Baku Biaya-biaya Persediaan Bahan B aku Prosedur Perolehan Bahan Baku Penyimpanan dan Penggunaan Bahan Baku Pengendalian Kualitas Bahan Baku
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tahun 2005 Kebijakan Perusahaan MRP Teknik EOQ MRP Teknik PPB
Perencanaan Penggunaan Bahan Baku Perusahaan Tahun 2006 melalui Peramalan
Produksi dengan Metode Terbaik Analisis Pengendalian Persediaan
Bahan Baku Tahun 2006 Analisis Perbandingan Model Pengendalian Persediaan Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian
III. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Indolakto yang berlokasi di Jalan Raya Siliwangi, Cicurug, Sukabumi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa perusahaan ini merupakan perusahaan agroindustri yang berpengalaman dalam memproduksi susu UHT. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2006.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari PT. Indolakto yang terdiri atas: gambaran umum perusahaan, data produksi dan penjualan produk susu UHT perusahaan, kebijakan pengadaan dan penanganan bahan baku di perusahaan yang mencakup jenis bahan baku yang digunakan, jumlah kebutuhan bahan baku, waktu tunggu (lead time) pembelian bahan baku, pemasok, sistem pemesanan dan penyimpanannya.
Data primer dikumpulkan melalui hasil pengamatan, pencatatan langsung di lapang dan wawancara dengan pihak perusahaan. Wawancara langsung dilakukan kepada karyawan, manajer, dan kepala divisi yang berkaitan. Pemilihan responden ini dilakukan dengan sengaja (porposive) dengan pertimbangan bahwa responden mengetahui dan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan dengan baik, khususnya mengenai kebijakan pengendalian persediaan bahan baku dan pelaksanaan pengendalian persediaan bahan baku di perusahaan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari (bahan pustaka) buku, hasil laporan
penelitian terkait, catatan-catatan yang dimiliki perusahaan, literatur perusahaan dan instansi terkait serta literatur lainnya, yaitu: artikel-artikel dalam majalah, surat kabar dan internet.
3.3 Model Analisis Data
Hasil perolehan data kuantitatif diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 14. Software Minitab adalah salah satu program yang dapat digunakan untuk peramalan. Output data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan diuraikan secara narasi. Sedangkan untuk data kualitatif disajikan dalam bentuk deskriptif dengan gambar dan tabel agar mudah dipahami.
3.3.1 Identifikasi Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan