Wahyuni Amelia Wulandari
Pendahuluan
Permasalahan yang dihadapi dalam bidang peternakan di Indonesia antara lain adalah masih rendahnya produktivitas dan mutu genetik ternak. Keadaan ini terjadi karena sebagian besar peternakan di Indonesia masih merupakan peternakan konvensional, dimana mutu bibit, penggunaan teknologi, dan keterampilan peternak relatif masih rendah. Target yang ingin dicapai pada Program PSDS tahun 2010 adalah impor daging sapi hanya 5-10 % dari kebutuhan pada 2010, dan selebihnya dipenuhi secara domestik. Oleh
34
karena itu penyediaan pedet bakalan harus dipacu terus agar dapat memenuhi kebutuhan daging sapi secara nasional.
Untuk menjamin keberhasilan pemeliharaan pedet sampai mencapai target jual, maka terlebih dahulu harus dilakukan seleksi terhadap pedet-pedet yang akan dipelihara. Pemilihan bakalan berdasarkan pada beberapa factor pertimbangan. Faktor-faktor tersebut antara lain kesehatan, bangsa, jenis kelamin, pertumbuhan selama menyusu, tipe kelahiran, umur induk, kemurnian pedet, system penyapihan, asal pedet dan harga.
A. Kesehatan Pedet Bakalan
Untuk menyeleksi pedet yang sehat, sebenarnya diperlukan kehadiran dokter hewan, terutama untuk penyakit menular yang membahayakan. Akan tetapi, beberapa langkah tertentu dapat menolong dalam menyeleksi pedet. Caranya dengan memperhatikan beberapa tanda atau tilik luar tertentu, yaitu sebagai berikut:
1. Pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
2. Matanya tampak cerah dan bersih, tidak mengeluarkan kotoran dan tidak mencucurkan air mata.
3. Tidak terdapat tanda-tanda sering batuk, terganggu pernafasannya, serta dari hidungnya tidak keluar lender. Salah satu cara untuk mengetahui pedet tersebut tidak menderita penyakit pernafasan dengan cara memaksa pedet tersebut tidak menderita penyakit pernafasan dengan cara memaksa pedet berlari-lari untuk beberapa saat, lalu perhatikan pernafasannya apakah normal atau tidak.
4. Kukunya, bila diraba, tidak terasa panas dan bengkak. 5. Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya. 6. Tidak terdapat tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan duburnya. 7. Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
8. Pusarnya bersih dan kering. Bila pusarnya masih lunak dan tidak berbulu, berarti pedet masih berumur kurang dari tiga hari.
Selain memperhatikan hal di atas, usahakan juga agar memilih pedet yang telah divaksinasi, keadaannya kuat dan lincah atau agresif, tidak cacat, serta nafsu makannya tinggi.
B. Bangsa
Pemilihan bangsa berkaitan erat dengan produk yang akan dihasilkan. Bangsa sapi yang mempunyai bobt badan yang tinggi akan menghasilkan pedet yang bobot lahirnya tinggi akan menghasilkan pedet yang bobot lahirnya tinggi dan pertumbuhan absolutnya (pertambahan bobot badan dalam kg per hari) yang tinggi pula. Sebagai contoh sapi
35
Madura mempunyai bobot lahir, pertambahan berat badan, serta bobot dewasa yang rendah, sedangkan sapi FH memunyai bobot lahir dan bobot dewasa yang tinggi. Pada gilirannya, untuk mencapai target bobot badan yang sama pemeliharaan sapi FH akan lebih cepat dari pada sapi Madura. C. Jenis Kelamin
Pemilihan jenis kelamin akan berpengaruh terhadap bobot tubuh yang ditargetkan, lama pemeliharan, dan kualitas daging. Akan tetapi, dalam pemilihan betina yang akan digunakan untuk pengganti induk, pemilihannya diarahkan kepada tanda-tanda bibit yang baik.
Apabila dipilih jenis kelamin jantan untuk digemukkan, pedet ini akan mempunyai bobot lahir yang tinggi, pertambahan berat badan yang tinggi, dan lama penggemukkan yang lebih cepat. Namun, kualitas dagingnya kurang baik bila digemukkan lebih dari umur 1,5 tahun.
Apabila dipilih jenis kelamin betina untuk digemukkan, pedet ini akan mempunyai bobot lahir dan pertambahan bobot badan yang lebih rendah serta waktu penggemukkan yang lebih lama. Namun kualitas dagingnya cukup baik walaupun digemukkan sampai mencapai umur 2 tahun.
Dengan pengetahuan diatas, bila akan memproduksi daging berkualitas tinggi maka dipilih pedet berjenis kelamin jantan. Apabila lebih diarahkan kepada kualitas daging maka pilihan harus ditujukan pada pedet betina. Akan tetapi, dinegara kita pemotongan ternak betina besar masih dilarang, cara yang terbaik untuk memperoleh kualitas daging yang tinggi dari pedet jantan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan pengebiirian (kastrasi) atau pemberian hormone. Dengan cara ini, diharapkan selain akan menghasilkan kualitas daging yang cukup tinggi, pada akhir penggemukan juga diperoleh kualitas daging yang baik pula.
Pengebirian bertujuan untuk menghilangkan efek testosteron yang berpengaruh terhadap kelotan daging sehingga daging akan lebih empuk disertai dengan kepualamannya yang mendekati kualitas daging pedet betina. Adapun pemberian hormon dapat dilakukan dengan implantasi Zeranol atau Synovex C untuk pedet jantan hingga efek estrogen akan dihambat.
D. Pertumbuhan Selama Menyusu
Pertumbuhan selama menyusu akan berpengaruh terhadap bobot sapih dan pertambahan bobot badan pedet yang bersangkutan. Pertumbuhan selama menyusu akan dipengaruhi oleh sifat keibuan induk (mother ability), produksi susu induk atau pemberian susu (milk replacer), umur induk, waktu kelahiran, dan tingkat kesehatan pedet tersebut.
36
Dalam penggemukkan pedet, diharapkan terjadi pertumbuhan yang normal atau pertumbuhan kompensasi (compensatory growth) hingga akan dicapai hasil penggemukkan yang baik. Secara ekonomis, terjadinya pertumbuhan kompensasi akan lebih menguntungkan. Oleh karena itu hakekat dari penggemukan pedet adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan pertumbuhan kompensasi tersebut.
Pertumbuhan kompensasi biasanya dicapai oleh pedet yang kurus tetapi sehat. Apabila digemukkan dengan pakan yang berkualitas baik, pedet tersebut dapat memperoleh pertumbuhan kompensasi sehingga tidak jarang target bobot badannya akan lebih tinggi atau lama penggemukannya lebih cepat dibandingkan dengan pedet yang berkondisi baik. Apabila kurva pertumbuhan yang dicapai pedet tersebut abnormal maka jelas bahwaq pemeliharaannya kurang berhasil.
E. Tipe Kelahiran
Tipe kelahiran pada sapi biasanya adalah tunggal, tetapi 0,2% dapat terjadi kelahiran secara kembar. Tipe kelahiran ini akan berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Kelahiran pedet jantan tunggal sangat diharapkan untuk pemeliharaan dengan system penggemukan.
Dalam kelahiran kembar, bila terjadi free martin (lahir kembar dengan jenis kelamin betina dan jantan) maka kedua naknya tidak baik untuk dikembangbiakkan. Dengan demikian, pedet tersebut baik untuk digemukkan.
F. Umur Induk
Pedet yang dilahirkan oleh sapi dara akan mempunyai bobot lahir yang rendah dan risiko kematian yang tinggi. Sebaliknya, pedet yang dilahirkan oleh induk yang sering melahirkan akan mempunyai bobot lahir yang tinggi dan risiko kematian yang rendah. Sebagai contoh, bobot lahir pedet dari induk umur 3 tahun akan lebih tinggi 1,5 – 3 kg dibandingkan dengan bobot lahir pedet yang berasal dari induk yang berumur 2 tahun. Oleh karena itu, pedet yang akan dipelihara sebaiknya berasal dari induk yeng telah sering melahirkan.
G. Kemurnian Pedet Bakalan
Pedet yang berasal dari bangsa murni akan memiliki pertumbuhan yang seragam sehingga mudah untuk diduga penentuan lama pencapaian target bobot badannya. Sebaliknya, pedet yang berasal dari hasil persilangan akan mempunyai pertumbuhan yang lebih bervariasi dan
37
penentuan pencapaian target bobot badannya sering kali tidak sesuai dengan yang diperkirakan. Sebagai contoh, sapi FH dengan sapi Grati secara kenampakan luar hamper sulit untuk dibedakan, tetapi dari segi performa/prestasi produksinya akan tampak bahwa sapi Grati lebih rendah. H. Sistem Penyapihan
Secara alami, pedet disapih oleh induknya rata-rata pada umur 6 - 7 bulan, penyapihan standar adalah 205 hari. Namun demikian, untuk mencapai target bobot badan pada waktu tertentu, sering kali dilakukan penyapihan dini, yaitu pada umur 3 – 5 minggu atau 8 – 12 minggu. Sistem penyapihan ini sudah tentu akan berpengaruh terhadap prestasi produksi dan aspek ekonomi pemeliharaan pedet.
I. Asal Pedet Bakalan
Tempat asal pedet bakalan harus benar-benar diperhatikan keadaan lingkungan tempat asal harus sesuai dengan lokasi peternakan tempat pedet akan dipelihara. Apabila daerah asal berbeda dengan daerah pemeliharaan, pedet harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal ini akan menjadi hambatan yang sangat berat bila pedet yang berasal dari daerah dingin akan dipelihara di daerah panas atau pedet yang berasal dari dataran tinggi akan dipelihara di dataran rendah dan sebaliknya.
Pedet bos Taurus akan lebih susah toleransi (heat tolerancenya rendah) dibandingkan dengan pedet bos Indicus. Pedet FH akan lebih berhasil bila dipelihara di daerah dingin atau dataran tinggi, sebaliknya pedet PO lebih tinggi daya adaptasinya hingga dapat dipelihara di daerah yang kisaran suhu lingkungannya lebih luas.
Hal yang penting untuk diperhatikan adalah bila mendatangkan pedet bakalan yang berasal dari daerah yang berbeda, pemeliharaannya sebaiknya dikelompokkan berdasarkan tempat asalnya.
Pustaka
Santosa, Undang. 2000. Prospek agribisnis pengemukan pedet. Cetakan ke-3 Penebar Swadaya. Jakarta.